Search This Blog

Sunday, November 1, 2026

Kisah kehidupan Perempun di Desa Hindia Belanda tahun 1901

Judul: Kisah kehidupan Perempun di Desa
Penulis: Marie Ovink-Soer
Penerjemah Titik Andarwati
QRCBN: 62-1677-3366-623
Cetakan: Pertama-2026 
Halaman: 132 
Penerbit: BukuKatta



Selalu menarik sekaligus mengusik rasa penasaran mengetahui bagaimana kehidupan para bumi putra atau WNHB (warga negara Hindia Belanda) Tempo Doeloe. Kisah - kisah mereka turut dituturkan dari berbagai tulisan, salah satunya (yang banyak dijumpai) adalah dari tulisan-tulisan para pelaku atau saksi mata yang berasal dari kalangan Belanda. Tidak dapat dipungkiri, bangsa Belanda dan Inggris memang rajin mencatat dan mendokumentasikan. Dari merekalah kita mendapatkan banyak bahan untuk penulisan dan pengetahuan sejarah bangsa ini.

Pengarang buku ini adalah sahabat R.A Kartini. Namanya Marie Ovink-Soer, seorang istri  Asisten Residen Jepara, Marie tinggal dekat dengan kediaman orang tua Kartini. Dan mereka sering bertemu dan bertukar gagasan. Dari Marie inilah Kartini sedikit banyak mulai berkenalan dengan pemikiran feminisme ala Barat.

Pandangan dari orang barat inilah yang juga menjadi sudut pandang penulisan kumpulan cerita ini. Tersusun atas 9 kisah, buku ini menceritakan pengamatan seorang wanita Belanda terhadap kehidupan keseharian warga pribumi di Hindia Belanda kurun waktu awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1901. Untuk lokasinya, kemungkinan di Jepara karena pengarang menyebut kota di tepi pantai di Jawa. Dan juga ada inisial kota D dan K yang kemungkinan Demak dan Kudus. Klop, 3 kota ini memang saling berdekatan.

1. Kehidupan Perempuan di Desa
Lewat POV seorang barat, cerpen ini mengisahkan kehidupan wanita pribumi di perdesaan dengan segala permasalahannya. Yang mengejutkan, apa yg dialami Wagini (tokoh utama cerita ini) masih bisa ditemukan di banyak pelosok Indonesia sekarang. Pernikahan terlalu muda sehingga membahayakan nyawa sang ibu, peran ayah yang hilang dalam pengasuhan, pemaksaan kehendak kepada anak dengan dalih untuk kebahagiaan mereka sendiri, serta kemiskinan struktural yang terus dipelihara.  Belum lagi peran wanita yang semakin tersisihkan akibat budaya dan kurangnya pengetahuan. Kisah singkat Wagini menjadi bukti bagaimana Barat memandang kehidupan pribumi saat itu yang memang masih sangat jauh dari layak. Untungnya, kisah ini berakhir bahagia khas romansa Barat juga.

2. Istri Seorang Zendeling
Kisah pendek ini menarasikan perasaan seorang wanita muda yang harus mengikuti suaminya sebagai misionaris yg harus berkarya di sebuah komunitas Kristen di Jawa. Bagaimana yang Barat menyesuaikan diri dengan yang Timur dengan segala 'kurangnya'. Kebanyakan kisah di buku ini memang menyoroti Barat yg seolah selalu lebih baik dari Timur. Sehingga di timurpun mereka berusaha membawa yang barat barat, termasuk bagaimana mengelola rumah dan gereja agar tetap terasa Barat.

3. Anak Gembala Kerbau
Seperti kisah pertama, cerpen ini memandang kisah seorang pribumi kecil di Jawa lewat POV Barat. Bagaimana kehidupan sederhana dan dipaksa apa adanya berusaha dimaklumi dari sudut pandang Eropa yang tinggi dan berjarak. Kacong adalah seorang pengembala kerbau kecil berusia 5 tahun(?)  yang ditugasi menjaga kerbau raksasa. Ketika suatu kejadian membuat kerbaunya hilang, Kacong yang kecil itu harus menghadapi hukuman yang benar benar keras untuk anak seusianya. Tidak hanya kehidupan yang keras kepada anak anak Hindia Belanda, bahkan orang dewasa pun sudah keras kepada mereka. Dari kisah lumayan panjang ini, pembaca bisa sedikit banyak mendapatkan gambaran tentang kehidupan seorang pribumi dari kecil hingga menjadi pegawai Hindia Belanda.

