Search This Blog

Tuesday, November 3, 2020

Bernostalgia lewat Perjamuan Khong Guan Jokpin

 Judul: Perjamuan Khong Guan
Penyair: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebit: Januari 2020
Tebal: 130 halaman





HATI KHONG GUAN

 

Hatiku yang biasa-biasa saja

sudah menjadi biskuit

dalam kaleng Khong Guan

Mula-mula dicuekin,

tak membangkitkan selera,

lama-lama, ha-ha, habis juga

(2019)

 

Momennya cocok, lebaran baca perjamuan Khong Guan (meskipun lebaran kali ini tidak beli. Tetapi sebagaimana tersirat dalam puisi Jokpin bahwa yang penting kalengnya, bukan isinya wkwk). Buku ini menemukan momennya setelah puisi-puisi beliau yang bertema salah satu merek biscuit legendaris ini dimuat di harian Kompas awal 2020. Puisi-puisi tersebut dapat ditemukan di buku ini (alasan lain kenapa kudu punya buku ini hehe) dalam kaleng yang terakhir.

Mengapa puisi Khong Guan ini begitu memesona? Karena keunikan sekaligus kedeatannya dengan kita. Hanya segelintir orang seperti Jokpin yang mampu memelintir “makanan umum” seperti biscuit Khong Guan menjadi larik-larik puisi yang menyenangkan. Puisi yang tidak hanya unik tapi juga asyik dan mengingatkan kita pada momen-momen istimewa di masa kecil saat tengah berebutan wafer dalam kaleng Khong Guan. Tidak heran jika foto puisi-puisi beliau di Kompas Minggu langsung mewarnai stori banyak teman di jagad whatsapp.

Jokpin memang pandai menangkap kesamaan kita semua, lalu digubah menjadi bahan puisi. Ini menyindir banyak kita yang kebingungan mencari inspirasi padahal masalahnya bukan ada atau tidaknya, tapi bisa atau tidak mengolahnya. Siapa hayo yang pas kecil hanya ngincer wafernya doang di antara semua isi kaleng Khong Guan? Kebiasaan yang sangat Indonesia banget dan mengingatkan kita pada masa masa itu. Ketampol juga sama sindirian beliau di salah satu puisi di buku ini: walau awalnya sok nggak doyan, tapi ha ha lama lama habis juga seluruh isi kaleng Khong Guannya.

Sebagaimana jamuan lebaran, ada empat kaleng puisi dalam buku ini yg masing masing dibagi per tema. Kaleng satu dan dua adalah kumpulan puisi Jokpin yang khas beliau, kaleng ketiga puisi puisi untuk seorang wanita istimewa, dan kaleng keempat adalah puisi puisi Khong Guan. Selain masih menampilkan puisi yang bercerita dengan ending bikin mak jenggirat, tidak lupa terselip pesan pesan sosial yang menggelitik.

"Maaf saya

sedang

berbahagia

negara

dilarang

masuk

ke hati saya"


Sunday, November 1, 2020

Cantik itu Luka? Membaca Kemalangan (atau Kegilaan?) Sebuah Keluarga.

 Judul: Cantik Itu Luka
Pengarang: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Membaca Cantik Itu Luka adalah mengikuti historigrafis perjalanan sejarah Indonesia dari sudut pandang kemalangan (ataukah kegilaan) yang dialami sebuah generasi keluarga. Merentang dari era penjajahan hingga tahun-tahun menjelang reformasi, dalam novel ini Eka Kurniawan dengan detail, dengan sabar, dan dengan begitu naratif menyusun sebuah karya yang tidak hanya utuh, melainkan juga menyisakan gaung dalam benak pembaca terkait banyak isu sensitif dalam sejarah bangsa ini. Setelah selesai membacanya, akan muncul banyak pertanyaan dan juga penafsiran yang asyik untuk dibicarakan sesama pembaca. Memang, novel yang bagus itu membuka ke banyak penafsiran dan diskusi sehingga kaum pembaca ikut terseret dalam arus kisahnya tanpa disadari. Eka Kurniawan dengan lihai mampu menggerakkan pembaca untuk terus teringat pada karya ini dalam waktu lama lewat beragam penafsiran tentangnya.

