Search This Blog

Showing posts with label fantasy. Show all posts
Showing posts with label fantasy. Show all posts

Thursday, February 21, 2019

Warstorm, Badai Perang yang Sayangnya Kurang Menggila

Judul: Warstorm
Pengarang: Victoria Aveyard
Penerjemah: Reni Indardini
Tebal:816 hlm
Cetakan: Pertama, Desember 2018
Penerbit: Noura




Dunia Red Queen menarik bukan hanya karena pengarang mampu menyatukan semesta Avatar Aang dan X Men dalam wujud baru. Lebih dari itu, penulis membangun sebuah dunia pascakiamat yang segar dari puing-puing imajinasi yang sudah ada sebelumnya. Puing-puing itu disusun sedemikian rupa, menghasilkan dunia baru denga konflik yang sangat jauh berbeda dari dua karya kreatif yang mungkin menjadi idenya. Dunia Red Queen membagi manusia dalam dua ras sesuai warna darahnya: Kaum Perak dan Kaum Merah. Saya kurang tahu detailnya, tetapi sesuatu hal canggih yang keliru telah memunculkan mutant-mutant yang mampu meneruskan kemampuan sakti mereka kepada keturunannya. Inilah kaum perak. Sementara, manusia berdarah merah adalah manusia biasa tanpa kesaktian. Atau bisa jadi, Kaum Perak adalah jenjang selanjutnya dari evolusi manusia. 

Monday, December 10, 2018

Sihir Novel Fantasi Lokal dalam Arterio

Judul: Arterio
Pengarang: Sangaji Munkian
Editor: Auliya Millatina Fajwah
Cetakan: 2017
Tebal: 403 hlm
Penerbit: bitread




Selalu senang tiap kali ada novel fantasi karya anak negeri yang diterbitkan. Secara tahu sendiri, betapa toko buku kita dibanjiri oleh novel-novel fantasi terjemahan. Karya novelis lokal bukannya tidak hadir, hanya mungkin kalah gemanya karena kurang promosi. Padahal, Indonesia adalah sumber ide cerita fantasi yang kaya sekaligus gudangnya orang-orang kreatif. Harusnya, lebih banyak fiksi fantasi bagus lahir di negeri ini. Mungkin penulis-penulis kita butuh belajar lagi (hei, kita semua juga kan?) serta poles-poles sedikit agar orisinalitas itu muncul. Tetapi, sebuah peradaban besar dimulai dari pembangunan kecil. Dan, Arterio bisa menjadi batu awal dari bangkitnya fiksi fantasi Indonesia.

Arterio berkisah tentang para siswa di Nimbel, sebuah sekolah di Kerajaan Kartanaraya  yang siswanya dibagi menjadi lima golongan jurusan. Lima jurusan yang sekaligus menjadi penanda status sosialnya (jadi ingat Divergent). Pada usia tertentu, setiap anak akan diinisiasi untuk menentukan akan masuk ke jurusan apa yang cocok untuk mereka. Lazuar untuk mereka yang mencintai ilmu hayat, Vitarea bagi peminat telaah muggle eh ilmu tentang manusia, Arterio untuk yang ingin menjadi penyembuh, Pragma bagi peminat studi teknik, dan Zewira bagi para perwira pelindung negara. Keren ... saya suka penamaan-penamaan jurusannya. Unik, terasa unsur lokalitasnya, sekaligus sangat melambangkan.

Standarnya, anak akan meniru orang tuanya. Jika ayah ibunya seorang arterio, anaknya pun biasanya juga arterio. Perkecualian bila anak yang bersangkutan terindikasi memiliki kurania atau bakat khusus yang menonjol. Dengan kurania ini, dia bisa dimasukkan ke kategori yang berbeda dengan keluarganya, bahkan di kategori yg lebih tinggi. Setiap anak yang terpilih lalu dimasukkan dan dididik dalam kampus-kampus khusus. Nah ini jadi keinget Hogwarts. Dalam kampus inilah mereka mempelajari berbagai hal tentang bidang mereka. Di separuh pertama buku ini, kita diajak belajar di kelas ramuan bersama trio sekawan: Zag, Nawacita, dan Tio.

Zag tidak pernah ingin jadi seorang penyembuh. Keinginannya adalah masuk jurusan Zewira agar bisa menjadi pejuang kuat seperti ayahnya. Padahal, remaja ini termasuk berbakat dalam meramu aneka ramuan mujarab. Sayangnya, bakatnya diarahkan untuk membuat ramuan pembunuh dan bukannya ramuan penyembuh. Keinginannya untuk bertarung tidak padam meskipun bakatnya ada di kelas penyembuh. Pada akhirnya, ketika Zag dipertemukan dengan kondisi di mana dia memang harus bertarung atau mati, remaja itu menemukan tempat sejatinya di Nimbel."Seberbeda apa pun kau dengan orang lain, jika mereka peduli maka mereka adalah temanmu." (hlm. 124)

Pada bagian kedua, giliran  pembaca diajak belajar jadi Zewira. Kali ini POV-nya ganti. Jika di separuh awal kita bersama Zag, maka di paruh kedua pemandunya adalah Neng Nawacita. Bagian kedua ini lebih banyak adegan berantem secara fisik. Tetapi entah kenapa saya kok lebih suka bagiannya Zag dengan aneka istilah jurusan kesehatan yang unik. Rasanya, diksi penulis yang sangat orisinal itu terasa benar-benar hidup di separuh awal. Tetapi, keduanya sama-sama menampilkan kisah yang enak diikuti. Juga bakal ada dua pertarungan epik di buku ini. Kece.

Buku ini dari luar tidak terlalu tebal, tetapi ternyata ada 400 hlm dengan font mungil ketika kita membukanya. Terus terang butuh waktu lumayan lama membacanya sampai selesai. Aroma Harry Potter dengan kelas ramuannya langsung menyapa di halaman-halaman awalnya. Saya khawatir jangan-jangan ini bakal jadi HarpotWannabe lagi. Untungnya enggak. Kelas ramuan di sini lebih terasa ilmiah sihiriyah. Salut saya sampaikan ke penulis karena bisa mengkreasikan kisah ramuan berbau sihir tanpa harus membebek sama kelas Prof. Snape.

