Search This Blog

Showing posts with label inspiratif. Show all posts
Showing posts with label inspiratif. Show all posts

Monday, May 7, 2018

Topi Hamdan, Kesabaran yang Tak Berbatas


Judul: Topi Hamdan
Pengarang: Auni Fa
Penyunting: Iswan H
Cetakan: November 2017
Tebal: 344 hlm



Roda kehidupan manusia memang tidak pernah dapat ditebak. Tapi satu hal yang pasti, Tuhan mempergilirkan nasib hamba-hamba-Nya serupa roda, kadang jaya di atas dan sekali waktu harus terlindas di bawah. Kita tidak bisa mengetahui dengan persis apa maksud Tuhan, tetapi kita selalu dapat belajar banyak dari ketetapanNya ini. Bahwa hidup memang tersusun atas kepingan duka dan kepingan bahagia. Tidak selamanya manusia akan berkubang dalam lembah kesedihan. Tidak selamanya pula manusia bertabur kebahagiaan. Semua ada masanya. Dengan mengetahui kebenaran ini, kita jadi tidak gampang putus asa saat sedang mendapatkan ujian hidup karena Tuhan pasti telah menyiapkan kebahagiaan di ujung sana. Di sisi lain, kita juga menjadi tidak mudah takabur atau lupa diri ketika sedang mendapatkan kenikmatan hidup. Sungguh, Dia berkuasa untuk mengubah nasib kita semudah kita membalik telapak tangan.

Wednesday, January 10, 2018

Mencari Jalan Cinta Lewat Mencari Rumi

Judul: Mencari Rumi
Pengarang:Roger Housden
Penerjemah: Jimmi Firdaus
Sampul: Ferdika
Cetakan: Pertama, Januari 2018
Tebal:
Penerbit: Basabasi










Memang benar kalau ada yang bilang Rumi tidak lagi hanya menjadi milik orang Islam. Rumi dan karya-karyanya telah menginspirasi orang-orang dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai ras atau agama, juga tempat tinggal. Bahasa cinta memang tidak mengenal sekat dan batas, dan syair-syair cinta Rumi benar-benar membuktikan hal ini. Georgiou, seorang pelukis muda Yunani yang berdiam di Florence, Italia, hanyalah salah satu dari ribuan atau bahkan puluhan ribu orang yang tersentuh oleh syair-syair Rumi. Sesuai judulnya, Mencari Rumi menggambarkan perjalanan panjang si pelukis muda untuk mencari sang sufi agung di negeri asing. Berawal dari kota Florensia yang indah di Italia, Georgiou tidak bisa menemukan sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. 

Pemuda itu tinggal di kota terindah di Eropa, memiliki pekerjaan yang disukai sekaligus menjamin kehidupannya, serta dia dapat bekerja sekaligus mencari pahala. Georgiou ini pelukis orang-orang suci dalam ajaran Katholik ngomong-ngomong. Semua keindahan duniawi itu ternyata belum mampu menerbitkan kepuasan batin dalam diri si pemuda. “Betatapun indahnya dunia, tak ada satu pun yang mampu mengisi semua kehampaan ini,” keluhnya.  Hatinya tersentil ketika temannya membacakan satu petikan dari syair karya Rumi. Nama yang asing, yang baru pertama kali didengarnya. Tetapi dari syair yang dibacakan Andros, temannya, pemuda itu mulai menemukan tanda-tanda bahwa kepada Rumilah hatinya akan menemukan jawaban dari segala pertanyaannya. “Keinginanmu tidak akan selalu bisa diwujudkan sesuai rencana. Yang bisa kau perbuat hanyalah mengikuti suara hatimu,” kata Andros.

