Search This Blog

Saturday, January 28, 2023

Melihat Pengarang (sedang) Bekerja

 Judul: Melihat Pengarang Tidak Bekerja

Penulis: Mahfud Ikhwan

Tebal : 128 halaman

Cetakan: Pertama, Februari 2022

Penerbit: Diva Press


Kita sudah sering membaca tentang bagaimana para pengarang sedang bekerja, bagaimana proses kreatif mereka, dan apa saja yang mereka lakukan sembari proses mengarang itu berjalan. Lalu, bagaimana ketika pengarang sedang tidak bekerja?

Adakah hidup dan senggangnya bisa lepas dari proses kreatif? Ternyata tidak, atau setidaknya begitulah yang dialami dan dipaparkan oleh Mahfud Ikhwan di buku ini.

“…nikmat terbesar seorang penulis adalah masih bisa terus menulis." (hlm. 124)

Buku ini memuat esai-esai pengarang yang pernah dimuat di situs mojok.co, kemudian diterbitkan ulang dalam bentuk buku. Isinya tentu tidak jauh dari keseharian penulis dan dunia kreatif mereka.

Satu aspek khusus mungkin nuansa pandemi yang memang mewarnai masa ketika tulisan tulisan ini dibuat tahun 2020an. Ketika penulis (dan juga banyak yang lainnya disarankan untuk di rumah saja).


Bagaimana Penulis Menulis

Kekhasan kehidupan penulis pemula (di Jogja) dapat dibaca di sini. Bagaimana pengarang dengan royalti pas pasan harus bertahan hidup, bagaimana proses kreatif harus tetap berjalan meski duit mepet, bagaimana menghadapi pandangan miring orang lain tentang profesi penulis yang bekerjanya hanya duduk duduk. Dan juga, kebanggaannya ketika novel pertamanya terbit walau dengan segala ketidakmaksimalannya.

"...tak terkenal tidak apa, yang penting dapat uang." (hlm. 100)

Mereka yang pernah, sedang, dan masih menulis bakal banyak menganggukan kepala membaca buku ini. Ada begitu banyak persoalan tentang dunia jalan sepi ini yang ditulis dengan gaya sarkas tapi menghibur.

Misalnya saja, bagaimana Mahfud harus menghadapi dunia luar yang sepertinya masih sangat awam soal dunia penerbitan buku. Penerbit dianggap sama dengan percetakan yang mencetak tidak hanya buku tapi juga undangan, poster, baliho, dan lain-lain.

"... menulis selalu menghadapi godaan begitu dia hendak ditunaikan." (hlm. 38)

Paling menarik menurut saya adalah bab “Alasan untuk Tidak Menulis” yang pasti sering dihadapi oleh banyak penulis. Sekuat apa pun kemauan untuk menulis pasti tidak sebesar alasan untuk tidak menulis. Dan, ini pun dialami juga oleh pengarang novel Kambing dan Hujan ini.


Apa itu Sastra?

Pengarang tentu asyik ketika diajak bincang tentang sastra. Bagaimana Mahfud menjawab sastra itu apa, yang coba dia jawab dengan sederhana tetapi ternyata malah menunjukkan betapa dalam pengetahuan dan penghayatannya kepada sastra.

Atau setidaknya, ada begitu beragam buku buku sastra yang sudah dibacanya. Memang, sulit untuk membaca apa itu sastra karena cara terbaik memahaminya tentu dengan membaca karya-karya sastra. Tapi pertanyaannya kemudian, apa saja novel yang bisa digolongkan sebagai karya sastra? Nah mumet lagi kan.

Seperti biasa, omelan jika keluar dari tangan seorang penulis pasti terasa beda. Omelan Mahfud tentang bahasa  Indonesia (bahasa Melayu?) cukup membuat kepikiran.

Betapa para pengarang dari Sumatra seolah mendapat privilese lebih karena mereka lebih dekat secara budaya dan tradisi dengan bahasa Indonesia. Bahasa yg kini menjadi media penulisan karya-karya sastra di negeri ini. Padahal, pandangan yang selama ini berlaku, para pengarang dari Jawa dirasa mendapat keistimewaan lebih dari suku-suku lainnya.

Masih banyak hal menarik di belakang dunia menulis nan megah itu dikupas di buku menarik ini. Hal-hal yang sayangnya tidak semegah popularitas sang pengarang. Seperti pernah ditulis oleh Mario Vargas Llosa, bahwa ketenaran seorang penulis tidaklah sama dengan ketenaran seorang artis. Dunianya kadang tidak bergelimang harta karena royalty tidak seberapa yang itu pun masih dipotong pajak.

