Search This Blog

Tuesday, November 30, 2021

Belajar Mengelola Prioritas Hidup dalam Semangat, Tante Sasa!

Judul: Semangat, Tante Sasa!

Pengarang: Thessalivia

Cetakan: Pertama, Novembar 2021

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


“Nggak ada yang namanya orangtua sempurna, Sa. Lo kira gue ngerti cara ngerawat anak?" (hlm. 141)

Terbiasa hidup bebas dan mandiri, Sasita mendadak dipasrahi tanggung jawab merawat anak usia 6 tahun. Sasita sehari-hari tinggal di apartemen, pergi pagi pulang malam ke kantor, lalu kadang menghabiskan malam dengan hangout bersama rekan-rekan sekerjanya. Ia adalah gambaran ideal untuk mbak-mbak independent SCBD yang sempat viral beberapa waktu lalu. Mandiri, mapan, dan single. Apa jadinya kalau Sasita harus mengasuh keponakan perempuannya yang berusia enam tahun selama satu bulan lebih? Repot itu pasti, tetapi yang lebih penting adalah tanggung jawab besar yang menyertai pengasuhan itu. Sasita terbukti dapat diandalkan di kantornya. Ia tidak mengeluh tiap kali harus lembur sampai pukul 10 malam. Semua tugas yang diberikan oleh Sugeng, pimpinan di kantornya, bisa diselesaikan dengan baik. Nah, bagaimana dengan mengasuh anak kecil selama satu bulan. Bisakah mbak-mbak independen ini mengatasinya?

“Membelikan sesuatu untuk orang yang kita sayangi memang rasanya berbeda dibanding membeli untuk diri sendiri.” (hlm 69)

Selama sebulan lebih, Sasita dipasrahi untuk mengasuh keponakannya, Velisa. Selama ini, Velisa tinggal bersama neneknya (ibunya Sasita). Kedua orang tua Velisa meninggal dalam sebuah kecelakaan dua tahun sebelumnya. Dan karena neneknya harus menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci, selama sebulan ke depan dia lalu dititipkan kepada tantenya. Tentu tidak mudah mengasuh seorang anak kecil bagi wanita singel seperti Sasita. Baginya, ada begitu besar tanggung jawab yang harus diemban, tugas baru yang menanti, bermacam keterampilan baru yang harus dipaktikkan, juga waktu dan prioritas yang kudu disisihkan untuk si penghuni baru. Jelas, Sasita awalnya sangat kelimpungan. Disamping harus memikirkan dan mengerjakan tugas kantornya, sekarang Sasita juga punya satu eh banyak hal untuk juga dipikirkan terkait keponakannya itu.

"Kalau ada yang mengatakan pekerjaan ibu rumah tangga itu gampang karena hanya di rumah saja, mereka salah besar.” (hlm. 128)

Masalah yang harus dihadapi Sasita ternyata tidak sampai di situ. Seno, seseorang dari masa lalunya mendadak hadir menggoda hatinya. Citra Sasita sebagai wanita mandiri dan tangguh sedikit terguncang dengan hadirnya Seno. Cowok itu telah dan pernah mengisi hatinya di masa lalu, tetapi sekaligus juga pernah menyakitinya. Sekarang, Seno kembali hadir di tengah beragam hal baru yang harus dijalani Sasita dengan tanggung jawab barunya. Seno pun kini sudah memiliki tanggung jawab baru dengan keluarga kecilnya. Tapi, getar-getar itu masih ada di dada Sasita. Jauh dalam lubuk hatinya, Sasita masih berharap Seno mau kembali kepadanya.

“Kebahagiaan anak itu menular.” (Hlm 94)

Pekerjaan, mengasuh ponakan, dan cinta lama yang menolak sembunyi; semuanya menghantam gadis itu sehingga membuatnya kelabakan. Belum lagi masalah dengan ibunya yang belum terselesaikan. Semua ibarat bom waktu yang siap-siap meledak. Tetapi, entah bagaimana, Velisa menjadi tonggak yang menjaga Sasita tetap kokoh. Gadis kecil itu dengan segala kepolosan dan kejujurannya menjadi rumah tempat Sasita bernaung dan mencari pegangan. Lewat keponakannya itu, Sasita menyadari apa yang penting dan harus diutamakan dalam hidup, serta apa-apa yang sering kali kita anggap penting, setelah dipikirkan lagi dengan bijak, ternyata tidak begitu mendesak.

“Walaupun lebh banyak yang harus diurus, rasanya hati lebih hangat aja, gitu.” (hlm 111)

Semangat, Tante Sasa! mengusung tema yang sederhana tetapi konfliknya sedemikian kompleks. Tidak hanya tentang bagaimana menyesuaikan diri dengan perubahan yang datang, tetapi juga tentang penerimaan diri, tentang keluar dari toxic relationship, tentang mengakui kesalahan, tentang mengungkapkan uneg-uneg, tentang pengorbanan, tentang cinta dan keluarga. Dan terutama, novel ini bercerita tentang hal-hal kecil tapi sejatinya besar dalam kehidupan kita.

