Search This Blog

Monday, October 7, 2019

Kata yang Rapuh, Rupa-Rupa Catatan Berbahasa Kita

Judul: Kata yang Rapuh
Penyusun: 
Sampul: Ferdika
Tebal: 182 hlm
Cetakan: September 2019
Penerbit: DIVA Press



Buku ini memuat puluhan artikel pendek dengan berbagai tema, tetapi semuanya tentang fenomena penggunaan bahasa secara umum dan juga tentang bahasa Indonesia. Meskipun artikelnya pendek, pembahasannya menurut saya lumayan berat untuk pembaca awam. Tulisan karya Ahmad Sahidah ini sebelumnya diterbitkan sebagai artikel pendek di media massa (paling banyak di Majalah Tempo) sehingga wajar kalau bahasanya cenderung "berat" dan tinggi sesuai standar yang melekat pada majalah bergensi itu.

Ada beberapa artikel yang kurang up to date, dan ternyata memang artikel itu ditulis tahun 2010 sehingga kondisinya mungkin akan jauh berbeda dengan kondisi sekarang (buku ini terbit tahun 2019). Misalnya saja tentang lema unggah (untuk up load) dan unduh (untuk download). Tetapi saya setuju dengan bab "Silang Sengkarut Aksara Twitter" bahwa Twitter adalah pengicau. Pemilik akun bisa sesuka hait berkicau. Walau harus diupayakan juga "mapan papan mapan panggonan" alias berbicara sesuai kepakarannya.

Yang Tersisih dari Celana: Bulu Matamu, Padang Ilalang

Judul: Bulu Matamu, Padang Ilalang
Penyair: Joko Pinurbo
Tebal: 61 hlm
Sampul: Suku Tangan
Cetakan: Oktober 2019
Penebrit: DIVA Press



Buku "Bulu Matamu : Padang Ilalang" adalah Joko Pinurbo sebelum "Celana". Sebelum diterbitkan DIVA Press, buku ini ternyata sudah pernah diterbitkan oleh Motion Publishing pada tahun 2014. Kok nggak kedengeran ya bukunya? Apa karena diterbitkan oleh penerbit minor sehingga kurang promosi? Bisa jadi sih, tapi ini kan Jokpin! Masak buku Jokpin kok nggak digeber promosinya. Rugi dong. 

Atau, mungkin karena puisi-puisi di buku ini memang--menurut pandangan saya--tidak atau belum semegah puisi-puisi Jokpin yang lain? Dalam pengantar di buku ini, Jokpin memang menyebut puisi-puisi dalam buku ini sebagai puisi-puisi yang ditemukan ketika beliau sedang menyortir dan mengarsipkan puisi-puisi untuk buku Celana. Bisa diibaratkan, puisi di buku ini adalah apa-apa yang tersisihkan dari buku tersebut. 

Puisi di buku ini kebanyakan ditulis antara tahun 1980 - 1996. Kemungkinan, Jokpin mengirimkannya ke koran minggu atau majalah sastra. Buku ini sekaligus bisa menjadi dokumentasi hasil karya sang penyair yang tak kenal berhenti berpuisi sejak awal tahun 1980-an. Bukti bahwa Jokpin memang benar-benar tekun beribadah di jalan puisi. Mengamati puisi-puisi di buku ini, kita juga bisa membandingkannya dengan puisi-puisi beliau yang terkini.

Bagi pembaca setia Jokpin, akan langsung terlihat bedanya--walaupun mungkin samar. Memang, kekhasan puisi-puisi Jokpin yang biasanya ringkas, pendek, dan menohok kurang begitu tampak di sini. Puisi-puisinya cenderung memanjang, walau tetap bercerita, serta masih mempertahankan kekuatan rimanya yang khas Jokpin, yakni bunyi /u/ atau /n/ yang entah bagaimana membawa nuansa muram. 

Rima dan "bercerita" sepertinya masih jadi andalah Jokpin dalam berpuisi. Ada tiga puisi panjang di buku ini yang memiliki bentukan semacam bab-bab dalam novel, yakni "Membaca Koran Pagi", "Kisah Isma", dan "Perginya Zarah". Puisi "Membaca Koran Pagi" tampaknya yang paling banyak mendapat aplaus karena baris-barisnya yang seperti bernyanyi: "seperti puisi, ibu tersenyum menghangatkan pagi / Kami biarkan koran mengoceh sendiri." (hlm. 46)


Saya sendiri paling suka sama puisi "Layang-Layang" ini:

Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.
Namun kutemukan juga layang-layang itu
di sebuah dahan meskipun tanpa benang
dan tinggal robekan. Aku ingin
berteduh di bawah pohon yang rindang.