Bagian pembagian ala Divergent juga cukup mengganggu saya. Apalagi pas si Zag merasa berada di jurusan yang salah, seperti bakal mengarah ke factionless alias enggak masuk kategori mana pun. Untungnya, pertanyaan ini langsung ngumpet begitu ada adegan perang yang cukup twisted di tengah. Tapi, sekali lagi saya sangat terhibur dengan cara penulis mengayunkan kata-katanya. Terasa, gimana ya ... orisinal, apalagi bagian penamaan wilayah dan nama ramuan.

Tentang editing adalah yang paling mengganggu saya saat membaca buku ini. Saya sampai harus bolak balik nanya ke editor fiksi buat ngecek kata kata macam kebersinaran. Kata beliau, sah sah saja katakata itu sebagai diksi dari penulis. Tapi kalau typo? Lumayan banget typo di buku ini, sungguh disayangkan untuk kisah sebagus Arterio. Akhirnya, saya diberi nasihat untuk mengabaikan dulu editingnya dan fokus ke cerita. Saya jadi lebih bisa menikmati membaca Arterio.



Terima kasih sudah meramaikan blogtour Arterio di blog Baca Biar Beken. Setelah membaca semua jawaban dan pertimbangan ini serta itu, berikut ini sang pemenang terpilih: 
 
Nama: Hapudin
Twitter/Email: @adindilla/hapudincreative@gmail.com

Selamat kepada pemenang terpilih. Saya tunggu konfirmasi alamatnya di Twitter ya. Terima kasih. 


 

Wednesday, September 12, 2018

The Burning Maze, Mari Bermain TTS bareng Apollo

Judul: Trials of Apollo, The Burning Maze
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Tebal: 540 hlm
Cetakan: Pertama, Juli 2018
Penerbit: Mizan Fantasi


40959315

Memang tidak ada cara yang lebih baik untuk bisa memahami seseorang selain merasakan sendiri bagaimana menjadi orang tersebut. Kalau istilahnya orang sana, cobalah dulu sepatunya baru kamu bisa dengan objektif menilai seseorang. Kali ini, si Apollo yang ketiban sial kudu memakai sepatu milik salah satu kaisar triumvirat jahat dari Romawi kuno untuk bisa membebaskan peramal ketiga yang jago bikin TTS. Setelah wilayah Timur dan Tengah daratan Amerika Serikat dieksplorasi di buku pertama dan kedua, di Burning Maze ini giliran kawasan barat menjadi setting. Di sini Rordan kembali menunjukkan kejeniusannya dalam meramu cerita fiksi berdasarkan setting nyata. Kawasan California yang beriklim panas dan beberapa waktu lalu mengalami kebakaran hutan yang hebat dimasukkan dalam setting cerita. Bagi kita yang manusia biasa, Kabut menjadikan peristiwa itu semata kebakaran besar murni akibat cuaca yang kering. Tetapi bagi para demigod dan dryad, kebakaran itu berasal dari sesuatu yang kuno di dalam labirin Daedalus yang salah satu pintunya kebetulan membuka di wilayah California. 

Friday, May 4, 2018

Annihilation, Pemusnahan


Judul: Annihilation
Pengarang: Jeff Vandermeer
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Primadona Angela
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: 243 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



"Di dunia ini tak ada yang benar-benar  objektif--bahkan dalam keadaan terisolasi, bahkan sekiranya otak hanya berisi hasrat yang begitu kuat untuk mencari kebenaran." (hlm. 13)

Sebagaimana filmnya yang sunyi sepi dari pemberitaan, novel Annihilation juga hanya sempat ramai di awal (karena kemunculan sampulnya yang kece) ketika Gramedia mengumumkan akan menerbitkan versi bahasa Indonesianya. Satu bulan setelah terbit, hanya segelintir pembaca saja yang membaca dan (apalagi) mengulas novel karya Jeff Vandermeer ini. Kalau foto-foto di IG sih banyak, tetapi ulasan di goodreads tidak seramai ulasan buku-buku sci-fantasi populer lain, semisal Illuminae misalnya. Beberapa ulasan sepakat mengatakan buku ini unik. Jenis buku fantasi yang berbeda dibanding buku-buku scifi yang ada di pasaran karena berani mengambil plot yang tidak pasaran. Tetapi, di sinilah pertaruhan itu diletakkan. Menulis sebuah novel fantasi dengan tema yang tidak populer berpotensi menjadikan novel tersebut sepi pembaca. Mungkinkah kondisi sepi-sunyi di Area X turut mempengaruhi sepinya tanggapan atas buku ini di pasaran Indonesia?

Annihilation saya akui memang termasuk fiksi yang berat. Sampai membaca tuntas novel ini, saya masih belum bisa menangkap 100% isi dari novel ini. Tema sentralnya adalah sebuah kawasan liar di selatan (selatannya mana?) yang dilingkupi oleh fenomena yang aneh sehingga menjadikan tempat tersebut dijauhi. Setting area X adalah kawasar pesisir dengan perpaduan vegetasi hutan-rawa-bakau. Setting waktunya kemungkinan di masa depan karena ada alat-alat canggih dan ilmu psikologi telah berkembang pesat (Si Ahli Psikologi yang juga ahli hipnosis seperti orang super yang mampu mengendalikan pikiran orang lain di buku ini). Ada sesuatu di Area X yang menjadikan kawasan tersebut dibatasi (anggota tim harus melewati Perbatasan jika ingin masuk ke sana). Bahkan alat modern seperti telepon genggam dilarang dibawa masuk karena ancaman kontaminasi.