Cantik itu Luka dikisahkan dari sudut pandang generasi keluarga Ayu Dewi yang lahir di masa penjajahan. Kisah dibuka dengan adegan absurb yang meloncat jauh ke depan, yakni ketika pada suatu malam Ayu Dewi yang sudah meninggal dan dimakamkan tiba-tiba bangkit dari kuburnya dan kembali ke rumahnya untuk melihat anak bungsunya. Dikisahkan, Ayu Dewi ini seorang indo blasteran yang lahir di era prakemerdekaan atau di zaman penjajahan Belanda. Settingnya mengambil sebuah kota di pesisir selatan Jawa Barat yang bernama Halimunda. Menghabiskan masa kecil sebagai anak dari tuan tanah Belanda yang kaya, Ayu Dewi sama sekali tidak mengetahui kalau jalan hidupnya dan juga keturunannya akan berubah.

Ketika Jepang berhasil merebut Hindia Belanda dari Belanda tahun 1941, mereka merampas semua properti milik orang Belanda. Rumah dan tanah di sita, sementara orang-orang barat dan keturunannya ditahan. Ayu Dewi dan keluarganya turut mengalami penahanan ini. Bersama wanita-wanita Belanda lain dari seluruh Halimunda, mereka dikumpulkan dan ditahan di sebuah penjara di delta sungai. Penderitaan dimulai untuk wanita-wanita lembut yang sehari-hari dilayani tersebut. Puncaknya ketika tentara Jepang mengambil beberapa wanita untuk dijadikan sebagai pelacur, termasuk Ayu Dewi. Dari sini petualangan hidup si gadis indo ini dimulai.

Si gadis indo ternyata menikmati nasibnya sebagai pelacur. Entah karena terpaksa atau mungkin wanita itu berpikir praktis bahwa lebih baik menikmati yang terpaksa dia alami ketimbang terus menyangkal dan menyakiti diri. Didukung wajah ayu dan blasterannya, wanita ini mantap menjadi pelacur nomor satu di Halimunda. Tarifnya istimewa dan bahkan dia memilih sendiri pelanggannya. Tidak berapa lama sampai akhirnya para pria berbondong bondong dan antre untuk menidurinya. Termasuk dua pria yang kelak ternyata akan menjadi menantunya. Memang ada gila-gilanya.

Dari persetubuhannya dengan berbagai pria inilah Ayu Dewi melahirkan 3 putri yang kesemuanya cantik jelita. Kemudian menyusul satu lagi si bungsu yang sayangnya bermuka buruk rupa tetapi Ayu Dewi menamainya Cantik. Untungnya, tiga anak pertamanya bisa berkeluarga (meskipun alur kisah mereka tidak kalah berliku dan absurb dibanding kisah ibunya) dan memiliki anak. Tetapi kemalangan keluarga ini rupanya belum selesai. Putra dari putri keduanya, anak dari seorang Kamerad Komunis yang dicari-cari, kelak tumbuh menjadi pemuda yang membawa bibit petaka baru di keluarga tersebut. Pada akhirnya, Ayi Dewi yang bangkit dari kuburnya memang berhasil membunuh musuh utamanya, tetapi generasi keluarga ganjil ini hanya menyisakan empat wanita yang sama-sama kehilangan. Semua karena kecantikan yang mereka miliki, atau yang tidak mereka miliki.

CIL yang menggunakan konsep kota antah berantah tapi mirip sebuah kota nyata yang cirinya saling ditempelkan mengingatkan kita pada novel 100 Tahun Kesunyian karya Marques. Walau pohon silsilah keluarganya tidak serumit dalam karya Marques itu, tidak bisa dipungkiri pembaca akan merasakan sedikit (atau banyak) kemiripan. Jika Marques bermain dengan detail keluarga tokohnya, Eka berfokus pada detail sejarahnya. Karena Indonesia mengalami gejolak politik yang begitu beragam dalam waktu singkat (tahun 1930 - 2000), penulis jadi memiliki begitu banyak bahan untuk ditempelkan dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Dan ini yang menurut saya menjadi menarik.

