Search This Blog

Showing posts with label pinjem. Show all posts
Showing posts with label pinjem. Show all posts

Thursday, December 18, 2014

The Somplak Life

Judul : the Somplak Life
Pengarang : Ayra
Penyunting : Rezka
Sampul : Aan_Retiree
Cetakan: 1, November 2014
Tebal : 184 hlm
Penerbit : DIVA Press

23587953


“Menulis itu bukan apa, kenapa, atau siapa, tapi masalah komitmen diri sendiri akan apa yang ingin diraih.” (hlm 154)

Perkenalkan Ayra, 20 tahun, mahasiswi kedokteran gigi di salah satu perguruan tinggi swasta di Bali, jomblo 2 tahun, penulis yang puluhan naskahnya ditolak oleh penerbit, dan menderita somplak tahap akut. Gadis biasa yang sangat menyukai drama Korea ini mengaku sebagai pribadi yang luar biasa, pribadi yang ceplas-ceplos serta apa adanya, namun juga berotak cerdas, ibadah jarang bolong, dan cerdas. Sebagai seorang ketua BEM (saya masih sulit membayangkan tampang seorang ketua BEM kampus dengan sifat somplak seperti Ayra ini), dia juga tegas saat memimpin rapat. Sepertinya, Ayra memiliki seluruh karakter tak sempurna yang diharapkan dicintai oleh para pembaca muda di era modern ini, karakter biasa dengan kualitas yang diam-diam luar biasa. Berkebalikan dengan drama Korea yang sering dia tonton, di mana pria sempurna jatuh hati kepada gadis biasa, Ayra sadar betul bahwa dirinya jomblo karena dirinya tidak cantik atau pandai berdandan. Tapi, Ayra tidak ambil pusing dan tetap maju dengan hidupnya. Alih-alih mengasihani diri sendiri, dia dengan bangga berkata:

“Hidup, kan, nggak kayak di drama Korea favorit gue, di mana cowok sempurna selalu jatuh cinta sama cewek biasa. Tapi, masalahnya gue kan nggak biasa. Gue luar biasa." (hlm 16)

Tapi, ada satu hal yang membuat Ayra dan novel ini berbeda dibanding karya-karya teenlit lainnya. Meskipun sama-sama berkisah tentang anak muda yang jomblo alias tunas asmara, Ayra masih memiliki cerita lain untuk dia bagikan, yakni tentang menulis. Sebagaimana telah disinggung di muka, Ayra adalah seorang penulis gagal yang puluhan naskahnya telah ditolak oleh banyak penerbit. Tidak ada satupun yang diterima, dengan revisi sekalipun. Dari awal membaca novel ini, pembaca sudah disuguhi oleh surat penolakan naskah dari penerbit, yang pasti sudah akrab bagi para penulis dan calon penulis. Bagi Ayra, naskahnya sama dengan dirinya yang masih jomblo, yakni sama-sama belum menemukan jodohnya. Nah, bagian menulis inilah yang unik dari novel somplak ini. Ayra tetap berjuang dan ceria meskipun naskahnya terus menerus ditolak.

“Hidup adalah pilihan dengan segala risikonya. “ (hlm 142)

Kualitas inilah yang menjadikan The Somplak Life sebuah novel remaja yang tidak biasa. Selain mengangkat tema cinta dan persahabatan, pembaca juga akan disuguhi dengan banyak sekali kalimat motivasi tentang menulis. Namun, hal ini tidak kemudian membuat novel ini kehilangan gregetnya sebagai sebuah cerita. Karena pada dasarnya, sebuah novel adalah bercerita dan bukan berceramah. Jadi, tenang saja. Pembaca masih tetap bisa menikmati kisah somplak Ayra dan kawan-kawannya (yang benar-benar diceritakan dengan sangat lucu dan khas anak muda) sekaligus mendapatkan banyak kalimat-kalimat penyemangat untuk menulis yang mungkin klise tetapi masih manjur untuk diterapkan, salah satunya tentang writer’s block yang merupakan momok utama bagi para penulis.

“Writer’s block syndrome itu memang ada. Tapi hanya berlaku buat mereka yang bergantung sama mood dalam menulis. Menurutku pribadi, Ay, mood itu nggak seharusnya jadi acuan utama dalam melakukan pekerjaan apapun, baik menulis atau lain hal. “ (Hlm 153)

Sambil menikmati kehidupan Ayra sebagai mahasiswi dokter gigi, pembaca juga akan menemukan kisah-kisah cinta Ayra di masa lalu. Juga, cowok-cowok keren yang berusaha mendekatinya. Khas kisah anak muda, pembaca juga akan menjumpai penggalauan si tokoh, adegan jatuh cinta, masa-masa ketika jantung dag-dig-dug tak karuan, dan elemen-elemen kisah remaja lainnya. Ini membuat The Somplak Life masih nikmat untuk dibaca. Dengan kata lain, meskipun menyisipkan pesan-pesan yang agak banyak mengenai dunia tulis-menulis, novel ini tidak kehilangan warnanya sebagai sebuah karya cerita. Ini adalah cara yang unik sekaligus baru untuk mengajak pembaca agar tidak pantang menyerah saat menulis. Sebuah perpaduan antara novel dengan buku tentang teknik menulis, unik bukan?

"Gue belum jadi siapa-siapa di dunia tulis-menulis. Tapi, gue yakin, (suatu) hari nanti gue bisa jadi penulis beken yang nggak sekadar ngetik naskah, kirim, terus terima royalty. Gue pengen jadi penulis yang menginspirasi dan melahirkan karya yang bicara, bukan sekadar buku bacaan yang habis dibaca, ditelantarkan begitu saja.” (hlm 61)

Bagi pembaca yang menginginkan membaca novel teenlit yang beda, yang tetap lucu namun juga bermutu, The Somplak Life dapat menjadi pilihan buku yang tepat untuk dibaca.

