Search This Blog

Monday, November 20, 2017

Review and Giveaway: Kohesi

Judul: Kohesi
Penulis: Pia Devina
Editor : Risma Megawati
Desain sampul & grafis: Gagas Nir Galing
Penerbit: M&C – Koloni Novel
Terbit: 2017
Tebal: 232 hlm.
ISBN : 9786024285784


Dari membaca novel, saya belajar untuk memahami dan memaklumi betapa setiap individu memiliki masa lalu yang berbeda-beda. Ini menjadikan setiap kita menanggung beban yang berbeda-beda. Maka, memang benar jika ada ajakan untuk berlaku ramah kepada setiap orang karena masing-masing mereka memiliki masalahnya sendiri. Tuhan memberikan kita cobaan sekaligus berkah yang juga berbeda untuk masing-masing orang. Dengan kata lain, setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Ada yang beruntung bisa melalui ujian hidup yang mendera, tetapi tidak sedikit yang malah terjerumus dalam jurang kekacauan karena tidak mampu menanggung ujian kehidupan. Selalu ada Tuhan yang bersedia menampung dan menanggung keluh kesah kita. Sayangnya, kita sering kali lupa bahwa Dia Maha Besar, jauh lebih besar ketimbang masalah apa pun. KepadaNya lah kita sepantasnya memohon pertolongan. Karena ketika kita lupa dengan keMahaBesaran-Nya, maka yang datang adalah keburukan. Ini jadinya blogtour atau buletin Jumat ya kok jadi trenyuh gini? 

Ini pertama kali saya mencicipi buku karya Mbak Pia Devina. Buku belio memang beberapa sudah diterbitkan di penerbit tempat saya bekerja, tetapi saya belum tergerak membacanya karena memang saya bukan pengemar novel romance. Tetapi, saat ditawari menjadi host untuk novel Kohesi, saya langsung setuju ikutan karena blurb-nya yang berbeda. Kohesi memang bukan sekadar novel romance biasa. Lebih dari itu, unsur romannya malah tidak mendapatkan porsi utama di buku ini. Dari mulai membuka halaman-halaman awal yang dikisahkan dari sudut pandang Rindai, saya menebak kalau Kohesi lebih bernuansa psikologis ketimbang romansa.  Kemudian, dengan sikap Rindai yang introvert akut dan suram-suram gimana gitu, malah bikin saya semakin penasaran sama Kohesi. Jadilah novel ini selesai dibaca dalam satu kali duduk, di jam-jam selepas tengah malam, karena memang cocok sekali dengan suramnya.

Rindai ini anak introvert, dan bakat introvertnya ini semakin diperparah dengan kehidupannya yang tidak ideal. Sejak kecil, dia tinggal hanya bersama ayahnya yang gemar mabuk-mabukan serta berjudi di gubuk mereka yang reyot. Belum lagi perlakuan sang ayah yang sering memukulinya saat sedang marah atau mbauk.  Jadilah Rindai tumbuh sebagai remaja pendiam yang miskin, kurang kasih sayang, dan menarik diri dari dunia. Kemudian, semuanya tiba-tiba berubah ketika ayahnya meninggal. Seorang wanita kaya tiba-tiba hadir dan mengaku sebagai ibu kandungnya. Wanita perlente itu juga mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Setelah belasan tahun, akhirnya Rindai punya seorang ibu. Setelah bertahun-tahun, Rindai akhirnya bisa tinggal di rumah yang layak, bahkan cenderung mewah. Rindai bahkan mendapatkan bonus seorang kakak yang juga masih remaja bernama Rio. Toni, ayah tirinya bahkan tipe ayah yang sangat ideal. 

“Bila nanti sesuatu yang membuatmu merana datang ke hidupmu, hadapi saja. Sudah jadi takdirmu. Kamu anakku. Kecuali kamu menyesali kenyataan kalau aku ini bapakmu.” (hlm. 228)