Idola memang penyair yang satu ini.

Sebagai tambahan, sampul buku puisi ini akan terlihat sangat indah ketika diamati dari dekat, seperti saat kita memandang bulu mata. Kertasnya juga tebal dan bagus, cocok untuk dikoleksi di lemari sastrawi atau dibacakan keras-keras di depan kelas. 

Thursday, October 3, 2019

Yuk Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira

Judul: berbahasa indonesia dengan logis dan gembira
Penyusun: Iqbal Aji Daryono
Tebal: 296 hlm
Cetakan: 1, September 2019
Penerbit: DIVA Press



Sampul buku ini terkesan sangat sederhana. Dengan warna kuning polos dan barisan kata-kata dasar. sangat simpel. Namun, muatan buku ini ternyata sangat beragam. Sederhana tetapi ternyata rumit, ibarat bahasa Indonesia. Dulu, kita (termasuk saya) cenderung meremehkan mata pelajaran bahasa Indonesia. Menganggapnya sebagai mata pelajaran yang paling mudah. Saya masih ingat obrolan dengan teman saat SMA dulu: "Besok jadwal ujiannya apa? | Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. | Gue mau belajar bahasa Inggris saja. Bahasa Indonesia gampanglah." Benarkah bahasa Indonesia itu mudah? 

Walau sering digampangkan, ternyata jarang ada yang bisa meraih nilai sempurna dalam ujian bahasa Indonesia. Kenapa? Apakah bahasa Indonesia memang sesulit itu? Nyatanya, bahasa Indonesia memang tidak semudah yang kita sangkakan. Begitu banyak fenomena kebahasaan yang dibahas Mas Iqbal di buku ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia itu cukup pelik. Membaca buku ini, saya kembali sadar sejatinya saya memang masih belum mampu sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Lalu, bagaimana solusinya? Ya kita belajar dong bahasa Indonesia lagi dong ya.

Masalahnya, buku materi berbahasa Indonesia termasuk buku yang paling "kaku" ketimbang buku-buku lain. Kini kita sudah sering melihat buku-buku berat tapi dituliskan dengan tidak berat. Dan buku-buku seperti ini sempat laris di pasaran. Misalnya saja, kita masih ingat buku-buku semacam "Sains itu Seru, Filsafat untuk Milenial, Komik Sejarah, atau Gaul tapi Syari". Bagaimana dengan buku tentang bahasa Indonesia. Sayangnya, buku-buku untuk belajar bahasa Indonesia masih didominasi oleh judul-judul lurus semacam "Kompas Bahasa Indonesia" , 111 Kolom Bahasa Kompasatau "Inilah bahasa Indonesia yang Benar". Buku-buku ini--jujur--penyampaian materinya lebih menyerupai teks kuliah ketimbang bacaan awam buat kaum kiwari. 

Friday, September 20, 2019

Cinta Segi Empat di Rumah Gema

Judul: Rumah Gema
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah:
Tebal: 401 hlm
Cetakan: 1993
Penerbit: Gramedia 




Membaca blurb buku-buku Agatha Christie selalu memunculkan rasa penarasan. Nuansa seram karena sebuah peristiwa pembunuhan, sekaligus mengundang pembaca untuk ikut menjadi "saksi" penuntasan misteri sebuah kasus.

***
Hercule Poirot merasa kesal dan jemu. Kematian sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Tapi di sini mereka malah menggodanya dengan menyajikan suatu adegan pembunuhan. Di tepi kolam, sesosok tubuh digeletakkan secara artistik, lengannya terentang. Bahkan ada cat merah menetes-netes. Sosok itu sangat tampan. Beberapa orang berdiri mengelilinginya dalam pose-pose yang aneh. Semuanya sangat tidak profesional.


Namun sekonyong-konyong Poirot menyadari bahwa adegan ini amat nyata. Begitu nyata, hingga membuatnya tersentak bagai dihantam palu godam. Cairan yang menetes itu bukan cat merah, melainkan darah.

