Search This Blog

Wednesday, May 24, 2017

Dokumentasi Sastra Dunia Terlengkap dalam Bahasa Indonesia


Judul: Cinta Semanis Racun
Penerjemah: Anton Kurnia
Tebal: 632 hlm
Cetakan: 1, Agustus 2016
Penerbit: DIVA Press



Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa ada pada perkembangan sastranya. Bangsa-bangsa yang maju adalah para pembaca sastra yang lahap. Budaya membaca mereka sangat kuat yang pada gilirannya turut mendukung lahirnya para penulis sastra yang berbakat. Fakta bahwa sebagian besar penerima Nobel Sastra berasal dari negara-negara maju di kawasan Eropa dan Amerika Utara (baru-baru ini Tiongkok dan Jepang juga) juga semakin menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara majunya suatu bangsa dengan kemajuan karya sastranya. Mungkin kasusnya agak berbeda untuk di Amerika Selatan, tetapi kebanyakan penerima Nobel Sastra memang didominasi dari warga-negara maju. Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun belum ada sastrawan negeri ini yang mendapatkan kehormatan Nobel sastra, kita patur berbangga karena Pram pernah dinominasikan sebagai calon penerima Nobel sastra, meskipuntidak pernah terpilih juga akhirnya.

Thursday, May 18, 2017

A Head Full of Ghost. Kerasukan atau Tidak?

Judul: A Head Full of Ghost
Pengarang: Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: 400 halaman
Penerbit: Nourabooks
 
34776973

Kehidupan normal Merry (8 tahun) berubah sejak Marjorie mulai bertingkah aneh. Remaja empat belas tahun itu tiba-tiba saja sering berteriak-teriak nggak jelas di malam hari. Menerocos bahwa ada suara-suara yang saling berteriak tanpa henti di kepalanya. Akibatnya, Marjorie sering sekali melempar barang-barang, mengobrak-abrik kamarnya, bahkan pernah meninju dinding kamarnya sendiri sampai penyok. Keadaan semakin gawat ketika badan gadis itu dipenuhi luka bekas cakarannya sendiri. Rupanya, Marjorie sudah sedemikian tidak tahan dengan suara-suara di kepalanya sampai dia melukai dirinya sendiri. Lebih gawatnya lagi, gadis itu juga mulai mengancam adik kecilnya dengan ucapan-ucapan yang luar biasa mengerikan. Tindakan medis pun segera diambil, kedua orang tuanya mulai rutin membawa Marjorie ke psikolog dan dokter.

Drama Sepasang Sejoli di Caraval

Judul: Caraval
Pengarang: Stephanie Garber
Penerjemah: Jia Effendi
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal: 436 hlm
Penerbit: Nourabooks


34673451



Caraval, sebuah parade magis akan berlangsung di sebuah pulau misterius, Isla de los Suenos. Ini bukanlah parade atau sirkus biasa. Caraval adalah hiburan seru sekaligus petualangan yang berbahaya. Dalam Caraval, semua orang bisa ikut bermain, tetapi mereka juga bias terluka. Sebuah perpaduan antara permainan, acting, teka-teki, serta tarik ulur siasat, Caraval akan menjadi pelarian yang sangat tepat untuk melupakan sejenak rutinitas keseharian yang membosankan atau mungkin malah penuh tekanan. Dalam Caraval, peserta akan diajak menelusuri terowongan-terowongan rahasia, kanal-kanal penuh muslihat, hingga penginapan-penginapan yang seperti menyimpan sejuta rahasia. Caraval juga menawarkan beragam sihir yang bisa kau beli dengan rahasiamu, parfum yang bisa mencegah orang melukaimu, gaun yang berubah-ubah sesuai emosi pemakainya, dan masih banyak lagi. Semua ini masih ditambah dengan satu hadiah istimewa yang telah menanti sang juara di akhir permainan.

