Search This Blog

Showing posts with label remaja. Show all posts
Showing posts with label remaja. Show all posts

Friday, April 20, 2018

Tahun Terakhir Dena, Setiap Pilihan Memiliki Konsekuensinya


Judul: Tahun Terakhir Dena
Pengarang: Purba Sitorus
Penyunting: Muhajjah Saratini
Sampul: Amalina Asrari
Tebal: 204 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2018
Penerbit: Laksana



Masa SMA selalu menjadi salah satu masa yang paling berkesan bagi banyak orang. Baik atau jelek, menyenangkan maupun buram, selalu ada kenangan yang tertinggal dari masa-masa abu-abu putih ini. Ada yang pertama kali jatuh cinta, mendapat sahabat dekat, pergi jauh dari rumah untuk pertama kali, perdana membolos di kelas, ketahuan merokok, atau mengenal dunia baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Masa-masa ini juga menjadi penentuan akan masa depan. Mau dibawa kemana setelah ini  (apakah lanjut kerja atau memutuskan untuk kuliah). Inilah tiga tahun paling krusial sekaligus paling penuh warna dalam hidup ini. Entah kenapa, saya bisa mengingat masa-masa SMA jauh lebih jelas ketimbang masa-masa kuliah. Akan dilupakan atau tetap terus dikenang, masa SMA memang akan selalu tersimpan rapi di pojok ingatan. 

Friday, November 24, 2017

Dua Saudara Berebut Cinta dalam Rival Brother


Judul: Rival Brother
Pengarang: Sayfullan
Penyunting: Vivekananda G
Tebal: 285 hlm
Cetakan: 2017
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



36340493

Sudah lama saya tidak membaca novel seri remaja. Jadi wajarlah kalau awal-awal membaca “Rival Brother” ini saya agak kagok-kagok gimana gitu karena saya tidak seganteng Tristan eh  sudah lupa rasanya jadi remaja (begini ... saya lebih memilih kata DEWASA ketimbang TUA).  Jadi begini, beberapa bulan terakhir ini saya nekat baca buku-buku karya para pengarang senior macam Kuntowijoyo, Borges, Agus Noor, dan Newt Scamander sehingga stabilitas saya hampir goyang gitu saat disodori novel remaja ini. Mau tak mau, sel-sel kelabu di otak saya butuh menyesuaikan diri terlebih dulu untuk bisa menikmati bacaan merah jambu ini agar bisa menghasilkan ulasan yang jujur sekaligus tetap tidak terasa menjilat ke penulisnya awww dijilat dong Beib. Maaf sebelumnya buat bang Say karena saya butuh agak lama bacanya. Bukan maksud sok sibuk atau apa, tetapi kata orang, semua yang didapatkan dengan perjuangan dalam waktu lama maka hasilnya akan lebih berbekas. Cinta juga demikian, konon. Sebenarnya, halaman 1 – 19 bisa saya selesaikan dalam sekali duduk, tetapi begitu sampai Chapter 1 kecepatan baca saya langsung bubar jalan. Kenapa? Karena saya pengen kayak Tristan tapi sayang tinggi badan tak mengizinkan. *batuk duit

Monday, September 18, 2017

Sceduled Suicided Day, Kisah Perencanaan Bunuh Diri yang Manis


Judul: Sceduled Suicided Day
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: 280 hlm
Cetakan: Pertama, April 2017
Penerbit: Haru

35049954

Dengan sampul yang “dark’ dan judul yang menjurus ke cerita depresi, orang mungkin akan menganggap novel ini berisi kisah yang gela-gelap suram ala Holy Mother dan The Girl in the Dark. Kenyataannya, novel ini ternyata kisahnya manis dan malah mengingatkan kita pada bacaan komik remaja yang penuh kupu-kupu beterbangan. Walau penulis juga membumbui dengan cerita ala-ala detektif, banyak pembaca yang sepertinya lumayan kecewa dengan menurunkan rating untuk buku ini. Bagi yang mengikuti karya-karya Akiyoshi Rikako di Indonesia, membaca buku ini mungkin memang akan terasa sedikti jomplang. Pasalnya, setelah kita dibikin terkaget-kaget dalam Holy Mother, buku selanjutnya ternyata menghidangkan kisah remaja yang manis. Tetapi bagi saya, bagaimana penulis berkisah dan bagaimana ia mampu menghibur pembaca selalu menjadi poin utama penilaian. Sekali lag, saya bertepuk tangan dalam diam setelah selesai membaca novel ini.

