Search This Blog

Thursday, January 14, 2021

Para Penjaga Ilmu Dari Alexandria Sampai Internet

Judul: Para Penjaga Ilmu Dari Alexandria Sampai Internet
Penulis: Ian F. McNeely, Lisa Wolverton
Tebal: 339 pages
Published March 2010 
Penerbit Literati 

"The library persists, then, as a critical auxiliary to the pursuit of knowledge, but no longer as an institution actively shaping and applying it" 

Sepanjang masa, seiring perkembangan peradaban manusia, ilmu pengetahuan terus menerus ditemukan, diperbarui, dan disimpan. Umat manusia membuat lembaga-lembaga untuk memastikan bahwa semua pengetahuan tercatat dan terpelihara agar tidak hilang (meskipun kehilangan dahsyat ilmu pengetahuan sering kali tak bisa dihindarkan.) Para pengumpul dan pencatat ilmu pengetahuan yang pertama adalah para pustakawan di Perpustakaan Alexandria yang dipelopori oleh para penguasa Yunani yang mencintai pengetahuan sekitar tahun 300 SM. Ribuan atau mungkin ratusan ribu gulungan papirus merekam berbagai pengetahuan dan kebijakan dunia kuno dari berbagai tempat yang kemudian disalin dan digandakan secara manual untuk kemudian disimpan di bangunan perpustakaan kuno yang lebih menyerupai museum. Uniknya, para pustakawan sering meminjam naskah dan gulungan kuno dari berbagai tempat untuk disalin dan digandakan, tetapi mereka mengembalikan naskah salinannya, bukan yang asli kepada pemilik aslinya. Dan kemudian perpustakaan pertama di dunia ini hancur karena sebab sebab yang lebih banyak bersifat politis ketimbang bencana alam.

Penjaga ilmu pengetahuan selanjutnya jatuh ke tangan para biarawan Katolik, yang mencatat semua teks teks kuno. Awalnya hanya teks keagamaan, namun akhirnya semua teks Latin pun dicatat dan dipelihara. Biara dengan demikian menjadi semacam dokumentasi dari dunia Barat saat kawasan ini mengalami masa-masa kejatuhannya yang paling gelap menyusul runtuhnya Kekaisaran Roma dan ketika Eropa diliputi kegelapan dari abad ke 5 M sampai menjelang Renaisance pada abad ke 11 dan 12 ketika univeraitas-universitas pertama mulai berdiri di Eropa. Dunia berutang banyak pada para ilmuwan Muslim yang mengisi kekosongan lini masa ini. Ketika Eropa mulai melupakan kekayaan pengetahuan Yunani dan Romawi kuno, pada ilmuwan muslim di Baghdad dan Andalusia tekun menerjemahkan, menyalin, dan melestarikan naskah-naskah dari era Yunani Romawi, memadukannya dengan pengetahuan kuno dari India dan Mesopotamia, dan bahkan menambahkan khazanah baru dalam ranah pengetahuan. Sumbangsih besar mereka dalam melestarikan ilmu pengetahuan kuno menjadi dasar bagi dibangunnya penjaga ilmu pengetahuan berikutnya: Universitas.

Tiga universitas pertama di Eropa ada di Paris, Bologna, dan Praha. Masing - masing berfokus pada bidang ilmu sosial, kedokteran, dan hukum. Dari sini, universitas mempelajari dan menguak kembali karya karya kuno dan mengembangkannya sehingga menyediakan cukup banyak bahan bakar bagi kemunculan Renaisance di Eropa. Tapi sebelum itu, Eropa yang dikuasai oleh otoriterisme agama terpaksa menyembunyikan ilmu pengetahuan dalam korespondensi rahasia dalam bentuk Republik Surat. Temuan Galileo dan Copernicus yang mematahkan klaim kaum Agamawan tentang Bumi sebagai pusat alam semesta menjadikan para ilmuwan harus bersembunyi demi menghindari ancaman kaum Agamawan yg didukung pemerintah kerajaan yang bertaklid buta. Baru kemudian di abad 17, universitas mengalami perkembangan dan spesialisasinya di Jerman sehingga menjadi cikal bakal universitas modern.

