Search This Blog

Monday, September 14, 2020

Surga di Andalusia

26013427. sy475

Spanyol Andalusia di abad 10 M adalah satu dari dua puncak peradaban Islam (satunya lagi di Baghdad pada abad 8 M) yang kini hanya dapat kita kenang. Tidak banyak yg tertinggal dari bumi Andalusia selain masjid agung Cordoba yg kini ditengahnya dibangun altar, istana Alhambra yg untungnya masih terjaga di Granada, serta menara la Girda yg dulu dipakai sebagai tempat adzan dan kini jadi menara katedral. Sedih rasanya kalau mengingat masjid agung Seville yang diruntuhkan pada abad 15 M dan digantikan dengan katedral Gothik terbsar di dunia.

Peristiwa recoungista atau penaklukan kembali Spanyol oleh kaum Kristen selama ini dipandang sebagai satu satunya penyebab runtuhnya Andalusia Islam. Tetapi membaca buku ini, kita jadi tersadar bahwa sebagaimana manusia, peradaban itu tumbuh berkembang lalu runtuh sebagaimana dikatakan Ibnu Khaldun. Andalusia Islam runtuh bukan hanya karena serangan kerajaan Kristen tetapi juga serangan kerajaan Islam bangsa Berber dari Afrika Utara. Bahkan, melemahnya Andalusia juga lebih dikarenakan umat muslim yg terpecah jadi kota kota kerajaan yg saling berperang satu sama lain. Kerusakan terbesar monumen Islam,, yakni ambyarnya kompleks Madina Al Zahra tenryata dilakukan oleh suku suku Islam dari Afrika Utara. Pernah ada sebuah kekhalifahan besar di Cordoba, yang runtuh akhir abad 10 dan digantikan oleh taifa taifa kecil yang saling berseteru, padahal mereka saudara seiman. Ini membuktikan bahwa sejatinya perang antaragama itu tidak lebih dari perang politik. Dalam sejarah, tidak ada pihak yg sepenuhnya hitam dan sepenuhnya biru. Ada berbagai variabel, tokoh, kebijakan, politik, dan kepentingan dalam setiap peristiwa.

Kita mengenang Andalusia dengan peradaban tingginya. Tetapi ada satu lagi pencapaian Islam Andalusia yg terlewatkan: tenggang rasa. Era kekhalifahan Cordoba adalah masa ketika umat Islam, Kristen, dan Yahudi bisa hidup saling berdampingan bahkan bekerja sama. Seorang Yahudi bahkan pernah menjabat perdana menteri yg disegani. Di era ini pula, ketiga pemeluk agama slaing bersatu mengumpulkan ilmu, mengerjakan terjemahan, sibuk menyelamatkan bahkan mengembangkan ilmu kuno warisan Yunani. Bahkan selepas Andalusia jatuh ke tangan penguasa Kristen Kastilia, pernah ada masa ketika tenggang rasa khas Andalusia itu tetap terjaga.

Andalusia lama selayaknya menjadi cermin bagi umat Islam modern. Tidak hanya dari segi pencapaian ilmu pengetahuan, bahasa, arsitektur, dan filsafatnya; tetapi juga tentang sikap tenggang rasa dan menjunjung tinggi pluralisme antar pemeluk agama yang akhir akhir ini sering terabaikan. Dari sejarah Andalusia, kita belajar bahwa pencapaian emas tidak hanya dalam bentuk peninggalan materi, tetapi juga sikap tepo seliro marang liyan.

