Search This Blog

Friday, April 20, 2018

Tahun Terakhir Dena, Setiap Pilihan Memiliki Konsekuensinya


Judul: Tahun Terakhir Dena
Pengarang: Purba Sitorus
Penyunting: Muhajjah Saratini
Sampul: Amalina Asrari
Tebal: 204 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2018
Penerbit: Laksana



Masa SMA selalu menjadi salah satu masa yang paling berkesan bagi banyak orang. Baik atau jelek, menyenangkan maupun buram, selalu ada kenangan yang tertinggal dari masa-masa abu-abu putih ini. Ada yang pertama kali jatuh cinta, mendapat sahabat dekat, pergi jauh dari rumah untuk pertama kali, perdana membolos di kelas, ketahuan merokok, atau mengenal dunia baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Masa-masa ini juga menjadi penentuan akan masa depan. Mau dibawa kemana setelah ini  (apakah lanjut kerja atau memutuskan untuk kuliah). Inilah tiga tahun paling krusial sekaligus paling penuh warna dalam hidup ini. Entah kenapa, saya bisa mengingat masa-masa SMA jauh lebih jelas ketimbang masa-masa kuliah. Akan dilupakan atau tetap terus dikenang, masa SMA memang akan selalu tersimpan rapi di pojok ingatan. 

Thursday, April 19, 2018

A Wrinkle in Time, Teori Einstein dalam Sebuah Novel Anak


Judul: Kerutan dalam Waktu
Pengarang:  Madeleine L'Engle,
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Tebal: 267 hlm
Cetakan: September, 2010
Penerbit: Atria

9298840

Ilmu pengetahuan adalah salah satu ide terbaik untuk menulis fiksi. Sama halnya, karya fiksi juga menjadi salah satu sarana transfer ilmu pengetahuan yang efektif.  Ada banyak sekali karya fiksi yang digunakan untuk memudahkan pembaca memahami teori-teori dan rumus-rumus ilmu pengetahuan yang dirasa berat. Memang, sifat  fiksi yang fleksibel memungkinkan teori dan rumus tersebut disampaikan secara lebih luwes lewat cerita. Pemahaman tentang anatomi tubuh misalnya, bisa dipelajari dengan lebih “menyenangkan” dalam novel-novel thriller pembunuhan. Atau, tentang teori relativitas ruang dan waktu karya Einstein yang berat itu, ternyata sedikit banyak bisa diterangkan lewat novel anak-anak yang sebenarnya lumayan berat bobotnya ini.

Dalam Kerutan dalam Waktu, konsep perjalanan melintasi waktu dijelaskan melalui petualangan tiga anak cerdas bernama Meg, Charles Wallace, dan Calvin o’ Keefe. Ketiga anak ini dipertemukan dengan tiga wanita nyentrik dengan nama yang tidak kalah nyentrik:  Mrs. Whatis, Mrs Who, dan Mrs Which. Dari luar, ketiganya terlihat seperti nenek-nenek tua biasa. Tetapi, perkenalan lebih lanjut menguak bahwa ketiganya adalah entitas purba yang bisa menekuk ruang dan waktu. Sebentar, bagaimana bisa anak-anak biasa dipertemukan dengan tiga entitas berusia jutaan tahun? Semuanya berawal dari pencarian terhadap ayah Meg. Sudah dua tahun ayah Meg menghilang tanpa kabar. Di kalangan tetangga, beredar kabar tak sedap tentang alasan perginya ayah Meg. Tetapi, ibunya terus meyakinkan Meg bahwa ayahnya sedang dalam proyek ilmiah dengan orang pemerintah. Wanita itu yakin kalau suatu saat suaminya pasti akan kembali. Kedua suami-istri Murry memang pasangan ilmuwan yang mengabdikan diri sepenuhnya pada pengetahuan.