‘Tapi begitu lihat rumah sepi tanpa anak-anak, gue langsung kangen berat sama kehebohan mereka. Memang mereka bisa ngangenin dan ngerepotin di saat bersamaan, ya.” (hlm. 141)

Saya suka dengan bagaimana kisah sederhana ini bisa begitu terhubung dengan banyak orang dalam kehidupan nyata. Wahai para om dan tante yang pernah, sedang, dan mungkin akan harus mengasuh keponakan atau adik kecilnya, novel ini akan memberi kalian semangat sebagaimana Velisa menjadi semangat bagi Sasita. Kepada para ibu yang kadang kewalahan mengurusi bocil-bocil kesayangannya, segala kerepotan yang indah itu tergambarkan sedemikian mengalir dalam buku ini. Mengingatkan bahwa merawat anak adalah sebuah tanggung jawab berat tetapi sekaligus kesempatan dan anugrah yang luar biasa. Memang benar sebuah ungkapan kalau setiap anak membawa rezeki dan berkahnya sendiri. Berkah yang niscaya akan turut melimpahi kita ketika kita melimpahi mereka dengan kasih sayang.

“Mau di rumah, mau kerja, yang paling penting itu rasa sayangnya. Karena bagaimanapun, kalau seorang ibu udah sayang dengan anaknya, ia akan melakukan apa pun yang terbaik.” (hlm 141)


Selamat untuk Mbak Thessa. 


Berani Mengejar Mimpi dengan Kekuatan dalam Memulai Hal Bodoh

 Judul: Kekuatan dalam Memulai Hal Bodoh

Penulis: Richie Norton

Cetakan: Pertama, Februari 2014

Tebal: 304 hlm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Konon, salah satu penyesalan terbesar kebanyakan orang modern adalah tidak melakukan atau menunda melakukan apa yang benar-benar mereka inginkan atau impikan sampai semuanya terlambat sudah. Alasannya banyak sekali, tetapi terutama (1) tidak punya uang, (2) tidak punya pendidikan, dan (3) tidak punya waktu. Ada yang ingin menjadi penulis tetapi dia terus menunda dan tidak melakukannya karena dia merasa bukan dari jurusan sastra-bahasa. Ada yang ingin berlibur menikmati masa muda tetapi dia merasa tidak punya uang. Ada pula yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang-orang tercinta tetapi mereka merasa tidak punya waktu karena sibuk bekerja. Perasaan-perasaan ini terus menghalangi mereka untuk melakukan hal-hal yang mereka anggap bodoh itu. Kenapa harus menulis padahal saya tidak pernah sekolah menulis. Kok bisa kepikiran liburan ke Raja Ampat padahal duit aja mepet. Bodoh sekali berpikir membolos kerja agar bisa bermain dengan anak-anak di rumah. Bukankah dengan bekerja saya dan anak-anak bisa tetap hidup layak?

Hal-hal bodoh inilah yang menjadi titik mendasar yang digunakan penulis dalam buku ini. Dalam sejarah, mereka yang sukses dan puas serta tidak menyesali kehidupannya adalah orang-orang yang berani melakukan hal-hal bodoh itu. Tapi, wajib ditekankan kalau bodoh di sini tidak sama dengan "tidak tahu atau tidak sanggup atau tidak bisa berpikir dengan baik." Sebaliknya, bodoh di sini adalah tetap bersikukuh melakukan apa yang dianggapnya benar berdasarkan segala pertimbangan dan persiapan meskipun orang lain bilang yang kita lakukan adalah hal yang bodoh. Contohnya begini, orang-orang mengejek Wright Bersaudara dengan mesin terbang ciptaannya, menyebutnya sebagau upaya yang bodoh. Jadi, bodoh di sini adalah hal-hal yang tidak umum dalam pandangan orang banyak sehingga dilabeli "hal yang bodoh."

Satu ungkapan bagus di buku ini adalah untuk menyimpan uangmu (menabung) tapi jangan simpan mimpimu. Apa pun itu, mulailah dan lakukan lah. Hidup adalah tentang coba-coba dan semakin banyak kau mencoba, maka akan semakin beruntung dirimu. Namun, upaya meng ejar mimpi itu juga tidak boleh dilakukan secara serampangan. Dalam buku ini penulis menawarkan metode START yang intinya menjelaskan langkah-langkah untuk mencapai apa yang kita inginkan tanpa harus mengorbankan segi-segi kehidupan yang lain. Tapi yang jelas, jangan pernah salah dalam membuat prioritas: "Hidup Anda dan pekerjaan Anda, jangan pernah dibolak-balik. Yang kedua hanyalah bagian dari yang pertama."