***

Beberapa orang diundang untuk menghabiskan libur akhir pekan di Puri The Hollow di pinggiran London. Kebanyakan adalah sanak keluarga Angkatell. Selain suami istri tuan rumah, ada juga pasangan Dr. John Christow dan istrinya, muda-mudi Edward, David, Henrietta, serta Midge. Juga seorang bintang Hollywood bernama Veronica. Malam Sabtu, acara perjamuan berjalan dengan lancar. Semua orang menikmati hidangan walaupun beberapa merasa terpaksa menikmati karena "keharusan". Hingga tiba-tiba muncul sosok Veronica yang ternyata memiliki "masa lalu" dengan Dr. John Christow yang tampan. Kejutan muncul lagi penghujung malam, ketika sesosok pria ditemukan tewas bersimbah darah di kolam renang komplek The Hollow, dan Hercule Poirot turut menjadi saksi pembunuhan kali ini. 

Tidak seperti di buku lain, karakter-karakter di buku ini menurut saya jauh lebih menarik ketimbang alurnya. Tidak heran jika Poirot hanya dimunculkan mulai di bagian tengah. Mungkin, penulis ingin memberikan sorotan lebih kepada para karakternya. Rumah Gema termasuk tebal untuk ukuran buku-buku Agatha Christie, total halamannya mencapai 401 (bacanya lama euy, hampir seminggu). Sengaja pilih buku ini untuk "Agatha Christie readathon-nya @selselkelabu" karena selain belum baca, bukunya jadul gila (terbit 1993, harga masih Rp7.000  wkwkwk), juga karena ada Hercule Poirotnya. Gara-gara racun dari mbak Ajjah yang bilang kalau Poirot lebih oke segala-segala daripada Holmes, saya jadi penasaran sama orang Belgia ini. 

Monday, September 2, 2019

BlogTour and Giveaway Winner: Pirgi dan Misota

Judul: Pirgi dan Misota
Pengarang: Yetti A.KA
Editor: Addin Negara
Tebal: 132 hlm
Cetakan: 1, September 2019
Penerbit: DIVA Press



"Sampai kapan kau akan melakukannya?"
"Membeli buku?"
"Ya. Kau sudah terlalu banyak membelinya."
"Aku seorang penulis." (hlm. 35)

***

Pirgi, seorang mahasiswi berusia 22 tahun jatuh cinta kepada Nodee, seorang penulis novel berusia 45 tahun (hampir sepantaran dengan usia ayah Pirgi sendiri). Sekilas, tidak ada yang menarik dari sosok lelaki itu: tua, wajah layu karena kurang tidur, tidak perhatian, novel karyanya nggak ada yang laris di pasaran pula. Hanya saja, Nodee ini memiliki semacam aura misterius dan sok cool ala penulis yang sering menjerat wanita-wanita unik seperti Pirgi untuk jatuh cinta ke orang yang salah. Lagi pula, pria itu juga sering menyuruh Pirgi melakukan hal-hal yang aneh: mendadak mengajak bercinta, dan setelahnya meminta berpisah, dan--puncaknya--meminta Pirgi untuk menjadi sebatang jamur.

"... satu-satunya yang tak mampu kau lawan adalah perasaanmu sendiri" (hlm. 91)

Ibunya sudah berulang kali mengingatkan Pirgi untuk memilih pria lain yang lebih muda, lebih sepantaran, lebih mapan, dan setidaknya lebih normal. Nodee ini memang memiliki arketipe penulis era abad 20 yang suka mengurung diri di kamar, tidak peduli penampilan (muka boleh berantakan tapi alur cerita jangan sampai), dan mengoleksi timbunan buku (makan boleh kekurangan, tapi timbunan buku jangan). Tapi, jika sebagian orang menganggap sosok penulis sebagai aneh, ada pula yang menganggap sosok penulis seperti itu keren karena dia indie, baunya enak (bau buku tua?), rutinitasnya berbeda dengan orang kantoran, pecinta senja, petualang larut malam dan bla-bla-bla lainnya. Buktinya, Pirgi kok mau-mau aja disuruh jadi jamur. Yah, namanya sudah bucin. Dan pada akhirnya, Pirgi dicampakkan. Entah dia penulis atau bukan, yang namanya cowok ternyata sama saja.  

