Judul: Kisah kehidupan Perempun di Desa
Penulis: Marie Ovink-Soer
Penerjemah Titik Andarwati
QRCBN: 62-1677-3366-623
Cetakan: Pertama-2026
Halaman: 132
Penerbit: BukuKatta
Selalu menarik sekaligus mengusik
rasa penasaran mengetahui bagaimana kehidupan para bumi putra atau WNHB (warga
negara Hindia Belanda) Tempo Doeloe. Kisah - kisah mereka turut dituturkan dari
berbagai tulisan, salah satunya (yang banyak dijumpai) adalah dari
tulisan-tulisan para pelaku atau saksi mata yang berasal dari kalangan Belanda.
Tidak dapat dipungkiri, bangsa Belanda dan Inggris memang rajin mencatat dan
mendokumentasikan. Dari merekalah kita mendapatkan banyak bahan untuk penulisan
dan pengetahuan sejarah bangsa ini.
Pengarang buku ini adalah sahabat R.A Kartini. Namanya Marie Ovink-Soer,
seorang istri Asisten Residen Jepara, Marie tinggal dekat dengan kediaman
orang tua Kartini. Dan mereka sering bertemu dan bertukar gagasan. Dari Marie
inilah Kartini sedikit banyak mulai berkenalan dengan pemikiran feminisme ala
Barat.
Pandangan dari orang barat inilah yang juga menjadi sudut pandang penulisan
kumpulan cerita ini. Tersusun atas 9 kisah, buku ini menceritakan pengamatan
seorang wanita Belanda terhadap kehidupan keseharian warga pribumi di Hindia
Belanda kurun waktu awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1901. Untuk lokasinya,
kemungkinan di Jepara karena pengarang menyebut kota di tepi pantai di Jawa.
Dan juga ada inisial kota D dan K yang kemungkinan Demak dan Kudus. Klop, 3
kota ini memang saling berdekatan.
1. Kehidupan Perempuan di Desa
Lewat POV seorang barat, cerpen ini mengisahkan kehidupan wanita pribumi di
perdesaan dengan segala permasalahannya. Yang mengejutkan, apa yg dialami
Wagini (tokoh utama cerita ini) masih bisa ditemukan di banyak pelosok
Indonesia sekarang. Pernikahan terlalu muda sehingga membahayakan nyawa sang
ibu, peran ayah yang hilang dalam pengasuhan, pemaksaan kehendak kepada anak
dengan dalih untuk kebahagiaan mereka sendiri, serta kemiskinan struktural yang
terus dipelihara. Belum lagi peran wanita yang semakin tersisihkan akibat
budaya dan kurangnya pengetahuan. Kisah singkat Wagini menjadi bukti bagaimana
Barat memandang kehidupan pribumi saat itu yang memang masih sangat jauh dari
layak. Untungnya, kisah ini berakhir bahagia khas romansa Barat juga.
2. Istri Seorang Zendeling
Kisah pendek ini menarasikan perasaan seorang wanita muda yang harus mengikuti
suaminya sebagai misionaris yg harus berkarya di sebuah komunitas Kristen di
Jawa. Bagaimana yang Barat menyesuaikan diri dengan yang Timur dengan segala
'kurangnya'. Kebanyakan kisah di buku ini memang menyoroti Barat yg seolah
selalu lebih baik dari Timur. Sehingga di timurpun mereka berusaha membawa yang
barat barat, termasuk bagaimana mengelola rumah dan gereja agar tetap terasa
Barat.
3. Anak Gembala Kerbau
Seperti kisah pertama, cerpen ini memandang kisah seorang pribumi kecil di Jawa
lewat POV Barat. Bagaimana kehidupan sederhana dan dipaksa apa adanya berusaha
dimaklumi dari sudut pandang Eropa yang tinggi dan berjarak. Kacong adalah
seorang pengembala kerbau kecil berusia 5 tahun(?) yang ditugasi menjaga
kerbau raksasa. Ketika suatu kejadian membuat kerbaunya hilang, Kacong yang
kecil itu harus menghadapi hukuman yang benar benar keras untuk anak seusianya.