4.Jalan jalan Senja
Kisah amat pendek ketika pengarang melakukan tamasya keliling desa di senja hari. Suasana perdesaan tropis di senja hari dilukisan dengan syahdu namun kurang mendetail. Tapi suasana Indisnya lumayan kental kerasa di kisah ini. Bayangkan bagaimana berjalan jalan di Hindia Belanda era 1901 dengan segala keindisannya.

5. Sebuah Proefsnit
Dari kisah mata orang zaman itu, kita bs mengetahui bagaimana pajak dan pemerintahan di jalankan. Pengarang mengikuti suaminya menjalankan tugas pengawasan pemotongan pajak padi di wilayah yang agak jauh. Dengan berperahu perjalanan itu dijalankan, melewati perkampungan perkampungan miskin dan kumuh khas pribumi. Digambarkan bagaimana keindahan alam tropis saling bersinergi dengan kehidupan warga pribumi yang terlalu nrimo ing pandum.

6. Hujan Pertama
Bagaimana hujan di negeri tropis memang terasa berbeda dengan hujan di Eropa digambarkan dengan POV sangat personal di kisah ini. Musim kemarau panjang membawa debu dan penyakit, membuat segala sesuatu terasa kering panas dan tidak tertahankan. Kemudian hujan pertama pun turun. Hujan khas wilayah tropis yang segera menghijaukan segala dan membersihkan semua.

7. Sendirian di Rumah
Kisah ini sekali lagi terasa sangat barat sentris. Wajar karena pengarang merindukan rumahnya yang teratur di Belanda sana, dibandingkan dengan segala sesuatu di Jawa yang masih serba bodoh, kotor, sepi, dan kurang berpendidikan. Beberapa kali pengarang juga menyatakan ketidaksukaan pada kehidupan, masakan, dan hidangan Jawa yang selama ini kita anggap disukai oleh orang Barat atas nama eksotisme timur. Sedikit banyak kita mendapatkan pandangan jujur tentang bagaimana yang dirasakan seorang Belanda di Hindia Belanda saat tinggal di pelosok Jawa.

8. Kebakaran di Kampung
Lihai sekali pengarang menangkap dan menarasikan ulang bagaimana sikap dan pandangan hidup orang Jawa kawula alit. Lewat sebuah peristiwa kebakaran (yang seharusnya bisa dicegah dan dihindari), pengarang dengan telak menggambarkan apa yang selama ini mungkin telah keliru orang jaman dulu pahami tentang apa itu takdir. Bahwa beberapa musibah seharusnya masih dapat dicegah dengan pengetahuan yang baik. Di sisi lain, pengarang juga terkesan dengan bagaimana cara orang Jawa mengahadapi tekanan hidup dan tetap menjalani hidup walau setelah mendapatkan musibah berat.

9. Keberanian Margo
Kisah petualangan wanita Belanda yang tinggal di Hindia Belanda dengan segala bahayanya. Setelah berturut turut mendapatkan kisah yang naratif, kisah penghujung ini menutup buku dengan cerita sedikit mendebarkan tentang bagaimana seorang Barat memandang Hindia Belanda sebagai sebuah lahan petualangan dan variasi dalam kehidupan.

Sebuah catatan sederhana seringkali menjadi referensi luar biasa penting tentang kehidupan di suatu masa. Bagaimana pemerintahan dijalankan, kehidupan dijalani, pemikiran dipahami, dan alam lingkungan dirasakan. Kumpulan kisah di desa Jawa pada 1901 di buku ini menjadi sebuah dokumentasi yang sedikit banyak mambantu kita membayangkan bagaimana pribumi dan orang Barat saling berinteraksi pada masa itu. Tidak melulu tentang penderitaan akibat penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana orang Jawa memandang kehidupan dan bagaimana orang Eropa melihat timur yang katanya eksotis tersebut.


