Search This Blog

Friday, September 2, 2022

Cursed Bunny, Kumcer Gelap dari Pengarang Korea

Judul : Cursed Bunny

Pengarang: Bora Chung 

Penerjemah: Anton Hur

Penerbit : Honford Star (ebook edition)

Kumpulan cerpen karya penulis Korea Selatan yang lagi hype banget belakangan ini. Selain POnya sedang dibuka oleh Penerbit Haru, buku ini juga masuk daftar pendek nomine untuk Internasional Booker Prize. Dan setelah membaca cerita-cerita di dalamnya, memang gila buku ini. Bisa dibilang, ini penulisnya ada masalah apa sih dalam hidupnya kok bisa-bisanya nulis cerita-cerita random tapi greget gini. Ketidaksabaran menunggu versi bahasa Indonesianya terbit akhirnya mendorong saya membaca versi Inggrisnya.


Cursed Bunny berisi 10 cerita dengan tema acak, tetapi selalu ada nuansa mengerikan. Cerpen The Head ini bikin ngilu banget, ide ceritanya asli nggak kebayang penulis dapatnya dari mana. Model horor realis magis yang memanggil-manggil dan menghantui pembaca saat di kamar mandi. Cerpen The Embodiment sedikit mengkritisi posisi perempuan hamil di luar nikah di Korsel, yang ternyata hampir mirip dengan situasi sosial di Indonesia. Cerpen ketiga yang menjadi judul kumcer ini, tentang sebuah benda kutukan yang mengunyah korbannya secara diam-diam. Cerpen ini standar kebaikan vs kejatahan sebenarnya, tapi diam-diam bikin merinding. Mirip teluh di budaya Indonesia.

Cerpen The Frozen Finger asli ngerinya. Ini kayak kita pas ngalami kejadian mistis lalu bertanya, lha itu tadi siapa ya? Cerpen Snare mengingatkan kita pada dongeng ikan mas, ikan ajaib yang membantu orang yang menolongnya. Hanya saja, ikan di sini rubah ajaib, yang lalu diperah oleh si penolong. Kejahatan yang karmanya turun ke anak cucu lewat kegilaan dan ketidakwarasan. Sungguh, cerita ini tidak waras tapi ditulis dengan sangat bagus.

Cerpen Goodbye My Live mungkin mengingatkan pada Terminator dan I, Robot. Endingnya bikin pembaca meninjau kembali apakah manusia memang harus bikin AI di masa depan. Scar cerpen yang panjang, dengan nuansa fantasi antah-berantah. Bayangkan seorang anak yatim piatu dikurbankan kepada monster. Cerita ini bikin ngilu karena berdarah-darah, sekaligus menerbitkan simpati. Home Sweet Home kayaknya cerpen favorit. Ada twist di ending yang bikin orang ga berani lagi masuk gudang atau ruang basemen.

Cerpen Ruler if Winds and Sands bergenre fantasi, sebuah jeda menyenangkan setelah diserbu kisah-kisah gelap. Sementara cerpen terakhir, Reunion, sepertinya adalah yang paling serius, paling dalem, paling bikin mikir sekaligus merenung, dan punya banyak kutipan yang bagus. Dengan segala kualitas ini, Cursed Bunny memang layak menjadi buku dinantikan kehadirannya. Sebuah kumpulan kisah di luar garis kewarasan tapi entah bagaimana masih bisa diterima akal pembaca, dan ditulis dengan luar biasa piawai. Keren deh Anda, mbak Bora Chung 

Saturday, August 6, 2022

The Science of Monsters, Ketika Makhluk Mitologis Dijelasan Secara Ilmiah

Judul: The Science of Monsters

Penulis: Matt Kaplan


Dunia kuno pernah diliputi ketakutan (sekaligus kekaguman) pada monster-monster ganas. Spinx, minotaur, hydra, hingga chimera. Tidak kurang mitologi Yunani juga dipenuhi dengan makhluk mengerikan seperti singa Nimea, medusa, dan para penyanyi siren. Pada abad pertengahan dan penjelajahan samudra, monster itu masih ada. Mereka menjelajahi kedalaman samudra seperti kraken dan menguasai angkasa, sebagaimana burung rukh.

