Search This Blog

Wednesday, September 8, 2021

Majava, Cinta Terlarang di Sunda Distopia

Judul: Majava

Pengarang: S.J. Munkian

242 pages

Published November 11th 2020 

Penerbit Storial x NulisBuku


Selamat datang di Lembah Sarongge, lembah luas yang dikepung oleh tebing batu tinggi dan mustahil didaki karena curamnya. Dibelah oleh sungai Kanuha yang berair melimpah, di lembah inilah hidup dua komunitas suku yang saling menghindari, suku Vanartara dan Varsha. Keduanya tinggal di dua sisi sungai yang berbeda dan memang dilarang untuk dipersatukan. Kehidupan di Sarongge diatur oleh ajaran kitab suci yang diturunkan oleh Dewa Vitarah. Warga dari kedua suku begitu menghormati dan menaati ajaran Vitarah. Hukuman berat menanti bagi mereka yang melanggar. Sebuah lembaga perwakilan yang menjembatani pemerintahan kedua suku dibentuk dengan nama Tarum. Lembaga independen ini memiliki kedudukan setara dengan kepala suku bahkan lebih tinggi. 

Ada tiga belas pantangan dalam ajaran Vitarah. Salah satunya: haram hukumnya anggota suku yang satu berinteraksi apalagi mengunjungi suku yang satunya. Mereka yang melanggar pantangan akan menjadi orang terkutuk dan harus diasingkan serta menyandang gelar sebagai Majava. Banyak warga Sarongge yang memilih untuk dihukum mati ketimbang diasingkan menjadi Majava. Menjadi Majava berarti harus hidup di tengah hutan di kawasan Hutan Terlarang yang berada di kawasan hilir sungai Kanuha. Konon, tidak ada tanaman pangan yang bisa tumbuh subur di Hutan Terlarang tersebut selain pohon berbuah pahit yang disebut pohon maja. Ya, pohon maja atau mojo yang menjadi asal-usul penamaan kerajaan Majapahit. Buah yang konon diucapkan oleh Mahapatih Gadjah Mada saat dia mengucapkan sumpah Amukti Palapanya.

Kembali ke Majava. Awalnya saya bingung membaca awal novel ini. Penulisnya bilang kalau Majava adalah sekuel dari Arterio yang penuh sihir dan fantasi sekali. Karenanya, saya mencari-cari kaitan antara Sarongge dengan kerajaan Kartanaraya, yang ternyata tidak ada. Majava sama sekali berbeda dengan Arterio. Kisah ini seperti Romeo Juliet era distopia yang terjadi di Sunda masa lampau. Sangsaka dan Kalinda yang berasal dari dua suku berbeda saling jatuh cinta. Mereka bertekad untuk melakukan Ritus Angkara yang akan menjadikan mereka Majava di Sarongge. Tetapi kisah ini ternyata bukan sekadar kisah kasih terlarang yang tak sampai, tapi juga melibatkan intrik berusia setengah abad, perang antar suku, pengkhianatan, dan juga tentang murninya cinta dan juga ikatan kekeluargaan.

Bagian awal Majava sangat lambat, mungkin karena penulis hendak memperkenalkan bangun dunia dari kisah Majava yang bersetting di Lembah Sarongge. Tidak dijelaskan di mana lembah ini berada, juga kapan setting waktu terjadinya kisah. Jika Arterio agak mirip Divergent, maka Majava mengingatkan saya pada The Maze Runner. Warga Sarongge terkurung dalam sebuah lembah tertutup yang dikelilingi tebing batu tinggi nan curam. Mustahil memanjat dinding batu cadas itu sehingga selamanya mereka seperti terkurung di sana. Apa yang ada di luar Lembah Sarongge juga tidak dijelaskan. Ini seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi sama penulis. Tetapi, mari kita tunggu saja di tulisan selanjutnya. Siapa tahu ada kaitan besar antara Lembah Sarongge dengan Sekolah Nimbel.

Meski alur lambat, detail novel ini layak mendapat acungan jempol. Dengan pelan namun mengalir, penulis mengajak pembaca mengikuti kisah cinta terlarang Sangsaka dan Kalinda. Bagaimana keduanya jatuh cinta dan memutuskan mempertahankan cintanya dikisahkan dengan setting kehidupan masyarakat di kedua suku dengan begitu detail. Lengkap dari sistem kepercayaannya, bagaimana kedua suku mencari nafkah, berbagai festival yang diadakan, ciri khas kedua suku, pemerintahan dengan sistem perwakilan yang dipegang Tarum, dan masih banyak lagi. Elemen Sunda sebagai latar budaya si penulis bisa dilihat pada banyaknya diksi bahasa Sunda yang digunakan. Tingkah laku kedua suku juga sepertinya "Sunda" banget, halusssss pisan. 