Bagaimana Eka menyesuaikan tokoh-tokohnya dengan berbagai peristiwa sosial sejak era kolonial, masa menjajahan Jepang, momen kemerdekaan bangsa Indonesia, kronik di masa perang Revolusi, pergantian bentuk negara, KMB, lalu berlanjut pada masa-masa keemasan komunisme di Indonesia hingga pecahnya pemberontakan PKI, lalu dilanjutkan dengan Supersemar. Bahkan era 1980an dengan penembak misteriusnya juga mampu disisipkan dalam kisah keluarga Ayu Dewi ini. Luar biasa betapa dibutuhkan kreativitas, ketelatenan, pemahaman sejarah, juga kepiawaian untuk menyisipkan elemen babakan sejarah dalam bab-bab sebuah buku. Ini yang menurut saya menjadikan CIL salah satu novel terbaik dari Indonesia dan layak dibaca setidaknya sekali.

Selain itu, CIL kaya dengan banyak isu serta gagasan yang menarik untuk diperbincangkan. Yang pertama tentu feminisme, bagaimana wanita menjadi korban dari kecantikannya sendiri. Kisah Ayu Dewi dan anak-anaknya menggambarkan betapa beratnya posisi dan nasib para wanita cantik di dunia yang patriakis. Tetapi dari kisah Ayu Dewi yang bisa memanfaatkan kecantikannya untuk memperbaiki nasibnya, muncul pertanyaan bahwa wanita yang bisa menggunakan aset tubuhnya untuk kepentingannya sendiri, apakah dia tetap korban dari kecantikan di dunia yang patriakis? Isu lain adalah tentang penyakit kegilaan yang konon bisa menurun dalam keluarga. Entah apakah hal ini yang hendak diangkat oleh Eka secara tersirat. Secara kegilaan adalah masalah psikologis yang snagat tergantung pada individu bersangkutan dan latar kehidupan yang dijalaninya. Apakah kegilaan semacam ini juga bisa tetap muncul pada keturunannya, ataukah itu semacam skizofrenia yang sebagian orang menyebutnya gangguan mahkluk halus? Ini bisa jadi bahan pembahasan yang menarik dari novel ini.

Kemudian, tema sosialisme yang selama ini lekat dengan karya-karya penulis Amerika Latin (yang banyak dibaca Eka) juga lumayan banyak disinggung di CIL ini.


Thursday, October 22, 2020

Melangkah- Novel Silat Modern

 Judul: Melangkah
Pengarang: J.S. Khairen
Tebal: 355 hlm
Cetakan: Maret 2020
Penerbit: Grasindo




blurb:
Listrik padam di seluruh Jawa dan Bali secara misterius! Ancaman nyata kekuatan baru yang hendak menaklukkan Nusantara.
Saat yang sama, empat sahabat mendarat di Sumba, hanya untuk mendapati nasib ratusan juta manusia ada di tangan mereka! Empat mahasiswa jurusan Ekonomi ini, harus bertarung melawan pasukan berkuda yang bisa melontarkan listrik! Semua dipersulit oleh seorang buronan tingkat tinggi bertopeng pahlawan yang punya rencana mengerikan.


Satu lagi penulis yang mengeksplore genre novel yang jarang ditulis di Indonesia: crime-thriller-action. Membaca blurb saja kayaknya sudah seru. Mengingatkan saya pada novel-novel thriller ala Dan Brown yang temanya seputar konspirasi. Tetapi ini settingnya lokal, dengan negara tercinta Republik Indonesia yang menjadi latar sekaligus sasaran. Uniknya lagi, novel ini lebih bernuansa remaja dan anak muda yang easy going alih-alih tipe serius ala Dan Brown. Ini kali pertama saya membaca karya JS Khairen dan alhamdulillah buku itu bagus. Dengan tempo cepat, novel Melangkah bergerak cepat selekas kuda Sumba berlari di Padang sabana. Fokus pada aksi dengan sedikit deskripsi, ibarat menonton film yang bergerak cepat sebagaimana tendangan menyamping pesilat.

"Di balik tiap pengorbanan, ada lelah yang disembunyikan, senyum yang dipalsukan, dan terkadang, pelukan pertemanan. Juga seutas doa kala malam, yang entah dari siapa."(hal. 250)

Novel lokal yang lumayan tebal ini berkisah tentang empat sahabat pesilat yaitu Aura, Siti, Arif dan Ocha. Aruna adalah orang asli sumba, Siti anak kesayangan ayah yang selalu juara silat, Arif yang selalu juara kedua dalam perlombaan silat tapi pemberani nomor satu, dan Ocha yang diam-diam ternyata pesilat ahli. Jadi empat tokohnya sendiri jago semua karena memang musuhnya juga sangat berkuasa.