“Caraval lebih daripada sekadar sebuah permainan atau sebuah pertunjukan. Itu adalah hal terdekat dengan sihir yang bisa kau temukan di dunia ini." (hlm. 18)

Tuesday, May 9, 2017

Berguru Menulis Puisi Kepada Rindu



Judul: Berguru kepada Rindu
Penyusun: Acep Zamzam Noor
Sampul: Amalina
Cetakan: Pertama, April 2017
Tebal: 88 hlm
Penerbit: DIVA Press



Dalam acara Kampus Fiksi Emas 2017, Joko Pinurbo menyebaut Acep Zamzam Nor sebagai penyair yang karya-karyanya wajib dibaca. Terutama bagi para calon penyair yang ingin memyempurnakan keahlian bermulut manisnya berpuisinya. Memang, guru terbaik para penulis adalah para penulis yang lainnya. Maka begitu pula, guru terbaik penyair adalah penyair-penyair lainnya. Jadi, selain mau  membaca alam dan kejadian di sekitarnya, seorang penyair harus tekun membaca karya-karya penyair lain untuk bisa menghasilkan karya-karya puisi yang tetap bagus dan semakin dahsyat. Menurut Jokpin, puisi-puisi Acep memiliki aroma alam yang kental. Puisi-puisinya memang banyak menggambarkan tentang fenomena alam. Fenomena-fenomena ini ditangkapnya dengan indra, kemudian dipindahkan dalam baris-baris kata yang tak kalah indahnya.

Keteguhan dipunyai gelombang
Dengan tariannya yang lentur
Ketabahan dimiliki karang
Yang tulus menerima setiap debur

Keteguhan dipegang ufuk
Sebagai pembatas ruang dan waktu
Kematangan digenggam matahari
Yang rela tenggelam untuk terbit kembali
(Pelajaran dari Teluk, 2014)

Menggunakan kata-kata yang sederhana, bait-bait pendek, Acep mampu menghasilkan puisi yang mengalun lembut. Pilihan kata-katanya bisa dipahami awam, dan ini masih dilengkapi dengan nada lagu yang tercermin pada rima-rimanya (silakan baca baris 2 dan 4, serta 7 dan 8 pada puisi di atas). Dari semua puisi di buku ini, kebanyakan memang pendek-pendek dan ringkas, dan ini menjadi ciri khas sendiri yang sekaligus memudahkan pembaca puisi tingkat awal seperti saya untuk bisa menikmatinya. 

Cinta adalah buku tebal
Yang tak pernah akan selesai
Aku baca
(Cinta, hlm. 36) 

Friday, May 5, 2017

Seumpama Matahari, Kisah Cinta Berlatar Perang Aceh

Judul: Seumpama Matahari
Pengarang: Arafat Nur
Penyunting: Yetti A. KA
Tebal: 142 halaman
Cetakan: 1, Mei 2017
Penerbit: DIVA Press




Seumpama Matahari adalah novel kelima karya Arafat Nur yang khas dengan setting Acehnya. Buku ini sendiri--mengutip penulisnya--ditulis berdasarkan catatan gerilya Thayeb Loh Angen, kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hampir saja kisah ini hendak dimusnahkan oleh pelakunya sendiri, tetapi penulis berhasil menyelamatkannya dan kemudian mengabadikannya ke dalam bentuk novel. Untunglah, karena kalau tidak, kita pasti akan kehilangan satu cerita langka sekaligus unik tentang cinta yang berlatarkan era perang di Aceh. Pengerjaannya yang mendahului Lampuki juga semakin menegaskan kalau novel ini bisa jadi menjadi pemantik awal dari proses kreatif Arafat Nur sebelum menelurkan karya-karya sastra lain yang beraroma perang di Aceh pada era GAM. Sebuah karya yang mengajak kita untuk memandang perang dari sudut pandang para pelakunya.