"Karena itulah aku mengarang. Untuk mengeluarkan kesedihan-kesedihan." (hlm  44)

Sebagaimana kebanyakan cerpen dan novelnya, dalam buku ini penulis masih menyoroti tema yang sama: perempuan yang tertindas. Sosok pria kebanyakan digambarkan sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab, hanya memikirkan dirinya sendiri, dan dominasi patriakal yang didukung oleh adat atau kondisi sosial setempat. Nodee misalnya, adalah penulis yang tidak mau peduli apa pun selain draft novelnya. Ibaratnya, dia hanya "menggunakan" Pirgi sebatas properti, seorang istri yang merupakan salah satu properti milik suami dan bukannya parner dalam hidup. Ayah Pirgi juga digambarkan hanya peduli pada dirinya sendiri. Selama dia sudah bekerja memenuhi nafkah, ya sudah, selesai tanggung jawabnya--begitu mungkin pikirnya.

"Aku pernah percaya kalau uang bukan segalanya dalam hidup ini; bahwa kami bisa bahagia tanpa uang sepeser pun di buku rekening. Itu sebelum aku tahu hidup dengan uang sedikit itu membuat kepala seseorang berdenyut-denyut dan kehilangan gairah." (hlm. 71)

Dari novel tipis ini, kita belajar banyak tentang kompleksitas dari sesuatu yang namanya perasaan (terutama perasaan). Bahwa cinta ternyata bisa sedemikian membingungkan, sebagaimana kata Pirgi: "... aku bingung dengan perasaanku sendiri. Orang yang jatuh cinta memang begitu." (hlm. 26). Novel ini juga menyentil banyak kaum Adam yang sampai sekarang mungkin masih memperlakukan istri sekadar alat untuk memuaskan nafsu, dan bukan mitra setara dalam berumah tangga. Juga, bahwa anak tetaplah membutuhkan kasih sayang dari sosok Ayah. Sejatinya mengasuh anak adalah tanggung jawab suami dan istri, sama setaranya. Suami jangan berdalih di balik tabir "sudah mencari nafkah, urusan anak biar istri saja."  

"Seandainya aku memang sakit, bukan berarti aku tidak bisa membantu orang lain." (hlm. 117)

Anak yang kekurangan kasih sayang dari salah satu orang tua memiliki kemungkinan tumbuh njomplang alias kurang seimbang. Seperti Pirgi yang akhirnya memilih Nodee--pria yang usianya sepantaran dengan usia bapaknya--sebagai suaminya. Ketika sedang galau, dia juga lari ke Misota--seorang teman wanita yang kerja di rumah bordil--dan bukannya ke rumahnya.  Misota dia anggap lebih bisa menerima dirinya ketimbang orang tuanya sendiri. Sosok ibu yang diharapkan menjadi tempat berteduh ternyata lebih banyak berperan sebagai tukang perintah. Walau pada akhirnya, Pirgi menyadari satu fakta penting yang sayangnya sering dia abaikan selama ini. Sebuah kutipan yang sekaligus menjadi twist mengejutkan di novel tipis ini. 

"Seorang ibu tidak peduli berapa kali ia kecewa, ia tetaplah seorang ibu." (hlm. 120)

Begitulah, jangan jadikan rumah sebagai ruang penghakiman dan arena perbandingan agar tidak menjelma menjadi ajang pelarian. Ini kok malah kayak jadi ulasan buku parenting ya? wkwkwk. 


Sepanjang bulan September 2019 ini, Penerbit DIVA Press menyediakan 4 novel "Pirgi dan Misota" gratis untuk dibagikan. Salah satunya bisa didapatkan di blog Baca Biar Beken ini. 



Terima kasih saya ucapkan kepada 19 peserta blogtour "Pirgi dan Misota" pekan pertama. Berkat kalian, list dan lust saya akan kue-kue enak pun bertambah.  Plus, saya semakin bingung menentukan kue yang paling enak. Jaid, lebih aman dan adil kalau diundi saja ya. 

Berikut ini nama dan nomor undian peserta:
1. Nike
2. Hapudin
3. Hamdatun Nupus
4. Inggit R
5. Eni Lestari
6. Vaarida
7. Betty K
8. karma Cha
9. Sari Widiati
10. Story from Puyu
11. Eka S
12. GR  Ghinna
13. Chan
14. Anake Pake
15. Nur Afifah
16. rahma Dian
17. Dicto deto
18. Zam
19. Naufal


Dan, pemenangnya adalah ...


