Search This Blog

Tuesday, April 2, 2019

212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe

Judul: 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe 
Penyusun: Zaenuddin H.M.
Editor: 
Tebal: 375 hlm
Cetakan: Kedua, 2012
Penerbit: Ufuk Press


Walau terkesan tidak digarap dengan ilmiah dan detail, buku ini ternyata cukup mengenyangkan. Penulis tampak mengenal betul wilayah di Jakarta sehingga membaca buku ini seperti kita sedang diajak jalan jalan menyusuri penjuru ibukota. Gaya penulisannya lebih menyerupai pendongeng yang telah banyak dolan ketimbang gaya peneliti yang terkesan formal. Ini yang membuat buku sejarah ini terasa enak dibaca dan ramah bagi aneka level pembaca.

Hampir semua asal usul nama kecamatan dan tempat2 penting dituliskan di buku ini. Termasuk juga tempat tempat penting. Saya yang bukan orang Jakarta saja merasa seperti mengenal betul setiap tempat yang dibahas penulis di buku ini: Kampung Rambutan, Jagakarsa, Ciganjur, Kalibata, Kwitang, dan Matraman. Ini bukti betapa Jakarta memang memiliki pengaruh besar kepada banyak orang di Indonesia. Mungkin karena memang kota tua ini sarat dengan sejarah pendirian Republik ini. 


Monday, March 25, 2019

Review and Giveaway Winner: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga

Judul: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga
Penyunting: Yetti A.KA
Pengarang: Gunawan Tri Atmodjo
Tebal: 192 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2019
Sampul: Ferdika
Penerbit: DIVA Press




"Manusia selalu butuh bercerita dan bercerita membuat segala sesuatunya terasa lebih baik." (hlm. 134)

Perjumpaan dengan cerpen-cerpen Gunawan Tri Atmodjo selalu mengguratkan bekas yang kentara. Walau bila dibanding dua kumcer sebelumnya, buku ini bisa dibilang adalah yang paling sederhana. Jika dalam Tuhan Tidak Makan Ikan yang lucu dan Pelisaurus yang saru tapi seru, kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga ini bisa dibilang cukup biasa. Walau demikian, cerpen-cerpen di sini sangat layak untuk dinikmati. Mungkin, bukan untuk memantik atau merenung berat tentang hidup, tapi lebih untuk mengingatkan kita bahwa hidup juga merupakan sebentuk gudang cerita yang kita dapat belajar banyak darinya.

"... bercerita adalah terapi paling sederhana untuk meredakan duka." (hlm. 143)

Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga memuat kisah-kisah sederhana tentang hidup keseharian. Temanya beragam tetapi paling banyak tentang cinta. Cerpen paling 'berat' mungkin Sunyanyuri yang membuka buku ini. Selebihnya, kisah-kisahnya bisa dibilang sederhana. Menurut saya, pembaca awam bakal menikmati membaca buku ini. Sementara, para pejuang baca yang lama berkubang dalam literatur sastra juga pasti bisa menikmati buku ini sebagai sebuah selingan yang menyegarkan sekaligus berbobot.

"Takdir' selalu dapat melipur segala lara dengan caranya sendiri yang sederhana."

Sunyanyuri memiliki ide cerita yang banyak diangkat cerpenis zaman now, yakni tentang peran wanita yang lebih sering menjadi korban dari keadaan dan struktur sosial. Sementara cerpen kedua Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu memiliki twist yang lumayan mengejutkan. Dua cerpen ini masih mengusung tema yang serupa. Cerpen Pohon Merah di Bandara memiliki ending yang cukup mengagetkan sekaligus menjadikannya cerpen paling 'beda' di buku ini meski masih mengangkat tema cinta. Jangan langsung baca endingnya, nanti bisa merusak kejutannya.

"Betapa berharganya setiap buku yang kubaca." (hlm. 158)

Cerpen Pembaca Masa Depan dari Selatan dan Sebuah Kecelakaan Suci memiliki aroma berbeda dibanding kisah-kisah lainnya. Dua cerpen ini mengambil setting kisah zaman antah berantah. Cerpen pertama bernuansa kisah persilatan, dan yang kedua mengangkat setting lokal pedalaman. Ciri khas penulis yang gemar menggunakan ironi kehidupan sebagai kelakar muncul di ending kedua kisah ini. Lucu tapi sendu. Ada juga cerpen Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan yang agak berbau mistis. Yang unik dari cerpen ini adalah cara penceritaan menggunakan sudut pandang bersambung antar karakter. Teknik yg sama muncul juga di cerpen Romantika Kereta.

