Search This Blog

Monday, May 21, 2018

Review and Giveaway: Personal Branding

Judul: Personal Branding: Sukses Karier di Era Milenial
Penulis: Dewi Haroen
Disain sampul & tata letak: Firda Haerunisah
Penerbit: DH Media
Cetakan: Pertama, Februari 2018
Tebal  : 228 hlm.
ISBN  : 976-602-51574-0-0




Pada dasarnya, setiap kita adalah penjual. Pedangan makanan menjual makanan. Penjual buku menjual buku. Guru menjual ilmu. Karyawan menjual jasa. Bahkan seorang CEO pun juga seorang penjual. Agar apa yang kita jual (brand) dapat menarik perhatian calon pembeli, maka kita harus melakukan branding agar "dagangan" kita laku. Prinsip yang sama juga berlaku dalam "menjual diri" kita kepada orang lain. Dalam hal ini, kita membutuhkan personal branding untuk menjadikan diri kita semakin "laku" dalam berbagai hal.  Ada perbedaan besar antara merek diri (personal brand) dengan personal branding. Merek diri adalah potret diri Anda, atau cara orang mengenali perbedaan Anda dibanding orang lain. DI era internet ini, merek diri salah satunya bisa dilihat pada jejak online dan jejak offline. Sementara personal branding adalah sebuah upaya aktif untuk membentuk identitas pribadi yang mampu menciptakan respon emosional terhadap orang lain. Dalam kalimat yang lebih sederhana, personal branding adalah bagaimana cara menampilkan kualitas positif diri kita dalam pandangan orang lain. 

"Brand Anda adalah apa yang dikatakan orang lain mengenai Anda, bukan apa yang Anda katakan kepada mereka." (hlm 21)

Monday, May 14, 2018

Review and Pengumuman Pemenang Giveaway: Karung Nyawa


Judul: Karung Nyawa
Pengarang: Haditha
Penyunting: MB Winata
Sampul: Haditha
Cetakan: Pertama, Maret 2018
Penerbit: Bukune

 34665709

Kita tumbuh dewasa salah satunya bersama kisah horor. Dawet yang dibuat dari biji mata, menanam kepala manusia sebagai tumbal pembangunan jembatan, hingga pemulung yang suka menculik anak kecil dalam karungnya. Entah kisah-kisah itu terbukti benar atau tidak, sebagian besar dari kita pernah mendengar kisah-kisah horor yang kurang lebih mirip. Kisah-kisah itu mungkin diceritakan orang dewasa kepada anak-anak sebagai sarana untuk belajar waspada, juga untuk menyadarkan kita yang kecil dulu bahwa dunia ini tidak melulu berisi orang-orang baik semata. Bisa juga, kisah-kisah horor seperti ini terus diceritakan karena kecenderungan kita untuk tertarik sekaligus takut kepada hal-hal yang belum kita ketahui. Membaca Karung Nyawa mungkin menghasilkan dampak seperti itu. Buku ini mengajak pembaca bernostalgia kembali dengan kisah-kisah seram yang pernah mewarnai sudut kecil dari masa kecil kita dahulu.

Ide cerita utama Karung Nyawa adalah tentang pesugihan toklu (ketok gulu/potong leher) yang menumbalkan kepala manusia. Di Purwosari, salah satu wilayah urban di Bojonegoro, dulu sempat beredar kabar tentang seorang pemulung yang suka menculik anak-anak untuk  ditumbalkan. Si pemulung memanen korban dengan cara mengaitkan kait setajam arit ke leher korban. Seperti biasa, kisah ini sukses menakut-nakuti anak-anak yang suka lupa waktu kalau lagi main. Cerita lain dengan versi berbeda juga banyak dijumpai di wilayah pedesaan Jawa tahun 90-an awal. Tetapi ketika pada suatu siang Johan Omar yang berusia 12 tahun menemukan sesosok wanita tanpa kepala mengambang di sungai,orang-orang mulai bertanya apakah Toklu memang benar-benar nyata adanya? 

Tujuh tahun berlalu, peristiwa serupa terjadi. Warga Purwosari kembali gempar dengan penemuan sesosok mayat wanita tanpa kepala. Johan Omar yang masih trauma dengan peristiwa terdahulu memilih untuk menutup diri. Tapi, Jabil sahabatnya malah mengajaknya untuk menyelidiki peristiwa berdarah itu. Nalurinya sebagai detektif amatir bangkit, tetapi ia membutuhkan teman-teman yang lain untuk membentuk empat sekawannya  sendiri. Tentu saja Johan menolak, awalnya. Tetapi setelah tahu bahwa dalam kelompok itu ada Janet Masayu, pacarnya, dan Tarom Gawat yang punya kelebihan spiritual, Johan memutuskan untuk ikut bergabung. Satu hal yang tidak ia beritahukan kepada teman-temannya, tentang sosok hantu wanita tanpa kepala yang terus menampakkan diri kepadanya sejak peristiwa tragis tujuh tahun lalu.

