Search This Blog

Showing posts with label Historical Fiction (Fiksi Sejarah). Show all posts
Showing posts with label Historical Fiction (Fiksi Sejarah). Show all posts

Wednesday, September 27, 2023

Berburu Buaya di Hindia Timur

 Judul: Berburu Buaya di Hindia Timur
Pengarang: Risda Nur Widia
Tebal: 154 halaman, Paperback
Terbit: February 1, 2020
Penerbit: Pojok Cerpen



Menuliskan Babakan sejarah lewat media fiksi selalu menarik. Bukan hanya menjadikan sejarah sebagai sesuatu yang tidak kaku, tetapi juga ada banyak fakta dan pengetahuan sesuai catatan sejarah yang bisa disajikan dan dimanusiawikan. Sejarah kemudian tidak menjadi sesuatu yang hafalan atau hitam putih.

Kumpulan cerpen bertema sejarah kolonial ini turut dalam upaya menghadirkan sejarah atau data sejarah sebagai cerita naratif. Enam cerita di dalamnya menyuguhkan kepada pembaca enam data atau peristiwa sejarah berbeda yang sama sama berlangsung di Hindia Timur. Mirip karya Iksaka Banu? Mungkin, tetapi Risda tetap memiliki khasnya sendiri.

"Para Bandit dan Hantu Ophaalbrug" membawa pembaca ke pelosok Madura. Tambang garam ini ternyata sudah dinilai berharga di era penjajahan Belanda. Tetapi seperti yg sudah-sudah, rakyat hanya mendapat luka dan siksa, tidak kebagian tingginya harga emas putih era kolonial ini. Pemberontakan dalam bentuk pembegalan menjadi salah satu cara ketika tekanan semakin berat sementara diri tak kuasa melawan. Kisah ini menarik karena membawa "hantu" dalam upaya mencari keadilan, yang sayangnya tetap tumbang.

Berburu Buaya di Hindia Timur menjadi kisah kedua, menggambarkan secara naratif Charles Leuseur dari Prancis mengadakan lawatan ke kepulauan Hindia Timur tahun 1803. Sebuah eskplorasi ala National Geographic dengan tujuan memburu seekor buaya yang konon raksasa di pedalaman Kupang. Ceritanya sangat naratiff karena mungkin bersumber dari jurnal atau catatan penjelajah. Selain menghibur dengan cerita petualangannya, pembaca juga diajak mengamati kondisi sosial masyarakat Kupang di tahun 1800an awal.

Kisah "Nasib Seorang Pelaut" menjadi kisah terpanjang di buku ini. Disusun menyerupai makalah dengan abstrak dan pendahuluan, cerpan ini mengisahkan perjalanan panjang seorang pelaut Prancis bernama Laval pada tahun 1601 dalam upaya mencari kepulauan rempah-rempah. Sumber cerpen sendiri sebuah artikel dalam bahasa Prancis yang lalu dikembangkan jadi kisah nitip Treasure Island digabung Perjalanan Gulliver yang agak banyak sialnya. Dimulai dari dihantam ombak badai, kapal karam, ditangkap suku pribumi, hingga menjadi budak di kapal musuh. Perjalanan Laval ke Hindia Timur menjadi gambaran betapa berbahaya sekaligus eksotisnya pelayaran samudra pada era penjelajahan.

Kisah "Babad Goa Njlamplong" menjadi kisah favorit saya. Mengisahkan sepenggal dusun kecil di Gunung Kidul yang konon menjadi pelarian Pangeran Diponegoro saat dikejar-kejar pasukan Kompeni. Penulis tidak hanya memadukan sejarah dengan cerita tetapi juga folklore lokal yang menjadikan kisah ini bikin trenyuh sekaligus bernuansa mistis. Kisah-kisahnya mengingatkan kita pada beratnya perjuangan dan penderitaan rakyat di masa penjajahan.

Cerpen 1913 mengisahkan perjuangan Tiga Serangkai (Ki Hadjar Dewantara, Tjiptomangoenkoesoemo, dan Edward Douwes Dekker) dalam perjuangan melawan kolonialisme lewat jalur tulisan. Perjuangan mereka membuktikan betapa perjuangan bersenjata dan perjuangan diplomasi sama sama punya peran dalam kemerdekaan Indonesia. Kisah ini serasa membawa dan mengingatkan kembali perjuangan Tiga Serangkai dalam kisah yang jarang diungkap.


Cerpen terkahir berkisah ttg perjuangan melawan penindasan kompeni di Indonesia Timur. Banyak yg mungkin tidak atau belum tau banyak bahwa di bumi Amboina juga bergolak perlawanan melawan penjajahan yang dipimpin oleh Thomas Matulessy dan kawan-kawannya. Cerpen ini seolah mengingatkan kembali betapa kemerdekaan adalah sesuatu yang diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan. Tidak selayaknya kita kini menyia-nyiakannya setelah membaca kisah Thomas Matulessy ini.

