Search This Blog

Monday, March 22, 2021

Ketoprak Betawi, Jakarta Punya Banyak Cerita

Judul: Ketoprak Betawi

Penyusun: Tim Majalah Intisari



Jakarta atau Batavia atau Jayakarta atau Sunda Kelapa mungkin merupakan kota dengan catatan sejarah paling lengkap di Nusantara. Kota berusia hampir 500 tahun ini memang pernah menjadi 'permata dari Timur' yang diabadikan dalam berbagai catatan perjalanan orang-orang Barat. Selain itu, kedudukannya sebagai pusat administrasi sejak zaman VOC hingga Kolonialisme Belanda menjadikan warna-warni sejarah kota ini terdokumentasikan secara lebih baik dibanding kota atau wilayah lain di Nusantara. Kita harus mengakui sekaligus berterima kasih dengan warisan kaum penjajah yang tekun mencatat berbagai peristiwa besar dalam kehidupan kota lama ini sehingga dari kini kita bisa memungut berbagai informasi tentang ibukota Republik Indonesia ini. 


Dibandingkan kerajaan-kerajaan asli di Nusantara yang lebih mengutamakan dokumentasi secara oral ketimbang tulisan, bangsa Eropa dengan dokumentasi tertulisnya memang selangkah di depan. Kerajaan-kerajaan kuno lokal hanya meninggalkan prasasti, babad, atau lontar yang sifatnya pun formal. Sangat sedikit pengetahuan tentang era kuno yang bisa kita Kulik terkait misalnya kehidupan di era Mataram Kuno atau ramainya perdagangan laut di era Sriwijaya. Catatan tentang Batavia yang seabrek abrek itu pun mungkin juga tidak akan tersedia jika kaum Eropa tidak melestarikannya dalam catatan. Dalam hal ini, kita harus berterima kasih kepada mantan penjajah itu. 


Jakarta diambil dari Jayakarta, tetapi Eropa lebih mengenalnya sebagai Batavia. Kota ini awalnya dibangun hanya sebagai benteng atau pos perdagangan, yang kemudian semakin meluas ke selatan dengan kanal-kanal yang dibangun menyerupai kondisi di Belanda. Sayangnya, kawasan ini airnya berlumpur sehingga saluran kanal pun tertutup lumpur, menjadi dangkal, dan airnya mampet. Akhirnya, sungai malah menjadi sarang penyakit malaria. Ternyata masalah banjir yg tiap tahun terjadi di kota ini memang sudah menunjukkan gejala gejalanua sejak awal abad 16. Untuk menghindari penyakit dan karena wilayahnya yg tidak nyaman dihuni, pemukim Belanda kemudian membangun permukiman semakin ke selatan dengan rumah rumah peristirahatan yang indah dan sejuk. Kala itu, terjadi perpaduan arsitektur Belanda dengan alam tropis yang kemudian disebut arsitektur indisch. Ditandai dengan rumah dan jendela yang tinggi, tidak bertingkat, memiliki serambi yang lapang dan lebar.


Dalam buku yang sekaligus kumpulan artikel tentang Jakarta ini diulas begitu banyak peristiwa sejarah terkait Batavia. Dimulai dari pembangunannya yang di rawa-rawa penuh buaya, lalu bagaimana penduduk Batavia memanfaatkan kali Ciliwung untuk mandi. Zaman dulu, bahkan pembesar kompeni juga ikut mandi di sungai meskipun dengan tempat yang lebih bagus. Lalu, rumah-rumah serta berbagai bangunan Belanda yang dibangun menyesuaikan dengan iklim tropis. Dalam dua bab dibahas juga bagaimana pesta pesta yang digelar di berbagai Rumah Bola (disebut begitu karena pengunjung bisa bermain bola biliar di dalamnya).


Paling menarik menurut saja adalah keberadaan trem yang pernah berjaya di Batavia. Pada abad 19, trem masih ditarik kuda, kemudian diganti dengan trem yang dioperasikan menggunakan uap panas, bukan mesin uap. Trem ini akhirnya harus diganti dengan trem listrik karena sering mogok dan sering mengalami kecelakaan. Selanjutnya adalah trem listrik yang sayangnya hanya bertahan sampai tahun 1950an karena gubernur saat itu tidak menyukai kabel-kabel listrik yang malang melintang di atas jalanan sehingga terkesan semrawut. 


