Search This Blog

Monday, August 5, 2019

Blogtour and Giveaway Winner: Candide

Judul: Candide
Pengarang: Voltaire
Penerjemah: Widya Mahardika Putra
Editor: Widya Mahardika Putra
Sampul: Suku Tangan
Cetakan: 1, Agustus 2019 
Tebal: 204 hlm
Penerbit: DIVA Press




Candide adalah sebuah novel satire yang ditulis oleh seorang pujangga termasyhur dari Prancis, Voltaire (1694 - 1778), pada tahun 1759. Novel ini mengulas kehidupan getir seorang Candide yang dalam seluruh rentang kehidupannya mengalami berbagai kehilangan dan kemalangan. Pemuda itu memiliki seorang guru filsafat bernama Pangloss yang menganut doktrin optimism kehidupan. Ajarannya yang senantiasa diulang-ulang dan ditekankan kepada Candide adalah bahwa segala hal di dunia ini tidaklah mungkin menjadi berbeda; segalanya diciptakan untuk suatu tujuan, jadi semuanya ada untuk tujuan terbaik (hlm. 9). Ajaran positif inilah yang kemudian menguasai dan menyetir jiwa Candide. Maka, ia tetap berpikir positif ketika ia akhirnya diusir dari kastil karena jatuh cinta kepada Cunegonde yang merupakan nona majikannya. Begitulah yang sudah seharusnya, mungkin demikian pikir Candide.

Sejak saat itu, dimulailah pengembaraan si pemuda Candide dalam menjelajahi dunia demi menemukan kebenaran dari tesis yang selalu diajarkan gurunya. Mula-mula ia pergi ke Westphalia, menjadi seorang tentara Bulgaria yang menyaksikan kejamnya perang yang tidak kenal ampun, baik pada tentara maupun warga sipil. Dan, Candide masih bertahan dengan doktrin positivisme kehidupannya. Selanjutnya ia ke Paris, dimana ia mengetahui bahwa keluarga majikan dan pujaan hatinya telah diperkosa dan dibunuh oleh tentara Bulgaria. Candide hampir saja menyerah kalau saja yang menyampaikan berita itu bukan Pangloss, gurunya sendiri. Maka, diliputi dengan kesedihan, keduanya pun memutuskan untuk meninggalkan Paris dan benua Eropa yang seolah begitu kejam kepada takdir manusia.

"Manusia sangat senang berkelana dan kemudian menceritakan sekaligus memamerkan apa yang ia telah lihat dalam petualangannya." (hlm. 108)


Maka, sampailah mereka di Lisbon, Portugal. Di kota ini, mereka menyaksikan penolongnya yang begitu baik tenggelam di lautan, dan kemudian merasakan sendiri bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam kota itu pada tahun 1755. Kota itu porak-poranda, dan keduanya kemudian ditangkap karena tuduhan menyebabkan bencana itu. Candide sedih sekali ketika gurunya dihukum gantung. Namun, Candide tetap bersikeras mempertahankan tesis gurunya bahwa hidup itu baik.

"Kejahatan pasti akan mendatangkan hukuman." (hlm. 125)


Muak dengan daratan Eropa yang begitu keji, Candide dan Cunegonde memutuskan untuk berlayar jauh ke seberang lautan. Maka, sampailah mereka ke Amerika Selatan. Di tempat baru ini, nasib kembali tidak memihak Candide. Bingung dengan hidup yang seolah senantiasa mempermainkan dan menguji doktrin optimisme kehidupan yang dianut Candide, pemuda itu bersama seorang rekan memutuskan untuk melarikan diri ke belantara Amerika Selatan, di mana tanpa sengaja mereka menemukan El Dorado, Kota Emas yang menjadi impian bagi para penjelajah Eropa kala itu. Sebuah kota yang bahkan tanah dan batu kerikilnya adalah bongkahan emas, yang hiasan-hiasannya adalah batu-batu berharga, dan rumah paling sederhana di kota itu adalah 10 kali lipat lebih megah dari kastil tercantik di Eropa. 