***

Membaca sejarah bagi sementara orang adalah hiburan dan kesenangan. Bagi banyak yang lain mungkin membosankan dan membikin kantuk datang. Tetapi, sejarah adalah pelajaran dari masa lampau yang penting untuk direnungkan agar apa yang keliru tidak lagi berulang ke depannya. Menuliskan Babakan sejarah dengan metode cerpen seperti ditempuh Risda di buku ini adalah salah satu jalan kreatif yang selayaknya dirayakan. Mungkin belum sempurna benar: ada beberapa yang naratifnya kadang terlalu panjang, atau sejumlah bagian yang terasa agak dipaksakan agar terasa lebih bercerita. Tetapi saya yakin menuliskan sejarah dalam cerpen tidak selalu mudah dilakukan. Apa yang dicapai oleh penulis dengan cerpen-cerpen ini adalah keistimewaan yang didukung oleh bakat mendalam, ketekunan yang begitu besar, dan ketertarikan yang terus dihidupkan.

Wednesday, April 11, 2018

Sang Nyai 3, Pencarian Peninggalan Legendaris Majapahit

Judul:  Sang Nyai 3, Misteri Empat Penaka Majapahit
Pengarang: Budi Sardjono
Penyunting: Misni Parjiati
Sampul: Amalina Asrari
Cetakan: Pertama, April 2018
Penerbit: DIVA Press




“Orang yang menang tanpa harus mengalahkan musuh-musuhnya. Dialah yang layak mendapatkan sebutan orang sakti."

Sejarah dan misteri di nusantara bisa menjadi bahan cerita yang tak kalah mengasyikkan dalam sebuah novel. Penulis Budi  Sardjono membuktikan hal ini lewat trilogi Sang Nyai karyanya. Pun, jika kita berbicara tentang misteri, wanita atau perempuan adalah juaranya. Tidak heran jika ada yang bilang wanita itu penuh misteri  dan penulis menghadirkan misteri besar dalam trilogi Sang Nyai 3 ini juga lewat sosok wanita. Sang Nyai 3 sendiri adalah buku pamungkas dari seri Sang Nyai  yang mengangkat banyak legenda-legenda besar di tanah Jawa. Di buku pertama, sosok misterius penguasa Laut Selatan menjadi sorotan utama. Lalu, berlanjut ke buku kedua yang berganti mengupas misteri keturunan Roro Jonggrang. Di buku ketiga ini, petualangan Mas Sam akan berupaya menguak misteri keturunan terakhir Majapahit.

Pembaca yang sudah membaca karya-karya Budi Sardjono mestinya sudah tidak kaget dengan gaya penulisannya. Dimulai di novel Roro Jongrang, Nyai Gowok, lalu berlanjut ke seri Sang Nyai, penulis menggunakan wanita atau perempuan sebagai jangkar utama. Meskipun protagonisnya seorang pria. Kentara sekali betapa tokoh-tokoh perempuanlah yang sebenarnya menyetir cerita. Resep ini muncul lagi dalam Sang Nyai 3 ketika di awal buku saja, Mas Sam sudah dipertemukan dengan sosok Gini yang asli Gunung Kidul. Wanita misterius itu kemudian mengajaknya ke Panggang yang merupakan sebuah kecamatan di sisi barat Kabupaten Gunung Kidul. Dalam sebuah bungalow yang dibangun di atas tebing terjal di tepian Laut Selatan, Gini menceritakan banyak sekali peristiwa sejarah terkait bangsa Jawa dan Nusantara yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

Monday, July 17, 2017

Pengumuman Pemenang Giveaway: Erstwhile, Persekutuan Sang Waktu



Judul : Erstwhile, Persekutuan Sang Waktu
Pengarang : Rio Haminoto
Penerbit: Koloni (imprint M&C!)
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal: 367 hlm


Selalu menyenangkan membaca buku-buku berjenis 'perjalanan waktu'. Walau tidak selalu menggunakan mesin waktu, perjalanan waktu juga bisa dilakukan dengan mundur ke belakang ke era penjelajahan samudra lewat pembacaan manuskrip dari Abad ke-14 M. Sebuah abad yang juga  menjadi saksi kebesaran salah satu kerajaan kuno di Nusantara, yakni kerajaan Majapahit. Dibawah pimpinan raja dan ratu legendaris yang dikawal oleh Mahapatih Gadjah Mada, Majapahit tumbuh menjadi kerajaan Maritim yang kekuasaannya membentang mulai dari Semenanjung Malaya hingga pulau Ambon. Banyak sejarahwan dan peneliti masih terkagum-kagum dengan bagaimana sebuah kerajaan di pojok Jawa ini bisa tumbuh menjadi hampir semacam imperium yang luas wilayahnya hampir menyamai bahkan melampaui luas negara Republik Indonesia saat ini. Peran penting Maha Patih Gadjah Mada memang tak diragukan lagi bagi kejayaan kerajaan ini, tapi banyak hal tentang sosok agung ini yang masih berselimut misteri. Beragam dugaan diajukan, tetapi nyatanya masih sangat sedikit yang kita ketahui tentang sosok yang telah berjasa besar bagi kejayaan nusantara di masa lampau ini.

