Search This Blog

Monday, December 21, 2015

By the Time You Read This, I’ll Be Dead

Judul: By the Time You Read This, I’ll Be Dead
Penulis: Julie Anne Peters
Penerjemah: Hedwigis Lani Rachmah
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan pertama, April 2015
Tebal: 332 halaman



25477403 



Banyak di antara kita yang pernah dibully (atau mungkin malah mem-bully) di masa kecil dulu. Beberapa mungkin sampai ke penghujung masa remaja. Entah yang masa, satu hal pasti bahwa kenangan tentangnya selalu membekas dalam lubuk kantung masa lalu kita di dalam jiwa. Saat ketika diri dilemahkan, tidak dihargai, dilecehkan, dipermainkan; semua hanya kadang karena seseorang berbeda dari yang banyak (terlalu gemuk, genduk, terlalu kurus, pendek, ceking, bahkan kadang karena terlalu miskin) sehingga si pihak yang kuat (atau banyak) merasa berhak menindas mereka yang lebih lemah (atau lebih berbeda). Pengalaman di-bully ini kemudian tetap tinggal dalam ceruk rahasia yang tetap saja terasa menakutkan bahkan ketika si korban telah dewasa. Dalam beberapa kasus, kenangan buruk tentangnya bahkan sedemikian rupa merusaknya, seperti yang dialami Daelyn.

Mereka membunuhmu dengan kata-kata mereka.


                Daelyn adalah seorang remaja putri yang menjadi korban bullying sejak kecil. Semua dimulai ketika dia masih SD, hanya karena tubuhnya yang terlalu gemuk dibanding anak-anak sekelasnya, dia di-bully habis-habisan. Kesukaannya terhadap makanan manis malah memunculkan tragedi pahit di masa kecilnya. Sedemikian parah bullying yang diterimanya, tidak sekadar ungkapan verbal, tapi bahkan telah merujuk ke penyerangan secara seksual. Ini masih diperparah lagi dengan kesalahan orang tuanya yang malah memasukkannya ke kamp orang gendut; sesuatu yang kemudian mengubah drastis seorang Daelyn karena dalam dan gelapnya lubang yang terbentuk dalam jiwanya. Alih-alih mendukung anaknya agar tetap ceria walau gendut, kedua orang tua Daelyn malah memasukannya ke kamp neraka. Latihan di Kamp Orang Gendut selama musim panas adalah masa-masa terberatnya. Orang tuanya beranggapan Daelyn di-bully karena dia terlalu gemuk sehingga dengan mengurangi berat badannya, pembullyian itu diharapkan akan berhenti. Mereka keliru, kamp orang gendut adalah neraka bagi Daelyn.  Sejak saat itu, gadis itu tidak lagi mau mempercayai orang tuanya sendiri.

                Sudah beberapa kali Daelyn mencoba bunuh diri: meminum cairan pemutih hingga mengiris pergelangan tangannya di bak mandi; semuanya gagal. Tapi, sejak percobaan bunuh diri itu, Daelyn tidak lagi bisa bicara. Dia menutup dari dari dunia luar dan menghindari segala bentuk kontak fisik. Dia membenci manusia. Dia membenci kehidupan. Isi kepalanya hanya dipenuhi oleh cara bagaimana agar dia selekasnya bisa pergi dari dunia ini. Daelyn pun bergabung dengan sebuah situs bunuh diri yang berjudul “Menembus Cahaya.” Situs ini berisikan forum bagi mereka yang membutuhkan dukungan untuk membunuh dirinya sendiri, sampai cara-cara bunuh diri yang bisa dilakukan—lengkap dengan skala kesakitan yang mungkin akan dirasakan. Daelyn mendaftar, dan buku ini adalah catatan tentang 23 hari yang dia lalui sebelum dirinya menembus cahaya.

                Semua rencana untuk mengakhiri kehidupannya sudah disusun rapi, bahkan Daelyn sudah membuang barangnya sedikit demi sedikit agar dia dilupakan. Sayangnya, seorang cowok aneh bernama Santana tiba-tiba hadir di hidupnya. Tidak peduli betapa Daelyn sangat sulit ditembus, Santasa terus menerus menemui dan menemani si gadis saat sedang menunggu jemputan. Dia melakukan apa pun agar Daelyn mau bicara dengannya—yang gagal, tapi Santana tidak menyerah. Ada sesuatu dalam diri cowok itu yang mirip dengan Daelyn, yang membuatnya beda dari cowok-cowok lainnya. Daelyn sudah berulang kali mengabaikan Santana, memberinya tatapan tanpa ekspresi setiap kali dia riuh rendah bercerita, sampai menusuknya dengan pensil setiap kali cowok itu melakukan kontak fisik sederhana kepadanya. 

Daelyn memang sudah parah depresinya sampai disentuh orang lain pun dia merasakan kesakitan. Bisa dibayangkan betapa parahnya perlakuan bully yang pernah diterimanya dulu. Pembaca mungkin akan senewen sama Daelyn yang isi pikirannya serba negative dan selalu ingin bunuh diri ini. Gadis ini begitu keras menutup diri dalam cangkangnya, asyik bergelung dalam kegelapannya sendiri sementara tangan-tangan hangat terulur kepadanya dari luar cangkang. Betapa tega dank eras kepalanya Daelyn ini bahkan kepada orang tua dan Santana yang telah sedemikian baik kepadanya. Saya sempat berpikir, ini si Daelynnya yang terlalu baper atau memang kadar bullying yang dulu diterimanya memang sedemikian parah.

Menuju 23 hari terakhir kehidupannya, pembaca akan diajak mundur ke belakang, ke masa lalu, untuk mengetahui apa yang telah dialami Daelyn. Apa yang membuat suaranya menghilang, bagaimana perlakuan yang diterimanya di kamp orang gemuk, hingga beragam percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Untungnya, kemuraman Daelyn diimbangi oleh tingkah polah Santana, si cowok sableng, yang sepertinya bakal menjadi favorit pembaca. Kira-kira, berhasil nggak ya Santana mengubah niat Daelyn, membuka cangkangnya, dan menunjukkan bahwa dunia adalah baik sejatinya jika dia mau meminta tolong.

Selalu ada jalan keluar. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengambil jalan itu.
 
Buku yang patut dibaca baik remaja maupun orang dewasa untuk menegaskan kembali betapa berbahayanya tindakan bullying. 

“Kewajiban  kita adalah menghentikan tindakan bully, di mana pun, kapan pun, oleh siapa pun.” (Rangga SM*SH)
 

1 comment: