Search This Blog

Showing posts with label thriller. Show all posts
Showing posts with label thriller. Show all posts

Saturday, February 16, 2019

Review and Pengumuman Pemenang Giveaway: Carmine

Judul: Carmine
Pengarang: Ruwi Meita
Sampul: Dilidita
Cetakan: 1, Desember 2018
Tebal: 342 hlm
Penerbit: Noura




Kita sering berpikir bahwa rumah adalah suaka, tempat paling aman untuk pulang dan mengistirahatkan segenap beban. Padahal, rumah juga bisa menjadi neraka yang menyiksa penghuninya. Fakta banyaknya kasus KDRT menjadi bukti bahwa faktanya rumah memang tidak selalu aman bagi penghuninya. Kekerasan juga tidak melulu berupa fisik, melainkan dapat berupa tekanan mental dari pasangan atau bahkan keluarga. Pada akhirnya, sebuah rumah memang ditentukan oleh orang-orang yang menghuninya.

Hampir tidak ada yang kurang dari seorang Carmine Dunn. Mantan model iklan terkenal ini kini memiliki semua yang didamba mamah mamah muda: suami mapan dengan gaji tinggi, rumah mewah dengan kolam renang, serta empat orang anak yang meramaikan suasana rumah. Yah kecuali satu, fisiknya sudah tidak selangsing dulu. Tapi mengingat usianya yang menginjak 34 tahun dan sudah jadi ibu dari 4 anak, harusnya nggak masalah sih. Orang luar memandang keluarga Carmine sebagai contoh keluarga ideal. Kalau saja mereka tahu, hampir setiap hari wanita itu ingin menyerah saja dan bunuh diri.

Thursday, May 31, 2018

Origin, Dari mana Kita Berasal?

Judul: Origin
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, Dyah Agustine
Penyunting: Esti Ayu Budihabsari
ISBN: 9786022914433
Halaman: 516
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Bentang Pustaka 



Tema terkait asal muasal manusia dan ke mana kita akan pergi merupakan salah satu topik panas yang terus meletupkan debat seru di antara kalangan agamawan dan ateis. Selama ribuan tahun, umat manusia telah sepakat dengan asal muasal penciptaan, bahwa asa Dzat Adikodrati yang menciptakan alam semesta beserta semua isinya. Dia juga yang kemudian menurunkan agama serta kepercayaan yang dianut umat manusia. Dzat inilah yang kita sebut sebagai Tuhan dengan segala variasi penamaannya dalam berbagai jenis kepercayaan. Keyakinan bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan ini kemudian mulai dipertanyakan kembali pada awal abad modern. Copernicus sendiri telah memulainya dengan menolak gambaran alkitab tentang matahari yang mengelilingi Bumi. Temuan-temuan besar tentang alam semesta terus ditemukan setelahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, beberapa manusia mulai mempertanyakan kembali kebenaran tentang Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya fenomena kekerasan dan kemunduran yang disebabkan oleh "agama" sepanjang sejarah manusia. Maka, tidak heran jika kemudian muncullah para ateis yang tidak percaya Tuhan.

Monday, June 13, 2016

Mengungkap Misteri Perpustakaan Alexandria Kuno

Judul: Mata Rantai Alexandria
Pengarang: Steve Berry
Penerjemah: Chandra Novwidya Murtiana
Editor:  Widi Lugina
Tebal: 632 hlm
Cetakan: 1, Desember 2011
Penerbit: Gramedia 



13333459

Perpustakaan Alexandria kuno di kota Iskandariah, Mesir, merupakan satu dari sekian banyak  misteri terbesar dari dunia kuno. Dibangun pada masa kekuasaan Yunani di Mesir--yakni pada era Dinasti Ptolemy--perpustakaan ini pernah menyimpan ribuan manuskrip, gulungan, peta, naskah, serta kitab-kitab dari masa Yunani kuno dan bahkan dari era-era sebelumnya. Karya-karya asli Euclid, Aristoteles, Democritus, hingga naskah-naskah asli Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Ibrani kuno konon tersimpan di sana. Keberadaan terakhir Perpustakaan Alexandria diketahui adalah pada abad ke-7 M, ketika isi perpustakaan besar itu dihancurkan oleh invasi Muslim dalam rangka pemurnian ajaran agama. Namun, jauh sebelumnya, perpustakaan agung itu sendiri telah mengalami dua kali kerusakan akibat penjarahan dan kebakaran, yakni pada masa Romawi dan pada abad ketiga. Entah mana dari ketiga teori sejarah itu yang benar, tapi satu hal yang jelas adalah Perpustakaan Alexandria telah musnah. Dan, bersama musnahnya perpustakaan itu, musnah juga ribuan naskah kuno dan langka yang berisi beragam pengetahuan dari dunia kuno. Ini adalah salah satu kehilangan besar dalam sejarah peradaban manusia.