Pencarian terhadap ayah Meg. Inilah garis besar yang menjadi  awal sekaligus alur kronologis dalam novel ini. Ketiga anak itu kemudian dipertemukan dengan 3 nenek nyentik bernama unik tadi. Ketiganya berjanji akan membantu Meg untuk menemukan ayahnya. Untuk menolong sang Ayah,  mereka harus menuju ke sebuah planet Camazotz yang diliputi oleh materi gelap. Jarak sekian juta tahun cahaya ditempuh dalam beberapa kedipan mata karena Mrs Which mampu melakukan tesser alias menekuk ruang dan waktu sehingga perjalanan jauh pun bisa dilalui dalam sekejap mata. Kemudian, seperti di kisah-kisah fantasi lainnya, pembaca akan disuguhi perjuangan Meg dalam melawan sang musuh besar yang menahan ayahnya.

"Hanya seorang tolol yang tidak bisa merasa takut." (Mrs. Whatsit)  

Wednesday, April 11, 2018

Sang Nyai 3, Pencarian Peninggalan Legendaris Majapahit

Judul:  Sang Nyai 3, Misteri Empat Penaka Majapahit
Pengarang: Budi Sardjono
Penyunting: Misni Parjiati
Sampul: Amalina Asrari
Cetakan: Pertama, April 2018
Penerbit: DIVA Press




“Orang yang menang tanpa harus mengalahkan musuh-musuhnya. Dialah yang layak mendapatkan sebutan orang sakti."

Sejarah dan misteri di nusantara bisa menjadi bahan cerita yang tak kalah mengasyikkan dalam sebuah novel. Penulis Budi  Sardjono membuktikan hal ini lewat trilogi Sang Nyai karyanya. Pun, jika kita berbicara tentang misteri, wanita atau perempuan adalah juaranya. Tidak heran jika ada yang bilang wanita itu penuh misteri  dan penulis menghadirkan misteri besar dalam trilogi Sang Nyai 3 ini juga lewat sosok wanita. Sang Nyai 3 sendiri adalah buku pamungkas dari seri Sang Nyai  yang mengangkat banyak legenda-legenda besar di tanah Jawa. Di buku pertama, sosok misterius penguasa Laut Selatan menjadi sorotan utama. Lalu, berlanjut ke buku kedua yang berganti mengupas misteri keturunan Roro Jonggrang. Di buku ketiga ini, petualangan Mas Sam akan berupaya menguak misteri keturunan terakhir Majapahit.

Pembaca yang sudah membaca karya-karya Budi Sardjono mestinya sudah tidak kaget dengan gaya penulisannya. Dimulai di novel Roro Jongrang, Nyai Gowok, lalu berlanjut ke seri Sang Nyai, penulis menggunakan wanita atau perempuan sebagai jangkar utama. Meskipun protagonisnya seorang pria. Kentara sekali betapa tokoh-tokoh perempuanlah yang sebenarnya menyetir cerita. Resep ini muncul lagi dalam Sang Nyai 3 ketika di awal buku saja, Mas Sam sudah dipertemukan dengan sosok Gini yang asli Gunung Kidul. Wanita misterius itu kemudian mengajaknya ke Panggang yang merupakan sebuah kecamatan di sisi barat Kabupaten Gunung Kidul. Dalam sebuah bungalow yang dibangun di atas tebing terjal di tepian Laut Selatan, Gini menceritakan banyak sekali peristiwa sejarah terkait bangsa Jawa dan Nusantara yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

Thursday, March 29, 2018

Ruby Red dan Sapphire Blue, Sisi Feminin Kisah Perjalanan Waktu


Judul: Ruby Red dan Blue Saphirre
Pengarang: Kerstin Gier
Penerjemah: Fransisca Paula Imelda
Penerbit: Elex Media Komputindo



Di antara semua genre novel time travels dari luar, seri Edelstein-Trilogie termasuk yang paling lembut dan longgar. Dalam Time Line Michael Chricton, perjalanan waktu diatur sedemikian ketat dan berpindah ke masa lampau adalah sebuah perjalanan yang mengancam nyawa. Seri Time Riders juga terlihat upaya penulis yang begitu ketat mengontrol perjalanan waktu agar sejarah tidak tercemar. Seri ini menggambarkan dengan muram kekacauan besar yang mungkin terjadi jika ada yang mengubah masa lalu. Karenanya dibentuk lah agen-agen penjaga waktu untuk mengawasi agar tidak ada sejarah yang berubah akibat kontaminasi waktu. Versi lebih longgar dari Time Riders ini dapat dibaca pada seri History Keepers.  Sementara untuk seri Batu Permata karya penulis Jerman ini, pembaca mendapatkan seri feminin dari kisah perjalanan waktu. 