Petualangan mereka dimulai dari rencana liburan mereka ke kampung halaman Aura, Sumba. Namun sejak awal rencananya, hal-hal aneh mulai muncul. Pemadaman listrik tiba-tiba hingga hal-hal mistis ketika tiba di Sumba. pembaca juga diajak flashback ke Sumbe beberapa tahun sebelumnya. Bagian inilah yang penuh misteri dan kita seperti dibawa ke model kisah misterius yang--akhirnya--tidak jawasentris, melainkan dari sudut timur-selatan kepulauan Nusantara. Satu demi satu misteri bergabung menjadi sebuah konspirasi akbar untuk meruntuhkan negara. Dan keempat sobat muda ini harus berjuang di garis depan untuk menggagalkannya. 

Selain tema actionnya, dua poin plus buku ini ada di setting Sumba dan pencak silatnya. Masih sangat sedikit novel yang bersetting Indonesia bagian timur. Dari novel ini juga saya baru tahu kalau Sumba beda dengan Sumbawa. Juga tentang tenun Sumba yang luar biasa itu. Sangat mencerahkan menyimak berbagai penjelasan menarik tentang adat istiadat Sumba, budayanya, seni tenun karyanya, hingga keindahan alamnya. Materi tentang perlombaan pencak silat juga jurus-jurus pencak silat juga banyak sekali dipaparkan dalam cerita. Tampak jelas bahwa penulis memang benar-benar melakukan riset saat dan sebelum menulis novel ini. 

Ceritanya asyik diikuti, bergerak cepat jadi bikin penasaran. Hanya saja, seringkali muncul kalimat-kalimat indah ala-ala motivasi yang kayak kurang pada tempatnya. Isinya sih bagus, tapi terasa seperti berasal dari bagian dunia yang lain saat ditempelkan dalam dialog atau narasi di novel ini. Bagian ending yang menurut saya kecepetan, dan ada beberapa scene yang ujug-ujug muncul. Walaupun begitu, adegan pertarungan pencak silatnya begitu banyak dan menyenangkan untuk disimak. Bagian pertama tentang silat dan bagian tengah tentang Sumba adalah yang paling menarik menurut saya. Ini novel yang wajib dicoba untuk dibaca bagi pembaca yang menginginkan karya lokal yang segar. 

Wednesday, October 14, 2020

Berguru Kepada Puisi bersama Jokpin

 Judul: Berguru Kepada Puisi
Penyusun: Joko Pinurbo
Tebal: 191 hlm
Cetakan: 1, Desember 2019
Penerbit: DIVA Press

 




Banyak di antara kita yang mungkin bisa menikmati puisi, lebih sedikit yang bisa menikmati sekaligus memahaminya, lebih sedikit lagi yang bisa menikmati, memahami, dan kemudian menuliskan ulasannya. Jokpin adalah ketiganya--eh keempatnya ding karena beliau juga seorang penyair. Di buku ini, kita seperti bisa melihat Jokpin yang lain sekaligus Jokpin yang biasanya. Jika biasanya beliau berpuisi, kali ini Jokpin menanggapi puisi. Dan tanggapannya atas puisi-puisi karya beberapa penyair Indonesia membuktikan kedalaman Jokpin sebagai seorang penyair yang tidak saja pandai membikin syair tetapi juga memahami keagungannya.

Dari buku ini, dan juga buku "Bermain Kata Beribadah Puisi", kita belajar bahwa puisi yang baik tidak dihasilkan semata oleh imajinasi, improvisasi, dan spontanitas belaka. Puisi yang agung merupakan hasil refleksi atas aneka pengetahuan serta pengalaman yang lalu lalang dalam kehidupan sang penyair. Imaji dan kreativitas memang pembentuk utama, tetapi badan puisi dikokohkan juga dengan pengetahuan serta pemahaman. Mumet ini saya nulis apa ya wkwkw.