Monday, March 17, 2014

Relic Sembilan Milenia

Judul : Relic Sembilan Milenia
Pengarang : Ray Admanto
Penyunting : Misni Parjiyati
Tebal : 182 halaman
Cetakan : 1, Maret 2014
Penerbit: PING!!!

               

                Memilih Relic Sembilan Milenia sebagai 7 nominasi pemenang #fikfanDIVA adalah pekerjaan yang sangat mudah karena cerita ini unik dan “selesai”. Menulis sebuah kisah fantasi utuh dengan jumlah halaman yang dibatasi sudah jelas tidak mudah, tidak banyak yang bisa. Dalam lomba #fikfanDIVA, peserta diharuskan menulis satu cerita utuh hanya dalam 130 halaman dua spasi! Just imagine that! Ketika dunia fantasi tengah gandrung menulis berpanjang-panjang, peserta dipaksa memangkas cerita dan memapras narasi hingga menjadi sebuah cerita utuh yang muat dalam satu naskah berhalaman tipis. Novelet fantasi, kami menyebutnya begitu. Dalam proses seleksi, banyak peserta membawa konsep cerita yang bagus dan keren, tetapi sayang kisah mereka membutuhkan terlalu banyak halaman dan tidak mungkin selesai dalam sebuah novelette tipis. Maka, inilah salah satu proses seleksi yang kami jalankan: memilih cerita yang selesai!

                Relic Sembilan Milenia dibuka dengan narasi dan perkenalan seperlunya. Karakter pun digambarkan sambil lalu, tidak menumpuk di awal cerita sehingga membuat novelette ini tidak berpanjang-panjang. Kelihatan banget kalau penulisnya sudah sering menulis, atau paling tidak sudah malang melintang pukang di dunia fiksi perfantasian Indonesia *halah. Untuk cacat logika hanya sedikit menurut saya dan dramanya pun ada—dan tidak berlebihan. Nah, bagian tengah-tengah cerita itu yang sayangnya kelihatan banget dipangkas dan dipapras habis demi persyaratan yang 130 halaman itu. Adegan-adegan di gurun, juga di kota para pencuri itu kelihatan banget banyak yang hilang padahal di bagian ini sebetulnya bisa dikembangkan lagi potensinya, terutama bagian tentang masa lalu si assassin.

Oke, kita lanjut aja ke review singkatnya ya. Assassin Creed (haduh maaf salah judul hihihi) … Relic Sembilan Milenia berkisah tentang pencarian sebuah artefak peradaban Avesta berusia 9.000 tahun yang terpendam di Gurun Shanidar. Relic ini dipercaya menjadi kunci untuk menguak penyebab kehancuran bangsa Avesta yang tiba-tiba raib tanpa sebab. Lucia Lavence, seorang arkeolog bertekad mencari relik tersebut demi melunasi utang keluarganya. Sang Kakek dulunya juga sempat memburu relik tersebut, tapi entah mengapa dia menyerah. Lucia kemudian mendatangi seorang assassin atau pembunuh bayaran untuk diajak mencari relik tersebut. Loh, cari harta kok sama pembunuh sih? Penasaran kan? Jelasnya untuk perlindungan kara Lucia juga telah menyewa sebuah tim yang berisi arkelog, dokter, dan tim penggali. Dia juga menyewa beberapa jagoan.

                Dimulailah pencarian kota misterius yang tersembunyi di gurun pasir. Si Assasin memaksa tim itu mengubah rute perjalanannya sehingga melewati Kota Pencuri. Di kota inilah terpendam masa lalu sang Assasin yang seharusnya bakal bagus banget bila dikembangkan lagi (tapi yah 130 halaman lho ingat!). Sebenarnya, akan sangat membantu banget jika buku ini dilengkapi dengan peta karena pembaca pasti bakal lebih mudah membayangkannya. Singkat kata, setelah drama celana Lucia yang hilang, mereka melanjutkan perjalanan menembus gurun pasir. Sebuah sihir kuno menyelubungi kota kuno itu, tetapi panduan sang Assasin (yang dia dapatkan dari kota pencuri) membuat mereka berhasil menemukannya.

                Di kota yang hilang inilah kisah ini mengalami krisisnya. Artefak berharga itu ternyata menyimpan sebuah misteri kuno yang sangat berbahaya. Sebuah misteri yang telah menyebabkan hancurnya peradaban bangsa Avesta. Berhasilkan Lucia dan tim-nya mengambil relik tersebut? Apa konsekuensi dahsyat yang mengiringi penemuan relik tersebut? Lalu, apa sebenarnya peranan sang assassin dalam pencarian harta ini? Pokoknya ending kisah ini asyik banget. Sebuah buku fantasi karya anak negeri yang sangat patut diapresiasi. 