Monday, December 21, 2015

By the Time You Read This, I’ll Be Dead

Judul: By the Time You Read This, I’ll Be Dead
Penulis: Julie Anne Peters
Penerjemah: Hedwigis Lani Rachmah
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan pertama, April 2015
Tebal: 332 halaman



25477403 



Banyak di antara kita yang pernah dibully (atau mungkin malah mem-bully) di masa kecil dulu. Beberapa mungkin sampai ke penghujung masa remaja. Entah yang masa, satu hal pasti bahwa kenangan tentangnya selalu membekas dalam lubuk kantung masa lalu kita di dalam jiwa. Saat ketika diri dilemahkan, tidak dihargai, dilecehkan, dipermainkan; semua hanya kadang karena seseorang berbeda dari yang banyak (terlalu gemuk, genduk, terlalu kurus, pendek, ceking, bahkan kadang karena terlalu miskin) sehingga si pihak yang kuat (atau banyak) merasa berhak menindas mereka yang lebih lemah (atau lebih berbeda). Pengalaman di-bully ini kemudian tetap tinggal dalam ceruk rahasia yang tetap saja terasa menakutkan bahkan ketika si korban telah dewasa. Dalam beberapa kasus, kenangan buruk tentangnya bahkan sedemikian rupa merusaknya, seperti yang dialami Daelyn.

Mereka membunuhmu dengan kata-kata mereka.


Thursday, August 20, 2015

Summer Breeze ft. High School Paradise



                Sementara saya membaca Istanbul-nya Pamuk yang tak selesai-selesai itu, otak saya membutuhkan sesuatu selingan penyegar. Semacam buku ringan yang mampu memacu semangat baca lagi seiring dengan ikut melambatnya kecepatan baca saya selama menyelami kemuraman Istanbul. Akhirnya Summer Breeze dan Hoigh School Paradise karya Orizuka menjadi pilihan saya. Pilihan saya tidak salah, kedua buku itu cukup menghibur saya (walau enggak menghibur banget, mungkin karena usia kali ya) sebagai penghilang aura muram dan lambat yang dibawa oleh Istanbul. Kedua novel remaja ini bisa saya rampungkan dalam waktu yang lumayan cepat, tipis sih tapi isinya memang memorable dan cara bercerita khas Orizuka yang lincah membuat kecepatan baca saya ikut-ikutan lincah.

Friday, August 14, 2015

Wrecking Eleven


Judul: Wrecking Eleven
Pengarang: Haris Firmansyah
Editor: Dyas
Tebal: 178 hlm
Cetakan: 1, Agustus 2015
Penerbit: Ping!!!
 

 

"Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat."


Bermain bola, bagi sebagian besar anak cowok, adalah sepenggal pengalaman masa kecil dan remaja yang takkan pernah terlupakan. Selebrasi ketika merayakan gol, traktiran mie ayam ketika timnya menang, menunduk bareng saat tim kalah, main takling dan serobot sana-sini, serta baru pulang ketika matajari mulai redup di ufuk barat, dengan bau keringat yang memenuhi badan. Semua pengalaman itu tak akan pernah bisa tergantikan. Meskipun kini kepopulernya mulai tergeser oleh game sepakbola. Sama-sama main bola, tapi yang satu dengan kaki, tangan, dan seluruh tubuh. Sementara game, hanya butuh pencetan jari, mata yang kuat ngak berkedip, dan juga mungkin kepiawaian otak dalam mengatur strategi. Hilangnya lahan kosong yang dulu sering digunakan anak-anak se RT untuk main bola juga turut berperan dalam semakin sepinya lapangan sepak bola di sore hari. Bermain sepak bola, sekarang mungkin hanya bisa kita lakukan di lapangan berumput plastik dengan ukuran yang lebih kecil, dan harus bayar. Ah, saya rindu masa-masa ketika main bola hanya butuh urunan uang buat beli bola plastik. Kakinya pun nyeker, gak rewel pake sepatu bergigi jarum yang harganya juga cukup mengigit itu.