Monday, November 23, 2015

Hector and the Search of Happiness

Judul: Hector and the Search of Happiness
Penulis: Francois Lelord
Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting: Nuraini Mastura
Cetakan: 1, November 2015
Sampul: Oesman
Tebal: 263 hlm
Penerbit: Noura Books

27394534

Kebahagiaan pada dasarnya tergantung pada cara kita memandang sesuatu, seperti konsep gelas setengah penuh atau setengah kosong.” (hlm. 208)

Apa itu bahagia, bagaimana meraihnya? Mungkin, inilah pertanyaan yang paling sering diutarakan oleh manusia modern, pertanyaan tentang kebahagiaan. Di zaman ketika segala sesuatunya bisa dibilang ‘hampir semuanya ada dan mudah’ seperti saat ini, rupanya pertanyaan tentang kebahagiaan masih kerap mengemuka. Apa itu bahagia? Sebuah pertanyaan sederhana tapi begitu panjang dan beragam jawabannya. Cobalah tanyakan pertanyaan simpel itu kepada salah satu atau dua teman Anda, dan bersiaplah menuliskan sebuah daftar panjang berisi kebahagiaan. Pada akhirnya, bahagia bagi setiap orang adalah berbeda-beda, mulai dari yang sederhana seperti memiliki rumah dan kebun sendiri hingga yang pelik beraroma politik macam lebih sulit untuk merasa bahagia di sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang jahat. (hlm. 102)

Thursday, July 30, 2015

Orang Jujur Tidak Sekolah

Judul : Orang Jujur Tidak Sekolah
Pengarang : Andri Rizki Putra
Cetakan : 2, 2015
Tebal : 264 hlm
Penerbit : Bentang






23503377

Nganu, saya kok semacam jadi malu sendiri setelah baca buku ini. Berasa tidak ada apa-apanya saya ini dibandingkan Rizki yang ewekecehbegeteh dengan perjuangannya dalam menempuh pendidikan. Wajah saya ini juga tidak ada apa-apanya kalau dijejerin sama Rizki oppa yang macam member boiben ini *haiah* Trus, semakin ke belakang, semakin kagum saya dibuat dengan pemikiran penulis muda yang seperti melampaui kawan-kawannya ini. Lulus SMA dalam waktu setahun, keterima di UI dan bisa lulus dlm 3 tahun, cum laude pulak. Habis itu, dia kerja dan udah bisa beli mobil sendiri (saya sih sebatas baru bisa beli buku sendiri *jauh bener bandingannya) dari hasil kerjanya. Buset, ini anak muda memang bikin iri. Tapi, iri pada kebaikan katanya diperbolehkan, biar kita terpacu untuk ikut menjadi lebih baik.

Andri Rizki Putra (selanjutnya kita panggil dia Kiki) lahir dan dibesarkan oleh Mamanya sendiri. Sejak kecil, dia belum bertemu dengan sosok ayahnya. Namun, Mama-nya ternyata adalah seorang single parent yang luar biasa. Bisa dibilang, Rizki sangat bergantung pada sosok Mama-nya ini sehingga dia bisa meraih kesuksesan yang diperolehnya sekarang. Saya juga sangat tersentuh pada kedekatan Rizki dan Mamanya ini. Jarang-jarang loh mahasiswa baru ke kampus dianterin sama Mamanya. Anak muda kebanyakan mah ngak gitu, kayak mau gimana gitu kalau dianterin orang tuanya ke sekolah atau kampus. Berasa udah gede trus nggak mau dianterin. Padahal, hal-hal kecil kayak nganterin gini yang bisa bikin kita deket dengan ortu. Saya ingat, dulu kuliah pernah dianterin almarhum Bapak karena hujan deras sekali. Pengalaman sekali itu tak akan pernah ssaya lupakan. Eh bentar, ini mo cerita tentang Kiki bukan sih?

Jadi, Rizki ini memang berangkat dari keluarga yang miskin. Saat SD, dia pernah nggak diizinkan masuk kelas karena masih nunggak uang SPP. Bahkan, karena belum bayar uang sekolah itu, dia terpaksa mengerjakan ujiannya di luar kelas. Sungguh miris, semoga yang seperti ini tidak akan lagi terulang di masa sekarang. Kiki kecil juga nakal, jadi semakin rumyamlah keadaannya. Untungnya, ketika menjelang kelulusan, Kiki terkena semacam pencerahan gitu. Udah miskin, nakal lagi, mau jadi apa besarnya? Kiki akhirnya bertekad, walau miskin paling tidak dia akan jadi anak yang pintar. Dengan begitu, Mamanya bisa bangga dan rasanya tidak sia-sia beliau berjuang banting tulang demi menyekolahkan putra satu-satunya itu.