Konon, sosoknya yang tergambar dalam sebuah arca peninggalan Majapahit dan pernah kita lihat di buku pelajaran sejarah itu sebenarnya juga bukan sosok beliau. Sosok Gadjah Mada memang masih menjadi kontroversi. Siapakah orang tuanya? Apakah Gajdah Mada pernah jatuh cinta? Dan, dimanakah makam dari tokoh besar ini? Penulis Erstwhile berupaya menjawab celah sejarah yang masih terselubung misteri itu lewat karya fiksi. Memadukan antara kisah sejarah dengan roman, Erstwhile menjadi sebuah bacaan kaya data yang mengesankan dan sama sekali tidak membosankan. Penulis mampu meracik sebuah kisah untuk mencoba mengisi celah-celah belum terungkap dalam sejarah nusantara yang bergerak cepat dan membikin penasaran. Dalam satu hari saya mampu menandaskan membaca novel apik ini karena asyiknya tema yang diangkat serta kepiawaian penulis menyajikan cerita yang saya yakin butuh riset panjang untuk bisa menulisnya.

Semua berawal dari lelang sebuah naskah kuno karya Picaro Donevante, seorang Florence yang terbuang ke Paris pada awal tahun 1300-an. Demi cintanya kepada seorang wanita, Donevante bertekad mengikuti jejak penjelajah besar Marcopolo yang telah melakukan perjalanan ke Tiongkok (Cathay) ratusan tahun sebelumnya. Anak muda itu begitu terpukau dengan deskripsi kota-kota yang kaya akan emas dan rempah-rempah di timur. Dia bertekad akan ikut membangun kekayaannya dari bisnis perdagangan dengan bangsa Cathay selain untuk mewujudkan impiannya untuk bisa lebih mengenal dunia Timur. Perjalanan pun dimulainya, walau dengan modal nekat dan uang seadaanya. Tapi kesungguhan dan ketulusan hatinya telah menggerakkan takdir dan mengubah tujuannya. Alih-alih berkunjung ke Cathay, Donevante dan rekan-rekan seperjalanannya malah sampai ke sebuah kerajaan kuno di nusantara yang selama puluhan tahun ke depan akan menjadi bagian dari hidupnya: Majapahit.

Di negeri inilah, Donevante berkawan akrab dengan Mahapatih Gadjah Mada, juga dengan Ratu Tribhuwana Tunggal Dewi, dan Raja Hayam Wuruk. Bahkan, pria ini menjadi ‘teman curhat’ dari ibu suri Gayatri yang menjadi poros kekuasaan Majapahit yang sesungguhnya. Dari hubungan perkawanan ini, Donevante kemudian menjadi sosok yang turut mendorong majunya Majapahit. Sebuah premis yang sangat menarik dari penulis, bahwa kemegahan dan kemajuan Majapahit selain karena peran besar Gadjah Mada juga karena adanya sosok asing lain dari belahan Bumi Barat bernama Picaro Donevante. Bule dari Italia ini membawa serta nilai-nilai renaisance Eropa ke Bumi Majapahit, dan dengan demikian memberikan pengaruh yang sangat besar pada kegemilangan Majapahit.  Dia menyertai saat Gadjah Mada menyerang Bali, menaklukan Borneo, hingga menduduki Tumasik (Singapura). Donevante juga turut mengawal Putri Dyah Pitaloka dalam peristiwa memilukan yang kelak kita kenal dengan Perang Bubat. Bagi para penyuka sejarah, novel ini menjadi sejarah-alternatif yang sangat mengasyikan untuk diikuti. Pasti akan benar-benar keren membayangkan seorang bule tengah beramah tamah dengan para putri Majapahit membicarakan tentang nilai-nilai romantisme ala  Eropa di sebuah keputren.