"Namun, aku percaya bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu memang diciptakan, bukan ditemukan." (hlm. 163)

Kisah sendu bikin haru muncul berulang kali, di antaranya dalam cerpen Foto Keluarga, Dandelion dan Juru Taman, dan Pulang. Satu kalimat adem di backcover buku ini berasal dari cerpen ini. Sementara, cerpen-cerpen lainnya yakni Hari yang Kelabu, Telepon dan Pisau, dan Buku Harian Kinan ibarat kisah detektif sederhana yang meminta pembaca untuk sedikit menebak endingnya. Ada juga kisah (mungkin) keseharian penulis yang digambarkan dengan lumayan dramatis dalam cerpen Hujan di Pagi Hari.

Jika pembaca sudah terbiasa membaca kumcer penulis yang cenderung bertema, bersiap-siaplah menjumpai aneka jenis cerita dengan beragam tema di buku ini. Cerpen Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga yang menjadi judul buku ini pun ternyata tidak memiliki kisah yang semegah judulnya. Namun demikian, sebagaimana sebuah dongeng yang sejatinya memang sederhana dan bisa dinikmati siapa saja, buku ini menawarkan aneka kisah untuk cermin kita dalam merenung. Sebuah teman yang istimewa untuk sejenak berhenti dari rutinitas harian dan mulai memandang lebih banyak ke dalam diri dan juga sekitar.


Tersedia satu buku kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga GRATIS dari Penerbit DIVA Press untuk satu calon pembaca yang beruntung. Semua jawaban masuk sama-sama membahagiakan. Saya ucapkan selamat dulu kepada seluruh peserta atas momen-momen bahagianya. Mari nikmati dan mensyukuri setiap momen bahagia yang datang, apa pun itu. Jangan lupa juga berbagi kebahagiaan dengan sesama agar kebahagiaan semakin sempurna.

Baiklah. Karena saya bingung memilih pemenangnya, saya serahkan tugas berat ini kepada Om Random. Berikut ini peserta yang memenuhi syarat dan diikutkan dalam undian. Dan inilah hasil undiannya. Selamat kepada pemenang yang beruntung.


Nama
No Undian
Vena Dwi
1
Farrah NF
2
Fatonah W
3
Bety K
4
Misbahudin
5
Andah
6
Maratul F
7
Lisatina
8
Kinosuki
9


Selamat kepada Kak Vena Dwi (@cypselaa). Silakan cek DM Twitter ya untuk teknis pengiriman hadiah. Kepada para peserta lain yang belum beruntung, bisa tengok IG @dion_yulianto karena insya Allah bakal ada giveaway spesial pertengahan April 2019 ini. 

Terima kasih sudah ikutan.  

Saturday, March 16, 2019

Kisah Tanah Jawa, Menguak Tabir Mistis Pulau Jawa

Judul: Kisah Tanah Jawa
Penulis: Tim @kisahtanahjawa
Editor: Ry Azzura
Sampul: Rezky Mahangga
Ilustrator Isi: Day
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 250 hlm




Tanah Jawa selalu menarik sejak dulu kala. Bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga misterinya. Seolah tidak ada habisnya misteri yang digali dari pulau tua ini, terutama terkait hal-hal mistis yang melingkupinya. Sejak zaman kolonial hingga era Jembatan Suramadu, Jawa senantiasa menyuguhkan aneka misteri yang tidak hanya membikin orang penasaran, tetapi juga malah menjerumuskan. Tidak sedikit mereka yang kemudian tersesat dengan dalih mencari kehidupan yang lebih baik ataupun semata dendam. Nafsu duniawi membuat segelintir manusia mengambil jalan yang keliru dengan meminta bukan kepada Tuhan, melainkan mahkluk-mahkluk dari golongan setan yang seharusnya kita jauhi.

Mereka yang besar di Jawa pasti akrab dengan tumbal, aji pengasihan, pesugihan, dan juga Kejawen. Buku ini memaparkan hampir semua yang sering ingin kita tanyakan (tetapi nggak jadi-jadi karena takut) tentang hal-hal mistis yang terjadi di Tanah Jawa. Dengan metode retrokognisi, para penulis @KisahTanahJawa ini mencoba menguak selubung misteri dari tumbal jembatan, kisah horor di rumah sakit, penghuni rumah tua, pocong, kuntilanak, pesugihan, asal muasal jenglot, ritual seks di Gunung Kawi, misteri Alan Roban,  penglaris, ajian jaran goyang dan semar mesem,  hingga perbedaan antara pocong beneran dengan jin yang menyamar jadi pocong. Haduh .... naudzubillah moga jangan kejadian deh. Tapi, tidak melulu horor yang disuguhkan. Buku ini semakin berbobot dengan sajian sejarah kolonial di Jawa yang dibahas dengan lumayan lengkap.