Semesta (Luar Biasa) di Balik Punggung Buku

 Judul: Semesta di Balik Punggung Buku

Penulis: Muhidin M Dahlan

Tebal: 444 hlm

Cetakan: Pertama, 2018

Penerbit: I:boekoe


44605218. sx318


Saya dan teman teman blogger dulu sempat bertanya-tanya, mungkinkah kumpulan ulasan buku yang sudah ratusan itu diterbitkan jadi bentuk buku? Terbit mandiri mungkin bisa, tapi pertanyaan yang lebih utama: adakah penerbit yang mau menerbitkannya dengan model royalti atau beli putus? Pengalaman saya sebagai editor menyadarkan saya bahwa selain berkualitas, penerbit juga memilih naskah yang istilah kasarnya 'laku dijual'. Bukan nggak idealis atau otak bisnis, tapi saya tahu benar bahwa penerbitan adalah bisnis yang rentan sehingga urusan memilih naskah memang mengharuskan penerbit memiliki kriteria ini. Penerbit juga sebuah bisnis yang harus membayar karyawan, biaya cetak, juga ongkos kertas jadi wajar jika memang mereka menginginkan naskah yang lalu dijual, syukur-syukur menguntungkan.

Lalu bagaimana dengan kumpulan resensi buku? Sayangnya, naskah jenis ini masuk dalam naskah yang kurang prospek diterbitkan secara mayor. Kecuali kita adalah penulis terkenal yang buku-buku bacaannya bakal bikin penasaran pembaca ( Eka Kurniawan dan Anton Kurnia misalnya), bakal sulit memasukkan naskah kumpulan resensi ini ke penerbit mayor. Kecuali kedua ketika penulis bisa mengubahnya menjadi satu naskah dengan tema yang urut dan terkonsep, kumpulan resensi bakal sulit masuk penerbit mayor. Misalnya saja, penulis bisa mengumpulkan resensi buku-buku motivasi lalu mengubahnya sedemikian rupa jadi buku motivasi dengan sumber buku-buku yang diresensi. Tapi ini sekali lagisnulit mengingat begitu banyaknya buku yg diresensi dan temanya beragam. Apalagi jika yg diresensi adalah buku-buku fiksi, bakal makin sulit mengubahnya jadi sebuah buku. Jalan lain adalah penulis resensi menjadikan kumpulan resensinya jadi semacam buku 'tips menulis resensi buku' atau 'tips tembus media nasional.'

Lalu bagaimana jika kita ingin membukukan kumpulan ulasan buku kita? Ya terbitkan saja lewat penerbitan berbayar. Atau, kumpulkan serta pilih resensi resensi yg berbobot lalu coba kirim ke penerbit. Jalan ini yang mungkin dipilih penulis buku ini (dan memang ulasan - ulasan buku beliau di buku ini topcer alias berbobot banget). Buku ini menjadi bukti bahwa kumpulan ulasan buku pun bisa menjadi sebuah buku dan diterbitkan penerbit mayor. Tentunya, ulasan yang ditulis pun tidak sembarang ulasan buku yang model curhat atau model 'saya suka/saya tidak suka buku ini karena nananinu'. Ulasan buku yg dimaksud adalah model resensi di media massa (koran, majalah, atau media online) dan tentunya tidak sembarang buku yang diulas. Tidak sekadar populer, tapi juga mempertimbangkan seberapa penting arti buku tersebut.

Muhidin M Dahlan adalah salah satu tokoh literasi yang sangat saya kagumi, terutama karena ketekunannya mengumpulkan referensi, kecepatan dan keragaman bacaannya, serta pilihan buku yang dibaca. Bisa kita lihat di buku kumpulan ulasan ini, buku-bukunya memang wow dan sudah jarang ditemukan di pasaran. Kadang buku yang diulas hanyalah terbitan penerbit kecil, tetapi isinya ternyata sangat bermutu. Penulis mampu mengendus mana buku buku yang memang digarap dengan riset baik dan mana yang hanya tempelan. Dan memanh banyak buku bagus terbitan penerbit kecil yang saya baru tahu setelah baca buku ini. Buku yang dipilih untuk diulas adalah buku yang diriset dan ditulis dengan baik, bukan karena laris atau terkenal (walaupun ada beberapa buku yang memenuhi dua syarat itu ikut diulas).