Lalu mengapa Majava? Mungkinkan pernikahan terlarang antara anggota Vanartara dan Varsha terinpsirasi oleh sebuah mitos di pulau Jawa: tentang pantangan menikah antara suku Jawa dan suku Sunda. Konon, jika ada pria Jawa yang menikahi gadis Sunda (atau sebaliknya?) maka pernikahannya tidak akan langgeng dan banyak konflik. Benarkah Majava melambangkan mitos ini? Jika memang benar demikian, apakah Lembah Sarongge itu pulau Jawa? Entahlah, mari kita tunggu konfirmasi dari penulisnya.

Ditulis dengan sangat detail, dengan diksi dan aroma budaya Sunda yang kental dan world building yang begitu terperinci. Alur lambat tetapi memikat karena memang mas Aji nulisnya ngalir banget, selancar aliran Sungai Kanuha. Menyelesaikan membaca Majava menghadirkan perasaan dingin namun sejuk seperti ketika kita tengah memandang lembah luas Sarongge dari salah satu tingkat Bale Undagian. Sebuah kelanjutan yang menyegarkan dari Arterio. 



Mari Lebih Mencintai Dirimu Sendiri bersama Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Judul: Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Penyusun: Geulbaewoo

Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani

Paperback, 248 pages

Published June 2021 by Penerbit Haru

ISBN 139786237351719



"Tidak ada bunga yang tak bergoyang saat angin bertiup.

Meski begitu, bunga yang bergoyang tidak akan kehilangan aromanya.


Kuharap kita bisa menjadi orang yg tidak kehilangan aromanya

meskipun kita terguncang oleh berbagai masalah dalam hidup kita." (hlm. 83)


Tumbuh bersama buku-buku motivasi abad ke-20 dengan teks padat dan cenderung tebal, saya jadi agak kagok membaca buku motivasi dari Korea ini. Bukan hanya cara penulisannya yang seperti bait-bait puisi (tapi di keterangannya esai) tapi juga cara penulis "menggurui" pembaca lewat teknik yang kelewat akrab. Disajikan dengan bahasa yang lembut serta dekat dengan anak anak muda dan milenial, buku ini ibarat versi ringkas dan puitis dari buku-buku motivasi yg sudah terlebih dulu hadir.

Pertama, ia mengisahkan cerita hidupnya yg beberapa kali gagal dalam upayanya mengapai impian, lalu dia insyap dan menyadari kalau kegagalan bukan berarti dirinya (dan dirimu) buruk tetapi sebuah proses dalam menemukan apa yang kita suka dan hidup darinya. Kemudian, kita diminta untuk lebih mencintai diri kita sendiri karena keberadaan kita ini sungguh sebuah berkah. Bahkan tanpa bakat yang hebat, wajah yang menawan, ilmu yang tinggi, atau uang yang melimpah; adanya kita adalah sesuatu yang luar biasa berharga. Cintai dirimu sendiri karena orang lain mungkin hanya peduli sebentar, tetapi dirimu sendiri adalah yang paling peduli dengan dirimu sendiri. Sebelum mencintai orang lain, cintailah dirimu dulu.

Bagian kedua tentang mencintai orang lain. Tulisan di bagian ini menyorot tentang hubungan antar manusia dan segala pelik yang menyertainya. Bagaimana memilih pasangan yang tepat, bagaimana bersikap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dalam mencari kebahagiaan, bagaimana cuek dengan omongan miring orang, bagaimana mencintai yang benar, juga bagaimana mencintai orang yang saat ini kayaknya hanya ghosting atau nggak cinta balik sama kita. Bagian kedua ini cocok banget buat pembaca usia muda dan dewasa muda yang memang banyak mengalami masalah rumit dalam hal hubungan asmara.

