Search This Blog

Showing posts with label LGBT. Show all posts
Showing posts with label LGBT. Show all posts

Monday, October 28, 2019

Meratapi yang Liyan dalam Rumah Ilalang


Judul : RUMAH ILALANG
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 135 hal
ISBN : 9786237290230


            Kita mungkin sudah pernah atau mungkin sering melihat waria (bahasa Internasionalnya transgender, tetapi orang biasa menyebut mereka dengan bencong¸ banci, atau wadam). Pertanyaannya, pernahkah kita melihat, atau mungkin iseng bertanya bagaimana seorang waria dimakamkan ketika dia meninggal? Maksudnya, apakah dia dikebumikan sebagai laki-laki atau seorang perempuan (jika kebetulan dia beragama Islam). Dalam kasus kebanyakan, seorang waria tetap dianggap sebagai pria sehingga kemungkinan dia akan dikebumikan selayaknya seorang pria. Soal apakah yang dilakukannya semasa hidup, biar lah itu menjadi urusannya dengan Tuhannya.  

Agama itu baik. Tetapi kadang pemainnya tidak. (hlm. 46)

Thursday, October 5, 2017

Kisah Kasih Dua Lelaki, Mungkinkah Cinta?



Judul: Mungkinkah Cinta?
Pengarang: Valen Suzan
Cetakan: Pertama, September 2017
Tebal: 516 hlm
Penerbit: Leutika Prio


36323978


Sudah beberapa kali saya membaca dan mengulas novel-novel tentang cinta sejenis. Kebanyakan—kalau tidak dibilang semua—berakhir dengan ikatan cinta yang ‘terpaksa’ harus dihentikan karena beragam sebab. Dalam Jakarta Love Story dan Lelaki Terindah, cerita cinta itu pupus dengan berakhirnya kehidupan salah satu pasangan. Sementara, dalam The Sweet Sins dan Before Us, para penulisnya lebih memilih ‘jarak’ sebagai pembatas yang pada akhirnya akan mengakhiri hubungan terlarang ini. Para penulis mungkin lebih memilih cara aman ini agar karyanya tidak dianggap ‘melegalkan’ hubungan sejenis mengingat pasar pembaca di Indonesia yang sangat menentang hubungan cinta yang tidak normal tersebut. Bisa menulis dan menerbitkan buku dengan tema menyimpang seperti homoseksual di Indonesia saja sudah bikin waswas, apalagi kalau ditambah dengan ending yang menjurus pada dukungan pada cinta sejenis. Bisa-bisa bukunya bakal dilarang terbit dan dijual di Indonesia. Nah, kalau Mungkinkah Cinta? ini bagaimana? Ternyata, akhirnya happy ending, saudara-saudari!

Tuesday, May 19, 2015

Cinta Terlarang



Judul : Cinta Terlarang
Pengarang : Andre Aciman
Penerjemah : FX. Dono Sunardi
Penyunting : Istiani P
Sampul : indieguerillas.com
Cetakan  : 2, 2008
Penerbit  : Serambi

 15829996
             
            Pemilihan judul Cinta Terlarang yang menurut saya sangat jauh esensinya dari judul asli¸ Call Me by Your Name, sepertinya turut berandil besar membuat novel indah ini tenggelam. Cinta Terlarang mengisyaratkan sesuatu yang harus dijauhi, yang tabu tapi menggoda, yang harus dihindari jika ingin menjadi bagian dari kita yang normal. Dua kata itu, ketika digunakan untuk melabeli buku ini, menjadikan novel ini jatuh beberapa derajat menjadi seolah tidak lebih dari sekadar sebuah novel mesum tentang percintaan antara dua pemuda. Sebaliknya, judul asli, Panggillah Aku dengan Namamu mengisyaratkan suatu kedalaman cinta universal, cinta yang indah, yang sakral dan intim, sekalipun itu cinta dari dua orang dengan jenis kelamin yang sama. Ketika melihat buku ini dipajang di toko buku, pembaca Indonesia mungkin sudah ilfil duluan dengan judulnya, pasti gitu-gitu aja semacam Lelaki Terindah nya Andrei Aksana. Padahal, novel yang memenangkan Rauca Award 2007 sebagai novel erotis terbaik ini menghantarkan sebuah kisah cinta yang universal, jauh lebih dalam dan syahdu dengan caranya sendiri.  Wow, ada ya penghargaan untuk novel erotis terbaik? LOL