Sama seperti buku motivasi (dari Barat) kebanyakan, buku ini mencoba menjelaskan kebijakan jalan kesuksesan lewat metode buatan si penulis (START). Isinya mirip dengan buku-buku sejenis, hanya saja penulis memolesnya dengan kajian-kajian ilmiah serta contoh-contoh pribadi dan rumus buatannya sendiri. Hasilnya, buku yang membosankan jika dibaca di tahun 2020 ini. Cara menulisnya terlampau bertele-tele, minim grafik atau ilustrasi, dan terasa sekali penulis berusaha menyambung-nyambungkan konsep miliknya dengan jalan kebijakan umum. Tidak jauh beda dengan buku-buku motivasi full-text yang sempat menjamur di pasaran tapi jarang diminati karena cenderung monoton dan seragam. Bahkan, bagian menarik dari buku ini menurut saya ada di kutipan-kutipan dari para tokoh besar yang dicuplik penulis untuk menambah bobot bukunya.

Menarik di awal, tidak ada yang baru di pertengahan, dan biasa saja setelah selesai dibaca. Mungkin, fungsi utama buku-buku motivasi memang untuk mengingatkan kembali sejumlah kebijakan besar yang sudah kita ketahui. 

 

Tuesday, November 23, 2021

Lebih Intim dengan Alam Semesta lewat The Intimate Universe

Judul: The Intimate Universe

Penulis: Marek Kukula

Tebal: 384 halaman, Oktober 2015

Penerbit: Quercus




Ada alasan mengapa fenomena-fenomena astronomi mendapat perhatian sedemikian besar dari khalayak. Gerhana matahari total, peristiwa blood moon dan blue moon, konjungsi planet Venus, gerhana bulan, hingga hujan meteor kini tidak lagi menjadi incaran para astronom, baik yang ahli maupun amatir. Warga awam kini juga turut merayakan peristiwa-peristiwa astronomis ini meskipun dengan peralatan yang seadanya—dengan minat yang tak kalah besarnya. Kita masih ingat dengan peristiwa Gerhana Matahari Total tahun 2016 yang melintasi Indonesia. Peristiwa astronomis langka ini bahkan diliput oleh TV nasional dan dirayakan secara megah di hampir seluruh wilayah Nusantara. Ketertarikan yang sedemikian besar pada astronomi ini mungkin terkait dengan betapa langkanya peristiwa-peristiwa langit itu terjadi. Dalam skala astronomis yang menggunakan satuan satu tahun cahaya sebagai penanda masa, rentang kehidupan manusia (bahkan peradaban umat manusia) sungguh tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan usia alam semesta.  Tidak jarang, orang hanya bisa menyaksikan satu peristiwa astronomi besar satu kali dalam kehidupannya, misalnya menjadi saksi melintasnya komet  Halley yang muncul setiap 76 tahun sekali. Mereka yang bisa menyaksikan atau menjadi saksi dari sebuah fenomena langit mungkin merasa sangat beruntung, sehingga peristiwanya sendiri layak dirayakan. 

Selain langkanya, ketertarikan kita pada luar angkasa yang jauh itu mungkin juga disebabkan oleh kedekatan kita yang selama ini mungkin belum kita sadari. Kita ternyata jauh lebih dekat dengan bintang-bintang cemerlang di angkasa sana, lebih dari yang kita duga. Dalam bukunya ini, penulis menggambarkan betapa sesungguhnya manusia memiliki keterkaitan yang begitu erat dengan benda-benda langit. Tidak hanya unsur-unsur pembentuk tubuh kita yang konon muncul saat bintang-bintang terbentuk, tetapi juga kehidupan di Bumi sendiri tidak bisa lepas dari kondisi-kondisi luar angkasa yang memungkinkan kita untuk membangun peradaban. Dengan kata lain, alam semesta sesungguhnya tidak sejauh dan seasing anggapan kita.

Dalam bab awal di buku ini, penulis yang juga astronom resmi kerajaan Inggris di Observatorium Greenwich menjelaskan proses pembentukan Bumi yang tidak bisa dilepaskan dari jejak-jejak bintang. Tidak hanya Bumi, tetapi Matahari dan Tata Surya dibentuk dalam kondisi yang sedemikian rupa “beruntung” sehingga menciptakan planet Bumi yang dapat ditinggali. Adalah Zona Goldilocks, sebuah zona antara dalam sebuah sistem tata surya yang memungkinkan planet yang berada di zona ini bisa ditinggali. Tidak terlalu jauh dari bintang utama sehingga airnya tidak membeku, tetapi juga tidak terlalu dekat dengan bintang utama sehingga airnya tidak menguap dan hilang. Bumi berada di zona Goldilock ini. Air sendiri merupakan salah satu prasyarat utama dari sebuah planet yang dapat dihuni.

Terkait air, para ahli masih memperdebatkan dari mana air di Bumi berasal. Bumi dan juga Venus dan Merkurius dan Mars termasuk planet berbatu dalam sistem Tata Surya yang tidak memungkinkan adanya air. Air dikatakan terbentuk dari unsur-unsur hydrogen dan oksigen nan melimpah di luar angkasa yang kemudian tertarik oleh gravitasi Bumi. Unsur-unsur ini mengumpul sehingga memunculkan senyawa air. Ada juga teori bahwa air dibawa oleh ekor komet yang terbuat dari air yang membeku. Teori manapun yang benar, yang jelas air di Bumi berasal dari luar angkasa. Kita ternyata berutang air pada luar angkasa yang selama ini kita kira kering dan hampa udara.  

Bumi tersusun atas inti padat yang cair dan selubung logam (besi dan nikel) yang panas. Cairan logam ini ikut berputar seiringin dengan rotasi Bumi dan juga gravitasi bulan yang mendorong lempeng-lempeng. Besi yang berputar menciptakan efek seperti dynamo yang menghasilkan gelombang magnetic. Gelombang ini memancar keluar dari kedua kutub Bumi, menciptakan sebuah selubung magnetis yang melindungi Bumi dari angin matahari dan pancaran sinar kosmis yang sangat berbahaya bagi kehidupan di Bumi. Keberadaan Bulan dengan gravitasinya juga membantu mengunci posisi Bumi sehingga posisinya stabill. Segala sesuatu yang terkait dengan planet biru ini sepertinya memang telah didesain agar planet ini layak huni dan tetap bisa dihuni. Kita sebenarnya sangat bergantung pada kestabilan alam semesta sehingga bisa bertahan sampai sejauh ini. 

Penulis menjelaskan teori-teori sulit tapi menarik ini dengan bahasa yang gampang, dalam sebuah sistematika berbentuk paragraf, bukan poin-poin, sehingga lebih enak dicerna. Saya selalu mengalami kesulitan memahami atau memgingat materi yang disusun dalam poin-poin, karena kesannya jadi banyak dan rinci. Menggunakan model paragraf tebal untuk menjelaskan konsep astronomis seperti di buku ini membuatnya terasa lebih sederhana dan bercerita. 

Tidak heran buku ini mendapatkan bintang yang bagus di Goodreads. Bahkan tanpa ada selipan gambar atau foto dari planet atau panorama angkasa luar yang berbintang, buku tetap bisa membuat para pembacanya untuk terus membaca. Tebalnya yang mencapai 380 halaman, dengan teks yang padat dan rapat tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan membacanya. Buku ini menggambarkan dengan jelas sekali kekuatan dari kata-kata. Bahkan tanpa gambar, seribu kata ternyata bisa sedemikian kuat menyita perhatian para pembacanya. Begitulah kiranya jika sebuah buku ditulis oleh seorang ahli sekaligus pecinta astronomi, maka hasilnya adalah sebuah karya yang sedemikian memikat. Jika kita ingin tahu lebih banyak tentang proses terbentuknya planet dan bintang, apa yang ada di dalam matahari, bagaimana peradaban di Bumi tak bisa lepas dari luar angkasa, hingga rotasi Bumi dan bulan mempengaruhi kehidupan kita secara langsung maupun tidak langsung, serta sejarah perkembangan ilmu pengetahuan terkait ilmu astronomi, buku ini bisa menjadi pengantar sekaligus sarana untuk memperdalam pengetahuan dan kecintaan kita kepada alam semesta.  


Wednesday, November 17, 2021

The House of Secret 2, Battle of the Beasts

Judul: The House of Secret 2, Battle of the Beasts

Pengarang: Chris Columbus dan Ned Vizzini

Penerjemah: Putro Nugroho

Tebal: 452 hlm

Penerbit: Noura Books


Novel fantasi rasa movie besutan Chris Columbus dan Ned Vizzini berlanjut ke buku kedua: Battle of the Beast. Sesuai judulnya, memang terjadi pertempuran antar binatang buas di penghujung buku. Namun selebihnya, novel ini tentang petualangan ketiga anak keluarga Walker yang dikirim masuk ke dalam buku cerita oleh si Penyihir Angin. Seperti dikisahkan di buku pertama, Penyihir Angin memiliki dendam kepada tiga anak ini karena mereka telah mebuangnya ke tempat paling mengerikan. Tetapi tempat itu ternyata tidak jauh-jauh amat, bahkan sedemikian dekat dengan keberadaan anak-anak Walker. Dengan tipu dayanya, si penyihir jahat berhasil terbebas dan bahkan melakukan kejahatan-kejahatan yang semakin tak terbayangkan. Namun setiap kali dia berusaha menghabisi ketiga Walker bersaudara, usahanya selalu gagal. 

Meski demikian, bukan berarti dia tidak bisa membuat anak-anak itu menderita. Menggunakan kekuatan sihirnya, dia mengirimkan ketiga petualang kita masuk dalam buku-buku cerita yang dikarang oleh ayahnya. Cordelia, Brendan, dan Eleanor Walker sekali lagi terlempar masuk dalam cerita di dalam buku dengan kisah baru serta petualangan baru yang tidak kalah berbahaya. Kali ini mereka bersama rumah Keluarga Kristoff terlempar tepat di tengah-tengah Coloseum di zaman Romawi kuno yang tengah mengelar pertarungan antara gladiator melawan singa. Roma saat itu tengah diperintah oleh seorang Kaisar mini tapi dengan ambisi yang terlampau besar. Dia juga tahu cara memanipulasi orang banyak demi egonya. Keterampilan yang kemudian menjerumuskan Brendan dalam egonya sendiri.