Thursday, June 4, 2015

Our Story


Judul    : Our Story
Pengarang : Orizuka 
Penyunting : Agatha Tristanti
Sampul : Tedy Hanggara
Cetakan : 2, 2011
Tebal : 235 hlm 
                                                            Penerbit : Authorized Books

10048887
 
Sekali lagi, saya dibuat kagum dengan kepiawaian seorang Orizuka dalam bercerita. Dia berani mengambil tema yang bisa dibilang berani. Tapi, Orizuka juga berhasil mengeksekusi tema tersebut dalam cerita yang matang namun tetap terasa aroma remajanya. Hal lain yang sangat saya sukai dari buku ini adalah semua tokoh di dalamnya abu-abu, seperti celana dan rok yang mereka kenakan sebagai anak-anak SMA. Tidak ada tokoh utama yang sepenuhnya sempurna (well, mungkin Ferris), tapi seluruh tokoh dalam Our Story adalah sebagaimana diri mereka sendiri. Mereka dipaksa oleh keadaan, dan bukannya dipaksa oleh penulis untuk selalu menjadi sempurna. Mereka tetap abu-abu, remaja kebanyakan dengan segala persoalannya.  Berkali-kali saya menepuk jidat saat membaca novel ini. Bukan karena jidat saya nonong, tapi karena banyaknya “kejutan”  yang disembunyikan Orizuka. Orang yang semula akan saya kira menjadi tokoh utama, ternyata hanyalah salah satu pemain di panggung SMA Budi Bangsa. Sementara, tokoh lain yang saya kira awut-awutan, ternyata punya sisi lain. Dan, hebatnya lagi, Orizuka tidak lalu memaksa tokoh-tokohnya untuk berubah drastic. Semua dieksekusi dengan pelan dan lembut, terasa sangat manusiawi dan tidak berlebihan.

Monday, May 4, 2015

Balada si Roy #1: Joe Avonturir



Judul : Balada si Roy 1, Joe Avonturir
Pengarang : Gol A Gong
Sampul : Martin Dima
Cetakan : 1, 2012
Tebal : 366 hlm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

http://www.gramediapustakautama.com/uploads/dirimg_buku/re_buku_picture_86351.jpg

                Seandainya saya membaca novel ini semenjak remaja, pastilah ada banyak seklai pelajaran hidup yang bisa saya pelajari dari kehidupan Roy. Kisah inspiratif remaja bandel dari tahun 80-an ini memang pernah dimuat di majalah Hai sebagai serial bersambung sejak 1989, tapi kala itu sepertinya saya masih belum lancar membaca, belum kenal majalah lain selain Bobo, dan juga lebih suka bermain kejar-kejaran di sendang ketimbang membaca buku. Kata generasi 80-an, novel ini nge-hits banget pada masanya, tapi rupanya itu bukan masa saya, belum. Saya kebagian booming serial Lupus yang ternyata lebih banyak kocaknya ketimbang bab-bab tentang pelajaran hidupnya.  Ya sudah, saya akhirnya jadi cowok humoris saja dan bukannya seorang avonturir seperti Roy. 

Monday, June 2, 2014

The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)

Judul : The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)
Pengarang : John Green
Penerjemah : Ingrid Dwijani N
Penyunting : Prisca Primasari
Sampul : BlueGarden
Cetakan : 1, 2012
Tebal : 422 hlm
Penerbit : Qanita

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgttFgW3DIuuslK7ZD94ArwstPscjIkKGWuxsywaA5Y8ZXc5c04E1i4HzK7qBvmNPhsSPbfTBAretxzQ8cLEtIBp1QJ49pVcb7ljhyFWPd5GtuBIFvJqKPBha4VntWecRCMqwDRGHaeT6mI/s320/the+fault+in+our+stars+salahkan+bintang-bintang.jpg

            “Keberanian kita akan menjadi senjata rahasia kita.” (hlm 273)

            Hazel Grace, seorang gadis muda berusia 16 tahun penderita kanker paru-paru yang harus membawa-bawa tabung oksigen kemanapun dia pergi. Augustus Waters, 17 tahun, cowok cakep berusia 17 tahun yang disukai Hazel. Dia juga penderita kanker osteosarkoma yang telah merenggut satu tungai kakinya (satu kakinya adalah kaki palsu, dan dia berjalan pincang, tapi kata Hazel cowok itu seksinya luar biasa). Kedua anak muda korban takdir ini dipertemukan dalam Pertemuan Kelompok Pendukung sebelum akhirnya saling jatuh cinta. Walau keduanya penderita kanker, tapi cinta kadang memang membuat yang lain kalah (untuk sementara) sampai-sampai keduanya terjerat juga oleh gombalan-gombalan khas remaja.