Jakarta juga ternyata punya banyak monumen. Sayang sekali, tidak sedikit monumen itu yg dihancurkan baik pada masa pendudukan Jepang maupun awal awal berdirinya Republik ini. Sangat disayangkan patung singa yang dulu menghiasi Lapangan Banteng, juga patung Cornelis de Houtman yang pernah ada di depan Gedung (sekarang) Departemen Keuangan telah dilelehkan menjadi peluru oleh Jepang. Belum terhitung banyaknya bangunan tua yang akhirnya malah digusur menjadi gedung perkantoran modern atau sekadar pusat perbelanjaan. Kita memang pernah menjadi bangsa yang abai pada sejarah.


Buku ini walau tipis, tapi terasa padat. Ciri khas majalah intisari lama yang mengupas segala hal dengan bahasa yang mudah dimengerti, lugas, dan menarik tetap dipertahankan. Tidak heran dalam formatnya yang tipis dan font kecil ini, buku ini menyimpan banyak informasi berharga tentang Jakarta. Mulai dari riwayat Si Pitung hingga Ismail Marzuki, penyusunan kamus Dialek Jekarta, hingga iklan-iklan Tempoe Doeloe bisa dibaca di buku kecil tapi sarat pengetahuan sejarah ini. 


Friday, March 19, 2021

Arus Balik, Upaya Pram Membalik Sejarah

Judul: Arus Balik
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Membaca novel setebal 760 halaman dengan font kecil dan spasi rapat ini ibarat mengenal Pram dan pandangan politisnya. Begitu banyak bagian tempat penulis menyentil kebobrokan feodalisme, penyalahgunaan agama sebagai pembenar kekuasaan, juga kebenciannya terhadap semua yang berasal dari Barat. Aroma sosialisme juga sangat kentara dengan Pram yang dominan menggambarkan para penguasa (Tuban, Demak, Melaka, Blambangan, Pajajaran) dalam hal-hal buruknya semata serta mengangkat penderitaan kawula tani dan rakyat rendahan yang hanya diombang-ambing para dalang pemegang tampuk kekuasaan. Namun, sebagai sebuah karya, Arus Balik bisa menjadi dokumentasi sejarah untuk mengisi kurangnya catatan tentang Nusantara di abad ke-16.

Masa itu adalah era selepas runtuhnya Majapahit, mulai berkembangnya agama dan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, serta datangnya bangsa Eropa untuk yang pertama kalinya di kepulauan Nusantara. Jika Spanyol berlayar ke barat, Portugis berlayar ke timur dan menundukkan bandar laut di Goa, lalu Malaka, dan kemudian mengancam bandar-bandar di Nusantara. Dalam catatan sejarah, Portugis memang hanya menunjukkan taringnya di Pasai dan kepulauan Maluku, di Jawa tidak. Arus Balik sedikit banyak menjawabnya lewat Babakan sejarah yang dijalankan seorang anak dusun bernama Wiranggaleng.

Kebesaran Majapahit dengan armada lautnya menjadi dasar bagi Pram dalam menulis Arus Balik. Sosok Wiranggaleng didapuk sebagai pemimpin yang hanya berasal dari kalangan tani, seorang warga dusun. Tentu ini terinspirasi dari sosok Gajahmada yang konon juga berasal dari kalangan biasa. Ini sekaligus untuk mendukung pandangan sosialismenya, yang lebih berfokus pada orang-orang bawah ketimbang sosok kesatria yang bernuansa feodal. Dengan mengangkat sosok Wiranggaleng, Pram bisa mengkritik para penguasa dan kaum ningrat (di Jawa?) sekaligus membangun sebuah epos tentang seorang pemimpin yang berasal dari rakyat dan untuk rakyat.

Garis besar Arus Balik adalah serangan armada Demak ke Melaka di bawah pimpinan Adipati Unus. Peristiwa bersejarah ini oleh Pram begitu diagung agungkan sebagai pengingat bahwa kita adalah bangsa maritim yang besar dan untuk jadi besar maka bangsa ini harus kembali 'menguasai' lautan. Meskipun serangan ini gagal karena kecanggihan meriam Portugis dan kurangnya kekompakan, Pram secara tersirat menyebut bahwa bangsa ini akan kuat jika seluruh Nusantara bersatu. Bahkan penyerangan terhadap Portugis di Melaka yang hanya diikuti oleh sejumlah kerajaan tapi telah membuat bangsa barat itu menghindari pulau Jawa. Jika seluruh kerajaan bersatu, besarlah Nusantara.