Sudah menjadi ciri manusia untuk tidak pernah merasa puas dan cukup. Walau dikelilingi oleh harta berlimpah, makanan terlezat, dan orang-orang paling berbudi; pikirannya selalu tertuju pada sang kekasih hatinya, Cunegonde. Ia pun memutuskan untuk meminta izin dan pergi dari El Dorado demi sang pujaan hati. Dengan berat hati sang raja melapasnya. Candide diberi sejumlah kerikil dan batu dari El Dorado sebagai bekal. Harta itu nilainya melebihi dari kekayaan 10 raja Eropa dijadikan satu. Setelah kembali ke paradaban, Candide berpisah dari pelayannya. Ia memutuskan akan kembali ke Eropa sementara si pelayan diminta menebus nona Cunegonde. Mereka berjanji untuk bertemu di Venesia. 

Tapi, bahkan dengan harta dari  EL Dorado, kemalangan tiada henti terus menimpa Candide. Ia ditipu oleh seorang saudagar Belanda yang ternyata adalah seorang bajak laut. Sebagian besar hartanya ludes dicuri. Dengan harta yg tersisa, Candide mencari orang jujur sebagai temannya berlayar. Mereka akhirnya kembali ke Paris dan menyaksikan sendiri betapa kota itu tidak berubah dengan kebiadabannya.

"Manusia tidak terlahir sebagai serigala, tetapi ia menjadi serigala dalam hidup." (hlm. 28)

Candide memutuskan pergi ke Venesia untuk bertemu Cunegonde dan pelayannya. Ia memang berhasil menemuinya, tapi bukan di kota kanal itu, melainkan di Konstantinopel. Sayangnya, di sana lagi-lagi dia disambut oleh kemalangan. Penderitaan apa lagi yang menimpanya, pikir Candide frustrasi. Tapi, entah bagaimana tesis gurunya malah terbuktikan ketika dalam perjalanan itu dia akhirnya mendapatkan semua yang selama ini telah hilang darinya. Kemudian, apakah dia bahagia? Ternyata tidak, kemapanan malah membuat segala sesuatunya memburuk. Sampai akhirnya mereka menemukan tesis baru, yang mereka coba terapkan dan berhasil.

“Bahwa manusia dilahirkan bukan untuk berpangku tangan. Mari kita bekerja dan tanpa berfilsafat. Itu adalah satu-satunya cara untuk membuat hidup ini layak dijalani.” (hlm 201).


Voltaire yang bernama asli Francois Maria Arouet merupakan salah satu tokoh pemikir paling berpengaruh di masanya. Tokoh ini telah menghasilkan berbagai tulisan dan buku yang banyak dibaca oleh masyarakat di Prancis. Pemikirannya bahkan turut mempengaruhi pecahnya Revolusi Perancis (1789–1799). Buku ini merupakan sindirannya terhadap doktrin filsafat positivisme, sekaligus terhadap kota Paris yang dianggap telah membuangnya. Tidak heran kalau Paris dan negara-negara Eropa dalam Candide digambarkan sebagai tempat yang sangat buruk dan kejam. 

"Optimisme itu kegilaan yang membuat orang bersikeras semuanya baik-baik saja padahal kenyataannya tidak." (hlm. 114)
               
Voltaire juga menggambarkan kondisi-kondisi politik di sejumlah negara pada masa itu. Jika dilacak perjalanan Candide, bisa ditebak kalau penulis ini paham betul dengan kondisi internasional pada masa itu. Pembaca dibantu untuk memahami sudut pandang si penulis melalui berbagai catatan kaki dalam buku versi terjemahan ini, yang kebanyakan berupa info geografis dan politik. Candide adalah sebuah karya klasik yang sayang sekali untuk dilewatkan. 




Ikuti perjalanan ajaib Candide yuk bareng-bareng. Kebetulan ini Penerbit DIVA Press telah menyediakan empat novel CANDIDE untuk dibagikan GRATIS selama bulan Agustus 2019 ini. Salah satunya ada di blog Baca Biar Beken yang akan menjadi pembuka. 


Terima kasih sudah bantu meramaikan giveaway perdana Candide. Di luar ekspektasi, yang ikutan banyak, sampai 26 orang. Seneng banget kalau ramai gini, komentar dan traffic-nya jadi kelihatan banyak wkwkwk. Langsung saya undi dengan random.org ya, dan inilah nomor komentar yang beruntung (komentar saya urutkan dari jawaban pertama = nomor urut 1 sampai jawaban terakhir = nomor urut 26). 