Wednesday, May 2, 2018

Supernova #5 Gelombang: Pengantar Menuju Konflik


Judul: Gelombang
Pengarang: Dewi Lestari
Tebal: 492 hlm
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Penerbit: Bentang Pustaka
 23252584


Pengalaman membaca seri Supernova bagi saya ternyata menyerupai kurva melandai. Bermula dari keterpukauan di buku pertama, lalu lama setelahnya sampai lebih dari 12 tahun, saya kembali terpukau dengan Akar serta Petir. Maka ketika ada kesempatan, saya pun melanjutkan ke Partikel sebelum kemudian Gelombang. Kedua buku terakhir ini yang menurut saya mulai melandai, dan anehnya kok polanya sama dengan serinya. Saya sangat menyukai bagian awal dari Partikel (tentang jamur) dan Gelombang (tentang mitologi orang Batak) karena mengingatkan saya kembali kepada Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang begitu cemerlang. Setelah bagian awal, kecermelangan itu mulai melandai turun, cenderung menjadi cerita yang walaupun digarap bagus tetapi rasa-rasa terpesona di awal itu tiada. Dalam Gelombang, saya sampai butuh tidur barang dua puluh menit untuk mengintirahatkan otak karena “mimpi” yang terlampau panjang.


Thursday, April 19, 2018

A Wrinkle in Time, Teori Einstein dalam Sebuah Novel Anak


Judul: Kerutan dalam Waktu
Pengarang:  Madeleine L'Engle,
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Tebal: 267 hlm
Cetakan: September, 2010
Penerbit: Atria

9298840

Ilmu pengetahuan adalah salah satu ide terbaik untuk menulis fiksi. Sama halnya, karya fiksi juga menjadi salah satu sarana transfer ilmu pengetahuan yang efektif.  Ada banyak sekali karya fiksi yang digunakan untuk memudahkan pembaca memahami teori-teori dan rumus-rumus ilmu pengetahuan yang dirasa berat. Memang, sifat  fiksi yang fleksibel memungkinkan teori dan rumus tersebut disampaikan secara lebih luwes lewat cerita. Pemahaman tentang anatomi tubuh misalnya, bisa dipelajari dengan lebih “menyenangkan” dalam novel-novel thriller pembunuhan. Atau, tentang teori relativitas ruang dan waktu karya Einstein yang berat itu, ternyata sedikit banyak bisa diterangkan lewat novel anak-anak yang sebenarnya lumayan berat bobotnya ini.

Dalam Kerutan dalam Waktu, konsep perjalanan melintasi waktu dijelaskan melalui petualangan tiga anak cerdas bernama Meg, Charles Wallace, dan Calvin o’ Keefe. Ketiga anak ini dipertemukan dengan tiga wanita nyentrik dengan nama yang tidak kalah nyentrik:  Mrs. Whatis, Mrs Who, dan Mrs Which. Dari luar, ketiganya terlihat seperti nenek-nenek tua biasa. Tetapi, perkenalan lebih lanjut menguak bahwa ketiganya adalah entitas purba yang bisa menekuk ruang dan waktu. Sebentar, bagaimana bisa anak-anak biasa dipertemukan dengan tiga entitas berusia jutaan tahun? Semuanya berawal dari pencarian terhadap ayah Meg. Sudah dua tahun ayah Meg menghilang tanpa kabar. Di kalangan tetangga, beredar kabar tak sedap tentang alasan perginya ayah Meg. Tetapi, ibunya terus meyakinkan Meg bahwa ayahnya sedang dalam proyek ilmiah dengan orang pemerintah. Wanita itu yakin kalau suatu saat suaminya pasti akan kembali. Kedua suami-istri Murry memang pasangan ilmuwan yang mengabdikan diri sepenuhnya pada pengetahuan.

Pencarian terhadap ayah Meg. Inilah garis besar yang menjadi  awal sekaligus alur kronologis dalam novel ini. Ketiga anak itu kemudian dipertemukan dengan 3 nenek nyentik bernama unik tadi. Ketiganya berjanji akan membantu Meg untuk menemukan ayahnya. Untuk menolong sang Ayah,  mereka harus menuju ke sebuah planet Camazotz yang diliputi oleh materi gelap. Jarak sekian juta tahun cahaya ditempuh dalam beberapa kedipan mata karena Mrs Which mampu melakukan tesser alias menekuk ruang dan waktu sehingga perjalanan jauh pun bisa dilalui dalam sekejap mata. Kemudian, seperti di kisah-kisah fantasi lainnya, pembaca akan disuguhi perjuangan Meg dalam melawan sang musuh besar yang menahan ayahnya.

"Hanya seorang tolol yang tidak bisa merasa takut." (Mrs. Whatsit)  

Thursday, March 29, 2018

Ruby Red dan Sapphire Blue, Sisi Feminin Kisah Perjalanan Waktu


Judul: Ruby Red dan Blue Saphirre
Pengarang: Kerstin Gier
Penerjemah: Fransisca Paula Imelda
Penerbit: Elex Media Komputindo



Di antara semua genre novel time travels dari luar, seri Edelstein-Trilogie termasuk yang paling lembut dan longgar. Dalam Time Line Michael Chricton, perjalanan waktu diatur sedemikian ketat dan berpindah ke masa lampau adalah sebuah perjalanan yang mengancam nyawa. Seri Time Riders juga terlihat upaya penulis yang begitu ketat mengontrol perjalanan waktu agar sejarah tidak tercemar. Seri ini menggambarkan dengan muram kekacauan besar yang mungkin terjadi jika ada yang mengubah masa lalu. Karenanya dibentuk lah agen-agen penjaga waktu untuk mengawasi agar tidak ada sejarah yang berubah akibat kontaminasi waktu. Versi lebih longgar dari Time Riders ini dapat dibaca pada seri History Keepers.  Sementara untuk seri Batu Permata karya penulis Jerman ini, pembaca mendapatkan seri feminin dari kisah perjalanan waktu. 