Perkembangan ini mengarah pada munculnya lembaga riset, yang menjadi penjaga ilmu pengetahuan selanjutnya. Era abad 18 hingga 20 menjadi era ketika penelitian dan riset di laboratorium digencarkan. Berbagai data pun dipanen dalam jumlah besar sehingga menghasilkan kelimpahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Hasil dari begitu banyaknya data ini adalah lompatan besar (pendaratan manusia pertama di Bulan) maupun ancaman besar (penemuan bom atom). Dan kemudian, ketika ilmu pengetahuan dan informasi tidak lagi ekslusif di tangan ilmuwan, diciptakan komputer sebagai peranti penyimpan data dan kemudian malah berkembang menjadi sarana penghubung antarmanusia yang paling canggih dan telah merevolusi dunia ilmu pengetahuan: internet.

"Computers and the Internet, for all their democratic potential, merely allow us to live out dreams of high-tech wizardry conceived decades ago in an epoch of can-do American ingenuity. New electronic communities such as wikis and blogs, at the moment collectively dubbed Web 2.0, if anything make the pursuit of reliable, authentic knowledge more, not less, difficult online, by drowning out traditionally credentialed cultural gatekeepers." 

Buku yang sangat bagus, sayang diterjemahkan dengan kurang maksimal. Tiga bintang untuk para penjaga ilmu pengetahuan dunia yang sayangnya terlalu berorientasi ke Peradaban Barat. 

Sang Juru Baca, Membaca Kelam Kisah Masa Silam


Judul: Sang Juru Baca

Pengarang Bernhard Schlink

Penerjemah: Fransiska Tobing (Translator)

Tebal 232 halaman

Terbit: Juni 2012 

Elex Media Komputindo 





Blurb: Ketika jatuh sakit, seorang bocah lima belas tahun bernama Michael Berg ditolong oleh Hanna, seorang perempuan yang dua kali usianya. Pada detik itulah si bocah jatuh cinta. Perempuan itu memikat hati bocah laki-laki itu dengan gairahnya, tetapi aksi diamnya yang aneh cukup membingungkannya.

Kemudian pada suatu hari perempuan itu menghilang begitu saja tanpa pesan. Michael bertemu dengan perempuan itu lagi ketika ia sudah menjadi mahasiswa fakultas hukum, dan Hanna sedang berhadapan dengan sidang pengadilan atas kejahatannya yang mengerikan. Akan tetapi, ketika Michael melihat Hanna tidak mau membela diri, sedikit demi sedikit Michael menyadari bahwa mantan kekasihnya itu sedang menyembunyikan sebuah rahasia rapat-rapat, yang menurutnya lebih memalukan daripada pembunuhan....

***

Seorang pemuda lima belas tahun bertemu dengan Hanna, wanita yang jauh lebih tua darinya. Gelora dan keingintahuan masa muda menjadikan hubungan keduanya semakin serius hingga perkara ranjang. Tetapi Sang Juru Baca bukanlah sekadar novel semi-dewasa tentang bocah yg jatuh cinta pada wanita dewasa. Semakin berjalan ke belakang, novel ini menyimpan relung gelap yang menyekap sebuah masa lalu nan kelam: Hanna adalah bekas sipir di Auschwitz.

Mengerjakan sejarah berarti menjembatani masa lalu dan masa sekarang, serta ambil bagian secara aktif di kedua sisi.

Lama setelah keduanya berpisah, si bocah yang kini anak kuliahan di jurusan hukum mendapati Hanna tengah didakwa atas kejahatan masa lalunya. Dalam ruang persidangan, dia menyaksikan bagaimana Hanna bertanggung jawab dalam sebuah kecelakaan yang menyebabkan ratusan tawanan Yahudi tewas terbakar akibat peristiwa pemboman. Wanita yang sebelumnya sangat senang dibacakam buku itu ternyata menyimpan masa lalu yang entah kejam entah kelam. Tetapi, Hanna sendiri bisa dibilang korban keadaan. Posisinya sebagai anggota S.S Nazi Jerman yang harus menjalankan perintah harus bergelut dengan rasa kemanusiaan.

