Search This Blog

Showing posts with label baca bareng BBI. Show all posts
Showing posts with label baca bareng BBI. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

100 Cupboards (Portal Petualangan)



Judul : 100 Cupboards (Portal Petualangan)
Pengarang : ND. Wilson
Penerjemah: Anggraeny Novitasari
Tebal: 260 hlm
Cetakan: 1, November 2010
Penerbit: Dastan Fantasy


9925587
            
                Henry York, dua belas tahun, terpaksa tinggal bersama keluarga paman dan bibinya di Kansas, di sebuah kota kecil yang juga bernama Henry. Seakan itu belum cukup aneh, Henry menemukan pintu-pintu kecil di seluruh dinding kamarnya yang ada di loteng. Total, ada 99 pintu yang disembunyikan di balik lapisan plester dinding kamarnya, dan Henry sempat-sempatnya lembur selama beberapa malam untuk mencongkeli seluruh lapisan plester di kamarnya untuk menemukan 99 pintu kecil dengan berbagai ukuran dan warna tersebut. Entah mengapa, paman dan bibinya membiarkan saja Henry “merusak” dinding kamarnya. Anak itu kesepian, dan mungkin dia telah menemukan sesuatu yang bisa menyibukkan pikirannya. Walaupun Henry berusaha menutupi temuannya, sepupunya yang bernama Henrietta ternyata berhasil mengetahui rahasianya. Dan mau tak mau, Henry sekarang harus berbagi rahasia tentang pintu rahasia itu dengan sepupunya yang sok mengatur dan suka ingin tahu itu.
               
                Apa maksudnya 99 pintu kecil di kamar Henry? Dan bagaimana cara membukanya? Well , hampir separuh buku ini dihabiskan dengan upaya Henry dan Henrietta untuk menemukan cara membuka pintu-pintu yang ukurannya bahkan hanya cukup untuk dimasuki satu tangan tersebut. Keduanya mengetahui, beberapa pintu mengarah ke suatu tempat yang asing, satu pintu yang berwarna hitam bahkan menguarkan sesuatu yang jahat. Bagaimana pintu-pintu itu ada di kamar henry, semuanya baru dijelaskan di belakang, setelah pembaca (eh saya) memutuskan menyerah bertanya-tanya karena saking bertele-telenya cerita ini. Nah mohon maaf jika saya spoiler, tapi saya hanya berusaha membantu pembaca agar waktunya tidak dihabiskan dengan sia-sia dengan membaca buku tipis tapi lama ini dengan menduga duga dan menebak-nebak.

                (Awas spoiler), jadi ada 99 pintu kecil di kamar Henry yang masing-masing mengarah ke berbagai dunia dan dimensi. Masih ada satu pintu lagi di rumah itu, yakni pintu menuju kamar kakek yang selalu dikunci dan belum pernah bisa dibuka lagi semenjak Kakek Henry meninggal. Paman dan bibinya sudah berusaha untuk membuka pintu itu, tapi semuanya sia-sia. Anehnya, di dalam kamar itu sepertinya ada penghuninya, dari bawah pintu anak-anak sering melihat bayangan orang yang mondar-mandir di dalam kamar. Suatu kebetulan membuat Henry dan Henrietta berhasil membuka kamar kakeknya, dan mereka menjumpai sebuah lemari aneh di kamar itu (Tada …siap-siap Narnia mode on). Dinding sebelah belakang dari lemari itu dapat bergeser dan membuka menuju dunia lain. Jadi, total ada 100 pintu di rumah itu, 99 pintu kecil di kamar Henry dan 1 pintu di balik lemari.

                Cara kerjanya seperti ini: Kau harus mengeser kenop dari suatu alat menyerupai kompas dengan koordinat tertentu. Ketika kenop digeser, pintu di belakang lemari akan membuka menuju ke dunia lain sesuai dengan yang ditunjukan oleh koordinat dalam kompas. Anehnya (atau repotnya), kompas itu hanya bisa digeser di kamar Henry, tidak di tempat lain (sungguh merepotkan). Jadi, Henry harus bolak-balik dari kamar kakek ke loteng untuk membuka pintu rahasia, lari-lari naik dan turun. Konsep besarnya seperti itu, dan pembaca harus menunggu dulu selama hampir 80% buku terbaca sebelum diberitahu mekanisme pintu-pintu ajaib tersebut.

                Bagian menarik dari buku ini adalah menjelang akhir cerita. Setelah sebulan lebih saya ngantuk dan ogah-ogahan membacanya, cerita tiba-tiba mulai menarik setelah mekanisme pintu terkuak dan sedikit demi sedikit alur ceritanya bisa diikuti. Jadi, dalam suatu kejadian, ketika Henry dan Henrieta memeriksa pintu-pintu kecil di kamarnya, tanpa sengaja mereka telah membangkitkan kembali Nimiane, sang ratu penyihir yang selama ini terkurung dalam kegelapan. Dengan memanfaatkan keingintahuan anak-anak itu, sang penyihir menyusup masuk dan meminta sesuatu dari Henry yang ternyata telah membangkitkannya. Cerita mencapai klimaks ketika Henrietta hilang ke dalam salah satu dunia di balik lemari. Sementara di saat yang sama, Nimiane masuk ke dunia mereka dan mengincar Henry, mengancam akan melukai seluruh keluarga paman dan bibinya. Dan, petualangan sesungguhnya baru dimulai….
 



Thursday, October 30, 2014

Misteri di Bukit Cemara Kembar

Judul : Misteri di Bukit Cemara Kembar
Pengarang : Yunus Syamsu Budhi
Tebal : 90 hlm
Cetakan : pertama, 1983
Penerbit : Balai Pustaka

23471734


Enam anak tanggung menjelang remaja dari kota memutuskan untuk berkemah di kawasan pegunungan, tepatnya di kaki Bukit Kerdil yang pemandangannya sangat indah. Tiada obat yang semanjur udara segar dan hijaunya pepohonan untuk menghilangkan penat dan lelah akibat kesibukan dan kebisingan hidup di kota besar. Maka rencana disusunlah, perbekalan disiapkan, dan perjalanan menuju lokasi perkemahan pun dimulai. Tidak satupun dari mereka yang mengetahui, acara kemah mereka kali ini tidak hanya sarat petualangan, tetapi juga berbalut misteri.

Sesampainya di lokasi, keenam anak itu langsung disambut oleh Pak Kepala Desa. Mereka diizinkan berkemah di Kaki Bukit Kerdil selama tidak mendekati wilayah Bukit Cemara Kembar, sebuah bukit yang dinamai karena keberadaan dua pohon cemara tua yang tumbuh gagah di puncaknya. Tidak ada alasan khusus kenapa wilayah itu terlarang, kecuali bahwa daerah itu angker. Konon, sejak beberapa tahun yang lalu, sewaktu kawasan Bukit Cemara Kembar maish asri, banyak binatang ternak yang hilang saat sedang digembalakan ke sana. Tidak hanya kambing, tapi sapi dan kerbau juga sering hilang saat merumput di tempat itu. Bukit Cemara Kembar ada penunggunya, begitu kata Pak Kades.

Tapi yang namanya anak muda, semakin dilarang malah semakin penasaran. Dan untungnya, rasa penasaran itu malah berguna dalam kisah ini. Rizal, si pemimpin rombongan kemah, merasa ada sesuatu yang aneh. Kengototan Pak Kades yang melarang mereka mendekati Bukit Cemara Kembar seperti dipaksakan. Seolah-olah, Pak Kades tengah menyembunyikan, atau melindungi sesuatu. Maka, diputuskan malam hari pertama, anak-anak itu akan menyelidiki kawasan terlarang itu. Awalnya, hanya Rizal dan Irwan saja yang berangkat, dan saat itulah keduanya tahu mereka tengah diawasi, oleh sesosok remaja seusia mereka dari balik kegelapan hutan.

Penyelidikan ke Bukit Cemara Kembar menghasilkan temuan yang mencegangkan. Bukit itu memiliki lorong-lorong dan gua-gua rahasia, serta pintu-pintu tersembunyi dari batu. Sebuah konspirasi tengah dijalankan di bukit terpencil tersebut—sesuatu yang terkait dengan kriminalitas. Tapi, bagaimana dengan mitos hantu di Cemara Kembar? Kemana gerangan lenyapnya binatang-binatang gembalaan yang merumput di sana? Juga, siapakah sebenarnya orang-orang asing yang terlihat hilir mudik di dalam gua?

Membaca Misteri di Bukit Cemara Kembar mengingatkan saya pada buku-buku petualangan karya Enyd Blynton. Penerbitan buku ini di era tahun 1980-an juga tepat sekali, karena masa-masa itu menjadi zaman keemasan Lima Sekawan, Trio Detektif, atau STOP. Bedanya, buku ini menggunakan setting di Indonesia, kalau melihat dari plesetan namanya sih sepertinya di kawasan sekitar Kaliurang. Mungkinkah Bukit Kerdil itu Bukit Kendil yang ada di kaki Merapi? Juga, keberadaan desa Bebeng yang digambarkan ada di dekat lokasi perkemahan.

Membaca buku ini serasa kita diajak bernostalgia kembali ke masa-masa SD ketika anak-anak masih sibuk bermain layangan, masih percaya bahwa salju akan turun di bulan Desember, serta bermimpi bisa memetik beri liar di hutan. Indah sekali. Walaupun ada hal-hal yang terasa jandul (janggal karena jadul), tetap saja membaca buku ini menerbitkan kenangan kita akan masa kecil yang indah dan sarat petualangan di era 1990-an.