Menurut pendapat saya teknik penulis lebih cocok digunakan untuk mengulas buku non-fiksi. Walaupun ada beberapa buku sastra yang turut diulas dengan bagus sekali. Kecenderungan penulis yang agak menganggu (walaupun tidak ganggu banget buat saya) adalah mengulas hingga endingnya. Seluruh bangun cerita dikisahkan, termasuk bagaimana ending dari novel tersebut sehingga mungkin akan mengurangi kenikmatan membaca bagi para pembenci spoiler. Tapi kebablasan ini tertutupi dengan teknik mengulas yang dalam dan kaya. Penulis menautkan satu buku dengan buku lain sehingga tidak hanya isi buku yang kita dapat, tapi juga pengetahuan lain.

Saat mengulas Das Kapital karya Marx misalnya, akan kita temukan fakta-fakta kelam tentang penulisnya. Apalagi jika yang diulas buku sastra sejarah dan budaya, penulis akan melimpahi resensinya dengan begitu banyak pengetahuan baru yang mungkin tidak disebutkan dalam buku yang diulas. Tidak hanya dibuat tertarik untuk membaca sebuah buku, kita juga sekaligus mendapatkan gizi baru bahkan dengan membaca ulasannya saja. Teknik ini menurut pendapat saya lebih berhasil dalam menarik pembaca untuk membaca sebuah buku yang diulas. Bahkan ketika spoiler dipampangkan, jika peresensi mampu menulis ulasan yang memikat, penuh, mengenyangkan, elegan, dan mengalir sebagaimana ulasan-ulasan di buku ini, saya lebih cenderung tertarik alih-alih kesal. Kadang spoiler malah membantu saya untuk memutuskan sebuah buku emang layak dibaca atau disisihkan dulu saja.

Jadi, yok tetap membaca dan menulis ulasan buku yang kamu baca, dengan gaya dan pengetahuan kita sendiri tentunya. Jika pun belum bisa terbit, kita maish bisa memajangnya di blog atau media sosial. Kita tidak pernah tahu kapan ulasan kita mungkin akan berguna bagi mereka yang ingin membaca. Sebagaimana dikatakan penulis: "Ada begitu banyak buku yang telah ditulis, tapi baru sangat sedikit yang diulas." 

Jadi, yok jangan ragu menuliskan bacaanmu. Setiap ulasanmu pasti akan berguna.


Xenoglosofia, Kenapa Harus Nginggris

Judul: Xenoglosofia, Kenapa Harus Nginggris

Penyusun: Ivan Lanin

Tebal: 232 hlm

Cetakan: 1, Juli 2018

Penerbit: Penerbit Buku Kompas


40729619. sx318

Kalau sudah terlebih dulu membaca buku kumpulan artikel bahasa sejenis, buku ini termasuk ringan. Bandingkan dengan buku Bus Bis Bas karya Ajib Rosidi, Bahasa! Kumpulan artikel bahasa di majalah Tempo, atau Inul Itu Diva dan Kompas Bahasa yang cenderung serius, buku ini pembahasannya lebih awam karena mungkin memang ditujukan untuk awam. Penulisannya pun tidak sekaku kumpulan artikel bahasa lain yang biasanya memang ditulis dengan standar koran. Setelah saya baca lagi, kumpulan tulisan ini sebagian (besar) memang diambil dari blog Ivan Lanin. Bisa dimaklumi kalau bahasanya singkat dan populer, khas tulisan blogger atau narablog.

Meskipun ringan, bukan berarti isinya dapat dientengkan. Ivan Lanin menyentil kita sebagai pengguna bahasa Indonesia terkait kesalahan atau ketidaktepatan kita dalam berbahasa. Salah satunya keliru mengeja praktik sebagai praktek. Ternyata kesalahan kaprah ini ada sejarahnya. Ini ilmu tipis tapi baru bagi pembaca, eh saya dink. Kekeliruan lain seperti di mana (belum ada dimana), penulisan kata majemuk yg dipisah (kecuali 52 kata majemuk yg ditulis serangkai seperti olahraga, acapkali, syahbandar, dan sukarela--ini kudu dihafalkan duh), penulisan kata sapaan, serta bagaimana membaca singkatan dan akronim dibahas sederhana namun mengena.

