Search This Blog

Tuesday, April 26, 2022

Benantara, Lingkungan Alam dalam Sejarah Nusantara

Judul: Benantara

Editor: Bukhori Masruri

tebal: 193 hlm

cetakan: Oktober 2021

penerbit: KPG




Tema sejarah jarang sekali dikaitkan dengan lingkungan. Jika pun ada, materinya mungkin hanya sebatas penyampaian narasi mengenai kondisi geografis dan lingkungan hidup di sekitaran sebuah situ sejarah. Padahal, berbagai laporan, babad, dan peristiwa bersejarah menunjukkan eratnya keterkaitan antara sejarah dan lingkungan. Bagaimana sosok-sosok terkenal dalam sejarah mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam. Atau, bagaimana candi atau situs arkeologis dibangun menyesuaikan dengan kontur atau topografi lingkungan sekitarnya--dan demikian tidak merusak atau mengubah banyak alam lingkungan yang mengelilingi tempat tersebut. Lebih dari itu, manusia zaman dulu sepertinya begitu menghargai bahkan menghormati alam sekitar.

            Kurangnya penelitian mengenai kaitan sejarah dengan lingkungan hidup inilah yang mungkin berusaha dijembatani oleh penggagas buku ini. Bukhori Masruri salah satu sejarahwan yang menyadari masih begitu kurang atau hampir tidak adanya catatan sejarah mengenai interaksi antara manusia dan alam. Lewat program Benantara atau Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara (yang kemudian menjadi judul buku ini), penulis mengajak banyak ahli sejarah, peminat sejarah, dan kalangan intelektual untuk bergerak menguak sisi-sisi ekologis dari teks-teks atau artefak sejarah. Dan, hasilnya adalah buku kumpulan esai menarik ini.

         Salah satu esai dalam buku ini ditulis oleh Peter Carey, yang tentu belum bisa lepas dari tema yang menjadi keahliannya: Diponegoro. Melalui berbagai babad dan kesaksian, Carey mengajak kita menyelami alam pikiran Pangeran Diponegoro terkait alam sekitar. Dari tulisan ini, kita jadi tahu betapa sang pahlawan nasional ini suka sekali berkelana dan menyepi di hutan. Rumah kediamannya di Selarong dirancang sebagai istana-benteng yang ramah dengan alam. Beliau juga dikenal penyayang binatang.

            Berbagai prasasti dan artefak sejarah yang tersebar di nusantara ternyata dibangun dengan mempertimbangkan lingkungan sekitarnya. Gunung Penanggungan di Jawa Timur yang melambangkan kosmologi Hindu India dipenuhi dengan berbagai petilasan, candi, dan juga reruntuhan yang kemudian disakralkan. Selain sebagai upaya meraih kesempurnaan spiritual, menjadikan gunung dan alam sekitarnya sebagai sebuah tempat yang sakral berfungsi juga sebagai penyelamat ekologis. Gunung dan hutan di sekitarnya dipandang wingit atau angker, sehingga tidak boleh dijarah atau dirusak.

            Fungsi spiritual dan ekologis ini nyatanya bisa berpadu dan saling melengkapi. Dalam sebuah esai karya Muhammad Iqbal Faza, dipaparkan bagaimana Sunan Muria telah memberikan wejagan yang “ramah lingkungan” kepada warga di sekitar Gunung Muria. Wejangan untuk mengambil buah parijoto di hutan lereng pegunungan Muria telah menghindarikan wilayah itu dari kerusakan ekologis. Warga taat untuk hanya mengambil sebanyak yang dibutuhkan saja dari hutan, dan bukannya mengubah hutan menjadi lahan pertanian. Sebuah nasihat yang sederhana tetapi memiliki dampak ekologis sangat besar.

Agak bikin insecure baca biodata para penulis esai di buku ini. Keren-keren semuanya, bahkan beberapa ada yang kelahiran 1995 ke atas. Masih muda tapi juga senang dan mencintai sejarah (dan juga lingkungan), kurang apa lagi coba. Buku ini memberikan sudut pandang baru dalam menilai sejarah nusantara. Walau beberapa esai masih terasa terlalu kaku, tetapi penulisan buku ini adalah langkah maju dalam penelitian sejarah sekaligus pelestarian lingkungan alam.


Tuesday, March 15, 2022

Neraka Cermin, menyentil Sisi Gelap dalam Diri Manusia

Judul: Neraka Cermin

Pengarang: Edogawa Rampo

Penerjemah: Anton WP

Tebal: 102 Halaman

Terbit: 2011 

Penerbit : BukuKatta (first published 2005)

ISBN 139789791032506


Kadang, ungkapan jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja memang benar adanya. Banyak buku bagus tapi tidak terdeteksi radar pembaca hanya karena sampulnya tidak atau kurang menarik, atau kurang pas. Di era media sosial yang menuntut penampilan visual wah seperti saat ini, sampul buku mau tak mau menjadi pertimbangan penting dalam membeli sebuah buku. Ada ribuan produk buku diluncurkan di linimasa dan juga toko buku, tapi hanya tidak banyak yang mendapatkan perhatian semestinya. Terlalu banyak produk sementara kemampuan membeli dan membaca masyarakat pastinya terbatas. Dalam hal ini, pemilihan sampul yang sesuai (tidak harus bagus, tapi sesuai) bisa menjadi solusi untuk menarik perhatian dari ribuan produk yang juga sama-sama ingin menjadi perhatian. 

