Search This Blog

Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Saturday, March 16, 2019

Kisah Tanah Jawa, Menguak Tabir Mistis Pulau Jawa

Judul: Kisah Tanah Jawa
Penulis: Tim @kisahtanahjawa
Editor: Ry Azzura
Sampul: Rezky Mahangga
Ilustrator Isi: Day
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 250 hlm




Tanah Jawa selalu menarik sejak dulu kala. Bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga misterinya. Seolah tidak ada habisnya misteri yang digali dari pulau tua ini, terutama terkait hal-hal mistis yang melingkupinya. Sejak zaman kolonial hingga era Jembatan Suramadu, Jawa senantiasa menyuguhkan aneka misteri yang tidak hanya membikin orang penasaran, tetapi juga malah menjerumuskan. Tidak sedikit mereka yang kemudian tersesat dengan dalih mencari kehidupan yang lebih baik ataupun semata dendam. Nafsu duniawi membuat segelintir manusia mengambil jalan yang keliru dengan meminta bukan kepada Tuhan, melainkan mahkluk-mahkluk dari golongan setan yang seharusnya kita jauhi.

Mereka yang besar di Jawa pasti akrab dengan tumbal, aji pengasihan, pesugihan, dan juga Kejawen. Buku ini memaparkan hampir semua yang sering ingin kita tanyakan (tetapi nggak jadi-jadi karena takut) tentang hal-hal mistis yang terjadi di Tanah Jawa. Dengan metode retrokognisi, para penulis @KisahTanahJawa ini mencoba menguak selubung misteri dari tumbal jembatan, kisah horor di rumah sakit, penghuni rumah tua, pocong, kuntilanak, pesugihan, asal muasal jenglot, ritual seks di Gunung Kawi, misteri Alan Roban,  penglaris, ajian jaran goyang dan semar mesem,  hingga perbedaan antara pocong beneran dengan jin yang menyamar jadi pocong. Haduh .... naudzubillah moga jangan kejadian deh. Tapi, tidak melulu horor yang disuguhkan. Buku ini semakin berbobot dengan sajian sejarah kolonial di Jawa yang dibahas dengan lumayan lengkap.

Buku ini sudah bikin merinding sejak dari halaman pertama.  Sudah lama saya mendengar desas-desus penanaman tumbal kepala kerbau di setiap proyek pembangunan berskala besar. Tetapi, tumbal kepala manusia? Sulit membayangkan betapa hal kebiadab ini masih dilakukan (walau dengan diam-diam) di abad 21 ini. Dalam bab pertama, Napas Tiang Pancang, pembaca diajak menerawang proyek pembangunan berskala besar di Jawa. Diantaranya adalah pembangunan jembatan kereta api yang melintas di atas Sunga Serayu, Terowongan Lampengan, dan Stasiun Tugu. Dalam setiap pembangunan, selalu ada yang dikorbankan,. Hati ikut teriris membaca kebiadaban segelintir manusia yang dengan teganya mengorbankan manusia lain yang tidak bersalah sebagai tumbal agar pembangunan jembatan bisa berjalan lancar tanpa adanya gangguan dari mahkluk gaib.

Bagi pembaca yang suka wisata kuliner, bab Penyedap Komposisi Dosa mungkin akan terasa kurang mengenakkan. Tetapi, tidak ada salahnya kita berhati-hati dalam menyantap makanan karena tidak semua pedagang makanan memiliki sifat jujur. Masih ada juga yang menghalalkan segala cara agar dagangannya bisa laris. Salah satunya, dengan bekerja sama dengan mahkluk gaib untuk menarik pelanggan. Caranya bagaimana? Cukup menjijikkan sebenarnya, di antaranya dengan media ludah pocong atau dengan mencemplungkan celana dalam bekas dipakai pada kuah makanan. Konon, makanan yang dibeli  di warung yang menggunakan pesugihan ilmu hitam seperti ini akan terasa kurang enak jika dibungkus atau dimakan di rumah. Di bab dua ini, banyak hal tentang ilmu penglaris dibuka untuk pembaca agar kita semua waspada.