Dari yang awalnya sebuah kisah tentang hubungan panas seorang pemuda dengan wanita yang lebih dewasa darinya, Sang Juru Baca bertutur lebih banyak tentang salah satu peristiwa paling kelam di abad 20: pembantaian bangsa Yahudi oleh Nazi. Melalui sudut pandang si tokoh pria (yang mulai bagian tengah hingga akhir terasa sangat lambat dan dipenuhi deskripsi), terasa beragam konflik yanh niscaya membuat kita mempertanyakan banyak hal. Bagaimana memilih antara melaksanakan perintah atau menunjukkan kemanusiaan, antara generasi tua Jerman yang abai saja dengan kejahatan yang terjadi di masa mereka dan generasi lebih muda yang juga kebingungan dengan beban warisan rasa bersalah tersebut. Dan pada akhirnya, perbuatan adalah cara terbaik untuk menebus yang telah telanjur dilakukan:

Sebab kebenaran dari apa yg dikatakan seseorang terletak pada apa yang dilakukannya.


Sanubari Jakarta, Menengok Mereka yang Minoritas

Judul: Sanubari Jakarta
Pengarang:Laila Lele Nurazizah
Tebal: 160 halaman
Published April 2012
 PT Elex Media Komputindo






Pagi-pagi disuruh bantuin Adek garap tugas kuliah untuk menganalisa latar sosial dan feminisme dalam cerpen Topeng Srikandi. Mau nggak mau kudu baca dulu cerpennya, dan ternyata menarik walau agak berlebihan dalam menggambarkan kuasa patriakhis di tempat kerja. Tetapi tetap saja cerpen itu menarik. Penulis menggambarkan dari sudut pandang korban tentang bagaimana di sebuah lingkungan pekerjaan, jenis kelamin menjadi patokan kemampuan dan bukannya kinerja. Simak salah satu adegan rapat di cerita ini:

Lalu tiga orang mengangkat tangan, termasuk Srikandi, tetapi kemudian laki-laki itu menunjuk laki-laki di samping Srikandi. Dia lalu berbicara. Kemudian mereka bertepuk tangan. Srikandi mengangkat tangan kemudian berbicara dan dipotong oleh seorang laki-laki yang berada di poros lingkaran. ... Meja judi saja lebih adil dibanding meja kayu ini." (hlm 108) 

Perlakuan ini membuat Srikandi--yang merupakan satu-satunya perempuan di kantor yang seluruhnya laki-laki itu--harus rela beralih rupa menjadi pria dengan mengenakan topeng dan busana laki-laki. Dan memang benar, dia bisa diterima dan pekerjaannya dipuji krena dia menjadi laki-laki. Kesimpulannya: wanita dianggap tidak kompeten dalam dunia pekerjaan yang didominasi pria. Agak miris sebenarnya. Di zaman 2001 seperti saat ini budaya membandingkan kinerja berdasarkan jenis kelamin ternyata masih banyak dijumpai. Padahal, bidang kerjanya pun bukan jenis pekerjaan yang mengunggulkan kekuatan fisik (meskipun sekarang sudah jamak juga kita jumpai para kuli panggul dan kuli bangunan perempuan).

Cerpen yang menarik, dan saya kemudian menanyakan di buku mana cerpen ini ada. Setelah Googling, Topeng Srikandi ternyata bagian dari Kumcer Sanubari Jakarta. Melihat sampilnya, saya samar-samar pernah beli buku itu (tolong jangan tanya kapan). Jadi, siang ini saya bongkar dua kardus timbunan yang sudah lama tak terjamah dan bertemu dengan buku ini. Tidak terlampau tebal dan bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Cuma setelah selesai membacanya, buku Kumcer ini ternyata mengangkat tema yang agak berat: tentang LGBT.