Paling khas dari Uda Ivan Lanin ini adalah upaya beliau yg tak kenal lelah untuk memperkenalkan padanan dari bahasa Nusantara untuk sebuah kata asing. Beberapa usul beliau telah terbukti digunakan sekarang ini seperti gawai, tagar, dan tetikus. Tetapi ada juga usul yang meleset, seperti online dan offline yang kini dipadankan dengan daring dan luring, bukannya terhubung dan terputus. Saya senang sekali dengan pengetahuan beliau yg luas tentang kosakata Nusantara yg harusnya kita pertahankan seperti pranala (untuk link) dan gerip. Ada juga istilah tanja untuk mengartikan FAQ alias pertanyaan yg sering ditanyakan. Menarik kalau mengingat tanja ini bisa diplesetkan jadi tinja sebagaimana FAQ yg dilafalkan mirip fuck.

Banyak hal menarik lain seputar bahasa di buku ini. Misalnya saja padanan YALIYAD (YANG ANDA.LIHAT YANG ANDA DAPAT) sebagai padanan what you see is what you get. Paling menarik bagi saya adalah sejarah asal usul sebuah kata. Beliau bahkan melacak asal muasal kenapa olahraga ditulis serangkai padahal sepak bola, buku tangkis, dan bola voli ditulis terpisah. Juga ada alasan menarik di balik kata indehoi.

Sungguh buku ini ringan tapi sarat manfaat. Cocok untuk dibaca khalayak (eh atau khayalak ya?) umum, tapi mungkin kurang mendalam bagi pemerhati bahasa. Poin plus ada pada cara penyampaiannya yang lugas, ringkas, dan kekinian. Kekurangannya mungkin bab-bab jadi terlalu pendek. Kekurangan lain adalah mungkin tidak adanya daftar pustaka. Ivan Lanin mengutip banyak sekali kamus dan buku serta pendapat ahli bahasa, tetapi saya tidak (atau belum) menemukan sumber kutipannya di daftar pustaka atau catatan kaki. Contohnya kamus loan words in Indonesia and Malay Language, saya tidak menemukan info siapa pengarang, penerbit, dan cetakannya di buku ini.

Dalam beberapa artikel, penulis bahkan mengutip dengan teknik dalam kurung, nama penulis, tahun, dan halaman, tapi tidak ada rujukan judul bukunya di daftar pustaka dan catatan kaki. Misalnya saja di hlm. 133, 140, dan 122. Uda kadang hanya menulis judul buku dan penulisnya. Tentu sangat disayangkan mengingat ini buku tentang berbahasa Indonesia yang benar. Alasannya mungkin karena hanya disebut sekilas dan tidak digunakan sebagai bahan penulisan. Tetapi ini pun bisa diakali dengan meletakkan rujukan buku asli di catatan kaki. Lepas dari yang agak mengganjal ini, buku ini luar biasa manfaatnya. Bahkan yg sudah membaca banyak referensi tentang berbahasa Indonesia yg baik dan benar pun akan tetap mendapatkan banyak hal dari buku ini. Bagi saya, salah satunya, mengetahui kalau IMF dibaca /i em ef/ dan bukan /ai em ef/, sementara UNESCO dibaca sesuai aslinya, yakni /yunesko/.


 


Thursday, September 10, 2020

Jalan Menikung, Sekuel Sang Priyayi yang Kurang Nendang

1377382. sx318

Sekuel Para Priyayi ini mungkin tidak semegah novel pendahulunya yang begitu detail menggambarkan jatuh bangun sebuah dinasti keluarga Jawa hingga menjadi keluarga Priyayi. Tema pokoknya pun bergeser, karena ada aroma westternisasi kental. Bahwa menjadi manusia masa kini adalah menjadi warga dunia juga. Jika dulu Lantip, kali ini adalah Eko, putra dari Harimurti yang bersekolah di Amerika. Jika dulu leluhurnya sudah luar biasa bisa masuk sekolah Belanda, kini cucu jauhnya meluaskan jangkauan hingga ke negeri manca. Begitulah manusia terus berjalan dan berkembang.