Tetapi gerak sejarah membuktikan sebaliknya. Nusantara terpecah belah, laut dilupakan, dan para raja cenderung balik ke belakang dengan berfokus pada daratan. Demak di bawah Trenggono malah berambisi menguasai Jawa dengan menaklukan kerajaan-kerajaan tetangga. Hilang sudah warisan kelautan dari Adipati Unus yang berfokus pada kejayaan di lautan. Fokus ke darat ini lalu diteruskan ke Mataram Islam yang posisinya malah semakin jauh dari lautan. Maka kejayaan maritim di era Sriwijaya dan Majapahit pun hilang sudah. Sejarah mencatat, sejak itu berbondong-bondong bangsa barat masuk ke Nusantara, menaklukan berbagai kerajaan dengan siasat adu dombanya, dan jatuhlah bangsa besar ini dalam penjajahan bangsa Belanda selama kurang lebih 350 tahun (meskipun kejatuhannya tidak sama di semua wilayah).

Pengetahuan Pram yang begitu luar biasa dalam sejarah Nusantara dibuktikan dengan detail penggambaran sejumlah peristiwa bersejarah di Arus Balik. Selain pengiriman armada Demak ke Melaka oleh Pangerang Sabrang Lor, ada juga peristiwa penaklukan Sunda Kelapa yang dipimpin oleh Fatahillah. Berbeda dengan pandangan umum yang menyebut peristiwa ini sebagai wujud keberanian pasukan Demak mengusir prajurit di Sunda Kelapa, Pram menggambarkannya sebagai sebuah peristiwa kebetulan semata. Sunda Kelapa saat itu digambarkan kosong, dan Portugis hanya datang dalam 3 kapal dan itupun setelah mereka diguncang badai Taifun.  Dengan kondisi lemah itulah pasukan Fatahillah merebut Sunda Kelapa sehingga pertempurannya tidak terlalu heroik sebagaimana digambarkan sejarah. Fakta sebenarnya yang terjadi, kita tidak tahu. Tetapi Pram terlihat memandang dengan tidakmterlalu penting peristiwa legendaris yang kemudian menjadi penanda berdirinya kota Jakarta ini (oleh Fatahillah, Sunda Kelapa diubah namanya jadi Jayakarta setelah keberhasilannya mengusir Portugis).  Agak sensitif sih ini, mungkin ini yang membikin Arus Balik belum juga dicetak ulang padahal banyak yang mencari dan ingin membacanya.

 

Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyertainya, Arus Balik adalah sebuah karya sastra bintang lima yang sangat wajib untuk dibaca. Pram membuktikan keluasan pengetahuan, kepiawaian meracik cerita, dan kekayaan diksi kata-kata dalam karya tebalnya ini. Berbagai hal terangkum di dalamnya, mulai dari navigasi, intrik kekuasaan, sejarah, perang kota, pelayaran, perdagangan rempah-rempah, cinta, Jawa kuno, cetbang Majapahit yang legendaris, ada begitu banyak materi yang dimuat dalam novel tebal ini. Pengalaman membaca 760 halaman buku ini adalah sebuah menghabiskan waktu yang tidak sia-sia rasanya. Dan tidak bisa tidak, saya harus mengangkat lima jempol untuk karya besar ini.

"Tinggallah kalian dalam kerukunan, karena perpecahan adalah pembunuh kalian yang pertama." 



The Witch of Duva, Retelling Hansel and Gretel vesi Grishaverse

Judul: The Witch of Duva

Pengarang: Leigh Bardugo

Firmat: Free ebook  di situs resmi Tor




There was a time when the woods near Duva ate girls…or so the story goes. But it's just possible that the danger may be a little bit closer to home. This story is a companion folk tale to Leigh Bardugo's debut novel, Shadow and Bone.


***


Ada masanya ketika hutan di sekitar Duva memakan gadis-gadis ....

Ketika wabah kelaparan merajalela akibat musim dingin yang sedemikian keras, rupanya tidak hanya manusia dan binatang yang semakin rakus, konon hutan juga.