Meskipun banyak tokoh dan peristiwa sejarah dilibatkan di dalamnya, novel ini sama sekali tidak membosankan untuk dibaca. Justru karena premisnya yang unik, kita jadi dibikin penasaran dengan ujung petualangan seorang Picaro Donevante di bumi nusantara. alih-alih bosan, kita malah dapat banyak pengetahuan baru dan lebioh detail tentang sejumlah peristiwa sejarah yang selama ini kita ketahui hanya sekilas. Penggunaan sudut pandang pertama dan ketiga secara bergantian antara Picaro dan Rafa awalnya mungkin cukup mengganggu, tetapi terbukti kemudian menjadi penyegar saat pembaca sedang bosan dengan pemandangan di era jadul Majapahit. Apalagi, penulis menggunakan setting kota-kota besar di penjuru dunia, bergantian dengan setting nusantara  sehingga membikin kita iri nggak bosan. Kemudian, penutup novel ini menyajikan sebuah simpulan yang memuaskan tentang sejumlah teka-teki dalam sejarah: siapa sebenarnya Gadjah Mada, bagaimana asal-usulnya, dan kalau memang Gadjah Mada pernah mengenal seorang Eropa di era renaisance, dimanakah pusaranya?  Sejarah mencatat, semenjak Gadjah Mada menghilang, Majapahit pun perlahan mulai meredup demi menyongsong masa keruntuhannya. Apakah ini berkaitan dengan kepulangan Picaro Donevante ke Paris?





Sekarang, kita ke gratisan bukunya. Satu novel Erstwhile telah disediakan oleh Penerbit Koloni untuk satu calon pembaca yang beruntung di blogtour blog Baca Biar Beken.

"Kasih usul dong supaya sejarah bisa jadi tema yang menarik untuk dibaca atau diperbincangkan? Sertakan juga alasannya ya."


Selamat kepada Hamdatun Nupus dengan akun twitter @HamdatunNupus. Saya tertarik dengan penjabaran tentang cerita sejarah lewat media tari-tarian. Sepertinya akan sangat menarik jika tarian ini kemudian didokumentasikan. Terima kasih kepada semua peserta. Kepada sang pemenang, saya akan menghubungi lewat Twitter.

Terima kasih sudah ikutan.




Friday, August 5, 2016

Babad Tanah Jawi versi Raden Mandasia

Judul: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana Publishing
Tebal: 450 hlm
Format: Paperback
Terbit: Maret, 2016


 

Sampul dan kualitas tinta di novel ini memang terlihat kurang meyakinkan. Sampulnya cenderung gelap dan kurang kontras, sementara beberapa halaman tintanya tampak seperti fotokopi. Tapi, sejak dulu saya belajar untuk tidak melihat buku dari sampul, penulis, atau penerbitnya. Dan, kali ini, tebakan saya tidak keliru. Novel ini keren. Judulnya yang uniklah yang pertama menarik perhatian saya, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Sungguh judul yang sangat tidak pasaran. Judul seperti ini kalau tidak dibuat oleh anak-anak punk yang setengah seniman, pastilah dibuat oleh seorang penulis yang telah banyak membaca literatur yang tidak biasa. Nama Mandasia itu sendiri, kemudian embel-embel si pencuri daging sapi yang mengikutinya, sungguh susah menghilangkannya dari ingatan. Lebih-lebih setelah Utami Pertiwi melambai-lambaikan buku ini di depan mata, dengan iming-iming diskon khusus, maka jebol jua pertahanan saya. Novel keren ini terbelilah. Saya tidak menyesal membelinya, pengalaman membacanya begitu berbeda dalam arti yang menyenangkan. Banyak hal baru bakal pembaca dapatkan dari membaca novel ini.

Monday, March 17, 2014

Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC

Judul : Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC
Pengarang : ES. ITO
Penyunting : Yulia Fitri
Sampul : Windu Budi
Cetakan : 1, Agustus 2007
Penerbit : Hikmah
Tebal : 675 hlm



“Novel yang dahsyat detail sejatahnya dan inspiring. Pram muda telah lahir …”

                Sepenggal pernyataan Fadjroel Rachman terhadap novel Rahasia Meede di atas begitu tepat menggambarkan kualitas seorang ES ITO sebagai pengarang buku ini. Dalam hal menyindir dan menyentil hati pembaca Indonesia, gaya penulis memang agak mirip dengan gaya Pram, hanya saja dalam konteks yang lebih kekinian. Sementara dari detail dan alur cerita, tidak bisa tidak, pembaca akan teringat dengan Dan Brown saat mengarang Da Vinci Code, meskipun novel ini jauh lebih detail dan kaya akan informasi sejarah. Salut sekali saya dengan kepiawaian penulis dalam meramu unsur-unsur sejarah, kemudian menyajikannya dalam sebuah prosa yang tidak hanya sastrawi, namun juga informatif dan sangat seru. Aneka kejadian, konspirasi, dan narasi bergerak cepat, saling susul-menyusul sehingga pembaca seolah diajak adu balap dalam ceritanya. Belum lagi aneka informasi sejarah tentang masa lampau Hindia Belanda, VOC, hingga akhirnya ke masa-masa perjuangan Kemerdekaan RI; semuanya dirangkum dan dituliskan dalam lajur-lajur tulisan yang padat tetapi tetap enak dinikmati.

