Search This Blog

Sunday, August 12, 2018

Review and Giveaway "Perempuan Batih"

Judul: Perempuan Batih
Pengarang: A.R. Rizal
Penyunting: Misni Parjiyati
Sampul: Suku Tangan
Cetakan: Pertama, Juli 2018
Halaman: 260 hlm
Penerbit: Laksana


Membaca novel dengan setting lokal selalu memberikan warna segar serta pengetahuan baru.  Beberapa tahun belakangan, menulis novel dengan warna lokal memang tengah menjadi tren. Banyak penulis baru bermunculan dengan membawa warna serta rasa lokal dari daerahnya masing-masing. Ada yang warna lokal itu hanya semata tempelan, tetapi tidak sedikit penulis yang berhasil menyuguhkan nuansa lokal walau masih terasa unsur travelingnya. Kebanyakan menggunakan unsure lokalitas dari sudut pandang penulis sebagai orang dalam. Saya merindukan membaca novel-novel bernuansa lokalitas yang ditulis benar-benar oleh orang dalam. Selalu ada perbedaan saat membaca sebuah novel yang ditulis oleh orang yang benar-benar berasal dari daerah tersebut dan novel yang ditulis oleh seseorang yang sekadar mengunjunginya. Bukan berarti yang pertama lebih baik daripada yang berikutnya, hanya saja ini lebih soal rasa lokal yang lebih kental.

Perempuan Batih adalah satu dari sedikit novel dengan rasa yang pertama. Sebuah novel yang ditulis (atau setidaknya terasa benar-benar ditulis) oleh orang dalam. Mengambil setting kebudayaan Minangkabau di Sumatra Barat, novel ini mengangkat tema perempuan dan perjuangannya.  Novel ini menarik terutama karena kita tahu suku Minangkabau menganut sistem kekerabatan Matrilineal, yakni keturunan berdasakan garis ibu. Dalam budaya Minang, perempuan memiliki posisi yang cenderung lebih tinggi dalam hal kekerabatan. Tentu, kemudian kita tergoda untuk mengambil kesimpulan bahwa perempuan Minang memiliki kesempatan yang lebih baik dalam melawan dominasi pria ketimbang perempuan-perempuan dari suku lain. Benarkah demikian?  Ternyata tidak. Lewat Perempuan Batih, A.R. Rizal menunjukkan kepada pembaca bahwa pria di mana pun serupa, mereka selalu berupaya menunjukkan dominasinya atas kaum perempuan.

"Laki-laki dipegang bukan karena kata-katanya, melainkan dari apa yang diperbuat." (hlm. 34)

Gadis adalah seorang perempuan kampung yang memegang teguh adat istiadat suku Minangkabau. Sebagai perempuan, dia menempati rumah batu yang menjadi semacam rumah inti milik keluarga inti. Saya masih mencari tahu makna “rumah batu” di novel ini. Saat googling dan mengetik “rumah batu Minang” yang muncul adalah rumah gadang yang elok itu. Saya kurang tahu apa rumah yang ditempati Gadis ini memang rumah gadang atau bukan. Yang jelas, digambarkan dalam novel ini bahwa rumah itu bagian bawahnya memang dibuat dari batu. Nah, sebagai penghuni rumah batu, Gadis mengemban tanggung jawab besar untuk menjaga kehormatan sekaligus garis keturunan keluarga besardi rumah batu ini. Tanggung jawab yang diembannya dengan penuh takzim. Gadis bahkan rela mengorbankan kebebasan masa mudanya demi menunaikan amanat ini. Dijodohkan pun dia mau, walaupun dengan pria yang benar-benar mengecewakan. Dia juga membuang jauh keinginannya untuk tinggal di kota demi bisa memenuhi tugasnya.