Buku kumpulan cerpen yang terbit tahun 2011 ini salah satunya. Buku dengan isi bagus tapi sampulnya kurang cocok. Bukan berarti sampulnya jelek, hanya kurang sesuai. Sekilas pandang, orang akan mengira ini buku komik manga, atau setidaknya buku tentang komik manga. Malah ada gambar Conan Edogawa juga yang ditampilkan. Mungkin memang strateginya untuk menarik pasar yang saat itu belum banyak yang tahu tentang pengarang terkenal dari Jepang ini, Edogawa Rampo. Alhasil, enam kisah misteri di dalamnya seolah terbenam dalam sampul komikal yang terlalu ringan untuk isinya yang berat. 

Edogawa Rampo dikenal juga sebagai Bapak Cerita Misteri dari Jepang. Kepopulerannya bisa disamakan dengan Edgar Allan Poe yang juga menjadi Bapak Cerita Misteri Dunia. Hal yang lebih menarik lagi, Edogawa Rampo ternyata adalah bentuk pelafalan dalam bahasa Jepang dari Edgar Allan Poe. Penulis memang mengidolakan sosok pengarang dari Barat itu. Pengaruh yang juga bisa dilihat dan dirasakan pada karya-karyanya di buku ini. Misteri yang ditawarkan Rampo tidak melulu misteri hantu atau kisah kriminal semata. Mirip dengan Allan Poe, Rampo memadukan antar misteri dan kriminalitas yang kesemuanya erat terkait dengan sisi gelap psikologis manusia. Enam kisah misteri di buku ini membuat pembaca tidak hanya bergidik ngeri, tetapi sekaligus terhibur dan menyadari fakta yang sering dilupakan kalau manusia itu sendiri masih menjadi misteri paling rumit di alam semesta.

Buku ini terdiri atas enam cerita pendek misteri, dengan kekhasan masing-masing. Kisah pertama berjudul Neraka Cermin. Berkisah tentang seorang nerd yang tergila-gila pada cermin. Tidak hanya mengoleksi cermin dari berbagai ukuran dan bentuk, dia juga terobsesi mengelilingi dirinya dengan cermin. Kegilaannya ini berpuncak pada hasratnya untuk masuk ke dunia cermin. Dia membayar para insinyur untuk membuat sebuah bola yang bagian dalamnya dilapisi dengan cermin cekung. Entah apa yang disaksikannya di dalam bola cermin itu, pria itu akhirnya gila betulan. Membayangkan seorang diri dikelilingi cermin yang memantulkan diri pada setiap sisi, pasti akan sangat mengerikan. Mungkin bukan hanya memantulkan fisik, bola cermin itu bisa jadi turut memantulkan kegilaan terdalam dari diri seseorang.

Cerita Jurang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang pria dan wanita, tampaknya suami istri. Dialognya panjang tapi enak diikuti, sebelum ditutup dengan klimaks mengejutkan sekaligus menjadi twist di penghujung kisah. Kisah Kembar berkisah tentang seseorang yang menggantikan posisi saudara kembar identiknya. Saya pernah membaca kisah yang serupa karya penulis cerita misteri dari Inggris. Kisah ini sedikit banyak menggambarkan sisi kelam dan sisi baik manusia seperti pada kisah dr. Jeckyl dan tuan Hyde. Kemudian Kursi Bernyawa, cerpen favorit saya di buku ini. Mengisahkan bagaimana jika seseorang menjadikan dirinya sebuah kursi demi memuaskan kegilaannya yang ingin menyentuh wanita-wanita cantik tanpa ketahuan. Cerpen ini juga ditutup dengan spektakuler. Keren memang Rampo.

Dua kisah terakhir, Dua Orang Pincang dan Ulat adalah yang paling gelap aura misteriusnya. Kisah pertama bercerita tentang bagaimana seorang mahasiswa psikologi yang cerdas memainkan sebuah trik psikologis kepada temannya untuk melakukan kejahatan. Sementara Ulat menusuk langsung ke sanubari pembaca, mengajak mereka untuk membayangkan bagaimana hidup dalam sebuah dunia yang begitu terbatasi. Rampo memang pandai sekali mengulik-ulik sisi gelap sekaligus sisi lemah manusia dalam cerita-ceritanya. Membaca buku ini kembali menyadarkan saya akan sifat-sifat gelap yang terpendam serta tersimpan dalam setiap benak manusia. Selain berprasangka baik, sesekali kita memang harus tetap waspada pada sesama manusia. Karena itu tadi, manusia memang masih menjadi mahkluk penuh misteri.