Bagaimana dengan dunia modern? Ternyata masa ini memiliki monsternya sendiri, yang semakin dipopulerkan lewat televisi dan buku bacaan. Vampir, drakula, zombie, dan manusia serigala turut menjadi bagian dari budaya pop modern. Monster monster ini pernah dipandang sebagai ancaman dari dunia kegelapan, tetapi turut dipandang juga dengan penuh kekaguman dan pengharapan, seperti naga. Mereka melambangkan apa-apa yanh belum diketahui manusia, dan itulah yang menakutkan umat manusia: sesuatu yang belum diketahui.

Matt Kapplan dalam buku The Science of Monster berusaha mengurai sedikit ketidaktahuan manusia tentang permonsteran ini. Satu demi satu, dia mencoba menguraikan alasan-alasan ilmiah dari keberadaan monster-monster ini, sekaligus menjawab pertanyaan tentang asal usul keberadaan mereka. Tidak sekadar jawaban atau deduksi berdasarkan imajinasinya semata, Kaplan menggunakan ratusan hasil riset dalam berbagai jurnal ilmiah untuk menjawab benarkah medusa, chimera, dan minotaur itu memanh benar benar pernah ada?


Tentang chimera misalnya, Kaplan mengajukan dugaan kalau mahkluk itu adalah fosil dari binatang singa, kambing, dan burung purba yang terseret banjir lalu bangkainya saling bercampur dan menyatu. Orang zaman kuno yg menemukan fosil campuran itu lalu mengiranya sebagai monster berkepala singa, berekor ular, dan bertubuh kambing. Kasusnya sama dengan Spinx dan medusa serta hydra. Binatang-binatang berbeda terjebak dalam satu tempat yang sama dan kemudian bangkainya menjadi fosil.

Ketidakpastian membuat manusia gusar. Ia akan memikirkan apa saja untuk menjawab fenomena atau hal yang tidak diketahuinya. Karena itulah, mereka lalu mengisahkan tentang monster-monster aneh yang bangkai atau fosilnya mereka lihat itu sebagai bangkai dari monster dari zaman mitologi. Pandangan yanh kemudian dirayakan dan dipercayai di dunia kuno sehingg menciptakan mitos mitos mahkluk mitologi yang kita kenal saat ini.

Menarik bagaimana Kaplan menjawab fenomena 'menjadi batu setelah menatap medusa." Manusia mungkin tidak bisa langsung menjadi batu, tetapi ketakutan atau keterkejutan yang teramat sangat bisa membuat seseorang "mati berdiri" atau mematung. Konsep ini yang mungkin terjadi kepada korban-korban Medusa dalam kisah mitologis. Bukan karena tatapan matanya, melainkan kengerian yang ditimbulkan oleh ular ular yang melata pada kepala Medusa. Selama ribuan tahun, ular berbisa telah menjadi musuh paling ditakuti manusia purba. Dan ketakutan ini rupanya telah tertanam dalam gen manusia begitu dalam sehingga membuat sebagian besar kita bergidik saat melihat ular.

Sebuah kisah yang diambil dari laporan seorang dokter antropologis di Kepulauan Karibia menjadi jawaban dari apakah zombi benar ada atau tidak. Awal abad 20, dilaporkan seseorang yang bangkit dari kubur dan ternyata dia dipekerjakan sebagai budak di perkebunan ketika orang orang mengiranya sudah tewas. Penggunaan racun syaraf dari sejumlah spesies endemik di pulau tersebut membuat korban seolah mati tetapi kemudian dibangkitkan kembali, hanya untuk dipaksa bekerja tanpa henti di luar kendalinya. Racun itu yang memaksanya terus bekerja meskipun dia sadar dia tidak menginginkannya. Ini malah lebih menakutkan ketika manusia berada dalam kekuasaan manusia lain tanpa sedikit pun bisa melawan.

Misteri memang selalu menarik, dan manusia akan terus berusaha mencari jawaban atas semua yang belum diketahuinya. Ketidaktahuan itu menakutkan, maka monster2 mitologis pun dimunculkan untuk menjawabnya. Setidaknya dengan mengadakan mereka, orang-orang zaman kuno tidak dirisaukan lagi dengan temuan serta kabar aneh yang mereka dapatkan. Inilah mungkin simpulan dari penulis buku ini. Jawaban dari kegelisahan manusia di zaman kuno akhirnya bisa sedikit dijelaskan dengan sains modern melalui berbagai penelitian di ranah arkeologi, psikologi, biologi evolusioner, fisika, sejarah, geomorfologi, dan banyak lagi. 