Gwendolyn Shepherd hanyalah remaja SMU biasa dengan kehidupan normal (cowok, jerawat, dan pekerjaan rumah). Namun, Gwen lahir dalam silsilah keluarga yang tidak biasa. Keluarga besarnya adalah satu dari dua keluarga ningrat pembawa gen penjelajah waktu. Keluarga Montrose  membawa gen pelintas waktu dari silsilah wanita, sementara keluarga de Villiers membawa gen pelintas waktu dari pihak pria. Tiap generasi dari dua keluarga tersebut, satu orang yang telah ditandai dari lahir akan menjalani kehormatan untuk masuk ke dalam organisasi rahasia dan menjadi agen lintas waktu bagi mereka setelah memasuki masa remaja. Seharusnya Charlotte sepupunya yang diramalkan (dan dipersiapkan) sebagai pelintas waktu. Tetapi, justru Gwen yang membawa gen pelintas itu. Dari remaja urakan yang hampir nggak bisa apa-apa, gadis itu tiba-tiba mengemban tugas berat sebagai seorang pelintas waktu yang bisa melompat ke masa lalu.


Monday, March 19, 2018

Pengumuman Pemenang Blogtour and Giveaway: Your Lies

Judul: Your Lies
Penulis: Rara Rachel
Penyunting: Avifah Vé
Sampul: Amalina Asrari
Penerbit: Diva Press
Tahun terbit: Maret 2018
Tebal buku: 288 halaman



Ringga dan Atha sudah bersahabat sejak remaja. Keduanya sempat terpisah di masa kuliah sebelum akhirnya dekat lagi di awal masa dewasa. Kebetulan, rumah mereka pun berdekatan. Jauhnya jarak tidak menghalangi keduanya walau Ringga kerja di Jakarta dan Atha masih berjuang keras menyelesaikan skripsinya di Bandung. Lewat chatting whastapp dan media sosial, keduanya selalu akrab dan terlihat dekat. Kata orang, dari sahabat jadi gebetan. Bisakah benih-benih cinta akhirnya bersemi di hati sepasang sahabat tersebut? Tentu sudah bisa ditebak jawabannya. Tetapi sebuah novel kadang bukan semata tentang ending yang WOW atau akhir perjalanan yang memukaw. Keunggulan sebuah karya fiksi juga bisa dilihat pada bagaimana penulis mengisahkan kisahnya hingga selesai. Kualitas istimewa inilah yang saya temukan dalam Your Lies. Hubungan kedua mendapat ujian ketika Atha melakukan satu hal yang sangat dibendi Ringga, yakni berbohong. Meski niatnya baik, tetapi berbohong tetaplah berbohong.
 
“Niat baik kalau caranya salah, jadi enggak baik hasilnya.” (hlm. 198)

Relasi antara Ringga dan Atha yang sohib banget adalah kekuatan utama novel ini. Penulis bisa menghadirkan interaksi persabahatan cewek-cowok yang terlihat santai dan apa adanya. Dialog antara keduanya pun mengalir banget, kita benar-benar kayak sedang menonton percakapan dua sahabat akrab seolah keduanya adalah tetangga dekat kita. Percakapan mereka juga kekinian banget, zaman now banget kalau kata netizen. Penulis menggunakan tema-tema yang akrab dengan generasi milenial seperti  PEES, nge-add LINE, hingga WATTPAD. Kebetulan juga, naskah ini memang sebelumnya pernah diposting di Wattpad. Dengan kualitas-kualitas ini, tidak heran baca novel ini berasa kekinian banget. 