 

Wednesday, March 9, 2022

Mengenang masa Remaja dalam Lupus ABG: Sur...Sur... Surprise

 Judul: Lupus ABG: Sur...Sur... Surprise (Lupus ABG #7)

Pengarang: Hilman Hariwijaya, Boim Lebon

Tebal:  112 pages

Cetakan: September 2007 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Serial Lupus tidak bisa dipisahkan dari masa remaja generasi 1980-an dan 1990-an. Pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung di Majalah Haii, serial ini akhirnya dibukukan menjadi semacam kumpulan cerita dan juga sejumlah novel. Dan penjualannya laris manis, terutama tahun 1990 – 2000.  Serial ini bahkan bisa dibilang mewakili stereotype cowok pertengahan dekade  1990an yang sebelumnya ditempati oleh Balada si Roy  (dan disusul Dilan tahun 2010-an). Keunikan serial Lupus ada terutama pada banyolannya. Lupus ini usil, bandel, tapi sebenarnya cerdas. Yang paling khas dari dirinya tentu saja tebakan-tebakan lucunya selain jambul dan permen karetnya.

Tebakan-tebakan lucu dalam Lupus sempat lucu pada masanya, meskipun bisa jadi jayus jika dibaca pada abad internet ini, terutama generasi yang lahir setelah tahun 2000. Tetapi sebagai generasi 1990an, saya merasakan betul kalau tebakan-tebakan ini memang benar-benar lucu pada masanya. Masa-masa saya di SMA bisa sedikit lucu gara-gara saya membaca serial Lupus sejak kelas dua SMP. Lupus juga saya masih ingat adalah buku atau mungkin novel pertama yang saya beli dengan menabung uang jajan saya selama sebulan. Waktu itu tahun 1998, dan ada sebuah toko buku kecil di kecamatan saya. Luar biasa.

Serial Lupus bisa dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai usia si Lupus, yakni Lupus Kecil, Lupus ABG, dan Lupus yang dewasa muda. Masing-masing karakter punya keunikan dan lucunya sendiri. Serial Lupus yang pernah diangkat sebagai sinetron di TV adalah Lupus ABG dan dewasa muda. Saya pribadi lebih menyukai seri Lupus kecil karena humornya polos dan isinya tidak melulu cinta-cintaan, walau tetap saja semua serial ini saya embat baca di persewaan buku Cendekia saat kuliah wkwkwk. 

Di buku ini, ada kisah Lupus dan Lulu saat masih SMP. Setting waktunya Jakarta tahun 1998, yang saat itu diwarnai dengan terjadinya krismon atau krisis moneter. Kala itu dolar Amerika yang tadiya Rp2.500 melesat jadi Rp12.000 lalu sempat pula mencapai Rp20.000. Tentu saja banyak perusahaan yang kolaps dan gulung tikar, pengangguran merebak di mana-mana, begitu juga bibit-bibt demo juga mulai marak. Walau situasi ekonomi mencekam, Lupus dan keluarga bisa menghadirkan hiburan hangat di tengah deraan kesulitan.Sungguh, mereka yang menjadi remaja tahun 1990an akhir berutang banyak pada serial yang telah membentuk sekaligus menghibur pikiran mereka ini.

Walau terbit lebih dua puluh tahun lalu, membaca buku ini tetap menghadirkan perasaan menyenangkan. Nostalgia ketika di sekolah sibuk ngobrol dan main tebak tebakan di kelas (belum musim hape dan internet), balada naik angkot yang jarang banget mau berhenti kalau yang nyetop anak sekolahan (mengalami ini banget, dulu pernah hampir sejam nunggunya karena angkotnya ga mau ngangkut), serta pengiritan besar-besaran akibat krismon yang kerasa banget. Tapi di masa-masa sulit itu, Lupus dan keluarganya mampu menghadirkan drama yang menghibur. Walau kesulitan keuangan, Lupus keluarga dan teman temannya cari akal untuk cari tambahan, bukannya larut dalam status dan tweet keluh kesah (tapi mungkin karena blm ada medsos aja sih wkwk).

Yang paling berkesan dari seri Lupus ini adalah bagaiamana mereka selalu berusaha menyempatkan membantu orang lain, terlepas dari caranya yang kadang begitu sederhana: menghibur sesama. Benar kata penulisnya, cara membahagiakan diri sendiri salah satunya adalah dengan membahagiakan orang lain. Maaf ini jadinya malah bukan ulasan, tapi sekadar ungkapan curahan hati untuk serial kesayangan ini. 

Terima kasih Mas Hilman (dan juga Mas Boim) telah menghibur masa remaja kami.