Bagaimana Indonesia pramerdeka dikisahkan dari balik panggung tonil?

Judul : Seribu Bintang Menyinari Matahari
Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN 10: 6238371706
ISBN 13: 9786238371709  
Halaman: 304
Cetakan: Pertama-Juni  2026 
Penerbit : Baca

"Dunia panggung adalah dunia yang berbeda. Gemerlap, penuh cinta, komedi, kesedihan, dan tragedi, yang terjadi hanya dalam satu jeda pendek saja. Beruntunglah penonton-penonton yang merasakannya di sepanjang pertunjukan." (hlm. 125)

Istilah "tonil" berasal dari kata bahasa Belanda toneel, yang berarti panggung, pertunjukan drama, atau teater. Istilah ini marak digunakan di Nusantara pada awal abad ke-20 ketika hiburan pertunjukan di panggung ala Barat mulai banyak berkembang dan disukai. Menyerupai teater di zaman sekarang.

Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta lalu mengusulkan penggunaan kata "sandiwara" untuk mengurangi penggunaan kata tonil yang berbau Barat. Kata ini sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu sandi dan wara, yang artinya "rahasia" dan "pengajaran". Sementara Ki Hadjar Dewantara menyebut bahwa sandiwara adalah pengajaran melalui perlambang Jadi, sandiwara bisa dibilang pengajaran yang dilakukan secara rahasia atau lewat perlambang.

Dalam istilah sandiwara inilah kisah ini menemukan benang merahnya. Tonil bukan sekadar drama yang dimainkan di panggung. Pada masa itu, pertunjukan tonil mencakup akting, musik, nyanyian, tari, dekorasi panggung, kostum, dan pertunjukan yang bersifat populer. Dan ini digambarkan dengan begitu detail di novel berjudul panjang nan unik ini. Tidak hanya itu, karena menggunakan perlambang tertentu, tonil juga kera[ digunakan untuk menyampaikan propaganda terutama oleh pihak penguasa (terutama pihak Belanda, dan kemudian Jepang).

Di sisi lain, tonil atau sandiwara juga menjadi media bagi bumi putra untuk menyampaikan protesnya kepada kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat negeri jajahan. Bung Karno sendiri sempat mendirikan 17 kelompok tonil saat beliau diasingkan di Ende dan Bengkulu (1934-1938). Ia tidak berhenti berkarya meskipun aktivitas politiknya dibatasi dan menggunakan seni, terutama sandiwara/tonil untuk menyampaikan gagasan perjuangan dan membangkitkan semangat masyarakat

Salah satu kelompok sandiwara legendaris di Hindia Belanda dibentuk tahun 1926 di Sidoarjo, Jawa Timu. Ketika itu, sebuah kelompok sandiwara Melayu bernama Malay Opera Dardanella meraup sukses luar biasa. Pendiri tonil ini ialah Willy Klimanoff atau yang juga dikenal dengan nama A Piedro yang merupakan seorang Rusia yang lahir di Penang. Gayatri, salah satu tokoh utama novel ini, begitu mengidolakan kelompok ini.

Perkembangan kelompok sandiwara di masa akhir pendudukan Belanda hingga era penjajahan Jepang yang singkat namun begitu membekas di Indonesia inilah yang menjadi latar sekaligus penggerak cerita di novel ini. Kita diajak menyelami dunia pertunjukkan lewat sudut pandang begitu banyak tokoh dengan karakterisasi yang begitu kuat.

 

Kisah Gayatri sang bintang panggung tentu menjadi sorotan utama. Lalu ada kisah Aria Sabda sang penulis naskah yang berjuang mati-matian lewat pena. Kisah Liem Jia istri pemilik kelompok sandiwara dan Soichi Nakamura yang menjadi pejabat pendudukan Jepang sekaligus mengontrol tontonan hiburan warga juga tidak kalah dramatis. Dan tentu, setiap kisah punya antagonisnya, si sosok musuh dalam selimut-nya Gayatri, Sudira.

Kisah-kisah manusia (dan manusiawi) di novel ini seolah memberikan sentuhan dramatis kepada teks-teks sejarah yang sering kali kaku dan terpaku pada angka dan data. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah juga dibangun dan digerakkan oleh manusia-manusia yang punya cinta, perasaan, dan kisah hidupnya sendiri. Membaca novel ini membuat kita merenung, sejarah ternyata juga punya dramanya sendiri.