Buku ini sudah bikin merinding sejak dari halaman pertama.  Sudah lama saya mendengar desas-desus penanaman tumbal kepala kerbau di setiap proyek pembangunan berskala besar. Tetapi, tumbal kepala manusia? Sulit membayangkan betapa hal kebiadab ini masih dilakukan (walau dengan diam-diam) di abad 21 ini. Dalam bab pertama, Napas Tiang Pancang, pembaca diajak menerawang proyek pembangunan berskala besar di Jawa. Diantaranya adalah pembangunan jembatan kereta api yang melintas di atas Sunga Serayu, Terowongan Lampengan, dan Stasiun Tugu. Dalam setiap pembangunan, selalu ada yang dikorbankan,. Hati ikut teriris membaca kebiadaban segelintir manusia yang dengan teganya mengorbankan manusia lain yang tidak bersalah sebagai tumbal agar pembangunan jembatan bisa berjalan lancar tanpa adanya gangguan dari mahkluk gaib.

Bagi pembaca yang suka wisata kuliner, bab Penyedap Komposisi Dosa mungkin akan terasa kurang mengenakkan. Tetapi, tidak ada salahnya kita berhati-hati dalam menyantap makanan karena tidak semua pedagang makanan memiliki sifat jujur. Masih ada juga yang menghalalkan segala cara agar dagangannya bisa laris. Salah satunya, dengan bekerja sama dengan mahkluk gaib untuk menarik pelanggan. Caranya bagaimana? Cukup menjijikkan sebenarnya, di antaranya dengan media ludah pocong atau dengan mencemplungkan celana dalam bekas dipakai pada kuah makanan. Konon, makanan yang dibeli  di warung yang menggunakan pesugihan ilmu hitam seperti ini akan terasa kurang enak jika dibungkus atau dimakan di rumah. Di bab dua ini, banyak hal tentang ilmu penglaris dibuka untuk pembaca agar kita semua waspada.

Sesuai judulnya, Harta Berujung Petaka, bab 3 membahas tentang ilmu pesugihan. Dalam upayanya menjadi sukses dan kaya raya, tidak sedikit orang yang menggunakan jalan pintas dengan meminta kepada mahkluk gaib. Ini yang kemudian kita kenal sebagai pesugihan. Bab ini mengulas cukup rinci tentang sejumlah pesugihan populer macam babi ngepet, nyi blorong, gunung Kawi, dan Jembatan Setan. Selanjutnya, tentang tentang ajian pengasihan dan ilmu pelet dibahas lumayan mendalam di bab Merapal Kata Terlarang. Pada dasarnya, setiap ucapan adalah mantra, termasuk doa. Hanya saja, jika doa ditujukan pada hal-hal baik, maka mantra digunakan untuk memohon pertolongan dari mahkluk gaib. Di bab ini kita bisa membaca sekelumit sejarah ajian jaran goyang yang sangat terkenal itu. Ternyata, konon pelakunya benar-benar ada dalam sejarah. Tetapi, tentu saja setiap ajian sesat memiliki konsekuensi buruknya.

Tidak hanya mengupas kisah horor dan mistis, Kisah Tanah Jawa juga banyak mengupas perihal sejarah Jawa. Bagian paling sering diterawang adalah era 1800-an ketika Jawa masih di bawah pimpinan penguasa kolonial Belanda. Salah satunya yang paling meninggalkan jejak berdarah-darah adalah Daendels dengan proyek Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan. Bagaimana rute legendaris ini dibangun dan berapa persisnya jumlah rakyat jelata yang menjadi korban. Tim @KisahTanahJawa berusaha menerawangnya dengan metode retrokognisi yang memunculkan hasil mencegangkan. Bagian lain yang cukup menarik adalah pembahasan tentang ilmu Kejawen dan filosofi orang Jawa. Di bab ini, dibahas juga filosofi rumah Joglo, juga makna dari sesaji atau sesajen, serta makanan Jawa. Bunga kenanga salah satunya, memiliki filosofi bahwa kita harus mengenang kebaikan para leluhur.