Friday, December 20, 2013

Penjaja Cerita Cinta

Judul : Penjaja Cerita Cinta
Penulis : @edi_akhiles
Cetakan : 1, Desember 2013
Tebal : 192 halaman
Penerbit : DIVA Press



        Jika ada satu kualitas yang paling saya kagumi dari sosok Edi Muyono, salah satunya pasti adalah produktivitas beliau dalam menulis. Tidak kurang dari 700-an cerpen telah ia tulis sejak tahun 1995, yang semuanya bertebaran di media-media massa daerah maupun nasional. Sebuah pencapaian yang menjadikan dirinya dimasukkan dalam Angkatan Sastra tahun 2000 oleh sastrawan Korrie Layun Lampan. Berbeda dengan banyak penulis lain yang biasanya fokus ke menulis dan meninggalkan bisnis, Edi Akhiles memilih untuk memadukan kedua dunia ini. Ia menulis sekaligus berbisnis. Kecintaannya menulis ini semakin didukung dengan pilihan bisnisnya yang jatuh kepada industri penerbitan, sebuah pilihan yang sangat tepat karena tiada bisnis lain yang begitu dekat dengan kegiatan menulis selain bisnis penerbitan.

      Penjaja Cerita Cinta adalah kumpulan cerpen ke sekian yang telah diproduksi sang penulis. Sebagaimana kita ketahui, tidak mudah untuk menuliskan sebuah cerpen karena cerpen itu terbatasi oleh jumlah kata. Tidak seperti novel dimana penulis bisa lebih mengolah dan memaksimalkan tulisannya, konsep cerpen yang “pendek” memaksa penulis untuk hemat kata dan irit kalimat, untuk bisa memasukkan banyak makna dan cerita dalam beberapa lembar tulisan. Bukan berarti menulis cerpen lebih susah dari menulis novel, keduanya memiliki tantangan masing-masing (dan banyak orang yang kelelahan dan tidak mampu menyelesaikan menulis novelnya karena terlalu panjang bukan?)

                Membaca Penjaja Cerita Cinta bisa saya ibaratkan dengan membaca sebuah sastra yang ter-gadget-isasi. Karya yang begitu dipengaruhi oleh hiruk-pikuk media sosial, di mana penyebaran dan penulisannya sama-sama tidak bisa dilepaskan dari peran teknologi internet yang digandrungi anak-anak muda modern di zaman ini. Total ada 16 cerpen dalam buku ini, masing-masing memiliki gaya dan tipikalnya sendiri-sendiri. Jangan berharap untuk membaca kumcer ini dengan penuh keseriusan atau sambil berkontemplasi, karena penulis menyodorkan 16 cerita dengan tema yang berbeda-beda. Ada yang serius berbalut senja, termehek-mehek atas nama cinta, mengharu-biru menjunjung orang tua, hingga kisah filsafati yang ditulis renyah-ceria. Ibarat permen, kumcer ini bisa dibilang rame rasanya. Ibarat minuman, kumcer ini adalah es buah dengan aneka rasa.

       Kisah pertama, Penjaja Cerita Cinta menurut saya adalah yang paling “nyastra” diantara cerpen-cerpen yang lain. Masih mengangkat tema yang sama: senja. Seno Gumira Ajidarma rupanya telah menjadikan senja begitu rupa indahnya sehingga menginspirasi banyak orang untuk mencintai dan (lagi-lagi) menulis tema tentang senja. Kisah ini mengangkat kisah penantian cinta seorang wanita di kala senja. Diksi dan ceritanya bagus sekali, tapi saya rasa cerita ini terlalu panjang untuk bisa dibilang sebagai cerita pendek. Ada bagian-bagian yang bisa dimampatkan sehingga lebih mengena.

       Dua kisah berikutnya, Cinta is Ketek dan Cinta yang Tak Berkata-Kata bertema sangat remaja. Yang pertama kisahnya abegeh banget, sementara yang kedua bisa dibilang romantik-inspiratif, bahwa “cinta yang sejati dibuktikan lewat tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata (hlm 60). Sayangnya, saya menemukan beberapa typo dalam cerita yang unik ini. Cerita selanjutnya Dijual Murah Surga Seisinya mungkin adalah yang menginspirasi penulis mengadakan program #AksiSejutaBukuuntukTamanBacaandanPerpsutakaan, begitu menyentil kesadaran diri.

      Dalam kisah-kisah berikutnya, pembaca akan menjumpai kisah-kisah khas yang langsung mengingatkan pembaca pada sosok penulis sendiri. Sebagian kisah ini mungkin memang terinspirasi oleh kejadian-kejadian nyata yang dialami si penulis, juga perenungan-perenungan beliau yang kadang diberi catatan kaki ala-ala filsuf. Saya paling suka dengan cerita   Si X, si X, dan God serta Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya, kedua cerita itu sukses membuat saya termenung-menung di sela mengerjakan tugas di kantor (Hyaaa ketahuan membaca buku di jam kerja kamu Yon!)

      Ada kelebihan, pasti ada juga kelemahan. Agar adil, saya harus paparkan juga beberapa kelemahan kumcer ini agar bisa menjadi masukan yang semoga dapat membangun ke depannya. Walau digarap dengan tema warna-warni, hampir sebagian besar cerpen di kumcer ini masih sangat berasa banget Edi Akhilesnya. Mulai dari penggulangan diksi-diksi yang serupa artinya, penulisan satu kalimat satu kata untuk menegaskan, bau-bau filsafat dan ceplas-ceplos ala Pak Edi entah mungkin tanpa sengaja sering menyusup masuk dalam sejumlah besar cerpen. Ini menjadikan cerpen-cerpen ini menjadi “berasa agak serupa meskipun judul dan temanya berbeda.” Selain itu, ada beberapa cerita yang menurut saya (maafkan pengetahuan saya yang cetek ini) lebih cocok disebuh curblog (curhatan dalam blog) ketimbang sebuah cerpen. Atau mungkin saya yang terlalu membatasi diri akan makna dari sebuah cerpen?

