Search This Blog

Thursday, January 10, 2019

Toba Mengubah Dunia

Judul: Toba Mengubah Dunia
Penyusun:  Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodiqin, dan M. Hilmi Faiq
Tebal: 104 hlm
Terbit: Maret 2014
Penerbit: Penerbit Buku Kompas


21863280


Dalam beberapa hal, mungkin ada benarnya pendapat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang gampang lupa. Berulang kali kita dihampiri sejumlah bencana alam berskala besar yang merenggut korban jiwa dan benda yang tidak sedikit. Namun, ingatan atas pengalaman bencana itu mungkin hanya mengendap satu atau tiga tahun. Selepasnya banyak kita kemudian lupa bahwa kita hidup di atas perbatasan lempeng bumi yang selalu bergerak. Orang mungkin bilang bahwa lupa akan kenangan buruk di masa lalu adalah sebuah kenikmatan. Tapi di sisi lain, lupa akan bencana di masa lalu juga merupakan sebuah kesalahan. Akhirnya, masyarakat kita cenderung seperti kebingungan setiap kali bencana besar menghampiri. Seolah, baru pertama kali bencana itu datang. Padahal, ratusan atau mungkin puluhan tahun sebelumnya, bencana yang sama besarnya juga pernah terjadi. Seolah, ingatan kolektif akan bencana besar di masa lampau hilang sama sekali jejaknya.

Dua dari sepuluh letusan gunung terbesar di era modern terjadi di Kepulauan Indonesia, yakni Tambora (1815) dan Krakatau (1883).  Kedua letusan ini selain menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, juga turut mempengaruhi dunia. Letusan Tambora menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika Utara, sementara Krakatau menciptakan gelombang tsunami dashyat serta dentuman supersonik yang terdengar sejauh Singapura. Kita juga tidak boleh meremehkan letusan-letusan "kecil" lain yang begitu sering terjadi di sepanjang cincin api Kepulauan Nusantara seperti Gunung Agung, Merapi, Galunggung, Kelud, dan Sinabung. Bahkan Gunung Anak Krakatau pun sedang aktif kembali. Sudah menjadi suratan takdir, kita hidup di negeri yang tanahnya mengandung api, yang memunculkan anugrah tanah subur, sumber air melimpah, pemandangan nan elok seklaigus membawa ancaman bencana geologis seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, dan juga tsunami.

Jauh sebelum peradaban berkembang sampai semaju seperti saat ini, sekitar tujuh puluh ribu tahun yang lalu, sebuah letusan purba pernah terjadi di wilayah yang kini kita kenal sebagai Danau Toba. Letusan itu sedemikian dahsyatnya hingga layak disebut sebuah letusan super volcano. Danau Toba denga pulau Samosir di atasnya sejatinya adalah sebuah kaldera raksasa dari sebuah gunung berapi. Sekitar 74.000 tahun lalu, Supervolcano Toba ini meletus dahsyat, menghasilan awan panas yang menjulang setinggi 40 km. Awan panas ini, karena kandungan materialnya yang berat, langsung meluruh ke bawah karena gaya gravitasi bumi. Menghasilkan luncuran awan panas yang menghancurkan hingga kawasan sejauh 200 km persegi. Sebaran abunya membumbung tinggi dan tertiup angin ke arah barat hingga mencapai India dan Arabia. 

Monday, December 10, 2018

Blogtour dan Pengumuman Pemenang Giveaway Arterio

Judul: Arterio
Pengarang: Sangaji Munkian
Editor: Auliya Millatina Fajwah
Cetakan: 2017
Tebal: 403 hlm
Penerbit: bitread




Selalu senang tiap kali ada novel fantasi karya anak negeri yang diterbitkan. Secara tahu sendiri, betapa toko buku kita dibanjiri oleh novel-novel fantasi terjemahan. Karya novelis lokal bukannya tidak hadir, hanya mungkin kalah gemanya karena kurang promosi. Padahal, Indonesia adalah sumber ide cerita fantasi yang kaya sekaligus gudangnya orang-orang kreatif. Harusnya, lebih banyak fiksi fantasi bagus lahir di negeri ini. Mungkin penulis-penulis kita butuh belajar lagi (hei, kita semua juga kan?) serta poles-poles sedikit agar orisinalitas itu muncul. Tetapi, sebuah peradaban besar dimulai dari pembangunan kecil. Dan, Arterio bisa menjadi batu awal dari bangkitnya fiksi fantasi Indonesia.