"Kita sama-sama anak bumi, pengatur sekaligus penjaga alam." (hlm. 69)

Novel dibuka dengan adegan pertempuran yang intens. Cara penulis membuka cerita mengingatkan saya pada gaya-gaya penulis luar, yang langsung menghentak perhatian pembaca lewat kata-kata yang sangat kuat deskripsinya: Mati kena tembak adalah salah satu jalan akhir dari banyak jalan akhir lain pada kehidupan ini. Meskipun mati dengan cara begitu sangat tidak menyenangkan, secara tidak langsung, saat ini telah menjadi pilihan yang dengan sadar sedang kami hampiri perlahan-lahan. Gaya yang mendekati puitis tetapi tidak kemayu ini akan sering kita jumpai saat membaca buku ini. Selanjutnya, pembaca akan diajak mengikuti kisah Asrul, seorang pejuang kemerdekaan Aceh yang berperang gerilya melawan TNI di pedalaman Sumatra pada sekitar tahun 2001.

"Adanya  hari ini memang disebabkan masa lalu. Namun, manusia lahir untuk masa depan." (hlm. 111)

Membaca karya sastra mengajarkan kita untuk tidak keburu menghakimi dan tidak ragu berempati. Ini karena sastra memperluas pandangan kita, dengan mengajak kita memandang dari sudut pandang orang lain. Seperti itulah Seumpama Matahari ini. Kita diajak melihat dan mendengarkan pandangan dari salah satu pasukan GAM. Dari sudut pandangnya, pembaca jadi tahu mengapa GAM membenci TNI dan Indonesia. Perlawanan tidak muncul begitu saja, biasanya didahului adanya penindasan atau perlakuan-perlakuan tidak adil. Secara tidak langsung, pembaca diajak bersimpati kepada Asrul. Pemuda itu menjadi seperti itu karena perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan segelintir pasukan TNI pada ayahnya yang tidak bersalah. Dari sinilah dendam itu muncul, yang kemudian mendapatkan penyalurannya lewat GAM.

"Tetapi perang memang begitu. Jika tidak membuat keluarga mereka luka, maka mereka akan membuat luka keluargaku." (hlm. 80)

Tapi, ternyata buku ini tidak melulu tentang perang. Ada kisah cinta juga di dalamnya. Asrul yang tengah melarikan diri dari kejaran aparat ternyata dipertemukan dengan dua orang gadis yang kelak akan mengubah jalan kehidupannya. Tidak ada hal lain yang mereka tawarkan kepada Asrul kecuali cinta nan tulus. Dan perang yang telah merusak wajah alam serta wajah kemanusiaan itu memang sering kali butuh kisah cinta untuk memperlembutnya, syukur-syukur untuk menghentikannya. Seperti yang dialami Asrul, pertemuannya dengan Putri dan Ana telah membawa napas baru dalam hidupnya. Asrul menyadari bahwa hidup tidak melulu tentang perang. Dari keduanya juga Asrul belajar bahwa sejatinya Bumi tetap sama dan satu, tetapi manusia lah yang merusaknya dengan perang hanya karena perbedaan penguasa.

"Satu-satunya kebodohan terbesar manusia adalah membuat alat penghancur; bom, mesin, dan mesin pembunuh. Tugas suci manusia sebagai pelindung dan pemimpin. Bukan saling melenyapkan." (hlm. 69)

Secara garis besar, buku ini kecenderungannya menentang perang antara GAM dan TNI. Tetapi hebatnya, Arafat Nur menyampaikan gagasannya tersebut dengan tidak mengurui. Samar tapi kokoh, penulis menyelipkan ide tentang perdamaian di Aceh lewat cerita cinta yang sederhana tetapi sangat mengena. Untuk buku tipis yang bisa dibaca sekali duduk, kisah ini menawarkan warna lain di balik perang Aceh, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan kembali apa sejatinya perang itu. Setelah sampai di penghujung buku yang ditutup dengan sama kuatnya, kita akan terdorong untuk bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita terus berperang?