Saya agak kaget dengan cara penulis yang langsung menyapa pembaca dengan kamu, juga bagaimana dia langsung mendikte kamu harus begini dan begitu. Tapi setelah sampai halaman tengah, kok malah nggak kerasa seperti didikte ya, malah kesannya kayak sedang diajak ngobrol sama penulis dan kita curhat kepadanya lalu si penulis memberi banyak petuah. Pesan yang disampaikan pun sebenarnya general dan telah banyak dibahas di buku-buku motivasi lain, tapi cara penyampaiannya yang menggunakan bait-bait pendek bikin pembaca langsung bisa relate ke inti masalah tanpa harus membaca begitu banyak tulisan. Kesannya memang kayak jadi melompat-lompat, tetapi pembaca milenial dan di bawahnya sepertinya sudah terbiasa menangkap keteraturan dalam sesuatu yang acak kayak di buku ini.

Nampol quotes: Semakin sering dilakukan, semakin jago melakukan. Semakin sering merasa khawatir, semakin kuat kekhawatiran itu.

Hanya dengan terlebih dulu menerima dan mencintai dirimu sendiri, barulah kita bisa memberikan cinta secara plong kepada orang lain dan juga kepada dunia. 


Monday, August 30, 2021

Bermain dengan Bahasa dalam Celetuk Bahasa 1, 2, dan 3

 Judul: Celetuk Bahasa 1, 2, dan 3

Penyusun: Uu Suhardi

Cetakan: 2017, 2018, dan 2019

Penerbit: Tempo Publishing

Dibaca di Ipusnas



Belajar bahasa selalu menyenangkan bagi seorang pembaca. Tetapi kadang bahasa bisa menjadi sedemikian rumitnya ketika ia berubah menjadi "harus baik dan benar." Bahasa yang harusnya praktis menjadi terasa penuh teori sebagaimana materi sains. Tulisan tentang bahasa seharusnya dibuat tidak rumit dan sederhana sehingga mudah diterapkannya, bukan melulu mengurui dan terkesan terlampau tegas bahwa ini harus begini karena tidak boleh begitu. Perlu kearifan tersendiri dalam pengajaran bahasa karena bahasa sejatinya sesuatu yang luwes. Seri buku Celetuk Bahasa ini salah satu contoh buku pengajaran bahasa yang luwes tetapi tetap tertib.

Ini buku sederhana namun bagus, bisa dibaca sambil lalu tapi isinya cukup bergizi. Walau bahasanya agak sedikit menggurui, (jangan gunakan kata "namun" di sini) buku ini terasa menyenangkan sekaligus mengenyangkan saat dibaca. Satu halaman hanya berisi satu-dua kalimat tentang kesalahan atau kebenaran dalam bahasa Indonesia. Misalnya saja, kita bisa menemukan mengapa air bening yang sudah direbus disebut air putih (sekaligus buat menjawab candaan jayus bahwa air putih itu harusnya air susu). Juga, kata Alah dan bisa pada peribahasa 'Alah bisa karena biasa' ternyata bermakna 'kalah' dan 'racun.'

Bahkan, bergelut dengan naskah selama bertahun-tahun pun saya masih perlu diingatkan akan hal-hal kecil tapi penting ini: kaus, saus, kedaluarsa, Prancis, prangko, cindera mata. Juga, nyinyir ternyata berarti mengulangi kata-kata yang sama. Tetapi bahasa itu memang sifatnya luwes, dinamis, dan arbiter (sesuai kesepakatan bersama). Suatu saat, bisa jadi berubah lagi.

Istimewanya lagi, buku pertama dan kedua bisa dibaca gratis di Ipusnas dan--percayalah--ada begitu banyak pengetahuan bahasa yang bisa dipetik di dalamnya. Penulisnya juga sudah tepercaya (bukan terpercaya loh) karena beliau anggota staf redaksi Tempo (bukan 'beliau staf redaksi Tempo').

Satu hal menarik, ternyata ungkapan "HUT RI yang ke-75" dan "HUT ke-75 RI" itu sama-sama benar secara makna. Yang pertama mengandaikan bahwa RI ada 75 buah dan yang kedua mengandaikan bahwa RI ada 75 dan semuanya sama-sama berulang tahun hari ini. Mumet kan? Jadi lebih amannya mungkin: Selamat Hari Ulang Tahun yang ke-75 untuk Republik Indonesia. Atau, Dirgahayu Republik Indonesia.

Kata ini juga agak riskan dan mungkin sering terselip lidah saat diucapkan: bernegosiasi, bukan bernegoisasi. Juga, bukan "hampir sebagian besar", cukup gunakan 'sebagian besar' saja atau bisa juga 'hampir semua.' Keduanya memiliki makna yang sama.