Masuk SMP, Kiki bisa masuk ke SMP negeri favorit karena kecerdasannya. Di sekolah menengah ini, Kiki terus menerus berhasil menjadi 3 besar sehingga sekolah bisa "memaklumi" kondisi ekonomi keluarganya yang sering membuatnya menunggak uang SPP. Kiki sebenarnya rikuh dengan kebijakan sekolah ini, seolah dia bisa sekolah karena kebetulan saja dirinya cerdas dan selalu rangking pertama. Gimana jika ada anak kurang mampu tapi sayangnya kurang cerdas? Betapa tidak adilnya karena tujuan pendidikan itu sendiri sejatinya adalah untuk mencerdaskan.

Hal lain yang membuat Kiki gerah dengan institusi sekolah adalah ketika mereka menghadapi ujian UAN. Ada sementara oknum guru yang menyebarkan SMS berisi kunci jawaban soal. Konon, hal ini agar anak-anak sekolah situ nilainya bagus-bagus (yang otomatis akan mengangkat pamor sekolah yang bersangkutan). Herannya, pengawas dan para guru seolah membiarkan kecurangan ini berlangsung. Mungkin, daripada susah-susah mendingan instan saja. Kiki, yang harus berjuang banting buku, lipat mata untuk belajar, tentunya merasa sangat keberatan. Betapa tidak adilnya jika perjuangan seorang anak untuk belajar selama setahun dikalahkan oleh contekan.

Misalnya begini. Si A benar-benar berjuang agar bisa lulus. Sejak semester 1, dia ikut bimbel. Dari pagi sampai sore waktunya habis untuk belajar. Malam pun dia masih harus ngapalin rumus. Trus pagi-pagi buta, dia bangun pagi untuk menulis ringkasan materi. Ketika UN tiba, dia bisa mendapatkan nilai 9 untuk Matematika, karena memang dia bisa.

Kemudian, si B. Anaknya khas remaja kebanyakan. Waktunya habis untuk mengelus telepon genggam atau main di game center. Belajarnya pun malas-malasan. Pagi hari menjelang UN, dia dapat sms kunci jawaban soal matematika dari gurunya. Dia mendapat nilai, katakanlah, 8.5. Coba, bandingkan usaha keduanya. Betapa praktik pencontekan massal ini telah membanting hancur adagium "No pain, no gain" yang legendaris itu.

Inilah yang dirasakan begitu berat oleh Kiki, dan mendorongnya untuk berhenti sekolah. Dia kemudian memilih untuk mengikuti Kejar Paket C (setara SMA) yang bisa ditempuh dalam satu tahun. Selama satu tahun itu dia terus berjuang belajar sendirian, mengabaikan pendapat miring dari orang-orang tentang nasib anak putus sekolah sepertinya. Kiki bertekad membuktikan bahwa dirinya bisa, bahwa sekolah formal bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih cita-cita, sekolah nonformal pun bisa. Dalam waktu setahun itu, habis deh tembok kamarnya penuh dengan rumus yang harus dihafalkannya. Dia sendiri mengaku hampir gila karena tekanan belajar itu.

Tapi, pepatahan "No pain no gain" ternyata masih terbukti. Kiki lulus UN kesetaraan dalam waktu satu tahun. Sementara teman-teman seangkatannya naik ke kelas 2 SMA, dia sudah bisa mendaftar ke UI jurusan hukum. Setahun berikutnya, ketika teman-temannya asik di dunia putih abu-abu, Kiki sudah bergelut dengan soal-soal tes masuk universitas. Ketekunannya membuatnya lolos UI. Kemudian di UI duh, takutnya pada bosan kalau saya cerita lagi. Baca bukunya sendiri deh.