Arterio berkisah tentang para siswa di Nimbel, sebuah sekolah di Kerajaan Kartanaraya  yang siswanya dibagi menjadi lima golongan jurusan. Lima jurusan yang sekaligus menjadi penanda status sosialnya (jadi ingat Divergent). Pada usia tertentu, setiap anak akan diinisiasi untuk menentukan akan masuk ke jurusan apa yang cocok untuk mereka. Lazuar untuk mereka yang mencintai ilmu hayat, Vitarea bagi peminat telaah muggle eh ilmu tentang manusia, Arterio untuk yang ingin menjadi penyembuh, Pragma bagi peminat studi teknik, dan Zewira bagi para perwira pelindung negara. Keren ... saya suka penamaan-penamaan jurusannya. Unik, terasa unsur lokalitasnya, sekaligus sangat melambangkan.

Standarnya, anak akan meniru orang tuanya. Jika ayah ibunya seorang arterio, anaknya pun biasanya juga arterio. Perkecualian bila anak yang bersangkutan terindikasi memiliki kurania atau bakat khusus yang menonjol. Dengan kurania ini, dia bisa dimasukkan ke kategori yang berbeda dengan keluarganya, bahkan di kategori yg lebih tinggi. Setiap anak yang terpilih lalu dimasukkan dan dididik dalam kampus-kampus khusus. Nah ini jadi keinget Hogwarts. Dalam kampus inilah mereka mempelajari berbagai hal tentang bidang mereka. Di separuh pertama buku ini, kita diajak belajar di kelas ramuan bersama trio sekawan: Zag, Nawacita, dan Tio.

Zag tidak pernah ingin jadi seorang penyembuh. Keinginannya adalah masuk jurusan Zewira agar bisa menjadi pejuang kuat seperti ayahnya. Padahal, remaja ini termasuk berbakat dalam meramu aneka ramuan mujarab. Sayangnya, bakatnya diarahkan untuk membuat ramuan pembunuh dan bukannya ramuan penyembuh. Keinginannya untuk bertarung tidak padam meskipun bakatnya ada di kelas penyembuh. Pada akhirnya, ketika Zag dipertemukan dengan kondisi di mana dia memang harus bertarung atau mati, remaja itu menemukan tempat sejatinya di Nimbel."Seberbeda apa pun kau dengan orang lain, jika mereka peduli maka mereka adalah temanmu." (hlm. 124)

Pada bagian kedua, giliran  pembaca diajak belajar jadi Zewira. Kali ini POV-nya ganti. Jika di separuh awal kita bersama Zag, maka di paruh kedua pemandunya adalah Neng Nawacita. Bagian kedua ini lebih banyak adegan berantem secara fisik. Tetapi entah kenapa saya kok lebih suka bagiannya Zag dengan aneka istilah jurusan kesehatan yang unik. Rasanya, diksi penulis yang sangat orisinal itu terasa benar-benar hidup di separuh awal. Tetapi, keduanya sama-sama menampilkan kisah yang enak diikuti. Juga bakal ada dua pertarungan epik di buku ini. Kece.

Buku ini dari luar tidak terlalu tebal, tetapi ternyata ada 400 hlm dengan font mungil ketika kita membukanya. Terus terang butuh waktu lumayan lama membacanya sampai selesai. Aroma Harry Potter dengan kelas ramuannya langsung menyapa di halaman-halaman awalnya. Saya khawatir jangan-jangan ini bakal jadi HarpotWannabe lagi. Untungnya enggak. Kelas ramuan di sini lebih terasa ilmiah sihiriyah. Salut saya sampaikan ke penulis karena bisa mengkreasikan kisah ramuan berbau sihir tanpa harus membebek sama kelas Prof. Snape.

Bagian pembagian ala Divergent juga cukup mengganggu saya. Apalagi pas si Zag merasa berada di jurusan yang salah, seperti bakal mengarah ke factionless alias enggak masuk kategori mana pun. Untungnya, pertanyaan ini langsung ngumpet begitu ada adegan perang yang cukup twisted di tengah. Tapi, sekali lagi saya sangat terhibur dengan cara penulis mengayunkan kata-katanya. Terasa, gimana ya ... orisinal, apalagi bagian penamaan wilayah dan nama ramuan.

