Search This Blog

Monday, February 17, 2020

Memahami Generasi Phi: Memahami Milenial Pengubah Indonesia

Judul: Generasi Phi: Memahami Milenial Pengubah Indonesia
Penulis: Dr. Muhammad Faisal 
Tebal: 244 hlm
Penerbit:Republika Penerbit
ISBN: 139786020822891


37651434



Generasi phi adalah mereka yang lahir antara tahun 1989 - 2000 (walah, nggak masuk dong saya wkwkwk). Anak muda dari generasi inilah yg digadang gadang akan menjadi penerus sekaligus yang akan membawa Indonesia kepada kemajuan. Hal ini mengingat pada tahun 2030 sampai 2040 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yakni ketika jumlah penduduk usia muda lebih banyak dari usia lainnya. Disinyalir jumlahnya mencapai 40% dari total penduduk.

Disebut bonus karena dgn banyaknya penduduk usia produktif tentu diharapkan produktivitas pun meningkat. Kemajuan berjalan cepat, dan negara bergerak dgn penuh semangat sebagaimana anak anak muda yang menjalankannya. Namun, jumlah besar jika tidak diimbangi dengan kualitas juga kurang maksimal hasilnya. Di buku ini, penulis yang juga seorang peneliti mengungkapkan berbagai pandangan dan hasil penelitiannya terkait penduduk usia muda dari generasi phi ini.

Sunday, February 9, 2020

Pengumuman Pemenang Giveaway: Anjing Iblis dari Baskerville

Judul: Anjing Iblis dari Baskerville
Pengarang: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Dion Yulianto
Penyunting: Athena
Sampul: Suku Tangan
Cetakan: Pertama, 2020
Tebal: 268 hlm
Penerbit: Noktah



Sungguh luar biasa betapa sebuah buku masih bisa memukau pembacanya ratusan tahun setelah buku tersebut dituliskan. Buku-buku Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle adalah beberapa di antaranya. Kita semua pasti sudah sering membaca atau mendengar sosok Sherlock Holmes yang bersama rekannya, Dr. Watson, merupakan pasangan detektif fiktif paling legendaris sepanjang masa. Bukan hanya karena kenyentrikan Holmes yang suka merokok/mengisap madat, tapi juga karena kekuatan deduksi dan kemampuannya memilah-milah informasi dan logika. 

Pikirannya ibarat sebuah mesin yang bisa disetel otomatis untuk bekerja, pun lepas  istirahat jika tidak sedang digunakan. Yang utama adalah kemampuannya melupakan semua kerumitan yang ada dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, memilah mana yang fakta dan mana yang pemanis, dan senantiasa mengedepankan logika sepelik apapun masalahnya. Keren-keren ngeselin gimana gitu, tapi memang karakter khas ini yang menjadikan Sherlock Holmes seorang Sherlock Holmes 

Dalam The Hound of the Baskervilles (diterjemahkan menjadi Anjing Iblis dari Baskerville oleh Penerbit Noktah),  Holmes ditantang untuk tetap mengedepankan logika mestipun semua fakta yang muncul seolah tidak bisa dicerna akal sehat. Kali ini, kasusnya agak bernuansa takhayul. Sebuah generasi keluarga bangsawan tua di Devonshire tengah terancam oleh sebuah kutukan kuno. Kutukan yang membuat satu per satu ahli waris keluarga Baskerville meninggal secara mengerikan. Berawal dari sebuah perbuatan nista yang dilakukan sang buyut ratusan tahun sebelumnya, semua keturunan Baskerville harus menanggung sebuah kutukan maut dalam wujud seekor anjing iblis. Sir Charles Baskerville adalah korban terbaru, dan keturunannya yang baru datang dari Amerika Utara, Sir Henry Baskerville, adalah pewaris terakhir dari keluarga itu. Keberadaannya juga terancam oleh si anjing iblis.