Belum selesai dengan Penyihir Angin dan kaisar yang egomaniak, Coloseum mendadak diserbu sekelompok pasukan Nazi dari abab kedua puluh. Realitas dalam cerita telah saling berbenturan dan semua tokoh dan tanggal dalam sejarah saling bercampur baur. Pasukan Nazi dengan senjata modernnya tentu dengan mudah mengusir pasukan Romawi yang tertinggal dalam hal teknologi selama hampir dua ribu tahun. Cordelia, Eleanor, Will, dan seorang gladiator muda Yunani sekarang giliran menjadi tawanan Nazi. Brendan memutuskan untuk tetap di Roma, tempat ia merasa dirinya benar-benar dohargai dan dimuliakan—setidaknya menurutnya. Ketiga anak-anak Walker kembali terpisah. Hal yang menjadikan mereka paling lemah.

Menjelang halaman 300, cerita mulai bergerak cepat meskipun 300 halaman awal tetap memiliki sisi menariknya sendiri. Cordelia dan kawan-kawan masuk ke dunia buku ketiga yang sepertinya mengambil setting di Tibet dengan para biksunya. Bedanya, dalam kisah ini para biksu itu bisa sihir dan mereka diancam oleh raksasa salju pemakan daging yang meminta korban binatang dan manusia secara rutin. Jika mereka ingin biaranya tetap tegak berdiri, korban harus diserahkan setiap beberapa hari sekali. Saat Cordelia sampai di sana, mereka dianggap pahlawan yang akhirnya akan memusnahkan para manusia salju jahat itu. Namun, apa daya yang dimiliki Cordelia dan Eleanor untuk menghadapi segerombol binatang raksasa seputih salju bergigii tajam yang gemar memakan daging? Sementara nasib Branden juga tidak lebih baik Dia mendapati betapa panggung politik ternyata tidak semenyenangkan seperti kelihatannya.

Membaca novel ini memang terasa begitu filmis, bergerak cepat dengan dialog-dialog pendek dan deskripsi lugas sederhana. Ratusan halaman pun terbaca tanpa terasa lama karena memang mengalir walau masih ada bolong logika di sana dan di sini. Anak-anak Walker ini baru berusia kuran dari 15 tahun, tetapi bahaya yang mereka hadapi luar biasa berbahaya. Mustahil rasanya ada anak-anak seusia mereka yang bisa sedewasa itu dalam usia segitu. Malah-malah, bisa jadi psikologisnya terganggu karena harus menghadapi ancaman-ancaman tak terbayangkan. Tapi, siapa tahu, seperti disadari oleh Brendan, tantangan-tantangan luar biasa itu yang justru telah menempa ketiganya menjadi anak-anak yang luar biasa. 

Kelebihan lain ada pada nilai-nilai kekeluargaan yang dibawakan. Brendan membuktikan sendiri betapaa egoism dalam persaudaraan tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kerugian. Ketiga anak Walker juga membuktikan betapa mereka bisa mengalahkan hampir apa saja dan selalu berhasil melewati semua tantangan yang ada selama mereka masih tetap bersama. Keluarga, ada akhirnya, adalah orang-orang yang akan menolong kita.  


Thursday, November 4, 2021

Belajar Mensyukuri Kehidupan di The Midnight Library

Judul: Perpustakaan Tengah Malam (The Midnight Library)

Pengarang: Matt Haig

Penerjemah: Dharmawati

Cetakan: Pertama, Agustus 2021

Tebal: 367 hlm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Kemajuan teknologi dan masifnya penggunaan media sosial di dunia modern telah berhasil mengikis jarak dan waktu, membuat setiap orang bisa saling terkoneksi kapan pun dan di mana pun di berbagai belahan dunia. Di saat yang sama, teknologi sosial ini memunculkan semacam perasaan tidak nyaman karena setiap orang dibombardir untuk bertemu, melihat, dan mungkin berinteraksi dengan begitu banyak orang—bahkan yang sama sekali tidak dikenal. Keriuhan ini memunculkan sejumlah efek, termasuk dampak negatif yang membuat manusia merasa tidak puas dengan dirinya sendiri karena dia bisa melihat pencapaian begitu banyak orang yang dia sendiri tidak bisa mencapainya. Tidak heran jika kemudian muncul jargon “media sosial bukan ukuran kesuksesan seseorang karena yang ditampilkan di sana hanya yang baik-baik saja” untuk mengkonter serangan pencapaian ini. Hanya saja, kadang serangan itu sedemikian berat sehingga tanpa sengaja kita jadi sering membanding-bandingkan serta berandai-andai jika aku di posisi  mereka yang lebih sukses, lebih kaya, lebih pintar, lebih bahagia, lebih lengkap, dan lebih-lebih lainnya. Hasilnya, muncul perasaan yang akhir-akhir ini sepertinya sedang populer-populernya: insecurity.