“Memaafkan juga bagian dari usaha buat ngedapetin ketenangan hidup.” (hlm. 202)

Ada yang bilang drama adalah bumbu kehidupan. Ungkapan tersebut menemukan pembuktiannya di novel ini. Ada begitu banyak drama mewarnai Your Lies: tarik ulur perasaan, pelarian emosi, penyangkalan perasaan, saling tebar kode, hingga berantem-berantem-an yang  cute tapi menyenangkan disimak. Dengan kata lain, aneka drama ditebar-tebar dulu sebelum final biar makin greget dan bikin pembaca setengah senewen setengah mupeng. Antara bikin gemes tapi juga bikin iri banget pokoknya hubungan Ringga dan Atha ini. Rasanya pengen nyubit Atha yang sok-sok nggak ngerti kode rahasia atau nampol Ringga yang sok misterius itu. Tapi ya gitu, kalau nggak pakai drama gitu ya hasilnya kisah cinta yang biasa-biasa saja. Satu karakteristik dari sebuah novel yang bagus memang adanya karakter yang dibuat berjuang dulu oleh penulisnya. Penulis memang kudu kejam sesekali ck ck ck.

“Orang yang saling menyayangi enggak akan saling membohongi.” (hlm. 185)

Nggak sampai sehari saya berhasil menyelesaikan novel romansa ini. Padahal, saya termasuk lama kalau baca novel roman. Salut untuk sang penulis yang berhasil bikin saya masuk dalam cerita.  Karakterisasi dua sosok utama menjadi kelebihan lain dari novel ini. Karakternya terasa hidup, segar, dan juga kekinian. Ringga memang tercipta untuk satu Atha—hal yang sama ering kita temukan di novel-novel roman di pasaran. Tetapi, penulis tidak menjadikan sosok Ringga sebagai Rangga kesekian belas. Atha juga bukan cewek menye maksimal setrip galau kurung kurawal Bella kesekian puluhan. Faktanya, si cowok itu tipe-tipe nerdy idaman tapi cueknya kebangetan (jenius sih tapi rumahnya kayak kapal pecah. Mana ada coba orang buang wadah makanan styrofoam di bak cuci piring kecuali Ringga ini?) sementara yang cewek maniak banget main PS dan nyambangin rumahnya cowok (ya, walau jago masak sih). 

“Cinta tidak bisa memilih. Kalau kau mau tahu, cinta itu bukan dilihat, tapi dirasakan.” (hlm. 231)

Persahabatan jadi cinta, tema yang klise sebenarnya tapi di tangan seorang novelis berbakat tema pasaran ini bisa menjadi hal yang menyegarkan seperrti dalam Your Lies.  Interaksi Atha-Ringga yang cute maksimal, konflik yang naik-turun sampai bikin gemes, diksi-diksi yang ramah buat pembaca zaman now, serta alur ceritanya yang mulus banget. Ini yang bikin menyenangkan baca novel ini. Sayangnya, masih ada sedikit ganjalan pada setting tempatnya. Your Lies menggunakan Jakarta, Bandung, Düsseldorf,  dan Köln sebagai latar berlangsungnya. Namun, saya kurang merasakan aura keempat kota tersebut sepanjang cerita. Akan lebih bagus jika penulis menggambarkan deskripsi tempat secara lebih jelas, setidaknya menyeburkan nama suatu tempat yang khas dari kota tersebut (di food court Pondok Indah Mall atau di jalan Braga misalnya). Bagian ending novel ini juga serasa ada yang hilang. Kayak ada celah sedikit gitu yang belum terisi terkait akhir hubungan Ringga dan Atha. Akankah Ringga memaafkan Atha? Mending baca sendiri deh ya.



Pengumuman Pemenang
 
Terima kasih sudah meramaikan blogtour 'Your Lies" di Baca Biar Beken. Total ada 39 peserta yang semuanya saya masukkan undian. Nomor urut pertama dimulai dari jawaban yang pertama masuk, dan seterusnya hingga total didapatkan 39 nomor undian. Kakak random.org telah memilih.  Selamat untuk nomor urut 17 dari atas. 
 
