Search This Blog

Friday, August 14, 2015

Wrecking Eleven


Judul: Wrecking Eleven
Pengarang: Haris Firmansyah
Editor: Dyas
Tebal: 178 hlm
Cetakan: 1, Agustus 2015
Penerbit: Ping!!!
 

 

"Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat."


Bermain bola, bagi sebagian besar anak cowok, adalah sepenggal pengalaman masa kecil dan remaja yang takkan pernah terlupakan. Selebrasi ketika merayakan gol, traktiran mie ayam ketika timnya menang, menunduk bareng saat tim kalah, main takling dan serobot sana-sini, serta baru pulang ketika matajari mulai redup di ufuk barat, dengan bau keringat yang memenuhi badan. Semua pengalaman itu tak akan pernah bisa tergantikan. Meskipun kini kepopulernya mulai tergeser oleh game sepakbola. Sama-sama main bola, tapi yang satu dengan kaki, tangan, dan seluruh tubuh. Sementara game, hanya butuh pencetan jari, mata yang kuat ngak berkedip, dan juga mungkin kepiawaian otak dalam mengatur strategi. Hilangnya lahan kosong yang dulu sering digunakan anak-anak se RT untuk main bola juga turut berperan dalam semakin sepinya lapangan sepak bola di sore hari. Bermain sepak bola, sekarang mungkin hanya bisa kita lakukan di lapangan berumput plastik dengan ukuran yang lebih kecil, dan harus bayar. Ah, saya rindu masa-masa ketika main bola hanya butuh urunan uang buat beli bola plastik. Kakinya pun nyeker, gak rewel pake sepatu bergigi jarum yang harganya juga cukup mengigit itu.



Baiklah, kembali ke bukunya. Wrecking Eleven (terinspirasi dari game sepak bola populer 'Winning Eleven') merupakan perpaduan unik antara novel, humor, dan sepak bola. Jarang sekali kita membaca sebuah novel tentang sepak bola (kalau komik sih banyak ya), dan WE ini bisa menjadi bacaan tepat bagi kita yang merindukan masa-masa indah itu, ketika pulang sekolah adalah bermain bola sampai senja menjelang. Kadang baru pulang ketika kumandang Adzan Magrib berbunyi, ini jangan ditiru ya hehehe. Tapi, masa-masa itu memang indah sekali dikenangnya. Kalau udah kerja gini, bakalan susah kumpul-kumpul rame-rame maen bola kayak dulu lagi. Di samping fisik sudah tidak memungkinkan (lari sekilo aja udah ngos ngosan elu Yon), juga karena semuanya kini sudah sibuk dengan kegiatan mencari naskah masing-masing. Ah, novel ini benar-benar jadi obat rindu yang maknyess.


Membaca novel kocak ini, saya merasakan si penulis kok seperti "ikut bermain" sebagai salah satu anggota tim, bukan sekadar pengamat. Dia ikut menendang, dia mengoper, ikut terlonjak bahagia sekaligus bermuram durna seiring dengan pasang surut permainan. Inilah yang bikin novel sederhana ini terasa hidup. Sepak bolanya bukan sekadar tempelan, karena saya belajar banyak tentang sepak bola dari novel ini. Tentang strategi, tentang pertandingan, tentang serunya selebrasi, tentang kukuhnya persahabatan, tentang adanya suporter rusuh yang memang niatnya bikin rusuh, dan lebih pentingnya lagi, tentang sportivitas. Beda dengan novel sebelumnya yang saya baca, Wrecking Eleven tidak memaksakan endingnya agar sempurna. Penulis seperti mengajak pembaca untuk menikmati proses, dan bukan hanya terpaku pada kemenangan semata.

Humornya juga kena banget, saya sampai terkikik-kikik dibuatnya. Walau ini novel cowok banget, tapi dijamin cewek-cewek juga bakalan suka karena gokilnya kebablasan. Sayangnya, kadang penulis lupa kalau buku ini ditujukan sebagai buku humor. Beberapa bagian di dalamnya terlalu serius, mungkin karena dia ikut hanyut dalam pertandingan (dan curangnya lagi, pembaca juga ikut diseret agar hanyut dalam ceritanya) sehingga kering humor. Tapi di bagian-bagian lain, humornya tumpuk undung sampai saya terkikik-kikik sendiri di jam kerja #eh. Setelah menamatkan novel ringkas ini, saya langsung minta ke Adminnya agar dikasih satu buku gratis, dengan syarat--seperti biasa--direview. Dan, inilah review saya, buku ini BAGUS.

1 comment:

  1. Wah, makasih Mas Doni sudah baca dan menyempatkan review. Bagus review-nya. :D

    ReplyDelete