                Secara garis besar, Rahasia Meede meniru Dan Brown dalam mengolah sejarah menjadi sebuah konspirasi. Sebuah terowongan kuno ditemukan tepat di bawah kota Jakarta dengan pintu masuk di dalam Museum Sejarah Jakarta. Jalur terowongan itu memanjang melewati bangunan-bangunan bersejarah yang tersebar di kota tua: Museum Bank Mandiri, Lapangan Merdeka, Istana Negara, bahkan sampai ke Monas. Tidak ada yang mengetahui ini selain 3 peneliti Eropa yang disewa oleh Dinas Kebudayaan Indonesia. Mereka yakin, terowongan itu akan berujung pada batang-batang emas simpanan VOC yang diklaim dapat digunakan untuk melunasi utang luar negeri Republik Indonesia.

                Sementara itu, pembunuhan berantai terjadi di penjuru Nusantara dan dunia. Lima tokoh besar ditemukan tewas di kota-kota yang berawalan dengan huruf B, yakni Boven Digoel, Banda, Brussel, Bukit Tinggi, dan Bangka. Pada masing-masing mayat ditemukan juga selebaran berisi satu dosa dari Tujuh Dosa Sosial yang dicetuskan Mahatma Gandhi.

                Perniagaan tanpa moralitas
Politik tanpa etika.
Sains tanpa humanitas.
Peribadatan tanpa pengorbanan
Kekayaan tanpa kerja keras
Pengetahuan tanpa karakter
Kesenangan tanpa nurani.

Lima korban, dan dua korban lagi di dua kota yang juga berawalan dengan huruf B. Wartawan Batu Noah Gultom ditugaskan oleh harian Indonesiaraya untuk mengikuti kasus ini. Kepolisan telah menudingkan telunjuknya ke gerombolan Anarki Nusantara yang dipimpin oleh Attar Malaka. Kelompok ini bertujuan untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan dengan tangan mereka sendiri. Mereka tidak mengakui hukum dan bergerak atas nama pribadi. Petunjuk pertama membawa Batu ke pelosok Nias, mencari tahu lambang tato yang konon paling tua di dunia. Pembaca akan diajak menjelajahi kepulauan terpencil ini, dengan segala aspek budaya dan alamnya yang masih sangat asri, benar-benar tamasya yang menyenangkan.

Sementara di Jakarta, ketiga peneliti Eropa itu dikejutkan oleh temuan mereka di lorong bawah Jakarta, sebuah penemuan yang akhirnya menjerumuskan ketiganya dalam sebuah konspirasi mengerikan. Peneliti lain, Cathleen, yg juga berasal dari Belanda malah menjadi korban penculikan ketika dia menaiki penahu pinisi di Tanjuk Priok, yang membawanya jauh ke pedalaman kepulauan Banda dan rempah-rempahnya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa dirinya juga telah terseret dalam sebuah perseteruan maut antara dua kelompok yang memperebutkan emas VOC. Siapakah penjahat yang sebenarnya? Konspirasi apa yang sedang terjadi? Dan siapakah tokoh pahlawan dalam novel ini? Serta, apakah emas VOC itu benar-benar ada? Rasa ingin tahu pembaca akan terus diseret sepanjang membaca novel ini. Setiap kalimatnya mengintimidasi untuk terus melanjutkan, meskipun sesekali pembaca harus berhenti sejenak untuk mengelus dada saat sindiran-sindiran penulis begitu telak menghantam jati diri kita sebagai manusia Indonesia.

Dari Kota Tua Jakarta, pembaca akan diajak berjalan-jalan ke pedalaman Nias dan Sumatra, berpesiar naik perahu pinisi ke Makasar, menikmati aroma rempah di Maluku, melompat ke dinginnya Brussel dan Belanda, lalu kembali lagi ke kepadatan Jakarta. Mengobrak-abrik Menteng, menyelusup ke Istana Merdeka, menerobos jauh ke dasar Monumen Nasional, berputar-putar di Pulau Onrust, lalu masuk ke dalam sebuah kelas nan bersahaja di pelosok Sumatra. Semuanya digambarkan dengan begitu detail dan narasi yang tajam, tidak berboros kata tetapi benar-benar sangat menusuk rasa ke-Indonesiaan kita. Gelontoran fakta sejarah juga tak habis-habisnya diobral si penulis. Kita diajak berkenalan dengan JP Coen yang ternyata dulunya adalah seorang akuntan, dengan tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Hatta dan M. Gandhi, ikut masuk dan mempelajari kantor wartawan, dan merasakan bagaimana kerja seorang intelijen negara. Luar biasa! Penulis pasti melakukan riset yang tidak main-main saat mengarap buku ini.