 Sayangnya, di dunia ini, segala yang terlampau indah seringkali malah menyimpan racun mengerikan. Dari awal masuk ke rumah keluarga Iriana (nama ibu kandungnya), Rindai sudah menemui ada  yang aneh dengan keluarga itu, terutama pada Iriana. Secara teknis, Rindai harusnya bahagia, tetapi nyatanya tidak. Ia merasa ada yang salah pada keluarga barunya. Terutama, dia merasa salah karena ada di keluarga itu. Seperti ada kepura-puraan di balik harmonisnya keluarga Iriana tetapi Rindai tak tahu apa. Sampai kemudian, beberapa hari sejak Rindai tinggal di rumah indah itu, Rio ditemukan tak sadarkan diri di dalam lemari pakaiannya sendiri. Pemuda itu melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak satu botol cairan pembersih lantai. Dimulai dari kejadian tersebut, Rindai mulai mendapati pandangan Iriana tidak lagi selembut pertama kali mereka bertemu. Ada yang berubah dari perempuan lembut itu. Ada yang aneh dengan keluarga itu. Untuk kali pertama, Rindai mulai mempertanyakan kembali keputusannya untuk tinggal bersama keluarga Iriana yang “bahagia”.

“Aku merasa seperti air di dalam gelas yang tidak tepat. Bukan gelasnya yang salah. Tapi aku, si air, yang seharusnya tidak menempati gelas itu.” (hlm. 119)

Apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga Iriana? Yang penasaran bisa langsung beli novelnya atau ikutan kuisnya. Dari Penerbit Koloni, blog Baca Biar Beken mendapatkan kehormatan untuk membagikan satu novel KOHESI karya Pia Devina untuk satu pemenang yang beruntung.

1. Follow dulu twitter @piadevina atau Instagram @penerbitclover (salah satu saja tidak apa-apa). Kalau berkenan, follow blog Baca Biar Beken juga boleh.
2. Peserta tinggal di wilayah kedaulatan NKRI
3. Dimohon bantuannya untuk membagikan/share postingan ini di media sosial kamu dengan menyertakan tagar #Kohesi
4. Silakan mengisikan nama dan akun twitter/Facebook kamu di kolom komentar, plus tautan sharenya. Cukup satu kali saja ya. Formatnya:

Nama:

Twitter/Facebook:

Tautan share:

5. Kuis ini berlangsung satu pekan saja, dari 20 – 26 November 2017. Saya akan memilih satu pemenang secara acak dengan random.org.  Pengumuman pemenangnya insya Allah tanggal 27 November 2017 ya.

Terima kasih sudah ikutan.

Wednesday, November 15, 2017

Blogtour and Giveaway: Misteri Bilik Korek Api

Judul: Misteri Bilik Korek Api
Pengarang: Ruwi Meita
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Sampul: Aqsho
Tebal: 238 hlm
Penerbit: Grasindo



"Yang tak nyata selalu lenyap tanpa sisa untuk menunjukkan jika dia ada."

Rumah kosong selalu menjadi TKP yang menarik untuk kisah misteri. Setting ini juga yang digunakan mbak Ruwi Meita sebagai setting utama di novel terbarunya ini. Bersama lima anak lainnya, Sunday pindah dari panti asuhan lama ke panti asuhan baru. Sejak bayi, Sunday memang sudah tinggal di panti asuhan sehingga gadis remaja itu sama sekali tidak tahu siapa orang tuanya kecuali bahwa dia berasal dari Ambon. Di antara anak-anak panti lainnya, ada satu anak yang mirip dengannya, yang sama-sama berasal dari Ambon. Namanya Emola. Sayangnya, Emola ini misterius sekali anaknya. Bangunan panti asuhan baru itu sendiri adalah sebuah rumah kosong dengan halaman belakang yang luas dan sebuah sumur tua. Pada pandangan pertama, tidak ada yang terlihat salah dengan rumah itu. Salah, selalu ada yang aneh dengan rumah kosong dengan sumur tua yang terbengkalai.  Hanya Emola yang bisa melihat yang salah dengan rumah itu. Ada tokek-tokek hitam menjaga kamar tempat mereka tinggal. Kamar yang ternyata menyembunyikan sebuah bilik rahasia berisi ratusan kotak korek api yang membentuk pola tertentu. 

"Sun, tidak semua harus dibayar. Kamu harus belajar ikhlas menerima sama halnya saat kamu memberi." (hlm. 112)

Kemudian, bilik rahasia itu terungkaplah. Anak-anak pun bahagia, mereka serasa menemukan ruang rahasia pribadi yang hanya milik mereka sendiri. Sama sekali tak ada yang menyadari, justru bilik korek api itulah yang akan memiliki mereka. Kecuali Emola, gadis yang terus bungkam itu sejatinya mengetahui ada si dia yang bernaung di dalam ruang ganjil tersebut. Sosok yang tak sabar menanti untuk mencengkramkan kuku-kuku tajamnya kepada anak-anak tak berdosa tersebut. Sampai kemudian, anak-anak itu celaka satu demi satu. Diawali dengan perayaan ulang tahun Sunday yang dilakukan di dalam bilik korek api, setelah itu semua permohonan mereka seperti tercapai. Hanya saja, sepertinya selalu ada yang keliru. Permohonan-permohonan mereka terkabul, tetapi dalam cara yang tidak tepat. Satu demi satu anak menjadi korban, hingga menyisakan Emola sebagai tersangka utama.  Siapakah Emola sebenarnya? Apa hubungannya dengan cerpelai bermata merah yang menghuni bilik korek api?