The Black Hole, Novel Fiksi Fantasi Lokal Rasa Remaja

Judul: The Black Hole

Pengarang: Jufan Rizki

Penerbit: Benito Publishing




Memadukan kisah fantasi petualangan dengan kisah remaja yang ringan, The Black Hole karya Jufan Rizky adalah pembuka yang menyenangkan untuk seri ini. Aroma pertempuran ala permainan game fantasi seperti dalam trilogi Sang Gallant masih mewarnai buku ini. Tetapi, novel ini memiliki tone yang lebih ringan. Secara halaman pun tidak terlampau tebal sehingga ramah untuk bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Secara kisah, novel ini memiliki alur khas kisah fantasi. Planet Sanivia, sebuah planet maju di galaksi nun jauh di sana, diserang oleh penghuni Planet Vigard yang hendak menjadikan planat tersebut jajahannya. Perang terus berlangsung, dan para pasukan pelindung Planet Sanivia mulai kewalahan dengan bangsa Vigart yang seolah tidak ada habisnya.

Sanivia memiliki barisan Ksatria Yad yang masing-masing dibekali pedang istimewa. Pedang ini bisa berubah bentuk, juga berbicara berinteraksi dengan pemiliknya. Senjata ibarat robot doraemon versi keren yang bisa berubah menjadi mobil hingga menembakkan sinar penghancur. Ksatria Yad ini mengingatkan saya pada Jedi di film Star Wars, tapi dalam versi yang lebih animatif.

Hadirnya ksatria Yad ternyata belum mampu mengimbangi pasukan Vigart yang seolah terus bertambah walau banyak ditumpas. Pertahanan Sanivia terancam jebol kalau saja mereka tidak menyimpan sebuah senjata rahasia. Senjata berupa seorang anak muda dengan kemampuan bisa memunculkan sebuah lubang hitam dahsyat yang mampu mengisap segalanya. Anak muda itu disembunyikan sejak bayi di planet Bumi.

Xade, salah satu dari Ksatria Yad diutus untuk menjemput dan melatih senjata rahasia ini. Dari pantauan Dewan Galaksi, pemuda bernama Bayu Pratama itu bersekolah di SMA Swasta Pancasila di Jakarta. Agar prosesnya berjalan mulus, Xade memutuskan menyamar dan melamar menjadi guru fisika di SMA tersebut. Ini agar dia bisa mendekati dan melatih Bayu Pratama menjadi prajurit Sanivia yang terlatih. Tebak apa nama samara Xade di SMA Pancasila: Soekarno Habibie Wahid—tiga nama mantan Presiden Republik Indonesia.

Proses yang sayangnya berjalan terlalu lama. Bayu sendiri adalah siswa SMA yang bandel dan keras kepala. Orang tuanya yang kaya raya menjadikannya merasa semakin bebas, termasuk dalam menindas dan merisak siswa-siswa lain yang lebih lemah darinya. Sebelum bisa melatih sang lubang hitam, Xade harus menaklukan pemuda itu terlebih dulu. Hal yang tentunya tidak sulit bagi seorang Ksatria Yad seperti dirinya.

Kisah di buku pertama ini kebanyakan mengambil latar tempat sekolah SMA dengan segala hiruk pikuk kegiatannya. Sesekali, pengarang akan mengajak pembaca menengok pertempuran yang tengah berlangsung di Planet Sanivia. Adegan pertempuran ditulis dengan lumayan rinci, jadi saya sebagai pembaca mudah untuk membayangkan adegan pertempuran seru itu di dalam kepala. Mengingatkan kita pada adegan pertempuran dalam kartun Dragon Ball yang seru itu.

Hal yang menjadikan novel fantasi ini terasa segar (dan mulus sekali dibacanya) adalah aroma Planet Bumi (atau aroma lingkungan SMA) yang sangat kuat. Serasa membaca buku tentang remaja yang ringan tapi mengasyikkan. Dan tentu lebih seru lagi ketika anak murid bandel yang berhasil ditangani oleh gurunya yang ternyata jauh lebih jago darinya. Aroma kisah remaja yang ternyata tidak hanya membuat pembaca terus membaca, bahkan masa tinggal Xade sendiri sampai molor karena dia mungkin telanjur nyaman di Bumi--apalagi dengan sotonya. Siapa sih yang tahan pada godaan soto ayam?