Bagi saya, mengulas buku puisi memang yang paling susah. Puisi bukan seperti novel yang kadang ceritanya sudah jadi dan tinggal dihamparkan kepada pembaca. Puisi bagi setiap orang bisa berbeda-beda maknanya--bahkan bisa jadi apa yang kita tangkap bukanlah yang hendak dimaksudkan oleh penyairnya. Tetapi, dalam puisi, hal seperti ini tidak mengapa. Puisi memang sengaja dibuat sebagai salah satu misteri dalam jagat ini. Sebagaimana ditulis Jokpin di buku ini: "Sebagaimana cinta, puisi tetap saja meninggalkan misteri walaupun sudah berulang kali diselami. Biarlah masing-masing pembaca bergulat dengan misterinya sendiri." (hlm. 177)

"Benarlah bahwa seorang penyair sesungguhnya tidak menulis di atas kertas kosong. Tidak jarang ia menulis puisi di atas puisi lain yang pernah atau sedang dibacanya." (hlm 184)

"Sesungguhnya puisi merupakan dolanan--dolanan bahasa--yg menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan ... Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak "waras". (hlm. 190)




Dua Kumpulan Resensi Novel di Kaum Novel

Judul: Kaum Novel
Tebal: 164 hlm
Cetakan: 1, Desember 2019
Penerbit: Basabasi

 



Sulit membayangkan kumpulan resensi buku bisa diterbitkan menjadi sebuah buku. Maksud saya, resensi yang benar benar plek resensi lalu dikumpulin dan diterbitkan dalam satu buku, bukan resensi yang diubah dulu jadi artikel atau esai. Tapi buku ini membuktikannya. Ini buku kumpulan resensi kedua yang saya baca setelah Semesta di Balik Punggung Buku karya Gus Muh.

Kaum Novel adalah kumpulan resensi buku, kebanyakan novel, karya dua peresensi andal dari Semarang dan Solo. Satu cowok, satunya cewek. Total ada 26 resensi dan 2 esai ttg buku, plus pengantar dari mas Kabut Bandung Mawardi. Kebanyakan resensi di sini sepertinya pernah dimuat di media massa (entah cetak maupun daring), ditandai dengan penggunaan bahasa yang formal serta lebih menyerupai esai. Kelebihannya, kita bisa belajar atau mengetahui banyak hal dari sebuah resensi, tidak hanya tentang isi novelnya saja.

Pada ulasan buku Kura Kura Berjanggut misalnya, kita dapat info ttg novel bertema maritim yg masih sangat jarang. Ada juga resensi buku ttg buku yang tentunya bikin kita mengecek apakah sudah baca buku ini dan buku itu. Bisa dibilang, tidak hanya intisari cerita novelnya yg kita dapatkan, tapi juga latar belakang sejarah dan sosial ekonomi politik yang menyertai terbitnya sebuah novel. Peresensi bahkan menggunakan acuan buku lain untuk memperkuat opininya.

Sayangnya, kesan koran ini malah seperti membuat jarak dengan pembaca. Suasana formal yg dibangun emang cocok untuk pembaca koran yang terdidik, tapi dalam pandangan saya kurang sesuai untuk generasi Milenial yg cari info buku barunya lebih banyak lewat Goodreads, bukan koran lagi.

Satu lagi yang agak kurang berkenan, beberapa kali dua peresensi ini membocorkan ending alias spoiler dari beberapa novel terkenal di pasaran. Ini seperti merusak kesenangan pembaca yg kebetulan belum membaca novelnya. Bayangkan jika ada kejutan di ending yg harusnya bikin pembaca terkezoet malah diberitahukan di awal. Tentu sangat menjengkelkan bagi sementara pembaca.

Separuh pertama buku ini ditulis oleh cowok. Ini terlihat dari gaya bahasanya yang formal banget dan khas koran. Separuh terakhir ditulis oleh cewek. Saya lebih menyukai bagian yang ini karena ada rasa dan emosi yang dituangkan dalam resensi. Cuma, gaya bahasanya masih agak Bandung Mawardi banget.

Setiap buku pasti membawa sesuatu untuk pembacanya, dan berkat buku ini saya mendapat tambahan daftar novel bermutu yang kudu dibeli.