Selamat untuk Mas Naufal yang beruntung mendapatkan satu novel "Pirgi dan Misota" karya Yetti A.KA. Pemenang akan saya hubungi lewat media sosialnya. Terima kasih buat semua yang sudah ikutan. Blogtour selanjutnya bisa diikuti di blog  Mbak Ina. 

Wednesday, August 28, 2019

Kesal/Terhibur (?) dengan Alcatraz Versus The Evil Librarians #1- 5

Judul: Alcatraz Versus The Evil Librarians #1 - 5
Pengarang: Brandon Sanderson
Penerjemah: Nadya Andwiani, Dyah Agustine
Cetakan: 2017 - 2018
Penerbit: Mizan Fantasi




Ternyata, bangsa dinosaurus belum punah. Mereka bahkan berevolusi dan mendirikan kerjaan sendiri--sebagai besar dari mereka adalah para dino terpelajar!

Ternyata, pinguin beneran bisa terbang--dan err mereka terbang seperti roket!

Ternyata, Perpustakaan kuno Alexandria masih eksis, dan bahkan koleksinya terus bertambah! (termasuk tulisan label baju dan coret-coretan alay anak ABG)

Ternyata, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan semua negara di lima benua yang selama ini kita anggap sebagai negara-negara merdeka sejatinya adalah negeri-negeri sunyi yang diperintah diam-diam oleh sekelompok pustakawan. 

Ternyata, selama ini kita dibohongi oleh para pustakawan durjana?

***
Mungkin, dunia bakal tetap tenang dan tersembunyi seperti ini kalau saja seorang bocah bernama Alcatraz Smedry tidak muncul dengan bakat hebatnya. Bertahun-tahun, seorang pustakawati ditugasi untuk mengawasi si bocah yatim-piatu ini, untuk mencegah agar dia tidak mengetahui bahwa dirinya berbakat (kasusnya mirip Harry Potter yang baru tahu kalau dirinya seorang penyihir ketika usianya 10 tahun). Bakat Al adalah merusak. Semua benda yang dia sentuh selalu rusak, dan ini yang membuatnya dibenci semua orang. Entah sudah berapa keluarga yang mengadopsinya hanya untuk kemudian mengembalikannya karena kerusakan yang ditimbulkannya. Al sudah hampir menyerah, seolah dia menyandang kutukan gelap yang membuatnya dijauhi dan tidak disayangi.

Ketika suatu hari seorang pria tua asing--yang mengaku sebagai kakeknya--datang, kehidupan Al berubah sepenuhnya. Dari beliau, bocah itu mendapati fakta bahwa seluruh kehidupannya selama ini dan juga kehidupan hampir separuh umat manusia di bumi adalah  kebohongan. Dalam kerahasiaan, separuh wilayah Bumi dikuasai oleh sekelompok pustakawan durjana yang tidak ingin manusia mengetahui apa yang sebenarnya. Para pustakawan ini mencuci otak hampir separuh populasi di bumi, mengatakan kepada kita berbagai kebohongan bahwa dunosaurus sudah punas, pinguin tidak bisa terbang, tidak ada benua lain selain lima benua yang kita kenal, dan bahwa kostum badut itu konyol.

Tuesday, August 27, 2019

Merasakan Kita yang Biasa dalam Mencari Simetri

Judul buku: Mencari Simetri
Penulis: Annisa Ihsani
Penyunting: Mery Riansyah
Desain sampul: Sukutangan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020629360
Cetakan pertama, 19 Agustus 2019
Tebal: 240 halaman
Buntelan dari @dprihas




Semua orang memiliki Armin mereka sendiri.

April, seorang cewek modern menjelang kepala tiga namun belum juga mendapatkan seorang pria sebagai tambatan hatinya. Sebenarnya,  sudah ada yang mengisi hatinya selama enam tahun ini. Namanya Armin, dan cowok itu sama sekali tidak menunjukkan inisiatif atau apa pun untuk mengubah status keduanya dari temen menjadi demen. Kalau kata anak zaman sekarnag, friend zone is real.

“Kenapa kau harus repot-repot mencari yang terbaik kalau bisa menemukan yang cukup baik?” (hlm. 8)

 Armin dan April ibarat teman tapi ya teman saja, entah kapan jadiannya. Di satu sisi, April sudah jatuh hati sejak pertama melihat Armin. Jantungnya serasa ingin melompat setiap kali cowok itu menyapanya. Segala pikiran logis menguap ketika Armin menunjukkan senyum mataharinya. Sementara si Armin, dia ini tipikal cowok  yang dekat sama satu cewek, bikin nyaman cewek, tapi tidak mempan dikode dan sama sekali tidak menunjukkan iktikad untuk meningkatkan status hubungannya.