Dikatakan pepohonan menjerat gadis-gadis yang keluar saat gelap, bahkan mereka yg hendak mencuci di sungai pun menghilang. Tidak ada petunjuk sama sekali kecuali seuntai rambut, sobekan pakaian, atau pernik-pernik kecil yang hilang itu. Jika pelakunya binaymtang, sama sekali tak ada jejak yang ditinggalkan. Apakah hutan kini juga mulai lapar?

Di saat krisis seperti itu, Nadya yang kehilangan Ibunya dan ditinggal oleh saudara laki-lakinya untuk wajib militer terpaksa harus tinggal bersama ibu tiri yg menikah dengan ayahnya. Nadya mencurigai wanita itu sebagai tukang sihir, dan siapa tau dialah orang di balik menghilangnya para gadis. Tetapi Ayah Nadya bersikeras bahwa wanita itu orang baik karena dia pandai membuat kue kue manis yang sangat lezat di masa krisis seperti itu.

Kecurigaan Nadya semakin menjadi-jadi ketika suatu malam dia disuruh ibu tirinya untuk pergi ke hutan dan mengecek jebakan. Siapa tahu ada kelinci yg tertangkap. Tetapi malam itu hujan salju turun sangat lebat dan batu-batu putih penanda jalan yang dibikin kakaknya hilang tertutup es beku. Dalam kegelapan malam, Nadya tersaruk-saruk mencari jalan keluar dari hutan sampai dia menemukan sebuah gubuk penuh gemerlap lilin dengan aroma sup hangat serta bau kue manis meruap dari dalamnya. Sebuah rumah dengan oven besar di dalamnya. Nadya masuk ke sana.

***

Sebuah retelling singkat dari kisah Hansel dan Gretel karya penulis Grishaverse. Aroma Rusianya bikin penceritaan kembali ini sangat unik, dan dengan diksi serta jalan penceritaan yang sangat mulus. Ketegangan dan kemuraman dibangun dengan teknik yang cantik, sebelum dipungkasi dengan twist yang tak terduga. Keren.


Thursday, March 18, 2021

Feminisme Islam yang Ramah dalam Mataraisa

 Judul: Mataraisa

Pengarang: Abidah El Khalieqy

Tebal: 390 hlm

Penerbit: Buku Bijak (Ar Ruzz Media Group)




"Perempuan dan laki-laki sama diciptakan dari tanah lempung, lantas Tuhan menganugerahi keduanya kelebihan satu di antara lainnya. Perempuan dianugerahi kelebihan yang laki-laki tak memilikinya, demikian sebaliknya. Namun dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, Tuhan bermaksud agar kedua jenis ciptaanNya itu saling membutuhkan dan melengkapi." (hlm. 254).

Raisa Fairuza, seorang muslimah jebolan pesantren yang kemudian menapaki jalur popularitas lewat karya-karya intelektualnya. Dari pikiran dan tangannya, telah lahir sejumlah buku dan novel, juga esai dan berbagai tulisan yang hendak mengangkat status perempuan yang terpinggirkan, terutama dalam ranah religi. Tafsir-tasfir yang cenderung prolelaki dari teks-teks suci selama ini telah membuat kedudukan perempuan berada di bawah lelaki. Bahwa lelaki adalah pemimpin bagi perempuan, dan bahwa perempuan terbentuk dari tulang rusuk laki-laki. Dua ini yang sering menjadi pembenaran bagi banyak laki-laki untuk merasa lebih tinggi derajatnya ketimbang perempuan. Inilah yang hendak digugat Raisa lewat karya fiksi.

"...novel itu karya fiksi, tentu saja berisi dunia rekaan yang bohong-bohongan. Tapi maksud dan misinya kan mulia, untuk pencerahan. Makanya pakar-pakar itu bilang kalau fiksi adalah dusta yang karim." (hlm. 17).

Bersama manajer yang sekaligus menjadi bucinnya, Fozan Ibadi, Raisa berkeliling ke penjuru Indonesia bahkan ke luar negeri untuk mempromosikan novelnya 'Perempuan Batu Nilam' yang sekaligus menjadi jihadnya dalam rangka menyadarkan kaum perempuan dan juga para lelaki tentang kesetaraan di antara keduanya. Dalam sesi-sesi bedah buku inilah, Raisa menunjukkan kecemerlangan pemikirannya. Semua anggapan miring tentang dirinya yang dianggap perempuan liberal dan pemberontak dibabat tuntas dengan argumennya yang mulus dan berbobot. Tidak jarang, lawan debat hanya bisa mati kutu karena kehabisan sanggahan. Modal kecerdasan dan keluwesan dalam berbicara, serta ucapan doanya yang tak henti pada Sang Khalik menjadi senjata yang menopang gagasan-gagasannya yang revolusioner. 