            “Aku ingin menemui lagi malam mini. Tapi aku bersedia menunggu semalaman dan hampir sepanjang esok.” (hlm 54)

            Hazel Grace sudah lama menerima kankernya sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Dia sudah siap mati, kapan saja daripada menanggung penderitaan yang tak terperi. Semangatnya hampir patah, dan dia menjalani hidup-hidup yang datar dan monoton sebagai penderita kanker, jauh dari sekolah dan teman-temannya. Dunia remajanya yang seharusnya cerah ceria menjadi hari-hari panjang antara satu suntikan dan suntikan lainnya, rangkaian hari-hari diantara masuk ke rumah sakit dan masuk lagi ke rumah sakit. Tapi, dia tidak mau dikasihani. Dari pikiran-pikirannya yang cerdas dan kadang ironis (buku ini ditulis dengan sudut pandang Hazel), kita tahu bahwa gadis ini adalah anak yang kuat.
           
“Jika kau tidak menjalani kehidupan untuk melayani kebaikan yang lebih besar, setidaknya kau harus mati untuk melayani kebaikan yang lebih besar.” (hlm 227)

            Sampai akhirnya, takdir memberikan kesempatan kepada Hazel untuk satu kali menjadi normal: Hazel jatuh cinta. Augustus, atau Gus, datang dalam kehidupannya dan menawarkan cinta ala-ala remaja. Hazel sudah bilang dia tidak mau dikasihani, tetapi Gus tidak mau menyerah dan mengatakan bahwa yang dia tawarkan adalah cinta, bukan rasa kasihan.

“Sungguh, aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tidak mau mengingkari diriku sendiri dari kenikmatan sederhana berkata jujur. Aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tahu bahwa cinta hanyalah teriakan ke dalam kekosongan, dan pelupaan abadi tak terhindarkan, dan kita semua sudah ditakdirkan, dan ada hari ketika semua upaya kita menjadi debu, dan aku tahu matahari akan menelan satu-satunya Bumi yang kita miliki, dan aku jatuh cinta kepadamu.” (hlm 208)

            Maka, cinta melawan kanker, atau setidaknya hidup dengan kanker tapi memiliki orang yang dicintai dan mencintaimu akan terasa jauh lebih berharga ketimbang hidup dengan kanker saja. Gus telah mengingatkan Hazel bagaimana rasanya menjadi manusia normal. Kanker boleh saja telah mengambil kesehatan (dan kelak) hidup mereka, tetapi tidak seharusnya kanker juga dibiarkan mengambil cintanya.

            Dari Hazel, pembaca akan belajar banyak tentang makna perjuangan hidup. Jarum suntik, obat, rasa nyeri, tatapan iba, terputus dari dunia yang normal, segala sesuatu yang tidak pernah kita alami (dan jarang kita syukuri) sebagai orang-orang normal. Dari Gus, kita belajar arti mencintai. Bahwa tidak ada waktu terlambat untuk mencintai dan bahwa setiap orang berhak untuk merasa dicintai. Dari Gus juga kita akan mengetahui pentingnya makna memiliki mimpi, dan mengejarnya sekuat tenaga agar kelak tidak lagi ada penyesalan karena kita gagal mencoba.

            Luar biasa buku ini. Sebuah buku tentang pengidaup kanker tapi buku ini  begitu jauh dari kesan muram. Covernya yang biru unyu khas remaja seolah menyamarkan bahwa cerita ini adalah kisah sedih tentang dua penderita kanker yang saling jatuh cinta. Tapi, John Green memang penulis yang luar biasa. Tidak akan dia biarkan pembaca berkubang dalam kesedihan dan air mata. Kisah Hazel dan Gus dalam buku ini begitu “remaja”, hampir-hampir setiap kesedihan di dalamnya digambarkan dari sudut pandang anak muda yang optimis dan selalu memandang hidup, apapun itu, sebagai sesuatu yang harus dinikmati.

Hazel dan Gus mungkin tidak berusia panjang. Tapi, kenangan atas mereka akan selalu dikenang oleh mereka yang membaca buku ini. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan bahwa segala sesuatu dalam hidup memang sudah diatur sedemikian rupa. Hazel mendapatkan hadiah terindah dalam masa remajanya.