Beberapa misteri memang sebaiknya tetap menjadi misteri. Tetapi, tidak ada salahnya tahu sedikit rahasia dari dunia lain sebagai bentuk upaya kita menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan mengetahui, kita saekaligus bisa menghindari melakukan hal-hal yang pada akhirnya menjerumuskan kita. Buku ini mengajarkan kita untuk mawas diri karena, kita tidak hidup sendirian di Tanah Jawa ini. Ada mereka yang telah tinggal dan berdiam di pulau kuno ini jauh lebih lama dari kita. Sepantasnya kita sebagai 'tetangga yang baik' saling berusaha untuk tidak mengusik antara satu dengan yang lainnya.

Monday, March 11, 2019

Tuhan dan Hal-Hal yang tak Selesai, Kumpulan Esai

Judul: Tuhan dan Hal-Hal yang tak Selesai
Penyusun: Goenawan Mohamad
Cetakan:  Januari 2019
Tebal: 200 hlm
Penerbit: DIVA Press




Blurb:
Ada 99 esai pendek dalam buku ini. Jika boleh menirukan karya Roestam Effendi yang terbit tahun 1925, Pertjikan Permenoengan, ke 99 esai itu adalah semacam percikan. Mereka terkadang bisa dibaca sebagai bagian yang saling mendukung atau saling membantah, terkadang bisa dibaca sebagai tulisan yang berdiri sendiri-sendiri.

Semuanya ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tetapi juga membingungkan dan menakutkan.


***
Pernah, walau mungkin jarang, kita menemukan tulisan yang kita tahu tulisan itu bagus hanya saja kita yang tidak/belum mampu mencernanya.

Mungkin bacaan kita yang kurang banyak dan kurang beragam.
Mungkin perjalanan kita yang kurang jauh dan kurang ke mana-mana.
Mungkin pemikiran kita yang kurang terbuka atau hati kita yang kurang lapang.
Mungkin perenungan kita yang kurang mendalam, atau malah nggak pernah sempat merenung.

Atau mungkin, kita yang sudah banyak membaca tetapi kurang banyak menulis.

Kumpulan esai Goenawan Mohamad ini ibarat naskah-naskah yang hanya mau bicara kepada para pembaca yang dipilih (yang jelas saya belum terpilih). Tulisan-tulisan di dalamnya menyentuh serta membahas hal-hal yang jauh, bacaan-bacaan kelas tinggi, hingga peristiwa sejarah besar dunia. Butuh pembacaan dan pengalaman yang sepertinya lumayan panjang untuk bisa memaknai esai-esai pendek di buku ini. Dan dari tadi saya nulis panjang lebar tapi sama sekali belum menjelaskan bagaimana isi buku ini wkwkwk. Baiklah, ini mungkin sedikit kesan setelah menyelesaikan buku tipis tapi ternyata "berat" ini.


Friday, March 1, 2019

Jurnal Jo #3: Episode Cinta

Judul: Jurnal Jo 3: Episode Cinta (Jurnal Jo #3)
Penulis: Ken Terate
Ilustrasi sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020305691
Cetakan kedua, 7 Januari 2019
Tebal: 240 halaman




Ada cowok baru di kelasnya Jo, namanya Izzy. Dan, Izzy bukan sekadar cowok abg biasa. Dia cakep, terkenal (konon seorang model iklan), mudah bergaul, lucu pula. Pokoknya paket lengkap deh ini cowok. Susah bagi para cewek di kelas Jo untuk tidak terpikat oleh Izzy. Yang namanya Sally dan Nadine terutama, langsung nempel dan ngekorin cowok baru ini kemana-mana. Jo gimana? Yah, normalnya cewek ABG pasti seneng lah liat cowok yang bening-bening. Tapi, Jo kudu bisa mengerem rasa sukanya sama si  cowok baru. Kenapa? Karena di buku ketiga ini: Jo pacaran sama Rajiv. Selamat Jo.  Kisah pamungkas seri Jo kali ini memang berfokus pada kisah merah jambu ala-ala ABG. Ya namanya juga teenlit, kalau nggak ada cinta, idola, dan media sosial ya kurang abg ntar.

Di buku pamungkas ini, Jo dan Rajiv yang unyu ini akhirnya punya status hubungan yang jelas. Walaupun masih sembunyi-sembunyi, keduanya kini makin sering ketemu dan curhat. Jo terbantu banyak lewat curhatannya sama Rajiv. Walau  Mama Jo menyukai pemuda itu, beliau belum mengizinkan Jo pacaran. Jadilah keduanya pacaran diam-diam. Keberadaan Rajiv terbukti sangat bermanfaat buat Jo yang sekarang sudah naik ke kelas 8. Permasalahan semakin kompleks, mulai dari tugas yang makin "aneh dan ribet" hingga orang tua yang kayaknya semakin nggak keren. Belum lagi masalah cowok. Rajiv ini ibarat tonggak penopang agar Jo tetap tegak.