"Apakah jika perempuan membicarakan ketimpangan dan ketidakadilan yang menimpa kaumnya, serta merta disebut feminis? Liberal lagi?" (hlm. 104)


Lewat novel-novelnya yang meskipun memantik kontroversi tapi ternyata menarik banyak pembaca, Raisa tidak lelah mengobarkan semangat kebangkitan perempuan. Banyak pembaca perempuan yang tersentuh oleh karyanya, merasa apa yang digambarkan Raisa adalah diri mereka. Itulah kehebatan sastra, yang memang bermula dari hidup dan kemudian diberi nilai oleh sastrawan sehingga layak dibaca dan diambil hikmahnya oleh siapa saja. Lewat karya sastra, Raisa menyadarkan bahwa kadang kenyataan hidup tidak selalu seindah yang dibayangkan atau senyaman yang diinginkan. Tetapi disitulah keindahan hidup. 

"Sastra sendiri yang pertama dinilai adalah bagaimana menyampaikan. Yang kedua baru apa yang disampaikan." (hlm. 106).

Petualangan Raisa ini sepertinya merupakan gambaran perjalanan si penulis saat mengawal novel "Perempuan Berkalung Sorban" yang memang memicu kontroversi tetapi sekaligus meledak di pasaran sekitar awal tahun 2000-an lalu. Film yang juga sukses difilmkan dan mendapat antusiasme luar biasa dari masyarakat karena nilai-nilai berani yang diusungnya. Raisa hendak menerabas tafsir-tafsir religius yang selama ratusan tahun telah "disalahgunakan" untuk menekan kaum perempuan. Argumentasi yang dibawanya menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan serta potensi perempuan jika diasah dengan baik. 

"Ketika Cut Nyak Shin berkeputusan memimpin gerilya apakah lantas kita menyebutnya sang feminis radikal? Ketika jendral Malahayati mendesak Porto di Melaka, feminiskah dia? Liberalkah dia? Adakah tolak ukur yang dipakai untuk menghukumi seseorang itu sebagai feminis atau bukan?" (104).

Satu hal yang bikin novel ini menjadi terasa terlalu tebal mungkin kisah cinta antara Raisa dan manajernya. Penulis mungkin menggunakan teknik kisah cinta ini agar pembaca tidak keberatan menyerap poin-poin yang lumayan serius tentang nilai-nilai feminisme dalam Islam. Raisa yang disatu sisi tampak begitu mandiri dan berapi-api dalam memperjuangkan kebangkitan perempuan, di sisi lain dia adalah seorang gadis biasa yang diam-diam begitu tergila-gila pada Fozan Ibadi. Hampir di sekujur buku kita disuguhi percakapan dan gerak-gerik keduanya yang seperti sepasang kekasih tetapi masih enggan saling mengakui. Kalau bahasa anak zaman now, bucin alias budak cinta. Porsi bucin ini yang menurut saya terlampau banyak sehingga membuat novel ini tebal dan agak kurang berwarna karena konfliknya terasa kurang. Untungnya, setting tempat yang beganti-ganti dari Jogja, Aceh, Jakarta, Bogor, Surabaya, Hong Kong, hingga Kampung Mim yang bikin penasaran membuat proses membaca Mataraisa kembali berwarna. Menjadikan ada begitu banyak suguhan tempat dan fakta menarik yang ditawarkan dalam perjalanan Raisa dalam mencari cinta sekaligus memperjuangkan nasib kaumnya. 

