Search This Blog

Thursday, October 19, 2017

Problem Bahasa Kita: Sok Keminggris



Judul: Problem Bahasa Kita
Penyusun: Fariz Alniezar
Tebal: 186 hlm
Cetakan: 1, Oktober 2017
Sampul: Amalina
Penerbit: Kaktus





Saya senang sekali mengikuti rubrik bahasa di surat kabar. Sejak zaman kuliah dulu, saya bahkan sering mengkliping artikel-artikel di kolom bahasa ini, baik dari Kompas, Republika, atau Media Indonesia. Saat ini, yang konsisten dengan rubrik bahasa ini sepertinya hanya Kompas  (tiap Sabtu) dan Media Indonesia (setiap Minggu). Sementara di majalah Intisari saya kurang tahu masih ada atau tidak. Sayangnya, kebiasaan rajin ini kini mulai terkikis oleh pemandangan banyaknya timbunan yang kudu saya babat. Setidaknya, dalih saya, kita bisa membacanya dalam buku kumpulan rubrik bahasa yang biasanya akan diterbitkan dalam bentuk buku setahun atau tiga tahun setelahnya (kayak buku Inul itu Diva?). Mengapa membaca rubrik bahasa seperti ini menyenangkan? Karena ditulis dengan nada santai dan tidak menggurui, serta langsung diberikan contoh dalam penggunaan keseharian. Beda rasanya kalau kita membacanya dalam buku tata bahasa Indonesia yang kesannya kaku, apalagi dari KBBI edisi V yang beratnya ngalah-ngalahin beratnya kenangan dengan si mantan itu.

Tuesday, October 17, 2017

The Trial of Apollo: The Dark Propechy, Pertaruhan Apollo



Judul: The Trial of Apollo: The Dark Propechy
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penyungting: Yuli Pritania
Tebal: 498 hlm
Cetakan: Juli 2017
Penerbit: Nourabooks



Mengikuti petualangan Dewa Apollo dalam bentuk manusia-nya sebagai Lester Papadopoulos memang bikin nagih. Setelah di buku pertama Apollo dan Meg serta para member Perkemahan Blasteran harus melindungi Oracle di Hutan Dodona, kini  perjalanan berlanjut ke kawasan tengah Amerika Utara. Kali ini, Apollo ditemani Leo Valdez dan pacarnya, Calypso. Senangnya, di buku kedua ini akhirnya Om Rick menggunakan setting di Indianapolis yang jarang digunakan dalam banyak novel fantasi ( yah kalau nggak New York, ya San Francisco, Detoit, Chicago, atau kota-kota besar lain). Selain setting yang baru, banyak tokoh dan mahkluk mitologis yang juga dimunculkan,  misalnya gerombolan Blemmyae yang kepalanya ada di dada dan mereka ini sangat sopan sekali (Apakah Anda lebih suka diinjak-injak  atau dicabik-cabik dulu? Anda berhak memilih sendiri) juga Dewi jaring-jaring alias Britomartis yang suka mendudukkan tamunya di kursi jebakan

Sepertinya, karakter Apollo ini adalah yang paling khas kalau dibanding karakter-karakter protagonis dalam serinya yang lain (seperti Percy dan Jason, saya bahkan sampai nggak bisa membayangkan sosok Jason macam gimana saking tipikalnya). Apollo ini, emm, gimana ya, dia jujur kepada pembaca. Kalau suka ya bilang suka, nyinyir ya nyinyir, kabur ya kabur. Beda dengan Percy yang kadang sok pahlawan (Jason apalagi ugh), si Lester ini jelas-jelas mengakui kalau dirinya bukan pahlawan. Sebagai mantan dewa matahari yang dilucuti dari kedewaannya, Apollo-Lester nggak ada kuat-kuatnya deh, walau congkak tingkat dewanya masih tetep sih. Pokoknya, yang kemarin masih kerasa kurang sama recehnya Apollo-Lester di buku pertama, maka di buku kedua ini akan makin banyak ocehan-ocehan sang mantan dewa matahari yang bikin pembaca kejengkang.