Gwendolyn Shepherd hanyalah remaja SMU biasa dengan kehidupan normal (cowok, jerawat, dan pekerjaan rumah). Namun, Gwen lahir dalam silsilah keluarga yang tidak biasa. Keluarga besarnya adalah satu dari dua keluarga ningrat pembawa gen penjelajah waktu. Keluarga Montrose  membawa gen pelintas waktu dari silsilah wanita, sementara keluarga de Villiers membawa gen pelintas waktu dari pihak pria. Tiap generasi dari dua keluarga tersebut, satu orang yang telah ditandai dari lahir akan menjalani kehormatan untuk masuk ke dalam organisasi rahasia dan menjadi agen lintas waktu bagi mereka setelah memasuki masa remaja. Seharusnya Charlotte sepupunya yang diramalkan (dan dipersiapkan) sebagai pelintas waktu. Tetapi, justru Gwen yang membawa gen pelintas itu. Dari remaja urakan yang hampir nggak bisa apa-apa, gadis itu tiba-tiba mengemban tugas berat sebagai seorang pelintas waktu yang bisa melompat ke masa lalu.


Friday, January 19, 2018

Bertualang ke Tiga Dunia bersama Datan si Pencuri


Judul: Tiga Dunia, Si Pencuri
Pengarang: Rama Nugraha
Penyunting: Sevy Kusdianita
Sampul: Ryn Yoanta
Tebal: 581 hlm
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Penerbit: Histeria





            Saat bertemu pertama kali dengan penulis Tiga Dunia, Rama sudah menunjukkan sedikit bagian naskah novelnya. Saya sempat membaca lima halaman pertama. Membaca sedemikian sedikit tentunya belum bisa memberikan gambaran tentang akan seperti apa novel tebal ini. Yang saya tangkap saat itu, Tiga Dunia adalah kisah tentang bangsa Neena yang digambarkan mampu bernapas di dalam air. Sementara tiga dunia dalam judul merujuk pada tiga alam yang menjadi setting novel ini, yakni alam Permukaan sebagaimana dunia terang tempat kita berdiam, lalu Dunia Bawah sebagai tempat berlindung kaum buangan. Lalu ada Dasar Dunia sebagai ujung kegelapan dunia tempat entitas makhluk tak berwujud dilahirkan untuk menjaganya. Awalnya, saya mengira kedahsyatan kaum Neena dan tiga dunia ini hanya akan berhenti di tulisan sampul semata, ternyata tidak sampai di situ saja. Mulai halaman lima dan seterusnya, saya tak bisa berhenti membaca novel ini. Ngalir banget terlepas masih ada beberapa layout yang tak sesuai. Selama penulis bisa lancar mengisahkan ceritanya, saya akan membacanya.



"Kau boleh gagal, Datan. Gagal banyak. Tapi kau tidak boleh berhenti. Kau tidak boleh berhenti apa pun yang terjadi.” (hlm. 32)

Thursday, November 23, 2017

Misteri sang Monstrumologist #2 (Kutukan Wendigo)



Judul: The Curse of the Wendigo - Kutukan Wendigo
Pengarang: Rick Yancey
Penerjemah:
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Tebal: 480 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

36322852

Seri kedua Monstrumologist memiliki nuansa aksi yang sedikit berbeda bila dibandingkan buku pertamanya. Pertarungan melawan sang ’monster’ lebih banyak dilakukan di wilayah yang lebih luas, dimulai di hutan-hutan terpencil di perbatasan Kanada dan kemudian dilanjutkan di wilayah kumuh kota New York yang sangat padat. Rick Yancey sepertinya memang menggunakan dualitas yang saling bertentangan di seri ini. Monster mitologis yang dibuat nyata di buku pertama (blemmyphae) dan monster mitologis yang ternyata mengada-ada di buku kedua (Wendigo) Petualangan di alam liar yang sunyi sepi pada buku pertama, dan pertarungan mengerikan di wilayah padat penduduk New York. Tetap saja, penulis dengan lihainya tetap mempertahankan ciri khas cerita sang Monstrumologis: suram, sendu, berdarah-darah, dan masih sama mengerikannya dengan buku pertama. Sosok sang Monstrumologis juga semakin matang di buku ini, dalam artian, sang doktor terlihat semakin ilmuwan di sini. Hanya berpijak pada fakta, tidak berasumsi keduali ada bukti nyata, serta tampak kaku dan tidak empati; semua sifat-sifat menyebalkan para ilmuwan ada padanya.

Tuesday, November 7, 2017

The Monstrumologist (Sang Ahli Monster)

Judul: The Monstrumologist
Pengarang: Rick Yancey
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Penyunting: Bayu Anangga
Sampul: Olvyanda Ariesta
Tebal: 496 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Scoop




Referensi tentang monster blemmyae pertama kali saya jumpai dalam The Dark Phropechy-nya Rick Riordan. Dalam versi kocaknya, Riordan menggambarkan blemmyae sebagai manusia tanpa kepala dengan mata dan mulut di dada, serta sangat sopan (mau membunuh pun mereka minta izin dulu). Samar-samar, saya juga pernah melihat gambar monster ini di salah satu buku tentang penjelajahan samudra selepas masa Abad Pertengahan. Kalau tidak salah, penggambar peta kala itu menggambarkan sosok mahkluk ini di satu kawasan pedalaman di Afrika.  Tampaknya spesies ini aneh secara fisiologis, dengan tangan terlampau panjang yang menjulur sampai ke mata kaki, sehingga lebih layak untuk ditertawakan. Tetapi, berbagai referensi dari Abad Pertengahan menyebut bahwa blemmyae adalah binatang yang ganas, dan juga kanibal. Mereka dijuluki sebagai pemakan manusia. Rick Yancey semakin memperkuatnya dengan menambahkan detail yang mengerikan: lengan dengan otot tendon perkasa, kaki yang mampu melompat hingga 12 meter, cakar lengkung setajam  baja sepanjang 7 cm, serta—yang paling mengerikan—mulut menyerupai hiu dengan ribuan gigi taring yang mampu mengerkah mangsanya dengan kekuatan tekanan 2 ton.