       Terakhir, kumcer ini diakhiri dengan tidak biasa—sebagaimana penulisnya yang dikenal sebagai sosok yang tidak biasa. Dalam bab terakhir, pembaca akan disuguhi sekelumit pelajaran tentang bagaimana menjadi penulis yang baik: yakni (1) selalu menambah pengetahuan, (2) menjunjung tinggi detail, dan (3) bagaimana memiliki sikap atau attitude yang baik. Simpel tapi sangat mengena dan bermanfaat.
                 
                 



                

Tuesday, September 10, 2013

Tangan Kelima, I Mobil, 4 Nama, 5 Misteri



Judul     : Tangan Kelima, I Mobil, 4 Nama, 5 Misteri
Pengarang          : Christian Armanto
Penyunting        : Muthia Esfand
Sampul                 : Nuruli Khotimah
Cetakan               : 1, Mei 2013
Halaman              : 366 hlm
Penerbit              : Visi Media


                Kadang, sebuah misteri seru dan petualangan arkeologis ala Indiana Jones tidak melulu harus menyusur gua dan menembus hutan. Petualangan mencari harta karun peninggalan leluhur bisa juga terjadi di kota metropolitan seperti Jakarta, dengan kejutan serta misteri yang tidak kalah menegangkan. Begitulah yang dialami oleh Rantau, seorang mahasiswa arkeologis yang insting eksplorasinya langsung terpancing ketika pada suatu sore ia menemukan sebuah mobil antik Mercedez Benz SL klasik warna merah di garasi rumah ayahnya yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Untuk ukuran tahun 2000-an, mobil ini termasuk langka dan harganya sangat mahal. Lebih mengherankan lagi, Rantau menemukan surat BPKB masih tergeletak begitu saja di dalam mobil. Seingatnya, sang ayah bukanlah penyuka mobil antik. Lalu, milik siapakah mobil mahal itu?

                Sesuai dengan namanya, Rantau pun seolah ditakdirkan untuk merantau menelusuri 4 nama pemilik sebelumnya yang tertera dalam BPKB yang sudah beberapa kali dibalik namanya. Ia harus menemukan siapa sebenarnya pemilik mobil itu, sang tangan kelima. Satu per satu ia datangi orang-orang yang ada dalam surat itu. Penelusurannya membawa pada seorang gadis cantik keturunan Indo bernama Anna yang mengaku sebagai adik dari Leo, sang pemilik ketiga. Bersama-sama, keduanya kemudian larut dalam upaya menelusuri dan mencari siapa saja pemilik mobil klasik itu sebelumnya.

                Dan, dimulailah pencarian itu. Berbagai orang mereka datangi, berbagai peristiwa mereka selidiki. Dan, memang terbukti bahwa itu bukanlah mobil biasa. Belum sempat mereka menemukan tangan kedua, ada pihak-pihak yang sepertinya tidak suka dengan upaya pencarian mereka. Beberapa kali Rantau melihat orang tidak dikenal menyelinap mendekati mobilnya. Beberapa kali pula banyak orang yang ngotot ingin menawar mobil itu, berapapun harganya. Masalah semakin pelik karena mobil itu entah bagaimana memiliki kaitan dengan peristiwa September tahun 1965. Tanpa disadari, banyak tangan yang rupanya bermain terhadap mobil ini. Rantau harus mempertaruhkan jiwa arkelogisnya untuk menguak kebenaran. Ia harus mencari tahu siapa pemilik yang berhak dari mobil ini, meskipun dengan demikian ia harus mempertaruhkan keselamatan diri, keselamatan Anna, dan juga sahabat terbaiknya.

                Membaca Tangan Kelima adalah sebuah penghiburan terhadap kurangnya novel detektif di Indonesia akhir-akhir ini. Membandingkan Tangan Kelima dengan karya-karya Dan Brown mungkin terlalu berlebihan. Namun, novel ini merupakan awal yang baik bagi bangkit dan majunya lagi genre novel misteri dan detektif di Indonesia. Novel ini memiliki alur dan twist yang bisa dibilang ringan dan menyenangkan, namun unsur kejutannya memang tidak seseru yang dibayangkan meskipun cukup membuat penasaran. Embel-embel kata “Kelima” pada judulnya serta potongan gambar demo mahasiswa tahun 1965 di sampul depan cukup menjadi penarik perhatian, membuat pembaca berharap akan membaca karya sekelas Negara Kelima­-nya ES Ito. Sayangnya, novel ini tidaklah seberat Negara Kelima. Kalau saja pembaca mau lebih teliti membaca judulnya, pasti ketebak buku ini bercerita tentang apa. Satu lagi yang kurang mengena, gaya menulis yang digunakan dalam Tangan Kelima terlalu agak “berbunga-bunga dan nyastra, sepertinya kurang cocok digunakan untuk genre novel ini sehingga efek tegangnya malah berkurang. Namun, secara cerita bisa dibilang Tangan Kelima terbilang cukup memuaskan pembaca. Semoga, karya ini turut mengilhami terbitnya novel-novel bergenre misteri dan penyelidikan di tanah air.

NB: Jangan membaca lipatan bergambar amplop di sampul belakang buku ini sebelum Anda selesai membacanya. Jawaban tentang siapa Tangan Kelima pemilik mobil itu ada di sana. Jangan bilang saya belum memperingatkan Anda!