"Tidak usah cemas. Tisu seperti kehidupan. Akan selalu  ada lebih banyak lagi." (hlm. 49)

Inilah yang mungkin dialami oleh Nora, tokoh dalam novel keren karya Matt Haig ini. Wanita ini merasa seluruh hidupnya adalah kegagalan dan bencana. Entah karena dia salah mengambil keputusan, tidak terlalu keras dalam berusaha, atau pun memang dirinya sendiri yang tidak kompeten. Yang jelas, dalam hidupnya yang sudah berusia 30-an tahun, tidak ada hal yang baik-baik saja. Ia dipecat dari pekerjaannya di toko alat musik. Abangnya menjauhi dan sepertinya membenci dirinya karena sebuah keputusan yang menurutnya keliru di masa lalu. Nora tidak punya suami atau bahkan pacar karena dua hari menjelang pernikahannya, gadis itu tiba-tiba membatalkan semuanya. Teman akrabnya tidak lagi mengabarinya secara rutin karena Nora menolak ajakannya untuk pergi melancong dan menikmati dunia. Nora juga kehilangan pekerjaan sambilannya sebagai guru les piano dengan alasan “anaknya sudah tidak mau lagi belajar piano.” Lebih dari semua, Nora kehilangan kucing kesayangannya yang sepertinya tertabrak mobil di jalanan. Hidup Nora seakan sebuah kesalahan. Setiap keputusan dan tindakannya seolah mengarah pada bencana. Dan dia tidak tahan lagi. Setelah menuliskan pesan singkat pada abang dan temannya, Nora mencoba bunuh diri. Waktu itu hampir tengah malam.

"Jangan pernah meremehkan arti penting dari hal-hal kecil." (250)

Untungnya, Nora masih diberi kesempatan. Dalam kondisi peralihan antara hidup dan mati, dia sampai ke sebuah perpustakaan luar biasa bernama Perpustakaan Tengah Malam. Tidak berbeda dengan perpustakaan lainnya, tempat itu dipenuhi dengan rak-rak dan begitu banyak buku. Bahkan ada pustakawati yang mirip dengan pustakawati Nora ketika dia masih bersekolah, namanya Mrs. Elm. Keajaiban perpustakaan itu adalah buku-bukunya menawarkan alternatif kehidupan yang mungkin saja dialami Nora seandainya dia mengambil keputusan yang berbeda atau seandainya dia menjadi salah satu yang dulu dipilihnya. Mirip sebuah dunia pararel dengan begitu banyak kemungkinan-kemungkinan, bahkan tak terbatas. Nora diberi kesempatan untuk mencoba merasakan dan tinggal di dunia-dunia tersebut untuk menemukan kehidupan versi mana yang benar-benar diinginkan dirinya.

 "Ternyata hampir mustahil untuk berdiri di dalam perpustakaan dan tidak ingin menarik buku-buku dari rak-rak." (hlm. 90)

Mrs. Elm lalu memilihkan buku-buku kehidupan yang mungkin tepat untuknya. Dan Nora lalu masuk dan mencoba merasakan bagaimana seandainya dulu dia tidak mengecewakan kakaknya lewat keputusan bodohnya, bagaimana seandainya dia lanjut menikah, bagaimana jika dia menjadi atlet olimpiade, jadi ilmuan di artik, bagaimana jika dia lebih dekat dengan ayahnya, bagaimana jika dia pergi melancong menikmati dunia, bagaimana seandainya kucingnya berhasil ia selamatkan, bagaimana jika seandainya dia jadi bintang rock terkenal. Puluhan kehidupan alternative dicobanya. Semua coba dialaminya sebagai upaya menemukan versi kehidupan mana yang paling cocok untuknya. Sayangnya, semakin banyak kehidupan alternative yang dijalani, semakin besar keinginannya mencari versi kehidupan yang lebih baik lagi. Nora bahkan bertemu dengan salah satu slider atau orang yang sedang mencoba-coba berbagai  versi kehidupan yang belum menemukan mana yang cocok untuknya meski sudah pernah mengalami 300 lebih kehidupan alternatif.

"Kita menghabiskan sangat banyak waktu berharap kehidupan kita berbeda, membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain dan pada versi-versi lain dari diri kita sendiri, padahal sebetulnya sebagian besar kehidupan memiliki berbagai tingkatan baik dan buruk." (hlm. 230)

Pada akhirnya, Nora belajar bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Setiap versi kehidupan di dunia alternative mana pun selalu ada lebih dan kurangnya. Yah, seperti hidup yang selalu ada lebih dan kurangnya. Nora menyadari bahwa bukan hidupnya yang tidak sempurna, tetapi membanding-bandingkan serta berandai-andailah yang menjadikan kehidupan terasa tidak pernah sempurna. Kalau orang Jawa bilang, urip kui wang sinawang. Apa yang terlihat bagus di depan belum tentu bagus di belakang. Apalagi di media sosial, orang sering hanya menampilkan yang baik-baik saja tapi tidak yang jelek-jeleknya. Inilah yang lalu memunculkan rasa insecure.