Tuesday, March 8, 2022

Berumah di Buku, Teladan Sejati Mencintai Buku

Judul: Berumah di Buku

Penyusun: Bandung Mawardi

tebal: 136 Halaman

Cetakan: November 2018

Penerbit: Basa Basi


Berumah di Buku menjadi catatan kesaksian seorang Bandung Mawardi yang rumahnya memang benar-benar penuh dengan buku (cerita Mas Yudhi). Jika Indonesia tahun 1950an punya Muh. Hatta dan H.J. Jassin yang pecandu buku tak ada duanya, maka Indonesia tahun 2000 juga punya beberapa tokoh penggemala buku seperti penulis buku ini. Kesetiaan beliau dalam membeli buku, terutama buku bekas sungguh tak perlu diragukan lagi. Saya bahkan pernah dengar cerita kalau beliau sampai rela tidak punya uang untuk membeli makan karena honor tulisannya di media massa (yang kadnag sering telat datangnya) habis untuk membeli buku.

Selain pecandu buku, Bandung juga seorang pengarsip yang tekun. Mungkin hanya Muhiddin M Dahlan yang bisa menandingi ketekunan beliau dalam mengarsip berbagai buku lama, koran, serta majalah yg pernah terbit di Indonesia. Buku ini menjadi bukti betapa seriusnya penulis dalam mengejar, berburu, dan memeluk buku. Seluruh babnya adalah semacam catatan "wagu" nya untuk buku-buku klasik yang dibacanya. Melihat deretan judul buku di buku ini, tidak heran jika uang honornya sering habis untuk buku. Buku-buku yang terbit tahun 1930an tentu tidak murah harganya.

Mulai dari buku yg sudah tidak ada sampulnya, kehilangan bab pertamanya, hingga buku yang setebal kamus (tenryata kamus beneran) dipeluk dan digilai oleh Bandung. Penulis memilih aneka pustaka yg terbit dari awal 1930 hingga 1970an. Banyak yang penerbitnya pun sudah hilang, apalagi buku-bukunya. Banyak fakta menarik seputar buku-buku di buku ini, seperti kamus dari era Hindia Belanda yang menggunakan aksara latin dan hanacaraka, kumpulan lagu daerah yg hampir punah, hingga buku ttg kumpulan buku yang "wajib dibaca" dan diterbitkan pemerintah era Soekarno. Ada juga sedikit cerita tentang Pram yang ternyata pernah menulis buku agama.

Buku memang hanya kumpulan kertas berisi tulisan. Bagi sementara orang ia mungkin hanya tumpukan kertas yang menyita ruang dan pengumpul debu. Tetapi bagi banyak yang lain, buku adalah bagian penting dari hidup yang sekaligus menggambarkan bagaimana kehidupan mereka. Buku bagi Bandung Mawardi adalah cinta pertama, dan bagi banyak orang lainnya buku adalah rumah bernaung yang nyaman. Begitu. 

Belajar Merelakan lewat Buku How Mastering the Art of Letting Go Will Change Your Life

Judul: The One Skill: How Mastering the Art of Letting Go Will Change Your Life

Penyusun: Leo Babauta

Free ebook, 60 pages

Published April 28th 2014


Berbagai kecemasan dan ketidakpuasan dalam hidup diawali dari fakta bahwa kita sering lupa kalau:

Life isn’t something we control, no matter how much we try.

Kita menginginkan segala sesuatunya ideal, semua sesuai dengan kemauan kita. Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan orang lain. Tapi, setelah kita berbuat baik kepada orang, sering sekali orang itu tidak balik berbuat baik kepada kita. Kita ingin mereka memperlakukan kita sama dengan kita memperlakukan mereka. Sayangnya, kehidupan tidak selalu berjalan demikian. Selain tidak bisa mengendalikan segala hal dalam hidup, kita juga tidak bisa sepenuhnya mengendalikan orang lain. Kenapa? Karena

Their resistance is natural. People doesn’t have the right habits (neither do you) or perhaps has different priorities than you.

Lalu kudu bagaimana? Ya, Instead, focus on yourself, and be the shining example. Be the compassionate center. Let go of wanting to control people, of wanting to change them.

sadari juga Often one of the greatest sources of frustration is wanting to show others that we’re right, and they’re wrong. This causes us to be angry and insistent, and causes others to be the same way.

Begitu sering kita marah-marah tidak jelas. Tidak apa-apa merasa marah, yang berbahaya adalah hal-hal buruk apa yang mungkin kita lakukan saat sedang marah. Saat marah, ingat selalu bahwa

your anger comes not from the occurrence but because you don’t want the thing to occur.

Maka balik lagi ke poin pertama, kita tidak bisa mengendalikan hidup dan orang lain agar semuanya sesuai dengan keinginan kita. Dan itu tidak apa-apa. Kita hanya manusia bisa, bukan dewa atau muridnya Voldermort. Yang harus dilakukan hanyalah menyadari bahwa kita memang tidak bisa mengendalikan semua. Kita manusia biasa, dengan segala keterbatasan dan kesementaraan. Memang rasanya sulit, mencoba melepaskan idealisme kita tentang bagaimana realita seharusnya berjalan menurut pandangan kita dan menyadari bahwa realita adalah sesuatu yang tidak mungkin sepenuhnya kita kendalikan. Tapi melepaskan idealisme tentang hal-hal di luar kemampuan kita sering kali jauh lebih baik bagi diri kita maupun orang-orang di sekitar.