Diawali dengan perjuangan Gayatri yang sedemikian terobsesi dengan dunia panggung sandiwara. Perjalanannya menjadi bintang berjalan panjang penuh perjuangan. Tetapi hasilnya sepadan. Ia menjadi bintang panggung yang bersinar. Nasib lalu mempertemukannya dengan Aria Sabda yang banyak menulis naskah tentang propaganda. Keberaniannya menulis naskah drama yang mengkritik kebijakan Penjajah Jepang tidak hanya membuatnya dipecat dari kelompok sandiwara tempatnya bekerja. Selama berbulan-bulan, ia juga menjadi incaran mata-mata Jepang yang hendak menangkapnya.

Selama masa penjajahan Jepang, Sandiwara memang digunakan Jepang untuk menyampaikan propagandanya. Semua naskah sandiwara yang hendak dipentaskan harus dikirimkan dulu ke Sendenbu (Departemen propaganda resmi Jepang) yang dibentuk tahun 1942. Mereka menyensor naskah sandiwara, membuang hal-hal yang sekiranya dapat membahayakan kekuasaan mereka dan menambahkan hal-hal "positif" tentang Jepang.

Beberapa propaganda yang disebarkan misalnya bahwa Jepang adalah 'saudara tua' bangsa Indonesia, Jepang sebagai cahaya-nya Asia. Berbagai program kebijakan penjajah Jepang dan lagu-lagu Jepang juga wajib disertakan dalam naskah sandiwara.

Propaganda Jepang inilah yang diam-diam hendak dilawan oleh Aria Sabda. Ia melawan dengan tulisannya, lewat naskah-naskah dramanya. Ia membuat naskah dramanya versinya sendiri, yang tak terusik dan tak dicampuri oleh propaganda penjajah. Pilihan yang kemudian membuat hidupnya celaka. Kemerdekaan memang selalu layak diperjuangkan dengan banyak cara, termasuk lewat tulisan dan cerita.


Seperti biasa, mas Yudhi tidak main-main kalau sudah urusan riset dalam menulis naskah novelnya. Dalam novel terbarunya ini, pengarang terlihat telah banyak membaca data sejarah terkait sejarah teater tonil di Indonesia. Hasilnya adalah sebuah novel fiksi sejarah yang mengangkat konflik di dunia panggung sandiwara dengan muatan nilai historis begitu kental tetapi dituturkan begitu mulus dan lancar seperti novel yang terasa ringan saat dibaca.

Salah satu keistimewaan mas Yudhi Herwibowo dalam menggarap novel-novel fiksi sejarahnya adalah bikin pembaca semakin penasaran ikut melakukan "riset" setelah membaca novelnya. Saya langsung sok ikut-ikutan mencari sejumlah artikel tentang sejarah tonil atau sandiwara di Hindia Belanda-satu sisi bersejarah tentang sejarah kesenian di Indonesia yang jarang diangkat.

Beberapa kali mas Yudhi juga sempat mengunggah di story pribadinya, seperti rekaman suara Miss Roekiah yang menyanyikan salah satu lirik lagu yang dicantumkan di novel ini. Dan beberapa lagu lawas itu masih bisa kita temukan rekamannya di internet. Ternyata, ada banyak sekali sisi menarik yang perlu dan keren untuk dibaca dari sejarah negeri ini.

 


Sunday, December 14, 2025

3 Menit Terakhir

Judul: 3 Menit Terakhir
Penulis: Paul C.W. Davies
Penerjemah: Ratna Satyaningsih
Tebal: 188 pages
Cetakan: 2020 
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia


Beberapa bab agak nge-lag proses membacanya karena banyaknya istilah fisika dan angka-angka dengan pangkat sampai 10 juta, tetapi intinya

1. alam semesta ini terus mengembang dan suatu saat akan mengerut kembali ke titik awal dan saat itulah kehancuran alam semesta (yang syukurlah menurut buku ini, baru akan terjadi bermiliar miliar tahun dari sekarang, tapi who knows?)