Ketiga seri buku ini memuat remeh-remeh penting (loh, remeh kok penting?) dalam menggunakan bahasa Indonesia. Seperti misalnya kata-kata lewah (mubazir), gejala " perusakan bahasa" dalam tetiba (dari tiba-tiba) dan gegara (gara-gara), fenomena penyingkatan bahasa dalam seolah dan seakan (yang darinya seolah-olah dan seakan-akan), dan hal-hal kecil yang sering salah tik (bukan salah ketik). Penting dibaca oleh editor, penulis, mahasiswa, pecinta bahasa. Penulisannya juga pendek-pendek serta tidak membosankan sehingga gampang diingat. 

Ayo dibaca mumpung gratis di aplikasi Ipusnas. 

Monday, August 16, 2021

Pustaka Alam Life Evolusi; Buku dalam Ensiklopedi

Judul: Evolusi (Seri Pustaka Alam Life)

Penyusun: Ruth E. Moore dan Tim Editor

Tebal: 200 hlm

Penerbit: Tira Pustaka

Cetakan: Kedua, 1982


Sebagai sebuah buku ensiklopedi ilmu pengetahuan, buku terbitan tahun 1979 (cetul 1982) ini tentu sudah tidak up to date lagi. Dalam rentang masa hampir 40 tahun semenjak terbit, tentu sudah muncul banyak penemuan dan informasi baru terkait evolusi. Tetapi selebihnya, buku ini ditulis dengan bagus, diterjemahkan dengan baik sekali, dan dilengkapi ilustrasi serta foto-foto ala National Geographic. Penggarapannya yang serius bisa dilihat pada barisan buku referensi di bagian daftar pustaka. Proses penerjemahannya pun berkonsultasi dengan para dokter ahli. Format hard cover dengan jilid yang kuat, sampai puluhan tahun buku ini masih bertahan dan tidak lepas jilidnya. Buku-buku ensiklopedi terbitan lama memang digarap dengan maksimal.

Saya suka dengan terjemahannya yang minim sekali menyerap kata asing. Semua fauna dan flora diterjemahkan atau diusahakan dicarikan padanannya dalam versi bahasa Indonesianya, dan itu kenangan banget (bengkarung, kaktus pir, burung peniru, angsa batu, prenjak, burung punjung, dan ercis). Mengingatkan saya pada buku-buku tahun 80-an yang tidak terbeli tapi hanya bisa meminjamnya secara antri di taman bacaan tahun 1990an. Senang sekali bisa mengumpulkan dan memilikinya sekarang. Harganya juga lumayan murah di loka pasar, antara Rp20.000 sampai Rp100.000 tergantung kondisi buku (dan penjualnya).

Terkait evolusi, ada satu nama yang langsung muncul di benak saya: Charles Darwin. Bagian awal buku ini mengisahkan ulang bagaimana Darwin sampai pada penciptaan teori evolusi mulai dari masa mudanya hingga ekspedisinya ke Kepulauan Galapagos. Dari buku ini saya tahu kalau Alfred Russel Wallace juga telah menghasilkan simpulan yang sama dengan Darwin setelah ekspedisinya ke Kepulauan Nusantara. Dikisahkan, Wallace duluan yang menemukan teori ini dan Darwin mengakuinya, tetapi keduanya bersahabat jadi ya begitulah.

Salah satu yang menarik adalah bab tentang pewarisan gen. Pembahasan tentang Gregor Johann Mendel dalam uji cobanya menggunakan biji ercis sungguh luar biasa. Ketekunan dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan ternyata tidak berbalas. Dunia baru mengetahui betapa pentingnya temuan Mendel belasan tahun setelah beliau wafat. Dituturkan dengan bahasa yang nyaris seperti bercerita, membuat kisah orang hebat ini lebih mudah diikuti. Saya malah lebih paham setelah baca ini ketimbang pas baca materi tentang genetika ini di SMA dulu. Andai buku-buku ensiklopedi seperti ini bisa lebih banyak dijangkau pembaca Indonesia, pasti akan lebih banyak ilmuwan lahir dari negeri ini.

Sepertinya harus mulai mengumpulkan seri Pustaka Alam edisi LIFE ini lagi, untuk kepentingan menimbun, eh koleksi tentu saja. 