Thursday, October 5, 2017

Kisah Kasih Dua Lelaki, Mungkinkah Cinta?



Judul: Mungkinkah Cinta?
Pengarang: Valen Suzan
Cetakan: Pertama, September 2017
Tebal: 516 hlm
Penerbit: Leutika Prio


36323978


Sudah beberapa kali saya membaca dan mengulas novel-novel tentang cinta sejenis. Kebanyakan—kalau tidak dibilang semua—berakhir dengan ikatan cinta yang ‘terpaksa’ harus dihentikan karena beragam sebab. Dalam Jakarta Love Story dan Lelaki Terindah, cerita cinta itu pupus dengan berakhirnya kehidupan salah satu pasangan. Sementara, dalam The Sweet Sins dan Before Us, para penulisnya lebih memilih ‘jarak’ sebagai pembatas yang pada akhirnya akan mengakhiri hubungan terlarang ini. Para penulis mungkin lebih memilih cara aman ini agar karyanya tidak dianggap ‘melegalkan’ hubungan sejenis mengingat pasar pembaca di Indonesia yang sangat menentang hubungan cinta yang tidak normal tersebut. Bisa menulis dan menerbitkan buku dengan tema menyimpang seperti homoseksual di Indonesia saja sudah bikin waswas, apalagi kalau ditambah dengan ending yang menjurus pada dukungan pada cinta sejenis. Bisa-bisa bukunya bakal dilarang terbit dan dijual di Indonesia. Nah, kalau Mungkinkah Cinta? ini bagaimana? Ternyata, akhirnya happy ending, saudara-saudari!

Wednesday, October 4, 2017

Tolong, Saya Keterusan Borong Buku di GrabBuku/MacaBuku




Terkadang, seperti di kisah-kisah FTV, hal-hal manis bermula dari kesalahpahaman. Seperti perjumpaan pertama saya dengan Grab Buku/Maca Buku yang cukup heboh. Awalnya ada seorang teman BBI yang melaporkan bahwa ulasannya digunakan untuk promosi tanpa izin oleh Grab Buku di Facebook. Ahem ...teman ini kebetulan cewek. Saya yang cowok sejati bagian Divisi HUMAS Blogger Buku Indonesia pun gerak cepat dengan mengirimkan inbox ke toko daring tersebut. Ternyata responnya sangat cepat, saudara-saudara—walau tidak secepat datangnya jodoh ihiks. Pihak Grab Buku akhirnya meminta maaf karena mereka mengaku belum mengetahui sistem kerja sama dengan BBI. Kesalahpahaman kecil itu pun akhirnya terselesaikan, dengan bonus saya mendapatkan jodoh kenalan satu lagi toko buku online dengan aplikasinya yang asik: Maca Buku. Jadi, walau belum dapat jodoh, dapat toko buku yang murah pun patut disyukuri bukan? Oke skip. Lanjut. Dalam bahasa Jawa, ‘maca buku’ bermakna ‘membaca buku’. Dengan demikian, sudah jelas kalau aplikasi ini adalah untuk para penimbun pembaca buku. Bahasa awamnya: Elo bisa beli buku secara online di sini.

Tahilalat, Puisi Fiksi Mini ala Jokpin

Judul: Tahilalat
Penyair: Joko Pinurbo
Cetakan: Pertama, Oktober  2017
Tebal: 108 hlm
Penerbit: Basabasi



Selalu  kangen dengan puisi-puisi Joko Pinurbo. Melalui puisi, Jokpin seperti membuat semacam fiksi mini tetapi tetap dengan aplikasi unsur-unsur puisi seperti rima dan ketukan. Jika fiksi mini mungkin terbatasi pada 140 karakter, maka cerita-cerita Jokpin ini terbatasi ketukan serta rima. Ini yang bikin puisi-puisi beliau terasa selalu khas. Awalnya dibuka dengan cerita, kemudian berlanjut pada permainan kata-kata dan nada, sebelum tanpa sadar pembaca sudah terseret dalam pesonanya.