 
 
Ade Yuanita Putri Pratiwi
@AdeYuanitaPutr4

 
Pemenang akan segera saya hubungi untuk teknis pengiriman hadiah. Selanjutnya, teman-teman masih bisa mencoba peruntungan di deehati.com.Terima kasih sudah ikutan ya.

Wednesday, March 14, 2018

Drama Mama Papa Muda

Judul: Drama Mama Papa Muda
Penulis: Pungky Prayitno dan Topan Pamukti
Editor: Ayun
Cetakan: Pertama, Februari 2018
Tebal: 232 hlm
Penerbit: Laksana




Buku tentang menikah muda sepertinya memang sedang membanjir di pasaran. Entah ini mencerminkan tren generasi muda zaman now yang ngebet nikah ataukah untuk menyindir banyaknya jomblo 90-an di Indonesia modern. Tapi, saya setuju dengan penulis buku ini: menikahkah saat betul-betul ingin dan siap. Menikahlah dengan penuh kesadaran bahwa sudah saatnya kamu berbagi semestamu dengan orang lain. Jangan terpaksa menikah hanya karena orang bilang sudah umurnya, atau teman-temanmu sudah sold out semua, atau karena si boy juga nikah muda. Karena menikah bukan cuma tentang enak dan romantisnya saja, tetapi juga tentang rempong dan ngehenya. Sebagaimana semua hal besar lain dalam hidup, menikah itu paket lengkap dan kita harus siap menerima yang baik dan buruk darinya.

“Bagi Bapak, pernikahan dan rumah tangga adalah kerja sama. Kerja sama untuk sama-sama bahagia.” (hlm. 83)

Aneka drama di buku ini membuktikan kebenaran fakta di atas dengan jujur dan lugas. Jika banyak buku pernikahan muda yang lain kebanyakan hanya memandang sisi-sisi baik dan berpahala saja dari sebuah pernikahan muda, buku ini dengan berani menampilkan sisi drama sebuah perkawinan. Tapi, tidak kemudian para penulisnya (yang juga pasangan muda) hendak menakuti pembaca agar jangan menikah muda lewat buku ini.  Penulis hanya menyuguhkan realitas tentang apa-apa yang akan dihadapi oleh setiap pasangan muda yang menikah. Harapannya, pembaca mengetahui hal-hal baik dan rempong di balik setiap pernikahan, yang harus diterima sebagai satu paket lengkap, sehingga dia memang benar-benar sudah siap lahir dan batin saat memutuskan untuk menikah. Buktinya, penulis tidak menyesal telah memutuskan menikah muda.

“Ternyata, menikah tidak membuat seorang perempuan kehilangan apa-apa, termasuk jalan dan kesmepatan untuk mengejar mimpinya. Menikah muda nggak sedikit pun merampas mimpi saya, nggak setitik pun.” (hlm 21)

Monday, March 12, 2018

Catatan Menantu Sinting, Curhat Kocak seorang Menantu Batak

Judul: Catatan Harian Menantu Sinting
Pengarang: Rosi L. Simamora
Tebal: 232 hlm
Cetakan: 1, januari 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Dari ulasan yg bersliweran di media sosial, saya menangkap buku ini bakal kayak MSB series. Tinggal ganti saja karakter Pak Bos yang jahara adalah emak mertua yang bikin darah tinggi. Satu dua bab pertama memang mirip. Tapi,mulai bab2 selanjutnya saya menemukan ada yg beda dari buku ini. Buku ini ternyata lumayan vulgar saudara-saudari. Vulgar bagian apa? Bagian ranjang tentunya. Namanya juga pengantin baru, urusan ranjang mah sah sah saja. Tapi bagi pembaca yang dr beragam kalangan bisa jadi bakal 3 efek yg timbul saat baca novel ini: (1) maklum sambil senyum senyum, (2) eneg, atau (3) pengen. Saya masuk yg nomor 3 #okesip eh okeskip.Hampir setiap bab ada yang nyengol soal ranjang. Nggak apa2 sih cm kayak gimana gitu. Untungnya, masih banyak cerita lain yang dipaparkan.