Buat kamu yang ingin menjadi penulis, atau bertekun di dunia menulis, atau berencana menggantungkan hidup pada jalan sunyi ini; bacalah sejenak buku ini. Tulisan-tulisan Mahfud di buku ini adalah sebuah refleksi asyik tentang bagaimana menulis dan penulis itu bekerja. 

Larasati, Kronik Masa Revolusi

 Judul : Larasati

Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Tebal : 180 halaman

Cetakan: Juli 2003 

Penerbit: Lentera Dipantara

ISBN :9789799731296 (ISBN10: 9799731291)

"kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita."

Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dan KMB adalah wilayah kritis. Belanda yang membonceng Nica memiliki agenda tersembunyi untuk merebut kembali Hindia Belanda, sementara Republik yang baru berdiri hanya punya wilayah dan rakyat, pemerintahan belum terorganisir, angkatan bersenjata apa lagi, belum terbentuk sempurna. Novel ini memang ditulis dengan latar suasana awal kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar awal tahun 1950. Itu adalah masa peralihan antara kemerdekaan RI yang seutuhnya dan agresi militer Belanda yang masih tidak rela kehilangan Indonesia sebagai jajahan terbesarnya.

Nusantara ibarat wilayah panas, berbagai pihak saling mengklaim kekuasaan dan penguasaan sementara rakyat kecil tetap yang menderita. Tapi hal yang selalu layak diingat dari masa Revolusi ini: semangat rakyat untuk membela Republik dan mempertahankan kemerdekaan negara yang baru berdiri ini. Ini yang digambarkan dengan deskriptif sekali oleh Pram lewat pandangan Larasati, atau Ara, seorang bintang film yang sepertinya hadir di zaman yang salah.

Lewat Larasati, Pram menggambarkan suasana era Revolusi ini lewat pandangan yang agak pesimis tetapi juga realistis. Pembaca bisa menyaksikan apa yang disaksikan rakyat bawah, bukan lewat pandangan mata para pembesar yang berjas rapi dan disegani Penjajah meski statusnya sebagai eksil. Ara  hanyalah seorang wanita biasa tetapi sebenarnya memiliki pekerjaan yang lumayan strategi:  aktris sekaligus perempuan penghibur. 

Menurut Pram, Revolusi yang sebenarnya ada pada anak-anak muda yang berjuang di front terdepan, yang langsung menghadapi pasukan NICA dengan senjata apa adanya. Hanya berbekal keberanian muda dan kecintaan mereka pada tanah air, Larasati menyaksikan sendiri betapa Revolusi benar-benar dihayati oleh rakyat bawah. Bagaimana dengan para pembesar dan angkatan tua? Mereka hanya sibuk korupsi, lupa pada gelegar revolusi.

"Kalau orang cintai tanah airnya dia mesti dendam pada musuh tanahairnya. Dia takkan takut. Kau benar-benar mau berjuang buat tanah airmu? (hlm.97)

Salah satu adegan menarik di buku ini, Larasari sempat bertemu dengan sastrawan kenamaan Chairil Anwar. Ia bahkan sempat jajan kue pancong bersama sang pengobar revolusi. Peristiwa-peristiwa besar hanya dikisahkan sepintas lalu, seperti jatuhnya Yogyakarta, berdirinya Republik Indonesia Serikat, dan Konferensi Meja Bundar. Larasati mempersembahkan kepada pembaca laporan pandangan mata dari garis terdepan pertempuran, bahkan dalam pertempuran itu sendiri. 

Dari Larasati, sepertinya Pram tidak menganggap terlalu penting perjuangan Angkatan Tua yang sibuk berlaga di meja perundingan. Bagi Pram, sesuai dengan paham sosialis yang dijunjungnya, revolusi sejati ada di garis terdepan pertempuran, bukan di balik meja dalam ruangan yang nyaman. Karena seperti berulang kali diungkap oleh Pram, hanya rakyat sesungguhnya yang berjuang sekaligus memperjuangkan revolusi fisik. 

"...hanya angkatan tua yang mengajak korup, angkatan muda membuat revolusi. Pemuda sedang melahirkan sejarah."

Pram memang beda, tetapi novel-novelnya memang dahsyat.