Sesuai judulnya, Harta Berujung Petaka, bab 3 membahas tentang ilmu pesugihan. Dalam upayanya menjadi sukses dan kaya raya, tidak sedikit orang yang menggunakan jalan pintas dengan meminta kepada mahkluk gaib. Ini yang kemudian kita kenal sebagai pesugihan. Bab ini mengulas cukup rinci tentang sejumlah pesugihan populer macam babi ngepet, nyi blorong, gunung Kawi, dan Jembatan Setan. Selanjutnya, tentang tentang ajian pengasihan dan ilmu pelet dibahas lumayan mendalam di bab Merapal Kata Terlarang. Pada dasarnya, setiap ucapan adalah mantra, termasuk doa. Hanya saja, jika doa ditujukan pada hal-hal baik, maka mantra digunakan untuk memohon pertolongan dari mahkluk gaib. Di bab ini kita bisa membaca sekelumit sejarah ajian jaran goyang yang sangat terkenal itu. Ternyata, konon pelakunya benar-benar ada dalam sejarah. Tetapi, tentu saja setiap ajian sesat memiliki konsekuensi buruknya.

Tidak hanya mengupas kisah horor dan mistis, Kisah Tanah Jawa juga banyak mengupas perihal sejarah Jawa. Bagian paling sering diterawang adalah era 1800-an ketika Jawa masih di bawah pimpinan penguasa kolonial Belanda. Salah satunya yang paling meninggalkan jejak berdarah-darah adalah Daendels dengan proyek Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan. Bagaimana rute legendaris ini dibangun dan berapa persisnya jumlah rakyat jelata yang menjadi korban. Tim @KisahTanahJawa berusaha menerawangnya dengan metode retrokognisi yang memunculkan hasil mencegangkan. Bagian lain yang cukup menarik adalah pembahasan tentang ilmu Kejawen dan filosofi orang Jawa. Di bab ini, dibahas juga filosofi rumah Joglo, juga makna dari sesaji atau sesajen, serta makanan Jawa. Bunga kenanga salah satunya, memiliki filosofi bahwa kita harus mengenang kebaikan para leluhur.

Beberapa misteri memang sebaiknya tetap menjadi misteri. Tetapi, tidak ada salahnya tahu sedikit rahasia dari dunia lain sebagai bentuk upaya kita menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan mengetahui, kita saekaligus bisa menghindari melakukan hal-hal yang pada akhirnya menjerumuskan kita. Buku ini mengajarkan kita untuk mawas diri karena, kita tidak hidup sendirian di Tanah Jawa ini. Ada mereka yang telah tinggal dan berdiam di pulau kuno ini jauh lebih lama dari kita. Sepantasnya kita sebagai 'tetangga yang baik' saling berusaha untuk tidak mengusik antara satu dengan yang lainnya.

Saturday, February 16, 2019

Review and Pengumuman Pemenang Giveaway: Carmine

Judul: Carmine
Pengarang: Ruwi Meita
Sampul: Dilidita
Cetakan: 1, Desember 2018
Tebal: 342 hlm
Penerbit: Noura




Kita sering berpikir bahwa rumah adalah suaka, tempat paling aman untuk pulang dan mengistirahatkan segenap beban. Padahal, rumah juga bisa menjadi neraka yang menyiksa penghuninya. Fakta banyaknya kasus KDRT menjadi bukti bahwa faktanya rumah memang tidak selalu aman bagi penghuninya. Kekerasan juga tidak melulu berupa fisik, melainkan dapat berupa tekanan mental dari pasangan atau bahkan keluarga. Pada akhirnya, sebuah rumah memang ditentukan oleh orang-orang yang menghuninya.

Hampir tidak ada yang kurang dari seorang Carmine Dunn. Mantan model iklan terkenal ini kini memiliki semua yang didamba mamah mamah muda: suami mapan dengan gaji tinggi, rumah mewah dengan kolam renang, serta empat orang anak yang meramaikan suasana rumah. Yah kecuali satu, fisiknya sudah tidak selangsing dulu. Tapi mengingat usianya yang menginjak 34 tahun dan sudah jadi ibu dari 4 anak, harusnya nggak masalah sih. Orang luar memandang keluarga Carmine sebagai contoh keluarga ideal. Kalau saja mereka tahu, hampir setiap hari wanita itu ingin menyerah saja dan bunuh diri.