Terbuai Cinta di Tempat Paling Liar di Muka Bumi

Judul : Tempat Paling Liar di Muka Bumi

Pengarang : Theoresia Rumthe & Weslly Johannes

Tebal: 104 hlm

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Pertama, 2016


Puisi-puisi cinta yang bermegah kata sempat menguasai jagad perpuisian di negeri ini. Salah satu pionernya adalah pembacaan Kahlil Gibran yang marak di awal tahun 2000. Tidak heran jika puisi-puisi yang muncul di era setelahnya, terutama puisi yang dibikin awam, memiliki corak yang megah kata bingung makna. Kata-katanya tinggi dan cantik, tetapi serasa kosong karena terlihat berlebihan. Buku ini juga bercinta-cintaan, kata-katanya manis, tetapi entah kenapa kok tidak terasa lebai atau berlebihan.


Perempuan dan gelisah,

layaknya lautan biru

kalau kau berdiri di pantai dan bertanya tentang rindu

maka ia akan memberimu satu ombak

untuk menghapus jejak kaki

dan menyiapkan seribu lainnya

supaya engkau terus kembali”

-W, perempuan dan gelisah

Dulu banget, pernah salah mengira buku ini buku non-fiksi tentang alam liar, atau kisah perjalanan di Alaska dan semacam itu. Setelah membuka halaman-halamannya, barulah saya tau bahwa tempat paling liar di muka Bumi adalah dirimu, di dalammu. Sebuah kisah cinta yang dipuisikan oleh dua penulisnya, digambarkan dengan bagus sekali dalam pembuka buku ini: 

"aku ingin bercinta denganmu

dan melahirkan banyak puisi."

Dan sepertinya keinginan itu terkabul dalam puluhan halaman buku ini. Bertabur puisi yang tidak hanya manis tetapi juga realistis. Ya, meski aneka kisah cinta dalam dongeng itu begitu uwu, tetapi kisah yang bertahan di dunia realita adalah cinta yang realistis. Dan inilah yg sepertinya hendak diangkat kedua penyair ini. Semisal tentang jarak, betapa jarak itu perlu tetapi tidak terlalu jauhnya sehingga menyebabkan rindu menjadi kaku karena lama tidak bertemu.

"ingat, jarak baik untuk kesehatan jiwa." (hlm. 71) tetapi LDR yang kepanjangan akan mengacaukan jiwa dan raga, karena "bagaimana mungkin kata dapat menggantikan mata, ciuman-ciuman, dan hangat badan seorang kekasih." (hlm. 84).

Dan wahai para pecinta yang dirundung rindu, pernahkan rindu itu dipuisikan dengan manis tapi tidak klise seperti puisi ini:

"Rindu ini membuatku gerah,

Aku ingin mandi

Dari semua puisi hujan

Yang kautulis."

Maka yang terbaik adalah jatuh cintalah dengan biasa tetapi rayakan dengan semeriah-meriahnya. Caranya ada di halaman 86 buku ini: "tidak ada jalan, selain menjadi diri mereka sendiri dan mencintai tanpa permisi." Lalu nikmatilah.

Karena "yang berdosa itu, ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya."

Mari kita sudahi keindahan ini dengan puisi pamungkas nan sarat makna ini:

"Semoga kita bertemu di sebuah waktu

D mana semua lebih natural dan sederhana.

Sesungguhnya Tuhan itu pecinta.

Ia lebih paham."


NB: Tulisan yang miring atau italic adalah kutipan-kutipan puisi dalam buku ini. 

Ngakak sambil Kesel baca Kelakukan Politikus dalam Humor Politik Indonesia

Humor politik indonesia

Zaenuddin HM

Paperback, 254 pages

Published September 2003 oleh Pustaka Sinar Harapan

ISBN9794167932


Mengalami masa muda dan mencoblos pertama di tahun 2000an awal membuat saya akrab dengan guyonan politik di buku ini. Kala itu, Orde Baru dan Pak Harto baru saja jatuh, seluruh negeri larut dalam euforia kemenangan yang setelah dipikir lagi ternyata hanya sebatas euforia karena yang ganti hanya politikusnya, tapi tidak kelakuannya. Korupsi terutama, masih berjalan dan birokrasi tidak jauh berbeda dengan orde sebelumnya (untungnya sudah ada peningkatan yg cukup mencolok sejak 2010 ke atas dalam keteraturan berpolitik). Tetapi kala itu media sosial belum hadir sebagai wahana menyampai aspirasi sehingga orang hanya bisa berpolitik lewat media massa.