Dengan latar SMA, novel ini ikut mengangkat isu-isu yang dekat, seperti tentang prisakan (bullying) dan juga kenakalan remaja. Ada juga sindiran pada kondisi manusia bumi yang merusak alam, dan dikhawatirkan akan merusak alam semesta jika dibiarkan terus maju. Keberadaan Dewan Galaksi menjadi semacam pengawas di balik tabir untuk mencegah agar umat manusia bergerak atau berkembang terlalu maju. Ini konsep yang menarik! Biasanya manusia diletakkan sebagai pihak yang terancam, di novel ini manusia adalah calon ancaman.

Dengan cerita yang ringan, selingan adegan pertempuran dar der dor gerak cepat, juga bumbu intrik pengkhianatan; The Black Hole rampung terbaca dalam waktu yang tidak lama. Cara penulis bercerita, memasukkan serpihan-serpihan kekinian dalam karyanya, membuat proses membaca buku ini menyenangkan dan menghibur. Beberapa kalimat ada yang kurang luwes, tetapi tidak banyak dan saya sudah lupa di halaman berapa saking larutnya dalam cerita.
Tentu, saya masih menantikan terbitnya dari Sang Galant seri kedua.

Monday, July 11, 2022

Seni Menerjemahkan Sastra

Judul: Seni Penerjemahan Sastra

Penyusun: Anton Kurnia





Dengan lebih dari 70 novel dan ratusan cerpen yang telah diterjemahkan ya, Anton Kurnia tentu sudah sangat kompeten dan layak untuk membagikan pengalaman, ilmu, dan karyanya dalam dunia penerjemahan, terutama penerjemahan sastra. Buku ini ibarat bukti otentik dari perjalanan panjang seorang Anton Kurnia yang menempuh laku di jalan penerjemah selama lebih dari dua puluh tahun. Mulai dari 1998, dirinya yang bukan mahasiswa sastra memberanikan diri untuk mulai menerjemahkan cerpen2 karya pengarang dunia dan mengirimkannya ke media massa. Apa yang awalnya coba coba ternyata malah menjadi jalan hidupnya.


Anton Kurnia adalah contoh nyata bahwa seorang ahli bisa muncul dari seorang otodidak. Walau tidak berlatar belakang jurusan sastra atau bahasa, tetapi kecintaannya pada membaca telah mendorongnya pada dunia kata-kata. Dunia yang ternyata memang telah menghidupkannya sekaligus menghidupkan kehidupannya. Dia membuktikan bahwa dengan menjadi penulis dan penerjemah, seseorang bisa mengantungkan sumber kehidupannya. Meskipun dengan catatan, bagaimana gaya hidupnya disesuaikan dengan bayaran dari dunia tulisan. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang berkarya di bidang perdagangan apalagi hiburan. Tetapi, cukup dan tidak cukup itu memang tergantung yang menjalaninya.


Kembali ke bukunya, Seni Penerjemahan Sastra ini sebagaimana judulnya membahas tentang penerjemahan karya sastra secara umum. Menerjemahkan karya sastra tentu berbeda dengan menerjemahkan tulisan non-fiksi atau dokumen. Dalam sastra ada rasa dan irama yang juga harus diterjemahkan, bukan hanya sekadar makna. Anton Kurnia menyebut menerjemahkan sastra tentunya selevel lebih rumit ketimbang pernejemahan teks jenis lain karena menerjemahkan sastra ibarat menciptakan sebuah karya sastra baru di bahasa sasaran.


Bagian pertama mengulas seluk beluk penerjemahan, apa itu penerjemahan menurut para ahli penerjemahan, bagaimana proses menerjemahkan, apa apa yang harus dipersiapkan dalam menerjemahkan, bagaimana penerjemah belajar menerjemahkan, juga apa saja yang harus diterjemahkan dalam menerjemahkan sastra. Membaca bagian ini membuat saya mau tidak mau harus angkat topi kepada para penerjemah sastra, karena merekalah, sebagaimana dikatakan Jose Saramago, para pencipta kesusastraan dunia. 