Tidak hanya kehidupan yang keras kepada anak anak Hindia Belanda, bahkan orang
dewasa pun sudah keras kepada mereka. Dari kisah lumayan panjang ini, pembaca
bisa sedikit banyak mendapatkan gambaran tentang kehidupan seorang pribumi dari
kecil hingga menjadi pegawai Hindia Belanda.
4.Jalan jalan Senja
Kisah amat pendek ketika pengarang melakukan tamasya keliling desa di senja
hari. Suasana perdesaan tropis di senja hari dilukisan dengan syahdu namun
kurang mendetail. Tapi suasana Indisnya lumayan kental kerasa di kisah ini.
Bayangkan bagaimana berjalan jalan di Hindia Belanda era 1901 dengan segala
keindisannya.
5. Sebuah Proefsnit
Dari kisah mata orang zaman itu, kita bs mengetahui bagaimana pajak dan
pemerintahan di jalankan. Pengarang mengikuti suaminya menjalankan tugas
pengawasan pemotongan pajak padi di wilayah yang agak jauh. Dengan berperahu
perjalanan itu dijalankan, melewati perkampungan perkampungan miskin dan kumuh
khas pribumi. Digambarkan bagaimana keindahan alam tropis saling bersinergi
dengan kehidupan warga pribumi yang terlalu nrimo ing pandum.
6. Hujan Pertama
Bagaimana hujan di negeri tropis memang terasa berbeda dengan hujan di Eropa
digambarkan dengan POV sangat personal di kisah ini. Musim kemarau panjang
membawa debu dan penyakit, membuat segala sesuatu terasa kering panas dan tidak
tertahankan. Kemudian hujan pertama pun turun. Hujan khas wilayah tropis yang
segera menghijaukan segala dan membersihkan semua.
7. Sendirian di Rumah
Kisah ini sekali lagi terasa sangat barat sentris. Wajar karena pengarang
merindukan rumahnya yang teratur di Belanda sana, dibandingkan dengan segala
sesuatu di Jawa yang masih serba bodoh, kotor, sepi, dan kurang berpendidikan.
Beberapa kali pengarang juga menyatakan ketidaksukaan pada kehidupan, masakan,
dan hidangan Jawa yang selama ini kita anggap disukai oleh orang Barat atas
nama eksotisme timur. Sedikit banyak kita mendapatkan pandangan jujur tentang
bagaimana yang dirasakan seorang Belanda di Hindia Belanda saat tinggal di
pelosok Jawa.
8. Kebakaran di Kampung
Lihai sekali pengarang menangkap dan menarasikan ulang bagaimana sikap dan
pandangan hidup orang Jawa kawula alit. Lewat sebuah peristiwa kebakaran (yang
seharusnya bisa dicegah dan dihindari), pengarang dengan telak menggambarkan
apa yang selama ini mungkin telah keliru orang jaman dulu pahami tentang apa
itu takdir. Bahwa beberapa musibah seharusnya masih dapat dicegah dengan
pengetahuan yang baik. Di sisi lain, pengarang juga terkesan dengan bagaimana
cara orang Jawa mengahadapi tekanan hidup dan tetap menjalani hidup walau
setelah mendapatkan musibah berat.
9. Keberanian Margo
Kisah petualangan wanita Belanda yang tinggal di Hindia Belanda dengan segala
bahayanya. Setelah berturut turut mendapatkan kisah yang naratif, kisah
penghujung ini menutup buku dengan cerita sedikit mendebarkan tentang bagaimana
seorang Barat memandang Hindia Belanda sebagai sebuah lahan petualangan dan
variasi dalam kehidupan.
Sebuah catatan sederhana seringkali menjadi referensi luar biasa penting
tentang kehidupan di suatu masa. Bagaimana pemerintahan dijalankan, kehidupan
dijalani, pemikiran dipahami, dan alam lingkungan dirasakan. Kumpulan kisah di
desa Jawa pada 1901 di buku ini menjadi sebuah dokumentasi yang sedikit banyak
mambantu kita membayangkan bagaimana pribumi dan orang Barat saling
berinteraksi pada masa itu. Tidak melulu tentang penderitaan akibat penjajahan,
tetapi juga tentang bagaimana orang Jawa memandang kehidupan dan bagaimana
orang Eropa melihat timur yang katanya eksotis tersebut.