Hampir semua cerpen di dalamnya berkisah tentang lesbian, gay, dan transgender. Kisah tentang lesbian adalah yang paling banyak. Penulis berulang kali mengangkat jargon bahwa cinta tidak pernah kalah, termasuk cinta sejenis. Dari hasil Googling, cerpen cerpen di buku ini tenryata juga pernah difilmkan dengan aktor aktor ibukota. Kisah-kisahnya pun pendek, tetapi benang merahnya ada pada gugatan dari kaum minoritas LGBT dalam memperjuangkan cinta mereka yang dianggap berbeda.

Secara tema serupa, tetapi alur kisahnya beragam. Ada seorang ibu rumah tangga jatuh cinta dengan guru TK anaknya, seorang gadis playgirl yang dilabrak kekasih wanitanya, dua pria yang gagal menuntaskan kerinduan mereka di ranjang kos kosan, juga paling ngakak tentang seorang pacar yang dikalahkan sebuah pembalut. Menarik menyimak aneka rupa kisah cinta manusia di buku ini, tetapi satu hal yang sama: cinta begitu luasnya dan ia bisa mengada dalam berbagai bentuknya.  



Wednesday, January 6, 2021

Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an

 

DILARANG GONDRONG!

Aria Wiratma Yudhistira

184 pages

Published April 2010

by Marjin Kiri



Di novel-novel distopia, kita membaca kisah manusia zaman depan yang kehidupannya dibatasi dalam satu atau dua hal, misalnya saja dilarang jatuh cinta, dilarang tidak berfaksi, dilarang pindah distrik, sampai dilarang membantah penguasa yang memiliki kekuatan super. Negeri kita di era 1966 - 1974 juga pernah melakukan pelarangan semacam ini loh. Tidak kalah keren dari negeri-negeri distopia, Indonesia pernah melarang warganya untuk berambut gondrong. Luar biasa.

Tentu ada alasan di balik pelarangan ini. Jika di novel orang dilarang pindah atau tidak berfaksi supaya mencegah kekacauan, maka di tahun 1970an, pelarangan berambut gondrong dilatar belakangi oleh kekhawatiran dari generasi tua (yang menjadi pihak penguasa) terhadap budaya barat hippies yang dianggap mulai meracuni generasi muda sebagai penerus bangsa. Kebetulan, di US dan Eropa saat itu memang tengah merebak Revolusi Bunga yang slogannya make love not war dan begitu menjunjung tinggi kebebasan individual sebagai respon pada banyaknya tuntutan dari generasi baby boomer di atasnya. Salah satu ciri kaum hippies yang suka mabuk, mandat, dan main wanita ini adalah berambut gondrong.

Ciri inilah yang menjadi keprihatinan pihak penguasa akan menimpa generasi mudanya. Meskipun lewat penelitian penulis buku ini, alasannya adalah keluarga dari para penguasa saat itu tidak ingin anak keturunannya (yg diharapkan akan mewarisi kekuasaan orang tuanya) tersesat dalam.budaya kaum hippies ini. Kebijakan pribadi ini kemudian diterapkan ke seluruh penjuru negeri dan berlaku untuk semua rakyat. Tidak boleh ada laki laki yang gondrong, tua ataupun muda, PNS atau swasta. Razia pun digencarkan. Bukan hanya razia SIM dan stnk, tapi juga razia RAMBUT GONDRONG. Parahnya lagi, ada kebijakan mereka yang berambut gondrong tidak akan dilayani saat mengurus surat surat di kantor pemerintahan.

Kedengarannya lucu dan sepele banget, tetapi saya termasuk yang kaget karena kebijakan seperti ini pernah dan benar benar terjadi di Indonesia. Dan penulis buku menggambarkannya dengan begitu kaya data lewat buku sejarah yang tidak membosankan ini. Ada begitu banyak catatan kaki dan juga kutipan dari era zadoel yang asyik disimak. Sebagai pembaca dari generasi setelahnya, kita dapat berkaca lewat buku ini bahwa sejarah kadang lebih aneh ketimbang fiksi dan dengan membaca sejarah kita belajar untuk bercermin tentang diri dan kemanusiaan kita.