Friday, December 18, 2015

The Girl on the Train

Pengarang: Paula Hawkins
Penerjemah: Inggrid  Nimpoeno
Penyunting: Rina Wulandari
Perancang sampul: Wida Sartika
ISBN:9786020989976
Halaman: 440
Cetakan: Pertama- Agustus 2015
Penerbit: Noura Books


26085996



Novel The Girl on Train sempat wira-riwi di linimasa dan goodreads beberapa pekan terakhir. Banyak pembaca yang memberikan ulasan positif, memyebutnya sebagai penerus kesuksesan The Gone Girl yang thriller kelam itu. Saya belum baca The Gone Girl (tepatnya sudah menyerah duluan karena bukunya yang tebal dengan font hemat) tapi sudah sedikit menonton filmnya. Ceritanya memang beda, semacam dark thriller tapi dengan latar rumah tangga dan dibumbui oleh kisah perselingkuhan. Kisah seperti ini mengagetkan pembaca sekaligus menyadarkan kita tentang borok-borok tersembunyi yang mungkin berlindung di balik sebuah foto sepasang suami istri yang terlihat harmonis. Kekelaman di balik keceriaan, sesuatu yang wajar adanya karena setiap manusia memang menyimpan kegelapannya masing-masing, hanya kadarnya saja yang berbeda. 

Thursday, November 26, 2015

Tiga Sandera Terakhir



Judul: Tiga Sandera Terakhir
Pengarang: Bhahmanto Anindito
Penyunting: Hermawan Aksan, Miranda Harlan
Sampul: Oesman
Cetakan:1, Mei 2015
Tebal: 310 hlm
Penerbit: Noura Books

25674513

Novel Tiga Sandera Terakhir sempat heboh wira-wiri di beranda dan linimasa saya beberapa bulan lalu. Memang luar biasa pengaruh media social saat ini dalam mempromosikan sebuah buku. Tanpa adanya ulasan positif buku ini di blog dan goodreads, mungkin banyak yang akan melewatkan novel seru ini. Saya termasuk di antaranya. Sampul yang hitam berlatar halaman surat kabar dan blurb yang lebih mirip novel politik sempat menipu saya, mengira novel ini bakalan terlalu banyak intrik dan mirip konflik. Ternyata, tidak. Ulasan dari sejumlah teman-teman blogger buku akhirnya meracuni saya untuk menginginkan membaca buku ini. Bahkan, membaca kisahnya pun sama cepatnya dengan alur adegan yang dibangun dalam buku ini. Bak buk dor!, lalu pembaca pun ikut terseret dalam cerita. Sebegitu serunya kah buku ini?

Thursday, April 23, 2015

Konstantinopel



Judul: Konstantinopel
Pengarang : @sughabuzz
Penyunting: Ambra
Cetakan: 1, April 2015
Tebal: 272 hlm
Sampul: Aan
Penerbit: DIVA Press
ISBN: 9786022960881

25405106

Saya tidak menyangka kalau akhirnya saya sangat menikmati membaca Konstantinopel. Buku thriller lokal ini tidak kalah dengan buku sejenis yang hasil terjemahan. Settingnya yang di Indonesia tidak lantas membuat buku ini jadi konyol atau terkesan meniru. Tidak, buku ini seperti punya jiwanya sendiri, sesuatu yang membuat saya hanyut dalam lembar-lembar di dalamnya. Ikut deg-degan menebak siapa korban berikutnya. Geregetan melihat ulah si pembunuh. Ikut asyik menebak siapakah sebenarnya sang pembunuh. Ketika tanpa sadar halaman terakhir sudah di depan mata, barulah saya berharap seandainya saja buku ini lebih tebal sehingga bisa terus menemani aksi Putra Bimasakti dalam mengungkap kejahatan.

Sunday, November 17, 2013

Carrie


Judul : Carrie
Pengarang : Stephen King
Alih bahasa : Gita Yuliani K
Tebal : 253 hlm
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama




http://media.tumblr.com/24866e211383a7c4066da0205e9a329c/tumblr_inline_mtxkn3jgNP1qb7t48.jpg

                 
          Tidak heran kalau banyak yang bilang Stephen King adalah rajanya penulis novel thriller karena ia membuktikannya lewat karya-karyanya yang tak terlupakan. Setiap membaca karyanya, pembaca akan menemukan sudut pandang yang baru dalam menikmati novel thriller atau horor. Jika pembaca sudah membaca auto-biografi beliau On Writing, akan terlihat bagaimana kehidupan King benar-benar mempengaruhi proses kreatifnya. Salah satu novel yang proses kreatifnya banyak dikisahkan dalam On Writing adalah novel ini Carrie, salah satu novel yang menjadi tonggak kesuksesan beliau sebagai penulis novel thriller. Dikisahkan bahwa sosok Carrie begitu menetap dalam pikiran King, ia benar-benar menyelami bagaimana perasaan gadis ini, sampai-sampai King sendiri merasa depresi. Tidak aneh jika dalam pengantar novel ini, King menyatakan terima kasih kepada Tami yang “…lalu menyelamatkan aku keluar.”