Tuesday, October 17, 2017

The Trial of Apollo: The Dark Propechy, Pertaruhan Apollo



Judul: The Trial of Apollo: The Dark Propechy
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penyungting: Yuli Pritania
Tebal: 498 hlm
Cetakan: Juli 2017
Penerbit: Nourabooks



Mengikuti petualangan Dewa Apollo dalam bentuk manusia-nya sebagai Lester Papadopoulos memang bikin nagih. Setelah di buku pertama Apollo dan Meg serta para member Perkemahan Blasteran harus melindungi Oracle di Hutan Dodona, kini  perjalanan berlanjut ke kawasan tengah Amerika Utara. Kali ini, Apollo ditemani Leo Valdez dan pacarnya, Calypso. Senangnya, di buku kedua ini akhirnya Om Rick menggunakan setting di Indianapolis yang jarang digunakan dalam banyak novel fantasi ( yah kalau nggak New York, ya San Francisco, Detoit, Chicago, atau kota-kota besar lain). Selain setting yang baru, banyak tokoh dan mahkluk mitologis yang juga dimunculkan,  misalnya gerombolan Blemmyae yang kepalanya ada di dada dan mereka ini sangat sopan sekali (Apakah Anda lebih suka diinjak-injak  atau dicabik-cabik dulu? Anda berhak memilih sendiri) juga Dewi jaring-jaring alias Britomartis yang suka mendudukkan tamunya di kursi jebakan

Sepertinya, karakter Apollo ini adalah yang paling khas kalau dibanding karakter-karakter protagonis dalam serinya yang lain (seperti Percy dan Jason, saya bahkan sampai nggak bisa membayangkan sosok Jason macam gimana saking tipikalnya). Apollo ini, emm, gimana ya, dia jujur kepada pembaca. Kalau suka ya bilang suka, nyinyir ya nyinyir, kabur ya kabur. Beda dengan Percy yang kadang sok pahlawan (Jason apalagi ugh), si Lester ini jelas-jelas mengakui kalau dirinya bukan pahlawan. Sebagai mantan dewa matahari yang dilucuti dari kedewaannya, Apollo-Lester nggak ada kuat-kuatnya deh, walau congkak tingkat dewanya masih tetep sih. Pokoknya, yang kemarin masih kerasa kurang sama recehnya Apollo-Lester di buku pertama, maka di buku kedua ini akan makin banyak ocehan-ocehan sang mantan dewa matahari yang bikin pembaca kejengkang.

Wednesday, September 13, 2017

Lockwood and Co: Bayangan Mengendap

Judul: Bayangan Mengendap
Pengarang: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Tebal: 496 hlm
Cetakan: Pertama, September 2017
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Scoop

36088391


Di akhir buku ketiga, kita dikagetkan dengan keputusan Lucy untuk berpisah dengan Lockwood and Co. Alasannya memang cukup sentimentil: untuk melindungi Lockwood.  Alasan ini tidak sepenuhnya akurat karena Lucy mendapatkan ramalan jelek dari Pemuda Berongga yang mereka hadapi di kasus terakhir buku ketiga ini.Tapi, yang namanya sudah cinta eaaakkk jadi apalah arti berkorban demi si kesayangan eciyek ciye *dijambak Lucy.
Lucy kemudian membuka biro konsultasi mandiri, dia melayani permintaan bantuan dari agensi-agensi lain yang membutuhkan tenaganya. Sebaagi agen lepas, dia tidak lagi terikat pada agen manapun. Satu-satunya yang maish mengikat hatinya adalah kenangan akan Lockwood wkwk dan juga pada si tengkorak usil. Harus diakui, walau sering menyebalkan, si tengkorak sudah berulang kali membantu Lucy. Walau kadang bantuannya diberikan dengan setengah hati dan setengah jadi, Lucy berulang kali diselamatkan olehnya. 

Kemampuan Lucy yang agak-agak lumayan dalam menangkap suara hantu dan bisikan dari masa lalu ditambah dengan bisikan dari si tengkorak menjadikannya salah satu agen lepas paling laris. Tidak kurang dari para agensi Fittes juga menyewa bantuannya. Sampai di sini, semua tampaknya beres bagi Lucy. Sampai kemudian si tengkorak dicuri!  Suatu pagi, seseorang mendobrak paksa kamar Lucy dan mencuri wadah hantunya. Lucy yang berusaha mencari tahu siapa pencurinya malah gantian dikejar-kejar para pembunuh bayaran. Jika sebelumnya dia harus berhati-hati dengan sentuhan hantu, mulai saat itu dia juga harus waspada pada tembakan peluru dari manusia hidup. Hantu mungkin bisa ditangani, tapi kalau pembunuh suruhan, Lucy tidak bisa sendiri lagi. Mau tak mau, Lucy harus kembali Portland Row untuk mencari bantuan kepada mantan agensinya. Untuk sedikit spoiler, di buku ini musuhnya bukan lagi hanya para hantu, tetapi juga manusia hidup. Jangan salah, manusia kadang malah lebih kejam kepada sesamanya. Yah, setidaknya dengan begini tim Lockwood.co kembali utuh.