Sejak awal, cerita sudah bergulir menegangkan sekaligus mengagumkan. dari lembar pertama pembaca akan disuguhi kepiawaian Holmes dalam membuat deduksi. Cerita semakin menarik sekaligus mencekam ketika kutukan yang menimpa Keluarga Baskerville disodorkan kepada sang detektif. Kali ini, Holmes ditantang untuk membuktikan bahwa ada kejahatan yang sifatnya manusiawi dalam kasus ini. Ada sesuatu yang berusaha menghabisi keluarga ini, dan dia adalah manusia bukan iblis dari neraka. Holmes lalu mengirimkan Dr. Watson untuk menemani Sir Henry pergi ke Devonshire. Mereka berdua menempati sebuah kompleks rumah bangsawan yang berada di tepian rawa-rawa berkabut di padang-padang terpencil, tidak jauh dari rawa-rawa Gripen tempat si anjing iblis diduga bersemayam.

Di buku ini, sebagian kisah ditutukan lewat sudut pandang Dokter Watson. Justru inilah yang membuat ceritanya semakin seru karena pembaca diajak mengalami kengerian demi kengerian yang dialami Watson. Sulit membayangkan kisah Baskerville ini menjadi populer jika dikisahkan dari sudut pandang Holmes yang terlampau logis dan tanpa emosi. Tidak heran jika The Hound of Baskerville menjadi salah satu kisah horor klasik. Dengan rinci, Watson menggambarkan kengeriannya terhadap rawa-rawa yang memiliki jebakan maut, suara-suara mengerikan di tengah malam, hingga penjahat misterius yang suka berkeliaran di antara kabut di malam hari. Pada akhirnya, ketika misteri tersebut mulai tampak jelas, Holmes dan Watson harus berjibaku menghadapi musuh yang benar-benar tidak mereka duga. Di saat yang sama, Sir Henry Baskerville tengah terancam oleh keberadaan anjing hitam raksasa yang konon menjadi kutukan bagi keluarganya. Berhasilkan Holmes memecahkan misteri kali ini sekaligus menyelamatkan satu-satunya ahli waris keluarga Baskerville?

Kisah ini dianggap sebagai kisah penyelidikan Holmes yang paling misterius karena membawa elemen supranatural. Ceritanya bergulir sangat menegangkan, dari awal sampai akhir. Aroma misteri dan kegelapan terasa sekali dalam jalinan ceritanya, sehingga pembaca dipaksa untuk terus menerka apakah yang terjadi sebenarnya. Tidak heran jika novel ini masuk dalam salah satu cerita paling seram dalam khasanah Sastra Inggris. Dijamin pembaca akan susah melepaskan diri dari cengkeraman rawa-rawa Devonshire yang muram. Sebuah kisah misteri klasik dengan kelimpahan detail yang menakjubkan. Sttt ... berhati-hatilah jika Anda mendengar suara langkah anjing hitam misterius yang bersembunyi di balik kabut.






KUIS BUKU GRATIS

Penerbit Noktah menyediakan tiga novel Anjing Iblis dari Baskerville gratis untuk tiga orang yang beruntung. Salah satunya bisa didapatkan lewat blog Baca Biar Beken. Simak syarat dan ketentuannya berikut ini:

1. Wajib follow Twitter Penerbit Noktah dan instagram @fiksi.noktah. Boleh twitter atau IG saja, tapi kalau bisa dua-duanya.

2. Follow Twitter atau IG saya di @dion_yulianto 

3. Wajib membagikan postingan kuis ini di media sosial kamu, minimal satu kali.

4. Menjawab pertanyaan berikut di kolom komentar, cukup satu kali saja:

"Menurut kamu, daerah mana di Indonesia yang cocok dijadikan latar untuk menulis cerita horor. Sertakan alasannya ya.


PENGUMUMAN PEMENANG

Terima kasih kepada 10 peserta giveaway yang masng-masing memberikan jawaban yang panjang lebar serta detail banget. Saya jadi sadar kalau selama ini ada begitu banyak tempat mistis yang belum terjelajahi, belum digali, dan sekaligus malah bisa jadi setting atau sumber inspirasi untuk menulis kisah misteri. Semoga, makin banyak penulis lokal maupun internasional yang mengangkat wilayah di Indonesia dalam karyanya. Langsung saja, saya langsung etrpaku pada salah satu jawaban yang entah mengapa membacanya memunculkan sensasi merinding. Selamat untuk:

Nama : Yenny


Twitter : @ichbinY98

Saya akan menghubungi pemenang lewat media sosial. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah ikutan kuis buku di blog Baca Biar beken. Untuk yang belum beruntung, kamu masih bisa ikut kuisnya di Blog Kak Nurina.  