Dituliskan dari sudut pandang orang pertama tunggal, pembaca akan diajak ke dunia Sunday dan Emola berselang-seling. Sunday yang hidupnya tidak seceria namanya, serta Emola yang dunianya luar biasa ganjilnya. Dunia dalam pandangan Emola adalah riuh-rendah warna dan parade makhluk tak kasta mata. Bagi gadis itu, warna-warni bisa berbunyi dengan intensitas yang berbeda-beda. Bayangkan betapa riuhnya dunia Emola dengan setiap warna yang seolah berteriak hanya kepadanya. Pink berdesut, biru berdebur, kuning berdencing, dan putih bersiut-siut. Enola juga mampu melihat mahkluk-mahkluk psikologis yang berbentuk flora/fauna, mirip daemon-nya Phillip Pullman. Saya nggak habis pikir, kok ya penulisnya kepikiran bikin karakter seunik ini. 

"Katakan saja ketakutanmu pada orang lain. Bagilah. Seharusnya itu guna seorang teman. Berbagi." (hlm 155)

Kehadiran Emola ini juga yang membuat aura misteri dalam novel Misteri Bilik Korek Api bahkan sudah terasa sejak halaman-halaman awal. Mbak Ruwi rupanya tidak hendak berpanjang-panjang untuk memunculkan karakter misterius dalam buku ini bila dibandingkan di novel Alias. Dari segi twist dan misterinya, novel ini lebih juara karena sedikit mengingatkan saya pada novel-novel karya Akiyoshi Rikako yang penuh ‘jebakan’ dalam cerita yang kemudian akan terjelaskan seiring dengan bergulirnya cerita.  Salut untuk penulisnya. Pastinya dibutuhkan ketelitian sekaligus ketelatenan untuk bisa merangkai cerita yang efektif seperti ini. Memadukan dengan cerita Gadis Korek Api dan panti asuhan, kak Ruwi menemukan paduan yang pas untuk cerita ini. Satu cerita menginspirasi cerita lainnya. 

Saya suka dengan peralihan sudut pandang antara Emola dengan Sunday. Pergantian yang alih-alih bikin salah fokus pembaca, tetapi menurut saya malah membuat ceritanya utuh sekaligus tidak membosankan. Sunday dan Emola ini walau berbeda tetapi terasa banget saling melengkapi. Apa yang tidak dilihat oleh Sunday bisa dilihat oleh Emola. Demikian pula, apa yang tidak bisa dirasakan Emola (persahabatan, kasih sayang,cinta) dapat dirasakan oleh Sunday. Membaca dua pribadi yang berbeda ini kita jadi bisa belajar banyak. Tentang tanggung jawab manusia kepada sekitarnya, tentang masa lalu seseorang yang menjadikannya seperti sekarang. Pembaca tidak lagi menghakimi, tetapi mau mencoba untuk memahami.  Saya juga senang dengan Mbak Ruwi yang mengoptimalkan semua perangkat yang ada dalam cerita, tak ada yang disia-siakan.  Semua hal yang ada di buku ini turut mendukung alur cerita, atau paling tidak akan muncul fungsinya entah di bagian mana.

Eh iya, tadi Sunday datang ke Panti bersama 5 anak, tapi kenapa di sampul buku ini ada enam anak? Coba amati baik-baik, ada satu anak yang berbeda dibanding 5 anak lainnya. Siapakah dia? Cari tahu jawabannya dengan ikutan kuisnya. Jadi Mbak Ruwi Meita yang baik telah menyediakan satu novel Misteri Bilik Korek Api GRATIS untuk satu pengunjung Baca Biar Beken yang beruntung. Cek cara ikutannya ya:


1. Wajib like FP Ruwi Meita dan IG Ruwi Meita (bagi yang punya IG)
2. Follow twitter resmi Penerbit Grasindo
3.  Share postingan ini di media sosial kamu (Twitter atau Facebook atau IG)
4. Jawab pertanyaan berikut ini satu kali saja di komentar postingan ini: 

"Tuliskan satu kalimat yang bikin kamu merinding disko. Maksimal 15 kata ya."