April adalah tipikal kita banget. Cewek kebanyakan yang jatuh cinta sama cowok idamannya. Sama seperti kebanyakan kita, April mengalami satu hukum kebenaran semesta yang bunyinya: Fall in love with someone we can’t have. Sudah hukum alam, kebanyakan kita memang tidak selalu bisa berakhir bahagia dengan orang yang kita inginkan.  Kondisi ini masih ditambah dengan prinsip April bahwa cewek adalah pihak yang menunggu.

April tidak lelah berharap bahwa suatu hari Armin akhirnya akan mengungkapkan perasaan suka kepadanya. Harapan yang sayangnya tidak kunjung kesampaian. Apalagi, ada risiko pernyataan cinta bisa memutus hubungan persahabatan keduanya. April memilih menunggu, sama seperti kebanyakan kita. Jadilah sepanjang cerita di novel ini isinya adalah penantian dan pengharapan yang tak kunjung menemukan jawabannya.

Di sisi lain, Armin juga adalah kita yang kebanyakan. Wahai cowok-cowok, mengaku saja. Banyak dari kita yang pernah atau mungkin masih berperilaku seperti Armin ini. Bukannya takut berkomitmen, tetapi kadang menjadi singel sedemikian menariknya sehingga kita cenderung menjauh dari berkomitmen.

Saya yakin bahwa banyak kita yang juga seperti Armin.  Kita sebenarnya tidak ingin menyakiti hati cewek, dan dengan demikian memilih menjaga jarak tapi tetap dalam jangkauan radar pertemanan. Sayangnya, kadang kita lupa bahwa cewek itu memiliki pola pikiran dan perasaan yang berbeda dengan cowok. Kita kira sudah berbuat benar dengan sedikit menjauh dan tidak memberikan harapan palsu. Kenyataannya, sedikit perhatian yang kita kira biasa kadang bisa jadi sejuta harapan baru bagi dia yang di sana.

Hubungan lelaki dan perempuan kadang memang serumit itu.

Semua orang memiliki Armin mereka sendiri. Dan, rata-rata orang kebanyakan mungkin juga pernah menjadi seperti Armin ini. Tidak ada yang salah dengan menjadi keduanya. Baik April dan Armin adalah “korban” dari keadaan yang memang harus seperti itu. Kadang hidup membawa kita pada situasi yang memang sudah begitu itu dan tidak bisa hal apa pun yang kita lakukan untuk mengubahnya. Dan, Anisa Ihsani dengan sangat bagus, mampu menggambarkan hal ini dalam sebuah kisah fiksi.

Jika pembaca mengharapkan akhir yang bahagia ala-ala novel metropop, atau cinta yang mengebu-gebu ala kisah roman, buku ini mungkin akan mengecewakan. Saya termasuk yang menantikan ada twist apa gitu menjelang akhir cerita. Ternyata tidak ada. Bahkan sampai penghujung buku, aroma kegalauan itu masih menggantung. Ini adalah sebuah novel biasa tentang kisah kita yang biasa.  Tapi justru ini yang bikin novel ini terasa realitis. Almost all of us can relate, and hopely we can finally deal with it.

Jika dibilang puas atau tidak, jujur saya kurang puas dengan novel ini. Apalagi bila dibandingkan dengan A untuk Amanda dan A Hole in the Head. Tapi, novel Mencari Simetri meninggalkan saya dengan pikiran bahwa entah bagaimana novel ini lebih dekat kepada kita. Bahwa hidup memang kadang harus seperti itu, dan tidak perlu sedih atau kecewa. Kadang, hidup terasa menjadi lebih mudah ketika kita menjalaninya saja tanpa terllau banyak pengharapan harus begini atau begitu. Sejatinya kita tak pernah tahu, mungkin inilah yang memang lebih baik kita menurut skenario Tuhan.  Kita tidak tahu sementara Tuhan Maha Mengetahui. 

Setelah menyelesaikan membaca Mencari Simetri, entah kenapa saya ingin bersorak kepada diri sendiri dan teman-teman semua di luar sana: “Kau tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang.” (hlm. 52) dan itu tidak apa-apa.