Wednesday, January 24, 2018

Belajar menghormati Alam lewat Jejak

Judul: Jejak
Penulis:  Alishba
Penerbit:  Clover
Terbit :  2017
Tebal:  176 halaman
ISBN:  9786024286996
Dibaca via Scoop Premium
 

36740172



Saya selalu tertarik dengan buku yang berkisah tentang pendakian gunung. Mungkin, ini untuk mengakomodasi impian saya yang sampai saat ini belum sempat mendaki gunung selain Gunung Api Purba Nglangeran yang belum bisa disebut sebagai gunung, lebih tepatnya bukit wkwkwk. Naik gunung bagi kawan-kawan yang pernah ”muncak” adalah sebuah pencapaian istimewa. Beda-beda tujuan orang naik gunung, mulai dari merayakan suatu pencapaian, melihat sunrise, atau mencari tempat tenang untuk merenung. Apa pun itu, gunung memang mampu memberikan suasana purba di era serba modern seperti saat ini. Saat muncak, kita disadarkan kembali tentang fananya kita sebagai manusia. Betapa sesungguhnya kita teramat kecil di hadapan alam raya yang sangat luas. Betapa sejatinya kita tidak pernah bisa lepas dari karunia Tuhan yang terus-menerus tercurah sedemikian banyak sehingga kita kerap alpa mensyukurinya. Mungkin, inilah yang mendorong para pendaki tangguh di luar sana.

Monday, September 18, 2017

Sceduled Suicided Day, Kisah Perencanaan Bunuh Diri yang Manis


Judul: Sceduled Suicided Day
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: 280 hlm
Cetakan: Pertama, April 2017
Penerbit: Haru

35049954

Dengan sampul yang “dark’ dan judul yang menjurus ke cerita depresi, orang mungkin akan menganggap novel ini berisi kisah yang gela-gelap suram ala Holy Mother dan The Girl in the Dark. Kenyataannya, novel ini ternyata kisahnya manis dan malah mengingatkan kita pada bacaan komik remaja yang penuh kupu-kupu beterbangan. Walau penulis juga membumbui dengan cerita ala-ala detektif, banyak pembaca yang sepertinya lumayan kecewa dengan menurunkan rating untuk buku ini. Bagi yang mengikuti karya-karya Akiyoshi Rikako di Indonesia, membaca buku ini mungkin memang akan terasa sedikti jomplang. Pasalnya, setelah kita dibikin terkaget-kaget dalam Holy Mother, buku selanjutnya ternyata menghidangkan kisah remaja yang manis. Tetapi bagi saya, bagaimana penulis berkisah dan bagaimana ia mampu menghibur pembaca selalu menjadi poin utama penilaian. Sekali lag, saya bertepuk tangan dalam diam setelah selesai membaca novel ini.

Friday, October 28, 2016

Holy Mother, Ibu akan Selalu Melindungimu



Judul: Holy Mother
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: 280 hlm
Cetakan: 1, Otober 2016
Penerbit: Haru

32450412

Pertama kali membaca karya Akiyoshi Rikako, saya jadi tahu kalau dia adalah penulis yang gemar menipu dan mempermainkan pembacanya. Tapi, bukan dalam artian yang jelek. Novel  The Girl in the Dark mempermainkan pembaca sejak awal, membuat kita menebak-nebak siapa si pelaku. Dan seiring dengan berakhirnya cerita, penulis dengan seenaknya (atau dengan lihainya) mengugurkan semua tebakan pembaca dengan twist yang membuat pembaca tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan acungan jempol dan minimal empat bintang. Iseng saya mencoba mencari-cari plothole yang bisa merusak twist ala penulis, tapi susahnya minta ampun. Penulis ini rapi banget menyembunyikan jebakan, membangun cerita, dan bikin pembaca kecele.