"Ia menjadi karena dirinya sendiri." (hlm. 82)

Sayangnya, kebesaran hati Gadis tidak diimbangi dengan kebesaran jiwa kaum lelaki. Ya ampun, hampir semua karakter pria di Perempuan Batih kok ya menyebalkan semua. Mulai dari suaminya, si Darso, hingga anak-anak serta mamak­-nya—semua pria di novel ini kok kayak menjadi semacam ujian buat Gadis. Untungnya, Gadis ini perempuan yang kuat. Walau tidak sekolah tinggi, dia memiliki  semangat seorang feminis.  Dia tidak mau tunduk begitu saja pada ego pria. Perempuan itu bisa menunjukkan betapa wanita juga bisa mandiri meskipun ditinggalkan kaum lelaki. Dia tetap tegar walau suaminya meninggalkannya tanpa alasan.  Wanita itu juga tetap sabar bahkan ketika anak-anak gadisnya dibawa kaum pria sebagai istri mereka—yang sekaligus memupus keinginan Gadis agar ada anak perempuannya yang mewarisi rumah batu. Gadis menunjukkan kepada warga desa bahwa walau menjanda dia mampu menghidupi dirinya dan keempat anaknya. Walau demikian, tidak kemudian Gadis melupakan kodratnya maupun kedudukannya sebagai perempuan. Gadis ini semacam heroin yang tetap mempertahankan kearifan lokal.

"Gadis belajar dari kehidupan. Alam yang membentang, itu mata pelajaran yang tak pernah habis untuk diselami." (hlm. 168)

Jika pembaca mengharapkan kisah seorang perempuan yang mencibir adat istiadatnya sendiri, maka Gadis Batih bukan tentang itu. Malahan, Gadis inia dalah perempuan yang taat banget sama adat kampungnya. Yang bangsat di kisah ini adalah kaum lelakinya. Gadis justru mampu menunjukkan diri sebagai wanita yang berdikari sekaligus tetap mempertahankan martabat diri. Sosok langka yang tetap lekat pada tradisi meski zaman berubah cepat. Karakternya yang tegas tapi cerdas sedikit mengingatkan saya pada Nyai Ontosoroh, hanya saja ini versi kampungnya. Karakteritasi Gadis ini kuat sekali, bahkan ia berkali-kali mampu menundukkan ego para pria lewat sentilan-sentilannya yang menohok. Dan ketegasan ini konsisten dari awal sampai akhir, membuat pembaca cowok sekalipun memilih bersimpati kepadanya.

"Pada diri anak laki-laki, selalu ada hak ibunya." (hlm. 88)

Secara konflik, Perempuan Batih cenderung datar. Selain menyindir egosentris kaum pria, novel ini menggambarkan dengan baik keinginan orang tua untuk bisa tetap bersama dengan anak-anaknya. Terlepas apakah anak-anaknya sudah dewasa dan menjadi orang tua, seorang ibu tetap memiliki hak atas mereka. Ini yang sering kita lupakan. Selebihnya, buku ini menurut saya  mirip simplified version dari Sang Priyayi-nya Umar Kayam namun dalam versi Minang.  Ceritanya hanya berporos pada riwayat kehidupan Gadis, anak-anaknya, hingga cucu-cucunya. Namun, tidak kemudian novel ini menjadi membosankan. Cara penulis bertutur terasa banget logat Minangnya—mengingatkan kita dengan karya-karya sastra lama zaman Balai Pustaka.  Walau sederhana, tuturan dan obrolan yang Sumatra banget bakal membuat membaca betah mengikuti kisah Gadis. Ini masih ditambah setting serta aroma lokalnya yang kental, diksi yang Minang banget, serta karakter-karakter yang digambarkan begitu utuh.  Sebuah novel yang sayang untuk dilewatkan. Jika pembaca ingin mencari novel yang biografis dengan aroma lokalitas yang kental, saya menyarankan novel ini.

GIVEAWAY


*

Terima kasih sudah membaca ulasan Perempuan Batih di atas. Jika teman-teman tertarik membacanya gratis, Penerbit DIVA Press menyediakan total 4 novel Perempuan Batih dalam blogtour yang berlangsung sepanjang Agustus hingga awal September 2018 ini. Satu novel Perempuan Batih akan dibagikan di blog Baca Biar Beken ini untuk satu calon pembaca yang beruntung. Berikut ini cara ikutannya:

1. Wajib follow twitter @divapress01 dan @laksana_fiction. Jika tidak ada Twitter, silakan like fanpage Panerbit DIVA Press atau IG @penerbitdivapress.  Pilih salah satu saja atau mau semuanya juga oke.

2. Share/bagikan postingan kuis ini di media sosial kamu. Jangan lupa sertakan tagar #PerempuanBatih  dan colek @divapress01 dan @Laksana_Fiction. Kalau di FB dan IG, colek saja Penerbit DIVA Press. Pilih salah satu media sosial yang kamu punya saja.

3. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:
Siapa sosok di dunia nyata yang menurutmu mampu mewakili sosok Gadis? Jawaban bebas, tidak perlu menyebutkan alasannya. Jawaban yang menurut saya paling cocok, akan saya menangkan.

4. Format jawaban:
Nama:
Twitter atau Email atau FB kamu:
Tautan membagikan:
Jawaban:

5. Dimohon untuk hanya menjawab satu kali saja. Kuis ini hanya berlaku untuk peserta yang tinggal di Indonesia atau memiliki alamat kirim di wilayah Republik Indonesia.

6. Kuis berlangsung antara 12 – 18 Agustus 2018. Jika belum beruntung, masih bisa ikutan di blog berikutnya (Wardah)
















Thursday, August 9, 2018

Review dan Pengumuman Pemenang Giveaway: Things about Him


Judul Buku : Things About Him
Penulis : Nara Lahmusi
Penyunting: Aditiyo Haryadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 248 Halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2018
Sampul : Orkha Creative



Pertama, saya suka sampul novel ini. Segar dan  tampak muda sekali, apalagi dibalut warna hijau kesukaan saya. Judulnya juga unik, bikin penasaran, dan nggak kayak judul teenlit kebanyakan. Ditambah lagi, ada nama saya sebagai salah satu karakternya *pede kuadrat*. Begitu saya ditawari untuk mengulas sekaligus menjadi host untuk blogtour novel Things about Him, saya pun langsung menyanggupi *buang dahulu naskah lemburan, abaikan Pak RT #eh. Ini novel kedua Mas Sayfullan yang saya baca setelah Rival Brother dan saya masih menemukan keunggulan yang sama: tulisan yang mengalir dan enak diikuti. Saya menghabiskan novel ini dalam sekali duduk, dari jam satu sampai setengah empat dini hari. Bagi saya, novel yang bagus adalah novel yang pembaca nikmat membacanya--apa pun genrenya. Things about Him adalah salah satunya.

"Tugas manusia itu hanya berjalan ke depan, bukan ke belakang." (hlm. 239)

Secara tema dan karakterisasi, novel ini tidak jauh berbeda ketimbang novel-novel teenlit yang lagi hits di pasaran. Tema jatuh cinta, persahabatan, dan kekeluargaan dirajut dalam kisah yang khas remaja banget. Adalah Cinta dan Dion, dua remaja yang bertetangga sejak kecil. Saat SMP keduanya sudah hampir tak terpisahkan. Keduanya seolah ditakdirkan bersama hingga di masa depan. Dion juga yang mendampingi Cinta dalam masa-masa terkelamnya saat kedua orangnya memutuskan bercerai. Cinta yang penuh semangat diam-diam mengagumi Dion yang kalem dan tenang. Sampai suatu ketika, Dion menghilang tanpa kabar. Cinta sudah berupaya mencari informasi tentang cowok itu tetapi hasilnya nihil. Satu tahun pertamanya di SMA diwarnai dengan upaya mencari informasi tentang Dion. Tapi, Dion seolah raib entah ke mana.

"Kalau kamu lagi marah dan benci dengan seseorang, coba ingat-ingat lagi kebaikan dan pengorbanannya selama ini buat kamu." (hlm. 238)

Satu tahun pertama SMA cinta juga dihadiri oleh sosok lain bernama Jason. Berbeda dengan Dion, Jason ini orangnya pemaksa banget. Dia juga soktau, arogan, mau menang sendiri, dan entah kenapa selalu mengganggu Cinta. Tetapi, Jason memiliki hobi fotografi, hobi yang sama dengan Dion. Sejak pertama melihat cowok itu, Cinta juga langsung teringat sama sahabat lamanya yang menghilang itu. masalah makin pelik karena Jason mendadak menunjukkan gejala ingin mendekati Cinta. Pantang menyerah cowok itu terus memepet Cinta, mulai dari mengantar-jemput ke sekolah, selalu siap dengan tisu di saku (tentu untuk mengusap air mata  (Cinta), sampai berusaha merebut hati ayahnya Cinta. Cewek itu pun waswas sekaligus galau: benarkah Jason adalah sang pengganti Dion? Apakah cowok itu benar tulus kepadanya?