"Karena orang besar pun adalah mereka yang jatuh bangun dalam hidup, namun tak pernah kehilangan antusiame untuk bangkit kembali." (Hlm. 178)

Monday, February 1, 2021

Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta, Drama Rasa Cerpen

Judul: Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta
Pengarang: Puthut EA
Cetakan: Maret 2009
Tebal: 125 hlm
Penerbit: INSIST Press

Drama rasa cerpen mungkin ungkapan yang tepat untuk buku ini. Dua lakon drama karya Puthut EA: satu dengan tema beda yang tidak biasa dan satu lagi tema biasa tapi diolah jadi beda. Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta mengisahkan dunia waria lengkap dengan segala pelik dukanya. Tidak hanya menghadapi stigma masyarakat, mereka juga kesulitan dalam hal ekonomi apalagi menemukan ekspresi diri. Paling miris adalah menemukan posisi di mana mereka dapat diterima oleh masyarakat. Dan tempat-tempat sperti itu tidak banyak: salon, perancang busana, dan panggung hiburan. Dalam drama ini, panggung hiburan menjadi tempat untuk mengekspresikan diri tiga orang waria: Rosiana, Luna, dan Happy.

Orang-orang seperti mereka ini, selain rentan oleh perisakan, juga rentan dimanfaatkan. Kadang, keberadaan mereka dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang hanya hendak mencoba menggali pundi-pundi rupiah atas nama pembinaan atau melawan diskriminasi pada para kaum tersisih. Dengan berbagai perkataan dan jargon yang menyundul langit, berbusa-busa orangorang ini mempengaruhi kaum liyan ini dengan embel-embel demokrasi, diskriminasi, dan apa pun itu yang sering kali orang yang hendak mereka edukasi itu tidak pahami. Dengan iming-iming ketenaran dan kesuksesan, para liyan ini dipaksa dan dimanfaatkan. Padahal, digambarkan bahwa orang-orang seperti tiga tokoh utama buku ini tidak butuh banyak dan serba tinggi, hanya sebatas: penerimaan. Sungguh dobel damage-nya: sudah dianggap liyan, dimanfaatkan pula.

Kapasitas Puthut EA sebagai penulis yang setidaknya banyak baca-nya tampak dalam tulisan-tulisannya, termasuk naskah drama yang sediakan akan dipentaskan untuk acara FKY ini. Saya membayangkan, penulis dan sutradara memegang kamus bahasa gaul ala Derby Sahertian untuk mencocok-cocokan penulisan adegan. Banyak kata-kata "gaul" (yang cenderung digunakan di dunia waria dan bukan dunia gaul anak zaman sekarang) didayagunakan di kisah pertama. Tapi kisah mereka yang liyan tidak melulu mereka yang hanya pasrah terlipas dominasi zaman. Puthut EA mampu menghasilkan sebuah ending yang melawan, sebagaimana para waria di kisah ini yang pada akhirnya memutuskan untuk berjuang dengan kaki dan tangan mereka sendiri, tidak menunggu uluran LSM yang sering kali hanya keroyokan proyek.

Drama kedua Jam 9 Kita Bertemu mengusung tema biasa: cinta segitiga. Dua perempuan, satu pria. Si pria sudah beristri, sementara dua selingkuhannya tidak saling mengetahui kalau keduanya berselingkuh dengan cowok yang sama, padahal kedua perempuan itu sahabat dekat. Berbeda dengan drama pertama yang bermain plot, drama kedua ini banyak mengobral dan mengumbar kata-kata puitis semacam: "Mengingat adalah cara merawat kenangan", atau "hidup ini kadang-kadang seperti roti lima rasa, kita yang menunggu dan berjuang tapi orang lain yang dapat rasa terenaknya," atau lagi  "ternyata benar kata orang, uang yang gampang dapat pasti gampang pergi. Dapat banyak tetapi tiba-tiba kebutuhanku menumpuk." Tetapi satu yang paling saya sukai yang ini: "Jangan meletakkan perasaanmu di siku, agar tidak gampang kesenggol."

Lepas dari kepiawaian penulis mengobral petuah petitih yang klise namun hore, penulis sebagaimana berhasil mengadon semacam jurnalisme sastrawi. Termasuk dalam meracik drama dengan rasa cerpen di buku ini. Tidak semua cerpenis mampu menulis sebuah naskah drama, dan tidak pula setiap cerpenis bisa menulis naskah drama yang renyah, tidak membosankan, dan terasa seperti membaca cerpen. Buku ini memenuhi kualifikasi yang terakhir. 