2. Ada dua gaya yang bekerja di alam semesta: gaya Termodinamika (Thermodynamic Arrow of Time) sesuai oleh hukum kedua termodinamika, yaitu bahwa entropi (ketidakteraturan) selalu meningkat. Segala sesuatu cenderung bergerak dari teratur → tidak teratur, panas mengalir dari benda panas ke benda dingin. Proses ini menjelaskan mengapa waktu terasa “maju” dan tidak bisa dibalik. Kekuatan inilah yg mendorong semesta untuk terus mengembang. Ruang itu sendiri yang mengembang, bukan galaksi bergerak di ruang kosong

Gaya satu lagi adalah daya gravitasi. Ketika sebuah benda langit bermassa besar kehabisan daya yang mendorong keluar, maka ia akan runtuh ke dalam dirinya sendiri karena tarikan gaya gravitasi. Inilah gaya yang kelak akan meruntuhkan alam semesta.

3. Kiamat menurut buku ini adalah --> Big Freeze (Kematian Panas). Skenario "kiamat" paling mungkin menurut Davies adalah alam semesta terus mengembang selamanya, tapi bintang kehabisan bahan bakar yang harus dibakar untuk mencegah ia runtuh karena gravitasinya sendiri, dan akibatnya suhu mendekati nol mutlak tidak ada energi bebas untuk menopang kehidupan. Alam semesta menjadi dingin, gelap, dan sepi.

Hal yang menarik adalah ketika Davies juga menuliskan kemungkinan kiamat yang kedua, yakni ekpansi terhenti dan seluruh alam semesta kembali ke satu titik awal sehingga sleuruh materi runtuh ke satu titik (mirip dengan proses terjadinya lubang hitam tapi ini skala kiamat). Pertanyaannya, karena ruang dan waktu bergerak maju seiring dengan alam semesta yang mengembang, apakah waktu juga akan berbalik mundur ketika alam semesta mengerut? Mumet kan? Saya sih mumet bacanya.

Jika memang demikian, semua kejadian kehidupan baik yg sudah terjadi dan akan terjadi memang benar sudah tercatat dalam sebuah kitab yang tertulis.

4. Skenario penyelamatan peradaban manusia ketika alam semesta hancur menurut buku ini bukanlah dengan pergi ke galaksi lain atau mencari planet yang baru, tetapi dengan menciptakan alam semesta baru!! Waduh, secara teori dijelaskan bagaimana membikin alam semesta baru dengan menggunakan jalur lubang hitam. Berarti memang penciptaan alam semesta itu tidak hanya sekali, tetapi diulang dan berulang-ulang.

Teorinya kurang lebih begitu, tetapi lebih lengkapnya bisa dibaca di buku ini. Maaf kalo ada yg saya keliru nangkapnya. Lumayan kerja juga baca buku ini kalo ga menguasai teori dasarnya, tapi buku ini masih bisa dipahami kok asal mau repot sambil googling ini dan itu.

"(Ingatlah) hari ketika Kami menggulung langit seperti (halnya) gulungan lembaran-lembaran catatan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Itu adalah) janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami akan melaksanakannya." (Al-Anbiya: 104)

Wednesday, December 3, 2025

Pintu-pintu Menuju Tuhan

Judul: Pintu-pintu Menuju Tuhan
Penyusun: Nurcholish Madjid
tebal: 299 hlm
Cetakan: Desember 1994 
Penerbit: Paramadina
ISBN 9789798321030 (ISBN10: 9798321030)


Buku lawas yang terbit pertama sekitar 31 tahun lalu, dan sebagian besarnya merupakan kumpulan tulisan Nurcholis Madjid dalam kolom "Pelita Hati" di harian Pelita tahun 1989 - 1991. Tema isinya beragam, dari iman, etika, peradaban, moral, dan tentu saja politik. Semua dikaitkan dengan POV seorang insan Muslim dalam menjalankan kehidupan maupun keagamaannya. Semua disampaikan dengan gaya bahasa sederhana khas surat kabar masa itu.