Ketika akhirnya Batu dan Cathleen dipertemukan dengan sosok misterius pemimpin Anarkhi Nusantara, semakin jelaslah siapa dalang sesungguhnya dibalik konspirasi besar yang telah berusia ratusan tahun ini. Merentang sepanjang hampir 400 tahun sejak VOC berlabuh di pulau Onrust hingga pendirian Monumen Nasional, telah tersusun untaian sejarah panjang kolonial yang begitu kelam sampai akhirnya cahaya benderang muncul ketika M. Hatta menandatangani Penandatanganan Kedaulatan republic Indonesia. Dan lebih dari enam puluh tahun setelahnya, generasi Indonesia yang lebih muda, harus berjuang menyelamatkan keutuhan negara dari konspirasi tangan-tangan kekuasaan yang hendak menjungkirkan kedaulatan negara yang sudah susah payah dibangun oleh para pendiri bangsa. Sebuah bacaan yang sangat bergizi.



Thursday, February 27, 2014

Anak Semua Bangsa



Judul : Anak Semua Bangsa
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penyunting : Astuti A. Toer
Sampul : Ong Hari Wahyu
Cetakan : 13, September 2011
Penerbit : Lentera DIpantara
Tebal : 539 hlm





                Membaca seri kedua dari Tetralogi Pulau Buru ibarat mengubek-ubek kembali luka lama bangsa kita sebagai bangsa yang pendah dijajah kekuasaan kolonial. Tiga ratus lima puluh tahun dijajah (meskipun fakta sejarah menunjukkan bahwa Aceh baru berhasil dikuasai Belanda pada awal abad ke-20) telah memunculkan sebuah lebam sejarah yang mengharu-biru, memunculkan semacam persepsi pada rakyat kecil bahwa semua yang Eropa niscaya lebih jaya dan lebih tinggi. Rasa minder, malas, kurang kreatif dari bangsa ini seolah merupakan wujud tak tampak namun sangat  menggelisahkan, hasil dari penindasan budaya dan mental secara sistematis oleh sebuah kerajaan kecil di Eropa. Sampai sekarang pun, orang kita sering kali merasa segan atau minder duluan kalau bertemu orang asing, terutama rakyat kecil, orang kebanyakan. Padahal, mereka juga manusia seperti kita, hanya anak dari bangsa yang berbeda.

“Kau harus bertindak terhadap siapa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekali pun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jendela. Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu. Azasnya: mengambil milik tanpa ijin: pencurian; itu tidak benar, harus dilawan.”

                Melanjutkan kisah Minke dan Nyai Ontosoroh yang begitu menyita perhatian pembaca dalam Bumi Manusia, jilid kedua Tetralogi Buru ini mengulas lebih dalam penjuangan kedua pribumi terlepajar tersebut demi melawan pemerintah kolonialisme. Minke yang telah kehilangan Annelies kembali terusik hatinya ketika ia diejek seorang wartawan indo sebagai seorang pribumi terpelajar yang tahu dunia tetapi abai pada bangsanya sendiri. Minke dikatakan pandai ilmu-ilmu Eropa, tetapi pengetahuan tentang bangsanya sendiri sangat minim. Panas hati, ia memutuskan pergi ke Tulangan, wilayah perkebunan tebu di sekitar Sidoharjo demi merasakan hidup dan untuk mempelajari nasib rakyat pribumi. Di sanalah dia bertemu dengan keluarga petani Trunojoyo yang tengah berusaha mempertahankan ladang dan sawah peninggalan orang tuanya dari pihak kolonial yang mau merebut tanahnya dengan semena-mena. Hanya karena ia menolak menyewakan lahan, rumah dan sekeliling ladangnya dikurung ladang tebu tanpa akses keluar.

“Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu”

                Minke berjanji membantu si petani, lewat tulisan. Tetapi apa daya, ia memang masih anak bawang dalam menulis artikel tentang bangsa sendiri. Galau menderanya, benarkah bahwa selama ini ia terlalu berorientasi ke Barat sehingga lupa belajar tentang negerinya sendiri, hal yang berusaha ia perjuangkan selama ini. Maka belajarlah ia menengok ke dalam, menulis dalam bahasa Melayu. Ada dia temukan, betapa bangsanya begitu merasa kecil terhadap semua yang berbau Belanda dan Eropa. Melihat dirinya berpakaian Barat pun sudah membikin mereka keder dan susut jiwanya. Bangsa yang selama ini ia sayangi, ia perjuangkan, ia angkat dari nasib rendah akibat kolonialisme. Sungguh, penjajahan paling berat memang penjajahan mental. Jika sekadar dijajah fisik suatu saat kita bisa melawan, maka tidaklah begitu dengan penjajahan mental. Penjajahan kedua membuat si terjajah selamanya merasa “layak” dijajah, dan mereka yang merasa layak dijajah niscaya tidak akan protes atau melawan. Dalam hal inilah, pengetahuan menjadi satu-satunya senjata.