Monday, November 17, 2014

Simfoni Kematian

Judul : Simfoni Kematian
Pengarang : Abdullah Harahap
Tebal : 160 hlm
Penerbit : Bintang Usaha Jaya

Kover tidak dipajang karena terlalu mesum tidak ketemu datanya di internet


Membaca Simfoni Kematian ibarat flashback menonton film horor tahun 1980-an yang mengambil setting di sebuah desa terpencil dan dikelilingi hutan dan pegunungan. Dengan meyakinkannya penulis mengambarkan suasana pedesaan yang sunyi senyap sehabis magrib. Tidak ada lagi orang yang meronda, nonkrong di warung kopi, apalagi main di warnet. Walau tidak dijelaskan, setting waktu novel ini diperkirakan sekitar tahun 80-an akhir atau paling banter tahun 90-an awal, ini dilihat dari masih jarangnya mobil pribadi, belum maraknya sepeda motor, sementara angkutan umum masih laris dinaiki. Dalam sebuah adegan, Ansari bahkan dimarahi kakaknya karena datang tanpa menulis surat terlebih dahulu. Jadi, bisa disimpulkan, telepon belum masuk ke desa tersebut. Untuk tempat, walau penulis menyebut di sebuah desa di Sumatra, namun logat atau dialek atau karakter Sumatranya sangat minim. Namanya juga horor, jadi penulis pastinya lebih menekankan pada sisi horornya. Dan beliau berhasil.

Berkebalikan dengan sampulnya yang agak seronok tapi serem-serem sedikit, isi buku ini sangat bagus dan sama sekali tidak terkesan sebagai sebuah karya mesum atau stensilan. Sangat jauh berbeda. Saya pikir, si pembuat sampul pasti tidak membaca buku ini saat dia mengarap sampulnya, yang mana masih dilukis tangan. Sayang sekali saya tidak menemukan file sampul buku ini diinternet, mungkin karena sangking jadulnya. Saya gambar saja sekilas sampul buku ini: ada gambar cewek bahenol dengan pakaian minim dalam posisi seperti tengah mengelinjang *haduh* trus di atasnya adalah gambar hutan dengan tengkorak-tengkorak dan juga sesosok pocong di latar belakang. Hiyaaaa…. Sekali memandang, orang pasti salah mengira isi buku ini, dikiranya pasti novel mesum ala ala supir truk yang dikerjain hantu-hantu cewek. Ya, memang di awal seperti itu, tapi semakin ke belakang semakin tidak kok. Saya sangat yakin, novel ini salah sampul.

Lalu, bagaimana cerita sendiri? Kisah dibuka dengan tibanya Ansari di kampong halamannya. Jam dua dini hari! Dan sudah tidak ada ojek yang mangkal. Itu wajar. Yang tidak wajar adalah kondisi kampungnya yang kini sunyi senyap, nyaris tanpa ada orang yang keluar rumah. Ini ditambah dengan kabut misterius yang bergulung-gulung serta lolongan anjing di kejauhan. Belum terjawab rasa penasarannya, dia dihampiri sebuah dokar yang dikusiri oleh sesosok kakek yang mengenakan pakaian serba hitam. Si kusir misterius menawari Ansari diantarkan ke rumahnya. Karena capek dan sudah sepi, Ansari menyanggupi. Anehnya, selama di kereta kuda, perjalanan yang biasanya lama jadi terasa cepat. Di samping itu, Ansari juga sempat menyaksikan sosok-sosok anjing misterius yang menyongsong di kegelapan, sebelum kemudian serempak terdengar koor lolongan anjing di seantero kampong. Sebuah simfoni lolongan yang menandakan telah jatuh satu korban lagi.

Sesampai di rumah sang Kakak, Ansari menceritakan pengalaman mistisnya. Diceritakan pula bagaimana dia sempat dikejar gerombolan anjing. Kakak dan iparnya kaget, setelah diceritakan, barulah Ansari mengetahui kalau kusir misterius itu adalah Mbah Renggo, yang sudah meninggal 10 tahun sebelumnya. Esoknya, warga desa digembarkan dengan penemuan sesosok mayat suir truk dengan kondisi yang mengenaskan. raganya dicabik-cabik anjing liar dengan kondisi mayat yang sudah kering, semua darahnya seperti telah disedot habis. Dan dia adalah korban ke-4.