Hal yang menarik adalah penulisan buku ini yang menjelang senja dari Orde Baru. Cak Nur beberapa kali menunjukkan ketidakaetujuannya dengan sejumlah kebijakan pemerintah saat itu. Tetapi, protes ini dibahasakan lewat tulisan yang berhati hati, cenderung bersahaja tanpa sepenuhnya menghilangkan protes protes tersebut. Seperti saat Cak Nur membahas ttg siapa yang harus dipilih dalam pemilu yg saat itu hanya diikuti 3 partai (PPP, Golkar, dan PDI). Di tengah kuatnya tekanan untuk memilih salah satu partai, Cak Nur tetap memberikan anjuran pilihan tanpa harus menunjuk partai dimaksud.

Kedalaman pemikiran beliau tampak dari lestarinya isi tulisan di buku ini. Meski ditulis akhir 1980an dan awal 90an, tema dan anjurannya masih relevan untuk dibaca. Saya berulang kali lupa kalau buku ini ditulis semasa Orde Baru, bukan di awal tahun dua ribu.

Menulis bagi Cak Nur adalah meninggalkan jejak yang tidak hanya memandu, tetapi juga menerangi yang lain. Beliau sendiri  sudah wafat pada 29 Agustus 2005, tetapi jejak karyanya insya Allah selalu menghidupi dan menerangi para pembacanya. Bagi beliau, ada banyak jalan untuk beribadah kepadaNya. Tidak melulu via ibadah formal dan syariat, tetapi juga hal hal kecil yang memanusiakan diri sendiri dan juga orang lain, walau berbeda keyakinan, tanpa harus menggadaikan keimanan.


Santri Bertanya

 Judul: Santri Bertanya
Penulis: Ahmad Zahruddin M. Nafis
Tebal: 172 halaman
Cetakan:  Januari 2014 
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
ISBN 9786022496540 (ISBN10: 6022496543)


Judul buku menggunakan kata "santri" karena pembahasannya merujuk pada banyak kitab-kitab karya ulama klasik Islam yang sering disebut dengan kitab kuning. Kehadiran buku ini banyak menambah sentuhan "pesantren" pada pembaca awam yang mungkin belum pernah merasakan ngaji kitab kuning atau nyantri. Adalah sebuah realitas bahwa tidak semua persoalan kehidupan dapat ditemukan jawabannya secara tekstual dalam al-Qur'an dan Hadist. 

Di sinilah peran intelektual para ulama muncul melalui metode ijtihad, seperti qiyas, istihsan, maslahah mursalah, dan lainnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan "meragukan" semisal: bagaimana hukum berazan sambil duduk, buang air kecil sambil berdiri, perkara muamalah dengan umat nonmuslim, besarnya zakat untuk tabungan di bank, hukum memelihara burung, tertinggal rakaat kedua dalam shalat Jum'at, dan banyak hal penting lain dalam ilmu fiqh yang saya pun belum banyak mengetahuinya.

Perempuan Bernama Arjuna #3: Javanologi dalam Fiksi

Judul: Perempuan Bernama Arjuna #3: Javanologi dalam Fiksi
Pengarang: Remy Sylado
Tebal: 308 hlm
Cetakan: Maret 2015 
Penerbit:  Nuansa Cendekia
ISBN 9786023500062 (ISBN10: 6023500064)


Sebagaimana klaim di sampulnya, buku ini memang bukan bacaan ringan. Tetapi di sisi lain buku ini juga masih terlalu ringan untuk membahas peradaban Jawa secara keseluruhan. Baik jawa sebagai sebuah entitas budaya, maupun Jawa sebagai salah satu peradaban tua di bumi Nusantara. Seperti buku Batakologi yang saya baca sebelumnya, buku ini dialurkan dengan kisah perjalanan Arjuna bersama sang suami Jean-Claude van Damme di latar yang menjadi sumber tema kisah utamanya. Kota Solo dan Jogja dipilih karena keduanya dipandang sebagai pusat peradaban Jawa saat ini, tentu sesuai judul buku seri ketiga ini: Javalogi dalam Fiksi.