"Jangan menilai orang dari luarnya." (hlm. 151)

Masalahnya nggak sampai di sini. Ramon, anak culun yang menjadi teman sebangku Cinta terus memberi tahunya bahwa Jason berbahaya. Dia meminta gadis itu untuk menjauhinya. Saat ditanya alasannya, Ramon berkata bahwa Jason memiliki hubungan dengan masa lalu Cinta. Maka Cinta pun terombang-ambing antara menerima Jason, mengkhianati Dion, atau mempertimbangkan saran dari Ramon. Dalam kebingungan inilah penulis kemudian dengan santainya mengajak pembaca flashback ke masa lalu Cinta saat masih bersama Dion. Teknik pengalihan yang cerdik sekaligus segar karena dari masa lalu itu jugalah Cinta akhirnya menemukan jawaban atas masalah-masalahnya. Novel ini ditutup dengan happy ending khas bacaan remaja yang memuaskan sekaligus bikin terharu. Jadi, Dion sebenarnya menghilang kemana? Mana yang akan dipilih Cinta, Dion atau Jason? Siapa sebenarnya Ramon?

"Cinta yang sebenarnya itu akan membuat kita bahagia jika melihat orang yang kita cinta juga bahagia." (hlm. 233)


Satu kalimat untuk novel ini: teenlit yang rapi. Gimana ya ngejelasinnya, kayaknya penulisnya sudah bikin semacam skema gitu saat menulis novel ini. Si A anunya di B, yang adalah anunya si C kemudian nanti si A dan C saling menganu. Ini yang bikin Things about Him terasa enak sekali dibaca, bahkan ketika ada banyak adegan flashback yang bersliweran. Kemudian, dengan twist yang muncul sebagai penutup untuk melengkapi proses pembacaan novel ini. Gaya menulis yang mengalir ditambah kerapian susun adegan adalah dua hal yang menjadi poin plus untuk novel ini, selain sampulnya tentu saja. Penulis juga banyak mencantumkan ilmu biologi dalam novel ini, apalagi ada bagian tentang teknik pembuatan nata de coco. Malam-malam saya langsung membuka kulkas demi mencari nata de coco sambil baca novel ini. Seger sih kayak sampul buku ini.

"Karena berubah menjadi lebih baik itu wajib." (hlm .162)

Karakterisasi mungkin yang agak klise. Saya masih menemukan aroma Edward Cullen dan Bella dalam interaksi antara Jason dan Cinta. Jason ini tipe cowok yang sempurna banget: atletis, berkulit putih, dan tumpangannya motor sport merah. Tipikal kakak kelas idola banget gitu. Klise memang,  tapi justru tokoh-tokoh seperti ini yang mungkin dicari para pembaca remaja--yang mengingatkan saya kembali bahwa ini memang novel remaja. Jujur, saya agak terganggu dengan penggunakan istilah "sayko" (merujuk pada psiko-nya ppsikopat) yang banyak muncul di novel ini. Tapi, kata penulisnya, itu dari editornya jadi ya bagaimana lagi. Mungkin untuk menghindari serapan Inggris yang nanggung. Eh, tapi ada kata 'halu' juga ding. 

Untuk typo ada beberapa dan wajar-wajar saja, kecuali di halaman 114 ada kata "mengendus" yang mungkin maksudnya "mendengus". Beberapa bagian percakapan antara Dion dan Cinta juga  menurut saya agak terlalu berat untuk bisa diucapkan seorang remaja SMP. Tapi, siapa tahu juga kalau anak SMP sekarang memang sudah berat gitu pemikirannya. Untungnya, penulis menuliskan dialog serta interaksi antar karakternya dengan begitu mulus, khas kayak anak-anak abg--yang bikin buku ini semakin terasa teenlitnya. Apalagi ya ... hmmm ... pokoknya mending baca sendiri novelnya kalau ingin lebih terpuaskan. Intinya, jika kamu ingin membaca teenlit yang ringan sekaligus menghangatkan hati, Things about Him adalah pilihan yang bagus. 