 


Congo, Petualangan Liar di Afrika

Judul: Congo
Pengarang: Michael Chricton
Penerjemah: hendarto Setiadi
Tebal: 544 hlm
cetakan: Juli 1995
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Bahkan ratusan tahun sejak orang Eropa pertama menginjakkan kaki ke benua hitam ini, Afrika tetap menyimpan misteri. Misteri di pedalaman Afrika inilah yang oleh Chricton digunakan sebagai tema utama novel ini: Congo. Dan seperti karya-karya sebelumnya, Congo dibuka dengan sebuah aktifitas keseharian biasa dari para peneliti biasa, sebelum kemudian terjadi hal mengerikan yang menimpa. Sekelompok peneliti yang tengah mengadakan eksplorasi di pedalaman Zaire diserang oleh sosok misterius menyerupai kera raksasa. Seluruh korban tewas ditandai dengan hantaman keras oleh benda padat pada bagian kepala. Perkemahan diobrakabrik sementara rekaman video hanya mengirimkan visual samar-samar. Mereka sudah memperingatkan.

Tetapi manusia adalah mahkluk yang cenderung penasaran. Setiap mereka diperingatkan, semakin malah ingin melanggar. Inilah yg dilakukan sekelompok peneliti dari ERTS. Kegagalan ekspedisi sebelumnya dan juga adanya tawaran luar biasa untuk mencari intan biru langka membuat mereka memutuskan menyusul ke pedalaman Afrika dibawah pimpinan dokter muda, Dr. Ross. Mereka juga mengajak serta seorang peneliti primata, Dr . Elliot bersama gorila miliknya yang sudah dilatih bahasa isyarat. Ini untuk mengantisipasi apa pun yang telah menghancurkan ekspedisi terdahulu.

Apa yang semula perburuan intan ternyata menjurus pada persaingan hak tambang internasional. Situasi pelik ini melibatkan persaingan antara ERTS melawan konsorsium dari Jepang dan Jerman. Selain itu, Afrika tahun 70an adalah benua yang bergolak. Situasi politik di sana belum stabil, terjadi banyak pemberontakan, dan kacaunya birokrasi. Setengah novel ini kita akan disuguhi rumitnya perjalanan untuk bisa tiba di Afrika. Bukan masalah logistik atau transportasi, tetapi Lika liku yang harus ditempuh demi menembus birokrasi, menyamarkan tujuan, intrik antar perusahaan, dan berbagai proses berat lain yang anehnya tidak terasa membosankan jika Chricton yang menulis.

Tetapi petualangan sebenarnya ada di Afrika. Separuh akhir buku ini adalah permata dari kisah ini, ketika para tokoh akhirnya memasuki rimba raya di cekungan Kongo yang merupakan sisa dari hutan tropis tertua dan terluas di dunia setelah Amazon. Misteri dan ancaman terasa nyata di belantara karena Afrika tengah masih belum banyak dijelajahi kala itu. Selain harus menghadapi lintah, nyamuk, dan penyakit tropis yang mematikan, para penjelajah ini harus disibukkan dengan perang intelijen lewat satelit. Selain dikejar waktu, mereka harus menembus medan belantara yang berat.

Kemudian terbukti bahwa alam adalah misteri yang sesungguhnya. Musuh utama mereka di jantung Afrika bukan singa atau ular, tetapi kudanil yang tarnyata memiliki gigi samping yang sangat tajam. Para penjelajah ini juga harus menghadapi suku kanibal, gerilyawan, dan pasukan Zaire yang asal menembak. Belum lagi, mereka harus menghadapi misteri utama yang telah menanti di ujung perjalanan mereka mencari intan biru: sebuah kota kuno yang telah lama hilang dan kini dijaga oleh sesuatu yang sangat kuat sekaligus belum teridentifikasi.