Bagian kedua dan ketiga adalah kumpulan tulisan Antok Kurnia yang pernah dimuat di media massa. Topiknya tentu saja tidak jauh dari buku dan terjemahan. Sayang sekali bagian ini banyak yang hanya salin tempel, tidak ada usaha untuk menjadikannya esai atau tulisan baru yang cocok dijadikan sebuah bab dalam buku. Karena hanya artikel, tentu pembahasannya terlampau luas dan kurang mendalam. Penulis lebih sering menyoroti perkembangan terjemahan di negara ini dan perbandingannya dengan terjemahan di negara negara lain. Di bagian ini kita juga akan mendapat banyak info terkait pengalaman penulis dalam menghadiri dan meramaikan acara acara sastra. 


Bagian 4 adalah yang paling menarik menurut saya. Tulisan di bagian ini mengingatkan saya pada kolom bahasa Kompas yang banyak membahas seluk beluk asal kata. Anton Kurnia tentu mengaitkannya dengan penerjemahan. Menarik menyimak seranai variasi warna dalam bahaa Indonesia, asal muasal kata, dan juga pengaruh asing yang membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah percampuran dari berbagai unsur budaya dan bahasa. Bagian kelima juga kumpulan artikel tentang dunia buku secara luas, yang tentunya tetap asyik disimak dengan gaya penulisan yang memang ringan dan enak diikuti.


Sayangnya untuk judul sebombastis ini, buku ini kurang memuaskan. Isinya memang menarik tetapi lebih banyak bergulat dalam tataran wacana menerjemahkan sastra dan bukan bagaimana menerjemahkan sastra itu sendiri. Bagian satu lumayan memberi wawasan tentang bagaimana menerjemahkan sastra, tetapi itu terlampau umum dan contohnya juga sangat sedikit. Bagaimana menerjemahkan majas, mengalihbahasakan rima dan irama, menggunakan kalimat yang luwes, atau hal hal lain terkait teknis penerjemahan karya sastra masih sangat sedikit dibahas. Hanya beberapa info kecil seperti bahwa nama bisa diterjemahkan dan bahwa peribahasa atau ungkapan sebaiknya juga diterjemahkan sebagai peribahasa dan ungkapan juga. Ada juga tips memparafrase dan mendeskripsikan kata kata yang tidak ada padanannya dalam bahasa sasaran. 


Pembaca tampaknya harus mencari buku buku lain jika ingin lebih mendalami dunia terjemahan. Walau begitu, buku bersampul cantik ini dapat menjadi pengantar yang menyenangkan bagi mereka yang ingin terjun dan bergelut di dunia penerjemahan sastra. 

Tuesday, April 26, 2022

Benantara, Lingkungan Alam dalam Sejarah Nusantara

Judul: Benantara

Editor: Bukhori Masruri

tebal: 193 hlm

cetakan: Oktober 2021

penerbit: KPG




Tema sejarah jarang sekali dikaitkan dengan lingkungan. Jika pun ada, materinya mungkin hanya sebatas penyampaian narasi mengenai kondisi geografis dan lingkungan hidup di sekitaran sebuah situ sejarah. Padahal, berbagai laporan, babad, dan peristiwa bersejarah menunjukkan eratnya keterkaitan antara sejarah dan lingkungan. Bagaimana sosok-sosok terkenal dalam sejarah mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam. Atau, bagaimana candi atau situs arkeologis dibangun menyesuaikan dengan kontur atau topografi lingkungan sekitarnya--dan demikian tidak merusak atau mengubah banyak alam lingkungan yang mengelilingi tempat tersebut. Lebih dari itu, manusia zaman dulu sepertinya begitu menghargai bahkan menghormati alam sekitar.

            Kurangnya penelitian mengenai kaitan sejarah dengan lingkungan hidup inilah yang mungkin berusaha dijembatani oleh penggagas buku ini. Bukhori Masruri salah satu sejarahwan yang menyadari masih begitu kurang atau hampir tidak adanya catatan sejarah mengenai interaksi antara manusia dan alam. Lewat program Benantara atau Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara (yang kemudian menjadi judul buku ini), penulis mengajak banyak ahli sejarah, peminat sejarah, dan kalangan intelektual untuk bergerak menguak sisi-sisi ekologis dari teks-teks atau artefak sejarah. Dan, hasilnya adalah buku kumpulan esai menarik ini.