Di rumah itu mereka tinggal berdua
Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku
Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.
(hlm 72)


Puisi-puisi Jokpin juga dikenal karena penggunaan kata-katanya yang singkat dan efektif. Diksi atau pilihan katanya sederhana sehingga mudah dicerna, walau kadang makna puisinya butuh perenungan dulu untuk mencerna apa yang hendak disampaikan. Sayangnya, karena buku ini adalah penerbitan ulang dari buku beliau (pertama terbit September 2012) sehingga tidak banyak mencolek isu-isu aktual sebagaimana khasnya Jokpin dalam buku puisi terbarunya Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi yang keren banget itu. Tapi, tetap saja, puisi-puisinya selalu layak dinikmati kapan pun.

Mungkin cara terbaik untuk mencegah
Kemunculannya adalah berhenti menulis

Tapi kawan saya bilang, “Bukankah
Tanpa dia sudah lama kamu mati?”

(hlm. 65)


Sayangnya, ada beberapa eh banyak puisi di buku ini yang sepertinya sudah pernah saya baca di bukunya yang lain, misal Cenala, Durrahman, dan Liburan Sekolah. Jika ada yang baru di buku ini mungkin puisi-puisi pendek yang mendominasi awal-awal buku ini. Seperti sajak Duel di halaman 11.

Ayo, buku, baca mataku! 

(2007)

Tuesday, October 3, 2017

Menjajal Wattpad: Nerdy Girl


Judul: Nerdy Girl
Pengarang: Alnira
Penyunting: Avifah Ve
Tebal: 424 hlm
Cetakan: Pertama, September 2017
Penerbit: DIVA Press



Bagi saya, ada dua tujuan orang membaca buku. Pertama adalah untuk mendapatkan informasi (termasuk ilmu pengetahuan dan buku-buku pelajaran/kuliah) dan yang kedua untuk mendapatkan penghiburan. Untuk tujuan kedua ini, biasanya orang membaca buku-buku dari jenis fiksi seperti novel, cerpen, atau puisi walaupun tidak sedikit pula orang membaca buku-buku nonfiksi sebagai penghiburan. Khusus untuk pembaca novel, biasanya orang membaca novel untuk mencari penghiburan, entah itu penghiburan yang membangun ataupun penghiburan yang menghibur semata. Membaca buku-buku sastra menurut saya adalah salah satu bentuk penghiburan yang membangun. Ini karena buku-buku jenis ini mampu melembutkan pembacanya, memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan, juga menjadikan kita peka pada isu-isu sosial. Tentu tidak semata novel-novel sastra yang memiliki keunggulan ini. Banyak novel nonsastra dan juga novel populer yang digarap dan ditulis dengan baik juga mampu menghadirkan fungsi penghiburan yang mendidik ini. Kemudian, bagaimana dengan versi penghiburan yang melenakan?


Kadang, kita hanya ingin membaca dan menikmati saja tulisan yang dibawakan penulis. Dengan artian, kita tidak mau berpikir banyak saat membaca sebuah novel. Tidak perlu data sejarah, tidak perlu harus meraih Nobel sastra, tidak perlu pakai kata-kata yang rumit. Pokoknya, cukup novel itu bisa dinikmati dan membuat kita lupa sejenak pada kehidupan nyata. Inilah yang oleh Neil Gaiman disebut sebagai membaca sebagai pelarian ketika dunia nyata serasa sedang tidak ramah. Novel Nerdy Girl karya Alnira menurut saya adalah jenis novel yang cocok untuk tujuan ini. Secara cerita, noel ini tidak ada bedanya dengan roman-roman remaja-dewasa muda yang mungkin mudah kita jumpai di toko buku. Buat yang suka nonton drama Korea, kisah Jonathan dan Aihara mungkin akan sedikit mengingatkan pada alur kisah cintanya nan manis. Apalagi, penulis yang sepertinya seorang Kpopers seperti mampu memanfaatkan kegemarannya pada Hallyu Wave itu dalam naskahnya ini. Pengetahuan yang baik tentang budaya pop Korea, dipadukan dengan karakterisasi yang oke, plus keterampilan menulis yang matang, maka jadilah novel Nerdy Girl yang saya akui sangat menghibur.