Dalam novel yang tergolong tipis ini, ada begitu banyak tema yang diangkat. Bahkan di awal pun Umar Kayam sudah menyeret pembaca pada kasus politik cukup pelik, tentang eks organisasi terlarang yang dilarang jadi PNS. Sayangnya, larangan ini merembet menjadi apa saja, bahkan anak cucu pun ikut menanggung akibatnya. Mereka bahkan tidak dibiarkan tenang walau bekerja di perusahaan swasta. Lalu ada tentang perkawinan Eko dan Claire yang tidak hanya beda bangsa, tetapi juga beda agama. Tidak main main, Claire adalah seorang Yahudi (walau masuk Yahudi yang liberal). Bagaimana seorang priyayi Jawa tulen dan Islam bisa menerima mantu seorang Yahudi? Tapi, dunia kini memang tak sama lagi, termasuk orang orangnya

Bahkan yang Jawa kaya pun pada akhirnya akan tersentuh oleh nilai nilai internasional dengan berbagai tuntutan mewahnya. Keluarga Tommi adalah contohnya. Di satu sisi ingin menunjukkan baktinya sebagai orang Jawa yang menjunjung tinggi leluhur, di sisi lain tidak tahan untuk menunjukkan gayanya sebagai orang kaya yang tidak ketinggalan mode. Maka jadilah rumah priyayi Jawa ini dikelilingi taman model Amerika. Maka, pernikahan Eko dan Claire pun seharusnya dan memang akhirnya bisa mereka terima.

Sama seperti di novel pertama, penulis kok ya jago banget mengupas luar dalam orang Jawa. Betapa Jawa yang masih begitu teguh memegang pertalian saudara sehingga hubungan kekerabatan begitu terjaga. Di satu sisi, ini baik karena keluarga besar saling berkumpul dan dianjurkan untuk kenal mengenal. Di sisi lain, sebagaimana yang dilihat Eko dan Claire sebagai generasi termuda, kumpul kumpul sering kali jadi ajang memamerkan harta, kadang memaksakan kekuasaan. Yang muda harus manut sama yang tua, yang kurang mampu harus sendika dalem dengan yang kaya. Jadilah dalam diri orang Jawa ini sering berkumpul sifat sifat bertentangan yang bikin orang luar bingung: bermulut manis tetapi bicara pedas di belakang, suka pamer tapi juga suka berderma, tidak individualistis tapi juga sering memandang terlalu tinggi diri dibanding orang di bawahnya. Pada akhirnya, manusia mana pun, dari suku bangsa apa pun, memang punya kelebihan dan kekurangan.

Sebagaimana jalan hidup yang tidak pernah sepenuhnya lurus dan sering menikung, novel ini menggambarkan sifat manusia yang selain beraneka ragam dan suka menikung eh juga memiliki sifat sifat baiknya. 

Goodbye Things, Hidup Minimalis ala Orang Jepang

 42851467. sx318

                Agak berbeda dengan buku Marie Kondo, buku ini banyak menggunakan pengalaman pribadi penulis yang menurutnya berhasil menata hidupnya lewat berbenah dan beres-beres. Ada banyak poin yang dibahas terkait pengaruh beres beres dengan perasaan positif yg muncul dalam diri. Membuang barang konon bisa membantu membuang stres. Sedikit barang berarti semakin sedikit yang dipikirkan sehingga kita bisa fokus pada hal yang lebih penting. Sedikit barang juga berarti sedikit ancaman bahaya ketika misalnya terjadi bencana alam.