            “Panggil aku dengan namamu dan aku akan memanggilmu dengan namaku.”(hlm. 223)

Tuesday, September 10, 2013

Jakarta Love Story



Judul     : Jakarta Love Story
Pengarang          : Rudy Efendi
Editor                 : Aya Sophia
Halaman            : 479 hlm
Cetakan             : Pertama, Agustus 2013
Penerbit             : DIVA Press



"Bukankah tidak dibutuhkan kata-kata lagi tatkala dalam diam dua hati telah saling bicara?" (Jakarta Love Story, 420)

                Satu lagi buku bertema LGBT yang meramaikan khasanah sastra Indonesia setelah sebelumnya kita dihibur dengan Lelaki Terindah, Garis Tepi Seorang Lesbian (terbit ulang dengan judul Ashmora Paria), dan yang terbaru The Sweet Sins. Buku baru tentang percintaan yang tidak biasa, yang lain dari kecenderungan umumnya, yakni tentang cinta yang timbul antar jenis kelamin yang sama. Satu kisah lagi diangkat untuk mengetahui adakah cinta sejati dari hubungan tidak biasa ini. ketika kedua hati saling bertaut dan seseorang tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh hati, mampukah dunia menaklumi dan menerima cinta yang  tidak biasa ini? Mampukah cinta yang begitu tulus dan suci meluluhkan hati dunia meskipun cinta itu bertentangan dengan kodrat dan menyalahi aturan alam? Jakarta Love Story tampaknya ditulis untuk menjawab dua pertanyaan itu.

                Rifai, seorang eksekutif muda mapan, tipikal lajang metropolitan dengan karier baik. Tidak ada yang kurang dalam dirinya: muda, berparas tampan, dompet tebal, pekerjaan mapan, rumah tinggal mentereng, dan karier cemerlang. Semuanya sempurna kecuali satu: ia adalah seorang biseksual (tertarik pada pria maupun wanita). Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan Fabio, seorang mahasiwa polos yang waktu itu tengah kepepet dan terpaksa melacurkan diri untuk membayar uang kosnya. Rifai yang segera tertarik pada anak muda itu pun “menyewa” Fabian. Sebuah pertemuan awal yang kemudian memunculkan ikatan pada keduanya.

                Waktu berlalu dan seiring dengan intensnya pertemuan keduanya, rasa cinta terlarang pun tumbuh di dalam dada. Jika sebelumnya nafsu yang mengelora, kini cinta mengambil alih tempatnya. Keduanya bak sepasang kekasih yang saling membutuhkan, tidak hanya secara fisik namun juga secara psikis. Dan, keduanya telah mengikrarkan sebuah cinta yang menentang dunia, resiko apapun akan mereka  tanggung. Cinta telah terlalu menggelapkan mata, tanpa tahu betapa sakit dan dalamnya kejatuhan yang menunggu mereka di depan karena cinta terlarangnya.

                Saya membaca Jakarta Love Story dengan model skip-skip-skip alias lompat-lompat per 10 halaman (eh maaf ya hiihihihi) sehingga wajar saja novel setebal ini selesai dalam empat jam. Rekor ini hanya terkalahkan oleh pembacaan trilogi 50 Shades of Grey yang ebooknya selesai saya baca (eh saya skip-skip kemudian ditandai sana-sini) dalam waktu hanya 2 jam (muahahaha malah curcol). Kembali ke novel ini, di bagian-bagian awal saya berharap akan menemukan rasa yang berbeda dari Jakarta Love Story, tapi pembacaan sampai bab 3 sepertinya arah cerita sudah dapat ditebak sehingga yah jurus skip skip beraksi deh. Model kisah seperti ini memang cenderung kurang variatif. Penulis seakan terkekang untuk meliarkan imajinasinya (haiah bahasanya) karena tema cinta sejenis seperti ini memang biasanya sempit sekali (atau sengaja dipersempit). Pembaca dan budaya Indonesia sepertinya tidak siap untuk menerima sedikit pergeseran hukum alam ini, meskipun semuanya atas nama cinta. Kini, terbukti sudah bahwa cinta bukanlah segalanya walau tanpa cinta segalanya juga bukan apa-apa. Kita tidak bisa hidup dengan cinta semata, walau hidup tanpa cinta adalah penderitaan tiada tara. (ini kenapa saya malah berpuisi?)