Membaca Chricton harus siap dengan sejumlah adegan kekerasan. Tetapi kisahnya sendiri sangat kaya, dan bisa dibilang bikin kenyang. Tidak hanya sekadar bercerita, Congo ibarat sebuah jurnal perjalanan para peneliti ke lembah Afrika yang ditulis dalam bentuk novel. Ada begitu banyak detail pengetahuan ilmiah yang dijabarkan. Tidak salah jika penulis ini mendapat sebutan rajanya fiksi sains. Begitu banyak fakta padat dijejalkan dalam cerita, sebagai pendukung cerita tentu saja. Entah ini fiksi atau nyata, tetapi kanibalisme masih marak dilakukan di jantung Afrika pada pertengahan abad 20. Lalu legenda kota yang hilang yang turut diangkat kembali di novel ini. Juga sejumlah temuan tentang primata yang oleh penulis dijadikan sebagai penggerak cerita. Tidak hanya kita mendapatkan sebuah petualangan berbahaya, melainkan juga berbagai topik dari bidang zoologi, etnografi, militer, politik, antropologi, geologi, hingga komputer. Satu novel rame rasanya.

Asyiknya lagi, membacanya nggak bikin bosan. Selalu muncul rasa penasaran untuk terus melanjutkan cerita. Dan bahkan di penghujung cerita, petualangan terus dipacu hampir tanpa jeda. Selamat dari satu ancaman, datang ancaman lainnya. Bab-bab terakhir bahkan masih bergerak liar dipenuhi dengan aksi dan adegan yang mendebarkan. Novel ini menawarkan petualangan tidak hanya bagi para karakter di dalamnya, tetapi juga untuk para pembaca. 

 


Thursday, October 8, 2020

Romeo Juliet

Judul: Romeo Juliet
Pengarang: William Shakespeare
Penerjemah: Manda Milawati A
Penyadur: Musthofa W. Hasyim Sholeh UG
Proofreader: Tristanti
Cetakan: 1, 2020
Penerbit: Buku Bijak

 





Kisah Romeo Juliet dikenang sebagai salah satu kisah cinta terbesar sepanjang masa. Walau naskahnya sendiri sudah dikarang William Shakespeare pada tahun 1600an dan hampir sebagian besar kita sudah mengetahuinya alurnya, kenangan kita akan karya besar ini diperoleh dari versi film dan bukan dari membaca naskahnya (setidaknya untuk pembaca di Indonesia). Generasi sekarang mendapatkan kisah cinta yang berakhir tragis ini dari film Romeo Juliet (1996) yang dibintangi Leonardo di Caprio dan Claire Danes. Generasi yang lebih tua mungkin menontonnya dalam versi adaptasi Romi dan Juli (1974) yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman. Bahkan, buku yang saya baca ini merupakan gubahan dalam bentuk novel dengan judul <i>The Tragedy of Romeo and Juliet</i>. Shakespeare sendiri menulis Romeo Juliet sebagai sebuah drama tragedi berbentuk kumpulan dialog dan adegan panggung, bukan novel.

"Hati yang telah menyatu, akan selalu bersama walau sang kekasih pergi jauh dari pandangan." (hlm. 38)

Kisah Romeo dan Juliet merupakan sebuah kisah kasih tak sampai. Romeo Montague jatuh cinta dengan Juliet Capulet. Yang satu pemuda ganteng, gagah, cerdas, kaya, dan baik hati sementara satunya lagi seorang gadis yang cantik, lembut hati, menawan, berparas manis, dari keluarga terpandang, dan primadona yang sopan. Keduanya seolah tercipta untuk saling mencinta. Tetapi di dunia ini kesempurnaan sering dibarengi dengan kemalangan. Keluarga Montague dan Capulet adalah dua keluarga kaya yang saling berseteru hingga tidak segan untuk menumpahkan darah. Sungguh betapa berat halangan di antara keduanya. Tetapi cinta masa muda sering kali tidak memandang halangan melainkan pada bagaimana cinta bisa dipersatukan. Cinta Romeo yang menggebu, rindu Juliet yang mencandu menjadikan keduanya hampir gila jika tidak bertemu. Tetapi ikatan kasih di antara keduanya adalah perasaan yang suci, yang tidak semata dilandasi nafsu badani semata.

"Ketahuilah Romeo, rasa sakit merupakan penjara bagi tubuh, dan kesedihan merupakan penjara bagi pikiran."