Di buku empat kali ini, kasus-kasus yang dihadapi Lockwood and Co. makin banyak, tambah beragam, serta semakin berbahaya. Berbahayanya karena sepertinya ada tangan-tangan manusia yang turut menyebabkan peristiwa-peristiwa  berhantu ganas. Setelah keempat agen kita dipertemukan lagi, Lucy baru kalau maksud baiknya untuk pergi demi melindungi Antony malah membikin cowok makin nekat. Dari George, Lucy tahu betapa pemuda itu suka begitu saja menerjunkan diri dalam bahaya semenjak Lucy pergi. Bahkan saat mereka menghadapi Kanibal Earling, Lucy melihat sendiri betapa makin sembrononya Anthony. Yah, begitulah kalau sedang ada lubang di hati eaak.  Untungnya, mereka belum kehilangan kekompakan tim. Kasus demi kasus berhasil dilalui, dengan penampakan hantu-hantu yang semakin beragam. Sayangnya, kita bakal jarang mendengar celetukan si tengkorak yang menyebalkan-tapi-dirindukan di buku keempat ini karena posisinya sedang dicuri. Tapi tenang, Lockwood menemukan dua artefak psikis lain yang nggak kalah kerennya.

Jika menyimak  perjalanan dari buku satu hingga buku empat, entah kenapa kok semakin ke sini saya merasakan aura menyeramkannya semakin pudar. Buku keempat ini lebih banyak saya baca di malam hari, dan perasaan serem itu tidak sedahsyat seperti saat membaca buku pertama dulu. Undakan Menjerit sempat membuat saya meletakkan bukunya karena tiba-tiba saya terbayang bunyi-bunyi derit undakan yang tak nyata saat asyik membacanya di malam hari. Sepertinya, seri ini semakin ke sini memang semakin aksi. Apalagi, ditambah dengan keterlibatan tangan-tangan manusia di balik munculnya wabah hantu. Selain hantu, Lockwood and Co harus berhadapan dengan dua agensi terbesar di Inggris yang masing-masing ternyata menyimpan rahasia besar terkait Masalah. Dengan demikian, mereka tak lagi harus waspada kepada para hantu, tetapi juga para manusia yang bermain di balik selubung. Dengan kata lain, buku empat ini lebih seperti novel fantasi ketimbang novel horor supranatural--dan itu bukan masalah karena ceritanya asyik banget. Begitu masuk, susah untuk berhenti.

Wednesday, August 23, 2017

The Last Star, Apa yang Menjadikan Kita Manusia?



Beberapa hari lalu, saya sempat membaca satu artikel di surat kabar terkait aksi teror di Barcelona. Satu hal yang saya tangkap dari tulisan itu, bahwa tujuan akhir dari aksi teror bukan pada jumlah korban yang sebanyak-banyaknya, tetapi pada munculnya rasa tidak percaya sesama—kepada orang-orang asing yang bukan dari golongan mereka. Ketika orang sudah tidak saling percaya, ketika itulah para teroris berhasil mencapai tujuannya. Orang jadi merasa tidak aman berada di kerumunan atau di antara orang-orang yang tidak dikenalnya. Mereka tidak mau lagi mengulurkan tangan kepada orang asing, bahkan pada mereka yang membutuhkan. Manusia kehilangan kemanusiaannya. Sungguh mengerikan jika ini terjadi. Seperti inilah resep yang digunakan Rick Yancey dalam buku terakhir seri Gelombang Kelima ini.

"... kau tak pernah kehilangan mereka yang mencintaimu, karena cinta itu konstan: cinta bertahan." (hlm. 142)

Saturday, February 11, 2017

Calamity, Akhir dari Kegelapan Para Epic

Judul: Calamity
Pengarang: Brandon Sanderson 
Penerjemah: Putra Nugroho
Cetakan: 1, Desember 2016
Tebal: 571 hlm
Penerbit: Mizan Fantasi

33848545

"Pahlawannya pasti akan datang, Nak. Tetapi terkadang, kita harus membantunya." (hlm. 447)

Dalam buku buku kedua trilogi The Reckoners karya Brandon Sanderson, David berhasil mengetahui bagaimana cara mencegah berubahnya para epic agar mereka tidak menjadi manusia super yang egois dan super congkak. Kekuatan besar yang telah mengorupsi jiwa ternyata masih bisa dilawan dengan keberanian untuk menghadapi ketakutan terbesar setiap Epic. Inilah yang akan membuat kegelapan mundur. Masalahnya, ketakutan setiap epic juga merupakan sumber kelemahan mereka. Dampaknya, kekuatan mereka ternegasikan alias tidak berfungsi setiap kali ada yang berhasil menemukan sumber ketakutannya. Inilah yang bikin Steelheart membasmi semua saksi mata di buku buku pertama. Sayangnya, pengetahuan ini tidak diperoleh secara gratis.  The Reckoners harus kehilangan Prof yang terjatuh dalam kegelapan karena terkorupsi oleh kekuatannya sendiri akibat tipu daya Regalia. Sekarang, David dan kawan-kawan harus bisa membujuk Prof untuk menghadapi ketakutannya sendiri, atau dunia akan musnah di tangan seorang High Epic baru yang tak kalah kuatnya dengan Steelheart.

"Ketakutan lah yang pertama muncul, kemudian diikuti kelemahan. Bukan sebaliknya."  (hlm. 71)

Friday, February 10, 2017

Ketika Dewa Apollo jadi Manusia Biasa

Judul: The Trial of Apollo
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini 
Tebal: 472 hlm
Cetakan: 1, Januari 2017
Penerbit: Mizan Fantasy

33957614

 Jangan suka menghina, jangan suka meremehkan. Dunia itu berputar. Apa yang awalnya di atas bisa sekejap diturunkan ke bawah. Seperti nasib Apollo, dewa congkak yang dihukum untuk menjalani kehidupan sebagai manusia fana akibat kesalahan fatalnya yang hampir bikin kiamat dunia (Baca seri The Heroes of Olympus). Zeus menghilangkan kedewaan Apollo, termasuk segala hak istimewa dewataniyahnya berupa kereta matahari bebas macet, kemampuan menguapkan penjahat dalam sekali tunjuk, perut yang selalu sixpaks tanpa harus olahraga, wajah tampan yang senantiasa belia, serta fasilitas WIFI gratis di kompleks Olympus. Apollo sekarang tidak lebih dari seorang remaja culun berambut keriting dengan perut menggelambir bernama Lester Papadopoulos. Belum pernah sebelumnya sang Dewa Musik, Panahan, dan Seni Pengobatan yang follower instagramnya paling banyak dibanding dewa-dewi Olympus lainnya ini dipermalukan sedemikian rupa. Tapi, cobaannya tidak hanya sampai di situ. Begitu ia jatuh ke bumi, cowok itu langsung dirundung oleh berandalan jalanan. Apollo yang biasanya hobi menebar wabah kini sama tidak berdayanya dengan remaja kikuk. Lebih parahnya lagi, dia pasrah saja diselamatkan seorang demigod jalanan yang keahlian utamanya hanya melemparkan buah-buahan busuk dari tempat sampah.