Wednesday, May 3, 2017

Pasar, sebuah Novel Sastra Sosiologis

Judul: Pasar
Pengarang: Kuntowijoyo
Sampul: Buldanul Khuri
Cetakan: 1, Februari 2017
Tebal: 378 hlm
Penerbit: DIVA Press dan Mata Angin





Pasar membawa kita kepada alam pedesaan di Jawa tahun 1970-an, ketika segala sesuatunya masih tampak sederhana, ketika dunia tidak lebih lebar dari pasar kecamatan, dan ketika omongan orang menjadi semacam hukum tak tertulis yang dampaknya sangat kuat. Seperti yang digambarkan dengan begitu apik oleh Kuntowijoyo lewat novel Pasar ini. Unsur ‘orang Jawa’ begitu kuat di dalam buku ini, bukan kemudian buku ini untuk mengagung-agungkan orang  Jawa, tetapi sebagai semacam catatan sosiologis tentang perubahan sosial yang dialami orang Jawa pada tahun 1970-an yang dituliskan dalam bentuk sastra. Lewat Pasar, penulis menyimpan sekeping data sosiologis dari sebuah masyarakat kecil di pelosok Jawa dalam bentuk naratif. Bentuk novel seperti ini tentu akan lebih enak dinikmati ketimbang membacanya dalam bentuk laporan.  Kekuatan Kuntowijoyo sebagai dosen antropologi sekaligus sastrawan telah terkukuhkan sepenuhnya lewat Pasar ini. Sastra-sosiologi, mungkin memang inilah istilah yang tepat untuk menyebut PASAR.

"Sebaik-baik perbuatan adalah melihat diri sendiri, mawas diri." (hlm. 10)

Khotbah di Atas Bukit

Judul: Khotbah di Atas Bukit
Pengarang: Kuntowijoyo
Sampul: Faizal
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: 223 hlm
Penerbit: DIVA Press





Dalam perjalanan hidupnya, manusia selalu merindukan waktu-waktu untuk merenungkan kembali apa makna dari hidup yang tengah dijalaninya. Orang-orang zaman dulu biasa melakukannya dengan menyepi ke tengah hutan, atau bersemadi di tengah-tengah alam liar. Orang-orang modern zaman sekarng mungkin menggantinya dengan menyewa vila di Puncak setiap akhir pekan. Keasrian dan keheningan alam memang terbukti manjur mengusir segala penat akibat beban keseharian. Sampai suatu titik, perjalanan hidup seseorang  mungkin akan sampai pada titik yang membosan bagi si empunya. Tidak peduli seberapa sukses perjalanan kariernya, banyak orang yang merindukan bisa kembali kepada keheningan asali, kepada muasalnya yang tercipta sebagai mahkluk yang tak ada apa-apanya. Karena tanpa memiliki apa-apa saat kita lahir, maka tanpa membawa apa-apa pula saat kita pamit dari dunia ini kecuali amal kebajikan.

“Pikiran kita jauh lebih berat dari ransel.” (hlm. 61)

Kegelisahan inilah yang dialami Barman. Pensiunan sukses ini memiliki karier gemilang di masa lalunya. Berbagai negara di dunia juga telah dijelajahi. Pun, Barman jua dianugrahi keluarga yang lumayan harmonis. Putra satu-satunya tumbuh menjadi penerus bisnis yang dapat diandalkan, serta memberikan cucu-cucu yang teramat menawan. Tetapi, manusia memang selalu kurang. Ditengah segala kelengkapan yang didapatkannya, Barman merasakan ada sesuatu yang kurang. Ada lubang kosong dalam perjalanan kehidupannya yang entah apa. Jika menyimak deskripsi sang tokoh di buku ini, Barman muda sepertinya adalah orang yang gemar bertualang. Tujuan hidupnya semata dunia sehingga aspek spiritual sepertinya tidak turut menyentuhnya di masa mudanya. Kegelisahan ini yang kemudian dibaca sang putra, yang kemudian menghadiahkan kepada ayahnya sebuah tamasya di sebuah bukit yang indah.

“Bung, kesenangan itu tak bertambah atau berkurang. Kebahagiaan yang mutlak tak memerlukan apa-apa di luar diri kita.” (hlm. 63)