Tuesday, December 17, 2019

Jalan-Jalan Gratis bersama Traveling Aja Dulu!

Judul: Traveling Aja Dulu!
Penulis: Olivia Dianina Purba
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2018
Tebal: 256 halaman




Mengapa kita disarankan untuk bepergian untuk jalan-jalan alias travelling? Alasannya banyak sekali. Olivia telah merangkumkan sebagian besar alasannya di buku ini. Travelling itu penting, di antaranya selain dapat membuat kita bahagia dan rileks, travelling juga menjadikan kita pribadi yang lebih ramah dan berpikiran terbuka, mengasah kemampuan memecahkan masalah, menambah pengalaman, menjajal keberanian, mendapat banyak teman, dan masih banyak lagi. Dalam bahasa yang agak lebai, bisa dikatakan bahwa seorang manusia belum menjadi seorang manusia yang utuh, yang telah selesai dengan dirinya sendiri, jika dia belum pernah traveling. Jadi, nggak rugi kok buat kamu yang memang suka travelling alias jalan-jalan.

Traveling mahal? Ya, memang nggak salah juga sih. Apalagi jalan-jalan ke luar negeri tentunya membutuhkan uang saku, biaya transportasi, serta akomodasi yang tidak sedikit. Tapi, selalu ada jalan ketika kita mau berusaha. Olivia membuktikan hal ini. Dalam bukunya yang sangat padat isi ini, penulis membuktikan bahwa hobi travelling yang dikenal mahal ternyata bisa diakali dengan banyak cara. Tentunya diakali di sini adalah dengan cara yang baik-baik serta tidak melanggar hukum. Misalnya saja, Olivia menggunakan kelebihannya di bilang intelektual dan pendidikan untuk bisa melanglang buana ke setidaknya 35 negara berbeda di penjuru dunia. GRATIS pula!

Thursday, November 7, 2019

Stay Ugly, Jangan Tertipu dengan Tampilan Luar

Judul: Stay Ugly
Pengarang: Kahlui
Cetakan: Pertama, Oktober 2019
Tebal: 208 hlm

Penerbit: Clover



Magical Tales of Gandaloka: Stay Ugly

Seri kedua  Magical Tales of Gandaloka ini masih mengangkat tema yang sama, juga setting tempat yang serupa di Kota Gandaloka. Jadi, di Gandaloka, manusia dan demit hidup berdampingan. Para demit menyembunyikan identitas mereka tentu saja, walaupun mereka berperilaku persis seperti manusia. Mereka bersekolah, memiliki usaha, bahkan ikut teater. Salah satu demit itu adalah Sola alias Solaria.

Karena sebuah kutukan kuno, Sola kecil terkena kutukan sihir kelambu (bagus ya namanya) yang membuat wajah aslinya tertutup. Orang lain akan melihat wajah buruk rupa Sola, padahal Sola sendiri tidak menemukan ada yang salah pada wajahnya. Sihir kelambu yang menempel di wajahnya lah yg menjadikan orang melihat Sola sebagai sosok buruk rupa.


Friday, November 1, 2019

Kisah Demit rasa Internasional dalam The Magical Tales of Gandaloka, Halfie

Judul: The Magical Tales of Gandaloka, Halfie
Pengarang: Priscila Stevanni  
Tebal: 200 Halaman
Cetakan: Pertama, October 2019
Penerbit:  Clover


48548883. sx318



Konsep dunia manusia hidup bersanding dengan mahkluk gaib sebenarnya sudah lebih dulu ditemukan dalam seri The Mortal Instruments Casandra Clare. Di  seri itu , digambarkan makhluk-mahkluk seperti vampir, peri, iblis, warlock dan sejenisnya hidup berdampingan bersama manusia di kota New York. Hanya saja, mereka menyembunyikan jati dirinya dalam sebuah dunia yang disebut shadow world alias dunia bayangan. Gandaloka juga mengadopsi konsep ‘hidup berdampingan’ ini, tetapi lewat diksi yang lebih lokal. Para mahkluk gelap di serial ini dijuluki sebagai kaum demit.