            “Di hari-hari terkelam, Tuhan meletakkan orang-orang terbaik dalam hidupmu.” (hlm 42)


Friday, September 13, 2013

A Walk to Remember (Kan Kukenang Selalu)

Judul: A Walk to Remember (Kan Kukenang Selalu)
Pengarang: Nicholas Sparks
Penerjemah: Katleen SW
Cetakan: 2, Juli 2002, 254 halaman
Sampul: Marcel AW
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

1561493

                Hanya sedikit buku remaja-romance yang saya baca. Dan, di antara yang sedikit itu, hanya buku karya Nicholas Sparks inilah satu-satunya buku yang sejauh ini bisa membuat saya hampir menangis. Catat ya, hampir lho, walau nggak sampai tersedu-sedu sesenggukan. Hanya sebatas tak kuasa menahan lelehan air mata yang tiba-tiba terbit ketika mendengar deskripsi altar pernikahan Landon dan Jamie. Menonton filmnya juga tidak mengubah keadaan, malah semakin memperjelas gambaran kisah cinta mengharu-biru antara kedua remaja yang saling jatuh cinta ini, walau versi filmnya mungkin lebai. Namun, versi film memiliki soundtrack yang dinyanyikan dengan begitu indah oleh Mandy Moore, dan lagu itu begitu pas. Tidak cengeng namun sedih menghayutkan nan indah.

                Buku ini benar-benar berbeda dengan kisah cinta remaja kebanyakan.  Walau tema utama masih sama, berkutat tentang kisah remaja yang saling jatuh cinta, A Walk to Remember adalah kisah luar biasa yang mungkin (sebagaimana judulnya) akan dikenang selalu oleh pembaca. Landon carter, seorang cowok pujaan gadis di seantero sekolah, tipikal cowok football yang populer, dipertemukan secara tidak sengaja dengan Jammie Sullivan, gadis alim yang selalu membawa alkitab ke sekolah. Keduanya bagaikan langit dan bumi. Yang satu urakan, satunya lagi kalem total. Tapi keduanya sama-sama populer dengan caranya sendiri. Landon keren dan trendi, sementara Jammie terkenal karena sikapnya yang selalu bersedia membantu orang lain.

                Apa yang terjadi ketika keduanya dipertemukan? Gaya tolak menolak, yang satu berupaya menolak yang lain karena perbedaan yang terlampau besar di antara keduanya. Tapi, cinta bekerja secara misterius. Suatu takdir memaksa Landon untuk terus berdekatan dan berinteraksi dengan Jammie. Bahkan, Landon pun terpaksa mengikuti ekstrakulikuler drama bersama Jammie, sebuah ekstra yang jelas-jelas enggak banget untuk cowok populer sepertinya. Dan, malam pementasan pun mengubah segalanya. Mengubah hati dan pandangan Landon tentang gadis sok alim yang selama ini selalu membuatnya  terlibat kesulitan. Malam itu, Jammie tampak luar biasa, begitu cantik. Pesonanya seakan lengkap karena batinnya juga sudah luar biasa cantik. Dan tumbulah benih-benih cinta itu.

                Dunia menjadi jungkir balik bagi Landon. Kini, ia tahu bahwa Jammie spesial dan ia akan sangat terhormat bisa mencintai gadis itu. Tapi, Jammie selalu menolak setiap kali Landon mendekatinya. Ada alasan khusus, sesuatu yang kata Jammie akan disesali Landon jika mereka bersama. Namun kekuatan cinta terlalu kuat untuk ditolak. Keduanya akhirnya saling jatuh cinta. Sebuah cinta yang suci, yang murni dilandasi oleh kasih sayang dan kecintaan terhadap kebaikan. Dan, ketika Landon mengetahui masa lalu sekaligus masa depan Jammie, cinta mereka mendapatkan tantangan sekaligus puncak yang digambarkan dengan begitu indah di altar pernikahan yang dihadiri oleh seluruh orang-orang yang mencintai dan jatuh cinta pada kebaikan seorang gadis bernama Jammie Sullivan.