Selamat untuk sang pemenang beruntung berikut ini:

Nama : Amar Yanuar Pamungkas
Ig : @yanuaraya
Link membagikan : https://www.instagram.com/p/B0ycMY9JI-J/?igshid=1fihejvqa3psf
Jawaban : Bosan karena tidak bekerja.

Pemenang akan saya hubungi lewat media sosial IG. Buat yang belum beruntung, masih tersedia tiga novel gratis di blog Casual Book Reader. Terima kasih sudah meramaikan event blog tour ini. 

Karena buku ibarat teman, perbanyaklah. 

Wednesday, July 24, 2019

Empat Aku, Sebuah Kumpulan Kisah

Judul asli: Empat Aku
Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN: 9789791260879
Halaman: 165
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Marjin Kiri



Saya lumayan setuju sama Mbak Truly yang dalam ulasannya menulis betapa dalam buku ini Mas Yudhi sering sekali mengakhiri cerita di buku ini dengan cara 'menyebalkan'. Ini kasusnya beda dengan cerpen-cerpen Minggu pagi yang akhir ceritanya menggantung dengan tujuan memancing imajinasi pembaca. Alih-alih memancing, saya kok lebih merasa sebal ya karena serasa ada sesuatu yang seharusnya diselesaikan tetapi tidak diselesaikan. Tentu saja, adalah hak penulis untuk mengakhiri cerita karyanya sesuai keinginan sendiri. Tetapi, pembaca juga boleh dong sesekali sebal karena ia tidak mendapatkan ending yang diinginkan. 

Tapi jika kita melihat dari sisi lain, hal ini malah menjadi bukti keberhasilan penulis untuk mempengaruhi pembaca. Ending yang dianggap menyebalkan berarti pembaca bisa larut dalam cerita dan menjadikan dirinya serasa bagian dari cerita sehingga dia menginginkan ending yang sesuai keinginan. Penulis dalam hal ini berhasil mempengaruhi pembacanya. Bukankah ini bentuk keberhasilan penulis?


Monday, July 15, 2019

Pengumuman Pemenang Blogtour and Giveaway: Laut Biru Klara

Judul: Laut Biru Klara
Penulis: Auni Fa
Penerbit: Metamind
Tahun Terbit: 2019
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tebal: 329 halaman



Sekian lama membaca buku-buku fantasi, non-fiksi, sesekali sastra dan kumpulan puisi rupanya sedikit banyak membuat saya "lupa" pada keasyikan membaca buku anak. Asyiknya menjelajah alam, serunya permainan, eloknya kampung di Pesisir, dan kemudian menikmati sedikit petualangan yang lumayan bikin berdebar di belakang. Perasaan inilah yang saya dapati saat menamatkan novel Laut Biru Klara karya Auni FA. Buku ini menjanjikan keseruan membaca  kisah-kisah petualangan campur inspiratif yang akan mengingatkan kita pada film-film TVRI di zaman dulu. Jika dipikir-pikir, judul novel ini memuat tiga karakter utama dalam kisahnya loh.

Sebelumnya, saya sudah pernah membaca karya beliau di Topi Hamdan. Ciri khas penulis masih bisa ditemukan di novel ini. Di antaranya pembawaan cerita yang cenderung formal, alur kisah yang dominan linear maju ke depan, setting waktu dan tempat kurang jelas, tema perjuangan meraih impian, dan ending yang membahagiakan. Jika di novel sebelumnya kita dibawa ke dunia Pak Hamdan yang sendu dan muram, maka di novel bersampul biru cerah ini kita akan dihibur oleh tingkah polah anak-anak dengan dunia mereka yang penuh warna terlepas dari penderitaan atau kekurangan yang mendera.

Namanya Sea, seorang gadis cilik yang dilahirkan di pesisir laut tapi anehnya tidak mau jadi nelayan. Bersama keluarganya yang bersahaja, Sea menghabiskan hari-harinya untuk berenang, bermain , serta menjelajah bersama dua sahabatnya. Salah satu sahabatnya yang paling karib adalah Klara. Gadis cilik ini adalah seorang penderita autisme namun memiliki kemampuan untuk berenang bak ikan lumba-lumba. Klara ini bahkan dengan mudahnya mampu menembus ombak ketika lautan tengah dilanda badai. Sayangnya, ayah Klara yang bernama Paman Bai suka sekali memukuli Klara. Di matanya, seolah Klara tidak lebih dari aib yang mengganggu kehidupannya.