Vita Brevis, Sebuah Gugatan untuk Orang Suci

Vita Brevis

Jostein Gaarder, VAM Kaihatu (Translator)

154 pages

Published 2005

by Jalasutra



 
 

Pertama-tama kita harus hidup, kemudian baru kemudian kita berfilsafat.

Musim semi 1995, dalam sebuah kunjungannya ke sebuah pameran buku di Buenos Aires, Argentina, Gaarder menyempatkan mengunjungi sebuah toko barang loak. Di antara tumpukan koleksi naskah tua, dia melihat sebuah kotak bertuliskan Codex Floriae yang ditulis atau disalin ulang sekitar abad ke-16. Kumpulan tulisan itu ternyata adalah surat-surat yang ditulis oleh seorang wanita terpelajar bernama Floria kepada Aurelius Agustinus, uskup dari Hippo, atau yang lebih dikenal sebagai Santo Agustinus (St. Agustine). Santo Agustinus (354 - 430 M) adalah salah satu tokoh suci yang dihormati dalam tradisi Katolik. Uskup ini menulis Surat-Surat Pengakuan  yang kemudian menjadi salah satu karya penting baik dalam dunia Katolik sekaligus khazanah sastra Barat karena kandungannya yang begitu dalam akan doktrin keagamaan sekaligus filsafat.

Ia yang menginginkan banyak, tidak akan pernah puas.

Dalam Surat-Surat Pengakuan, Santo Agustinus mengisahkan kehidupan masa mudanya yang begitu jauh dari nilai-nilai kristiani. Dia bahkan pernah tinggal serumah dengan seorang wanita (yang tidak disebutkan namanya) selama dua belas tahun tanpa ikatan perkawinan yang sah hingga membuahkan seorang putra. Penulis Codex Floriae adalah Floria yang mengaku sebagai wanita yang pernah tinggal dan hidup bersama Agustinus dalam masa dua belas tahun tersebut. Surat-surat yang kemudian diterjemahkan oleh Gaarder ini berisi gugatan Floria kepada karya  Surat-Surat Pengakuan Agustinus sekaligus untuk menanggapi sejumlah isu yang tidak dia setujui terkait apa yang dituliskan mantan kekasihnya tersebut.

Jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya malah melakukan hal yang sebaliknya.

Floria terutama mengugat keengganan Agustinus dalam menyebut atau membeberkan dirinya sebagai si wanita yg disebut Agustinus dalam pengakuannya. Terutama karena sang orang suci menurutnya masih sangat mencintainya dan terus terkenang akan sosoknya. Floria menuduh pria itu takut kepada ibunya yang memang tidak merestui hubungan keduanya. Wanita itu juga menuduh Agustinus menggunakan kehendak Tuhan sebagai alasan untuk menyembunyikan sosok wanita yang pernah sangat dicintainya itu.

Surat surat Floria begitu kaya akan kutipan para filsuf Yunani, namun gugatannya tidak sampai menjatuhkan nilai nilai religius yg dianut Agustinus. Dalam banyak kasus, filsafat itu malah memperkaya nilai nilai agama. Wanita itu sendiri juga mengaku tetap sebagai umat Katolik meskipun tidak mau dibaptis.

Kupikir kau sudah mengetahui betapa berbahayanya memisahkan sebuah kalimat dari konteksnya?

Salah satu perdebatan menarik keduanya adalah seputar makna kehidupan. Agustinus sebagaimana doktrin Katolik menjunjung tinggi kehidupan surgawi setelah kematian dan bahwa dunia hanyalah tipuan yang menjauhkan kita semua dari Tuhan. Baginya kebahagiaan sejati adalah kelak disurgaNya. Floria menggugat dengan filsafat stoiknya yang menyebut bahwa dunia yang sejati adalah sekarang dan saat ini, di situlah kebahagiaan yg benar benar bisa kita miliki dan rasakan: saat ini, di sini.

Inilah dunia dan ia hadir di sini saat ini. Di sini, dan sekarang.

