Search This Blog

Saturday, March 16, 2019

Kisah Tanah Jawa, Menguak Tabir Mistis Pulau Jawa

Judul: Kisah Tanah Jawa
Penulis: Tim @kisahtanahjawa
Editor: Ry Azzura
Sampul: Rezky Mahangga
Ilustrator Isi: Day
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 250 hlm




Tanah Jawa selalu menarik sejak dulu kala. Bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga misterinya. Seolah tidak ada habisnya misteri yang digali dari pulau tua ini, terutama terkait hal-hal mistis yang melingkupinya. Sejak zaman kolonial hingga era Jembatan Suramadu, Jawa senantiasa menyuguhkan aneka misteri yang tidak hanya membikin orang penasaran, tetapi juga malah menjerumuskan. Tidak sedikit mereka yang kemudian tersesat dengan dalih mencari kehidupan yang lebih baik ataupun semata dendam. Nafsu duniawi membuat segelintir manusia mengambil jalan yang keliru dengan meminta bukan kepada Tuhan, melainkan mahkluk-mahkluk dari golongan setan yang seharusnya kita jauhi.

Mereka yang besar di Jawa pasti akrab dengan tumbal, aji pengasihan, pesugihan, dan juga Kejawen. Buku ini memaparkan hampir semua yang sering ingin kita tanyakan (tetapi nggak jadi-jadi karena takut) tentang hal-hal mistis yang terjadi di Tanah Jawa. Dengan metode retrokognisi, para penulis @KisahTanahJawa ini mencoba menguak selubung misteri dari tumbal jembatan, kisah horor di rumah sakit, penghuni rumah tua, pocong, kuntilanak, pesugihan, asal muasal jenglot, ritual seks di Gunung Kawi, misteri Alan Roban,  penglaris, ajian jaran goyang dan semar mesem,  hingga perbedaan antara pocong beneran dengan jin yang menyamar jadi pocong. Haduh .... naudzubillah moga jangan kejadian deh. Tapi, tidak melulu horor yang disuguhkan. Buku ini semakin berbobot dengan sajian sejarah kolonial di Jawa yang dibahas dengan lumayan lengkap.

Buku ini sudah bikin merinding sejak dari halaman pertama.  Sudah lama saya mendengar desas-desus penanaman tumbal kepala kerbau di setiap proyek pembangunan berskala besar. Tetapi, tumbal kepala manusia? Sulit membayangkan betapa hal kebiadab ini masih dilakukan (walau dengan diam-diam) di abad 21 ini. Dalam bab pertama, Napas Tiang Pancang, pembaca diajak menerawang proyek pembangunan berskala besar di Jawa. Diantaranya adalah pembangunan jembatan kereta api yang melintas di atas Sunga Serayu, Terowongan Lampengan, dan Stasiun Tugu. Dalam setiap pembangunan, selalu ada yang dikorbankan,. Hati ikut teriris membaca kebiadaban segelintir manusia yang dengan teganya mengorbankan manusia lain yang tidak bersalah sebagai tumbal agar pembangunan jembatan bisa berjalan lancar tanpa adanya gangguan dari mahkluk gaib.

Bagi pembaca yang suka wisata kuliner, bab Penyedap Komposisi Dosa mungkin akan terasa kurang mengenakkan. Tetapi, tidak ada salahnya kita berhati-hati dalam menyantap makanan karena tidak semua pedagang makanan memiliki sifat jujur. Masih ada juga yang menghalalkan segala cara agar dagangannya bisa laris. Salah satunya, dengan bekerja sama dengan mahkluk gaib untuk menarik pelanggan. Caranya bagaimana? Cukup menjijikkan sebenarnya, di antaranya dengan media ludah pocong atau dengan mencemplungkan celana dalam bekas dipakai pada kuah makanan. Konon, makanan yang dibeli  di warung yang menggunakan pesugihan ilmu hitam seperti ini akan terasa kurang enak jika dibungkus atau dimakan di rumah. Di bab dua ini, banyak hal tentang ilmu penglaris dibuka untuk pembaca agar kita semua waspada.

Sesuai judulnya, Harta Berujung Petaka, bab 3 membahas tentang ilmu pesugihan. Dalam upayanya menjadi sukses dan kaya raya, tidak sedikit orang yang menggunakan jalan pintas dengan meminta kepada mahkluk gaib. Ini yang kemudian kita kenal sebagai pesugihan. Bab ini mengulas cukup rinci tentang sejumlah pesugihan populer macam babi ngepet, nyi blorong, gunung Kawi, dan Jembatan Setan. Selanjutnya, tentang tentang ajian pengasihan dan ilmu pelet dibahas lumayan mendalam di bab Merapal Kata Terlarang. Pada dasarnya, setiap ucapan adalah mantra, termasuk doa. Hanya saja, jika doa ditujukan pada hal-hal baik, maka mantra digunakan untuk memohon pertolongan dari mahkluk gaib. Di bab ini kita bisa membaca sekelumit sejarah ajian jaran goyang yang sangat terkenal itu. Ternyata, konon pelakunya benar-benar ada dalam sejarah. Tetapi, tentu saja setiap ajian sesat memiliki konsekuensi buruknya.