Friday, August 29, 2014

Serapium Punya Cerita, Kumpulan Cerpen

Judul : Serapium Punya Cerita, Kumpulan Cerpen
Pengarang : Serapium
Editor : Puspa Sari Ayu Yudha
Sampul : Iwan H
Cetakan: 1, 2014
Penerbit : nulisbuku.com




Sebagai pengantar dan pembuka, saya harus mengucapkan selamat dulu kepada 11 Kaskusers yang namanya tercantum manis di buku ini. Selamat, kalian telah membuktikan bahwa member kaskus tidak hanya bisa ramai di utas (thread) on line yang sering kali heboh melenceng ke mana-mana itu, tetapi kalian juga berhasil menuliskan sesuatu yang serius, yang layak tercetak di atas kertas. Melalui terbitnya buku ini, kalian telah membuktikan diri mampu bercerita. Tidak mudah menghasilkan sebuah tulisan berupa cerpen, pun merampungkannya juga tidak kalah sulitnya. Banyak di luar sana yang bercita tinggi ingin menghasilkan sebuah kisah yang hebat yang akan menggetarkan pembaca. Tapi, selama bertahun-tahun, impian itu hanya mengendap di dasar akal, tak terwujud nyata dalam goresan pena atau cetakan tinta karena beragam pembenaran. 

Mungkin, mereka hanya menunggu tibanya kesempurnaan. Padahal, dalam menulis, ada pameo yang menyebutkan bahwa tulisan pertama dimaksudkan untuk ditulis saja, bukannya menunggu sempurna. Sebelas penulis di buku ini telah membuktikannya. Mereka bergerak, mereka menulis, dan mereka berusaha. Walau mungkin belum sempurna, tetapi memang jarang sekali ada awal yang sempurna. Sejatinya, yang belum sempurna tapi ada, itu jauh lebih berharga dari yang sempurna tapi hanya angan semata.

1. Secangkir Kopi untuk Tuhan
Tepat sekali membuka buku ini dengan cerpen ini. Saya suka dengan idenya. Menggambil setting sebuah café (setting klise yang sangat digandrungi para penulis muda akhir-akhir ini) dengan pemilik baik hati yang mau menjadi pendengar yang baik. Kisah ini adalah model cerpen dengan ending yang mengejutkan tetapi dimaksudkan untuk happy ending. Ide dan ceritanya bagus, hanya saja kurang dipadatkan. Ceritanya sebenarnya bisa dipendekkan lagi tanpa mengurangi esensi yang hendak disampaikan.

2. Kisah di Balik Hujan
Temannya klise lagi, tentang hujan, yang menurut penelitian memang bisa membangkitkan inspirasi bagi siapapun untuk merenung dan bercerita. Model berceritanya unik, dibagi-bagi menjadi bab-bab kecil yang menyerupai diari atau catatan jurnal tentang sepasang kekasih yang LDR-an. Kayaknya, penulisnya setuju deh sama anggapan bahwa hubungan LDR itu gak akan berhasil hihihihi. Sayangnya, sama seperti kecenderungan penulis pemula, banyak sekali kalimat-kalimat nggak efektif yang terlampau panjang. Juga kegalauan mengharu biru akibat LDR yang seharusnya bisa dibuat sederhana, kalau panjang-panjang begini jadinya malah kayak membaca curhatan orang LDR. 

3. Amy
Tema ketiga juga sama klise-nya, tentang Senja. Kayaknya, cerpen Seno “Sepotong Senja untuk Pacarku” itu benar-benar ampuh sebagai pemantik inspirasi menulis cerita tentang senja. Sejak itu, banyak orang menulis tentang senja dan menyadari keindahnya sebagai bahan cerita, terutama penulis-penulis pemula yang masih dibuai takjub oleh karya SGA itu. Untuk Amy, walau temanya klise namun saya malah menyukai cerita ini. Makna senja bagi orang buta sebagian, yang bagi mereka hanya hitam dan putih tetapi sudah menghangatkan. Cerpen ini menyadarkan saya betapa beruntungnya kita dan bahwa ada keindahan dalam semua warna.

4. Kado untuk Alice
Akhirnya, setelah 3 tema klise, saya bertemu juga dengan tema yang menyegarkan. Kisah keempat ini menjurus ke kisah inspiratif, tentang seorang kakak yang berjuang keras untuk bisa membelikan kado kepada adik kecilnya. Keduanya tinggal di panti asuhan dan ditelantarkan oleh ayahnya. Berkat kerja keras sang kakak, sang adik akhirnya memperoleh kado yang luar biasa. Secara cerita, saya suka alurnya. Hanya saja ada satu masalah logika. Itu ulang tahunnya dirayakan di luar pada tengah malam. Padahal (1) Alice baru 5 tahun dan dia sakit-sakitan, masak iya diajak jalan-jalan dini hari, (2) mereka makan di restoran sushi. Emm, masih adakah resto sushi yang buka setelah jam 12 malam sampai matahari terbit? (Mungkin di Jakarta ada sih, saya juga tidak tahu.)

5. The Chronicles of Shapeshiter: Hiren si Licik
Cerita ini ibarat satu permata dari genre fantasi yang menyelip di kumcer yang dikuasai oleh belantika romansa—meskipun isinya ternyata juga tidak jauh-jauh dari romansa ala fanfik luar. Ceritanya rapi dan runtut, mengingatkan saya kepada karya teman-teman Kastil Fantasi di Fantasy Fiesta. 