Media massa pada 2000 hingga 2005 menjadi puncak kebebasan berekspresi di Indonesia. Saya masih ingat kala itu anak anak SMA bisa dengan mudah membeli majalah semi panas di lapak majalah pinggir jalan. Kebebasan berekspresi ini juga muncul dalam ranah politik, ketika wartawan, tokoh, budayawan dan siapa pun dengan lancarnya melontarkan kritik yang begitu bebasnya kepada para politikus kala itu. Tiga pejabat yg paling sering mendapat sorotan adalah Megawati, Amin Rais, dan juga Gua Dur. Membaca humor di buku yang terbit tahun 2003 ini, mereka yg berpolitik di tahun 2015 ke atas mungkin akan geleng geleng time line melihat begitu lepasnya penulis mengkritik para politisi. Lepas banget pokoknya.

Politik adalah dunia yang keras. Dunia yang akrab dengan kepentingan dan kawan jadi lawan, lawan jadi kawan. Mengkritik politisi kadang malah berakhir di bui, tetapi karena saat itu yg melancarkan kritik rata-rata kalo nggak wartawan ya tokoh ternama (yang mungkin dekat dengan dunia politik bahkan kenal baik orangnya) sehingga yang dikiritik pun mungkin sudah maklum. Apalgi jika di belakangnya ada embel embel hahaha atau cengengesan, atau kalau bahasa anak zaman sekarang: Canda, cengengesan. Kasusnya mungkin berbeda kalau humor humor ini dilontarkan sekarang di media massa.

Buku ini berisi 196 cerita humor di dunia politik tetapi hanya dari era itu. Tokoh yang dihumorkan yakni Pak Harto, Tommy Suharto, Akbar Tanjung, Megawati, Amin Rais, dan Gus Dur. Banyak humor yang jayus sih alias Oldies, tapi saya salut sama kepiawaian penulis yang mengumpulkan, membikin, dan mengarang ratusan humor ini. Walau tidak orisinal tetapi kerja penulis tampak nyata di buku ini. tidak sekadar kopas tetapi ada upaya 'menulis humor lama dengan gaya baru.' Melihat latar belakangnya yang wartawan, tidak heran jika tulisan di buku ini begitu mengalir dan rapi. Jelas kalau penulisnya orang yang benar kompeten di bidang pekerjaannya.

Humor favorit: apa perbeedaan menelpon operator dan menelepon politisi?

Menelpon Operator: Maaf, mohon hubungi kembali beberapa saat lagi.

Menelpon politisi: Maaf, mohon hubungi kembali beberapa TAHUN lagi.

Gambaran Dunia Remaja Pelosok yang Realistis dalam Novel Minoel

Judul: Minoel

Pengarang: Ken Terate

Tebal: 272 halaman

Cetakan: 1, 2015

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Kalau ada novel bagus yang menjadi kurang populer karena sampulnya yang enggak banget, Minoel ini salah satunya. Walau Ken Terate kita semua sudah tahu tulisan-tulisan kerennya, sampul Minoel (apalagi cetakan pertama) ini sungguh terlalu teenlit dan maaf alay. Terbukti banyak ulasan yang menyebut "tertipu sampulnya" atau "kelewat karena sampulnya yang kok gitu." Kali ini pembaca tidak tertipu oleh sampul yang bagus isi yang rata-rata, tetapi sebaliknya: isi bagus tertutupi oleh sampul yang ngga cocok sama sekali. Minoel memang sebuah novel teenlit, tetapi Minoel sangat berbeda dengan kebanyakan novel sejenis. Minoel tidak menjual mimpi romantis ala remaja kekinian dengan segala pretise yang mereka miliki. Minoel bahkan harus menjual mimpinya menjadi wanita yang mandiri karena tekanan sosial di sekelilingnya, juga karena cinta. 

Minoel adalah seorang gadis cerdas dengan sedikit memiliki kekurangan fisik  yang tinggal di pelosok Gunung Kidul. Novel ini menggambarkan dengan realitis sekali bagaimana gadis-gadis muda di banyak pelosok negeri ini masih dianggap tidak perlu sekolah, tidak pelu pintar-pintar amat, tidak perlu kuliah, cukup sekolah sampai SMA atau SMK saja (bahkan ada yang lulusan SMP) karena ujung-ujungnya hanya bakal menjadi istri orang. Proses sekolah - lulus - kerja - menikah ini bisa dijumpai terutama di kawasan-kawasan pedesaan. Faktor ekonomi dan pola pikir yang kurang maju, ditambah realita yang ada membuat lingkaran ketertinggalan yang harus dialami para gadis muda di pelosok ini terus berputar. 