Tidak hanya mengupas kisah horor dan mistis, Kisah Tanah Jawa juga banyak mengupas perihal sejarah Jawa. Bagian paling sering diterawang adalah era 1800-an ketika Jawa masih di bawah pimpinan penguasa kolonial Belanda. Salah satunya yang paling meninggalkan jejak berdarah-darah adalah Daendels dengan proyek Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan. Bagaimana rute legendaris ini dibangun dan berapa persisnya jumlah rakyat jelata yang menjadi korban. Tim @KisahTanahJawa berusaha menerawangnya dengan metode retrokognisi yang memunculkan hasil mencegangkan. Bagian lain yang cukup menarik adalah pembahasan tentang ilmu Kejawen dan filosofi orang Jawa. Di bab ini, dibahas juga filosofi rumah Joglo, juga makna dari sesaji atau sesajen, serta makanan Jawa. Bunga kenanga salah satunya, memiliki filosofi bahwa kita harus mengenang kebaikan para leluhur.

Beberapa misteri memang sebaiknya tetap menjadi misteri. Tetapi, tidak ada salahnya tahu sedikit rahasia dari dunia lain sebagai bentuk upaya kita menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan mengetahui, kita saekaligus bisa menghindari melakukan hal-hal yang pada akhirnya menjerumuskan kita. Buku ini mengajarkan kita untuk mawas diri karena, kita tidak hidup sendirian di Tanah Jawa ini. Ada mereka yang telah tinggal dan berdiam di pulau kuno ini jauh lebih lama dari kita. Sepantasnya kita sebagai 'tetangga yang baik' saling berusaha untuk tidak mengusik antara satu dengan yang lainnya.

Monday, March 11, 2019

Tuhan dan Hal-Hal yang tak Selesai, Kumpulan Esai

Judul: Tuhan dan Hal-Hal yang tak Selesai
Penyusun: Goenawan Mohamad
Cetakan:  Januari 2019
Tebal: 200 hlm
Penerbit: DIVA Press




Blurb:
Ada 99 esai pendek dalam buku ini. Jika boleh menirukan karya Roestam Effendi yang terbit tahun 1925, Pertjikan Permenoengan, ke 99 esai itu adalah semacam percikan. Mereka terkadang bisa dibaca sebagai bagian yang saling mendukung atau saling membantah, terkadang bisa dibaca sebagai tulisan yang berdiri sendiri-sendiri.

Semuanya ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tetapi juga membingungkan dan menakutkan.


***
Pernah, walau mungkin jarang, kita menemukan tulisan yang kita tahu tulisan itu bagus hanya saja kita yang tidak/belum mampu mencernanya.

Mungkin bacaan kita yang kurang banyak dan kurang beragam.
Mungkin perjalanan kita yang kurang jauh dan kurang ke mana-mana.
Mungkin pemikiran kita yang kurang terbuka atau hati kita yang kurang lapang.
Mungkin perenungan kita yang kurang mendalam, atau malah nggak pernah sempat merenung.

Atau mungkin, kita yang sudah banyak membaca tetapi kurang banyak menulis.

Kumpulan esai Goenawan Mohamad ini ibarat naskah-naskah yang hanya mau bicara kepada para pembaca yang dipilih (yang jelas saya belum terpilih). Tulisan-tulisan di dalamnya menyentuh serta membahas hal-hal yang jauh, bacaan-bacaan kelas tinggi, hingga peristiwa sejarah besar dunia. Butuh pembacaan dan pengalaman yang sepertinya lumayan panjang untuk bisa memaknai esai-esai pendek di buku ini. Dan dari tadi saya nulis panjang lebar tapi sama sekali belum menjelaskan bagaimana isi buku ini wkwkwk. Baiklah, ini mungkin sedikit kesan setelah menyelesaikan buku tipis tapi ternyata "berat" ini.