Salah satu ciri khas tulisan beliau memang hantu hantu yang gemar menyedot darah korbannya. Korban biasanya seorang pria hidung belang atau yang bernafsu tinggi. Mau tahu bagaimana darahnya disedot? Disedot saat korban diajak berhubungan badan, dan nyedotnya lewat *maaf* selangkangan #duh. Namun selain ciri khas ini, penulis tetap mempertahankan style tulisan model lama, yakni tokoh protagonis yang mendekati sempurna. Si Ansari ini digambarkan sebagai bujang dari kota yang tampan, sopan, pemberani,gentle, dan taat beribadah. Bagian adegan mesum hanya ditampilkan satu kali, tetapi agak gimana gitu bacanya soalnya mesum trus mati hiyaaaaa *tutup mata

Buku ini adalah seri pertama dari judul yang sama. Seri kedua entah saya bisa menemukannya atau tidak soalnya seri pertama ini juga nemu di onggokan buku bekas seharga 3rb di Shopping Centre. Walau sampul mesum, tak dinyata isinya sangat sopan bila dibandingkan dengan novel-novelnya ChrisMor misalnya (sungguh perbandingan yang tidak adail), bahkan mengajarkan pada pembaca tentang pentingnya ibadah dan berbuat baik. Bahwa tidaklah layak manusia takut kepada setan, karena kepada Tuhanlah seluruh mahkluk di semesta ini tunduk. 

Saturday, May 24, 2014

Pembunuhan atas Roger Ackroyd



Judul : Pembunuhan atas Roger Ackroyd

Pengarang : Agatha Christie

Penerjemah : Maria Regina

Cetakan : 4, 1992

Tebal : 338 halaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





                Karya ini oleh para pengamat disebut sebagai salah satu karya terbaik yang pernah ditulis oleh sang ratu cerita detektif. Kisah pembunuhan Roger Ackroyd ini memiliki ending yang tak tertebak, sangat menipu dan entah sudah berapa ratus ribu orang yang menepuk jidatnya sendiri karena kecele dan salah mengira siapa sang pembunuh yang sebenarnya. Khasnya Tante Agatha, dia mengisahkan ceritanya dengan berbelok-belok dan melebar ke mana-mana, tetapi masih enak untuk dinikmati dan anehnya tidak membosankan. Setelah disuguhi alur cerita yang kompleks, munculnya persoalan-persoalan tak terduga, dan datangnya orang-orang baru; pembaca kemudian ditantang untuk menemukan siapa sang pelaku. Dan hebatnya, semuanya diselesaikan lewat deduksi sederhana.  

               Pembunuhan atas Roger Ackroyd terbit pertama kali tahun 1926 dan langsung membuat gempar dunia pembaca karena cara Agatha Christie menyelesaikan kasus ini begitu di luar dugaan dan di luar pakem cerita-cerita criminal. Jika Anda pernah membaca karya-karya Tante Agatha lainnya, buku ini termasuk salah satu yang endingnya bikin pembaca terhenyak. Efeknya sangat membikin “tepok jidat” sebagaimana saat kita membaca Buku Catatan Josephine dan Sepuluh Anak Negro. 
 
               Tuan Roger Ackroyd ditemukan telah tewas karena racun di ruang kerjanya. Tidak diketahui siapa pembunuhnya dan polisi pun kebingungan karena ada banyak sekali alibi serta orang-orang terdekat yang punya motis untuk membunuh sang tuan tanah kaya itu. Nyonya Ferrars adalah tersangka utama, tetapi keponakannya juga punya motif, begitu pula sejumlah orang asing yang memiliki masalah piutang dengan pria tua kaya itu


             Tuan Ackroyd juga memiliki seorang putra, Ralph Patton, yang berandalan dan hanya hidup untuk bersenang-senang. Sebagai calon pewaris utama kekayaan keluarga, anak itu telah membuat ayahnya kecewa. Maka, kecurigaan pun langsung mengarah kepada sang anak muda. Siapa saja pasti langsung bisa menyimpulkan kalau Ralph adalah sang pembunuh karena ia tidak sabar menunggu mendapatkan uang warisan. Hubungannya yang tidak pernah baik dengan sang ayah juga semakin mendukung dugaan ini. Untungnya, Flora, keponakan Ackroyd mampu berpikir jernih dengan meminta bantuan Tuan Hercule Poirot yang memang baru pindah ke King’s Abbot. Diceritakan semuanya kepada pensiunan detektif ini dan dengan tekniknya yang khas, Poirot melacak satu demi satu benang ruwet yang membuat kasus ini terlihat begitu rumit. Beragam peristiwa datang susul-menyusul, berbagai karakter baru muncul dan saling berinteraksi; semuanya memunculkan semakin banyak kemungkinan. Sampai-sampai, saya merasa agak bingung mau kemana cerita ini dibawa. 