Tentang editing adalah yang paling mengganggu saya saat membaca buku ini. Saya sampai harus bolak balik nanya ke editor fiksi buat ngecek kata kata macam kebersinaran. Kata beliau, sah sah saja katakata itu sebagai diksi dari penulis. Tapi kalau typo? Lumayan banget typo di buku ini, sungguh disayangkan untuk kisah sebagus Arterio. Akhirnya, saya diberi nasihat untuk mengabaikan dulu editingnya dan fokus ke cerita. Saya jadi lebih bisa menikmati membaca Arterio.



Terima kasih sudah meramaikan blogtour Arterio di blog Baca Biar Beken. Setelah membaca semua jawaban dan pertimbangan ini serta itu, berikut ini sang pemenang terpilih: 
 
Nama: Hapudin
Twitter/Email: @adindilla/hapudincreative@gmail.com

Selamat kepada pemenang terpilih. Saya tunggu konfirmasi alamatnya di Twitter ya. Terima kasih. 


 

Sunday, December 2, 2018

Review dan Pengumuman Pemenang Giveaway: Ya Aku Lari

Judul: Ya, Aku Lari
Pengarang: Hasan Aspahani
Penyunting: Addin Negara
Sampul: Sukutangan
Cetakan: 1, Desember 2018
Penerbit: DIVA Press 


Mau tidak mau, setiap kita sedikit-banyak adalah produk dari masa lalu kita sendiri. Manusia terbentuk dan dibentuk oleh masa lalunya.  Beruntung bagi yang memiliki masa lalu membahagiakan. Tapi bagaimana dengan mereka dengan masa lalu suram? Untungnya, manusia selalu diberi pilihan: untuk terpaku pada masa lalu atau untuk move on demi masa depan yang lebih cerah. Memang masa lalu tak akan bisa diubah. Tetapi, kita diberi kesempatan untuk memutuskan bagaimana kita akan menjalani masa kini dan membentuk masa depan. Inilah yang coba dilakukan seorang mantan pembunuh bayaran, Mat Kid.

"Berita adalah sejarah yang sedang disusun." (hlm. 114)

Selepas menjalani hukuman penjara selama sembilan tahun, Mat Kid bertekad meninggalkan masa lalunya yang kelam. Ia mencoba membangun sebuah hidup yang baru sekaligus menebus kesalahannya yang menelantarkan Alta, anak perempuan semata wayangnya. Pengalamannya mengikuti pelatihan meracik kopi saat di penjara mengantarkannya pada keputusan untuk mendirikan sebuah kedai kopi atau kafe. Sebuah impian yang sederhana dan tidak muluk sebenarnya. Hanya saja, kadang masa lalu lah yang menolak untuk pergi.

"Bisnis kotor tetap saja kotor. Main di ruang ber-AC atau di comberan sama saja kotornya." (hlm. 132)

Sejak keluar dari penjara, Mat Kid sudah dibayangi oleh Samon. Mantan teman sekomplotan dunia hitam ini kini menjelma seorang bos perusahaan jasa keamanan besar di ibukota. Kepada Mat Kid, Samon memberikan uang modal untuk membangun kafe. Di sini hati Mat Kid mulai meragu. Haruskan dia mencipta masa depannya lewat tangan-tangan kelam masa lalu? Pada akhirnya, semua manusia harus memilih. Bahkan enggan memilih pun, Mat Kid dipaksa untuk menentukan pilihannya. Dan, setiap pilihan tentu memiliki konsekuensinya masing-masing.

"God bless adalah kopi Indonesia, tak perlu mematut-matut diri untuk menjadi Barat, untuk diterima diseluruh dunia." (hlm. 168)

Kisah Mat Kid ternyata hanya satu puzle pembuka dari serangkaian kisah-kisah lain di buku ini. Alangkah mengejutkan betapa dalam satu novel yang terbilang tipis ini, Hasan Aspahani mampu memunculkan karakter-karakter yang sedemikian beragam: Alta dengan kisah kelam masa kecilnya, Barbar sang barista pecinta buku, Diya wartawati energik keluaran era milenial, hingga kisah seorang jihadis hipster bernama Ajmal. Ada begitu banyak tokoh, peristiwa politik, sindiran sosial, sedikit refleksi terkait sejumlah peristiwa kekinian, hingga romansa. Eh, ada juga kopi. Sebuah buku kecil dengan paket sangat lengkap.