Saya jadi teringat dengan Serat Centhini yang menggunakan metode berkisah tentang etnografis dan pengetahuan suatu tempat dengan dilakukan sambil berjalan oleh para tokoh utamanya. Metode serupa sepertinya digunakan dalam serial ini. Di masing-masing tempat, tokoh utama akan bertemu dengan tokoh lokal yang ahli dan akan menerangkan perihal budaya-agama-sejarah-tradisi manusia di wilayah tersebut. Jika di tanah Batak mereka ditemani seorang supir taksi S2 bernama Nadeak, di Solo ada Tuan Supardi Joko Darmono, seorang seniman tari (yang lahir, hidup, dan berharap wafat di Solo) sekaligus ahli tentang budaya Jawa.

Remy Sylado sepertinya menggunakan nama plesetan tokoh besar dalam seri Arjuna ini--selain mengakhiri atau memulai suatu bab dengan frasa khusus (di buku Batakologi, digunakan kata "tumben" untuk memulai setiap bab, sementara di buku ini digunakan frasa "jawabannya ada di bab berikut" di setiap akhir bab. Unik ya. Lewat sosok Supardi Joko Darmono inilah Arjuna, suami, ibu, pakde, dan keponakannya mendapatkan banyak info baru terkait hal-hal Jawa yang selama ini bikin penasaran. Salah satunya tentu asal muasal mitos tidak akurnya orang Sunda dengan orang Jawa padahal keduanya berada di pulau yang satu. Perang Bubat yang legendaris itu dikisahkan dengan luwes, lengkap dengan sejarah dan politik yang melatarinya.

Sedikit dibahas pula alasan mengapa orang Jawa terlihat selalu pasrah, ini terkait dengan filosofi mereka yang cenderung memilih hidup tenang walau seadanya, tidak terlalu ngoyo mengejar dunia meski itulah syarat cepat maju (dan kaya). Ada juga obrolan tentang Ramalan Jayabaya. Seorang pandhita Hindu yang karya ramalannya ternyata sangat bercorak Islam. Tentang agama sendiri, dibahas sebesar apa pengaruh Islam dalam perkembangan budaya dan peradaban Jawa di masa puncak. Ini menjawab kenapa Islam dan Jawa kemudian bisa menjadi suatu kesatuan pada umumnya. Hal yang menarik adalah tampilnya ajaran Katholik dan Protestan di Jawa, bagaimana ajaran yang dibawa bangsa Barat ini akhirnya bisa diterima juga oleh orang Jawa yang dominan Islam.

Bagian paling uhuk ada di pengujung buku ini, apalagi kalau bukan bagaimana orang Jawa memandang tentang senggama sebagai sebuah olah spiritual yang suci. Sedikit disunggung tentang Kitab Kamasutra dan pengaruhnya terhadap kehidupan rumah tangga Jawa. Sayang sekali, seks Jawa di buku ini tidak menyertakan kunjungan ke Candi Ceto dan Candi Sukuh, padahal lokasinya dekat sekali dengan Solo. Sepertinya, waktu mereka habis di Solo, bernama sang narasumber nyentrik bernama Joko Darmono.

Hal lain yang cukup disayangkan, latar Jawa di buku ini ternyata hanya Solo. Padahal, saya mengharapkan acara jalan-jalan mereka akan dibagi sama rata untuk Solo dan Jogja. Sayangnya, Jogja baru muncul di halaman 283 (padahal tebal buku hanya 305 halaman), dan dikesankan hanya sekadar lewat. Jadilah Jawa di buku ini akhirnya serba tanggung dan terkesan kurang tebal jika dibandingkan dengan peradaban yang bisa jadi berjilid-jilid ensiklopedia untuk menuliskannya. 

Tetapi, mungkin Jogja memang sudah terlalu sering dituliskan dan dijadikan latar. Saatnya Solo yang tampil sebagai sebuah kesegaran dari Jawa. Tetapi juga, bisa jadi memang seri ini ditulis untuk pembaca awam yang bukan hanya Jawa, sehingga sebuah karya yang terlalu Jawa hanya akan berujung pada sebuah buku antropologi--dan bukannya novel. Tetapi juga (lagi), rasanya masih jomplang ketika sebuah buku yang diklaim "membawa Jawa" ternyata hanya mampir di satu kota saja, ya sudahlah.