Dengan membuang barang, kita punya lebih banyak waktu dan tenaga dan pikiran untuk difokuskan pada diri sendiri dan ornag terkasih. Mengurangi barang juga membuat kita lebih menghargai nilai ketimbang materi. Dengan semakin sedikit barang, semakin banyak yg bisa kita kerjakan untuk diri sendiri dan orang lain. Alih alih berfokus semata pada barang yg kita miliki, kita kini bisa meluangkan lebih banyak hal untuk hal hal lain yg kita sukai: hobi. Semakin sedikit barnag juga berarti semakin sedikit tenaga dan waktu untuk membersihkannya.

Menurut pendapat saya, jurus jurus minimalis di buku ini cenderung masih aman, tidak sefrontal Kondo yang membuang semua bukunya dan bahkan merobek halaman favorit. Penulis menjual semua bukunya, hanya membaca satu buku yg benar benar jd favoritnya. Dengan dmeikian, dia lebih fokus dan ternyata membaca lebih banyak. Mungkin karena penulis laki laki sih ya, yg memang malah cenderung lebih efektif menyelesaikan satu hal baru pindah ke hal lain ketimbang melakukan banyak hal secara bersamaan.

Menarik menyimak penjelasan penulis tentang menganggap toko, supermarket, pasar, dan swalayan sebagai gudang. Gudang adalah tempat menyimpan barang barang yang kita butuhkan, tapi tidak setiap hari kita butuhkan. Kita hanya mengambil gergaji misalnya ketika hendak memotong dahan, atau mengambil cangkul ketika hendak kerja bakti. Barang di toko harusnya juga gitu. Hanya diambil/dibeli saat butuh saja. 

Langkah penulis yang menyingkirkan 95% barangnya mungkin memang frontal. Tapi di depan, sebelumnya penulis sudah mengingatkan bahwa seni minimalis berlaku berbeda beda untuk tiap orang. Minimalis kadarnya beda beda, tidak bisa disamaratakan untuk semuanya. Penulis yg maish lajang dan tinggal di Jepang dengan biaya hidup yg tinggi mungkin cocok dengan minimalis ekstrem. Namun untuk mereka yg sudah berkeluarga dan tinggal di negara berkembang tentu minimalisnya berbeda.

Yang saya tangkap di buku ini, penulis kurang menunjukkan tips praktis untuk membuang, memilah, atau berbenah barang sebagaimana teknik Konmari. Kebanyakan materinya adalah tentang dampak positif membuang atau mengurangi barang, jadi tidak ada bagaimana memilih barang yg mau disimpan atau dibuang kecuali beberapa tips kecil yang mungkin sudah kita temukan di buku buku dengan tema sejenis. Penulis sepertinya lebih berfokus mengajak pembaca untuk mulai mengurangi kepemilikan barang dan memperbanyak hal hal yg sifatnya pengalaman atau kebahagiaan. Jadi yang bisa kita pelajari dari buku ini lebih pada aspek psikologis dari hidup minimalis. Bahwa manusia tidak seharusnya dinilai dari apa yang kita dapatkan atau apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita berikan.

Dengan semakin sedikit barang, kita semakin orisinal.

Red Quen, Tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda.

ciz7chsu4aalrfy

 

Mare Barrow hidup sebagai kaum merah yang dikuasai oleh kaum perak. Ribuan tahun yang akan datang, selepas dunia mengalami bencana besar akibat perang dengan alat-alat modern, Bumi berubah. Tidak hanya bentang alam dan peta dunia yang tidak lagi sama,.manusianya pun berbeda. Semacam mutasi genetis atau efek radiasi atau entah apa telah memunculkan dua macam ras baru: manusia berdarah merah dan berdarah perak.

Kaum merah adalah golongan manusia biasa sebagaimana kita saat ini. Sementara kaum perak ibarat dewa yang berjalan di bumi. Sebuah mutasi genetis menjadikan kaum perak melompati tahap evolusi sehingga mereka memiliki kekuatan super,.mirip mutan di X-Men. Keunggulan super ini diwariskan secara genetis dari ayah ke anaknya (sangat jarang dari ibu ke anaknya) sehingga orang perak dalam satu trah keluarga memiliki kemampuan super yang sama.