"Banyak jalan untuk berjihad. Membuat petani sejahtera juga jihad." (hlm. 137)


Saya menggambarkan novel ini seperti kisah 1001 malam. Satu kisah dengan begitu banyak cerita berlapis di dalamnya. Hanya saja, di novel ini yg berlapis lapis adalah karakternya. Ada begitu banyak karakter dimasukkan. Satu karakter kemudian berkisah tentang karakter-karakter lain. Teknik yang unik tapi juga rentan bikin pembaca bingung. Saya beberapa kali berhenti membaca untuk mengingat-ingat siapa ayah si ini dan kenapa si itu bisa jadi ayahnya si ini. 


Tidak hanya unik, setiap karakter di Ya, Aku Lari membawa kisahnya masing-masing. Pembaca tidak akan menyangka betapa mereka akan disuguhi bacaan yang sedemikian pelik namun ringan, beragam sekaligus penuh muatan sosial, politik hingga religi dalam novel yg tidak terlalu tebal ini. Menyelesaikan membaca novel ini memunculkan perasaan lega sekaligus penuh seperti setelah kita menikmati beberapa cangkir kopi. Seperti itulah setiap karakter dan kisah di buku ini. Masing-masing memiliki harum khasnya sendiri.


Tersedia satu novel "Ya, Aku Lari" karya Hasan Aspahani di blog Baca Biar Beken sebagai bloghost pembuka dalam rangkaian blogtour bersama Penerbit DIVA Press bulan Desember ini. Total ada empat belas jawaban masuk. Terima kasih ya atas antusismenya dan jawabannya bagus-bagus semuanya #akukudupiye? Begini nih salah satu yang susah dilakuin saat jadi host blogtour: memilih pemenangnya. 

Setiap orang punya masa lalu, entah kelam atau membahagiaan. Kita tak bisa mengubah masa lalu yang sudah berlalu, tetapi kita bisa memilih cara kita menjalani masa kini dan menyambut masa depan. Terima kasih teman-teman telah bersedia berbagi lewat kuis ini. Saya serahkan satu eksemplar novel Ya Aku Lari untuk Vena Dwi Masfiyah (Twitter: @venadwim) dengan doa serta ajakan untuk tetap merawat kenangan indah bersama sang Kakak terkasih. Silakan ditunggu hadiahnya.

Terima kasih sudah ikutan.  

Monday, November 19, 2018

Blogtour dan Pengumuman Pemenang Giveaway: Basirah

Judul: Basirah
Pengarang: Yetti A.KA
Penyunting: Misni Parjiati
Sampul: Suku Tangan
Cetakan: Pertama, Oktober 2018
Penerbit: DIVA Press




“Dalam setiap orang itu, seburuk apa pun, pasti ada sisi baiknya.” (hlm. 58)

Tema wanita dan tokoh perempuan selalu lekat dengan karya-karya Yetti A.KA. Tidak terkecuali di novel Basirah ini. Dengan setting yang semi abdurd, penulis mengangkat kisah keluarga kecil yang terjebak dalam takdir mereka sendiri di sebuah kota misterius bernama Basirah. Berkisah tentang keluarga kecil yang terdiri atas ibu dan anak perempuannya serta seekor anjing peliharaan yang dibeir nama Bolok, novel ini mengajak pembacanya merenungi garis nasib yang kadang belum banyak berpihak kepada kaum perempuan di pelosok negeri ini. Dan walau tokoh perempuan begitu mendominasi dalam kisah di buku ini, sayang sekali nasib mereka hanyalah sebagai korban dari dominasi laki-laki. Sebuah ironi. Tidak di masa kini maupun di masa lampau, perempuan selalu diposisikan sebagai korban dominasi dan harus pasrah dengan kondisi tersebut. 

Thursday, November 15, 2018

How to Stay Single, No Answer Here

Judul : How to Stay Single
Author : Christian Simamora
Penerbit : Twigora
Halaman : xii + 460 hlm
Cetakan : Pertama, January 2017
ISBN : 978-602-60748-0-5

 33413665

Blurb:

EMMA MORANO, PEREMPUAN TERTUA DI ITALIA,
MEMBEBERKAN RAHASIA UMUR PANJANGNYA:
MAKAN TELUR MENTAH TIGA BUTIR SETIAP HARI
DAN TETAP SINGLE SAMPAI SEKARANG.