GIVEAWAY




Terima kasih, teman-teman. Luar biasa memang antusiasme calon pembaca novel Things about Him ini. Peserta yang ikut mencapai 33 orang (walau ada satu yang nyasar dari Jepitu *digebuk Tiwi). Sungguh jumlah yang cukup banyak. Kalau tidak salah, jumlah peserta GA yang lebih banyak dari postingan ini adalah saat saya memposting Blogtour and Giveaway novel Milea dari Pidi Baiq. Semua berkat sampul bukunya pasti ... eh nggak ding, berkat penulisnya dong. Sesuatu yang ditulis dengan sepenuh hati pasti mendapatkan banyak hati. Tanpa berpanjang lebar lagi, saya umumkan saya pemenangnya. Yah, walau beliaunya lebih milih Jason ketimbang Dion, tapi mau bagaimana lagi. Semesta telah berbisik untuk memilih pemenangnya sebagai berikut:


Nama: A.A. Muizz
Twitter/Email: @aa_muizz/dereizen@gmail.com
Kota: Semarang
Link share: https://twitter.com/aa_muizz/status/1027434956404883456?s=19
Jawaban: Jason


Selamat kepada pemenang. Silakan langsung setor alamat kirimnya ke mas Sayfullan ya lewat twitter @naralahmusi. Atau DM saya juga boleh ding, nanti tak kirimin alamatnya ke mas Say. Terima kasih sudah berkunjung di Baca Biar Beken. Jangan lupa ikuti terus rangkaian blogtour dan instatour novel Things about Him di media sosial.


Wednesday, August 1, 2018

Review and Pengumuman Pemenang Giveaway "Nikah Muda"

Setiap kita pasti memiliki impian di masa remaja. Bagi seorang Kirana, salah satu impiannya adalah untuk bisa bersanding dengan sang kekasih masa kecilnya hingga tua kelak. Sejak SD, Kirana memang telah mengagumi sosok Keanu (atau Keno). Ditambah lagi, keduanya sudah akrab sejak kecil. Benih-benih cinta telah mulai bersemi bahkan sebelum masanya virus merah jambu itu berkembang. Kirana yakin benar bahwa Keno adalah jodohnya dan karena itu dia terus berharap bahwa Keno yang urakan itu juga beranggapan kalau dirinya lebih dari sekadar sahabat. Gayung bersambut, Keno ternyata juga menaruh hati kepada seorang Kirana. Dari yang semula teman kecil, lalu berlanjut pada “kakak-adik-an”, dan kemudian diresmikan menjadi TETAP (teman tapi pacaran). Bagi Kirana, hidupnya sudah sempurna.

"You know what, tiap orang menyikapi masalah dengan cara yang berbeda-beda, entah itu menjadi lemah atau malah menjadi semakin kuat." (hlm. 99)

Sayangnya, tidak semua yang diinginkan serta diimpikan setiap manusia akan selalu indah sempurna. Sering sekali, badai permasalahan menerjang tanpa diduga. Di usianya yang masih 16 tahun, kehidupan memperlakukan remaja putri itu dengan cukup keras. Setelah kehilangan ibunda tercinta di usia kecil, gadis itu kini terancam kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki, sang Ayah. Sejak menjadi piatu, sosok ayahnya adalah sekaligus ibu bagi Kirana. Beliau menjadi satu-satunya keluarga tempat Kirana bersandar, menjadi panutan sekaligus tempat curhatan, juga sosok penopang kehidupan dan juga pelarian saat masalah mendera. Kini, sosok yang selalu sibuk dan semangat bekerja itu tiba-tiba terbaring lemah di rumah sakit, terserang kanker ganas. Peluang sembuhnya amatlah tipis, tetapi dia masih memiliki hal lain yang lebih dicemaskannya ketimbang penyakitnya: putri satu-satunya.

"Selalu ada yang bisa diusahakan selain mengeluh karena hidup tak pernah berhenti berjalan." (hlm. 35)

Sebagai keluarga satu-satunya, wajar jika ayahnya khawatir dengan Kirana. Gadis muda itu akan sendirian dalam menjalani kehidupan Jakarta yang keras. Ia khawatir, Kirana akan terjerumus dalam masa depan yang tidak jelas tanpa adanya anggota keluarga yang bersedia mendampinginya. Insting seorang ayah menuntunnya untuk mengambil sebuah keputusan yang berat tetapi memang harus dilakukan: menikahkah Kirana sebelum dia meninggal. Memang, salah satu momen yang paling membahagiakan bagi seorang ayah selain melihat anaknya diwisuda adalah menjadi wali di pernikahan anaknya. Dalam budaya Jawa, orang tua bahkan baru merasa “tugasnya selesai” ketika anak gadisnya resmi dipinang orang. Lewat pernikahan, si anak gadis akan berpindah dari naungan orang tua ke sarang cinta barunya bersama suami tersayang.