"Rasanya menyenangkan—menghibur, menguatkan—untuk menjadi orang baik." (252)

Lewat Perpustakaan Tengah Malam, Nora belajar bahwa kehidupan terbaik adalah kehidupan yang sedang dijalaninya sekarang, bukan yang lain. Setiap keputusan selalu ada dampaknya, bahkan hal-hal kecil pun akan mengarah pada berbagai perubahan yang kita tidak pernah tahu persis akan berujung di mana. Tetapi, yang pertama dan utama adalah menghargai dan mencintai hidup yang tengah dianugrahkan kepadanya saat ini. Setiap kita pasti dan pernah dan akan membuat keputusan yang keliru atau bertindak salah, tetapi itulah hidup. Semuanya serba tidak bisa ditebak dan tidak pernah sempurna. Tetapi satu hal yang kita bisa: menikmatinya dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. 

Siapa yang butuh pintu kalau sudah ada buku?



Friday, October 29, 2021

Puisi-Puisi Ilmiah dalam Asteroid dari Namamu

Judul: Asteroid dari Namamu

Penyair: Galih Pramudianto

Cetakan: Pertama, 2019

Tebal: 128 hlm

Penerbit: Basabasi


"Menulis puisi bagi saya seperti sebuah perjalanan ke Mars atau ke Bulan. Penuh persoalan dan persiapan. Kita bisa saja gagal dalam pendaratan, yang bermakna puisi sulit untuk dipahami dan jatuh ke jurang kegelapan. Atau kita juga bisa terlalu telanjang—ketika pendaratan sukses, namun tidak bisa kembali pulang ke Bumi." (Galih Pramudianto)


Buku kumpulan puisi berjudul romantis ini ternyata tidak romantis amat. Sebaliknya, ia begitu penuh dengan ilmu pengetahuan yang dipuisikan. Gugusan planet diubah berima. Fakta sejarah disusun bersajak. Orang-orang besar dijajar megah. Dan semakin ke belakakg, pembaca kian terpukau dengan kedalaman pengetahuan serta keragaman data yang berhasil disusupkan sang penyair dalam puisinya. Kritik sosial juga sesekali turut dihadirkan lewat kalimat kalimat yang entah sepertinya bermaksud menyelinap dalam pekatnya Rima dan sanjak.


"dan ia telah memilih

bahwa kekuasaan kadang

menjauhkan penyakit dari pulih" (74)

 

Kreativitas tidak mengenal batas, begitu juga dalam proses kreatif menyusun puisi. Tidak melulu harus menggunakan kata-kata sastrawi nan tinggi, atau diksi-diksi yang aduhai. Selama masih berupa kata-kata, mereka bisa menjadi bahan untuk dijadikan puisi. Persoalan terbesar bukan pada kata-kata apa yang harus digunakan dalam menyusun puisi, tetapi bagaimana merangkai kata-kata yang ada menjadi bentuk yang lebih tinggi lewat puisi. Dalam hal ini, pengetahuan dan latar belakang seorang penyair akan sangat menentukan. Bisa kita simak betapa penyair yang cenderung "sci-fi" membawa dunianya itu dalam puisi.

Inginku menemukan mesin waktu

menuju hening gemintang

atau kekacauan spektrum

di festival kecerdasan buatan

penuh planet pendakian

dalam selongsong pencarian.


(Setelah Dentuman Besar)

Perhatikan bagaimana sebuah peristiwa ilmiah sedahsyat dentuman besar atau Big Bang dapat digubah menjadi puisi yang khas milik penulis, seperti contoh di atas. Setiap penyair, dan penulis, memang berupaya mengolah yang ada dalam diri, di sekitarnya, dan yang dikuasainya untuk menghasilkan sebuah karya kreatif yang khas miliknya.

Tetapi satu karya tidak bisa berdiri dengan sendirinya. Demikian juga satu penyair atau penulis tidak bisa muncul sendirian begitu saja. Satu penulis memunculkan penulis yang lain lewat karya-karya yang dibacanya. Efek pengaruh penyair lain juga terasa dalam buku ini. Misalnya saja humor Jokpin dan gaya 'ruang' Afrizal Malna dalam puisi Terpelanting dan Toko Serba Ada

 

2/

Tuhan menciptakan

sariawan dan sakit gigi

untuk menginstirahatkan mulut dari

jemaat fitnah dan nyinyir viral

tak berkesudahan.

 

Di puisi selanjutnya, yang lebih mirip katalog untuk mendirikan sebuah toko kelontong serba ada dan barang barang apa saja yg dijual di dalamnya, kita tetap menemukan pukau itu ada dalam baris terakhirnya.