Wednesday, January 25, 2023

A Gentle Reminder

Judul : A Gentle Reminder

Penulis : Bianca Sparacino

Tebal : 152 pages

Printed: January 1, 2021 

Publisher : Thought Catalog Books

ISBN : 9781949759297 



Pernah nggak sih kamu merasa butuh banget dorongan semangat, atau pengingat, atau kata-kata yang motivatif tapi yang disampaikan dengan lembut? Nasihat yang tidak mengurui, tetapi lebih seperti dorongan hangat dari seorang sahabat. Tulisan inspiratif yang tidak dibebani dengan berbagai kutipan berat, apalagi hasil penelitian si ini dan si itu yang malah semakin membuat pikiran jenuh. Ada saatnya pikiran yang tengah penat ditenangkan dengan tulisan yang tidak terlalu sarat. Sesekali waktu, jiwa yang gelisah perlu diingatkan lewat bisikan-bisikan kecil yang hangat dan tidak terkesan memaksa, seperti buku ini. 

A Gentle Reminder ditulis bukan dalam bentuk bab-bab panjang penuh kalimat padat. Buku ini juga bukan kumpulan esai ala-ala buku motivasi Korea yang lagi menjamur itu. Buku ini seperti obrolan sepatah saat sedang ngeteh di sore hari: pendek tapi berkesan. Kadang hanya terdiri dari setengah halaman, tetapi rasanya sudah cukup besar untuk memenuhi hati dan cukup kuat untuk mampu menghangatkan perasaan.

Hal yang saya suka, Bianca tidak terkesan seperti sedang curhat. Hal yang jamak saya temui dalam esai-esai motivasi dari Korea, aroma curhatnya kadang terlampau banyak dengan kalimat emas yang muncul di belakang. Bianca juga tidak pamer pengetahuan psikologinya, seperti yan sering kita jumpai dalam buku-buku pengembangan diri di pasaran--dengan paragraf yang gemuk dan padat. Ia seperti tepukan-tepukan kecil di pundak, yang memberi tahu kalau kita tidak sendirian, bahwa ada yang mendukung dan juga mencintaimu.

Buku ini menyediakan penguat untuk mereka yang terlalu mencintai sehingga lupa rasanya dicintai balik. Dia menguatkan mereka yang sok kuat sekaligus mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk sesekali merasa butuh dikuatkan. Bahwa setiap pahlawan juga butuh pahlawan lainnya, bahwa dia yang tulus tapi ketulusannya tidak berbalas juga berhak untuk istirahat sejenak dan fokus pada diri sendiri. Lebih dari sekali, buku ini mengingatkan saya untuk tidak lupa mencintai diri saya sendiri.

Terima kasih untuk diriku yang menyempatkan membaca buku ini. Terima kasih telah bertahan dan berdiri hingga saat ini, berjuang melewati masa - masa sulit, tugas - tugas berat, menghadapi orang-orang yang terluka sehingga membuat kita terluka. 

Buku ini mengingatkan saya bahwa kita semua berharga, kamu dan diriku. Tidak dicintai, ditolak cintanya, cinta bertepuk sebelah tangan; semua itu tidak menandakan bahwa kita tidak pantas dicintai. Mungkin, kita hanya mencintai orang yang keliru, atau mungkin, orang itu tidak cukup beruntung untuk mendapatkan cinta kita yang tulus. 

Buku ini menguatkan agar kita tidak ragu untuk mencintai meskipun kadang cinta itu tak berbalas saat ini. Karena seperti bunyi Hukum Kekekalan Energi, cinta tidak bisa dimusnahkan hanya berubah dalam bentuk yang lain. Apa yang diambil, maka ia akan diberi. Jangan takut berhenti mencintai dia yang tidak lagi mencintaimu. Jangan berhenti percaya bahwa kau selalu berhak dicintai.

Setiap kita adalah berharga, dan kita harus sering diingatkan dengan kebenaran ini. 

Monday, January 23, 2023

Tips untuk Bikin Laris Restoran 2

Judul: Bikin Laris Restoran 2: Menangani Keluhan Pelanggan

Penyusun: Akira Harada,  Morihiko Ishikawa

Tebal:  211 hlm

Cetakan: January, 2015 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN :9786020318998


Buku komik dengan format ukuran novel, dan judul versi Bahasa Indonesia yang sangat “nonfiksi”. Saat membeli buku ini, saya mengira buku ini tidak lain dari buku-buku motivasi kesuksesan lain yang sudah begitu banyak di pasaran. Tetapi, saya tertarik dengan judulnya yang “blak-blak” dengan tanpa embel-embel kata-kata “mewah tak terjangkau” yang biasa digunakan dalam buku-buku sejenis. Judulnya pun unik: Bikin Laris Restoran 2: Menangani Keluhan Pelanggan. 