         Salah satu esai dalam buku ini ditulis oleh Peter Carey, yang tentu belum bisa lepas dari tema yang menjadi keahliannya: Diponegoro. Melalui berbagai babad dan kesaksian, Carey mengajak kita menyelami alam pikiran Pangeran Diponegoro terkait alam sekitar. Dari tulisan ini, kita jadi tahu betapa sang pahlawan nasional ini suka sekali berkelana dan menyepi di hutan. Rumah kediamannya di Selarong dirancang sebagai istana-benteng yang ramah dengan alam. Beliau juga dikenal penyayang binatang.

            Berbagai prasasti dan artefak sejarah yang tersebar di nusantara ternyata dibangun dengan mempertimbangkan lingkungan sekitarnya. Gunung Penanggungan di Jawa Timur yang melambangkan kosmologi Hindu India dipenuhi dengan berbagai petilasan, candi, dan juga reruntuhan yang kemudian disakralkan. Selain sebagai upaya meraih kesempurnaan spiritual, menjadikan gunung dan alam sekitarnya sebagai sebuah tempat yang sakral berfungsi juga sebagai penyelamat ekologis. Gunung dan hutan di sekitarnya dipandang wingit atau angker, sehingga tidak boleh dijarah atau dirusak.

            Fungsi spiritual dan ekologis ini nyatanya bisa berpadu dan saling melengkapi. Dalam sebuah esai karya Muhammad Iqbal Faza, dipaparkan bagaimana Sunan Muria telah memberikan wejagan yang “ramah lingkungan” kepada warga di sekitar Gunung Muria. Wejangan untuk mengambil buah parijoto di hutan lereng pegunungan Muria telah menghindarikan wilayah itu dari kerusakan ekologis. Warga taat untuk hanya mengambil sebanyak yang dibutuhkan saja dari hutan, dan bukannya mengubah hutan menjadi lahan pertanian. Sebuah nasihat yang sederhana tetapi memiliki dampak ekologis sangat besar.

Agak bikin insecure baca biodata para penulis esai di buku ini. Keren-keren semuanya, bahkan beberapa ada yang kelahiran 1995 ke atas. Masih muda tapi juga senang dan mencintai sejarah (dan juga lingkungan), kurang apa lagi coba. Buku ini memberikan sudut pandang baru dalam menilai sejarah nusantara. Walau beberapa esai masih terasa terlalu kaku, tetapi penulisan buku ini adalah langkah maju dalam penelitian sejarah sekaligus pelestarian lingkungan alam.


Tuesday, March 15, 2022

Neraka Cermin, menyentil Sisi Gelap dalam Diri Manusia

Judul: Neraka Cermin

Pengarang: Edogawa Rampo

Penerjemah: Anton WP

Tebal: 102 Halaman

Terbit: 2011 

Penerbit : BukuKatta (first published 2005)

ISBN 139789791032506


Kadang, ungkapan jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja memang benar adanya. Banyak buku bagus tapi tidak terdeteksi radar pembaca hanya karena sampulnya tidak atau kurang menarik, atau kurang pas. Di era media sosial yang menuntut penampilan visual wah seperti saat ini, sampul buku mau tak mau menjadi pertimbangan penting dalam membeli sebuah buku. Ada ribuan produk buku diluncurkan di linimasa dan juga toko buku, tapi hanya tidak banyak yang mendapatkan perhatian semestinya. Terlalu banyak produk sementara kemampuan membeli dan membaca masyarakat pastinya terbatas. Dalam hal ini, pemilihan sampul yang sesuai (tidak harus bagus, tapi sesuai) bisa menjadi solusi untuk menarik perhatian dari ribuan produk yang juga sama-sama ingin menjadi perhatian. 

Buku kumpulan cerpen yang terbit tahun 2011 ini salah satunya. Buku dengan isi bagus tapi sampulnya kurang cocok. Bukan berarti sampulnya jelek, hanya kurang sesuai. Sekilas pandang, orang akan mengira ini buku komik manga, atau setidaknya buku tentang komik manga. Malah ada gambar Conan Edogawa juga yang ditampilkan. Mungkin memang strateginya untuk menarik pasar yang saat itu belum banyak yang tahu tentang pengarang terkenal dari Jepang ini, Edogawa Rampo. Alhasil, enam kisah misteri di dalamnya seolah terbenam dalam sampul komikal yang terlalu ringan untuk isinya yang berat. 