But the pain of letting go is often very little compared to the benefits of letting go of something that is harming us or people around us.

Hidup memang tak terduga. Kadang mudah, kadang sulit. Tapi seringkali kita hanya menyukai yang mudah dan sangat benci dengan bagian sulitnya. Padahal kehidupan adalah dua sisi mata uang: mudah - sulit, bahagia - menderita, menyenangkan - menyedihkan. Lalu, bagaimana cara untuk bisa menerima sisi "sulit" dari hidup? Dengan menyadari bahwa

Life doesn’t have to be easy — in fact, the hard stuff is how we achieve anything of value. Life doesn’t have to be comfortable — in fact, when we get out of our comfort zone, we grow. He doesn’t have to know what he’s doing — it’s when we do things we don’t know how to do that we learn new things, new skills, and get better at them.

Maka kunci untuk hidup yang tenang dan bahagia adalah

Accept the impermanence. Let go of the ideal, see reality as it is, and respond appropriately.

Without taking anything personally. Just respond to reality.

Jenis idealisme lain yang perlu dikendorkan sedikit adalah tentang "ambis". Seringkali kita mengambil terlalu banyak pekerjaan, terlampau banyak mata kuliah, terlalu berat tanggung jawab sampai lupa kalau kemampuan kita juga ada batasnya. Kalau nggak kena tipes, yan berujung stres. Untuk itu, pahami dulu:

Accept the situation: you have a ton of work, and limited time. Use the limited time wisely by doing one thing at a time, as best you can given your time limitations, then do the next thing. You can’t do more than one thing at a time, so get focused, get your work done, and accept your limitations.

Dan ini salah satu nasihat yang paling relate buat saya, karena terkait dengan fisik yang nggak "good-looking." Buat teman-teman yang juga merasa nggak goodlooking, mari sama-sama kita pahami bahwa:

You’ll never get to an ideal body (that’s fantasy) but you can 1) learn to be grateful for your body as it is, and 2) focus on health. Do healthy things, like eating vegetables and less junk, exercising and meditating. That’s more productive than comparing your body to a fantasy.

Dengan bahasa lain, menjadi goodlooking itu bawaan tapi menjaga tubuh tetap sehat adalah pilihan. Terakhir, berikut ini langkah-langkah untuk mengurangi kecemasan dan membuat hidup lebih damai dan tenang.


1. See how the ideal is making you suffer.

2. See how the ideal is making the situation worse (you being angry only hurts your relationship, you being unhappy causes you to comfort yourself with food, etc.).

3. Try putting aside your ideal and anger.

4. Turn to your suffering, accept the suffering, and comfort yourself.

5. See the other person or the situation as it really is. See that the other person is suffering too. Accept the other person as they are, accept the situation as it is.

6. Give the other person compassion.

7. Deal calmly with the situation appropriately. Find ways to make the situation better if there’s a problem to be solved.

Be grateful. 

Monday, February 21, 2022

Petualangan Borneo, Menjelajahi Kalimantan Kepulauan Aru, Sulawesi

Judul: Petualangan Borneo

Penyusun: Alfred Russel Wallace

Penerjemah: Anna Karina

Cetakan: 1, Mei 2016

Tebal: 152 hlm

Penerbit: Gramatical 



Alfred Russel Wallace, sang penemu garis Wallacea yang memisahkan flora fauna endemik di Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur, mengisahkan dalam buku jurnalnya ini catatan perjalanan saat menjelajahi Kepulauan Melayu. Hanya saja, di buku ini hanya dikisahkan petualangannya ketika di pulau Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), dan Kepulauan Aru. Sepertinya buku ini adalah bagian dari buku The Malay Aechipelago yang telbih tebal, karena catatan perjalanannya seperti terpotong di akhir buku ini. Meskipun hanya di tiga wilayah, pengalaman dan petualangan yang dialaminya sangat luar biasa. Tidak hanya mengamati flora fauna endemik di setiap pula, dia menuliskan juga pengalaman etnogrfisnya saat bertemu serta berinteraksi dengan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah-wilayah tersebut. Apa yang dikerjakan Wallaceadalah impian bagi setiap naturalis, etnologis, botanis, sekaligus geolog.