Monday, October 2, 2017

Pengumuman Pemenang Blogtour dan Giveaway: Moonlight's Lullaby

Judul: Moonlight’s Lullaby
Pengarang: Khi-Khi Kiara
Penyunting: Diara Oso
Cetakan: Pertama, September 2017
Tebal: 232 hlm
Penerbit: Laksana



Kystaline Robyn Venushara Blackwood, kita panggil saja Alisha (kok bisa Alisha ya? Ternyata, asal usulnya begini: Ali dari ‘KystALIne’ dan sha dari ‘VenuSHAra). Gadis kecil ini tinggal bersama ayahnya dan abangnya, Euro di Brooklyn, New York. Tidak ada yang beda dari gadis kecil. Kenyataannya, Alisha termasuk gadis yang beruntung karena memiliki ayah dan abang yang sangat mencintainya. Mereka juga termasuk keluarga menengah sehingga gadis kecil itu tidak pernah kekurangan secara materi. Alisha hanya kekurangan kasih sayang seorang ibu. Setiap kali ia menanyakan perihal ibunya kepada ayah dan abangnya, jawabannya selalu sama, bahwa wanita itu sudah pergi ke tempat yang jauh. Dari abangnya, dia mengetahui kalau kedua orang tua mereka telah bercerai. Walau kasih sayang dari ayah dan abangnya tak pernah surut, Alisha sesekali merindukan juga sosok seorang ibu yang menemani tidurnya, membacakan dongeng untuknya, bermain dengannya.  

Itu sebelum peristiwa kecelakaan itu. Dalam sebuah perjalanan ke Lousiana, mobil yang ditumpangi keluarga Blackwood mengalami kecelakaan karena tertabrak truk. Alisha yang duduk di kursi depan mengalami luka yang paling parah pada bagian kepalanya. Gadis itu harus menjalani rawat inap secara intensif selama satu bulan di rumah sakit sebelum akhirnya dokter mengizinkannya dirawat di rumah. Semenjak kejadian itu, Alisha sering mengalami serangan sakit kepala mendadak. Dokter mengatakan telah terjadi kerusakan pada otak si gadis kecil sehingga wajar jika sesekali muncul sakit kepala asalkan Alisha tidak berpikir yang berat-berat. Tetapi, selain sakit kepala, Alisha juga kerap dihantui dengan halusinasi. Dia bisa mendengarkan suara-suara musik seperti orang yang sedang bermain piano atau biola. Anehnya, hanya dia yang bisa mendengarkan suara-suara itu.

"Lagu itu terdengar dekat, tepat di sampingku, mampir sebentar lalu hilang. Sementara itu, kulihat tidak ada yang main piano. Tidak ada orang di ruang keluarga." (hlm. 48)

Ketika Alisha menanyakan itu kepada ayahnya, jawabannya tetap sama: Alisha sedang berhalusinasi. Tetapi bagaimana bisa halusisasi sejernih itu suaranya. Anehnya lagi, halusinasi itu semakin spesifik. Setiap jam 11 malam, Alisha mendengar nada ‘Fur Elisi’ tengah dimainkan di ruang keluarganya. Awalnya, Alisha mengira ayahnya yang bermain piano, tetapi ternyata bukan. Rasa penasaran akhirnya mendorong Alisha untuk mengecek sendiri ke ruang keluarga. Bukan sang ayah yang ia jumpai sedang bermain piano di sana, tetapi sesosok wanita berambut pirang dan bermata biru dengan kaki yang tak menapak tanah. Satu hal yang aneh dari sosok itu, dia hanya muncul saat bulan purnama atau saat sedang ada cahaya bulan. Sosok itu juga hangat dan dapat dipegang oelh Alisha. Siapa sebenarnya sosok itu? Baik atau jahatkah dia? Benarkah dia memang ingin bersahabat dengan Alisha ataukah itu sekadar kedok untuk mengelabuhi dan kemudian memangsa si gadis cilik?