5. Format jawaban:

Nama:
Twitter/FB/Email (salah satu saja):
Tautan share:
Jawaban:

6. Kuis ini hanya berlaku untuk pemenang dengan alamat pengiriman di wilayah NKRI, atau memiliki alamat kirim di NKRI. 
7. Kuisini berlangsung sampai 20 November 2017 berlanjut di IG Kak @atriasartika.

Terima kasih, telah turut meramaikan.

Tuesday, November 7, 2017

The Monstrumologist (Sang Ahli Monster)

Judul: The Monstrumologist
Pengarang: Rick Yancey
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Penyunting: Bayu Anangga
Sampul: Olvyanda Ariesta
Tebal: 496 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Scoop




Referensi tentang monster blemmyae pertama kali saya jumpai dalam The Dark Phropechy-nya Rick Riordan. Dalam versi kocaknya, Riordan menggambarkan blemmyae sebagai manusia tanpa kepala dengan mata dan mulut di dada, serta sangat sopan (mau membunuh pun mereka minta izin dulu). Samar-samar, saya juga pernah melihat gambar monster ini di salah satu buku tentang penjelajahan samudra selepas masa Abad Pertengahan. Kalau tidak salah, penggambar peta kala itu menggambarkan sosok mahkluk ini di satu kawasan pedalaman di Afrika.  Tampaknya spesies ini aneh secara fisiologis, dengan tangan terlampau panjang yang menjulur sampai ke mata kaki, sehingga lebih layak untuk ditertawakan. Tetapi, berbagai referensi dari Abad Pertengahan menyebut bahwa blemmyae adalah binatang yang ganas, dan juga kanibal. Mereka dijuluki sebagai pemakan manusia. Rick Yancey semakin memperkuatnya dengan menambahkan detail yang mengerikan: lengan dengan otot tendon perkasa, kaki yang mampu melompat hingga 12 meter, cakar lengkung setajam  baja sepanjang 7 cm, serta—yang paling mengerikan—mulut menyerupai hiu dengan ribuan gigi taring yang mampu mengerkah mangsanya dengan kekuatan tekanan 2 ton.

Friday, November 3, 2017

Sunan Ngeloco: Diari Rahasia ABG Cowok

Judul: Sunan Ngeloco
Pengarang: Edi AH Iyubenu
Cetakan: Pertama, November 2017
Tebal: 175 hlm
Sampul: Suku Tangan
Penerbit: Basabasi


36506931



Membaca Pelisaurus sepertinya kurang lengkap jika tidak sekalian membaca Sunan Ngeloco. Bisa dibilang, dua buku ini ibarat dua cerita yang saling melengkapi, sebagaimana Trijoko yang tak lengkap tanpa Sundari serta kamu yang tak lengkap tanpa timbunan buku yang belum terbaca. Dari segi judul, dua buku ini lumayan sama-sama seru eh saru karena mengandung dua kata yang intim dengan para laki-laki. Terutama untuk para pembaca yang besar di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau setidaknya memahami bahasa Jawa, dua buku ini akan mampu memunculkan gelak tawa serta sindiran yang lebih heboh  dan menggena ketimbang bila dibaca oleh pembaca dari luar suku Jawa. Banyak sindirian, istilah slang, dan terutama pisuhan (umpatan) yang Jogja-Solo banget di dua buku ini. Lucunya sangat kontekstual alias sangat tergantung pada situasi dan kondisi ketika cerita itu berlangsung, begitu kalau kata orang pinteran. Walaupun begitu, mereka yang pernah kuliah atau sekolah di Jogja-Solo sedikit banyak pasti juga akan turut mesem-mesem. Jadi, sebagai peringatan pertama, lucunya buku ini lumayan Jawa banget jadi buat pembaca non-Jawa, setidaknya bisa konsultasi ke temennya yang Jawa atau pernah di Jawa.