“Keajaiban pengetahuan: Tanpa mata yang melihat dia membikin orang mengetahui luasnya dunia: dan kayanya, dan kedalamannya, dan ketinggiannya, dan kandungannya, dan juga sampar-samparnya.”

                Novel Anak Semua Bangsa dengan telak menikam pembaca dengan sebuah kebenaran yang pahit: betapa sudah ratusan tahun bangsa kita dijajah secara fisik maupun mental sehingga menghasilkan bangsa yang berjiwa kerdil. Dalam hal ini, Pram mengutip Jepang dengan slogan Asia Timur Raya sebagai pembanding. Dipuji-pujinya bangsa kuning itu dengan segenap kepandaian mereka meniru yang baik dari Barat kemudian mengembangkannya sendiri, kerja keras dan kerja cerdas mereka sehingga menjadi bangsa yang disegani. Dan, terbukti pada tahun 1930-an, Jepang menjadi satu-satunya negara Asia yang dianggap sejajar dengan bangsa Eropa. Nasib yang berkebalikan terjadi pada bangsa Hindia Belanda, yang tetap diam saja walau ditindas begitu rupa. Pahit memang, tapi apa mau dikata?

“Negeri Matahari Terbit, negeri Kaisar Meiji itu berseru pada para perantaunya, menganjurkan: Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapa pun! Ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apa pun; tak ada modal? berserikat, bentuk modal! belajar kerja sama! bertekun dalam pekerjaan!” 

                Dalam kondisi demikian, setiap putra pribumi harus mau dan mampu melawan dengan apapun. Era Minke adalah era-era mulai berseminya pergerakan nasional. Pram secara sekilas menyebut Kartini dan Multatuli sebagai salah dua dari beberapa orang yang tengah melawan penindasan kolonialisme lewat cara mereka sendiri. Kartini pernah mengatakan bahwa mengarang adalah bekerja untuk keabadian, maka melawanlah Minke sesuai dengan yang ia kuasai: menulis.

                Tidak heran buku ini sempat dilarang di era Orde Baru karena niscaya banyak sekali pihak yang akan tersentil saat membaca buku ini. Termasuk pemerintahannya, juga orang Jawa, dan orang-orang pejabat pada umumnya. Ketika kita mau berpikiran terbuka, banyak yang memang benar adanya. Ah, ternyata mental sebagian kita memang masih terjajah, masih tidak mau menerima sentilan yang membangun dan memilih tetap berada di zona nyamannya serasa memberangus mereka yang tidak sejalan atau mencoba mengusik zona nyamannya. 

                Dalam buku kedua ini, akan kita ketahui bagaimana nasib Annelies dan Robert Mellema, dua anak Nyai Ontosoroh. Muncul juga beragam perkembangan baru, tokoh-tokoh baru, serta lawan baru. Bahkan di ending buku ini pembaca bisa menyaksikan bagaimana mereka melawan Ir. Maurits Mellema dengan berbagai argumen dan kata-kata. “Kita sudah melawan, Ma. Biarpun hanya dengan mulut.”


               Tidak seperti Bumi Manusia, saya kurang menemukan aspek nostalgia tempoe doloe saat membaca buku ini. Setting dan deskripsi tempat serta masa kurang terlalu digambarkan dengan detail, sepertinya Pram mulai berfokus menyampaikan ide-ide besarnya. Satu hal yang aneh dari novel ini, buku ini terasa begitu nyaman membacanya meskipun ini novel ditulis dengan ejaan lama, di mana "matahari" masih ditulis matari dan ada begitu banyak serapan dalam bahasa Jawa, juga noun phrase  masih banyak disambung.  Tetap saja indah karya ini dibacanya. Memang benar kata orang, membaca karya Pram ibarat membaca sebuah hadiah dari Indonesia untuk dunia.


Wednesday, July 31, 2013

Granada

Judul : Granada
Penulis : Radwa Ashouri
Penerjemah : Kamran Asad Irsyadi
Penyunting   : Hulu Tualang
Sampul : M. Roniyadi
Tebal : 350 hlm
Cetakan : 1, 2008
Penerbit : Buku Mutu      



     “Granada memang telah jatuh, Hassan, tapi siapa tahu kelak ia akan kembali ke tanganmu dengan pedangmu atau kau tulis kisahnya, kau dokumentasikan tokoh-tokohnya. Aku tidak ingin kau menjadi pengrajin ktab sepertiku, Nak, tapi seotang penulis besar sekaliber ibnu el-Khatib dan namamu akan tertulis dengan tinta emas bersama Granada dalam setiap kitab.” (hlm 51)

Tahun tahun 1400-an merupakan akhir dari masa kekhalifahan muslim di Andalusia, Spanyol. Kerajaan yang pernah terkenal sebagai permata Eropa itu runtuh sedikit demi sedikit karena intrik politik, perpecahan, dan diperparah dengan serbuan pasukan Kerajaan Aragon pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabel. Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, warga muslim dan Yahudi dipaksa oleh Mahkamah Inkusisi yang tidak mengenal belas kasih untuk berpindah agama atau akan dideportasi, dibuang dari tanah airnya. Maka. Berakhirlah sudah masa-masa 700 tahun masa-masa kegemilangan Andalusia. Sebuah daratan yang dulu riuh rendah oleh diskusi intelektual membahas filsafat Yunani atau ilmu pengobatan, yang dulu dihiasi oleh ratusan masjid dan istana indah, air mancur serta kebun kurma yang elok. Semua jatuh ke tangan penguasa Eropa, Kerajaan Castille.