Setelah beberapa tahun buku ini teronggok di rak paling bawah, saya mendapati sisi samping buku ini telah ditumbuhi jamur karena dinding yang lembab dan plastik segelnya sobek. Lewat bagian yang sobek inilah, jamur menyebar dan menanamkan bintik-bintik kehitaman. Inilah pentingnya sering-sering mengecek timbunan eh koleksi buku dan membungkus buku dengan plastik bening opp. Berhubung sudah jamuran, saya memutuskan membacanya. Setidaknya, walau bukunya sudah tidak bisa diselamatkan, saya masih bisa mengamankan isinya dalam kepala.

Dan ternyata ini buku komik! Gambarnya padat dengan tulisan yang rapat. Wajar mengingat ini buku bisnis yang dibuat komik sehingga banyak balon kata yang rapat, sarat oleh beragam masukan. Seorang konsultan restoran, bernama Masa, berkeliling ke penjuru Jepang untuk membantu restoran-restoran lokal yang tengah mengalami problem pengelolaan. Awalnya dia menjadi tamu di suatu resto, mengamati kondisi di jam buka, lalu menawarkan solusi masuk akal sekaligus terukur untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul. Banyak nasihatnya yang ternyata berguna banget untuk calon pengusaha resto, atau mereka yang tertarik dengan bisnis resto. 

Dalam memberikan sarannya (dan ini gratis), Masa menunggu dulu sampai toko tutup, dan baru setelah itu dia beraksi. Saran-saran yang diberikan pun cenderung membangun (konstruktif) bukan larangan. Saat melihat toko yang sepi karena tidak menyediakan ruang merokok khusus, misalnya, dia tidak menyarankan agar restoran melarang pengunjung untuk merokok saat berada di restorannya. Alih-alih dia menyarankan pihak resto mengatur jam kunjungan khusus untuk pengunjung yang merokok. Dengan demikian, para perokok bisa tetap datang dan mereka yang tidak suka asap rokok pun dapat makan dengan tenang.

Uniknya, sedikit sekali permasalahan terkait kualitas makanan (enak atau tidak, penyajian, rasa) tidak banyak disinggung di buku ini. Lebih banyak contoh kasus tentang bagaimana menghadapi pelanggan yang rewel, pelanggan di bawah umur, menangani jam sibuk, merapikan antrean, menjaga situasi di dapur tetap kondusif, menghindarkan penularan penyakit, hingga cara mencegah dan menanggulangi pelecehan seksual terhadap pelayan restoran. Beberapa tips yang penting untuk dicatat: perlakukan karyawan yang lebih tua sebagai senior dalam kehidupan dan jangan lupa ucapkan terima kasih (baik kepada pelanggan, pelayan, maupun karyawan).

Komik-komik seperti ini sangat bermanfaat, dan seharusnya dibaca lebih banyak orang. Banyak kiat-kiat Masa yang dapat diterapkan di Indonesia, mengingat ada sejumlah budaya Jepang yang berbeda dengan budaya kita. Secara garis besar, kita akan menemukan cara-cara baru untuk menarik pengunjung meskipun lokasi resto berada di tengah permukiman dan jauh dari jalan raya (memanfaatkan iklan dari sopir taksi), bagaimana menaikkan harga menu makanan dan tetap bisa mempertahankan pelanggan, juga menanggapi keluhan pelanggan dengan tetap bersahabat. Salah satunya, memasang memo pengumuman di kamar mandi. 

Satu lagi, sebuah usaha baru membutuhkan display ruang depan yang mencolok untuk mengenalkan usahanya. Untuk zaman sekarang, metode ini mungkin bisa dilakukan dengan jor-joran posting di media sosial serta memperbanyak ulasan di internet. Meskipun teknologi internet hanya sedikit disinggung dalam buku ini, masih banyak tips-tips lain yang saya kira tetap bermanfaat.