Floria juga sedikit mengugat peran wanita yang dianggap tidak lebih dari sebagai penggoda yang menjauhkan dirinya dari mencintai Tuhan. Dalam pandangannya, Tuhan menciptakan wanita sebagaimana menciptakan pria, keduanya ada karena memang harus demikian adanya.  Lewat wanita lah pria bisa  terlahir di dunia dan dunia menjadi mengada. Tidak mungkin Tuhan menciptakan wanita yang sedemikian mulia kalau hanya bertujuan untuk menggoda para pria.

Karena serigala hanya mengganti kulitnya, dan itu tidak akan pernah bisa mengubah sifatnya.

Membaca Codex Floriae ibarat menyimak perdebatan retorik antara seorang ahli filsafat Yunani dengan seorang teolog Katolik. Isinya kalau nggak bikin pendengar kagum, pasti manggut-manggut dan sibuk mencatat poin-poin pentingnya. Kita jadi tahu bahwa Floriae ternyata seorang wanita terpelajar. Akhirnya, buku ini tidak kemudian hendak menjatuhkan sang sosok suci. Vita Brevis menjadi sebuah dokumentasi dari awal mula perkembangan filsafat barat yang coba dipadukan dengan nilai nilai Katolik. Sebuah karya yang sangat memperkaya ranah filsafat untuk pembaca umum.

Kalau saja kau tetap diam, orang mungkin percaya bahwa kau bijaksana.


NB: Ada sedikit kesalahan redaksional di halaman belakang. Bangsa Arab menginvasi Afrika Utara pada abad ke-7 M bukan abad ke-17 M. 


Tuesday, November 3, 2020

Bernostalgia lewat Perjamuan Khong Guan Jokpin

 Judul: Perjamuan Khong Guan
Penyair: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebit: Januari 2020
Tebal: 130 halaman





HATI KHONG GUAN

 

Hatiku yang biasa-biasa saja

sudah menjadi biskuit

dalam kaleng Khong Guan

Mula-mula dicuekin,

tak membangkitkan selera,

lama-lama, ha-ha, habis juga

(2019)

 

Momennya cocok, lebaran baca perjamuan Khong Guan (meskipun lebaran kali ini tidak beli. Tetapi sebagaimana tersirat dalam puisi Jokpin bahwa yang penting kalengnya, bukan isinya wkwk). Buku ini menemukan momennya setelah puisi-puisi beliau yang bertema salah satu merek biscuit legendaris ini dimuat di harian Kompas awal 2020. Puisi-puisi tersebut dapat ditemukan di buku ini (alasan lain kenapa kudu punya buku ini hehe) dalam kaleng yang terakhir.

Mengapa puisi Khong Guan ini begitu memesona? Karena keunikan sekaligus kedeatannya dengan kita. Hanya segelintir orang seperti Jokpin yang mampu memelintir “makanan umum” seperti biscuit Khong Guan menjadi larik-larik puisi yang menyenangkan. Puisi yang tidak hanya unik tapi juga asyik dan mengingatkan kita pada momen-momen istimewa di masa kecil saat tengah berebutan wafer dalam kaleng Khong Guan. Tidak heran jika foto puisi-puisi beliau di Kompas Minggu langsung mewarnai stori banyak teman di jagad whatsapp.

Jokpin memang pandai menangkap kesamaan kita semua, lalu digubah menjadi bahan puisi. Ini menyindir banyak kita yang kebingungan mencari inspirasi padahal masalahnya bukan ada atau tidaknya, tapi bisa atau tidak mengolahnya. Siapa hayo yang pas kecil hanya ngincer wafernya doang di antara semua isi kaleng Khong Guan? Kebiasaan yang sangat Indonesia banget dan mengingatkan kita pada masa masa itu. Ketampol juga sama sindirian beliau di salah satu puisi di buku ini: walau awalnya sok nggak doyan, tapi ha ha lama lama habis juga seluruh isi kaleng Khong Guannya.

