Search This Blog

Showing posts with label Kumcer. Show all posts
Showing posts with label Kumcer. Show all posts

Wednesday, July 24, 2019

Empat Aku, Sebuah Kumpulan Kisah

Judul asli: Empat Aku
Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN: 9789791260879
Halaman: 165
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Marjin Kiri



Saya lumayan setuju sama Mbak Truly yang dalam ulasannya menulis betapa dalam buku ini Mas Yudhi sering sekali mengakhiri cerita di buku ini dengan cara 'menyebalkan'. Ini kasusnya beda dengan cerpen-cerpen Minggu pagi yang akhir ceritanya menggantung dengan tujuan memancing imajinasi pembaca. Alih-alih memancing, saya kok lebih merasa sebal ya karena serasa ada sesuatu yang seharusnya diselesaikan tetapi tidak diselesaikan. Tentu saja, adalah hak penulis untuk mengakhiri cerita karyanya sesuai keinginan sendiri. Tetapi, pembaca juga boleh dong sesekali sebal karena ia tidak mendapatkan ending yang diinginkan. 

Tapi jika kita melihat dari sisi lain, hal ini malah menjadi bukti keberhasilan penulis untuk mempengaruhi pembaca. Ending yang dianggap menyebalkan berarti pembaca bisa larut dalam cerita dan menjadikan dirinya serasa bagian dari cerita sehingga dia menginginkan ending yang sesuai keinginan. Penulis dalam hal ini berhasil mempengaruhi pembacanya. Bukankah ini bentuk keberhasilan penulis?


Friday, July 5, 2019

Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan: Cerpen Pilihan KOMPAS 1997

Judul: Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan KOMPAS 1997)
Pengarang: Kuntowijoyo, Harris Effendi Thahar, Bre Redana, Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma, dll
Tebal: 228 hlm
Cetakan: Kedua, 2017
Penerbit: Kompas

34851557. sx318

Berkaca dari pengalaman baca kumcer kumcer sastra sebelumnya, saya tidak membaca pengantar dan penutup di buku ini. Selain karena panjangnya yang jauh lebih panjang daripada cerpen-cerpen itu sendiri, juga untuk menghindari semacam contekan. Kadang, memang sesekali terselip spoiler dalam sebuah tulisan pengantar kumcer. Mungkin maksudnya memang tidak sengaja, tapi tetap saja semacam spoiler ini bakal membuat pengalaman membaca cerpen tidak orisinal lagi karena terkontaminasi. Karena pandangan kita saat membaca cerpen sudah terpengaruh oleh pandangan para ahli sastra dan kritikus. 

Saya sadar diri kok kalau saya belum mampu menangkap esensi sastrawi kumcer-kumcer Kompas yang lumayan berat di buku ini. Tapi, dalam studi sastra ada disebutkan bahwa setiap pembaca berhak memiliki interpretasi sendiri atas sebuah karya. Juga, sebuah karya sudah pasti akan diinterpretasikan bermacam-macam oleh pembaca yang berbeda. Hal yang begini wajar-wajar saja. Setidaknya, kita membaca dengan pikiran yang benar-benar kosong, siap menyambut semburan apa pun itu yang ditawarkan oleh sebuah karya sastra.
Jadi, saya membuka buku ini tanpa ekspektasi apa pun kecuali pandangan bahwa setiap cerpen yang lolos di harian Kompas pasti bermutu.

Monday, March 25, 2019

Review and Giveaway Winner: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga

Judul: Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga
Penyunting: Yetti A.KA
Pengarang: Gunawan Tri Atmodjo
Tebal: 192 hlm
Cetakan: Pertama, Januari 2019
Sampul: Ferdika
Penerbit: DIVA Press




"Manusia selalu butuh bercerita dan bercerita membuat segala sesuatunya terasa lebih baik." (hlm. 134)

Perjumpaan dengan cerpen-cerpen Gunawan Tri Atmodjo selalu mengguratkan bekas yang kentara. Walau bila dibanding dua kumcer sebelumnya, buku ini bisa dibilang adalah yang paling sederhana. Jika dalam Tuhan Tidak Makan Ikan yang lucu dan Pelisaurus yang saru tapi seru, kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga ini bisa dibilang cukup biasa. Walau demikian, cerpen-cerpen di sini sangat layak untuk dinikmati. Mungkin, bukan untuk memantik atau merenung berat tentang hidup, tapi lebih untuk mengingatkan kita bahwa hidup juga merupakan sebentuk gudang cerita yang kita dapat belajar banyak darinya.