6. Saat Malam Tanpa Bintang
Dari judulnya yang unik, saya langsung tahu kalau cerpen ini dipaparkan juga dengan unik, yakni model dialog. Saya saangat menyukai diksi cerpen ini, penulisnya pasti sering baca cerpen di surat kabar Minggu. Kekurangannya: Terlalu singkat dan kurang panjang :p

7. Koleksi Tanda Tangan Penulis
Ok, yang ini menurut saya belum bisa disebut sebagai cerpen, melainkan berbagi pengalaman. Tapi, anehnya, saya suka karena si penulis tahu benar bagaimana perasaan dan pengalaman kita sebagai para pecinta dan/atau penimbun buku. Saya pengen toss sama penulisnya.

8. Jika Cinta Punya Masa Berlaku
Cerpennya Chei ini nge-jlebb banget, tapi bikin pembacanya merenung (*kemudian saya ikut merenung). Tentang kita yang kadang terlalu memilih dan mengharap cinta yang sempurna, sampai akhirnya waktu berlalu dan kita bersama-sama menyanyikan lagunya Maudy Anyunda yang Cinta Datang terlambat. Ceritanya teenlit banget, juga diksi yang digunakan juga diksi ala remaja. Selamat ya Chei, cerpen yang bagus tidak selalu harus memakai kata-kata berbunga. Banyak penulis remaja, pengen menulis cerita remaja, tetapi kata-katanya berbunga dan beraroma sastra, padahal pembacanya anak-anak remaja. Syukurlah Chei tidak melakukannya di cerpen ini. Btw, emangnya kamu masih masuk remaja ya Chei? *ditampar bolak-balik* Selama dia bisa dinikmati oleh pembaca, saya menganggap cerpen itu sudah bisa dibilang bagus. Dan, saya menikmatinya. Tapiii, itu Brian kok setia bangets sih, kayaknya too good to be true!

9. Mencintaimu
Dari judulnya, kayaknya cerpen ini bakalan sendu deh. Dan, nah bener kan sendu. Membacanya mengingatkan saya pada novel karya Mbak Sannie B. Kuncoro yang judulnya duh lupa. kekurangan cerpen ini: terlalu tipis.

10. Senja Merah Jambu untuk Pacarku
Nah ini, ketemu lagi sama satu pembaca yang begitu terpesona pada puisinya Seno, yang saking terpesonanya kemudian tergerak untuk menulis dengan tema yang sama. Untungnya, penulisnya kreatif dengan mengubah senja di sini menjadi pingky alias merah jambu. Tapi, ujung dan tema ceritanya sama, bahwa manusia akan rela berbuat apa saja demi C.I.N.T.A (*nyanyi lagi)

11. Harta yang Paling Berharga
Cerita terakhir ini adalah yang paling sempurna bagi saya. Dari segi panjangnya, alurnya, ketegangan yang dihasilkan, efek yang ditimbulkan. Sayangnya, typo dan spasi renggangnya berjibun banyaknya. Aduh ini editornya bagaimana ya? *eh maaf ya.

Secara keseluruhan, saya menikmati membaca kumcer ini meskipun dalam pandangan professional saya sebagai editor (nonfiksi tapinya), banyak cerita di dalamnya yang belum matang untuk bisa disebut kumcer. Beberapa tulisan seperti no 8 dan 11 bisa dibilang tinggal dipoles sedikit. Tapi banyak cerita yang lain yang masih setengah matang dan perlu banyak polesan ulang, penulisnya juga butuh banyak baca cerpen cerpen di luar genre favoritnya. Kesalahan paling fatal di buku ini adalah begitu banyaknya typo, kesalahan penulisan huruf kapital, juga settingannya yang masih ala-ala tulisan di blog. Sebagai buku cetak, tentunya kualitasnya harus lebih ditingkatkan, dipoles lagi, jadi bukan seperti cerita yang ada di blog.

Saya juga menyayangkan editornya (maaf ya Mbak) yang sepertinya kurang maksimal dalam mengedit naskah buku ini. Selain typo akoet, fasilitas “gunting editor” sepertinya kurang banyak diterapkan sehingga banyak sekali bagian-bagian yang seharusnya bisa dipotong sedikit biar tidak gondrong jelek. Juga, kalimat-kalimat yang masih kaku. Tapi, mengubah gaya menulis penulis adalah hal yang tabu bagi editor, jadi ini bisa sedikit dimaklumi. Susah dan kadang dilemma sih kalau mengedit cerpen. Saya tahu ini diterbitkan di penerbit indie, dan bisa saja karena suatu atau lain hal, para penulisnya harus menghemat. Tapi, sebagai karya perdana, alangkah indahnya jika kesempurnaan itu dicoba untuk sedikit dikejar. Paling tidak, baiknya naskah ini diedit dengan semaksimal mungkin walau mungkin belum sempurna. 

Terlepas dari itu, saya tetap mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan review saya. Bahwa mereka yang berkarya sibuk berbuat nyata. Sedang yang diam tak bergerak hanya asyik mencibir semata. Semoga saya bukan termasuk yang hanya bisa mencibir semata. Kami tunggu karya-karya teman-teman Serapium selanjutnya. Kalian keren!