Kembali ke Minoel, meski keluarganya dari kalangan biasa tapi gadis itu memiliki pola pikir yang maju. Dia ingin keluar dari lingkaran ketertinggalan sekaligus menjadi gadis maju yang mandiri. Minoel pengen kuliah dan bekerja. Kegigihannya sedikit demi sedikit mampu mengangkat derajatnya. Meskipun lemah di pelajaran, Minoel punya kelebihan di tarik suara. Dengan kelebihan inilah Minoel bisa mulai mengumpulkan uang untuk ditabung sebagai biaya masa depannya. Minoel mungkin bisa berhasil keluar dari tekanan sosial, tetapi sayangnya dia kalah oleh satu hal yang rawan menjerumuskan remaja: CINTA.

Minoel bertemu dengan si Akang, cowok yang katanya jatuh cinta kepada gadis itu. Dengan kekurangan fisiknya, Minoel sadar bahwa dia tidak mungkin bisa mendapatkan kehidupan cinta penuh romansa ala-ala remaja pada umumnya. Makanya, kehadiran Akang ibarat keajaiban yang mendobrak kekurangannya. Akhirnya ada cowok yang mau pacaran sama Minoel. Akhirnya dia punya pacar. Dan punya pacar ini adalah sungguh sebuah prestise yang dapat mengangkat "derajat pergaulan" remaja-remaja seusia Minoel. Kadang, mereka tak peduli apakah pacarnya itu beneran cinta atau hanya mau memanfaatkannya. Bagi mereka, bisa punya pacar saja sudah pencapaian liar biasa. Perkara pacarnya bagaimana, itu urusan entah keberapa sekian. Bucin is number one. 

Pengen ngamuk lihat bucinnya Minoel sama Akang. Bucin yang udah kebablasan tingkat akoet hingga Minoel pun tetap diam saja meskipun pacaran mereka sudah melibatkan kekerasan. Pengen bilang sukurin ke Minoel yang ngeyel, tapi saya tidak bisa. Benar kata pujangga, cinta membikin kita mabuk kepayang sehingga hilang semua logika. Karena itu, saya tidak bisa menyalahkan Minoel begitu saja. Minoel adalah sebagian kita yang di masa-masa ABG dulu pernah merasakan pentingnya punya pacar agar eksis. 

Saya berulang kali bertanya apa alasan Minoel mempertahankan pacarnya yg posesif dan kasar itu, tetapi dengan telak Minoel menjawab pertanyaan ini: Pernahkah kau memiliki orang yang mau bersamamu, mencintaimu, dekat denganmu sementara sebagian besar orang lain akan menjauhimu karena kekurangan dirimu. Keberadaan orang itu akan melengkapimu, membuatmu merasa normal dan penuh, meskipun kamu harus menanggung kerugian dan bahkan luka atau terancam nyawanya. 

Cinta memang kadang semengerikan itu, apa pun ditanggung asal tidak putus dengannya. Dan ngerinya lagi, ketika pasangannya ternyata model si Akang yang hanya memanfaatkan sisi lemah dari orang orang pinggiran seperti Minoel. 

Novel ini realistis sekali, karena saya pernah menjumpai kasus yang mirip. Dan ternyata banyak, ketika si cewek begitu takluk sama cowoknya dan rela memberikan apa saja asal dia tidak diputus cowoknya. Kasus Minoel makin parah karena dia masih berusia SMA yang di daerah daerah pinggiran. tahu sendiri, pacaran berarti eksistensi dan lambang pengakuan. Jadi, janganlah kita salahkan Minoel karena bucinnya, tapi salahkan pacarnya yg ringan tangan. Minoel hanya sial karena dapat pacar seperti Akang. Kesetiaan dan ketulusannya pun disalahgunakan.

Novel remaja yang bagus banget, teenlit tapi mengusung tema yang sangat penting dan harus dibaca oleh lebih banyak lagi anak-anak muda.

Saya paling suka sama ini: "Memangnya kalau Agnes Monica patah hati lalu dia berhenti bernyanyi?" yang secara implisit mendorong para remaja untuk tetap teguh mengejar impian dan tidak terganggu oleh gejolak romansa masa muda.