Jakarta Love Story



Judul     : Jakarta Love Story
Pengarang          : Rudy Efendi
Editor                 : Aya Sophia
Halaman            : 479 hlm
Cetakan             : Pertama, Agustus 2013
Penerbit             : DIVA Press



"Bukankah tidak dibutuhkan kata-kata lagi tatkala dalam diam dua hati telah saling bicara?" (Jakarta Love Story, 420)

                Satu lagi buku bertema LGBT yang meramaikan khasanah sastra Indonesia setelah sebelumnya kita dihibur dengan Lelaki Terindah, Garis Tepi Seorang Lesbian (terbit ulang dengan judul Ashmora Paria), dan yang terbaru The Sweet Sins. Buku baru tentang percintaan yang tidak biasa, yang lain dari kecenderungan umumnya, yakni tentang cinta yang timbul antar jenis kelamin yang sama. Satu kisah lagi diangkat untuk mengetahui adakah cinta sejati dari hubungan tidak biasa ini. ketika kedua hati saling bertaut dan seseorang tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh hati, mampukah dunia menaklumi dan menerima cinta yang  tidak biasa ini? Mampukah cinta yang begitu tulus dan suci meluluhkan hati dunia meskipun cinta itu bertentangan dengan kodrat dan menyalahi aturan alam? Jakarta Love Story tampaknya ditulis untuk menjawab dua pertanyaan itu.

                Rifai, seorang eksekutif muda mapan, tipikal lajang metropolitan dengan karier baik. Tidak ada yang kurang dalam dirinya: muda, berparas tampan, dompet tebal, pekerjaan mapan, rumah tinggal mentereng, dan karier cemerlang. Semuanya sempurna kecuali satu: ia adalah seorang biseksual (tertarik pada pria maupun wanita). Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan Fabio, seorang mahasiwa polos yang waktu itu tengah kepepet dan terpaksa melacurkan diri untuk membayar uang kosnya. Rifai yang segera tertarik pada anak muda itu pun “menyewa” Fabian. Sebuah pertemuan awal yang kemudian memunculkan ikatan pada keduanya.

                Waktu berlalu dan seiring dengan intensnya pertemuan keduanya, rasa cinta terlarang pun tumbuh di dalam dada. Jika sebelumnya nafsu yang mengelora, kini cinta mengambil alih tempatnya. Keduanya bak sepasang kekasih yang saling membutuhkan, tidak hanya secara fisik namun juga secara psikis. Dan, keduanya telah mengikrarkan sebuah cinta yang menentang dunia, resiko apapun akan mereka  tanggung. Cinta telah terlalu menggelapkan mata, tanpa tahu betapa sakit dan dalamnya kejatuhan yang menunggu mereka di depan karena cinta terlarangnya.

                Saya membaca Jakarta Love Story dengan model skip-skip-skip alias lompat-lompat per 10 halaman (eh maaf ya hiihihihi) sehingga wajar saja novel setebal ini selesai dalam empat jam. Rekor ini hanya terkalahkan oleh pembacaan trilogi 50 Shades of Grey yang ebooknya selesai saya baca (eh saya skip-skip kemudian ditandai sana-sini) dalam waktu hanya 2 jam (muahahaha malah curcol). Kembali ke novel ini, di bagian-bagian awal saya berharap akan menemukan rasa yang berbeda dari Jakarta Love Story, tapi pembacaan sampai bab 3 sepertinya arah cerita sudah dapat ditebak sehingga yah jurus skip skip beraksi deh. Model kisah seperti ini memang cenderung kurang variatif. Penulis seakan terkekang untuk meliarkan imajinasinya (haiah bahasanya) karena tema cinta sejenis seperti ini memang biasanya sempit sekali (atau sengaja dipersempit). Pembaca dan budaya Indonesia sepertinya tidak siap untuk menerima sedikit pergeseran hukum alam ini, meskipun semuanya atas nama cinta. Kini, terbukti sudah bahwa cinta bukanlah segalanya walau tanpa cinta segalanya juga bukan apa-apa. Kita tidak bisa hidup dengan cinta semata, walau hidup tanpa cinta adalah penderitaan tiada tara. (ini kenapa saya malah berpuisi?)

                Pokoknya begitu deh. Bagi yang sudah membaca Lelaki Terindah dan The Sweet Sins pasti bisa menebak ke arah mana novel ini menuju pada endingnya. Walaupun sempat berputar-putar, tapi ke situ-situ juga akhirnya. Kelebihannya, Jakarta Love Story bisa dibilang novel LGBT yang lebih ke arah romantis ketimbang ke arah seksualitas. Hati lebih banyak berbicara kaitannya dengan hubungan Rifai dan Fabio. Jargon dan kata-kata berbau seksualitas dalam novel ini juga tidak seberani seperti di dalam The Sweet Sins, bisa dibilang penulis bermain aman dengan hanya bermain hati. Ada satu kutipan yang sempat membuat cukup indah yang saya temukan saat sedang men-ksip-ksip novel ini, sebuah kutipan yang sebenarnya biasa kita dengarkan keluar dari mulut para pecinta. 

 "Kebahagian terbesar dlm hidupku adalah ketika mengenalmu. Tdk ada yg bisa menggantikan hal itu sampai kapan pun." (Jakarta Love Story, 478)

Monday, September 2, 2013

86

Judul     : 86
Pengarang          : Okky Madasari
Sampul                 : Restu Ratnaningtyas
Cetakan               : pertama, Maret 2011
Tebal                     :  252 halaman
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

86

                Cerita yang bagus bukanlah cerita yang sok mengurui, tapi mendidik dengan cara menunjukkan. Dan, itulah yang dengan begitu piawai telah dilakukan oleh Okky Madadari melalui novel 86 ini. Setelah sukses merebut perhatian masyarakat luas dengan novel Entrok-nya, penulis yang juga berlatar belakang dunia jurnalistik ini kembali menelurkan sebuah karya yang ditulis berdasarkan sebuah fenomena  negatif yang tampaknya sudah begitu mengejala di negara kita: KORUPSI. Tulisannya selalu khas, bercirikan sederhana namun menangkap apa-apa yang nyata. Gejala dan kebiasaan manusia yang sering kita jumpai dalam keseharian mampu ia angkat kembali dan disuguhkan ke hadapan pembaca dalam sebuah prosa yang mencerahkan.