Friday, March 1, 2019

Jurnal Jo #3: Episode Cinta

Judul: Jurnal Jo 3: Episode Cinta (Jurnal Jo #3)
Penulis: Ken Terate
Ilustrasi sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020305691
Cetakan kedua, 7 Januari 2019
Tebal: 240 halaman




Ada cowok baru di kelasnya Jo, namanya Izzy. Dan, Izzy bukan sekadar cowok abg biasa. Dia cakep, terkenal (konon seorang model iklan), mudah bergaul, lucu pula. Pokoknya paket lengkap deh ini cowok. Susah bagi para cewek di kelas Jo untuk tidak terpikat oleh Izzy. Yang namanya Sally dan Nadine terutama, langsung nempel dan ngekorin cowok baru ini kemana-mana. Jo gimana? Yah, normalnya cewek ABG pasti seneng lah liat cowok yang bening-bening. Tapi, Jo kudu bisa mengerem rasa sukanya sama si  cowok baru. Kenapa? Karena di buku ketiga ini: Jo pacaran sama Rajiv. Selamat Jo.  Kisah pamungkas seri Jo kali ini memang berfokus pada kisah merah jambu ala-ala ABG. Ya namanya juga teenlit, kalau nggak ada cinta, idola, dan media sosial ya kurang abg ntar.

Di buku pamungkas ini, Jo dan Rajiv yang unyu ini akhirnya punya status hubungan yang jelas. Walaupun masih sembunyi-sembunyi, keduanya kini makin sering ketemu dan curhat. Jo terbantu banyak lewat curhatannya sama Rajiv. Walau  Mama Jo menyukai pemuda itu, beliau belum mengizinkan Jo pacaran. Jadilah keduanya pacaran diam-diam. Keberadaan Rajiv terbukti sangat bermanfaat buat Jo yang sekarang sudah naik ke kelas 8. Permasalahan semakin kompleks, mulai dari tugas yang makin "aneh dan ribet" hingga orang tua yang kayaknya semakin nggak keren. Belum lagi masalah cowok. Rajiv ini ibarat tonggak penopang agar Jo tetap tegak.

"Cinta nggak seharusnya membuat kita murung dan resah."

Wednesday, February 27, 2019

Jurnal Jo #2: Online

Judul: Jurnal Jo #02 Online
Pengarang: Ken Terate
Tebal: 232 hlm
Cetakan: 2, Januari 2019
Sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




.. kenapa kita harus melakukan sesuatu hanya karena orang lain juga melakukannya."

Mandiri, kreatif, orisinal, mudah bergaul. Semua kualitas mental Jo ini mengingatkan saya pada sosok Lupus. Entah mbak Ken terinspirasi dari sosok legendaris rekaan Hilman ini atau mungkin sosok Jo memang sudah unik sedari awal. Kesetiaan ini bukannya jelek, malah bagus. Pengarang mampu menulis karakter baru berdasarkan karakter lama tanpa harus menconteknya habis habisan. Saya membayangkan, Jo ini versi ceweknya dan versi abgnya Lupus. Hanya saja, keduanya memiliki ciri masing masing yang khas karena muncul di era yang jauh berbeda. Jo hadir sebagai sosok ABG Milenial yang kisahnya bisa dibilang lebih 'tidak menggurui' ketimbang Lupus.

Rempong ya masa remaja kembali dihadapi Jo di buku kedua ini. Hanya saja, kali ini cewek ini lebih siap.  Bisa dibilang, Jo sudah menerima bahwa dirinya adalah remaja dan bukan anak-anak lagi. Dengan demikian, berubah pula tanggung jawabnya. Jo kini mulai mengenal keanekaragaman temannya (dan berusaha berdamai dengan itu), belajar memikul tanggung jawab sebagai panitia kelas, serta mulai terserang virus merah jambu alias cinta monyet. Dibanding buku pertama, Jo jauh lebih dewasa di buku kedua ini. Bukan berarti Jo nggak kolokan atau sok lebai juga loh (bagian itu sih tetep). Pelupa dan lemotnya juga kadang masih. Tapi, dengan adanya kekurangan kita jadi belajar bukan?

Tuesday, February 26, 2019

Belajar Berjiwa Besar dari Profesi Wong Cilik


Judul: Profesi Wong Cilik
Penyusun: Iman Budhi Santosa
Penyunting: Gunawan Tri Atmodjo
Sampul: Ferdika
Cetakan: Pertama, November 2017
Penerbit: Basabasi




Dunia semakin modern dan pekerjaan baru pun bermunculan. Kini, kita seolah sudah terbiasa dengan aneka jenis pekerjaan yang mungkin nggak terpikirkan keberadaannya sepuluh atau lima belas tahun lalu. Begitu pula sebaliknya. Banyak pekerjaan kekunoan yang dulu kita terbiasa dengannya mulai menghilang dengan begitu perlahan. Zaman berubah dan membawa perubahan bersamanya, termasuk jenis-jenis pekerjaan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Mereka yang beradaptasi dan ikut memperbarui diri akan terus bertahan. Tetapi, mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan dan perubahan akan jauh tertinggal. Beberapa jenis profesi memang turut mengalami pergeseran, seperti tukang cukur rambut dan penggali sumur. Beberapa yang lain mulai jarang dijumpai seperti para pemikat perkutut dan dukun bayi. Tetapi, ada juga yang sepertinya tak tergantikan walau zaman terus berputar. Para abdi dalem adalah contohnya. 