                “Jammie saved my life. She taught me everything,
                 about love, hope, and a long journey to the end.
                I ‘ll always miss her.
                But our love … it’s like the wind.
    I can’t see it but I can feel it.”
                                                                (Landon Carter)



Tuesday, September 10, 2013

Hardy Boys, Misteri Selat Penyelundup



Judul     : Hardy Boys, Misteri Selat Penyelundup
Pengarang          : Franklin W Dixon
Penerjemah       : Prodjosoegito
Cetakan               : 1, September 1982
Halaman              : 208 halaman
Penerbit              : Indira



                Ini pertama kali saya membaca seri Hardy Boys meskipun buku ini sudah beberapa kali diobral di Gramedia Sale (walau hanya diskon 40%). Waktu itu, saya belum tergerak untuk membacanya karena khawatir ceritanya tidak terlalu jauh berbeda dengan seri Lima Sekawan-nya Enid Blynton dan juga karena diskonnya yang nanggung alias kurang banyak (eh hihihii). Karena itu, ketika melihat seri ini tergeletak tak terurus di salah satu sudut Shopping bersama tumpukan buku-buku jadul ala Mira W dan Bastian S Tito, saya langsung membelinya. Iseng-iseng karena harganya murah sangat untuk buku terbitan tahun 80-an (buku ini lebih tua dari usia saya) yang hanya Rp 5.000,00. Terlebih ini terbitan Indira, yang mengingatkan saya pada komik Tintin zaman jadul yang sudah langka itu.
                Dan, iseng-iseng saya tidak sia-sia. Segera saja saya jatuh suka pada Hardy Boys. Sayangnya, seri yang saya baca ini bukan seri pertama. Tahu-tahu dijelaskan bahwa Frank dan Joe Hardy adalah anak-anak yang terkenal di Amerika Serikat karena telah memecahkan kasus-kasus besar. Tidak seperti Lima Sekawan yang cenderung ke petualangan anak-anak, seri Hardy Boys lebih tepat ditujukan untuk bacaan anak-anak remaja. Kasus yang diselidiki lebih pelik, penjahatnya juga somehow lebih kejam, petualangannya juga jauh lebih berbahaya dan menantang. Alurnya juga cepat, tidak berputar-putar di deskripsi seperti Lima Sekawan. Bahkan pergantian antar-bab pun dibuat seru dan menegangkan.

                Dalam Misteri Selat penyelundup, Frank dan Joe Hardy diminta untuk menyelesaikan sebuah kasus tentang lukisan yang hilang dalam perjalanan ke Florida. Kasusnya semakin pelik karena Frank dan Joe dituduh sebagai pencurinya. Insting detektif mereka pun tertantang. Para penjahat itu kali ini telah keliru karena telah melibatkan bocah-bocah Hardy sebagai sang tertuduh. Keduanya pun bersiap untuk memberikan balasan yang setimpal. Maka, dimulailah penyelidikan dua kakak-beradik itu demi menelusuri lukisan. Petunjuk membawa mereka menemukan lorong rahasia  yang digunakan si pencuri, bertemu dengan orang-orang asing yang nekat mau melukai keduanya. Dan, begitu keduanya terjun aktif dalam misteri pencurian lukisan ini, kasus yang menunggu mereka rupanya jauh lebih besar daripada hilangnya lukisan bersejarah.

                Petunjuk mengarahkan mereka untuk mendatangi rawa-rawa Everglades di Florida, California. Kawasan ekosistem rawa yang unik dan dilindungi UNESCO ini menjadi kawasan konservasi buaya muara yang sudah langka, sekaligus menjadi tempat yang populer untuk menyelundupkan benda-benda non-pajak ke luar negeri. Segera saja, Frank dan Joe mendapati bahwa musuh mereka bukan hanya pencuri lukisan, tapi juga gerombolan penyelundup yang kejam, pemburu buaya yang ganas, serta seorang bos besar yang misterius. Dibantu dua temannya, dua anak muda itu berjibaku menyusup ke rawa-rawa Everglades, menyaru sebagai kaum penyelundup, kucing-kucingan dengan para penjahat, sampai harus berhadapan dengan buaya-buaya muara yang dengan senang hati akan melahap mereka. Mampukah dua anak muda pemberani itu menghadapi gerombolan penyelundup internasional? Dimanakah lukisan yang hilang itu disembunyikan? Dan, siapa sosok Bos Besar yang mengontrol semuanya dari sebuah rumah di tengah rawa-rawa penuh buaya? Kisah ini ternyata sangat seru, bacalah sendiri jawabannya.  

Rating: Pembaca berusia 12 tahun ke atas karena banyak petualangan yg melibatkan pistol, buaya, dan perompak. 
               