                Novel 86 berkisah tentang tema besar korupsi, juga kong kalingkong alias suap-menyuap yang rupanya sudah mengakar kuat di berbagai sendi kehidupan bangsa ini. Arimbi yang bekerja sebagai juru ketik di sebuah pengadilan tinggi negeri di Jakarta menjalani hari-hatinya dengan begitu biasa, dengan begitu polos. Berangkat pagi dan pulang malam, naik angkot dan terjebak kemacetan, menjadi saksi tidurnya para hakim yang mulia terhormat saat tengah sidang, dan hidupnya tetap begitu-beitu saja, tidak ada yang istimewa. Seperti anak-anak muda mapan Jakarta, Arimbi senang-senang saja dengan hidupnya yang bak robot. Namun, mana ada sih orang yang benar-benar bisa dibiarkan dengan urusannya sendiri di negeri ini? Masyarakat kita adalah masyarakat yang ingin tahu, sayangnya keingintahuan itu seperti bukan pada tempatnya. Bukannya sibuk ingin tahu dalam hal ilmu pengetahuan, kita malah sibuk  ingin tahu dengan urusan orang: siapa pacaran sama siapa, kapan nikahnya si A, mengapa si B selalu pulang malam, dan lain-lain sejenisnya

Salah satu keingintahuan itu adalah pertanyaan dari keluarga tentang kapan Arimbi mencari pasangan hidup. Ia juga sering dibanding-bandingkan dengan  si A yang anaknya sukses setelah jadi lurah atau pegawai kelurahan, sementara Arimbi yang bekerja sebagai PNS di Jakarta hanya begitu-begitu saja hidupnya, rumah pun masih mengontrak. Gaji 2,5 juta tampaknya ngepas sekali untuk hidup di Jakarta, hingga secara perlahan Arimbi yang polos pun mulai bertanya-tanya mengapa dirinya tidak bisa seperti Anisa (teman sebelahnya yang bermobil) dan Bu Danti (yang bisa bolak-balik ke Singapura beberapa minggu sekali). Lingkungan yang kotor itu pun mulai mengubahnya. Semuanya terjawab oleh istilah 86, sebuah istilah yang dengan segera Arimbi akan sering mengucapkannya.

“Ungkapan 86 awalnya digunakan du kepolisian, yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai penyelesaian berbagai urusan dengan menggunakan uang.” (hlm 94).

Maka, mulailah Arimbi berkenalan dan kemudian ketagihan dengan keampuhan dua angka sakti itu. Cukup dengan bilang “delapan enam lah”, maka uang mulai mengalir ke kantongnya. Semakin lama, semakin ia terjerat oleh rayuan 86, Arimbi semakin mengetahui borok-borok korupsi yang ternyata sudah menggerogoti hingga ke lingkungan kepolisian dan pengadilan, dua unsur yang seharusnya menjadi hamba hukum dan tempat di mana keadilan seharusnya ditegakkan. Namun, lingkungan yang sudah telanjur “kotor” membuat Arimbi terbuai di dalamnya. “Daripada tidak kebagian, toh yang lain juga begitu, “ begitu kilahnya.

Jeratan angka 86 terhadap gadis itu semakin menguat saat Arimbi menikah dengan Ananta. Dengan dalih untuk membangun kehidupan berkeluarga, mulailah Arimbi memberanikan diri untuk mengambil lebih dan lebih lagi. Bahkan, ia kini turut kong kalingkong bersama Bu Danti yang ternyata jauh lebih berpengalaman darinya. Ketika akhirnya keadilan berbicara dan Arimbi harus masuk penjara, kekuatan angka 86 ternyata juga sampai di sana. Akankah Arimbi kapok dan menghentikan perilaku nistanya ini? Ataukah ia akan semakin terjerat parah? Mau tahu? Berani bayar berapa? Ntar cincau deh, tahu beres pokoknya wkwkwk.

Dengan simpel novel ini mengangkat tema berat melalui kehidupan gadis sederhana bernama Arimbi. Melalui  penjalanan hidupnya, penulis seolah berupaya menunjukkan bahwa lingkungan ternyata masih menyumbang pengaruh paling besar dalam mengubah seseorang. Lingkungan yang salah bisa membuat orang kalah jika ia tidak berhati-hati, Arimbi adalah contohnya. Namun, korupsi sebagai sebuah gejala yang sudah telanjur meluas dan mengejala semestinya juga harus dilawan, sekecil apapun itu. Kisah Arimbi menunjukkan bahwa bahkan korupsi yang sedikit-sedikit dimaklumi akhirnya akan tumbuh semakin besar dan tak terkendali. Bacalah, novel ini bisa menjadi satu percikan kecil untuk menyalakan kembali semangat memerangi korupsi yang sapatutnya kita dukung bersama.

“Harta yang baik itu adalah harta yang tidak memunculkan rasa waswas ketika kita menggunakannya.” 