Waktu mendengar ada novel fantasi yang mengangkat demit, sebagai penimbun buku fantasi lokal saya tentu senang dong karena mahkluk supranatural lokal turut diangkat. Ini menunjukkan bahwa budaya dan tradisi kita ternyata kaya akan tema-tema yang seksi untuk diangkat dalam novel fantasi. Jika bisa diolah dnegan konsep lokal, nyatanya bisa bagus kok. Seri Vandaria salah satunya, serta buku Karung Nyawa karya Haditha. Saat ditawari mengulas seri Gandaloka ini, tentu saya langsung mengiyakan. Seneng saya kalau fantasi lokal maju begini.

Seri pertama dari total lima seri Gandaloka yang saya baca adalah The Magical tales of Gandaloka: Halfie.  Novel ini berkisah tentang murid pindahan bernama Naira. Mengikuti ibunya, Naira pindah ke kota Gandaloka dan bersekolah di salah satu SMA di kota satelit-nya Jakarta tersebut. Gadis itu sama sekali tidak mengetahui bahwa di Gandaloka manusia dan kaum demit hidup saling berdampingan. Kaum demit ini beraktivitas selayaknya manusia biasa. Mereka bersekolah, bekerja, bahkan ada yang menjadi selebgram juga. Saya suka premis ceritanya.

Di SMA barunya, Naira langsung berkenalan dengan seorang cowok jutek bernama Gesta. Tipe-tipe cowok badboy yang cakep tapi otaknya encer gitu lah. Dari sini, alur ceritanya mirip dengan novel-novel remaja kebanyakan. Si cewek suka tapi juga sebel sama si cowok badboy yang lama-lama mirip Edward Cullen ini. Twist serunya muncul ketika si Gesta ternyata adalah seorang bangsa demit! Dalam sebuah pertarungan dengan bangsa demit yang lain, secara tidak sengaja Naira terluka parah. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan gadis itu kecuali mentransfusikan sebagian diri demit Gesta ke tubuh Naira. Gadis itu pun kini menjadi seorang halfie.

Selanjutnya, ceritanya bergulat seputar perjuangan Naira yang berusaha menerima dirinya sebagai seorang halfie alias separuh manusia separuh demit. Ini yang bikin novel ini unik karena penulis ternyata lebih fokus pada pergulatan batin Naira ketimbang pertempuran antar demitnya. Memang untuk sebuah novel fantasi, adegan pertempurannya kurang banyak menurut pendapat saya. Tapi saya entah kenapa malah suka keputusan penulis yang memilih pertempuran dalam batin Naira, bagaimana dia akhirnya bisa menerima dirinya sendiri salau dengan proses pergulatan yang panjang. Pergulatan batin Naira ini dikisahkan dengan sangat alami dan manusiawi sekali. Jadi seneng dan cepat bacanya.
Kekurangannya, ternyata demit di buku ini masih demit ala Barat. Jujur, saya agak kecewa sih. 

Ekspektasi saya penulis akan menghadirkan demit verso lokal alih-alih mahkluk-mahkluk mitos barat seperti peri, goblin, dan lain-lain. Sayangnya, entitas mitologis barat itu masih saya temukan di Gandaloka. Apa kita memang masih belum bisa move on ya dari Harry Potter dan Lord of the Rings sampai mahkluk demit pun masih menghadirkan peri, goblin, troll, dan lain-lain? Andai saja demit-demit nusantara dihadirkan, pasti buku ini akan semakin terasa "Gandaloka" 

Di luar kekurangannya itu, buku ini ditulis dengan seru sekaligus menyegarkan, serta digarap dengan lumayan matang. Jadi penasaran pengen baca seri-seri gandaloka lainnya.       