Walau buku ini bisa dibilang semibiografi, tapi penulisannya smooth banget dan enak diikuti. Saya yang sering tidak tahan baca buku biografi, ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar 2 hari untuk membaca buku ini. Kiki ini tulisannya rapi, tidak melompat-lompat, enak diikuti. Plus, banyak pelajaran dan kalimat-kalimat #jlebb yang kita bisa belajar darinya. Kadang, belajar tidak melulu dari para senior. Bahkan dari seorang yang masih muda belia seperti Kiki ini, kita belajar banyak hal tentang kehidupan dan juga tentang tidak abai dengan kondisi di sekitar kita.

Sangat direkomendasikan sekali baca buku inspiratif ini.

Thursday, June 4, 2015

Our Story


Judul    : Our Story
Pengarang : Orizuka 
Penyunting : Agatha Tristanti
Sampul : Tedy Hanggara
Cetakan : 2, 2011
Tebal : 235 hlm 
                                                            Penerbit : Authorized Books

10048887
 
Sekali lagi, saya dibuat kagum dengan kepiawaian seorang Orizuka dalam bercerita. Dia berani mengambil tema yang bisa dibilang berani. Tapi, Orizuka juga berhasil mengeksekusi tema tersebut dalam cerita yang matang namun tetap terasa aroma remajanya. Hal lain yang sangat saya sukai dari buku ini adalah semua tokoh di dalamnya abu-abu, seperti celana dan rok yang mereka kenakan sebagai anak-anak SMA. Tidak ada tokoh utama yang sepenuhnya sempurna (well, mungkin Ferris), tapi seluruh tokoh dalam Our Story adalah sebagaimana diri mereka sendiri. Mereka dipaksa oleh keadaan, dan bukannya dipaksa oleh penulis untuk selalu menjadi sempurna. Mereka tetap abu-abu, remaja kebanyakan dengan segala persoalannya.  Berkali-kali saya menepuk jidat saat membaca novel ini. Bukan karena jidat saya nonong, tapi karena banyaknya “kejutan”  yang disembunyikan Orizuka. Orang yang semula akan saya kira menjadi tokoh utama, ternyata hanyalah salah satu pemain di panggung SMA Budi Bangsa. Sementara, tokoh lain yang saya kira awut-awutan, ternyata punya sisi lain. Dan, hebatnya lagi, Orizuka tidak lalu memaksa tokoh-tokohnya untuk berubah drastic. Semua dieksekusi dengan pelan dan lembut, terasa sangat manusiawi dan tidak berlebihan.

Friday, September 12, 2014

Sabtu Bersama Bapak


Judul : Sabtu Bersama Bapak 
Penulis : Adhitya Mulya 
Penerbit : GagasMedia 
Tahun terbit : Juni 2014 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 278 hlm 

ISBN : 979-780-721-5 



22544789


Bayangkan sebuah perpaduan antara buku parenting, sebuah novel karya Mitch Alboms, dan buku humor-galau-jomblo (yang lagi nge-hits saat ini) yang semuanya lalu dijadikan dalam satu buku tipis. Maka, resep unik itu akan menghasilkan buku baru berjudul Sabtu Bersama Bapak yang kece ini. Saat menemukan judul yang unik ini di salah satu toko buku online, saya sedikit banyak langsung teringat sama salah satu novel bestseller Mitch Albom yang judulnya Tuesday with Morrie. Hampir agak terlalu mirip bukan? Satu lagi kemiripan di antara kedua novel tersebut, dua-duanya sama-sama inspiratif, dan juga sama-sama bestseller. Tapi, mentang-mentang judulnya mirip, apa kemudian buku ini menjiplak karya Albom? Setelah saya membaca sendiri kedua buku tersebut, ternyata keduanya berbeda, masing-masing unik dengan caranya masing-masing. Dan, saya menyukai keunikan dalam buku Sabtu Bersama Bapak ini. Lalu, sebenarnya, buku ini tentang apa sih kok bisa heboh?

Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang dua saudara, kakak-beradik bernama Satya dan Cakra yang keduanya terpaut usia 3 tahun. Bapak mereka meninggal karena kanker saat keduanya masih kecil dan belum mengerti apa itu hidup. Sang Bapak, yang divonis dokter hanya punya sisa waktu satu tahun lagi untuk hidup, memutuskan bahwa ia harus mencari cara agar dirinya bisa tetap mendampingi anak-anaknya meskipun dia sudah tidak ada. Maka, dia mengabadikan dirinya lewat rekaman kaset di handy cam. Melalui kaset video, sang Bapak merekam petuah – petuah yang telah dia pelajari mengenai kehidupan, mulai dari mencari cinta, menjadi suami yang harus bisa membahagiakan istri, tentang pentingnya perencanaan sebelum menikah, hingga pentingnya nilai IPK di atas 3. Rekaman-rekaman ini dibagi dalam kaset-kaset yang kemudian akan diputar seminggu sekali, setiap hari Sabtu bakda ashar.

Maka, ketika anak-anak lain seusianya sibuk ngemal atau pacaran ngak jelas di Sabtu sore, Satya dan Cakra malah asyik di rumah untuk menonton kaset rekaman dari mendiang ayah mereka. Melalui media kaset itulah sang Bapak mendidik dan menemani putra-putranya tumbuh besar. Model pengabadian diri lewat kaset rekaman ini sudah pernah saya baca dalam salah satu kumpulan kisah inspiratif di internet, tapi Aditya Mulya punya cara lain untuk membuat buku ini berbeda—walaupun tetap inspiratif—yakni dengan membully Cakra (dan juga para jomblo sebangsa dan setanah lapang). Sumpah deh, kaum jomblo dimanapun Anda berada bakal disentil habis-habisan oleh buku ini. Hanya saja, kesentilnya di sini itu kesindir sekaligus terhibur, bisa ngakak kepontal-pontal.

HATINYA-HATINYA!
JEROAN DIJUAL MURAH!
HATINYA, BU! MASIH SEGAR! HATI JOMBLO BU, LIHAT INI BANYAK BEKAS LUKANYA
HIDUPNYA BERAT INI, BU! (hlm 169)

Ceritanya, si Cakra ini sukses dalam pekerjaannya, tapi merana dalam percintaannya. Dalam usia 30 tahun, dia sudah punya rumah dan mobil sendiri, tapi boboknya belum ada yang menemani (halah). Sampai Satya udah punya anak tiga, si Cakra ini masih saja betah dengan kesendiriannya (gimana ngak betah, rumah sendiri, rezeki tercukupi, makanan enak menanti, PS keren peneman sepi). Sang Ibu sudah berulang kali mencarikan calon menantu, tetapi Cakra keukeuh adem aja, pengen konsen ke kariernya katanya. Hebohnya lagi, selain di-bully dalam setiap acara keluarga, Cakra ini juga di-bully sama bawahan-bawahan di kantornya. Heran saya, bawahannya Cakra ini bocor pada orang-orangnya, tapi sekaligus asik. Ini menunjukkan betapa Cakra sejatinya adalah seorang pimpinan yang merakyat, tidak gampang marah, asyik diajak bercanda (tapi dia jomblo wkwkwk). 

---

Pagi, Pak Cakra
Pagi, Wati
Udah sarapan, Pak?
Udah, Wati
Udah punya pacar, Pak?
Diam kamu, Wati

---

Pagi, Pak
Pagi, Firman
Pak mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting
Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?
Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo
Enyah, kamu. (hlm 43)

Selang-seling kisah Cakra dan Satya di buku ini. Sementara Cakra sibuk mencari jodoh, Satya sibuk memikirkan ulang perannya sebagai suami dan ayah yang baik bagi ketiga anaknya. Rutinitas kerja yang klise, telah menjauhkannya dari istri dan ketiga anaknya secara fisik (dan akhirnya secara mental). Dalam kondisi inilah, Satya mendapatkan kembali motivasi dari rekaman kaset almarhum Bapaknya. Kita bisa belajar banyak tentang ilmu parenting dari kisah Satya ini, setelah sebelumnya dibuat ngakak total oleh kisah cinta Cakra yang mengenaskan itu. Membaca buku ini ibarat memakan kue lapis legit, satu lapisan manis, dan satunya lagi anyep, tapi sama-sama enak. Setelah tertawa-tawa sampai bocor membaca kisah Cakra (sambil ngaca), kita juga diajak belajar akan pentingnya makna hidup oleh kisah Satya dan ibunya.