                Pokoknya begitu deh. Bagi yang sudah membaca Lelaki Terindah dan The Sweet Sins pasti bisa menebak ke arah mana novel ini menuju pada endingnya. Walaupun sempat berputar-putar, tapi ke situ-situ juga akhirnya. Kelebihannya, Jakarta Love Story bisa dibilang novel LGBT yang lebih ke arah romantis ketimbang ke arah seksualitas. Hati lebih banyak berbicara kaitannya dengan hubungan Rifai dan Fabio. Jargon dan kata-kata berbau seksualitas dalam novel ini juga tidak seberani seperti di dalam The Sweet Sins, bisa dibilang penulis bermain aman dengan hanya bermain hati. Ada satu kutipan yang sempat membuat cukup indah yang saya temukan saat sedang men-ksip-ksip novel ini, sebuah kutipan yang sebenarnya biasa kita dengarkan keluar dari mulut para pecinta. 

 "Kebahagian terbesar dlm hidupku adalah ketika mengenalmu. Tdk ada yg bisa menggantikan hal itu sampai kapan pun." (Jakarta Love Story, 478)

Friday, October 12, 2012

Sweet Sins



Judul                 : Sweet Sins
Pengarang        : Rangga Wirianto Putra
Editor               : Ratna Mariastuti
Penerbit            : DIVA Press
Cetakan            : Oktober 2012

 

“Cinta itu adalah untuk diperjuangkan. Benar atau pun salah. Benar adalah bagi  mereka yang jatuh cinta. Salah? Itu cuma berlaku bagi mereka yang berpikiran heteronormatif. Love is about YOU and ME, not about THEM.” (hlm 183)

             
          Sebuah kisah jujur tentang mencintai, itulah Sweet Sins. Adalah Reino Regha Prawira, seorang mahasiswa sekaligus merangkap gigolo, dan Ardo Praditya, seorang eksekutif muda kenamaan dengan karir cemerlang. Keduanya sama-sama dipertemukan oleh ikatan takdir untuk saling bertemu, saling merawat, saling menguatkan, saling mencintai. Semua tentang pasangan ini seolah serbasempurna, Rei yang muda dan tampan dan atletis, serta Ardo yang cerdas, dewasa, pengertian, dan kekasih yang hebat. Hanya satu yang tidak sempurna—dan memang tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini—mereka adalah dua lelaki yang saling mencintai satu sama lain.

            “Karena setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk jatuh cinta.” (hlm 240)

            Rei yang kehilangan sosok ayahnya merasa menemukan perlindungan emosional dari sosok Ardo, sementara Ardo dengan orientasi seksualnya yang agak berbeda juga menemukan keindahan dalam diri Rei. Begitu rupa tautan terlarang yang mempersatukan keduanya sehingga cinta sejenis itu bukannya penuh lubang tapi malah saling melengkapi dan menguatkan. Tanpa sadar, hubungan terlarang itulah yang menghebatkan keduanya. Berkat Ardo, Rei mulai meninggalkan dunia gelapnya sebagai gigolo yang setiap malam clubbing  dan berakhir di ranjang tante-tante girang. 
            
          Keduanya sama-sama bertumbuh dewasa dalam cinta itu. Sebagaimana sebuah ungkapan dalam buku ini, cinta itu mendewasakan, cinta itu menghebatkan. Dari Ardo, Rei belajar banyak hal tentang pelajaran kehidupan, tentang pekerjaan, tentang bersyukur, dan tentang cinta itu sendiri. Yang ada di antara Rei dan Ardo bukan semata cinta fisik, tapi keduanya adalah manifestasi cinta murni dalam bentuk yang agak “di luar kebiasaan”.