"Tubuhnya mengurus, nyaris terlihat semua tulang-tulangnya, dengan gurat-gurat hitam yang menjalar dari tangan sampai ke kepala. Mulutnya menganga, melebar dari bawah. Darah keluar dari leher, mulut, hidung, dan mata." (hlm. 221)

Novel ini sebenarnya berpotensi seram, terlebih dengan dukungan ilustrasi creepy di halaman belakang. Tetapi, menjadi nanggung karena menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal dari seorang anak gadis berusia 8 - 9 tahun yang sering mengalami sakit kepala. Novel ini seperti kehilangan unsur detailnya. Ya, wajar sih anak kecil tidak bisa menggambarkan segala sesuatunya hingga detail. Termasuk yang kurang detail adalah penggambaran tentang hantunya yang kurang deskriptif di tengah. Penulis berulang kali menggambarkannya sebagai wanita pirang bermata biru (yang diulang-ulang entah berapa kali). Suasana saat sang hantu termanifestasi (kok macam Lockwood aja) juga kurang diekpos sehingga saya sebagai pembaca jadi kurang merasakan suasana horornya. Selain itu, setting tempat yang di Amerika Serikat juga kurang terasa di novel ini. jadi Alisha ini tinggal di Brooklyn tapi sepanjang buku ini saya tidak menemukan pemandangan pencakar langit atau kemacetan jalanan khas New York. Lagi-lagi, balik ke si pencerita yang masih kecil sehingga sedikit bisa dimaklumi--meskipun hal-hal semacam itu harusnya juga tidak luput dari pandangan mata seorang anak kecil. (less)




THE WINNER

Penasaran sama sosok serem itu, baca aja yok di novel Moonlight’s Lullaby ini. Lagi bokek? Duh masih tanggal muda masak sudah bokek saja. Baiklah, Penerbit DIVA Press memberi kesempatan buat teman-teman semua untuk mendapatkan 4 novel ini gratis sepanjang bulan Oktober 2017 ini. Salah satunya di blog Baca Biar Beken. Saya telah membaca semua jawaban masuk, dan langsung menyadari betapa ketakutan itu memang ada banyak. Masing-masing orang memiliki ketakutan masing-masing, begitu pula saya. Sebagai pecinta kucing, saya kaget ternyata ada orang yang takut juga sama kucing (tetapi ini bisa dimaklumi karena teman saya ada yang takut sama ayam) karena kalau dipikir-pikir, kucing kalau nyakar sakit juga sih.

Ketakutan-ketakutan lain juga pernah dan masih saya rasakan, misalnya saja takut bertemu orang baru, takut kehilangan orang terkasih, takut merasa sendirian, takut dituduh sebagai orang yang bersalah, juga takut kehilangan buku yang dipinjamkan tapi tidak dikembalikan. Saya juga seringkali masih takut sama jalan raya, rasanya kadang jalan raya itu tak ubahnya medan laga tempat semua ego saling bersalipan. Tetapi, masih ada satu ketakutan yang sampai sekarang sering menghampiri dan berusaha saya taklukan: menerima tanggung jawab. Sebagaimana Ikhwan Maulana, saya juga mendapatkan tanggung jawab baru akhir-akhir ini. Ketakutan bahwa saya tidak akan mampu mengemban tanggung jawab itu masih sering menghantui, tetapi akan terus saya lawan dengan pemikiran bahwa setiap orang memiliki tanggung jawabnya masing-masing.

Kita semua pernah, masih, dan akan memiliki ketakutan masing-masing. takut pada sesuatu bukan merupakan bentuk kelemahan, melainkan bahwa tanda bahwa kita manusia normal sebagaimana yang lainnya. Keberanian untuk menghadapinya, pada akhirnya itu semua akan menjadikan kita manusia-manusia luar biasa. Selamat kepada teman-teman semua yang telah berani ikutan kuis ini juga. Kalian huebat.