Malika tak bisa berhenti tersenyum saking bahagianya bisa bekerja di acara Juan Carlos Bautista, celebrity chef ternama sekaligus idolanya sepanjang masa. Sayang, mimpinya itu berakhir tragis dengan cepat ketika dia tahu kepribadian Juancar yang sebenarnya: bermulut kasar dan sangat ditakuti para krunya.

PEREMPUAN TERTUA DI SKOTLANDIA, JESSIE GALLAN,
JUGA MENGAKUI KALAU MENJAUHI LAKI-LAKI
MEMBANTUNYA TERUS BERTAHAN HIDUP.


Lebih baik jadi sosok yang ditakuti ketimbang dicintai—begitulah prinsip yang dipegang Juancar sejak dulu. Logikanya, antipati Malika terhadap dirinya tak memengaruhi konsentrasi saat bekerja di depan sorotan kamera. Lantas, kenapa perubahan sikap itu malah membuat Juancar disengat perasaan tak nyaman? Kenapa dia sebegitu pedulinya dengan pendapat Malika tentang dirinya?

"MEREKA [LAKI-LAKI] LEBIH BANYAK MEMBUAT MASALAH KETIMBANG FAEDAHNYA," AKU JESSIE DALAM WAWANCARANYA
DENGAN THE DAILY MAIL.


Ini adalah cerita cinta yang tak punya masa depan. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak rintangan—begitu alasan mereka. Namun, kenapa keduanya sama-sama tak rela kalau berpisah? Apakah cinta masih layak disebut cinta meskipun tak pernah bersatu?


***

Ini tumben pake blurb, Yon? Iya, soalnya setelah penjelasan yang panjang lebar begitu, saya nggak menemukan jawaban dari judul besarnya. 


Thursday, November 1, 2018

Tapak Setan

Judul: Tapak Setan
Penulis: Haditha
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Terbit: 2018
Sampul: Dedy Koerniawan Susanto
Tebal: vi + 217 hlm.
ISBN: 978-602-04-798



Orang bijak selalu bilang, dendam itu buruk dan dapat mengundang setan. Tetapi, kadang hidup begitu menyesakkan sehingga orang bisa jatuh dalam godaan buruk tersebut. Ini yang dialami oleh Atarjoe--seorang piatu yang tinggal dan pemukiman kumuh. Hidup dan lingkungannya sudah sedemikian berantakan, dia sendiri menjadi korban dari lingkungan kehidupan kelas bawah yang porak-porandanya. Orang tua satu-satunya terjerat narkoba dan bahkan rela menjual diri demi barang haram tersebut. Boro-boro menyekolahkan Atarjoe, untuk makan pun bocah 13 tahun itu harus mengusahakan sendiri. 

Rasa kesumat pun mengumpul dalam dada melihat segala ketidakadilan di sekitarnya. Atarjoe hanya bisa menahan geram saat orang orang jahat itu melecehkan ibunya, menghina dirinya. Kehidupannya mewakili hidup orang-orang yang terpinggirkan tanpa harapan untuk bisa mengajukan keluhan. Sampai suatu malam, muncul suara berbisik yang mengajarkannya menyajikan dendam dengan tangan kanannya sendiri. Dan suatu pagi, Joe bangun dengan tangan kanan berlumuran darah dan berbau bangkai. 


Monday, October 29, 2018

200 Tahun Tambora, Pengingat sebuah Letusan Akbar

Judul:  200 Tahun Tambora
Penyusun:  Seno Joko Suyono (Editor), Dody Hidayat (Editor), Yosep Suprayogi (Editor), Purwanto Setiadi (Editor)
Tebal: 89 hlm
Cetakan: Pertama, 2015
Penerbit: KPG

25764715Berjodoh sama buku bagus ini saat di gudang gramedia dengan harga Rp3500 saja. Tentu setelah perjuangan membolak balik ratusan buku sampai tangan kotor semua. Walau tipis, buku ini memberi banyak sekali info dan infografis tentang letusan Tambora tahun 1815. Mungkin, kita lebih akrab dengan letusan Krakatau tahun 1883 itu ketimbang letusan Tambora. padahal, dari skala, letusan Tambora jauh lebih dasyhat.

Bahwa letusan Tambora adalah letusan terdahsyat di era modern, kita tahu itu. Letusannya bahkan lebih besar ketimbang letusan Krakatau tahun 1883. Tapi, buku ini mengungkap satu fakta mencengangkan. Sebelun meletus, Tambora memiliki tinggi 4300 meter sehingga puncaknya dpt terlihat dr Bali saat cuaca cerah.