"Orang malas banyak alasan, orang pintar banyak cara." (hlm. 97)

Melewati perenungan mendalam, sang ayah rupanya telah memiliki calon jodoh yang cocok untuk Kirana. Dia memiliki seorang bawahan yang menurutnya sangat tekun, tepercaya, dan dia yakini mampu menjaga Kirana, namanya Aji Laksono. Pria itu berusia 26 tahun, berselisih sepuluh tahun dengan Kirana. Walaupun hukum di Indonesia sudah melegalkan perempuan berusia 16 tahun untuk menikah, perjodohan di zaman now tidak semudah itu dilakukan. Orang tua kini tidak bisa memaksakan anak gadisnya untuk menikah dengan pria pilihan mereka—sebaik apa pun petimbangannya. Dan masalah juga semakin pelik karena Kirana sendiri telah memiliki Keno yang sudah sempurna di matanya, yang juga mencintai Kirana dengan sepenuh hati. Keputusan terakhir ada di tangan Kirana. Antara mempertahankan Keno yang dicintainya sejak belia, ataukah menikah dengan Aji untuk memenuhi keinginan terakhir sang ayahanda.

Tema perjodohan sempat menjadi tabu dalam budaya modern. Para penulis angkatan lama bahkan mengkritik konsep ini dalam sejumlah karya sastra seperti Siti Nurbaya dan Karmila. Tetapi, sejatinya tidak ada yang keliru dengan perjodohan. Jika dilakukan dengan pertimbangan matang dan bukan karena emosi atau rasa tak enak semata, perjodohan bisa menjadi jalan jodoh yang oke-oke saja. Ketika cinta bertemu dengan realita,  seperti Kirana, pembaca juga bisa ikut merasakan betapa beratnya pilihan yang harus diambil gadis itu. Dua-duanya sama-sama tulus mencintai dan unggul dengan kelebihan masing-masing. Walau ending-nya mungkin sudah bisa diraba-raba, pergulatan batin Kirana dalam memutuskan siapa sang pemilik hati benar-benar membuat penasaran.

"Cinta hanya ingin melihat orang yang dicintainya bahagia, bersama atau tanpanya." (hlm. 217)

Saya tidak menyangka bisa membaca novel tipe romansa semacam Nikah Muda ini dengan cepat. Biasanya, saya suka macet di tengah ketika adegan love-lovenya sudah terlampau berlebihan. Tetapi, novel ini ditulis dengan sedemikian mengalir, dan tema yang diangkat pun realistis banget. Ada rasa nyaman saat membaca baris-barisnya, bukti bahwa si penulis menulis naskah ini dengan sepenuh hati dan bukan untuk memaksakan apa yang dia kehendaki. Tidak heran jika novel ini menjadi finalis Gramedia Writing Projetc 3 tahun 2017. Satu kekurangan menurut saya adalah deskripsi fisik tokoh-tokohnya yang minim banget. Saya hanya bisa menangkap sosok Kirana yang mungil dan berambut pendek, Aji keriting awut-awutan, dan Aji pria lajang berjambang. Padahal, deskripsi fisik lumayan menjadi poin utama dalam karya romansa untuk membantu pembaca membayangkan cerita. Tapi, selain itu novel ini enak banget dibacanya. Selamat kepada Mbak Thessa atas karya perdananya.


Judul: Nikah Muda
Pengarang: Thessalivia
Editor: Dimas Abi dan Anastasha Eka
Sampul: Rizky Dewi dan Tim Stilleto Indie Book
Cetakan: 1, Juni 2018
Tebal: 255 hlm
Penerbit: Stiletto Indie Books
Blurb: Nikah Muda
Pembelian: Pemesanan buku bisa langsung ke IG @stilleto_book di nomor WA 0881 2731 411


PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY



Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang telah meramaikan blogtour #NovelNikahMuda di blog Baca Biar Beken. Sesuai janji, tersedia satu novel "Nikah Muda" GRATIS yang akan dikirimkan langsung oleh penulisnya untuk satu calon pembaca beruntung. 