Masing-masing trah ini kemudian membangun klan yang menguasai bidang politik dan militer di negara Norta. Klan calore yang mengendalikan api, klan viper yang menguasai binatang, klan Samos yang memanipulasi logam, klan oseanos yang memanipulasi air. Masih banyak lagi. Kemampuan kaum perak beragam, ada penyanyi yang bisa menghipnotis orang, pembisik yang mampu melihat dan mempengaruhi pikiran orang lain, penghijau yang bisa menumbuhkan tanaman dan memanipulasi tanah, penyembuh yang bisa menyembuhkan segala luka dengan sentuhannya, kaum sutra yang luwes dan lincah, orang yang bisa membelokkan cahaya sehingga dirinya tak kasat mata, lengan penghancur yang perkasa, bahkan kaum yang bisa menghancurkan batu hanya dengan menyentuhnya.

Dengan kekuatan super ini kaum perak menaklukan kaum merah dan kemudian menindas mereka. Kaum perak merasa dirinya tercipta sebagai dewa sementara kaum merah adalah pelayan mereka. Padahal keduanya sama sama manusia. Tetapi sebagaimana semut pun mengigit ketika terinjak, kaum merah mulai mengobarkan pertarungan lewat Barisan Merah. Kelompok rahasia ini melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dominasi kaum perak, juga menjunjung tujuan mulia tentang kesetaraan di antara keduanya.

Mare Barrow ibarat sebuah mutasi di atas mutasi. Dia memiliki darah merah tetapi sebuah kecelakaan di arena pertarungan kaum perak telah menjadikannya sadar siapa dirinya. Mare adalah kaum merah dengan kekuatan perak. Dan kekuatan Mare ini jauh lebih dahsyat ketimbang kekuatan kaum perak. Kekuatan yang belum pernah muncul sebelumnya. Mare bisa menciptakan sekaligus mengendalikan listrik termasuk petir sehingga mendapatkan julukan Gadis Petir. Kisah Mare ini kemudian dibalut dengan intrik pemerintahan, kisah cinta segitiga yang aduhai, serta deskripsi yang panjang. Banyak memang pembaca yang mengeluhkan model bercerita di Red Queen yang terlalu deskriptif dan bertele-tele.

Jadi ceritanya saya dulu dapat buntelan Glass Sword padahal saya belum baca Red Queen. Tahun 2016 akhir coba nyari di TM tapi stok kosong. Akhirnya, terpaksa baca buku kedua seri RQ ini walau dengan banyak blank dan kosong. Siapa Mare, Cal, Maven dan kenapa malah banyak yg suka Maven ketimbang Cal? Dengan ilmu menangkap dan melompati kisah seperlunya, saya pun mencoba mengira-ngira apa yang berlangsung di buku pertama agar bisa menikmati buku keduanya. Perjuangannya lumayan berat karena Mare begitu sering mengingat ulang berbagai kejadian yang menjadi dasar terbentuknya kisah di Norta dalam buku pertama. Tetapi itu tidak menghalangi saya menyukai kisahnya. Seri Red Queen menghadirkan dua tema yang sangat saya sukai: X-Men dan avataar aang.

Setelah membaca Glass sword, king cage, dan akhirnya war storm, barulah saya berk sempatan membaca buku pertamanya. Lebih baik tekat daripada tidak sama sekali kan wkwk walaupun akhirnya saya tidak mendapatkan keseruan dan ketegangan seperti jika saya membaca urut seri ini sejak awal. Tentu sudah banyak yang saya ketahui terkait nasib tokoh tokoh di dalamnya. Siapakah yang akhirnya dipilih Mare, nasib Shade dan Julian dan Ptolomeus, kaum darah baru, kehidupan Evangeline yang sangat menarik, tindak tanduk ratu Elara, dan banyak lagi. Saya cukup menikmati dan tidak ragu memberi bintang 4 karena buku ini menjawab banyak tanya saya terkait awal mula seri ini.