Sebagaimana jamuan lebaran, ada empat kaleng puisi dalam buku ini yg masing masing dibagi per tema. Kaleng satu dan dua adalah kumpulan puisi Jokpin yang khas beliau, kaleng ketiga puisi puisi untuk seorang wanita istimewa, dan kaleng keempat adalah puisi puisi Khong Guan. Selain masih menampilkan puisi yang bercerita dengan ending bikin mak jenggirat, tidak lupa terselip pesan pesan sosial yang menggelitik.

"Maaf saya

sedang

berbahagia

negara

dilarang

masuk

ke hati saya"


Sunday, November 1, 2020

Cantik itu Luka? Membaca Kemalangan (atau Kegilaan?) Sebuah Keluarga.

 Judul: Cantik Itu Luka
Pengarang: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Membaca Cantik Itu Luka adalah mengikuti historigrafis perjalanan sejarah Indonesia dari sudut pandang kemalangan (ataukah kegilaan) yang dialami sebuah generasi keluarga. Merentang dari era penjajahan hingga tahun-tahun menjelang reformasi, dalam novel ini Eka Kurniawan dengan detail, dengan sabar, dan dengan begitu naratif menyusun sebuah karya yang tidak hanya utuh, melainkan juga menyisakan gaung dalam benak pembaca terkait banyak isu sensitif dalam sejarah bangsa ini. Setelah selesai membacanya, akan muncul banyak pertanyaan dan juga penafsiran yang asyik untuk dibicarakan sesama pembaca. Memang, novel yang bagus itu membuka ke banyak penafsiran dan diskusi sehingga kaum pembaca ikut terseret dalam arus kisahnya tanpa disadari. Eka Kurniawan dengan lihai mampu menggerakkan pembaca untuk terus teringat pada karya ini dalam waktu lama lewat beragam penafsiran tentangnya.

Cantik itu Luka dikisahkan dari sudut pandang generasi keluarga Ayu Dewi yang lahir di masa penjajahan. Kisah dibuka dengan adegan absurb yang meloncat jauh ke depan, yakni ketika pada suatu malam Ayu Dewi yang sudah meninggal dan dimakamkan tiba-tiba bangkit dari kuburnya dan kembali ke rumahnya untuk melihat anak bungsunya. Dikisahkan, Ayu Dewi ini seorang indo blasteran yang lahir di era prakemerdekaan atau di zaman penjajahan Belanda. Settingnya mengambil sebuah kota di pesisir selatan Jawa Barat yang bernama Halimunda. Menghabiskan masa kecil sebagai anak dari tuan tanah Belanda yang kaya, Ayu Dewi sama sekali tidak mengetahui kalau jalan hidupnya dan juga keturunannya akan berubah.

Ketika Jepang berhasil merebut Hindia Belanda dari Belanda tahun 1941, mereka merampas semua properti milik orang Belanda. Rumah dan tanah di sita, sementara orang-orang barat dan keturunannya ditahan. Ayu Dewi dan keluarganya turut mengalami penahanan ini. Bersama wanita-wanita Belanda lain dari seluruh Halimunda, mereka dikumpulkan dan ditahan di sebuah penjara di delta sungai. Penderitaan dimulai untuk wanita-wanita lembut yang sehari-hari dilayani tersebut. Puncaknya ketika tentara Jepang mengambil beberapa wanita untuk dijadikan sebagai pelacur, termasuk Ayu Dewi. Dari sini petualangan hidup si gadis indo ini dimulai.

Si gadis indo ternyata menikmati nasibnya sebagai pelacur. Entah karena terpaksa atau mungkin wanita itu berpikir praktis bahwa lebih baik menikmati yang terpaksa dia alami ketimbang terus menyangkal dan menyakiti diri. Didukung wajah ayu dan blasterannya, wanita ini mantap menjadi pelacur nomor satu di Halimunda. Tarifnya istimewa dan bahkan dia memilih sendiri pelanggannya. Tidak berapa lama sampai akhirnya para pria berbondong bondong dan antre untuk menidurinya. Termasuk dua pria yang kelak ternyata akan menjadi menantunya. Memang ada gila-gilanya.