            “Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)

            “Cinta itu diperjuangkan. Yang datang sendiri itu bukan cinta tapi nafsu.” (216)

Terlepas dari hubungan tidak biasa di antara kedua pria ini, Sweet Sins tidak terlalu menimbulkan rasa mual di perut sebagaimana pembacaan Lelaki Terindah. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan selain gambaran tentang hubungan fisik dan kasih sayang sesama pria. Sweets Sins mengajak kita untuk memandang orang-orang yang berbeda dengan sudut pandang berbeda. Untuk memandang dari banyak sisi, dan untuk belajar mensyukuri cinta, bagaimanapun cara cinta itu termanifestasi.

            Berterimakasihlah sesering mungkin. Bersyukur atas segala kelebihan, menerima kekurangan, mencari persamaan, dan menghormati perbedaan.” (hlm 156)

            “Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan  datang. (hlm 180)

Keindahan macam apa yang dipandang  Ardo dari sosok Rei, saya tidak bisa mengambarkannya. Saya malah terus merasa kalau Rei ini cewek dalm novel Mira W. Tapi. Sebagai mana kata Ardo, tidak semua keindahan itu tampak sama di mata orang. Jika pembaca bertanya keindahan macam apa yang membuat Ardo berani mengandeng tangan Rei di Telaga Sarangan, maka jawabannya mungkin: 

            Kadang, keindahan adalah bukan untuk dideskripsikan. Hanya untuk dinikmati.” (hlm 231)

            Dan, ketika cinta terlarang di antara keduanya makin kuat, datanglah masa-masa ujian cinta. Setelah mendapatkan, kita harus mempertahankan cinta itu. Masalahnya, cinta Rei dan Ardo sangatlah rumit. Cinta mereka sudah berbeda sejak awal, dan keduanya sama-sama menyadari bahwa cinta mereka tidaklah abadi, walaupun perasaan kasih di antara keduanya tak terhapuskan. Ardo diminta untuk menikah oleh orang tuanya. Sebuah permintaan terakhir seorang ayah  yang ingin melihat anaknya bahagia menjelang ajal, sebuah permintaan yang tak kuasa ditolak oleh Ardo. Kegalauan pun melanda. Rei tahu bahwa hubungan nya dengan Ardo tidak akan pernah mulus sejak awal. Terlalu banyak pandangan yang berbeda, norma yang melarang, serta batasan-batasan sosial serta alamiah yang menghalangi keduanya untuk bisa menjadi kekasih abadi. Rei pun sadar, ia harus rela melepaskan untuk mencintai.

            Mengambil tema yang agak mirip dengan Lelaki Terindah, novel Sweet Sins adalah sebuah kisah tentang pertemuan, perjuangan cinta, dan kemudian kerelaan untuk melepaskan. Namun, saya kurang menyukai ending Lelaki Terindah yang masih galau. Sweet Sins diakhiri dengan manis, dengan penutup yang indah layaknya opera aria yang dilantunkan dengan mempesona oleh sang diva. Dalam bab terakhir, berderet-deret makna dan petuah kehidupan yang dipaparkan dengan begitu lembutnya. Tentang kerelaan berkorban dan tentang melepaskan sebagai bentuk tertinggi dari mencintai. Memang, beberapa bagian dalam novel ini cukup erotis, cukup vulgar dalam menggambarkan adegan seksual antar sesama pria. Tapi, kevulgarannya merupakan cerminan dari kejujuran buku ini. Bahwa Sweet Sins bukan sekadar cerita yang terlihat pura-pura, jelas sekali tidak muncul kemunafikan dalam ceritanya. Rei dan Ardo memang saling  mencintai dan mereka melakukan hubungan yang terlarang, tetapi pada akhirnya, keduanya akan menemui ujung kehidupan cinta yang paling indah dengan sangat manisnya. 

            Siang dan malam, panas dan dingin, tambah dan kurang, hitam dan putih, materi dan non materi, fisik dan jiwa, yin dan yang, begitulah alam semesta ini bekerja. Semuanya saling berpasangan, saling melengkapi, saling menguatkan. Cinta itu, sekali lagi, memang menghebatkan.