Di seri inilah pembaca diperkenalkan untuk kali pertama dengan “sel-sel kelabu” dalam otak milik Poirot yang sangat legendaris itu. Dari sel-sel inilah Poirot mengaku mendapatkan kemampuan analisisnya yang luar biasa. Hal ini, dipadukan dengan tindak tanduknya yang nyentrik akan mengingatkan kita akan Holmes, tetapi setelah banyak membaca tentang Poirot pembaca akan menemukan perbedaan di antara keduanya.  Pada akhirnya, ketika Poirot berhasil menemukan sang pelaku (yang pasti akan sangat mengejutkan pembaca), maka telah muncul lagi satu lagi detektif ulung yang mampu menata logika dan piawai memisahkan antara fakta dan cerita. 


Misteri Hilangnya Agatha Christie selama 11 Hari
Kehebohan  novel The Murder of Roger Ackryoid ini selain dari endingnya yang tak tertebak, juga turut disebabkan oleh peristiwa menggemparkan yang terjadi pada sang penulis. Beberapa bulan setelah buku ini terbit, tepatnya pada 4 Desember 1926, polisi menemukan mobil Agatha Christie mangkrak dalam kondisi kosong tanpa ada pemiliknya. Pemiliknya diketahui keluar rumah dengan menggendarai mobil itu beberapa jam sebelumnya. Tapi, tidak ada yang tahu di mana dan bagaimana keadaan Agatha Christie saat itu. Keberadaannya seolah hilang tanpa jejak, raib begitu saja. Maka, Inggris pun heboh, bahkan seluruh Eropa ikut heboh dengan hilangnya sang penulis. Suaminya, Archie Christie, menjadi tersangka utama. Hubungan keduanya memang sedang renggang, bahkan proses perceraian sudah dan sedang berlangsung. Banyak orang yang kemudian mencemaskan kemungkinan terburuk, bahwa Agatha akan bunuh diri sebagaimana yang dilakukan oleh salah satu karakter dalam novel The Murder of Roger Ackroyd. 

Ratusan polisi dikerahkan untuk mencari keberadaan sang penulis. Media heboh dan surat kabar tak henti menulis beragam artikel atau berita tentang peristiwa ganjil ini. Tepat selama 11 hari, Agatha Christie diberitakan telah raib dan tak diketahui keberadaannya, sampai akhirnya ia tiba-tiba muncul begitu saja di Swan Hydropatic Hotel, sebuah resor spa. Dia menggunakan nama palsu dan mengaku berasal dari Cape Town, Afrika Selatan, dan mengaku datang ke tempat itu untuk menghilangkan stress dan tekanan dalam kehidupan perkawinannya. Sampai sekarang, tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukan atau di mana Agatha Christie selama 11 hari itu karena dia tidak pernah mau menceritakannya hingga akhir hayatnya. Tapi, satu hal yang pasti, penjualan novel The Murder of Roger Ackroyd  langsung melonjak tajam selama dan setelah peristiwa menghilangnya sang penulis. Sebuah bentuk promosi ataukah ini misteri lagi? Tak ada yang tahu.

Friday, September 13, 2013

And Then There Were None (Sepuluh Anak Negro)

Judul: And Then There Were None
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah:Mareta
Sampul: Satya Hadi Utama
Cetakan: 9, 2011
Halaman: 291 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

               
                Dari sekian banyak novel misteri pembunuhan karya maestro fiksi detektif Agatha Christie, And Then There None adalah salah satu yang paling tidak biasa sekaligus banyak disukai pembaca. Dengan label “Cerita detektif tanpa detektif”, buku ini tetap memukau dengan caranya sendiri, tetap membuat pembaca terhenyak di akhir cerita dan kemudian bertepuk tangan akan kepiawaian penulis dalam “menyesatkan” pembaca. Bagi saya, novel ini adalah salah satu novel Agatha Christie yang paling cepat saya baca karena saking serunya dan karena penasaran mengetahui siapa pembunuhnya. Efek membaca Lalu Semuanya lenyap ini sama dahsyatnya dengan ketika saya membaca Buku Catatan Josephine.