Terima kasih Mbak Truly yang sudah meminjamkan bukunya

Thursday, August 14, 2014

The Boy who Ate Stars


Judul : The Boy who Ate Stars
Pengarang : Kochka
Penerjemah : Rahmani Astuti
Tebal : 104 hlm
Cetakan : 1, 2008
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
 
[cover.jpg]

                Buku ini tipis sekali, saking tipisnya saya langsung selesai membacanya sekali duduk dalam perjalanan naik transJogja yang hari itu padat sekali sampai perjalanan dari Malioboro ke Prambanan yang biasanya hanya 40 menit molor menjadi 2,5 jam (numpang curcol). Tapi, meskipun tipis, buku ini fokus sekali membahas tentang gejala autism secara lengkap dan (ini yang saya suka) sederhana. Tanpa dibuat rumit, penulis mencoba menjelaskan gejala rumit ini lewat sudut pandang Lucy yang berusia 12 tahun. Yang berarti, pembaca akan belajar tentang autisme lewat sudut pandang anak SD yang bukannya membosankan, tapi malah menyenangkan dan unik. Tidak perlu rumit-rumit, kadang yang sederhana malah lebih mengigit.

                Gejala autisme adalah sebuah keistimewaan dalam dunia psikologi. Orang-orang dengan autism hidup di dunia mereka sendiri, berpusar di planetnya sendiri. Sangat sulit untuk berkomunikasi dengan mereka, dan mereka sendiri juga jarang mau berkomunikasi dengan orang-orang di luar planernya sendiri. Kadang, sangat sulit untuk memahami anak istimewa seperti mereka, tetapi ketika mau mencoba memahami kondisi mereka, sesungguhnya mereka itu istimewa. Kisah hangat namun penuh pemahaman dalam buku tipis ini membuktikannya.

Lucy, seorang anak kecil berusia 12 tahun, menemukan Matthew, seorang penderita autism berusia 4 tahun yang kemudian menjadi temannya. Sebagai anak kecil, awalnya Lucy menganggap Matthew hanya anak nakal biasa yang tidak mau menurut kepada orang tuanya. Tapi, pelan dan pasti, ia menemukan bahwa Matthews berbeda, dia istimewa. Penjelasan dari Ibu Matthew tentang kondisi anaknya telah memunculkan pemahaman baru dalam diri Lucy. Sebuah pemahaman baru tentang autisme yang jauh lebih mudah dipahami ketimbang istilah-istilah kamus yang terlalu asing.

“Orang-orang autistik berbeda, mereka tidak terbuka terhadap orang lain, dan mereka menarik diri. Dunia tidak ada di luar diri mereka, dan hanya ada di dalam sana. Mereka hidup sendirian jauh di dalam dunia mereka, di dalam ruang yang tidak kita kenal sama sekali.” (hlm 38)

Seiring dengan semakin akrabnya persahabatan kedua anak ini, semakin Lucy menemukan hal-hal istimewa di dunia Matthew yang mungkin tidak akan dianggap ada oleh orang awam. Bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatupun dengan sia-sia di dunia ini. Bahkan Matthew pun terbukti memiliki fokus luar biasa, yang mengarahkannya untuk mengabaikan dunia luar, termasuk pesimisme, sehingga di penghujung buku ini, sebuah ending manis telah menanti. Benar-benar cerita yang menghangatkan hati.

Penggunaan sudut pandang anak-anak untuk menggambarkan kondisi anak-anak istimewa ini terbukti sangat berhasil dalam buku ini. Terutama ya itu, bisa menjelaskan gejala-gejala autisme secara sederhana dan tidak ribet. Pembaca akan belajar banyak dan mulai semakin memahami apa yang sebenarnya terjadi kepada anak-anak yang istimewa itu. Lucy juga masih menyimpan keajaiban anak kecil. Mereka cenderung memandang dunia dan orang-orang di dalamnya sebagai arena permainan, sama sekali tidak ada prasangka ataupun dugaan miring terhadap kondisi Matthews yang oleh orang-orang dewasa—yang tidak paham—dianggap sebagai anak bodoh. Lucy yang masih 12 tahun saja bisa, mengapa kita tidak?

Thursday, July 24, 2014

Bite Sized Magic (Sihir Segigit)



Judul : Bite Sized Magic (Sihir Segigit)
Pengarang : Kathryn Littlewood
Penerjemah : @PutroNugroho
Lulu Fitri Rahman
Sampul : iacopo Bruno
Cetakan: Pertama, 2014
Penerbit : Mizan fantasi


 22084254


                Ditutup dengan ajaib, tapi untuk pembaca anak-anak. Demikian kesan saya setelah merampungkan membaca tiga seri ini. Sungguh amat disayangkan, buku pamungkas dari seri Bliss Bakery Trilogy ini ternyata tidak lebih ajaib dari buku pertamanya, walau ending buku memang sangat manis, semanis kue moony pye buatan Rosemary Bliss. Ada sesuatu yang kurang dalam buku ketiga ini. Taburan bubuk sihir, hilangnya stoples-stoples biru, atau Booke yang entah kenapa di buku ini sangat jarang muncul. Tapi, jika pembaca sudah telanjur mengikuti seri ini, lebih baik sekalian saja membaca buku ketiganya. Harganya juga tidak terlalu mahal, plus ada bonus sampulnya yang biru menawan dan ada taburan bubuk sihir berkilauan dalam lembar-lembarnya, cocok sebagai buku koleksi atau hiasan yang indah di perpustakaan Anda. Jadikan set trilogy buku ini sebagai hadiah bacaan untuk pembaca usia anak-anak dan remaja, mereka pasti menyukainya.