Friday, June 28, 2013

Beautiful Soul



Judul     : Beautiful Soul
Pengarang          : Stefiani E.l.
Halaman              : 208 hlm
Cetakan               : kedua, Juni 2012
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Beautiful Soul


Salahkan saya yang sembarangan (karena alasan waktu yang mepet mendekati DL) mencomot buku bergenre romance yang ada di rak perpus kantor dan kemudian menyesal karena sepertinya saya mengambil buku yang salah. Alih-alih mengambil novel karangan Orizuka atau C. Simamora, saya malah mengambil Beautiful Soul hanya karena novel ini lebih tipis. Mungkin, ditambah dengan genre yang mungkin “kurang saya banget”, dengan terpaksa novel mungil ini hanya mendapatkan bintang 2. Apakah karena saya kurang suka genre romance? Ah, tidak juga. Saya sangat menyukai buku Memilikimu -nya mbak Sanie, juga An Other Heart terbitan kantor sendiri yang saya baca beberapa tahun yang lalu.

Lalu, mengapa buku ini hanya mendapat dua bintang? Satu jawaban yang pasti, This is too good to be true alias ceritanya khayali banget. Seolah-olah Beautiful Soul ditulis benar-benar untuk membuai membaca melalui kisah yang karakternya WOW. Secara singkat, novel ini mengisahkan kehidupan cinta seorang abg bernama Ame. Gadis ini cerdas dan banyak disukai cowok (pdhal dlm deskripsinya si Ame ini digambarkan tidak suka berdandan dan kerempeng) tapi ia sangat dingin sama yang namanya cowok. Rama, cwok idola kelas yang mengejar-ngejarnya selalu ditampik. Oke, cewek ini rupanya tipikal cewek yang mandiri dan ngak menye-menye, like this !

Nah, semuanya berubah saat sang pangeran berkuda putih datang ke SMA tempat Ame bersekolah. Coba tebak siapa namanya? Steven Williams … ta da! *tiup terompet* Oke, cowok ini atletis, keturunan indo, bisa bahasa Indonesia, kulit putih, badan tegap, sixpeks, tajirnya melebihi Rama, jago basket, dan pintar di mata pelajaran. (wow … Is he a angel in disquise? —bilang aje lu sirik, Yon!). Bukan, bukan karena saya sirik karena tubuh gue nggak tinggi plus gak sikpeks, tapi bukankah karakter yang serba sempurna seperti ini cepat bikin pembaca bosan (baca: sirik)? Yg udah baca Mortal Instruments -nya Cassandra Clare pasti tahu, bahkan keturunan malaikat a.k.a nephilim aja nggak sesempurna Steven.*halah

Lanjut ya, nah hanya dengan Steven inilah Ame merasa degdeg walau nih cewek masih agak jual mahal (setuju!). Sepertinya, jantungnya selalu berdetak lebih kencang saat Steven ada didekatnya. Dan, seolah FTV telah menakdirkan munculnya bibit-bibit cinta di antara keduanya, cinta pun mulai bersemi. Keduanya seolah2 selalu dipertemukan oleh X factor, mulai dari ikut lomba mewakili sekolah, hingga saat keduanya menguak kehidupan Rama yang kelam. Dan, ending-nya sudah bisa ditebak. Yang sering nonton FTV pasti tau :))

Selama menghabiskan buku tipis ini, saya menanti-nanti adanya twist yang mungkin bisa menjungkirbalikkan pendapat awal saya terkait novel ini. Mungkin, Steven ini adalah psikopat yang menyamar, mungkin Rama-lah sebenarnya sang pahlawan, mungkin Ame sebenarnya seorang cowok (haish …imajinasimu!). Nah, setelah dengan tekun membaca (dan skip satu bab #eh), saya tidak kunjung menemukan kelemahan dari si Steven ini (ini saya kok sirik banget ya!). Pemuda indo itu dari awal sampai akhir digambarin yang psotof-positif melulu, bahkan tidak suka gerayang-gerayang layaknya anak cowok SMA seusianya, pokoknya so sweet deh). Bahkan, cowok ini sempet2nya datang ke rumah ortunya Ame di Padang (setting di Semarang) demi memohon agar Ame diperbolehkan ikut kuliah ke Amrik bersama Steven, ia bahkan rela tidur di teras agar ortu Ame luluh (dan ini dilakukan oleh anak kelas 3 SMA!)?