Friday, January 29, 2021

Keadaan Jakarta Tempo Doloe: Sebuah Kenangan 1882 – 1959

Judul: Keadaan Jakarta Tempo Doloe: Sebuah Kenangan 1882 – 1959
Penyusun: Tio Tek Hong
Cetakan: Desember 2007
Tebal: 129 hlm
Penerbit: Masup Jakarta



Sejarah suatu kota juga dapat dibaca dari jurnal-jurnal warga yang pernah menghuninya. Walaupun tercampur dengan pendapat pribadi yang kadang melenceng jauh dari topik yg sedang dibahas, sebuah jurnal personal memiliki keunggulan yang jarang dimiliki buku yang ditulis sejarahwan: kejujuran. Buku karya Tio Tek Hong ini salah satu jurnal hidup yang dapat menjadi dokumen sejarah sebagaimana disebut di atas. Tujuan awalnya merekam perjalanan hidup penulisnya tahun 1882 sampai 1959. Pada saat yang bersamaan, buku ini menggambarkan begitu banyak hal tentang kondisi sosial, budaya, dan juga sejumlah kondisi arsitektural dari kota Batavia Tempo Doeloe.

Seperti dituliskan dalam pengantar buku ini, kita masih sangat kekurangan pustaka tentang kondisi negeri ini di era tempo dulu. Pun jika ada (dan jumlahnya juga sangat terbatas), kebanyakan ditulis oleh orang Belanda atau Inggris dengan sudut pandang kolonialis yang tentu saja berat sebelah. Dalam kasus kota Batavia, catatan2 yang ada didominasi oleh keinginan nostalgia dengan hanya mengingat yang indah indah saja dari kota ini. Penulis biasanya hanya fokus pada orang orang barat dan sedikit sekali mengulas pribumi yang mungkin dianggap sebagai golongan eksotis dan ketinggalan zaman. Karena itulah, sulit untuk memantau bagaimana kondisi bangsa ini pada zaman itu karena tertutup oleh limpahan hal-hal bernuansa kolonial.

Buku karya Tio Tek Hong ini termasuk sedikit diantara tulisan 'pribumi' yang merekam dengan jujur dan apa adanya kondisi atau keadaan Jakarta Tempo Doeloe. Syukurlah saya tidak menemukan banyak gambaran tentang perilaku orang barat di sini kecuali sikap mereka yang menganggap diri kelas satu dan tidak mau dibaurkan dengan kalangan kelas dia (Asia timur, India, Arab, dan orang2 kaya atau bangsawan) apalagi kelas tiga (penduduk asli Jawa). Terlihat sekali bagaimana si penulis (meski dia beretnis Tionghoa dan menjunjung tinggi adat leluhur) menjadi seorang warga pribumi Betawi yany sangat lengket dengan tempat dia tinggal. Segala seluk beluk Batavia digambarkannya sebagaimana kota kelahiran yang sangat diakrabinya tanpa ada perbedaan status dengan orang orang asli. Memang sudah seharusnya demikian karena pribumi dan Tionghoa sudah lama membaur di Batavia sejak 1700an.

Apa yang menarik dari buku ini adalah kita bisa mengintip sekilas kondisi Batavia di awal abad 20. Walau banyak kejadian digambarkan ringkas saja (seperti peristiwa Letusan Krakatau dan kemunculan komet Halley), ini sudah cukup menjadi penambal atau penambah kekayaan ingatan kita yang sebelumnya mungkin sudah diisi dari sumber sumber lain. Misalnya saja, dari buku ini kita jadi yakin bahwa Jakarta dulu memang pernah punya kereta trem yang dijalankan dengan kuda maupun dengan sumber tenaga. Kemudian kondisi sosial Batavia yang baru mengenal modernitas seperti radio, lampu listrik, automobil, bahkan sepeda.

Kekayaan lain buku ini adalah nuansa Tionghoanya yang lumayan kental. Walau sedikit, kita bisa mengintip beragam perayaan, adat, dan juga kebiasaan orang Tionghoa dan Batavia. Foto foto yang dilampirkan juga sangat menggugah nostalgia akan keberadaan sebuah kota lama yang ternyata dari dulu pun sudah macet. Banyak tempat seperti Gunung Sahari, yang awalnya bernama Tionghoa, juga bangunan-bangunan Pecinan yang dulu menghiasi banyak tempat di Batavia. Ini seharusnya menjadi pengingat bahwa Jakarta tidak dibangun oleh pribumi saja, tapi banyak andil dari etnis lain di dalamnya.