                Sihir Segigit  masih mengusung tema yang sama sebagaimana dua buku sebelumnya, yakni sihir dalam makanan dan makna dari sebuah keluarga. Dalam buku kedua, Rose berhasil mengalahkan Bibi Lilynya yang jahat dalam pertandingan memasak paling bergengsi di dunia, Gareaux Grands. Kemenangan itu menjadikannya pemenang termuda (12 tahun) dalam sejarah penyelengaraan  kompetisi memasak di Paris itu. Booke berhasil kembali dia rebut dari Bibi Lily, dan Rose pun tiba-tiba menjadi selebritis dadakan. Kehebohan langsung menyergap Calamity Fall begitu para wartawan mengetahui Rosemary Bliss, sang pemenang termuda, tinggal di sana. Untuk sesaat, Rose berharap tidak perlu membuat roti lagi. Dan, harapannya terkabul, dalam cara yang lain.

                “Mengerjakan hal yang kau cintai dan melakukannya sebaik-baiknya.” (hlm 282)

                Kesuksesan Rose telah membuat pihak-pihak lain iri, terutama asosiasi pengusaha makanan terbesar di dunia, Mostess Snack CafĂ© Coorperation, yang kemudian menculiknya. Mereka memaksa Rose untuk menyempurnakan produk makanan mereka (yang kaya akan bahan pengawet dan pewarna buatan). Untuk pertama kalinya, Rose membuat roti karena terpaksa. Lebih buruk lagi, roti yang dia buat mengandung komposisi terlarang yang akan membuat seluruh orang yang memakannya menjadi zombie makanan. Masalah semakin parah ketika pihak Mostess menahan orang tuanya dan Balthazar sebagai sandera agar Rose mau melakukan perintah keji membuat roti-roti berbahan sihir jahat.  Mostess ingin membuat roti yang sempurna, yang tidak hanya nikmat tapi juga indah dilihat, dan bisa diproduksi secara missal plus tahan lama.

                Rasanya ada yang menggerikan dalam kesempurnaan produk buatan mesin semacam itu.” (hlm 71)

                Dengan berusaha tetap waras, Rose diam-diam membuat roti penawar di samping roti zombie yang dia resepkan. Banyak rintangan menhadang, tetapi pada akhirnya terbukti bahwa keluarga selalu Anda ketika kita membutuhkannya. Rencana sekeji apapun akan terasa mudah dihadapi ketika kita bersama-sama dengan keluarga. Dua malaikat penolong (yang lebih seringnya malah menganggu) datang membantu Rose, Thy dan Sage. Bersama kedua saudaranya itu, dan para koki kue yang telah tersadarkan atas kekejian Mostess Corp. bergerak untuk melawan diam-diam. Mampukah tiga remaja itu mengalahkan jaringan toko kue dan roti terbesar di Amerika Serikat? Dengan keluarga yang siap sedia berdiri di samping kita, sepertinya tidak ada yang tidak mungkin.

                “Mama punya anak-anak yang istimewa. Kalian baik dan cerdas, dan kalian akan saling menjaga. Kalian akan baik-baik saja.” (hlm 268)

                Sehangat kue kukis yang baru dikeluarkan dari pemanggang, buku ketiga ini kembali menghadirkan aroma kekeluargaan nan hangat sebagai senjata utama. Tidak ada sihir yang sanggup mengalahkan kuatnya ikatan persaudaraan dan persahabatan. Keluarga Bliss membuktikan, bahwa masalah apapun tidak akan terasa berat jika dihadapi bersama, bahu membahu, bantu-membantu, karena itulah guna sebuah keluarga. Sebuah penutup yang manis, walau menurut saya masih terlalu tipis untuk sebuah buku penutup trilogy. Masih banyak cerita yang belum disampaikan. Kisah-kisah hebat yang urung terungkapkan. Tokoh-tokoh baru yangmasih disembunyikan. Buku ini masih terlalu sederhana untuk bisa dibilang sebagai sebuah karya yang utuh. Tapi, mengingat ini adalah buku untuk anak dan remaja, rasanya pembaca dewasa bisa memakluminya.

                Semoga, masih ada kelanjutan dari serial keluarga Bliss. Mungkin ketika Rose sudah lebih dewasa. Akan saya nantikan perang epic antara Keluarga Bliss melawan Asosiasi Penggilas Roti yang pasti bakal sangat seru. Semoga!