Loving the Wounded Soul

Judul : Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia

Penulis : Regis Machdy

Tebal : 287

Cetakan: September 30, 2019 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020633701 (ISBN10: 6020633705)



Depresi sempat menjadi hal yang disepelekan dalam anggapan awam, bahkan sempat dijadikan bahan bercandaan. Penderita depres bahkan pernah dianggap kurang beriman, lebay, atau lemah karakter. Penelitian terbaru dan juga pengalaman membaca buku ini membuka mata saya bahwa depresi ternyata ada dan sedemikian berat bagi mereka yang mengidapnya. Pengalaman Regis yang sejak usia 12 tahun selalu berpikir untuk bunuh diri, merasa tidak berharga, dengan segala hal buruk berlarian di kepalanya membuktikan depresi itu nyata, dan mereka butuh dukungan, bukannya tuduhan atau malah hinaan.

Depresi bisa menyerang siapa saja. Penulis buku ini, Regis Machdy, adalah bukti nyata dari berbahayanya kondisi mental yang satu ini.  Regis sendiri adalah seorang psikolog lulusan Universitas Indonesia, salah satu yang terbaik di Indonesia. Penulis juga mengambil master global mental health di Inggris.  Siapa yang nyangka kalo yang nulis ini pernah merasa ingin bunuh diri berkali-kali? Siapa sangka dia pernah menulis surat "pamit" kepada keluarganya dan lalu "menghilang" karena depresi selama beberapa waktu?

Kisah Regis membuktikan betapa depresi sangat berbahaya dan bisa menyerang siapa saja. Separuh awal, Regis menjelaskan beragam istilah dalam ilmu kejiwaan, termasuk hal-hal yang berpotensi memunculkan risiko depresi. Berbeda dengan anggapan orang, depresi ternyata kompleks penyebabnya. Lingkungan, gen, tekanan kehidupan, bahkan cuaca dan pola makan ternyata punya banyak pengaruh. Bahkan hal yang sering kita anggap sepele seperti berada di bawah siraman cahaya matahari yang hangat setiap hari punya andil besar dalam mencegah depresi. Kondisi cuaca yang gloomy di musim dingin ternyata turut mempengaruhi suasana hati seseorang.

Satu pengetahuan baru dari baca buku ini, makanan dan pencernaan yang sehat ternyata punya andil besar dalam menyehatkan pikiran kita. Hormon kebahagiaan atau serotonin yang membanjiri otak ternyata diproduksi oleh mikroba dalam pencernaan. Untuk bisa sehat, kita harus menjaga apa apa yang dimakan oleh mulut dan juga pikiran kita. 

Salah satu caranya dengan tetap berpikir positif. Tapi ini hanya ampuh  untuk orang normal. Bagi penderita depresi, solusinya tidak sesederhana itu. Melalui curhat Regis di paruh kedua buku ini, pembaca jadi tahu betapa beratnya pikiran seorang yg tengah dilanda depresi. Perjuangan mereka sungguh luar biasa, bukan karena mereka tidak mau atau tidak mampu berpikir positif, tetapi memang tubuh dan pikiran mereka seperti tidak bekerja semestinya sehingga yang ada hanya keinginan untuk berhenti dan mengakhiri. Bahkan tubuh yang selama ini dikira tidak terkait dengan munculnya depresi pun ternyata turut punya andil.

Ini buku yang membuka mata, baik bagi penderita depresi agar mereka tahu bahwa depresi bisa dilawan dan diobati, juga bagi awam yang selama ini keliru menganggap depresi hanya semacam penyakit lemah iman. Depresi itu nyata, dan mereka yang berjuang melawan dan menghadapinya adalah orang-orang yang luar biasa. Semoga membaca buku ini bisa semakin menyadarkan kita  kalau depresi itu nyata dan berbahaya, tetapi kita juga bisa menanggulangi dan menyembuhkannya. 

The Song of Achilles (Nyanyian Achilles), Bromance era Yunani Kuno

Judul    : The Song of Achilles (Nyanyian Achilles)

Pengarang : Madeline Miller

Penerjemah : Tanti Lesmana

Teal : 488 pages, Paperback

Cetakan: 1, April 2019 

Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020628202


Selama ini lebih tahu Achilles dari mitos tendon Achilles yg konon menjadi satu satunya titik lemah pahlawan Yunani ini. Konon, saat bayi dia dicelup ke sebuah sungai legendaris di Dunia Bawah sehingga memuat tubuhnya kebal dari senjata apa pun. Tetapi ada satu titik yang tidak terbasuh air sungai keramat dan itu yang bikin pahlawan ini punya titik lemah. Dalam bayangan saya, Achiles adalah sosok prajurit ala-ala Sparta yang hidupnya didedikasikan untuk perang , berkelahi, dan maskulinitas. 