The Book of Lost Things (Kitab tentang Yang Telah Hilang)

Judul                     : The Book of Lost Things (Kitab tentang Yang Telah Hilang)
Pengarang          : John Connolly
Penerjemah       : Tantri Lesmana
Sampul                 : Rob Ryan
Cetakan               : Keempat, 2010
Halaman              : 472
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

               The Book of Lost Things

                “Segala yang bisa dibayangkan adalah nyata.” (Pablo Picasso)

                Kutipan di atas sangat tepat sekali menggambarkan isi dari buku ini. David, seorang bocah yang merasa ditinggalkan oleh ayahnya yang menikah lagi, berupaya mencari penghiburan lewat cerita. Dan, kisah apa lagi yang bisa menjadi pengalih perhatian dari dunia nyata selain kisah fiksi fantasi. Sayangnya, kisah fantasi itu tidaklah selalu menyenangkan seperti yang sering kita baca dalam buku-buku dongeng dunia. Sering kali, apa yang tersuguhkan dalam kisah itu benar-benar berbeda dengan yang ada dalam bayangkan kita. Di dunia ini, segala sesuatu ada harganya, termasuk sebuah cerita. Maka, ketika David yang marah pada dirinya, pada ibu tirinya, pada ayahnya, pada mereka yang telah mengabaikannya, ia tanpa ragu mengikuti suara-suara dalam buku cerita yang membujuknya untuk masuk ke dunia ajaib yang hanya ada dalam buku-buku cerita.

                Dan, masuklah David ke sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari dunianya. Ia tiba di negeri fantasi  yang menawarkan petualangan seru. Sayangnya, ia langsung menyesali keputusannya untuk masuk ke dunia tersebut karena yang menantinya di sana hanyalah gigi taring yang berlumuran darah, cakar setajam silet yang suka mengoyak, hutan-hutan kelam berisi makhluk air kegelapan, serta penyihir kejam yang suka menyula di atas kastilnya. Namun, ia tetap harus menempuh petualangan ini demi mencari Kitab tentang Yang Telah Hilang, sebuah buku yang bisa mengirimkannya pulang kembali ke dunia nyata. Perhatian, kisah ini bukanlah untuk konsumsi anak-anak. Karena walau masuk dalam genre fantasi, tapi Gramedia melabeli  buku ini sebaai novel dewasa, karena banyak hal-hal yang seharusnya tidak boleh dibaca(apalagi dilihat) oleh anak-anak  dalam buku ini. Petualangan David adalah petualangan maut, dan ia harus bisa melewati itu semua jika ingin kembali ke dunianya.

                Dari awal, dongeng ini sudah kelam. Mungkin penulis terinspirasi oleh dongeng-dongeng Grimm bersaudara yang ternyata kejam dalam versi aslinya. Dalam perjalannya, David akan menjumpai serigala dan manusia setengah serigala, SnowWhite yang jauh dari kesan anggun dan *uhuk* ramping, penyihir penjaga kastil yang gemar mengoleksi tengkorak para ksatria, hingga monster-monster bercakar yang sebaiknya tidak dituliskan di sini demi kebaikan pembaca sekalian. Untungnya, John Connolly sangat piawai dalam menuliskan cerita. Petualangan-petualangan David dituliskan lewat alur yang naik turun, mendebarkan, dan tidak terduga. Kita tidak akan tahu apa yang menanti David di balik pepohonan di depannya. Alurnya dijaga agar tidak membuat pembaca bosan. Pertempuran dan cabikan dan keberanian muncul silih berganti, dengan plesetan versi horor dari dongeng-dongeng klasik dunia.

Susah sekali berpisah dari buku ini kalau belum benar-benar selesai membacanya. Di samping seru, banyak adegan berdarah-darah dalam novel ini sehingga sebaiknya anak-anak dijauhkan (untuk sementara) dari membaca buku ini. Perhatian, ini adalah dongeng untuk orang dewasa. Tapi, pembaca akan mengalami sebuah pengalaman membaca yang menyenangkan, ironis tapi menghibur. Dengan kisah-kisah yang sama sekali baru. Di akhir cerita, buku ini akan ditutup dengan penuh rasa kepuasan. Bukan puas seperti “hidup bahagia selama-lamanya”, tapi perasaan puas ketika kita sudah menyelesaikan sebuah perjalanan dan kemudian bertambah dewasa dan lebih baik setelahnya—bagaimanapun ujung dari perjalanan itu. Sebagaimana David, yang bertambah semakin dewasa dalam memandang semuanya. Ini adalah sebuah kisah yang tidak hanya menghibur, namun juga mendewasakan pembaca.


“…dan menjelaskan kepada mereka bahwa kisah-kisah itu ingin diceritakan dan buku-buku itu ingin dibaca, dan segala sesuatu yang perlu mereka ketahui tentang kehidupan serta negeri yang ditulisnya, atau tentang negeri atau dunia apa pun yang mereka bayangkan, semua itu ada di dalam buku-buku.” (hlm 467)

Friday, October 12, 2012

Sweet Sins



Judul                 : Sweet Sins
Pengarang        : Rangga Wirianto Putra
Editor               : Ratna Mariastuti
Penerbit            : DIVA Press
Cetakan            : Oktober 2012

 

“Cinta itu adalah untuk diperjuangkan. Benar atau pun salah. Benar adalah bagi  mereka yang jatuh cinta. Salah? Itu cuma berlaku bagi mereka yang berpikiran heteronormatif. Love is about YOU and ME, not about THEM.” (hlm 183)

             
          Sebuah kisah jujur tentang mencintai, itulah Sweet Sins. Adalah Reino Regha Prawira, seorang mahasiswa sekaligus merangkap gigolo, dan Ardo Praditya, seorang eksekutif muda kenamaan dengan karir cemerlang. Keduanya sama-sama dipertemukan oleh ikatan takdir untuk saling bertemu, saling merawat, saling menguatkan, saling mencintai. Semua tentang pasangan ini seolah serbasempurna, Rei yang muda dan tampan dan atletis, serta Ardo yang cerdas, dewasa, pengertian, dan kekasih yang hebat. Hanya satu yang tidak sempurna—dan memang tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini—mereka adalah dua lelaki yang saling mencintai satu sama lain.