Entah sayanya yang sudah kelewatan umurnya sehingga tidak bisa melihat sisi indah dari Beautiful Soul atau memang alur cerita seperti inikah yg digilai abg saat ini, pokoknya bintang dua itu tidak berubah. Satu hal yang perlu mendapat jempol dua dari novel ini adalah alurnya yang tertata, bahasanya renyah, dan memang ceritanya rapi. Bisa dibaca untuk santai. Dan, betul seperti yg dibilang Oky dalam reviewnya, penulis memiliki bakat dan potensi untuk menulis cerita dengan karakter yang lebih dewasa, ya model metropop gitu. Asah terus bakat menulismu, kami akan menantikan karya-karyamu yang semoga jauh lebih matang daripada novel ini. Semangat!

Monday, December 3, 2012

123 Anti Kere #1 dan #2


Judul              : 123 Anti Kere #1 dan #2
Penyusun       : @in9a dan 3 Temannya
Penyunting    : Gina S. Noer
Sampul                      : Fahmi Ilmansyah
Desain dan ilustrasi     : Teguh Mashora
Cetakan                       : Pertama, Februari 2012                     
Penerbit                       : @_PlotPoint dan Bentang Pustaka 


123 Anti Kere (Seri 123, #1)




Ada banyak cara untuk hemat dan kaya, salah satunya dengan tertawa lewat buku ini. Boro-boro dapat tips keuangan ala motivator kenamaan, yang ada kita dibuat ngakak terpingkal-pingkal saat membaca buku ini. Dengan cara ini, dua tiga utang terlampaui. Tipsnya dapet, ngakaknya juga dapet. Lengkap deh pokoknya.

Jurus AntiKere #2. Bawa duit ngepas sebelum keluar rumah
            Di kala uang kamu habis dan kamu pengen beli barang, ngak jadi beli deh karena duitnya nggak ada. Alangkah pasnya kalau nggak Cuma duit aja yang nge-pas. Tapi baju, celana, dan tampang juga minimal harus pas-pasan. (AntiKere #2 hlm 3)

            Buku setengah komik ini rupanya menyasar anak-anak SMA dan kuliahan. Para penulisnya memiliki tujuan mulia untuk mendidik adek-adeknya agar bisa mengelola keuangan (baca: irit) tapi dengan cara-cara yang sebisa mungkin tidak mengurangi kadar keren ala anak muda zaman sekarang. Untuk remaja, mereka sih paling males kalau dinasehatin dengan gaya sok tau dan sok dewasa. Yang ada malah kita mendapat balasan: “Trus, guwe harus bilang WOW sambil salto gitu!” (Kapak mana inih kapak!)

123 Anti Kere (Seri 123, #2)

Jurus AntiKere #24. Jalan Kaki
            Mens sana in corpora sano! Yang artinya, jalan kaki adalah sebagian dari ngeceng! (AntiBego #1 hlm 30).

            Tuh kan, kelihatan banget kepiawaian para penulis dalam mengolah konsumen anak muda. Bagi anak muda zaman sekarang yang kemana-mana naik motor dan mobil, jalan kaki mungkin menjadi pilihan terakhir saat bepergian. Tapi, jalan kaki mau tidak mau merupakan jurus ampuh untuk menghemat uang transport dan bensin. Selain sehat dan murah, kita juga bisa sambil ngeceng alias tebar pesona di sepanjang jalan. Hemat dapet, ajang narcis dan hasrat “eksibionis”nya juga dapet. Jiahahaha.

            Masih ada banyak lagi jurus-jurus berhemat yang praktis dan sangat bisa diterapkan, di samping ramah dan tidak mengurangi kadar norak ala anak muda zaman sekarang. Kadang, jadi norak itu sesekali membanggakan sih cause nothing is perfect in this world. Di antara jurus-jurus tersebut antara lain: membeli tiket konser setelah dua tiga lagu pertama dimainkan, gaul di taman kota, menunggu musim sale, beli roti di bakery saat menjelang tokonya mau ditutup, hunting di kaskus.com, ambil katalog di supermarket, jangan belanja untuk menghilangkan stres, hindari dipalak tapi usahakan untuk selalu ditraktir, olahraga, dan kasih  hadiah dalam bentuk jasa bukan barang.

            Semua tips-tips tersebut dideskripsikan dengan santai dan tidak memaksa, bahkan kadang malah menjurus ke mana-mana. Yang awalnya mau membahas tentang jurus hemat dengan berolahraga eh ujung-ujungnya malah ngomongin gado-gado. Apa hubungannya coba? Ini masih ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi konyol yang menghiasi halaman-halamannya. Pokoknya, kalao mau cari cara hemat tapi tetep keren, buku ini cocok sebagai referensi—di samping sebagai penghilang stres dan buku humor.