Penulis juga turut membagikan resep awet mudanya yang bisa tetap sehat dan pikirannya masih terang sampai usia 84. Bahkan penulisan buku ini yang sepenuhnya didasarkan pada ingatan si penulis yang sudah sepuh adalah bukti tak terbantahkan dari kesehatan mental sang penulis. Resepnya ternyata tidak jauh beda dengan apa yg dikatakan banyak ahli modern: Olahraga teratur, jangan bergadang, bangun pagi hari, makan buah dan sayur, jangan merokok dan jangan minum minuman keras, serta sesekali melakukan pelesir agar tetap bersemangat. Sebuah buku tipis yang ternyata sangat kaya.

Antara "diri menjadi tua" dengan "merasa diri jadi tua" adalah perbedaan besar sekali.

Trio Detektif dan Misteri Gunung Monster

Judul: Misteri Gunung Monster (Alfred Hitchcock and The Three Investigators #20)
Penyusun:  M.V. Carey
Tebal: 193 Halaman
Cetakan: 1999
Penerbit: by Gramedia



Membaca Trio Detektif selalu berhasil membawa kembali keasyikan petualangan membaca seri buku ini di masa kecil hingga remaja dulu. Berbeda dengan buku-buku Blyton yang aroma pikniknya lebih kerasa, buku-buku seri Trio Detektif dan Hitchcock aroma kental petualangannya sangat terasa. Unsur detektifnya juga sangat kuat karena di ending kisah kita bisa menemukan tidak hanya satu tapi beberapa fakta yang disembunyikan penulisnya. Ini ditambah dengan judul dan sampul yang sangat 'klik bait' karena berbau misteri gaib tapi ternyata tidak gaib gaib amat karena selalu ada penjelasan logis khas peradaban Barat *halah berat*

            Seri Trio Detektif begitu akrab dalam ingatan generasi 80an dan 90an, terutama mereka yang dibesarkan oleh majalah Bobo. Hampir dalam tiap edisinya, seri Trio Detektif ini diiklankan lengkap dengan judul-judul “seram” tapi seru. Banyak yang saat itu belum mampu membelinya termasuk saya, karena sudah bisa langganan majalah Bobo saja sudah sangat beruntung. Saat itu, bisa membeli buku adalah hal yang di luar jangkauan. Saya masih ingat pertama kali membeli buku dengan uang saku sendiri adalah pas kelas 3 SMP, beli serial Lupus Kecil yang harganya Rp3.200 di sebuah toko alat tulis depan pasar. Sementara serial Trio Detektif baru bisa benar-benar membacanya saat ada rentalan di dekat kampus.

            Keunggulam seri karya Alfred Hitchcock ini (disamping beliau sendiri merupakan penulis scenario film-film horror yang mumpuni) ada pada penggabungan unsur misteri (lihay judul-judulnya yang seram), detektif, dan petualangan. Tiga unsur ini adalah penarik rasa ingin tahu yang besar sekali pada diri anak-anak dan remaja (dan kadang orang dewasa). Resep yang sama juga telah diterapkan dalam banyak buku atau film misteri yang muncul setelahnya. Ketiga elemen ini yang kemudian banyak diaplikasikan, namun ikon utamanya ya tetap Trio Detektif ini.

Di seri ini, Trio Detektif mengajak kita melacak jejak mahkluk Si Kaki Besar yang menjadi mitos di Pengunungan Amerika Serikat. Di saat yang sama, mereka juga harus membongkar sebuah konspirasi yang mengancam membahayakan keselamatan seseorang. Jika di seri-seri lain kita disuguhi markas rahasia Jupe, Pete, dan Bob dengan beberapa pintu rahasianya, kali ini ketiga detektif remaja kita ini mengajak pembacanya ke alam liardan pegunungan Siera Nevada dengan hutan-hutan tusam dan beruang liar yang kadang masuk ke permukiman.

Keunggulan Trio Detektif ada pada alurnya yang tidak sekadar bertualang tetapi juga ada unsur penyelidikan di dalamnya. Misterinya juga tetap ada, dan dibiarkan apa adanya sehingga malah membuat cerita ini mudah diterima. Seperti kata Hitchcock: "Kita memerlukan hal-hal yang tak dikenal, serta mahkluk-makhluk yang hanya dikenal dalam kisah lama. Kita memerlukan kesemuanya itu guna menggerakkan daya imajinasi kita."