                Di masa-masa sulit inilah keluarga dan keturunan Abu Jafaar hidup. Dari yg semula adalah pemilik toko kitab dan manuskrip nan makmur, ia kehilangan pekerjaan setelah Mahkamah Inkusisi mengharamkan kitab2 berbahasa Arab, bahkan membakarnya. Kepedihan Abu Jafaar mencapai puncaknya ketika ia menyaksikan Ratusan kitab kesayangannya dibakar oleh tentera Castile di alun-alun Bab el-Ramlah, yang menyebabkan kematiannya karena kesedihan tak tertahankan melihat kertas-kertas tak berdosa itu menggulung seolah menghindari api. Maka, tinggallah keturunan beliau yang harus hidup dalam bayang-bayang kekejaman Mahkamah Inkusisi.

                Anak cucu Abu Jaafar bertahan menjadi Muslim. Di dalam rumah, mereka tetap sholat dan berkomunikasi dalam bahasa Arab, tetapi di luar rumah mereka berbahasa Castile, menggunakan nama baptis dan menghadiri "misi suci" pada hari ahad di gereja. Hidup dalam bayang-bayang menyembunyikan keimanan, dengan segala intrik dan muslihat agar mereka tetap terlihat “Castille” walau dalamnya “Arab”. Salah satu keluarga itu, Saleemaa adalah seorang gadis yang cerdas dan suka membaca kitab. Ia terapkan ilmu pengobatan dalam Kitab Canon Ibnu Sina walaupun mata-mata Castile berkeliaran mencari mangsa. Pada kala itu, membaca kitab bahkan sekadar memilikinya bisa dihukum cambuk dan penjara. Perjuangan mereka sangat berat, antara mempertahakan tradisi membaca dan meneliti atau menyerahkan nyawa dan keselamatan keluarga pada mahkamah inkusisi.
               
              “Seberapakah nilai uang berdinar-dinar di hadapan halaman ensiklopedi yang secara detail menjelaskan khasiat rumput dan tanaman. Orang bijak adalah yang membelinya, orang yang menjualnya adalah orang-orang yang benar-benar bodoh.” (hlm 213)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0c/El_Partal_Palace,_Alhambra,_Spain.JPG

Gambar: Kompleks Istana Al-Hambra, salah satu peninggalan era Muslim di Andalusia, Spanyol

Jika ditilik dari sejarah, peristiwa genosida kebudayaan di Andalusia pada tahun 1400-an sering disebut-sebut sebagai genosida paling kejam dalam sejarah modern setelah era Perang Dunia Pertama. Jutaan orang terusir dari tanah kelahirannya, direnggut dari keyakinannya, serta diasingkan dan dianggap sebagai budak-budak setan hanya karena mereka berbeda keyakinan. Penulis dengan lembut berhasil menggambarkan apa yang dialami oleh muslim Granada pada kala itu melalui buku ini. Ketertindasan, keterasingan—bahkan mereka tidak diperbolehkan bepergian ke kota lain, hingga perpisahan dengan keluarga tercinta. Semuanya dipotret dalam perjalanan generasi keluarga Abu Jafaar, sang penjual kitab. Ada beberapa bagian yang bikin miris hati, terutama ketika mereka menumpuk berbagai kitab dan manuskrip kuno kemudian membakarnya dengan alasan untuk memurnikan ajaran agama dari sihir dan bidah.

               Penggambaran setting Andalusia juga cukup mengena, sepertinya penulis telah melakukan berbagai riset untuk mengetahui dan menggambarkan kehidupan di Andalusia pada era itu. Dikisahkan pula sedikit tentang perjalanan Columbus dalam menemukan dunia baru. Dalam beberapa catatan memang disebutkan bahwa Columbus membawa serta dua mualim Arab bersamanya dalam pelayarannya ke Benua Amerika.  Terjemahan buku ini juga sangat bagus sekali, penerjemah sepertinya memiliki cita rasa sastra sehingga terjemahannya tidak kaku dan kering, tapi meliuk-liuk luwes. Sayang kertas dan font-nya kurang elegan, cenderung seperti dibuat sekenanya untuk buku sebagus ini.