Monday, June 2, 2014

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Judul : Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Pengarang : Dewi Kharisma Michellia
Sampul : Eka Apriliawan
Cetakan : Juni 2013
Tebal : 236 hlm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


 

            Ada surat panjang yang terlambat sampai. Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan. Sebuah surat—bukan, surat ini panjang sekali dan juga indah, mungkin lebih tepat disebut sebuah kenangan dalam  sebundel surat. Dan siapa pengirimnya? Dia adalah seseorang yang merasa sebagai alien yang tengah tersesat di Bumi. Tunggu sebentar, ini bukan tentang sebuah sinetron di katanya menjiplak milik Korea. Ini adalah surat panjang, penuh oleh kenangan maupun pengalaman, yang harus coba kau baca agar kau jadi jauh lebih bijaksana.

            “Seorang manusia tidak boleh berhenti bernimpi—dan tidak boleh menghentikan mimpi orang lain.” (hlm 99)

            Semua berawal dari mimpi seorang wanita, ia belum menikah padahal sudah kepala empat, Mimpinya adalah menikah dengan pria masa kecilnya—yang masing-masing tidak akan menikah kalau bukan satu sama lain. Tapi pagi itu, undangan pernikahan si pria datang ke apartemen wanita itu. Maka, mulailah wanita itu menuliskan surat panjang berisi curahan hatinya, juga kisah hidup dan liku-liku pengetahuannya, pandangannya tentang dunia, untuk kelak dikirimkan agar dibaca si pria yang telah lebih dulu melanggar janji mereka berdua.

            Total ada 37 surat yang benar-benar panjang dalam buku ini. Benar-benar panjang dan tidak menjelma surat karena isinya begitu bernas, begitu padat, begitu kaya, juga begitu penuh ungkapan hati yang tak tersampaikan. Si wanita alien terus menanti sang pria, tetapi dunia terus berputar dan kadang janji akan menghilang. Di zaman seperti ini, murah sekali harga sebuah janji. Tapi untungnya si wanita sadar. Dia harus move on, dalam hidupnya yang melajang dan kesepian—hanya berteman baik dengan seorang pemilik toko buku yang gay—si wanita memutuskan untuk sehat. Ia harus menikmati dan menjalani kehidupan. Karena, seperti kata ungkapan-ungkapan bijak, tragedi dan kemalangan datang silih berganti, tetapi hidup harus tetap berlanjut.

            “Kesedihan membuat seseorang tidak menjadi dirinya sendiri, memikirkan terlalu banyak hal, dan akhirnya mengalami sakit.” (hlm 105)

            Dalam surat panjang ini, si wanita mencurahkan segala isi hati, jelas-jelas bahwa dia wanita yang cerdas dan berkarakter. Curhat-nya dalam surat ini jauh dari alay, melainkan penuh dengan kerasnya pengalaman hidup yang telah menjadikannya wanita mandiri yang konsekuen dengan pilihannya sendiri. Sebagai wartawan, pengetahuannya tentang sejarah republic ini sungguh luas, yakinlah pembaca akan mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru terselip dalam buku ini. Mulai dari kerusuhan 1998, mumifikasi biksu di Jepang, database buku-buku bagus yang sebaiknya dibaca, sampai kebenaran tentang gadget.

            “Dengan alat-alat itu, semua orang di dalam bus tampak seperti tidak akan pernah membutuhkan satu sama lain.” (hlm 165)

            Begitu padat isinya, walau bersembunyi dalam sebuah surat. Pembaca yang mengira buku ini hanya kumpulan curhat sebenarnya rugi sekali. Surat-surat awal memang si wanita lebih banyak curhat, wajar mengingat dia baru dikhianati kekasihnya. Tetapi, semakin ke tengah, akan terasa sekali betapa berbobotnya buku ini. Banyak pengetahuan baru milik si wanita yang terbagi kepada kita, para pembaca, sekalipun surat-surat ini ditujukan untuk si pria. Dan, ketika seluruh surat selesai dan tidak bisa ditulis lagi, pembaca akan ditinggalkan untuk tercenung merenungkan makna hidup, bahwa setiap hidup adalah tanggung jawab masing-masing kita.


            “Pada akhirnya, setiap konsekuensi dari pilihanku harus kutanggung sendiri dan sberapa mampu aku dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan itulah yang menentukan kedewasaanku.” (hlm 98) 

Friday, May 30, 2014

K-Pop Salah Gaul

Judul : K-Pop Salah Gaul
Penulis : @vjheru93 dan @shaunmbeesheep, @DNRivernate, Widuri Astarini P dan yetsa Gustaviano (Buseyettt ini nulis buku apa mau tawuran yak?)
Penyinting eh penyunting : @andri_Nastar
Sampul : Kicky Maryana
Cetakan : 1. 2013
Penerbit : Wahyu Media