"Cinta nggak seharusnya membuat kita murung dan resah."

Wednesday, February 27, 2019

Jurnal Jo #2: Online

Judul: Jurnal Jo #02 Online
Pengarang: Ken Terate
Tebal: 232 hlm
Cetakan: 2, Januari 2019
Sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




.. kenapa kita harus melakukan sesuatu hanya karena orang lain juga melakukannya."

Mandiri, kreatif, orisinal, mudah bergaul. Semua kualitas mental Jo ini mengingatkan saya pada sosok Lupus. Entah mbak Ken terinspirasi dari sosok legendaris rekaan Hilman ini atau mungkin sosok Jo memang sudah unik sedari awal. Kesetiaan ini bukannya jelek, malah bagus. Pengarang mampu menulis karakter baru berdasarkan karakter lama tanpa harus menconteknya habis habisan. Saya membayangkan, Jo ini versi ceweknya dan versi abgnya Lupus. Hanya saja, keduanya memiliki ciri masing masing yang khas karena muncul di era yang jauh berbeda. Jo hadir sebagai sosok ABG Milenial yang kisahnya bisa dibilang lebih 'tidak menggurui' ketimbang Lupus.

Rempong ya masa remaja kembali dihadapi Jo di buku kedua ini. Hanya saja, kali ini cewek ini lebih siap.  Bisa dibilang, Jo sudah menerima bahwa dirinya adalah remaja dan bukan anak-anak lagi. Dengan demikian, berubah pula tanggung jawabnya. Jo kini mulai mengenal keanekaragaman temannya (dan berusaha berdamai dengan itu), belajar memikul tanggung jawab sebagai panitia kelas, serta mulai terserang virus merah jambu alias cinta monyet. Dibanding buku pertama, Jo jauh lebih dewasa di buku kedua ini. Bukan berarti Jo nggak kolokan atau sok lebai juga loh (bagian itu sih tetep). Pelupa dan lemotnya juga kadang masih. Tapi, dengan adanya kekurangan kita jadi belajar bukan?

Tuesday, February 26, 2019

Belajar Berjiwa Besar dari Profesi Wong Cilik


Judul: Profesi Wong Cilik
Penyusun: Iman Budhi Santosa
Penyunting: Gunawan Tri Atmodjo
Sampul: Ferdika
Cetakan: Pertama, November 2017
Penerbit: Basabasi




Dunia semakin modern dan pekerjaan baru pun bermunculan. Kini, kita seolah sudah terbiasa dengan aneka jenis pekerjaan yang mungkin nggak terpikirkan keberadaannya sepuluh atau lima belas tahun lalu. Begitu pula sebaliknya. Banyak pekerjaan kekunoan yang dulu kita terbiasa dengannya mulai menghilang dengan begitu perlahan. Zaman berubah dan membawa perubahan bersamanya, termasuk jenis-jenis pekerjaan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Mereka yang beradaptasi dan ikut memperbarui diri akan terus bertahan. Tetapi, mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan dan perubahan akan jauh tertinggal. Beberapa jenis profesi memang turut mengalami pergeseran, seperti tukang cukur rambut dan penggali sumur. Beberapa yang lain mulai jarang dijumpai seperti para pemikat perkutut dan dukun bayi. Tetapi, ada juga yang sepertinya tak tergantikan walau zaman terus berputar. Para abdi dalem adalah contohnya. 

Buku ini memuat sekitar dua puluhan jenis profesi yang akrab dengan wong cilik. Jenis-jenis pekerjaan yang mungkin nggak terbayangkan lagi keberadaannya dalam benak kaum milenial. Kenyataannya, pekerjaan-pekerjaan ini masih eksis. Beberapa memang semakin jarang dijumpai, tetapi banyak yang masih bisa bertahan di tengah gerusan zaman. Walau ada embel-embel “profesi wong cilik” dalam judulnya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari pekerjaan-pekerjaan ini. Bahkan pekerjaan sekelas penggali sumur dan pemikat perkutut pun memiliki aturan khususnya sendiri. Menakjubkannya lagi, aturan khusus ini biasanya lebih didasarkan pada kemanfaatan bersama alih-alih  keuntungan pribadi. Seorang tukang becak misalnya, konon lebih sering menjawab dengan “Sumonggo kerso (Jw: Silakan mau kasih berapa pun)” saat ditanya berapa ongkos mengantar penumpang. Sesuatu yang tentunya sudah jarang kita jumpai ke kehidupan modern seperti saat ini.