"Tidak semua monster berwujud reptil seberat tiga ton bernapas beracun. Banyak monster yang berwajah manusia." (hlm. 223)

Walau sudah dihukum, Apollo yang memang tertakdir congkak ini tetap saja narsis tak ketulungan. Bahkan setelah ditolong Percy, si dewa manusia ini masih sempet-sempatnya mengkritik teras rumah Percy yang tidak memiliki anjungan pendaratan untuk kereta terbang. Tapi, well, membaca buku ini kita kudu tahan sama congkaknya Apollo karena dialah yang jadi tokoh utamanya. Menariknya, akhirnya sorotan tidak lagi melulu tertuju pada Percy dkk yang serba sempurna. Apollo di buku ini sama sekali nggak sempurna, setengahnya Percy saja tidak. Jadi, jangan harap mendapatkan adegan aksi macam di seri Percy Jackson atau era Leo Valdes dkk. Kalaupun ada pertempuran, Apollo ini lebih sibuk membikin puisi dua bait alih-alih membidik dengan busur. Nah, untungnya, nyimak narasi Apollo ini asli bikin ngakak. Ada-ada aja tingkah mantan dewa matahari ini. Sementara yang lain sibuk mikir cara mengalahkan roh pembawa wabah penyakit, dia sibuk mengeluh. Sepanjang buku ini, isinya didominasi curcolan Apollo. Jadi kudu sabar-sabarin aja bacanya wkwkwk.

"Aku tersinggung kapan pun karya seni rusak, terutama jika karya seni itu menggambarkan diriku." (hlm. 230)


Tuesday, January 17, 2017

Perlawanan Sunyi Para Pengungsi Omega

Judul: The Map of Bones (The Fire Sermon #2)
Pengarang: Fransesca Haig
Penerjemah: Reni Indardini
Tebal: 572 hlm
Cetakan: 1, Oktober 2016
Penerbit: Mizan Fantasi

32767826



Sekitar empat ribu tahun di masa depan, dunia porak-poranda akibat perang nuklir yang membakar habis peradaban. Seluruh kebudayaan musnah beserta sebagian manusia penghuninya. Sisanya, manusia-manusia yang selamat harus memulai semuanya dari nol sambil menghiruo udara serta meminum air yang penuh radiasi nuklir. Sejarah bumi lenyap, orang-orang hanya tahu masa Sebelum Detonasi dan Sesudah Detonasi. Selain menghancurkan peradaban, perang nuklir juga menghasilkan efek samping yang sangat mengerikan. Semua bayi yang lahir Setelah Detonasi terlahir kembar. Satu bayi sempurna dan satu bayi yang mengalami cacat. Bayi yang terlahir sempurna ini lalu disebut kaum Alfa sementara kembarannya yang tak sempurna masuk golongan Omega. Uniknya, setiap kembaran dipersatukan oleh ikatan yang sangat erat. Alfa dan Omega lahir dan mati secara bersamaan. Ketika yang satu mati, maka kembarannya akan ikut mati. Jika si Omega mati karena dibunuh atau sakit atau kecelakaan, maka kembarannya si Alfa juga akan ikut-ikutan mati—meskipun saat itu fisiknya dalam kondisi prima. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya: si Alfa mati, maka kembaran Omeganya juga ikut mati.

“Keberanian jenisnya macam-macam.” (hlm 535)

Wednesday, January 4, 2017

Petualangan Keren Mencari Palu Thor

Judul: Magnus Chase and the Gods of Asgard, Palu Thor
Pengarang: Rick Riordan
penerjemah: Reni Indardini
Peyunting: Yuke Ratna P
Tebal: 588 hlm
Cetakan: 1, November 2016
Penerbit: Noura Books

 33224375

Setelah di buku pertama kita diajak kenalan sama Magnus, Valhala, dan dewa-dewi Nordik yang lebih sering bikin jengkel ketimbang bikin hormat, Magnus Chase dan Sam datang lagi mengajak kita bertualang. Kali ini, tujuan perjalanan (atau misi) mereka adalah mencari senjata magis yang menjadi judul buku ini: palu Thor. Yang sudah baca buku pertama tentunya sudah hapal dengan tabiat dewa-dewi dari bangsa Aesir ini: gesrek parah. Odin yang kepo banget dengan hp keluara terbaru (Nokia, pabriknya ada di Finlandia yang merupakan salah satu wilayah Viking dulu) serta Thor yang lebih sering menggunakan palunya untuk menonton episode terbaru serial BBC Channel; masih bakal temukan lagi satu lagi dewa gesrek di buku kedua ini. Nah, ceritanya, palu Thor ini hilang. Jadi Magnus dan Samirah ditugaskan untuk mencari tahu dan sekalian menemukan palu keramat ini. Dan mereka kudu bergegas menemukannya atau Thor bakalan ketinggalan episod terbaru Goblin eh salah, atau kaum raksasa akan nekat menyerang Midgard (dunia manusia).