Dari persetubuhannya dengan berbagai pria inilah Ayu Dewi melahirkan 3 putri yang kesemuanya cantik jelita. Kemudian menyusul satu lagi si bungsu yang sayangnya bermuka buruk rupa tetapi Ayu Dewi menamainya Cantik. Untungnya, tiga anak pertamanya bisa berkeluarga (meskipun alur kisah mereka tidak kalah berliku dan absurb dibanding kisah ibunya) dan memiliki anak. Tetapi kemalangan keluarga ini rupanya belum selesai. Putra dari putri keduanya, anak dari seorang Kamerad Komunis yang dicari-cari, kelak tumbuh menjadi pemuda yang membawa bibit petaka baru di keluarga tersebut. Pada akhirnya, Ayi Dewi yang bangkit dari kuburnya memang berhasil membunuh musuh utamanya, tetapi generasi keluarga ganjil ini hanya menyisakan empat wanita yang sama-sama kehilangan. Semua karena kecantikan yang mereka miliki, atau yang tidak mereka miliki.

CIL yang menggunakan konsep kota antah berantah tapi mirip sebuah kota nyata yang cirinya saling ditempelkan mengingatkan kita pada novel 100 Tahun Kesunyian karya Marques. Walau pohon silsilah keluarganya tidak serumit dalam karya Marques itu, tidak bisa dipungkiri pembaca akan merasakan sedikit (atau banyak) kemiripan. Jika Marques bermain dengan detail keluarga tokohnya, Eka berfokus pada detail sejarahnya. Karena Indonesia mengalami gejolak politik yang begitu beragam dalam waktu singkat (tahun 1930 - 2000), penulis jadi memiliki begitu banyak bahan untuk ditempelkan dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Dan ini yang menurut saya menjadi menarik.

Bagaimana Eka menyesuaikan tokoh-tokohnya dengan berbagai peristiwa sosial sejak era kolonial, masa menjajahan Jepang, momen kemerdekaan bangsa Indonesia, kronik di masa perang Revolusi, pergantian bentuk negara, KMB, lalu berlanjut pada masa-masa keemasan komunisme di Indonesia hingga pecahnya pemberontakan PKI, lalu dilanjutkan dengan Supersemar. Bahkan era 1980an dengan penembak misteriusnya juga mampu disisipkan dalam kisah keluarga Ayu Dewi ini. Luar biasa betapa dibutuhkan kreativitas, ketelatenan, pemahaman sejarah, juga kepiawaian untuk menyisipkan elemen babakan sejarah dalam bab-bab sebuah buku. Ini yang menurut saya menjadikan CIL salah satu novel terbaik dari Indonesia dan layak dibaca setidaknya sekali.

Selain itu, CIL kaya dengan banyak isu serta gagasan yang menarik untuk diperbincangkan. Yang pertama tentu feminisme, bagaimana wanita menjadi korban dari kecantikannya sendiri. Kisah Ayu Dewi dan anak-anaknya menggambarkan betapa beratnya posisi dan nasib para wanita cantik di dunia yang patriakis. Tetapi dari kisah Ayu Dewi yang bisa memanfaatkan kecantikannya untuk memperbaiki nasibnya, muncul pertanyaan bahwa wanita yang bisa menggunakan aset tubuhnya untuk kepentingannya sendiri, apakah dia tetap korban dari kecantikan di dunia yang patriakis? Isu lain adalah tentang penyakit kegilaan yang konon bisa menurun dalam keluarga. Entah apakah hal ini yang hendak diangkat oleh Eka secara tersirat. Secara kegilaan adalah masalah psikologis yang snagat tergantung pada individu bersangkutan dan latar kehidupan yang dijalaninya. Apakah kegilaan semacam ini juga bisa tetap muncul pada keturunannya, ataukah itu semacam skizofrenia yang sebagian orang menyebutnya gangguan mahkluk halus? Ini bisa jadi bahan pembahasan yang menarik dari novel ini.

Kemudian, tema sosialisme yang selama ini lekat dengan karya-karya penulis Amerika Latin (yang banyak dibaca Eka) juga lumayan banyak disinggung di CIL ini.