Edogawa Rampo dikenal juga sebagai Bapak Cerita Misteri dari Jepang. Kepopulerannya bisa disamakan dengan Edgar Allan Poe yang juga menjadi Bapak Cerita Misteri Dunia. Hal yang lebih menarik lagi, Edogawa Rampo ternyata adalah bentuk pelafalan dalam bahasa Jepang dari Edgar Allan Poe. Penulis memang mengidolakan sosok pengarang dari Barat itu. Pengaruh yang juga bisa dilihat dan dirasakan pada karya-karyanya di buku ini. Misteri yang ditawarkan Rampo tidak melulu misteri hantu atau kisah kriminal semata. Mirip dengan Allan Poe, Rampo memadukan antar misteri dan kriminalitas yang kesemuanya erat terkait dengan sisi gelap psikologis manusia. Enam kisah misteri di buku ini membuat pembaca tidak hanya bergidik ngeri, tetapi sekaligus terhibur dan menyadari fakta yang sering dilupakan kalau manusia itu sendiri masih menjadi misteri paling rumit di alam semesta.

Buku ini terdiri atas enam cerita pendek misteri, dengan kekhasan masing-masing. Kisah pertama berjudul Neraka Cermin. Berkisah tentang seorang nerd yang tergila-gila pada cermin. Tidak hanya mengoleksi cermin dari berbagai ukuran dan bentuk, dia juga terobsesi mengelilingi dirinya dengan cermin. Kegilaannya ini berpuncak pada hasratnya untuk masuk ke dunia cermin. Dia membayar para insinyur untuk membuat sebuah bola yang bagian dalamnya dilapisi dengan cermin cekung. Entah apa yang disaksikannya di dalam bola cermin itu, pria itu akhirnya gila betulan. Membayangkan seorang diri dikelilingi cermin yang memantulkan diri pada setiap sisi, pasti akan sangat mengerikan. Mungkin bukan hanya memantulkan fisik, bola cermin itu bisa jadi turut memantulkan kegilaan terdalam dari diri seseorang.

Cerita Jurang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang pria dan wanita, tampaknya suami istri. Dialognya panjang tapi enak diikuti, sebelum ditutup dengan klimaks mengejutkan sekaligus menjadi twist di penghujung kisah. Kisah Kembar berkisah tentang seseorang yang menggantikan posisi saudara kembar identiknya. Saya pernah membaca kisah yang serupa karya penulis cerita misteri dari Inggris. Kisah ini sedikit banyak menggambarkan sisi kelam dan sisi baik manusia seperti pada kisah dr. Jeckyl dan tuan Hyde. Kemudian Kursi Bernyawa, cerpen favorit saya di buku ini. Mengisahkan bagaimana jika seseorang menjadikan dirinya sebuah kursi demi memuaskan kegilaannya yang ingin menyentuh wanita-wanita cantik tanpa ketahuan. Cerpen ini juga ditutup dengan spektakuler. Keren memang Rampo.

Dua kisah terakhir, Dua Orang Pincang dan Ulat adalah yang paling gelap aura misteriusnya. Kisah pertama bercerita tentang bagaimana seorang mahasiswa psikologi yang cerdas memainkan sebuah trik psikologis kepada temannya untuk melakukan kejahatan. Sementara Ulat menusuk langsung ke sanubari pembaca, mengajak mereka untuk membayangkan bagaimana hidup dalam sebuah dunia yang begitu terbatasi. Rampo memang pandai sekali mengulik-ulik sisi gelap sekaligus sisi lemah manusia dalam cerita-ceritanya. Membaca buku ini kembali menyadarkan saya akan sifat-sifat gelap yang terpendam serta tersimpan dalam setiap benak manusia. Selain berprasangka baik, sesekali kita memang harus tetap waspada pada sesama manusia. Karena itu tadi, manusia memang masih menjadi mahkluk penuh misteri.