                Ciri khas karya Stephen King adalah cerita yang kental dengan unsur thriller dan sangat dalam menyorot sisi psikologis dan mental karakter-karakter di dalamnya. Dalam Carrie, kita bertemu dengan seorang gadis SMA yang kikuk dan pemalu, yang tidak pandai berdandan, yang menarik diri dari pergaulan. Tipe gadis yang dijauhi oleh geng cewek populer dan sering menjadi korban bullying. Ini masih ditambah dengan latar belakang keluarga Carrie yang tidak umum. Ibunya adalah salah satu penganut Kristen garis keras, yang memandang dunia sebagai hukuman dan membatasi pergaulan dengan orang lain. Semua kualitas negatif ini terakumulasi pada sosok Carrie yang akhirnya menjadi calon korban bullying yang sesuai. Kisah seperti ini mungkin hanya akan berhenti sebatas pada Carrie yang entah akan melakukan tindakan-tindakan bodoh ataukah me-make over kehidupannya. Model cerita remaja yang sering kita jumpai. Namun, King tidak memaksudkan Carrie untuk menjadi seorang remaja kikuk biasa. Ia adalah seorang remaja tidak gaul tapi memiliki kekuatan telekinetis.

                Bayangkan, apa yang bakal terjadi ketika sesosok ABG dengan psikologis yang belum stabil memiliki kekuatan menggerakkan benda-benda hanya dengan pikirannya? BENCANA. Semuanya dimulai dari insiden di ruang ganti. Carrie, yang sejak kecil dididik secara salah oleh ibunya, mendapati dirinya “berdarah” alias mengalami haid pertama. Karena tidak pernah diberi tahu apa itu haid, Carrie histeris. Ia merasa terluka tapi tidak terluka karena darah terus mengucur dari tubuhnya. Sesuatu yang biasa bagi cewek remaja normal, tapi bayangkan jika kamu jadi Carrie? Luka itu makin bertambah ketika teman-teman cewek genk populer meledeknya habis-habisan. Kalau saja tidak ditengahi oleh Guru Olahraga yang bijaksana, bencana itu mungkin datang lebih awal.

                Sue, seorang anggota genk populer yang merasa bersalah karena ikut menertawakan Carrie mencoba menebusnya. Dipaksanya sang pacar, Tommy, untuk mengajak Carrie ke pesta dansa sekolah (prom nite). Segala sesuatunya seharusnya berjalan lancar, niat baik Sue dan kecantikan alami Carrie membuatnya dan Tommy menjadi Raja-Ratu Pesta Dansa. Sayangnya, ada cewek  lain yang tidak suka, dia ingin mempermalukan Carrie. Dan dari sinilah bencana itu berawal. Merasa dipermalukan sampai titik tak tertahankan, Carrie meledak dan mengerahkan segala kekuatan telekinetisnya. Ia membakar sekolah seiisinya, menyetrum hampir sepertiga penduduk kota, membumi hanguskan pusat kota. Korban tewas mencapai ratusan, semua itu hanya karena orang-orang yang terlalu egois.

                Ditulis berselang-seling dengan kutipan dari dokumen ilmiah, potongan surat kabar, dan pengadilan yang berlangsung paska terbakarnya kota Chamberlaine, Maine, King menyusun potongan demi potongan kehidupan Carrie. Apa yang membuatnya memiliki kekuatan super dan mengapa ia tumbuh menjadi gadis yang salah. Walau thriller, novel ini lebih banyak menyorot pada sisi psikologis Carrie, yang dalam kisah ini sangat menentukan kemunculan dan penggunaan kekuatannya. Perlahan demi perlahan, pembaca akan dibawa ke puncak ketegangan, lalu mundur lagi ketika King menyelipkan fakta-fakta di balik kisah Carrie. Awalnya, pola yang digunakan penulis mungkin membuat pembaca sebal, tapi seiring dengan berjalannya cerita, pembaca akan mendapati bahwa cara yang digunakan King ini unik sekaligus tidak merepotkan. King tidak lagi repot-repot menambahkan narasi tentang penelitian ilmiah dan tentang masa lalu Carrie dalam alur cerita, itu akan membuat ceritanya panjang dan membosankan. Dengan teknik selang-seling ini, Stephen King berhasil menjaga cerita tetap sederhana dan seru tanpa menghilangkan unsur ilmiah dan logika di dalamnya. Sebuah bacaan yang sangat bagus.