Monday, October 28, 2019

Meratapi yang Liyan dalam Rumah Ilalang


Judul : RUMAH ILALANG
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 135 hal
ISBN : 9786237290230


            Kita mungkin sudah pernah atau mungkin sering melihat waria (bahasa Internasionalnya transgender, tetapi orang biasa menyebut mereka dengan bencong¸ banci, atau wadam). Pertanyaannya, pernahkah kita melihat, atau mungkin iseng bertanya bagaimana seorang waria dimakamkan ketika dia meninggal? Maksudnya, apakah dia dikebumikan sebagai laki-laki atau seorang perempuan (jika kebetulan dia beragama Islam). Dalam kasus kebanyakan, seorang waria tetap dianggap sebagai pria sehingga kemungkinan dia akan dikebumikan selayaknya seorang pria. Soal apakah yang dilakukannya semasa hidup, biar lah itu menjadi urusannya dengan Tuhannya.  

Agama itu baik. Tetapi kadang pemainnya tidak. (hlm. 46)

Sunday, October 27, 2019

Cintamu Asli tapi Bukumu kok Bajakan?*

Saya menolak sekali yang namanya pembajakan buku. Sebagai penimbun eh maksudnya kolektor buku, tentu saja saya hanya menimbun aduhh maksudnya mengoleksi buku-buku yang asli. Apalagi, saat ini buku buku begitu terjangkau. Bagi pembaca yang di Pulau Jawa, hampir setiap bulan ada pameran buku murah tempat kita bisa mendapatkan buku-buku bagus dengan harga super murah. Dan tentu saja asli.


Beli buku asli tuh sampulnya asli cakep. Bisa dipamerin di IG kayak gini. 
(IG @dion_yulianto)


Untuk pembaca di luar Jawa, walau pameran buku murah tidak sesering di Jawa, ada bazar buku online dengan buku buku seharga mulai lima ribuan. Penerbit Mizan grup termasuk yang sering mengadakan bazar buku online ini. Bahkan di web mizanstoredotcom ada program gratis ongkir yang tentunya sangat membantu teman teman pembaca di luar Pulau Jawa. Gini kok ya masih cari yang bajakan. 


Kembali kepada buku bajakan. Dulu, buku bajakan sempat akrab dengan buku-buku yang sulit didapat. Entah karena buku aslinya dilarang beredar, maupun buku buku itu terbitan lama atau terbitan luar negeri yang susah membelinya. Dulu juga belum ada Paypal dan situs-situs penjualan buku online macam bookandbeyond atau bigbadwolfbooks. Atau mungkin sudah ada
sayanya saja yang gaptek.


Tidak dipungkiri, saya juga pernah beberapa kali terpaksa membeli buku bajakan. Pertama kali beli saat zaman kuliah. Kebetulan saya mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris dan tentu saja buku-buku materi kuliahnya harus dibeli di luar negeri. Paling dekat beli di Singapura atau Malaysia. Kapan bisa belinya, ke luar Jawa saja baru ke Bali wkwkwk.

Dulu, sekitar awal tahun 2000an, membeli buku dari luar negeri tidak semudah saat ini. Harganya pun paling murah bisa mencapai lima ratus ribu rupiah, belum lagi ongkos kirim yang harus ditanggung pembeli bisa mencapai separuh atau hampir menyamai harga bukunya sendiri. Itu baru satu buku. Padahal, satu semester saya harus membeli rata rata lima sampai delapan buku. Program sale atau obral buku juga belum segencar sekarang. Padahal saat itu beli majalah saja saya menawar. Astaga malunya kalau ingat.


Dengan kondisi keuangan yang memang mepet, terpaksa saya dan teman-teman membeli versi bajakannya. Harga buku bajakan bisa mencapai seperenpat bahkan sepersepuluh dari harga asli. Bagi mahasiswa cekak kayak saya, tentu ini ibarat angin segar walau panas rasanya. Dengan merasa sok enggak berdosa, saya  menekuri lembar demi lembar buku bajakan dengan jilid murahan dan cetakan dengan kualitas yang bikin sakit mata itu.


 Sesuatu yang baik jika diperoleh dengan cara tidak baik maka hasilnya biasanya juga tidak baik. Tidak satu pun buku-buku berat itu yang bisa saya baca seluruhnya. Ilmu yang didapat pun setengah-setengah karena bukunya sendiri tidak asli. Memang kok yang palsu  itu bikin nyesek. Makanya saya kadang iri dengan teman-teman jurusan lain yang bisa beli buku asli untuk materi kuliahnya di Gramedia atau Togamas. Semoga buku buku untuk jurusan Sastra Inggris sekarang bisa lebih mudah si dapatkan, baik di toko buku konvensional ataupun lewat toko buku daring.