            “Karena setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk jatuh cinta.” (hlm 240)

            Rei yang kehilangan sosok ayahnya merasa menemukan perlindungan emosional dari sosok Ardo, sementara Ardo dengan orientasi seksualnya yang agak berbeda juga menemukan keindahan dalam diri Rei. Begitu rupa tautan terlarang yang mempersatukan keduanya sehingga cinta sejenis itu bukannya penuh lubang tapi malah saling melengkapi dan menguatkan. Tanpa sadar, hubungan terlarang itulah yang menghebatkan keduanya. Berkat Ardo, Rei mulai meninggalkan dunia gelapnya sebagai gigolo yang setiap malam clubbing  dan berakhir di ranjang tante-tante girang. 
            
          Keduanya sama-sama bertumbuh dewasa dalam cinta itu. Sebagaimana sebuah ungkapan dalam buku ini, cinta itu mendewasakan, cinta itu menghebatkan. Dari Ardo, Rei belajar banyak hal tentang pelajaran kehidupan, tentang pekerjaan, tentang bersyukur, dan tentang cinta itu sendiri. Yang ada di antara Rei dan Ardo bukan semata cinta fisik, tapi keduanya adalah manifestasi cinta murni dalam bentuk yang agak “di luar kebiasaan”.

            “Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)

            “Cinta itu diperjuangkan. Yang datang sendiri itu bukan cinta tapi nafsu.” (216)

Terlepas dari hubungan tidak biasa di antara kedua pria ini, Sweet Sins tidak terlalu menimbulkan rasa mual di perut sebagaimana pembacaan Lelaki Terindah. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan selain gambaran tentang hubungan fisik dan kasih sayang sesama pria. Sweets Sins mengajak kita untuk memandang orang-orang yang berbeda dengan sudut pandang berbeda. Untuk memandang dari banyak sisi, dan untuk belajar mensyukuri cinta, bagaimanapun cara cinta itu termanifestasi.

            Berterimakasihlah sesering mungkin. Bersyukur atas segala kelebihan, menerima kekurangan, mencari persamaan, dan menghormati perbedaan.” (hlm 156)

            “Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan  datang. (hlm 180)

Keindahan macam apa yang dipandang  Ardo dari sosok Rei, saya tidak bisa mengambarkannya. Saya malah terus merasa kalau Rei ini cewek dalm novel Mira W. Tapi. Sebagai mana kata Ardo, tidak semua keindahan itu tampak sama di mata orang. Jika pembaca bertanya keindahan macam apa yang membuat Ardo berani mengandeng tangan Rei di Telaga Sarangan, maka jawabannya mungkin: 

            Kadang, keindahan adalah bukan untuk dideskripsikan. Hanya untuk dinikmati.” (hlm 231)

            Dan, ketika cinta terlarang di antara keduanya makin kuat, datanglah masa-masa ujian cinta. Setelah mendapatkan, kita harus mempertahankan cinta itu. Masalahnya, cinta Rei dan Ardo sangatlah rumit. Cinta mereka sudah berbeda sejak awal, dan keduanya sama-sama menyadari bahwa cinta mereka tidaklah abadi, walaupun perasaan kasih di antara keduanya tak terhapuskan. Ardo diminta untuk menikah oleh orang tuanya. Sebuah permintaan terakhir seorang ayah  yang ingin melihat anaknya bahagia menjelang ajal, sebuah permintaan yang tak kuasa ditolak oleh Ardo. Kegalauan pun melanda. Rei tahu bahwa hubungan nya dengan Ardo tidak akan pernah mulus sejak awal. Terlalu banyak pandangan yang berbeda, norma yang melarang, serta batasan-batasan sosial serta alamiah yang menghalangi keduanya untuk bisa menjadi kekasih abadi. Rei pun sadar, ia harus rela melepaskan untuk mencintai.

            Mengambil tema yang agak mirip dengan Lelaki Terindah, novel Sweet Sins adalah sebuah kisah tentang pertemuan, perjuangan cinta, dan kemudian kerelaan untuk melepaskan. Namun, saya kurang menyukai ending Lelaki Terindah yang masih galau. Sweet Sins diakhiri dengan manis, dengan penutup yang indah layaknya opera aria yang dilantunkan dengan mempesona oleh sang diva. Dalam bab terakhir, berderet-deret makna dan petuah kehidupan yang dipaparkan dengan begitu lembutnya. Tentang kerelaan berkorban dan tentang melepaskan sebagai bentuk tertinggi dari mencintai. Memang, beberapa bagian dalam novel ini cukup erotis, cukup vulgar dalam menggambarkan adegan seksual antar sesama pria. Tapi, kevulgarannya merupakan cerminan dari kejujuran buku ini. Bahwa Sweet Sins bukan sekadar cerita yang terlihat pura-pura, jelas sekali tidak muncul kemunafikan dalam ceritanya. Rei dan Ardo memang saling  mencintai dan mereka melakukan hubungan yang terlarang, tetapi pada akhirnya, keduanya akan menemui ujung kehidupan cinta yang paling indah dengan sangat manisnya. 

            Siang dan malam, panas dan dingin, tambah dan kurang, hitam dan putih, materi dan non materi, fisik dan jiwa, yin dan yang, begitulah alam semesta ini bekerja. Semuanya saling berpasangan, saling melengkapi, saling menguatkan. Cinta itu, sekali lagi, memang menghebatkan.