“Ya Allah, berikanlah kepada Kang Saka, jodoh secepatnya.”
“AMIIIN.”
“Loh? Pak Ustaz.. doanya tentang rumah ini aja.”
“Oh. Baik.”
“Ya Allah, jadikanlah rumah ini, tempat yang Engkau restui. Tempat barokah-Mu turun, ya, Allah…”
“AMIIIN.”
“Berikanlah kepada rumah ini, wanita yang mengurusnya, istri untuk Kang SAka.”
“AMIIIN”

“Loh? Loh?? Loh!!?? Pak…”
"Ah, sudahlah..."

Terlepas dari kisah miris Cakra dan kematian Bapak mereka yang terlalu dini, bisa dibilang Satya dan Cakra adalah pria pria yang beruntung. Mereka memiliki Bapak yang perhatian, yang tahu pentingnya pendidikan dan perencanaan. Jadi, meskipun mereka hanya bisa “bertemu” Bapak mereka sekali seminggu, tetapi mereka adalah contoh anak yang sukses dibesarkan. Mandiri, mapan, dan membangun keluarga sendiri (kecuali si Cakra yang agak telah *ditampol Cakra), keduanya adalah tipe pria idaman para mertua. Meskipun banyak kalimat-kalimat yang kesannya mengurui dan sok sempurna di buku ini, tetapi kelincahan penulis mampu melarutkan kekakuan yang sering muncul saat kita membaca buku motivasi, terutama dengan membully si Cakra (*sambil ngaca ke diri sendiri). Sebuah buku yang unik, asyik, dan inspiratif. Patut dibaca bagi para pemuda yang ingin menjadi kesayangan calon mertua. Saya juga setuju dengan Dhila, tokoh Bapak dan Ibu di buku ini terlalu gaul untuk ukuran zamannya. 

Sebentar, jadi bagaimana nasib si Cakra? Tenang, seperti kata iklan, semua akan indah pada waktunya *kibas rambut

Monday, June 2, 2014

The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)

Judul : The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)
Pengarang : John Green
Penerjemah : Ingrid Dwijani N
Penyunting : Prisca Primasari
Sampul : BlueGarden
Cetakan : 1, 2012
Tebal : 422 hlm
Penerbit : Qanita

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgttFgW3DIuuslK7ZD94ArwstPscjIkKGWuxsywaA5Y8ZXc5c04E1i4HzK7qBvmNPhsSPbfTBAretxzQ8cLEtIBp1QJ49pVcb7ljhyFWPd5GtuBIFvJqKPBha4VntWecRCMqwDRGHaeT6mI/s320/the+fault+in+our+stars+salahkan+bintang-bintang.jpg

            “Keberanian kita akan menjadi senjata rahasia kita.” (hlm 273)

            Hazel Grace, seorang gadis muda berusia 16 tahun penderita kanker paru-paru yang harus membawa-bawa tabung oksigen kemanapun dia pergi. Augustus Waters, 17 tahun, cowok cakep berusia 17 tahun yang disukai Hazel. Dia juga penderita kanker osteosarkoma yang telah merenggut satu tungai kakinya (satu kakinya adalah kaki palsu, dan dia berjalan pincang, tapi kata Hazel cowok itu seksinya luar biasa). Kedua anak muda korban takdir ini dipertemukan dalam Pertemuan Kelompok Pendukung sebelum akhirnya saling jatuh cinta. Walau keduanya penderita kanker, tapi cinta kadang memang membuat yang lain kalah (untuk sementara) sampai-sampai keduanya terjerat juga oleh gombalan-gombalan khas remaja.