Judul                     : Red Queen (Red Queen #1) 
Penulis                  : Victoria Aveyard
Penerjemah         : Shinta Dewi
Penerbit               : Penerbit Noura Books
Terbit                    : Cetakan pertama, April 2016
Tebal                     : 516 halaman

We Are Not The First

Judul: We Are Not The First

Penulis: Andrew Tomas

Tebal: 180 hlm

Cetakan: 1971

Penerbit: Bantam


Bagaimana orang zaman dahulu bisa membangun Piramida yang menjulang tanpa bantuan alat modern? Atau jangan-jangan memang ada alatnya hmm. Jalan raya yang dibangun suku Inca adalah yg terpanjang di dunia, melintasi ketinggian hingga 3000m MDPL dan masih awet dilewati truk dan bus sampai sekarang. Peta misterius karya Piri Reis yang menggambarkan daratan artartika sebelum tertutup lempeng es tebal. Mercusuar di pharos setinggi 120 m yang bertahan ratusan tahun. Gambar gambar misterius di dinding gua yang menggambarkan orang memakai helm astronot. Gambar menyerupai orang Eropa di dinding purba suku aborigin. Begitu banyak misteri dunia kuno yang belum berhasil dikuak.

Kita beranggapan bahwa orang zaman dulu masih primitif dan belum maju. Namun berbagai temuan kuno membuktikan bahwa manusia sudah mampu membangun peradaban yang semaju bahkan mungkin lebih maju dari peradaban modern. Sebuah bencana besar (hipotesis umum) kemungkinan menyapu bersih segala peradaban maju ini sehingga yg tersisa adalah remah-remah pengetahuan yang kini hilang. Bahkan hanya dari remah inilah, bangsa India kuno bisa membangun kota Mohenjo Daro yang serba teratur dengan jalanan yang mulus, bangsa Inca bisa membangun peradaban sosialis yang tanpa mata uang, bangsa Mesir bisa membangun monumen batu kolosal, dan bangsa Sumeria bisa menguasai ilmu hitungan.

Ini belum termasuk warisan yang diturunkan pada bangsa Yunani kuno. Pernahkah kita berpikir bahwa ada sedikit kebenaran dalam setiap kisah mitologis. Atau menurut penulis, mungkinkan kisah mitologis Yunani adalah cara orang dahulu menerima atau memahami alat-alat canggih. Jangan jangan, Icarus adalah orang kuno yang memiliki alat untuk terbang. Mungkinkah sepatu Hermes adalah alat teleportasi. Jangan jangan dewa dewi Mesir adalah manusia berperadaban tinggi yang turun dari pesawat ruang angkasa.

Lepas dari itu, ada begitu banyak keajaiban dunia kuno yang mungkin bisa dijelaskan oleh sains. Kaisar China di abad sebelum Masehi konon punya cermin besar yang mampu memantulkan gambaran organ dalam orang di depannya (sinar x pertama), ada kuil di Mesir yang patungnya bisa mengeluarkan bunyi ketika terkena sinar matahari, alat seismograf kuno yang dipahat di sebuah tebing di pantai Amerika Selatan, tiang antigravitasi di sebuah pelosok India, juga helikopter pertama yang dikisahkan dalam sebuah cerita Tiongkok dari abad pramasehi.

Semua kisah menarik ini masih diperkaya dengan sosok misterius dari dunia kuno, seperti Saint Germain yang menguasaiseni alkemi, perjalanan ke Shambala di Tibet yang menjadi pusat segala keajaiban dunia kuno, kebenaran tentang Nicholas Flammel, hingga sosok Appolonius dari Yunani kuno yang mengadakan perjalanan hingga ke India pada abad pertama Masehi. Benarkah ada peradaban maju dari dunia kuno yang kini menghilang? Yang jelas, dunia modern bukan yang pertama dalam penemuan berbagai peralatan modern. Orang-orang zaman dulu mungkin lebih dulu daripada kita.