Buku ini memuat sekitar dua puluhan jenis profesi yang akrab dengan wong cilik. Jenis-jenis pekerjaan yang mungkin nggak terbayangkan lagi keberadaannya dalam benak kaum milenial. Kenyataannya, pekerjaan-pekerjaan ini masih eksis. Beberapa memang semakin jarang dijumpai, tetapi banyak yang masih bisa bertahan di tengah gerusan zaman. Walau ada embel-embel “profesi wong cilik” dalam judulnya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari pekerjaan-pekerjaan ini. Bahkan pekerjaan sekelas penggali sumur dan pemikat perkutut pun memiliki aturan khususnya sendiri. Menakjubkannya lagi, aturan khusus ini biasanya lebih didasarkan pada kemanfaatan bersama alih-alih  keuntungan pribadi. Seorang tukang becak misalnya, konon lebih sering menjawab dengan “Sumonggo kerso (Jw: Silakan mau kasih berapa pun)” saat ditanya berapa ongkos mengantar penumpang. Sesuatu yang tentunya sudah jarang kita jumpai ke kehidupan modern seperti saat ini. 


Jurnal Jo (Jurnal Jo #1): (Nggak) Asyiknya jadi Remaja

Judul buku: Jurnal Jo (Jurnal Jo #1)
Penulis: Ken Teratesampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020306292
Cetakan keempat, 7 Januari 2019
Tebal: 240 halaman






"Kita tahu kita telah dewasa saat:
 - Kita merasa nggak keren kalau memeluk ayah atau ibu kita di depan umum.
- Adegan ciuman di TV nggak membuat kita mual.
- Kita bersedia merelakan sesuatu hanya untuk membuat orang lain senang." (hlm. 225)

Siapa bilang menjadi remaja itu menyenangkan? Yah, bagian menjadi remajanya mungkin menyenangkan, tetapi proses peralihan dari anak ke remaja itu yang kadang mengerikan. Sebagaimana proses peralihan dari remaja ke dewasa, atau dewasa ke tua; peralihan dari anak ke remaja bisa menjadi salah satu tahapan hidup yang rentan bikin stres bagi beberapa orang. Setidaknya inilah yang coba dikisahkan Josephine Wilisgiri lewat novel Jurnal Jo ini.  Menjadi murid SMP tidak hanya berarti dia tidak SD lagi, tetapi juga bahwa dia harus mulai memakai miniset, menggunakan deodoran, lebih memperhatikan penampilan, dan mencoba jatuh cinta pada cowok. Bagi Jo, semua itu nggak banget--terutama bagian cowoknya. 

Tidak hanya dunia kesehariannya yang berubah, Jo juga harus menghadapi sahabat karibnya--Sally--yang belok drastis. Awalnya, Sally mengubah namanya menjadi Ally biar tampak keren. Kemudian, setelah mereka masuk SMP dan Sally berkenalan dengan geng populernya Nadine, kawannya itu semakin aneh saja. Mulai dari mengubah rambut, menggenakan asesoris aneh-aneh, menggunakan kaus olahraga yang sempit, bahkan mengganti nama panggilannya menjadi Ginny. Jo sampai frustrasi karena walaupun rumah mereka berdekatan dan setiap hari ketemu, Sally semakin asing baginya. Ternyata tidak hanya pacaran yang mampu memalingkan seseorang dari kawannya, teman-teman baru juga bisa.

Thursday, February 21, 2019

Warstorm, Badai Perang yang Sayangnya Kurang Menggila

Judul: Warstorm
Pengarang: Victoria Aveyard
Penerjemah: Reni Indardini
Tebal:816 hlm
Cetakan: Pertama, Desember 2018
Penerbit: Noura




Dunia Red Queen menarik bukan hanya karena pengarang mampu menyatukan semesta Avatar Aang dan X Men dalam wujud baru. Lebih dari itu, penulis membangun sebuah dunia pascakiamat yang segar dari puing-puing imajinasi yang sudah ada sebelumnya. Puing-puing itu disusun sedemikian rupa, menghasilkan dunia baru denga konflik yang sangat jauh berbeda dari dua karya kreatif yang mungkin menjadi idenya. Dunia Red Queen membagi manusia dalam dua ras sesuai warna darahnya: Kaum Perak dan Kaum Merah. Saya kurang tahu detailnya, tetapi sesuatu hal canggih yang keliru telah memunculkan mutant-mutant yang mampu meneruskan kemampuan sakti mereka kepada keturunannya. Inilah kaum perak. Sementara, manusia berdarah merah adalah manusia biasa tanpa kesaktian. Atau bisa jadi, Kaum Perak adalah jenjang selanjutnya dari evolusi manusia.