 Buku bajakan kedua yang pernah saya beli adalah buku legendaris Bumi Manusia karya Pram. Tahun 2000an awal sangat susah mendapatkan buku itu. Mungkin karena masih dianggap buku 'sensitif' sehingga penjualannya dibatasi. Saya sudah berusaha mencari di Gramedia sekitar Jogja, semuanya kosong. Di Togamas pun kosong. Sementara antrean di perpustakaan Universitas begitu panjang.

 Di lain pihak, desakan untuk membaca Bumi Manusia begitu kuat. Akhirnya, suatu hari, karena tak tahan lagi, dengan sangat terpaksa saya membeli Bumi Manusia versi bajakan di salah satu pusat buku murah di Jogja. Berbeda dengan saat beli buku kuliah dulu, saat membeli Bumi Manusia bajakan ini saya merasa sangat bersalah sekali. Saat itu, saya sampai berjanji saya akan membeli 5 buku asli sebagai penebus rasa bersalah saya. Sungguh, seandainya saat itu ada Bumi Manusia versi asli dijual bebas, saya tentu akan membeli yang asli.


Syukurlah, mulai tahun 2010 buku-buku Pram yang asli mulai mudah ditemukan di pasaran. Saya pun mulai mengumpulkan buku-buku karya Pram versi original. Kini sudah mencapai sekitar 8 buku.  Semuanya asli dong ya. Tapi mohon jangan ditanya sudah dibaca atau belum ya, yang jelas belum hahaha. *Jitak diri sendiri.




 Dasar jodohnya buku, saya kemudian diterima bekerja sebagai editor di beberapa penerbit di Jogja. Saat masuk ke industri buku inilah saya semakin mengetahui betapa besarnya kerugian dari adanya buku bajakan di pasaran. Sebagai editor dan penulis, rasanya sungguh miris ketika melihat buku yang kita tulis dan edit dengan segenap pengorbanan cinta dibajak begitu saja oleh oknum-oknum itu.


Seolah segala perjuangan mencari data dengan menekuni puluhan buku, begadang larut sampai jam 2 dini hari demi mengedit atau menulis naskah, serta jam jam yg dihabiskan di warnet untuk menelusuri data di akhir pekan menguap begitu saja.
Gara-gara buku bajakan, proses kreatif menulis dan proses menyunting jadi tak dihargai. Bayangkan, kamu yang bekerja keras dan hasilnya dinikmati oleh para pembajak buku yang  tak bertanggung jawab. Percayalah, menulis dan mengedit buku itu berat, biar kami saja. Jadi tolong beli buku yang asli dan katakan tidak kepada buku bajakan.



"Cintai yang alami, pilih yang asli," begitu katamu. "Cintaku padamu asli tulus dari lubuk hati," begitu janjimu. Tapi, kok ya belinya buku bajakan! Haduh. Apakah karena bukunya sudah langka kayak jodoh yang ideal? Haduh, nggak masuk.  Apalagi, sekarang gampang banget kalau mau beli buku. Jika malas ke toko buku, kamu tinggal pencet dan gulir telepon pintarmu. Buku pilihanmu akan segera dikirim alamat kamu. Jadi nggak ada alasan lagi beli buku bajakan karena carinya susah. Bilang aja kamunya lagi susah uang eh.

Ada lagi yang pakai alasan buku asli harganya mahal. Aduh Mas dan Mbiak, apa nggak pernah kenal yang namanya pameran buku? Di sana, kita bisa beli buku asli dengan harga mulai Rp10.000, bahkan Rp5000. Penerbit Mizan grup termasuk yang sering mengadakan pameran buku murah ini. Buat yang di kotanya ada Mizan Corner, bisa banget mampir ke sana karena sering ada obral buku murah. Saya termasuk pelanggan tetap soalnya hihihi.

Jadi, kalau yang asli saja lebih murah, kenapa harus beli yang bajakan?


* Tulisan ini diikutsertakan dalam Mizan Blog dan Vlog Competition.