                Saya jarang bisa tertawa saat membaca buku humor. Entah humornya yang terlalu garing atau humornya terlalu berat, kemungkinan besar sih humornya sudah pernah saya baca. Tapi, segaring-garingnya manusia, lebih garing tahu kemul.Segaring-garingnya saya, lebih garing  Kpop Salah Gaul. Awalnya iseng baca buku ini di kantor, tak taunya saya ketawa sendiri pas jam kerja. Lebih hebatnya lagi, saya kemudian memburu seri buku ini dan bahkan iseng cari tahu di googling siapa itu Yoona, Amber, Sulii, Boa, Taemin, Chang Min, Jesicca, dan Sungjae. Nggak tau kan mereka? Sama, setelah googling dan nonton videonya, saya juga susah membedakan orang-orangnya yang kayaknya serupa tapi tak berbeda itu. Yang jelas, saya suka F(x) #halah


Yoseob             : Ya Tuhan Bang. Gue terharu banget. Sekian lama  lost contact sama Nyokap akhirnya dia sms gue juga
Junhyung       : Sms apaan?
Yoseob             : Mama minta pulsa. (hlm 41)
                               
                Ngahahaha, saya nggak tahu siapa itu Yoseob dan yang mana Junhyung. Entah mereka potongan belah tengah atau gaya mandarin (ceile mandarin, 90-an banget), yang jelas saya langsung ketawa spontan membaca humor yang garing ini. Siapa itu Kris dan apa itu Lee Jon saya juga ngak peduli. Yang jelas ketika para penulis memparodikan bintang-bintang Kpop itu dalam acara “Termehek-mehek Salah Gaul” mau tak mau saya harus ngampet ketawa juga.

Kris: Park Lee atau Om Joon. Saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa nih?
Lee Joon: Panggil saja saya, Cinta
Kris: Ah, nampan kayu! Kami akan bantu lo buat menemukan sesuatu yang berharga itu. Lu nggak perlu khawatir karena ada gue dan Tao yang akan membantu pencarianmu.
Lee Joon: Gue nggak sanggup kehilangan itu.
Tao: Sabar Joon. Orang sabar pant*tnya lebar, idungnya mekar #buset
Kris: Coba  ceritakan sedikit kisahnya. Biar kita bisa mulai ensiklopedi ini.
Tao: EXPEDISIIIIII … EXPEDISIIIII
Kris: Iya itu maksud gue. Ah berisik aja lo Tao
Lee Joon: Udah kalian berkelamin saja. Eh berkelahi saja. Ini saya mau cerita. Dengerin ya, duduk semuanya.
Tao: Ini udah kayak denger ceramah saja disuruh duduk.
Lee Joon: Waktu itu sih gue naik delman di situ tuh *tunjuk-tunjuk
Tao: Oh di situ *melet-melet
Kris: Di situ ya? *kedip kedip
GUE: *kejang-kejang*   (hlm 104 - 107)


Yang ini juga agak lucu (kalo kata saya sih):
Ilheon                  : Ntar Minggu, Gikwang ngajak gue flashmob nih dek.                  Mau ikut?
Sungjae                : Flashmob song apa?
Ilheon                  : poco-poco
Sungjae               : Yassalam ----- (hlm 42)

Sebenarnya, banyak guyonan garing dalam buku ini. Misalnya saja model humor-humor “dihatimu #eaaaa”. Tapi, karena pengemasannya beda, yakni menjerumuskan artis-artis Kpop yang manis-manis plastic itu (eh) ke dalam humor, jadinya sih ya agak lucu. Sebenarnya, humornya akan tambah lucu bila kita tahu siapa  orang-orang yang diparodikan dalam buku ini. Dan, ngebayangin mereka berbuat seperti dalam parodi ini memang sukses bikin ngakak. Salah satunya adalah Hyorin yang entah mengapa sering dipanggil “melon” dalam buku ini. Setelah saya googling ternyata … *keselek sapu*.

Hyorin                  : Kok mahal banget mba harga melonnya?
Mbk Kasir            : Lho, kan emang ibu belinya 3 buah
Hyorin                  : Gua beli cuma satu
Mbk Kasir            : *mikir keras* ----- (hlm 5) *maaf agak seksis*



Seenaknya sendiri ini para admin salah gaul, memplesetkan nama-nama boy band dan girlband Korea, yang malah bikin saya melongo ngak mudeng. Tapi, setelah saya tanya ke sodara yang Kpoper mutlak (haiyah bahasanya),  saya baru mudeng.  2 PM jadi Tupiyem, 2 am jadi Tuayam.


Joo, solois JYP yang cantik. Nama Panjang: Joooooooo. Fansclub: Sahabat Joo. Official lightstick: Abu-abu nyamuk kebon.



Begitulah dunia penerbitan. Sekarang ini, pembacalah yang lebih sering menentukan buku apa yang sebaiknya dicetak penerbit. Kesuksesan seri Kpop Salah Gaul sehingga bisa terus cetak ulang adalah karena kreativitas pada admin dan juga kejelian pihak penerbit dalam membidik pasar serta memanfaatkan tren yang baru. Industri kreatif memang terus bergerak, dan setiap kemungkinan bisa jadi merupakan celah keberhasilan selanjutnya. Seperti biasa, walau ini review buku humor tetap saja saya tidak bisa tidak berceramah di akhir review ck ck ck. 

sumber foto: smtsg.wordpress.com