Orang bijak bilang, tak ada obat untuk suatu ketakutan kecuali menghadapi ketakutan itu sendiri. Baik Johan Omar, Tarom Gawat, Janet Masayu, maupun Jabil ternyata memiliki ketakutan-ketakutannya sendiri yang mau tak mau harus mereka hadapi. Terbentuknya empat sekawan ini di satu sisi telah membantu mereka mengalahkan ketakutannya. Di sisi lain, keberanian atau mungkin kenekatan itu mungkin akan menjerumuskan mereka dalam marabahaya. Fokus penyelidikan mereka hanya untuk menyelidiki si Toklu. Benarkan pemulung berdarah itu memang benar-benar ada? Siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya? Sementara itu, desa semakin gawat kondisinya dengan banyaknya orang yang mendadak kesurupan, kemunculan penampakan hantu berkapak yang mengganggu para peronda, hingga tumbuhnya pohon-pohon aneh di sekitar Purwosari. Terlarut dengan semangat penyelidikannya, empat anak muda itu malah luput menyadari sosok pembunuh itu ternyata lebih dekat dari yang mereka sangka. 

Mirip salah satu kisah Scooby Doo ya? Tapi ini beda. Lokalitasnya yang kental membuat buku ini juara. Haditha membawa persilangan segar antara horor lokal (yang diawali oleh Abdullah Harahap dan dirayakan ulang oleh Eka Kurniawan dan kawan-kawan) lewat Karung Nyawa ini. Mungkin, ini yang bikin saya merasakan aroma Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas saatmengawali membaca novel ini. Haditha mengatakan kalau naskah ini ditulis sebelum membaca novelnya Eka. Jadi, lebih adil kalau dibilang keduanya sama-sama terpengaruh oleh maestro Abdullah Harahap.  Satu hal  yang khas di buku yang mengingatkan saya pada karya Eka adalah nama-nama karakter di novel ini yang Indonesia-punya banget: nama depan yang dipadukan dengan nama julukan. Kemudian, dalam menarasikan cerita,  penulis berulang kali menyebut nama lengkap setiap tokohnya di buku ini (Yoga Keling, Hanoman Ganteng, Tarom Gawat). Ini mirip dengan teknik Eka dalam menulis beberapa karyanya.

Membandingkan Karung Nyawa dengan karya pertama Haditha yang saya baca, terlihat sekali betapa jauh perkembangan yang berhasil dicapainya. Novel ini adalah bukti fisik dari ratusan jam praktis menulis dengan rutinitas dan disiplin tinggi. Di awal-awal buku memang coraknya masih sibuk bernarasi, tetapi semakin memasuki semesta Purwosari, pembaca akan langsung terseret pada rasa penasaran. Cerdiknya si penulis, misteri utama digeber dari awal, lalu misteri-misteri lain mulai ditaburkan dengan porsi yang tidak berlebihan sepanjang cerita. Belum selesai kasus Toklu diselidiki, pembaca malah disuguhi Hantu Belangkon dan Hantu Berkapak. Ini adalah teknik cerdik untuk menjerat pembaca agar tetap membaca cerita sekaligus mendistraksi pembaca dari misteri yang sebenarnya. Kemudian di ending, pembaca akan disuguhi plottwist cerdas serta pertempuran penghabisan yang masih membuat saya tak percaya mengapa penulisnya memilih ending begitu.

Saya suka aroma horor lokal yang kental di buku ini. Beberapa di antaranya pernah saya dengar sehingga rasanya mudah saja ikut masuk di cerita. Saya juga suka dengan teknik bercerita horor ala kisah fantasi Haditha yang tidak melupakan elemen lokalitas Indonesia. Buku-buku seperti ini kembali mengingatkan saya akan horor kawasan pedesaan yang dulu sempat menjadi karakteristik karya-karya maestro horor Indonesia Abdullah Harahap. Juga teknik penamaan di Karung Nyawa yang nyaman sekali terdengar di telinga saya sebagai orang yang besar di desa. Satu yang kurang dari buku ini mungkin ending-nya yang masih kurang tuntas. Puas sih tapi kurang tuntas. Namun  begitu, bagi saya kenikmatan novel ini ada pada aroma horor yang terus menyapa di sepanjang cerita. Ketika Haditha mengisahkan kondisi malam hari di Purwosari yang lokal banget, cocok dengan malam hari di wilayah pedesaan di Jawa. Jadi, kebayang kan seremnya macam gimana? 