Lewat bantuan Bapa Lawrence, keduanya diam diam menikah di sebuah gereja tersembunyi tanpa sepengetahuan orang tua dari kedua belah pihak. Hanya Bapa Lawrence, pengasuh Juliet, dan Gereja sebagai saksi. Tuhan memberkati mereka dengan cinta suci sebagai awal dari sebuah kebaikan di masa mendatang. Risiko sebuah pernikahan rahasia adalah keduanya tidak bisa bertemu dan berkumpul mana suka. Setiap malam, diam-diam Romeo harus membahayakan nyawa dengan menyelinap ke kamar Juliet untuk menuntaskan rindu yang menggebu. Adegan ketika Romeo berbicara dengan Juliet di bawah jendela kamarnya ini menjadi salah satu adegan romantis yang paling banyak direduplikasi dalam sejarah.

“Dengan sayap cinta aku terbang mencengkeram dinding ini. Karena susunan batuan tak mampu membatasi kekuatan cinta. Dan apa yang bisa dilakukan cinta, tak ada yang bia menahan.” (hlm. 32)

Sepandai-pandainya Romeo mengatur siasat untuk menemui istrinya, suatu saat akan kesandung juga. Pernikahan rahasia bukanlah sesuatu yang dapat dipertahankan apalagi di era itu. Suatu hari, pecah perselisihan berdarah antara anak-anak muda keluarga Capulet dan anak -anak muda keluarga Montague. Romeo awalnya tidak mau terlibat, tetapi perkelahian itu tanpa sengaja telah membunuh Mercurio yang hendak melerai kedua sisi. Melihat sahabat terkasihnya tewas, Romeo turun tangan mengangkat pedang hingga membuat Tybalt Capulet tewas di tangannya. Seisi kota pun gempar mengetahui pewaris Montague telah membunuh putra terbaik Capulet. Sebagai hukuman, Romeo harus diasingkan ke luar kota.

“… karena dalam kelalaian pasti tersembunyi bahaya menunggu." (hlm. 15)

Dan dimulailah bagian mewek mengharu biru di novel ini. Bagian ini mirip adegan Layla Majnun yang begitu diwarnai tangisan rindu menyayat hingga membikin pembaca kelu. Sementara Romeo harus diasingkan, Juliet memendam rindu yang hampir membikin dia gila. Dalam kisah ini, sepertinya Juliet yang menjadi si Majnun. Untung sebelum gadis itu menjadi entah gila beneran atau menghabisi nyawanya sendiri, Bapa Lawrence datang sebagai penolong. Idaman banget memang pastor yang satu ini. Sebuah rencana cerdas disusun untuk mempersatukan kembali Romeo dengan Juliet. Inilah bagian yanh menjadi twist legendaris dari kisah Romeo Juliet sekaligus menjadi ujung dari tragedi dua pasang kekasih ini. Adegan racun dan pisau di film mungkin lebih membekas di benak para pembaca. Tetapi membacanya dalam bentuk novel tidak kalah luar biasa.

 “Jika kau ingin keluar dari masalah yang dihadapi, engkau harus bisa mengendalikan keinginanmu terlebih dahulu." (hlm. 87)

Membaca versi novel mungkin lebih nyaman bagi sementara pembaca sementara versi drama lebih diarahkan untuk film atau pementasan di atas panggung. Meskipun novel bukan merupakan bentuk karya asli, buku ini mampu memberikan kesan yang sama, mungkin malah dapat melengkapi pengalaman kita menonton Romeo Juliet versi film. Setidaknya, penggubah masih mempertahankan untaian kata-kata indah yang diucapkan kedua sejoli ini, juga kata kata dahsyat dari Bapa Lawrence yang luar biasa emasnya. Inilah yang tak boleh dilewatkan: untaian pernyataan-pernyataan indah yang menghiasi sekujur buku ini. Selain tagline <i>"Apakah arti sebuah nama? Sekuntum mawar tetap memiliki keharuman yang sama meskipun disebut dengan nama lain"</i> (hlm 31), ada begitu banyak kutipan indah dan kadang bikin bucin. Bagi para pecinta, kisah Romeo Juliet tidak hanya sebagai sebuah kisah cinta tak terlupa, melainkan juga sumber inspirasi tak habis-habis tentang pemujaan kepada cinta.

 “Bagi seorang pecinta, tidak ada perasaan takut untuk menghadapi marabahaya. Pun manisnya cinta tidak akan engkau rasakan jika engkau tidak pernah merasakan api cemburu!” (hlm. 35)