Tidak ada palu. Tidak ada palu. Ini aku dengan Beyonce, tapi tidak ada palu." (hlm. 317)

Thursday, December 22, 2016

Cybertrons, Garda Legenda Nusantara

Judul: Cybertrons, Guardian of the Legends
Pengarang: Hamid Hamka
Tebal: 231 hlm
Cetakan: 1, Desember 2016
Penerbit: Mazola




Tahun 4040, mesin waktu telah ditemukan dan legenda di Indonesia bisa dibuktikan kebenarannya. Manic adalah remaja dari masa lalu yang tergabung dalam kelompok penjaga legenda dengan markas bernama Cybertron. Mereka menjaga legenda agar tidak terjadi perubahan. Kelompok ini dipimpin oleh Tomang atau familiar sebagai Profesor Crypt.


Ide tentang adanya sekelompok orang yang bertugas menjaga sejarah agar tetap sebagaimana mestinya mungkin sudah banyak diangkat dalam banyak novel fantasi luar, seperti di History Keepers dan Time Riders. Tetapi, saat menyeleksi naskah ini dalam lomba #fikfanDIVA tahun 2013, ide ini masih terasa sangat segar bagi saya. Terlebih, apa yang dijaga oleh kelompok Cybertrons adalah legenda-legenda nusantara. Unik dan pasti bakal asyik banget baca novel fantasi yang memadukan konsep mesin waktu dengan legenda nusantara ini. Inilah salah satu hal yang bikin saya memilih naskah ini sebagai salah satu yang masuk rekomendasi untuk diterbitkan. Sayangnya, kisah tentang perjalanan waktu adalah tema yang sangat riskan jika tidak diolah dengan hati-hati. Banyak plothole yang siap menjebak penulis yang kurang waspada. Dan ini masih ditambah dengan jumlah halaman yang terbatas. Dalam lomba #fikfanDIVA, yang dicari memang novel tipis alias novelet. Halaman maksimal adalah 120 – 130, spasi ganda, TNR dengan ukuran 12 pts. Bayangkan betapa susahnya menulis sebuah novel utuh dengan jumlah halaman setipis itu. Temanya fantasi pula.

Tuesday, November 29, 2016

Winter: Pertempuran Final di Bulan

Judul: Winter
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah:Yudith Listiandri
Jumlah halaman: 900 halaman
Cetakan: 1, Agustus 2016
Penerbit: Spring


31306759

Akhirnya Winter membawa saya ke penghujung The Lunar Chronicles bersama para putri dan pangeran dongeng yang dimodifikasi. Ada banyak hal yang menjadikan buku tebal ini menarik. Pertama, unsur dongeng yang dengan apik disisipkan dalam sebuah kisah roman-fantasi. Kedua, setting futuristik yang mengingatkan kita pada serial Starwars. Ketiga, betapa banyak dan kompleksnya konflik yang diangkat penulis seri ini, dan keempat para karakter yang membuat para pembaca jatuh cinta. Lama setelah kisah ini selesai dibaca, Kai, Cinder, Scarlet, Wolf, Thorne, Cress, Winter, Jacin, dan bahkan Iko; akan terus berdiam di sudut benak pembaca. Sesekali mengingatkan bahwa dahulu pernah ada seorang mekanik bertangan robot yang mampu mengendalikan pikiran, atau seorang pangeran dari Persemakmuran Timur yang menjadi idol para remaja Bumi, atau seorang peretas andal berambut panjang yang terperangkap dalam satelit bumi, atau seorang putri dari Bulan yang kecantikannya malah semakin sempurna karena luka kecil di wajah cantiknya.

Monday, November 21, 2016

Pertarungan Pamungkas para Garde

Judul: United as One
Pengarang: Pittacus Lore
Penerjemah: Nur Aini
Penyunting: Esti Budihapsari
Cetakan: 1, November 2016
Tebal:498 hlm
Penerbit: Mizan Fantasi

32885504

*awas spoiler*

Akhirnya, setelah perjuangan panjang, sampaikah kita pada penghujung dari kisah para alien cakep dari Planet Lorien ini. Tujuh buku bukanlah jumlah yang sedikit, dan penantian panjang pembaca akan selesainya seri ini akhirnya terbayar di buku ketujuh ini. Akhirnya, seperti bisa ditebak mereka berhasil mengalahkan Sentrakus Ra. Yang sudah sering baca fantasi pasti sudah bisa menebak endingnya. Biasanya buku-buku seri memang berujung begitu. Sering kali, kita sudah tahu bakal seperti apa ending sebuah novel, kebaikan mengalahkan kejahatan. Seperti dalam seri Harry Potter, pembaca sebenarnya sudah tahu kalau Harry akhirnya akan mengalahkan Voldermort tetapi tetap saja kita membaca dan menantikan ketujuh serinya. Cara pengarang mengisahkan ceritanya, inilah yang sebenarnya lebih kita nikmati ketimbang endingnya. Meskipun ending yang spektakuler tentu saja akan menjadi sebuah bonus yang akan menjadikan buku tersebut sempurna dan layak dikenang. Nah setidaknya hal itu yang saya temukan di Harry Potter, tapi tidak di buku ini.

Sejak buku lima, saya merasa sudah lelah mengkuti seri ini. Tetapi, iming-iming di ending buku kelima berhasil menggoda saya untuk tetap bertahan sehingga saya pun menantikan dan membaca buku keenam dengan sumringah. Kemudian, ternyata masih ada buku ketujuh yang--akhirnya--dijanjikan penulisnya sebagai buku pamungkas dari seri ini. Kenapa harus tujuh? Mungkin untuk menyesuaikan dengan 7 garde yang masih bertahan hidup sehingga mungkin masing-masing judul ini dipersembahkan kepada mereka. Okelah, meskipun saya sudah mau mengamuk di ending buku keenam, saya tetap bertahan dan berbaik sangka. Saya bayangkan buku ketujuh bakal luar biasa, menjadi penutup yang pamungkas dari seri ini. Kalaupun tidak seepik Harry Potter, setidaknya bisa menandingi hebohnya buku kelima dari seri Fablehaven atau Percy Jackson. Ternyata--menurut saya--buku ketujuh ini tidak seheboh itu.