 

ada. apalagi kak kak? apa? puisi? maaf sekali, untuk yang itu ternyata kami tidak menjual. (83)

 

Sebuah gong lucu sekaligus sendu setelah menyimak satu deret puisi berbentuk paragraf yang isinya daftar barang semata. Dari pantai Klayar hingga manuskrip Voynich, galaksi Bimasakti hingga manusia Purba dari Jawa, semua beralih rupa puitis. Di buku ini pula kita kembali menemukan peran judul sebagai penuntun dalam menikmati isi puisi.


Saturday, October 23, 2021

Riwayat Para Komikus Indonesia dalam Kalam yang Menggapai Bumi

 Judul: Kalam yang Menggapai Bumi

Penyusun: Koko Hendri Lubis

Tebal: 140 hlm

Cetakan: 2019 (dibaca di Ipusnas)

Penerbit : Basabasi


"Kemampuan melukis komik bersumber dari bacaan yang luas untuk mendapatkan prinsip-prinsip tertentu. Setelah adanya prinsip, terbentuklah watak sebagai dasar seorang seniman. Di dalam komik, seoranag komikus bicara langsung kepada masyarakat tentang pengalamannya dan pelajaran apa yang telah didapatkannya dari kehidupan." (hlm. 43)


Buku ini mengajak dan mengingatkan pembaca pada era kejayaan komik di Indonesia pada kurun waktu 1950-an akhir hingga awal 1970-an. Tidak hanya penulis komik yang begitu banyak, tetapi juga pembacanya yang giat (dikatakan saat itu komik apa pun yang diterbitkan, pasti laku keras). Dalam sebuah artikel tentang seorang penulis komik di Medan, semasa itu dia sempat menjumpai orang-orang duduk diam di pinggir jalan karena sibuk membaca komik di rentalan, tua dan muda. Luar biasa sekali jika ada pemandangan seperti ini di era sekarang (yang mungkin pada sibuk berjubel main game online di gawainya).

Fakta unik lain adalah di Indonesia ternyata sempat terbit majalah khusus komik bernama Eres. Majalah ini pada masanya memiliki oplah 10,000 dan selalu ludes terjual. Selain itu, ada banyak majalah dan suarat kabar lain yang memberikan porsi untuk penerbitan komik lewat rubrik cergam. Dikisahkan saat itu banyak orang yang membeli koran karena ingin membaca sisipan komik di dalamnya, bukan untuk membaca beritanya. Rasanya sudah lama tidak menyaksikan dan merasakan degdegannya orang-orang menantikan majalah baru atau koran baru yang terbit, hanya untuk menikmati cergam bersambung di dalamnya.

Kisah-kisah para komikus juga sedikit banyak dibahas di buku ini. Bagaimana mereka belajar komik dari seniornya, perjuangan bertahan hidup hanya dengan menulis komik, bagaimana cara mereka menciptakan komik yang hidup sekaligus berisi, juga tentang dorongan yang membuat mereka teguh berkomik. Salah seorang komikus bahkan memiliki alur yang mirip banget dengan kisah di komik Bakuman. Seandainya ini digarap dan dibukukan (atau dikomikkan) pasti keren banget. Semacam Bakuman dengan setting tahun 1960an.

"Komikus berimajinasi sehingga lahir karya seni yang punya pesan, gagasan, dan nilai estetik. Fokus utama komikus dalam berkarya adalah menonjolkan filosofi kehidupan. Dampaknya pada penajaman batin manusia." (hlm. 54)

Kota Medan, tanpa disangka-sangka, ternyata memiliki sejarah perkomikan yang kental. Begitu banyak komikus yang lahir, besar, dan sukses di sana. Bisnis penerbitan komik bahkan sempat jaya dan menghasilkan cuan yang tidak sedikit. Sayangnya, kondisi politik yang panas tahun 1965-66 membuat iklim perkomikan di tanah air runyam. Ini masih ditambah dengan masa-masa konfrontasi dengan negeri tetangga Malaysia, membuat hubungan kedua negara renggang. padahal, saat itu penerbit membeli kertas dari negeri jiran. Tanpa adanya pasokan kertas, bisnis pun terhenti dan akhirnya komikus juga ikut terkena dampaknya.

Mungkin zaman sudah berubah, dan menuntut perubahan. Membaca komik sekarang tidak harus lewat media cetak karena stok komik sudah tersedia melimpah ruah di dunia maya (baik yang legal maupun ilegal). Sayangnya, pasaran kita masih dikuasai oleh komik dari Jepang dan Eropa, walau mulai banyak komikus muda yang bermunculan di banyak platform on line. Tetapi, mengingat kembali betapa komik karya penulis lokal sempat berjaya di negeri sendiri tetap menghadirkan suatu nostalgia yang tenang dan menyenangkan. Semoga komik kita kembali berjaya, apa pun medianya.