Tidak ada yang mampu menebak ke mana Takdir akan memilih arah langkahnya. Begitu pun Sea dan Klara, dua gadis lugu dari kawasan pesisir tak terkenal itu sama sekali tidak tahu nasib apa yang menanti keduanya. Semua bermula dari karamnya sebuah kapal pengangkut penumpang yang kebetulan terdampar di pantai di pesisir tempat keduanya tinggal. Di antara penumpang yang selamat adalah seorang gadis kota bernama Biru. begitu melihat kehebatan Klara dalam berenang, Biru yang ternyata seorang atlet kemudian tertarik untuk melatih Klara. Pada akhirnya, Sea dan Klara akan menembuh jalan baru sekaligus babak baru dalam kehidupan belia mereka. Mungkinkah impian keduanya untuk menjadi perenang profesional bisa tercapai?

Ibarat menonton serial televisi TVRI era 1990-an, buku ini menawarkan semua yang menarik dari sebuah kisah inspiratif. Masa kecil yang serba kurang, tokoh penolong, perjuangan meraih impian, dan hambatan-hambatan yang harus di atasi. Semua kualitas ini bisa kita temukan di Laut Biru Klara. Lewat tokoh-tokoh belia di buku ini, kita disadarkan untuk terus mengejar impian atau cita-cita kita, semustahil apa pun keadaan. Jika kita percaya dan berusaha, Tuhan akan memberikan jalan. Klara yang seorang penderita autisme juga bisa mencapai potensi tertingginya berkat pertolongan yang tak disangka-sangka datangnya. 

Hanya saja, pembaca tidak akan mendapatkan kisah dengan "jebakan cerita" yang menghibur atau "plottwist" yang mengejutkan tapi seru di novel tebal ini. Ciri khas penulis adalah bermain aman dengan membuat sebuah cerita yang liniar dan standar. Bagi beberapa pembaca yang stok bacaannya melimpah, mungkin akan sedikit bosan di pertengahan cerita. Hal ini karena menurut saya penulis lurus-lurus aja menceritakan kisah Klara, Sea, dan Biru. Benar-benar mirip film TVRI zaman jadul. Novel ini memang menawarkan sebuah bacaan penghibur yang sekaligus dapat menjadi tuntunan bagi para pembaca. Hanya saja, menurut saya, novel ini ditulis dengan terlalu sederhana jadinya mungkin agak kurang greget.
***



Jika kamu tertarik untuk membaca Laut Biru Klara, pihak penerbit Tiga Serangkai telah menyediakan TIGA novelnya gratis untuk dibagikan lewat blog Baca Biar Beken ini. Yap, bakal ada TIGA PEMENANG setiap pekannya. Berikut ini 3 pemenang yang beruntung di blog Baca Biar Beken

1. Nike (@dreeva)
2. Yenny ( @caramacchiato98)
3. Agustina Purwantini (@TinaFajarina)

Jangan lupa untuk mengikuti kuis ini di tiga blog yang lain sesuai poster. Jika belum beruntung di blog ini, masih ada TIGA novel gratis untuk diperebutkan di blog Kak Lila.


Friday, July 12, 2019

Merayakan Ibu dalam Kumcer Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu

Judul: Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya 
Melahirkan Seorang Ibu 
Pengarang: Benny Arnas
Tebal: 228 hlm
cetakan: Februari 2017
Penerbit: DIVA Press



"Dalam keterbatasannya, ibu adalah sebuah kelapangan yang sering kali disalahartikan dan baru disadari ketika anak telah dewasa. Pada akhirnya, mungkin hanya diperlukan satu alasan bagi setiap orang untuk melahirkan ibu dalam dirinya, untuk mengibu: kasih." (hlm. 30)

Meskipun sama-sama bertumpu pada realitas, ada perbedaan jelas antara fiksi dengan sekadar curhatan atau laporan kaku khas media berita. Rasa yang muncul dalam diri pembaca adalah yang membedakan ketika kita membaca sebuah karya fiksi dan sekadar tulisan kabar berita. Jika berita hanya sekadar memuaskan rasa ingin tahu, maka fiksi bergerak lebih jauh dari itu. Fiksi dapat memunculkan aneka rasa bagi pembaca. Kisah-kisah pendek tentang ibu di buku ini membuktikan ungkapan bahwa sastra tidak semata laporan berita yang berbunga-bunga. Dalam sembilan belas cerpen di buku ini, Benny Arnas mengambarkan sosok ibu dan kompleksitas hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. 