Membaca buku ini, saya memdapat versi lain dari kisah Achilles--versi lebih lembut dan mungkin lebih manusiawi dari sosok ini. Kisahnya sendiri adalah bagian dari kisah epic Illiad karya Homer, khususnya terkait penyerbuan pasukan Yunani ke Troya untuk mengambil kembali Helen yang diculik Paris. Tentu kisah ini bakal mengingatkan kita pada Kisah kuda Troya yang terkenal. Banyak yang mungkin sudah membaca epik legendaris Yunani kuno ini, dan Miller menghadirkannya dengan sudut pandang yang sama sekali baru.

Novel Nyanyian Achiles adalah bentuk alternatif penceritaan Illiad dengan mengambil sudut pandang salah satu tokoh "sampingan" di dalamnya. Lebih spesifik lagi, buku ini begitu detail menggambarkan hubungan khusus antara Achilles dan Patroclus, teman akrab sekaligus kekasihnya. Fakta sejarah yang masih entah ini sempat heboh ketika dulu disinggung di film kolosal Troy. Dan di buku ini, kisah keduanya mendapat fokus utama, bahkan sangat utama. Pembaca akan dibuat jumpalitan nggak jelas menyimak bagaimana interaksi kedua cowok Yunani yang dibesarkan dalam lingkungan maskulin ini sebelum perlahan mulai tumbuh benih rasa suka di antara keduanya.

Achilles menjadi bagian dari pasukan Yunani pimpinan Raja Agamemnon (maaf kalo salah tulis) dan dia menjadi pahlawan kunci kemenangan pasukan Yunani. Kisah penyerbuan Troy ini diawali dengan penculikan Helen oleh Paris, salah satu dari banyak pangeran Troya. Sebagai bentuk kesetiakawanan, para pangeran dan prajurit menyerang dan mengepung kota Troya sampe 10 tahun lamanya. 

Tapi serbuan pada Troya hanya menjadi latar sejarah di buku ini, meskipun penting dan menarik juga untuk disimak sehingga saya bisa jadi lebih tahu dengan urut-urutan linimasa berlangsungnya Perang Troya. Selebihnya, pengarang berfokus mengulik perjalanan hidup Achilles dan Patroclus mulai dari kecil, remaja, hingga dewasa. Bagaimana persahabatan di antara keduanya kemudian tumbuh menjadi rasa sayang yang melebihi saudara. Dan kisah asmara kedua pria ini dibeber habis habisan di buku ini. Walau di beberapa bagian penggambarannya lumayan vulgar dan meresahkan vulgar, secara garis besar kisah keduanya  cenderung manis.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah campur tangan Dewa Dewi Yunani dalam kisah buku ini. Walau fiksi sejarah, tetapi sosok Dewi Minor Tethys yang merupakan ibu dari Achilles punya peran besar dalam menggerakkan cerita. Kemunculannya seperti membawa warna segar dalam kisah ini, menyelingi sikap Patroclus yang kadang terlalu baper, serta Achiles yang kadang begitu bucin. Kemunculannya menjadi sela dalam gelaran drama politik manusia yang kadang  membosankan.

Awalnya geregetan sama Tethys ini, tp semakin ke belakang sosoknya makin unik dan punya tempat tersendiri. Kita bisa mamahami bagaimana perasaan seorang ibu (apalagi ibunya ini dewi loh) terhadap putranya: antara ingin membuatnya bahagia (sesuai pemikiran orang tua) dan membiarkan putranya memilih kebahagiaannya sendiri. 

Kisah Achilles dan Patroclus ini berujung sedih, tetapi sedih yang entah bagaimana manis. Pengarang elok sekali menyusun cerita yang benar-benar menarik untuk terus dibaca, terutama di separuh bagian belakang. Diawali dengan perkenalan polos, lalu keakraan yang intim, bucin dan aper diantara dua cowok, hingga berujung pada pengorbanan epik perlambang puncak kisah kasih. 

Membaca buku ini ibarat membaca Illiad dalam versi yang lebih ringan sekaligus dari sudut pandang yang benar-benar berbeda. Cinta ada sejak awal sejarah peradaban manusia, dan akan terus tumbuh bersemi dalam berbagai bentuknya.