 

Wednesday, March 9, 2022

Mengenang masa Remaja dalam Lupus ABG: Sur...Sur... Surprise

 Judul: Lupus ABG: Sur...Sur... Surprise (Lupus ABG #7)

Pengarang: Hilman Hariwijaya, Boim Lebon

Tebal:  112 pages

Cetakan: September 2007 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Serial Lupus tidak bisa dipisahkan dari masa remaja generasi 1980-an dan 1990-an. Pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung di Majalah Haii, serial ini akhirnya dibukukan menjadi semacam kumpulan cerita dan juga sejumlah novel. Dan penjualannya laris manis, terutama tahun 1990 – 2000.  Serial ini bahkan bisa dibilang mewakili stereotype cowok pertengahan dekade  1990an yang sebelumnya ditempati oleh Balada si Roy  (dan disusul Dilan tahun 2010-an). Keunikan serial Lupus ada terutama pada banyolannya. Lupus ini usil, bandel, tapi sebenarnya cerdas. Yang paling khas dari dirinya tentu saja tebakan-tebakan lucunya selain jambul dan permen karetnya.

Tebakan-tebakan lucu dalam Lupus sempat lucu pada masanya, meskipun bisa jadi jayus jika dibaca pada abad internet ini, terutama generasi yang lahir setelah tahun 2000. Tetapi sebagai generasi 1990an, saya merasakan betul kalau tebakan-tebakan ini memang benar-benar lucu pada masanya. Masa-masa saya di SMA bisa sedikit lucu gara-gara saya membaca serial Lupus sejak kelas dua SMP. Lupus juga saya masih ingat adalah buku atau mungkin novel pertama yang saya beli dengan menabung uang jajan saya selama sebulan. Waktu itu tahun 1998, dan ada sebuah toko buku kecil di kecamatan saya. Luar biasa.

Serial Lupus bisa dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai usia si Lupus, yakni Lupus Kecil, Lupus ABG, dan Lupus yang dewasa muda. Masing-masing karakter punya keunikan dan lucunya sendiri. Serial Lupus yang pernah diangkat sebagai sinetron di TV adalah Lupus ABG dan dewasa muda. Saya pribadi lebih menyukai seri Lupus kecil karena humornya polos dan isinya tidak melulu cinta-cintaan, walau tetap saja semua serial ini saya embat baca di persewaan buku Cendekia saat kuliah wkwkwk. 

Di buku ini, ada kisah Lupus dan Lulu saat masih SMP. Setting waktunya Jakarta tahun 1998, yang saat itu diwarnai dengan terjadinya krismon atau krisis moneter. Kala itu dolar Amerika yang tadiya Rp2.500 melesat jadi Rp12.000 lalu sempat pula mencapai Rp20.000. Tentu saja banyak perusahaan yang kolaps dan gulung tikar, pengangguran merebak di mana-mana, begitu juga bibit-bibt demo juga mulai marak. Walau situasi ekonomi mencekam, Lupus dan keluarga bisa menghadirkan hiburan hangat di tengah deraan kesulitan.Sungguh, mereka yang menjadi remaja tahun 1990an akhir berutang banyak pada serial yang telah membentuk sekaligus menghibur pikiran mereka ini.

Walau terbit lebih dua puluh tahun lalu, membaca buku ini tetap menghadirkan perasaan menyenangkan. Nostalgia ketika di sekolah sibuk ngobrol dan main tebak tebakan di kelas (belum musim hape dan internet), balada naik angkot yang jarang banget mau berhenti kalau yang nyetop anak sekolahan (mengalami ini banget, dulu pernah hampir sejam nunggunya karena angkotnya ga mau ngangkut), serta pengiritan besar-besaran akibat krismon yang kerasa banget. Tapi di masa-masa sulit itu, Lupus dan keluarganya mampu menghadirkan drama yang menghibur. Walau kesulitan keuangan, Lupus keluarga dan teman temannya cari akal untuk cari tambahan, bukannya larut dalam status dan tweet keluh kesah (tapi mungkin karena blm ada medsos aja sih wkwk).

Yang paling berkesan dari seri Lupus ini adalah bagaiamana mereka selalu berusaha menyempatkan membantu orang lain, terlepas dari caranya yang kadang begitu sederhana: menghibur sesama. Benar kata penulisnya, cara membahagiakan diri sendiri salah satunya adalah dengan membahagiakan orang lain. Maaf ini jadinya malah bukan ulasan, tapi sekadar ungkapan curahan hati untuk serial kesayangan ini. 

Terima kasih Mas Hilman (dan juga Mas Boim) telah menghibur masa remaja kami.