Thursday, November 2, 2017

Ibu Susu: Mesir Kuno di Tangan Rio Johan

Judul: Ibu Susu
Pengarang: Rio Johan
Penyunting: Christina M. udiani
Sampil: Iqbal Asaputra
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Tebal: 202 hlm
Penerbit: KPG
Baca via Scoop





"Oh Firaunku, tapi hamba tak bisa menulis. hamba tak akan pernah bisa abadi sebagaimana yang bisa menulis." (hlm. 91)

Jika dibandingkan dengan buku pertama Rio, novel Ibu Susu ini sangat jauh berbeda. Bukan hanya formatnya yang novel (buku sebelumnya adalah kumcer), Ibu Susu merupakan fiksi sejarah yang mengambil setting di Mesir Kuno, tepatnya pada era kekuasaan Firaun Theb. Pembaca mungkin tidak akan menemukan cerita-cerita vulgar-imajinatif yang beraneka tipe seperti di buku pertama penulis, tetapi bisa jadi malah terpukau oleh aspek lain yang dibawakan penulis: riset.Harus diakui, kekuatan utama novel ini ada pada detail tentang Mesir kunonya yang sangat melimpah. Tidak hanya seputar dewa-dewi yang mereka sembah, Rio seperti menyajikan di hadapan kita kehidupan zaman Mesir kuno secara gamblang dan jelas. Dari makanan, pakaian, rupa-rupa sesajen, bangunan, struktur hierarkis kekuasaan, termasuk cara mereka ngomong yang puaanjjaaaanggg nan formal sebagaimana huruf-huruf hieroglif Mesir yang kaku. Suasara Mesir kunonya dapat banget!

Wednesday, November 1, 2017

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, sebuah Renungan Alam

Judul: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Pengarang: Luis Sepulveda
Penerjemah: Ronny Agustinus
Cetakan: Kedua,  Agustus 2017
Tebal: 133 hlm
Penerbit: Marjin Kiri



Kisah Pak Tua yang suka membaca cerita cinta mengingatkan saya pada buku Sapiens-nya Yuval Hariri (yang belum juga rampung saya baca itu). Sapiens menyebut Homo sapiens alias umat manusia sebagai predator alam sejati yang bukan hanya memuncaki rantai makanan tetapi juga telah mengubah lanskap Bumi secara bersar-besaran. Apa yang diperbuat manusia terhadap sejak memulai keberadaannya di Bumi sekitar 10.000 tahun yang lalu telah memunculkan perubahan yang sulit ditandingi oleh spesies-spesies makhluk hidup lain. Sayangnya, perubahan itu tidak selalu positif, banyak yang malah negatif. Dan alam berulang kali menjadi korban dari perubahan akibat kedatangan Homo sapiens itu. Kurang lebih, inilah yang hendak digambarkan oleh Luis Sepulveda dalam novel tipisnya yang berjudul panjang ini. Pada akhirnya, sebelum semuanya terlambat, kita semua sebagai Homo sapiens memiliki tugas besar untuk menjaga alam. Jangan sampai,  hutan dan alam telanjur rusak, bahkan menghilang sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa selain melarutkan diri dalam kisah-kisah rekaan bertema cinta untuk mengalihkan ingatan dari kebiadaban manusia terhadap alam.

Tuesday, October 31, 2017

Pelisaurus: Sebuah Upaya Menertawakan Kelamin

Judul: Pelisaurus dan Cerita Lainnya
Pengarang: Gunawan Tri Atmodjo
Penyunting: Edi AH Iyubenu
Tebal: 200 hlm
Cetakan: Pertama, September 2017
Sampul: Suku Tangan
Penerbit: Basabasi




Saat mengikuti workshop Festival Basabasi tanggal 8 Oktober 2017 lalu, Mas Gunawan menceritakan sedikit tentang Pelisaurus. Judul itu dia dapatkan saat masih kuliah dulu. Konon, di kamar mandi kampus tergoreslah gambar dinosaurus tetapi kepalanya berbentuk *maaf* penis. Dari sinilah kemudian judul Pelisaurus itu muncul. Dengan judul yang menjurus ke bawah seperti ini, maka sedikit bisa diduga kalau isi buku ini akan banyak menyenggol kawasan rawan di selangkangan. Dan, memang benar. Tidak hanya sekali, penulis begitu saja mengobral kata-kata yang ditabukan semacam ngaceng (jw: ereksi), sempak (jw. celana dalam), ngeloco (jw. Onani), hingga bokep (hal-hal berbau porno). Konon, ide penulisannya sendiri memang sengaja di konsep ke arah tersebut sehingga pembaca diharapkan memiliki pikiran yang agak terbuka saat membaca kumcer ini (tapi pakaiannya tetap model tertutup loh, ya buka-buka dikit nggak apa-apa deh untuk penyegaran #eh).