Buku ini dibuka dengan paparan singkatnya mengenai proses terbentuknya benua, yang berlangsung dalam skala ratusan ribu tahun. Wallace dengan gamblang memaparkan opininya tentang proses pengangkatan dan penurunan dasar samudra yang menyebabkan terjadinya perbedaan mahkhuk hidup yang mendiami dua wilayah daratan yang dipisah oleh lautan. Kepulauan Nusantara menjadi salah satu tempat yang mendukung teorinya itu. Pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu pernah menjadi bagian dari benua Asia, dihubungkan oleh daratan rendah yang kering saat zaman es terakhir. Begitu pula pulau Papua, Maluku, dan pulau-pulau lain di Indonesia Timur dulunya adalah bagian dari benua Australia. Inilah sebabnya fauna di pulau-pulau bagian barat sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan fauna yang ada di Indonesia bagian timur. Sebagai tambahan, ada juga fauna khas yang hanya bisa ditemukan di tengah-tengah kepulauan menakjubkan ini.

Bagian pertama mengisahkan perjalanan Alfred Wallace di Kalimantan. Karena dia warga Inggris, keberadaannya tentu sangat diterima di Serawak, bagian dari pulau Borneo yang dikuasai Inggris. Agak miris membaca bagian ini, ketika dia mengisahkan upayanya berburu orang hutan atau mias. Meskipun demi alasan ilmu pengetahuan sebagai sebuah specimen awetan untuk kemudian dipamerkan di museum di Inggris sana, rasa tidak tega itu berkali-kali muncul. Apalagi Wallace tidak hanya menembak satu orangutan, tapi beberapa belas ekor. Ada satu kisah menyedihkan yang mungkin juga sempat terulang di era modern, ketika timnya menembak seekor induk orangutan yang sedang mengendong anaknya. Wallace terpaksa merawat mahkluk kecil malang tersebut, yang pada akhirnya harus mati juga karena kekurangan nutrisi, penyakit, dan ditinggal induknya. Pokoknya nyesek banget baca bagian ini. 

Bagian kedua berkisah tentang suku Dayak di Kalimantan utara. Wallace dan tim sempat menginap di rumah besar untuk mengamati adat dan tradisi suku Dayak ini, termasuk tradisi pengayau kepala yang kemudian diawetkan sebagai tanda mata. Berkebalikan dengan anggapan orang luar, suku Dayak pedalaman yang ditemui Wallace ternyata ramah dan tidak se-primitif anggapan orang Barat. Mereka memiliki susunan organisasi sederhana, membangun rumah dengan teknik tingkat tinggi, bahkan telah menguasai kemampuan membuat barang-barang berguna dari batang bambu. Menarik melihat pohon ini ternyata mendapat banyak pujian dari Wallace karena kegunaannya dan terutama karena elasitasnya. Pohon lain yang dikagumi naturalis Inggris ini adalah …durian. Berbeda dengan orang Barat kebanyakan yang kurang menyukai rajanya para buah ini, Alfred Wallace jatuh cinta pada durian. Dia menjadikannya buah paling lezat di dunia selain jeruk.

Bagian ketiga mengisahkan perjalanannya ke Sulawesi. Bab ini tidak berkisah banyak tentang flora dan fauna khas Sulawesi, terutama karena ekspedisinya hanya dilakukan di wilayah sekitaran Makassar. Jurnalnya lebih banyak diisi dengan penggambaran tentang orang Bugis dan juga perahu-perahu mereka. Juga tentang kupu-kupu. Hal yang menarik adalah Wallace mengisahkan cukup detail mengetahu gempa bumi yang dirasakannya saat di Celebes. Guncangan gempa dirasakan cukup kuat dan lama, bahkan gempa susulan berlangsung sepanjang malam. Tetapi Wallace lebih dikuasai oleh rasa penasaran ketimbang rasa takut karena gempa bumi memang jaran terjadi di negeri asalnya. Di samping itu, Wallace mengamati kalau tidak banyak kerusakan yang timbul meskipun guncangannya terasa cukup kuat. Bentuk dan bahan pembuat rumah yang menggunakan kayu, bamboo, dan rotan mampu sedikit meredam kekuatan gempa sehingga orang-orang pun terhindar dari bahaya kejatuhan material-material berat. Tapi Wallace mengakui kalau kekuatan gempa jauh lebih dahsyat ketimbang bencana akibat badai.

Bagian terakhir adalah pelayarannya ke Kepulauan Aru. Bab ini adalah yang paling primitive cast away bagi Wallace karena dia benar-benar berlayar, tinggal, dan berinteraksi dengan suku pedalaman di Kepulauan Aru yang kaya akan fauna eksotis tersebut. Di sini dia mendapati aneka burung dengan warna-warni indah, termasuk the bird of paradise  atau yang lebih kita kenal dengan burung cendrawasih. Tentu saja mahkluk-makhluk ini tidak luput untuk dijadikan bagian dari koleksi spesimennya. Kerakusan Wallace ini akhirnya dibalas oleh alam lewat bisul dan bentol yang diakibatkan oleh nyamuk-nyamuk tropis. Dia bahkan sampai tidak bisa berjalan selama seminggu. Sedikit pengamatannya pada masyarakat Kepulauan Aru menunjukkan orang-orang di sana masih sangat percaya dengan mitos. Wallace sendiri dengan cerdas menyimpulkan betapa dirinya yang kulit putih itu bukan tidak mungkin kelak akan dimitoskan pula orang-orang tersebut.