Saturday, January 21, 2023

Duo Detektif: Sabotase Lokomotif B2503

Judul : Duo Detektif: Sabotase Lokomotif B2503

Pengarang: Wiwien Wintarto

Cetakan: 1, 2019 (Dibaca lewat Ipusnas)

Tebal:160 hlm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9786020633961



Kisah petualangan anak seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, dan STOP turut membentuk masa kecil generasi 80an dan 90an. Kisah-kisah itu memang yang sangat berkesan, dan karenanya selalu menyenangkan untuk dibaca ulang. Bagaimana dengan generasi yang lahir setelah tahun 2000? Mereka lahir dan tumbuh besar di abad internet, yang tentunya membutuhkan kisah petualangan yang lebih "digital." Bisakah mereka mendapatkan pengalaman membaca yang serupa sebagaimana kakak-kakaknya? Buku ini sepertinya hadir untuk menjawab keresahan itu..

Seperti tertera di judul, karakter utama di buku ini ada dua: Jalu dan Bimo, dua orang sahabat akrab (bestie). Jalu jago soal analisis dan hal-hal yang memutuhkan kemampuan mental, sementara Bimo jago dalam aktivitas fisik dan ketangkasan. Kedua anak itu juga bergabung dan aktif dalam grup whatsapp tentang komunitas pecinta kereta api. Keren dan beruntung memang anak-anak zaman sekarang.  Kegemaran keduanya akan kereta api mendorong mereka untuk berkemah ke sebuah stasiun tua dan mengambil beberapa foto yang sangat disukai anggota grup tersebut. Saat berkemah itulah mereka memergoki sebuah konspirasi menyabotase perjalanan lokomotif B2503, lokomotif legendaris yang kini difungsikan sebagai penarik gerbong-gerbong kereta wisata. 

Memadukan antara kisah petualangan ala STOP dan Lima Sekawan dengan dunia anak-anak kekinian, Duo Detektif memberikan ragam bacaan yang sesuai umur sekaligus sesuai zamannya. Menyenangkan sekali menyimak petualangan Bima dan Jalu yang tinggal masih dalam suasana pedesaan, dan petualangannya pun berlangsung di salah satu rute kereta api terindah di Jawa, masuk Daop IV, yang sekaran dijadikan jalur kereta api wisata, yakni rute Ambarawa - Tuntang. Keunikan rute ini adalah memiliki jalur bergerigi sepanjang empat kilometer, dari Stasiun Jambu di ketinggian 479 meter dari permukaan laut (mdpl) menuju Stasiun Bedono di ketinggian 711 mdpl. Tentu pemandangannya indah sekali.

Alur rapi, dan sepanjang buku memang mulus dengan alur maju.  Kita bisa menemukan semua fitur yang dirindukan dalam sebuah kisah petualangan dalam buku ini: malam hari, kegiatan di luar rumah, berkemah, penyelidikan, penjahat, sedikit bumbu horor, dan analisis ala-ala detektif. Untuk pembaca yang masa anak dan remaja juga dewasa mudanya ditemani dengan novel-novel petualangan terjemahan, buku ini akan menjadi bacaan yang menghibur.

Kelebihan lain ada pada settingnya yang "diperbarui" sesuai kondisi sekarang, ketika anak-anak SD pun sudah akrab dengan berbagai fitur di gawai canggih mereka. Tidak sekadar petualangan, penulis tidak lupa menyisipkan teknologi modern dalam cerita. Fitur seperti grup wa, shareloc, hingga google maps menjadikan kisah di buku ini tetap seru sekaligus tetap tidak ketinggalan zaman. 

Seru juga menyimak petualangan dua anak SD ini, membawa pembaca pada suasana ketika dulu larut dalam beragai seri buku petualangan. Semoga bakal banyak lagi terbit buku-buku petualangan anak kekinian seperti ini agar generasi 2000 juga punya petualangan literasinya sendiri. Semoga seri Duo Detektif ini bisa masih terus dilanjutkan penulisannya. Buku-buku seperti ini sangat bagus untuk mengisi ceruk buku anak yang masih belum sebanyak buku untuk usia remaja dan dewasa. Saran saja sih, kalau bisa banyakin unsur alam dan sejarah dalam penyelidikan mereka.

Buku ini bisa dibaca gratis di Ipusnas. Bacaan ringan yang menghibur sebagai alternatif eristirahat sejenak dari media sosial saat sedang jeda bekerja.