"Apa yang pertama kali terbayang dalam benak kamu saat mendengar ungkapan "NIKAH MUDA'? Jawaban maksimal 5 kata ya, bukan 5 kalimat. 

Jawabannya asyik-asyik semua, ada yang bikin ngakak asli. Sebenarnya, saya paling suka pada jawaban pertamanya @Haitiwi. Sayang sekali, Tiwi ini lupa nge-share. Katanya, dia nggak mau share apa-apa kecuali kalau ada Jimin atau BTS di dalamnya. Ini kamu niat ikut kuisnya sih hih. 

Karena tidak memenuhi syarat minimal, saya akhirnya meminang pemenang lain. Dari seluruh jawaban masuk plus memenuhi syarat nge-share. Selamat kepada:

Didi Syaputra
Twitter/IG/Email: @DiddySyaputra/@bookishman95 syaputradiddy@gmail.com
"Sebelum dibabat, Perhatikan bibit bobot!"


Saya suka sama captionnya. Singkat, padat, dan bermanfaat. Selamat ya Mas Didi, nanti akan saya hubungi lewat twitter. Buat Tiwi, nanti kamu tak pinjemin wes novelnya.

Kepada pemenang, dimohon untuk memposting foto buku hadiah di media sosialnya. Posting foto saja dengan sedikit caption ala-ala, bukan ulasan. Tapi kalau mau mengulas ya monggo banget. Jangan lupa tagarnya #NovelNikahMuda

Jangan lupa tetap ikutan kuisnya sepanjang bulan Agustus 2018 ini.Terima kasih sudah turut meramaikan.







Saturday, July 28, 2018

The Night Eternal; Penutup yang Tanggung

Judul: The Night Eternal (The Strain Trilogy #3)
Pengarang: Guillermo del Toro dan Chuck Hogan
Penerjemah: 
Tebal: 504 pages
Cetakan: Pertama, Oktober 2014 
Penerbit: Elex Media Komputindo




Memang kalau dibandingkan buku pertamanya, seri ketiga ini jatuh banget. Ibaratnya sebuah cerita horor yang seru tapi endingnya adalah aksi tembak2kan dan ledakan bom. Saya juga masih blm puas sama aspek supranatural dan ilmiah yg bekerja pada vampir tapi zombie di buku ini, yang di buku 3 malah ikut ketambahan elemen religi. Asal dari cacing2 darah memang dijawab, tp kurang ilmiah kalo dibanding penyebarannya yang luar biasa anatomia di buku 1. Untungnya, setengah ke belakang buku ini kaya akan adegan aksi, yang bahkan masih panas sampai 5 halaman terakhir. Cukup memuaskan hasrat pembaca akan sebuah bacaan yg menjanjikan adegan2 visual ala film.

Tema falling angel tampaknya jadi salah satu favorit para penulis Amerika. Setelah sebelumnya sempat mendominasi genre romance dan turunan-turunannya, si malaikat yang terbuang akhirnya juga mengoda penulis thiller. Tidak ada yang salah dengan tema ini. Hanya saja, tema ini jatuhnya geje ketika diterapkan dalam seri The Strain yang sudah dibuka dengan bagus sekali di buku pertamanya (sebelum kemudian emakin ke belakang kok malah semakin merosot ratingnya). To the point aja, maafkan kalau agak spoiler, saya termasuk barisan pembaca yang tidak puas dengan penjelasan mengenai asal usul vampire yang digambarkan di buku ini. Memang, ada mitos yang menyebut vampir sebagai Yudas Iskariot yang dikutuk untuk hidup abadi sampai hari perhitungan kelak. Tetapi, mengaitkan asal-usul vampir sebagai malaikat yang terbuang, saya kok agak gimana gitu.