Entrok

Judul: Entrok
Pengarang: Okky Madasari
Tebal: 282 hlm
Cetakan: April 5, 2010 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792255898

Ada begitu banyak hal terjadi dalam novel ini, yang semua terjadi pada era Orde Baru. Peristiwa-peristiwa besar saat itu, mulai dari PEMILU yang selalu dimenangkan oleh bendera kuning, kasus Kedung Ombo, maraknya Petrus (penembak misterius), peledakan delapan stupa Borobudur oleh kaum ekstremis, pelarangan hal-hal terkait budaya dan kesenian Tionghoa, dan KTP bertanda PKI. Konon masa itu, mereka yang menentang pihak berkuasa akan diberi cap sebagai PKI—atau istilahnya di PKI-kan. Orang dengan stempel imajinatif ini akan sulit mendapatkan pekerjaan, sulit diterima masyarakat, dan bahkan susah untuk menikah—seperti yang dialami Rahayu, anak Yu Marni.

Entrok berkisah tentang kehidupan 3 generasi perempuan yang menjadi korban dari masa kehidupan mereka. Adalah Yu Marni, seorang penghayat kepercayaan kepada Ibu Bumi dan Bapak Langit yang tak pernah lelah memberi sesajen dan melakukan penghayatan pada tengah malam di bawah pohon asem di rumahnya. Yu Marni kecil hidup dengan didikan emaknya yang hanya bisa pasrah melihat bagaimana wanita diperlakukan pada saat itu. Hanya kaum lelaki saja yang boleh digaji dalam bentuk uang, sementara pekerja perempuan hanya dibayar dalam bentuk barang. Yu Marni dan emaknya yang bekerja mengupas ketela tentu saja hanya mendapat bayaran berupa ketela.

Untung Yu Marni punya pemikiran bisnis yang moncer. Ia tidak ingin seterusnya hidup seperti itu, ia ingin bisa hidup sejahtera, tidak diremehkan, dan berdikari. Mulailah ia menjadi kuli perempuan pertama di pasar Singger. Dari uang hasil jadi kuli angkut, ia menggunakannya untuk berjualan sayur, yang diiderkan di kampung-kampung. Murni menjemput bola dengan mendatangi pembeli. Usahanya lancar dan berkembang hingga akhirnya dia menjadi juragan dengan sawah berhektar. Usaha lainnya adalah sebagai bangplecit dengan bunga 10%.

Dari sinilah semua masalah ribet mulai bergulir. Tidak ada yang bisa tenang ketika melihat ada sumber uang di depan mata. Kekuasaan kemudian dijadikan senjata untuk mencari uang, dengan prinsip perlindungan padahal aslinya hanyalah penerapan politik jatah preman. Pembaca diuat terombang-ambing tentang siapa yang sebenarnya salah di sini. Apakah Yu Marni yang kaya raya sebagian dari hasil membungakan utang, ataukah pihak-pihak berkuasa yang turut menikmmati riba meskipun di luar mereka mengutuknya.

Entrok benar-benar membuka pandangan tentang apa-apa yang selama ini keliru di sekitar tetapi tidak disadari kalau itu keliru karena sudah terlalu banyak yang melakukannya. Ketika sebuah kekeliruan dianggap wajar dan biasa saja, tidak ada kata lain kecuali pasrah demi keamanan diri. Harta hasil jerih payah sendiri diambil paksa. Keyakinan luhur yang dianut sejak nenek moyang dicurigai. Sementara pihak berkuasa semakin mengurita dan rakyat kecil yang apesnya tidak bisa berbuat apa-apa—termasuk ketika diberi label “terlarang” hanya karena tindakan memprotes pihak berkuasa.

Hampir-hampir tidak ada orang benar di novel ini. Ceritanya begitu miris, membuat pembaca hanya bisa menerima karena memang sedemikian kuat pihak yang berkuasa waktu itu. Mungkin, hanya usaha Yu Marni dengan jiwa wirausahanya yang layak untuk kita tiru. Jika punya uang, jangan melulu dihabiskan untuk konsumsi. Belilah barang investasi yang bisa menghasilkan uang lagi. Yu Marni telah mencontohkannya. Carilah uang, yang banyak, karena kadang hanya diri sendiri yang bisa menolong kita.