Monday, July 8, 2019

Tunjukkan Kreatifnya Kamu di Show Your Work!

Judul: Show Your Work!
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah:
Cetakan: November 2014
Tebal: 216 hlm
Penerbit: Noura Books

Format: Ebook (Ipusnas)
 

24180669

 "Ketika membuang karya lama, sebenarnya kamu memberi ruang untuk karya baru."

Jika sudah membaca buku Steal Like an Artist buku ini bisa menjadi semacam sekuel yang menggenapi buku pertama. Sama seperti buku pendahulunya, di buku ini Kleon melanjutkan "ceramah' uniknya tentang bagaimana menjadi kreatif. Kali ini, dengan titik tekan pada "beranilah menujukkan dirimu yang kreatif." Jika sebelumnya Kleon mengompori kita untuk kreatif, maka kali ini dia mengompori pembaca untuk menunjukkan kreativitasmu. Dengan teknik yang tepat, kita bisa membuat orang tertarik dengan kreativitas yang kita miliki. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan siapa diri kita dan kelebihan yang kita miliki, tentunya dengan karya dan bukan semata omongan saja.

"Buat sesuatu yang kamu sukai, bahas, lalu kamu akan menarik orang-orang yang menyukai hal semacam itu. Sederhana saja."


Eksplorasi Dunia Penulis melalui buku Zen dalam Menulis

Judul: Zen dalam Menulis
Penyusun: Ray Bradburry
Tebal: 212 hlm
Cetakan: September 2018
Penerbit: Basabasi

"... bahwa semua fiksi sains adalah sebuah upaya untuk memecahkan masalah dengan berpura-pura memandang ke arah lain."

Buku Zen dalam Menulis menghadirkan kumpulan esai dan tulisan nonfiksi dari Ray Bradburry, pengarang novel Fahrenheit 451 nan legendaris tersebut. Kebanyakan isinya merupakan catatan-catatan hasil refleksi atau perenungannya dalam menjalani proses menulis sekaligus menjadi penulis itu sendiri. Ray berpedoman pada kredo bahwa untuk menjadi penulis yang sukses maka orang harus totalitas dalam menulis. Nasihat utama darinya, bahwa mumpung kita masih diberikan umur dan kesehatan serta kesempatan untuk menulis, jangan sia-siakan. Hidup telah memberikan sarana dan peluang, dan kita harus membalasnya dengan memberikan yang terbaik yang kita bisa. Dalam hal ini, seorang penulis harus mampu menghadirkan tulisan terbaiknya sebagai bentuk "bayaran" atas anugrah kehidupan. 

"Dengan melatih dirimu sendiri dalam menulis, dengan latihan yang diulang-ulang, imitasi, contoh baik, kau menciptakan sebuah tempat yang bersih dan terang untuk menjaga Inspirasi."

Friday, July 5, 2019

Men's Guide to Style, Nyaman Berpakaian ala Pria

Judul: Men's Guide to Style
Penyusun: Titoley Yubilate Tako
Tebal: 157 hlm
Cetakan:  April, 2014
Penerbit: Gagas Media

22589173


Bagi pria, urusan fashion dan cara berbusana tidak seribet kaum wanita. Tapi bukan kemudian pria tidak perlu tahu tentang bagaimana cara berpakaian yang baik dan benar. Inilah yang mungkin menjadi tujuan si penulis, yang juga seorang blogger menswear kenamaan. Bahwa memang benar dalam berbusana pria tidak seribet wanita. Tetapi, seorang pria yang tahu bagaimana cara berbusana akan terlihat jauh lebih menawan di mata kaum wanita.