Monday, July 16, 2018

The Strain, Vampir Versi Baru

Judul: The Strain (The Strain Trilogy #1)
Pengarang: Guillermo del Toro dan Chuck Hogan
Penerjemah: 
Tebal: 532 pages
Cetakan: Pertama, July 9th 2014 
Penerbit: Elex Media Komputindo

22654576


Konsep kita tentang vampir terutama dibangun oleh novel Dracula karangan Bram Stoker. Vampir digambarkan sebagai sosok berjubah hitam menyerupai kelelawar, memiliki gigi taring untuk menghisap darah dari korbannya, takut matahari sehingga hanya muncul pada malam hari, memiliki telepati yang mampu menghipnotis korban, dan biasanya bermukim di kastil-kastil terpencil. Penggambaran vampir sebagai mahkluk jahat yang seram ini kemudian dirombak total saat Stephanie Meyer menulis seri Twillight yang menghebohkan di awal tahun 2000-an. Vampir ala Meyer adalah sosok-sosok luar biasa cantik/tampan tapi pakai bedak (eh pucat, maaf), memiliki kekuatan super, abadi, dan muda selamanya. Jenis vampir dambaan pokoknya. Kodrat vampir sebagai mahluk kegelapan sedikit meredup.
Kemudian, Del Toro dan Chuck Hogan muncul dengan trilogi The Strain yang mengembalikan posisi kaum vampir sebagai mahkluk jahat. Bedanya dengan Stoker, kedua penulis modern ini turut memadukan antara unsur takhayul dan fiksi ilmiah dalam The Strain—mungkin sedikit aroma alien. Vampir tidak lagi digambarkan sebagai sosok tampan/cantik pucat, melainkan mahkluk ganas menyerupai zombie. Seseorang berubah menjadi vampir ketika ada sejenis strain virus misterius dalam tubuh sejenis cacing darah masuk ke dalam tubuhnya. Cacing-cacing darah ini masuk ketika korban digigit, atau dalam hal ini ditusuk oleh sejenis alat penyengat yang tersembunyi di bawah mulut. Jadi, di novel ini, vampir tidak mengigit, melainkan menyengat.

Thursday, July 5, 2018

Takhta Bayangan, Pembuktian Diri Raja Sejati

Judul: Takhta Bayangan
Pengarang: Jennifer A Nielsen
Penerjemah: Cindy Kristanto
Penyunting: Primadona Angela
Sampul: Iwan Nazif
Cetakan: Pertama, Juli 2018
Tebal: 360 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Setelah menyaksikan perjuangan Sage/Jaron yang berdarah-darah menjadi bajak laut di buku kedua, Takhta Bayangan menjanjikan adegan pertempuran akbar sebagai buku penutup dari trilogy The Ascendant ini. Carthya diserang dari ketiga sisi oleh Avenia, Gelyn, dan Mendenwal.  Masih belum sembuh dari lukanya saat bertarung di kamp bajak laut, Jaron kini harus memimpin negerinya yang telanjur lemah dan tercerai berai. Tanpa strategi yang matang serta bantuan dari sekutu-sekutu setia, tidak mungkin negeri Carthya akan dapat bertahan dari serangan ketiga sisi perbatasan. Untungnya, Jaron masih memiliki senjata rahasia yang selama ini telah berhasil menyelamatkan nyawanya dan juga takhta Carthya: kenekatan seorang anak muda. 

Wednesday, July 4, 2018

A List of Cages, Perundungan vs Persahabatan

Judul: A List of Cages
Pengarang: Robin Roe
Penerjemah: 
Tebal: 372 hlm
Cetakan: 1, Januari 2018
Penerbit: Spring





Tema tentang bullying atau perundungan sepertinya masih menjadi tema favorit para penulis YA dari luar. Maraknya fenomena perundungan di sekolah menjadi salah satu pendorongnya. Lewat karya-karyanya, para penulis seperti John Green, Laurie Handel A, dan juga Robin Roe berharap agar anak-anak muda yang menjadi korban perundungan berani berbicara tentang perundungan yang kita alami. Memang, tidak mudah bagi korban untuk berbicara tentang perundungan yang dialaminya. Ancaman dari si perundung, ditambah dengan rasa malu serta tekanan sebaya peer pressure adalah hal-hal yang jamak dijumpai pada kasus-kasus sejenis. Jika dibiarkan, tidak jarang si korban akan berujung pada depresi yang dapat mengancam kehidupannya. Jikapun tidak, memori akan kejadian perundungan itu akan terus melekat dalam sudut gelap pikiran yang akan menghantui si korban.