"... bercerita adalah terapi paling sederhana untuk meredakan duka." (hlm. 143)

Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga memuat kisah-kisah sederhana tentang hidup keseharian. Temanya beragam tetapi paling banyak tentang cinta. Cerpen paling 'berat' mungkin Sunyanyuri yang membuka buku ini. Selebihnya, kisah-kisahnya bisa dibilang sederhana. Menurut saya, pembaca awam bakal menikmati membaca buku ini. Sementara, para pejuang baca yang lama berkubang dalam literatur sastra juga pasti bisa menikmati buku ini sebagai sebuah selingan yang menyegarkan sekaligus berbobot.

"Takdir' selalu dapat melipur segala lara dengan caranya sendiri yang sederhana."

Sunyanyuri memiliki ide cerita yang banyak diangkat cerpenis zaman now, yakni tentang peran wanita yang lebih sering menjadi korban dari keadaan dan struktur sosial. Sementara cerpen kedua Sesuatu Menggeliat di Balik Pintu memiliki twist yang lumayan mengejutkan. Dua cerpen ini masih mengusung tema yang serupa. Cerpen Pohon Merah di Bandara memiliki ending yang cukup mengagetkan sekaligus menjadikannya cerpen paling 'beda' di buku ini meski masih mengangkat tema cinta. Jangan langsung baca endingnya, nanti bisa merusak kejutannya.

"Betapa berharganya setiap buku yang kubaca." (hlm. 158)

Cerpen Pembaca Masa Depan dari Selatan dan Sebuah Kecelakaan Suci memiliki aroma berbeda dibanding kisah-kisah lainnya. Dua cerpen ini mengambil setting kisah zaman antah berantah. Cerpen pertama bernuansa kisah persilatan, dan yang kedua mengangkat setting lokal pedalaman. Ciri khas penulis yang gemar menggunakan ironi kehidupan sebagai kelakar muncul di ending kedua kisah ini. Lucu tapi sendu. Ada juga cerpen Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan yang agak berbau mistis. Yang unik dari cerpen ini adalah cara penceritaan menggunakan sudut pandang bersambung antar karakter. Teknik yg sama muncul juga di cerpen Romantika Kereta.

"Namun, aku percaya bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu memang diciptakan, bukan ditemukan." (hlm. 163)

Kisah sendu bikin haru muncul berulang kali, di antaranya dalam cerpen Foto Keluarga, Dandelion dan Juru Taman, dan Pulang. Satu kalimat adem di backcover buku ini berasal dari cerpen ini. Sementara, cerpen-cerpen lainnya yakni Hari yang Kelabu, Telepon dan Pisau, dan Buku Harian Kinan ibarat kisah detektif sederhana yang meminta pembaca untuk sedikit menebak endingnya. Ada juga kisah (mungkin) keseharian penulis yang digambarkan dengan lumayan dramatis dalam cerpen Hujan di Pagi Hari.

Jika pembaca sudah terbiasa membaca kumcer penulis yang cenderung bertema, bersiap-siaplah menjumpai aneka jenis cerita dengan beragam tema di buku ini. Cerpen Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga yang menjadi judul buku ini pun ternyata tidak memiliki kisah yang semegah judulnya. Namun demikian, sebagaimana sebuah dongeng yang sejatinya memang sederhana dan bisa dinikmati siapa saja, buku ini menawarkan aneka kisah untuk cermin kita dalam merenung. Sebuah teman yang istimewa untuk sejenak berhenti dari rutinitas harian dan mulai memandang lebih banyak ke dalam diri dan juga sekitar.


Tersedia satu buku kumcer Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga GRATIS dari Penerbit DIVA Press untuk satu calon pembaca yang beruntung. Semua jawaban masuk sama-sama membahagiakan. Saya ucapkan selamat dulu kepada seluruh peserta atas momen-momen bahagianya. Mari nikmati dan mensyukuri setiap momen bahagia yang datang, apa pun itu. Jangan lupa juga berbagi kebahagiaan dengan sesama agar kebahagiaan semakin sempurna.