Petualangan yang luar biasa, ditulis dengan baik, dan diterjemahkan dengan mulus.  Alfred Wallace melakukan ekspedisi ini tahun 1850-an tapi gemanya terasa sampai sekarang. Perjalanannya ini juga yang kelak turut mengilhami Charles Darwin saat menyusun karya legendarinya, The Origin of the Spesies. 



Tuesday, February 15, 2022

Keajaiban Enzim Pangkal, The Miracle of Enzyme

Judul: The Miracle of Enzyme
Judul Asli: The Enzyme Factor
Penulis: Hiromi Shinya, MD
Penerjemah : Winny Prasetyawati
Penyunting : Budhyastuti R.H.
Proofreader : M. Eka Mustamar
Halaman : 312 halaman
Penerbit: Qanita
Cetakan 13: Mei, 2014
ISBN: 978-602-9225-45-7



Tubuh yang tidak sakit tidak sama dengan tubuh sehat.

Mengikuti jejak buku "Keajaiban dan Mukjizat Air" yang sempat booming tahun 2000-an, buku ini menggunakan teknik pemaparan dan penarikan kesimpulan yang hampir serupa: mengungkap dahsyatnya hal kecil yang selama ini sering diabaikan. Tema yang diangkat oleh penulis yang juga seorang dokter ini adalah tentang enzim. Temuannya yang paling inti adalah tentang enzim pangkal yang dimiliki setiap manusia. Menurut penulis, enzim pangkal dalam tubuh setiap orang jumlahnya terbatas dan suatu saat akan habis jika dihambur-hamburkan secara tidak semestinya. Ketika enzim pangkal ini habis, maka habis juga masa kehidupan manusia tersebut. Enzim istimewa ini diproduksi tubuh dengan jumlah terbatas dan digunakan untuk fungsi-fungsi vital semisal memulihkan diri, memperbaiki organ yang rusak, melawan dan memusnahkan sel-sel kanker, dan menjaga keseimbangan fungsi tubuh.

Anda dilahirkan dengan faktor-faktor keturunan tertentu, tetapi kebiasaan dapat diubah dengan kekuatan usaha. (hlm. 176)

Perilaku keseharian, terutama pola makan, menjadi penentu dari awet atau tidaknya enzim pangkal ini. Jika kita berperilaku sembarangan, enzim pangkal ini akan cepat habis sehingga konon dapat memperpendek usia kehidupan tubuh. Salah satu perilaku yang menghabiskan enzim pangkal adalah gemar meminum alkohol dan merokok. Keduanya membuat tubuh bekerja keras dengan mengeluarkan enzim pangkal untuk memperbaiki kerusakan atau untuk meningkatkan toleransi tubuh terhadap alkohol dan nikotin. Jadi, jangan bangga kalau bisa meminum 5 gelas minuman keras tanpa mabuk atau sanggup menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari. Tubuh memang mampu menoleransinya, tetapi di saat yang sama tubuh sedang menghambur-hamburkan enzim pangkal yang semestinya dikeluarkan saat tubuh sedang terancam bahaya misalnya terserang kanker.

Kami seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk memahami kesehatan daripada memerangi penyakit. (hlm. 27)

Beberapa penyakit modern, menurut penulis, sudah tidak lagi dinamai sebagai penyakit orang dewasa. Tetapi istilahnya sudah diubah menjadi penyakit gaya hidup. Hal ini karena penyakit-penyakit degeneratif seperti hipertensi, penyakit jantung, kanker, diabetes, dan hepatitis dewasa ini lebih banyak diakibatkan oleh perilaku dan gaya hidup yang tidak sehat. Perilaku buruk seperti gemar minum alkohol, merokok, bergadang, jarang berolahraga, stres, dan diet terlalu ketat inilah yang menurut penulis membuat enzim pangkal cepat habis sehingga tubuh rentan terserang. Untuk mengatasinya, penulis menyarankan agar para penderita berfokus untuk memperbaiki gaya hidup sebelum memutuskan bertumpu pada obat-obatan. Menurut penulis, semua jenis obat-obatan adalah racun dan semakin manjur obat itu maka semakin buruk dampaknya bagi tubuh dalm jangka panjang. Obat herbal dan alami juga tanpa perkecualian. Obat kimia maupun herbal pada dasarnya adalah racun bagi tubuh. Semakin sering digunakan, semakin banyak dosis yang dibutuhkan.