Sebagaimana gosip, cerita horor akan terasa semakin seram kalau dinikmati bersama-sama. Terima kasih sudah menyimak ulasan saya. Sebagai hadiah, Penerbit Bukune telah menyiapkan satu buku misterius GRATIS untuk salah satu pembaca yang beruntung. 



Selamat untuk Dedik Ariyanto (twitter @ardeto_khan) yang beruntung di kuis kali ini. Saya akan menghubungi kamu lewat media sosial, selamat ya. Terima kasih juga untuk teman-teman yang lain yang sudah ikutan.

Monday, May 7, 2018

Topi Hamdan, Kesabaran yang Tak Berbatas


Judul: Topi Hamdan
Pengarang: Auni Fa
Penyunting: Iswan H
Cetakan: November 2017
Tebal: 344 hlm



Roda kehidupan manusia memang tidak pernah dapat ditebak. Tapi satu hal yang pasti, Tuhan mempergilirkan nasib hamba-hamba-Nya serupa roda, kadang jaya di atas dan sekali waktu harus terlindas di bawah. Kita tidak bisa mengetahui dengan persis apa maksud Tuhan, tetapi kita selalu dapat belajar banyak dari ketetapanNya ini. Bahwa hidup memang tersusun atas kepingan duka dan kepingan bahagia. Tidak selamanya manusia akan berkubang dalam lembah kesedihan. Tidak selamanya pula manusia bertabur kebahagiaan. Semua ada masanya. Dengan mengetahui kebenaran ini, kita jadi tidak gampang putus asa saat sedang mendapatkan ujian hidup karena Tuhan pasti telah menyiapkan kebahagiaan di ujung sana. Di sisi lain, kita juga menjadi tidak mudah takabur atau lupa diri ketika sedang mendapatkan kenikmatan hidup. Sungguh, Dia berkuasa untuk mengubah nasib kita semudah kita membalik telapak tangan.

Friday, May 4, 2018

Annihilation, Pemusnahan


Judul: Annihilation
Pengarang: Jeff Vandermeer
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Primadona Angela
Cetakan: Pertama, 2018
Tebal: 243 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



"Di dunia ini tak ada yang benar-benar  objektif--bahkan dalam keadaan terisolasi, bahkan sekiranya otak hanya berisi hasrat yang begitu kuat untuk mencari kebenaran." (hlm. 13)

Sebagaimana filmnya yang sunyi sepi dari pemberitaan, novel Annihilation juga hanya sempat ramai di awal (karena kemunculan sampulnya yang kece) ketika Gramedia mengumumkan akan menerbitkan versi bahasa Indonesianya. Satu bulan setelah terbit, hanya segelintir pembaca saja yang membaca dan (apalagi) mengulas novel karya Jeff Vandermeer ini. Kalau foto-foto di IG sih banyak, tetapi ulasan di goodreads tidak seramai ulasan buku-buku sci-fantasi populer lain, semisal Illuminae misalnya. Beberapa ulasan sepakat mengatakan buku ini unik. Jenis buku fantasi yang berbeda dibanding buku-buku scifi yang ada di pasaran karena berani mengambil plot yang tidak pasaran. Tetapi, di sinilah pertaruhan itu diletakkan. Menulis sebuah novel fantasi dengan tema yang tidak populer berpotensi menjadikan novel tersebut sepi pembaca. Mungkinkah kondisi sepi-sunyi di Area X turut mempengaruhi sepinya tanggapan atas buku ini di pasaran Indonesia?

Annihilation saya akui memang termasuk fiksi yang berat. Sampai membaca tuntas novel ini, saya masih belum bisa menangkap 100% isi dari novel ini. Tema sentralnya adalah sebuah kawasan liar di selatan (selatannya mana?) yang dilingkupi oleh fenomena yang aneh sehingga menjadikan tempat tersebut dijauhi. Setting area X adalah kawasar pesisir dengan perpaduan vegetasi hutan-rawa-bakau. Setting waktunya kemungkinan di masa depan karena ada alat-alat canggih dan ilmu psikologi telah berkembang pesat (Si Ahli Psikologi yang juga ahli hipnosis seperti orang super yang mampu mengendalikan pikiran orang lain di buku ini). Ada sesuatu di Area X yang menjadikan kawasan tersebut dibatasi (anggota tim harus melewati Perbatasan jika ingin masuk ke sana). Bahkan alat modern seperti telepon genggam dilarang dibawa masuk karena ancaman kontaminasi.