                Dalam Lalu Semuanya Lenyap, pembaca akan diajak rehat sebentar dari keseharian Miss Marple dan kecerdasan Hercule Poirot. Tidak ada yang menyangsikan kecerdasan keduanya dalam menguak kasus, tapi selingan ini juga cerdas dalam cara yang berbeda. Tidak ada detektif dalam novel ini. Tidak ada penyelidikan di dalamnya. Yang ada hanyalah teror, rasa penasaran, penjabaran dari jenis-jenis emosi dasar manusia ketika mereka tengah terancam dan saling mencurigai.

                10 orang yang tidak saling mengenal diundang ke sebuah rumah mewah yang ada di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Tidak ada yang mengenal siapa sang pengundang, yang jelas 10 orang itu hanya tinggal berangkat dan menikmati waktu mereka di pulau itu. Maka, satu per satu tamu berdatangan ke pulau terisolir itu dan pada hari yang telah ditentukan, genap berkumpul 10 orang tamu undangan (8 tamu dan 2 orang yang ditugasi sebagai pelayan) di pulau Negro. Acara yang semula penuh dengan ekspektasi kegembiraan berubah menjadi horor ketika sebuah kaset rekaman diperdengarkan, isinya mengancam akan ada balasan bagi 10 orang bersalah yang ada di pulau itu. Tidak lama setelahnya, korban pertama jatuh. Pemuda gagah itu tiba-tiba memekik dan jatuh mati begitu saja begitu menyesap minumannya setelah makan malam. Beberapa jam berikutnya, korban kedua jatuh di kamarnya sendiri. Dua dari  sepuluh, masih tersisa delapan.

                Dicekam ketakutan dan teror, 8 orang yang masih selamat menemukan bahwa masing-masing mereka akan menjadi korban berikutnya. Polanya mengikuti sebuah sajak berjudul 10 anak negro yang menghilang satu demi satu. Ada seorang pembunuh cerdas di rumah itu, menanti para korbannya lemah sementara mereka tidak bisa keluar atau melarikan diri dari pulau itu. Dan, sang pembunuh tidak membunuh secara acak, namun mengikuti pola yang ada dalam nyanyian sajak sepuluh anak negro. Dan akhirnya, satu per satu korban berjatuhan. Dan, ketidakadilan pun terbalaskan. Apa dan mengapa serangkaian pembunuhan itu dilakukan? Siapa sebenarnya si pembunuh misterius? Dan bagaimana ia membunuh satu per satu korbannya? Tante Agatha memang jagonya bikin pembaca penasaran. Sebuah buku yang wajib dibaca bagi penggemar cerita misteri.

                Seorang teman memberi tahu saya bahwa And There Were None pernah difilmkan, katanya sih settingnya di Indonesia. Yang lebih unik lagi, sajak 10 Anak Negro diterjemahkan dalam lirik lagi di bahasa Indonesia yang sudah kita kenal. Sayang dia lupa menyebutkan dimana ia mendapatkan film itu. Tentunya akan sangat asyik melihat bagaimana sajak itu diterjemahkan. Saya akan mencoba menerjemahkan dan menyadurnya di sini. Iseng amat ya hagagaga

            Tek kotek-kotek-kotek, Anak ayam  turun sepuluh
            Mati satu tersedak minuman, anak ayam tinggal sembilan.
            Mati satu ketiduran, anak ayam tinggal delapan
Mati satu dan tidak pulang, anak ayam tinggal bertujuh
Mati satu terkena potongan, anak ayam tinggal berenam
Mati satu kena sengatan, anak ayam tinggal berlima
Mati satu di depan pengadilan, anak ayam tinggal berempat
Mati satu karena tenggelam, anak ayam tinggal bertiga
Mati satu dimakan beruang, anak ayam tinggal berdua
Mati satu kepanasan, anak ayam tinggal satu-satunya.
Mati satu sendirian, anak ayam habislah sudah.