            “Aku ingin menemui lagi malam mini. Tapi aku bersedia menunggu semalaman dan hampir sepanjang esok.” (hlm 54)

            Hazel Grace sudah lama menerima kankernya sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Dia sudah siap mati, kapan saja daripada menanggung penderitaan yang tak terperi. Semangatnya hampir patah, dan dia menjalani hidup-hidup yang datar dan monoton sebagai penderita kanker, jauh dari sekolah dan teman-temannya. Dunia remajanya yang seharusnya cerah ceria menjadi hari-hari panjang antara satu suntikan dan suntikan lainnya, rangkaian hari-hari diantara masuk ke rumah sakit dan masuk lagi ke rumah sakit. Tapi, dia tidak mau dikasihani. Dari pikiran-pikirannya yang cerdas dan kadang ironis (buku ini ditulis dengan sudut pandang Hazel), kita tahu bahwa gadis ini adalah anak yang kuat.
           
“Jika kau tidak menjalani kehidupan untuk melayani kebaikan yang lebih besar, setidaknya kau harus mati untuk melayani kebaikan yang lebih besar.” (hlm 227)

            Sampai akhirnya, takdir memberikan kesempatan kepada Hazel untuk satu kali menjadi normal: Hazel jatuh cinta. Augustus, atau Gus, datang dalam kehidupannya dan menawarkan cinta ala-ala remaja. Hazel sudah bilang dia tidak mau dikasihani, tetapi Gus tidak mau menyerah dan mengatakan bahwa yang dia tawarkan adalah cinta, bukan rasa kasihan.

“Sungguh, aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tidak mau mengingkari diriku sendiri dari kenikmatan sederhana berkata jujur. Aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tahu bahwa cinta hanyalah teriakan ke dalam kekosongan, dan pelupaan abadi tak terhindarkan, dan kita semua sudah ditakdirkan, dan ada hari ketika semua upaya kita menjadi debu, dan aku tahu matahari akan menelan satu-satunya Bumi yang kita miliki, dan aku jatuh cinta kepadamu.” (hlm 208)

            Maka, cinta melawan kanker, atau setidaknya hidup dengan kanker tapi memiliki orang yang dicintai dan mencintaimu akan terasa jauh lebih berharga ketimbang hidup dengan kanker saja. Gus telah mengingatkan Hazel bagaimana rasanya menjadi manusia normal. Kanker boleh saja telah mengambil kesehatan (dan kelak) hidup mereka, tetapi tidak seharusnya kanker juga dibiarkan mengambil cintanya.

            Dari Hazel, pembaca akan belajar banyak tentang makna perjuangan hidup. Jarum suntik, obat, rasa nyeri, tatapan iba, terputus dari dunia yang normal, segala sesuatu yang tidak pernah kita alami (dan jarang kita syukuri) sebagai orang-orang normal. Dari Gus, kita belajar arti mencintai. Bahwa tidak ada waktu terlambat untuk mencintai dan bahwa setiap orang berhak untuk merasa dicintai. Dari Gus juga kita akan mengetahui pentingnya makna memiliki mimpi, dan mengejarnya sekuat tenaga agar kelak tidak lagi ada penyesalan karena kita gagal mencoba.

            Luar biasa buku ini. Sebuah buku tentang pengidaup kanker tapi buku ini  begitu jauh dari kesan muram. Covernya yang biru unyu khas remaja seolah menyamarkan bahwa cerita ini adalah kisah sedih tentang dua penderita kanker yang saling jatuh cinta. Tapi, John Green memang penulis yang luar biasa. Tidak akan dia biarkan pembaca berkubang dalam kesedihan dan air mata. Kisah Hazel dan Gus dalam buku ini begitu “remaja”, hampir-hampir setiap kesedihan di dalamnya digambarkan dari sudut pandang anak muda yang optimis dan selalu memandang hidup, apapun itu, sebagai sesuatu yang harus dinikmati.

Hazel dan Gus mungkin tidak berusia panjang. Tapi, kenangan atas mereka akan selalu dikenang oleh mereka yang membaca buku ini. Keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan bahwa segala sesuatu dalam hidup memang sudah diatur sedemikian rupa. Hazel mendapatkan hadiah terindah dalam masa remajanya.

            “Di hari-hari terkelam, Tuhan meletakkan orang-orang terbaik dalam hidupmu.” (hlm 42)