Harap diingat bahwa obat yang sangat efektif, yang menghilangkan rasa sakit dengan cepat, jauh lebih berbahaya bagi tubuh daripada banyak obat-obatan lain. (hlm. 82)

Pola makan menjadi sorotan utama dalam memelihara enzim pangkal ini. Menurut penulis, sistem pencernaan adalah bagian yang sangat vital. Sistem ini terkait dengan seluruh tubuh sehingga jika ada penyakit yang muncul, usus dan lambung juga sebaiknya diperiksa. Sebagai contoh, kanker rahim ternyata juga terkait dengan adanya gangguan pada sistem pencernaan. Penulis dengan bahasa sederhana mampu menjelaskan keterkaitan tersebut di buku ini. Karena sedemikian pentingnya, penulis berulang kali memberikan tips tentang bagaimana cara makan yang baik di buku ini, yakni: (1) Mengunyah 40 - 70 kali, (2) Prosentase makanan 50% biji-bijian, 20% sayuran, 10 % buah-buahan, dan 15 - 20% daging, (3) Menghindari produk susu, margarin, dan juga gorengan, (4) Makan dalam porsi sedikit, (5) Minum air yang baik, dan (6) Makan di waktu yang tepat. Beberapa tips yang agak ekstrem di antaranya: jangan minum selagi atau setelah makan, tetapi minumla satu jam setelah makan. Duh, kalau seret gimana tuh Pak?

Kita harus ingat bahwa tubuh kita menderita penyakit karena mengizinkan tubuh kita menjadi sarang bagi bakteri dan virus tersebut. (hlm. 223)

Tips lain yang saya temukan agak ekstrem di buku ini adalah tentang susu. Menurut penulis, semua produk susu dan turunannya adalah jenis makanan yang tidak baik untuk tubuh. Susu sapi hanya untuk anak sapi, bukan untuk manusia. Lebih ekstrem lagi waktu penulis bilang kalau yogurt itu minuman yang berbahaya karena dapat memunculkan reaksi alergi serta merusak keseimbangan flora usus. padahal, selama ini banyak kajian dan peneltian (Barat) menyebut tentang manfaat yogurt yang luar biasa bagi saluran pencernaan. Saya juga sangat suka minum yogurt padahal wkwkwk. Tapi, penulis memang punya alasannya tersendiri yang bisa dibaca lebih rinci di buku ini. Tapi saya sih tetap minum yogurt karena selama ini manfaatnya terasa benar bagi tubuh saya. Penulis sendiri menyarankan agar kita mencoba-coba sendiri untuk menemukan apa yang baik untuk tubuh kita dan tidak asal manut sakklek dengan kata-kata dokter.

Hidup sehat memang mahal, tetapi masih jauh lebih murah daripada jatuh sakit. (hlm. 250)

Banyak hal memang yang memicu pro kontra di buku ini. Selain tentang susu dan yogurt, juga saran-saran penulis ini sepertinya tidak bisa semua diterapkan dalam berbagai populasi. Apalag dalam setiap klaimnya, penulis hanya menggunakan dasar "sesuai yang saya amati" atau "sebagaimana yang saya temukan". Penulis lebih banyak menggunakan pengamatannya sendiri tapi tidak diperiksa ulang atau didukung dengan penelitian-penelitian lain yang saya yakin ada banyak. Misalnya saja, banyak saran-saran penulis yang cenderung cocok dilakukan oleh kalangan menengah ke atas atau orang berada karena dibutuhkan uang yang tidak sedikit untuk mencapai kondisi hidup yang ideal seperti itu. Meskipun penulis beralasan kalau: pola hidup sehat memang mahal, tetapi jauh lebih murah ketimbang mengobati penyakitnya, tetap saja beberapa saran terlampau ekstrem jika diterapkan saklek di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau tidak ada seblak, bakwan kawi, mi ayam, mi instan pakai irisan rawit, atau tahu isi nan nikmat itu. 

Penyakit-penyakit sesungguhnya berakar dari kurangnya pengetahuan atau kurangnya pengendalian diri. (hlm. 263)

Memang untuk sehat ada banyak pantangan dan aturannya. Semua demi menjaga agar tubuh bisa bertahan sedikit lebih lama. Dibutuhkan pikiran yang terbuka dan bacaan dari sumber lain agar kita tidak tersesat saat membaca buku-buku seperti ini. Terlebih banyak klaim sepihak dari penulis dan juga kabarnya-kabarnya tapi tanpa disertakan sumber pelengkap yang pas. Mungkin memang karena ini buku populer dan ditujukan untuk pembaca umum. Mari ambil yang bagus untuk tubuh kita dan abaikan yang masih meragukan. Di saat yang sama, kita tetap taati saran-saran kesehatan yang sudah umum seperti mengunyah makanan, berolahraga secara teratur tapi tidak berlebihan, tidur 6 - 8 jam sehari di jam yang sama, tidak merokok dan minum minuman beralkohol, perbanyak sayur dan buah, hindari stres, dan hiduplah dengan penuh cinta. 

Konsumsilah makanan yang baik, kuasai gaya hidup yang baik, minumlah air yang baik, istirahatlah yang cukup, berolahragalah secukupnya, serta jalani minat yang memotivasi Anda, dan tanpa ragu lagi tubuh Anda akan memberi reaksi yang positif.