Thursday, May 3, 2018

Haji Murat

Judul: Haji Murat
Pengarang: Leo Tolstoy
Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer
Tebal: 191 hlm
Cetakan: Pertama, Februari 2009
Penerbit: Pustaka Jaya


6511675


Sebuah novel sedikit banyak mencerminkan pandangan politik penulisnya. Dari karya juga, pembaca bisa melihat perkembangan pandangan penulis sepanjang usia kepengarangannya. Tolstoy merayakan kemenangan rakyat Rusia atas serbuan Napoleon lewat karya agungnya, War and Peace. Secara sukarela, ia bahkan terjun dalam Perang Krim (1853-1856) melawan Turki yang dibantu oleh Inggris, Perancis, dan Sardinia. Nasionalisme menjadi api yang menggerakkan semangatnya. Kemudian, dalam karya-karya selanjutnya, tema kemanusiaan lebih menjadi perhatiannya. Novel Haji Murat yang ditulis di masa-masa penghujung kariernya sedikit banyak menggambarkan perubahan Tolstoy yang pada akhirnya memilih untuk membela kemanusiaan ketimbang mengobarkan nasionalisme. Dalam novel ini, dia seperti sengaja memosisikan diri sekadar sebagai pengamat, orang yang tidak memiliki urusan sama sekali dengan kedua belah pihak yang bertikai. Hanya satu yang dia sepakati, bahwa perang—betapa pun agung dan mulianya—selalu menimbulkan korban di kedua belah pihak. 

Wednesday, May 2, 2018

The Lost World, Petualangan Mencari Dunia yang Hilang


Judul: The Lost World
Pengarang: Sir ARthur Conan Doyle
Penerjemah: An Ismanto
Tebal: 314 hlm
Cetakan: Pertama, 2014
Penerbit: Indoliterasi




Sejak kesengesem dengan Sherlock Holmes di zaman kuliah dulu, saya menjadikan Sir Arthur Conan Doyle sebagai salah satu penulis klasik favorit selain Jules Verne. Keduanya memang pioner fiksi ilmiah di era klasik. Satu hal yang saya kagumi dari keduanya adalah konsep-konsep canggih yang mendahului zamannya, yang kemudian terbuktikan sebagian (atau keseluruhan kebenarannya) di masa kini.  Karya-karya mereka yang mendahului zaman terus memukau saya sebagai pembaca. Membayangkan para penulis besar ini menulis karya-karya fiksi ilmiah di abad kesembilan belas dan kita masih bisa menikmatinya di abad modern. Betapa luar biasa bakat yang mereka miliki. Mengikuti metode Holmes menganalisis kasus, atau turut menyelam ke kedalaman samudra bersama Kapten Nemo selalu menjanjikan petualangan membaca yang seru. Dan keduanya masih terus mempesona pembaca meskipun mereka hidup lebih dari seratus tahun lalu. Kapal selam, roket, perjalanan mengelilingi bola Bumi, hingga spesies kadal raksasa dinosaurus. Selalu ada hal-hal baru dalam karya mereka, dan salah satu yang terbaik ada di novel The Lost World ini.

Intelegensi Embun Pagi, Pamungkas Seri Supernova

Judul: Intelegensi Embun Pagi
Pengarang: Dewi Lestari
Tebal: 724 hlm
Cetakan: Pertama, 26 Februari 2016
Penerbit: Bentang Pustaka

28937283
 

Dari banyak ulasan yang (dulu) saya baca, pembaca Indonesia terbelah terkait seri pamungkas Supernova yang telah berjalan panjang sejak 2001 ini. Banyak yang merasa puas dengan akhir serial ini, ketika seluruh tokoh dipertemukan dan menjadi semakin jelas benang cerita yang merekatkan tokoh-tokoh ajaib di seri ini. Setiap tokoh memiliki peran dan bagiannya masing-masing, bagian dari sebuah puzzle misterius tentang kehidupan. Alva sebagai Gelombang, Elektra adalah Petir, Bodhi sebagai Akar, Gio sang Kabut Malam, Zarrah si Partikel, serta satu orang lagi yang masih dirahasiakan (si Intelegensi Embun Pagi?). Akhirnya, di episode terakhir ini kita bisa merayakan berkumpulnya para avengers *beda fandom woy* dalam mempertahankan ketentraman dunia.Pola jahat-baik di seri ini ditampakkan dengan hadirnya peretas, infiltran, dan umbra sebagai pihak “baik” dan sarvara sebagai pihak jahat.