Baiklah. Karena saya bingung memilih pemenangnya, saya serahkan tugas berat ini kepada Om Random. Berikut ini peserta yang memenuhi syarat dan diikutkan dalam undian. Dan inilah hasil undiannya. Selamat kepada pemenang yang beruntung.


Nama
No Undian
Vena Dwi
1
Farrah NF
2
Fatonah W
3
Bety K
4
Misbahudin
5
Andah
6
Maratul F
7
Lisatina
8
Kinosuki
9


Selamat kepada Kak Vena Dwi (@cypselaa). Silakan cek DM Twitter ya untuk teknis pengiriman hadiah. Kepada para peserta lain yang belum beruntung, bisa tengok IG @dion_yulianto karena insya Allah bakal ada giveaway spesial pertengahan April 2019 ini. 

Terima kasih sudah ikutan.  

Tuesday, February 12, 2019

Bastian dan Jamur Ajaib, Bukti Keajaiban Cerita Pendek

Judul: Bastian dan Jamur Ajaib
Pengarang: Ratih Kumala
Sampul: Staven Andersen
Cetakan: Pertama, 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 24953633

Cerpen-cerpen Ratih Kumala memiliki corak sederhana, cenderung mudah dicerna, tetapi meninggalkan rasa yang terus menetap gamang di benak pembaca. Kisah-kisahnya seperti mengajak kita untuk memandang hidup dari sudut yang berbeda. Sebagaimana karya-karya para sastrawan umumnya, kisah-kisah pendek di buku ini berupaya menyorot kehidupan lewat sudut-sudut yang sajatinya wajar dan normal tetapi kita kerap luput melihatnya. Padahal, dari sini juga kita bisa belajar banyak tentang kehidupan serta tentang manusia itu sendiri.

Ode untuk Jangkrik membawa kita pada keriangan ringan di masa kecil, ketika jangkrik, gasing, layangan dan kelereng adalah harta berharga dan sawah serta halaman adalah area mabar yang sesungguhnya. Walau ending cerita ini biasa, kekuatannya ada pada perjalanan membaca cerpennya yang dengan cantik mampu membawa kita kepada kenangan di masa kecil. Kisah kecil ini mengingatkan bahwa kebahagiaan juga bisa hadir dalam kesederhanaan dan kebersahajaan. 

Tuesday, October 31, 2017

Pelisaurus: Sebuah Upaya Menertawakan K*lamin

Judul: P*lisaurus dan Cerita Lainnya
Pengarang: Gunawan Tri Atmodjo
Penyunting: Edi AH Iyubenu
Tebal: 200 hlm
Cetakan: Pertama, September 2017
Sampul: Suku Tangan
Penerbit: Basabasi




Saat mengikuti workshop Festival Basabasi tanggal 8 Oktober 2017 lalu, Mas Gunawan menceritakan sedikit tentang buku berjudul bahaya ini. Judul itu dia dapatkan saat masih kuliah dulu. Konon, di kamar mandi kampus tergoreslah gambar dinosaurus tetapi kepalanya berbentuk p*nis. Dari sinilah kemudian judul itu muncul. Dengan judul yang menjurus ke bawah seperti ini, maka sedikit bisa diduga kalau isi buku ini akan banyak menyenggol kawasan rawan di selangkangan. Dan, memang benar. Tidak hanya sekali, penulis begitu saja mengobral kata-kata yang ditabukan semacam ng*ceng (jw: er*ksi), s*mpak (jw. celana dalam), ng*loco (jw. *nani), hingga film biru (hal-hal berbau porno). Konon, ide penulisannya sendiri memang sengaja di konsep ke arah tersebut sehingga pembaca diharapkan memiliki pikiran yang agak terbuka saat membaca kumcer ini (tapi pakaiannya tetap model tertutup loh, ya buka-buka dikit nggak apa-apa deh untuk penyegaran #eh).

Wednesday, March 9, 2016

Makan Malam Bersama Dewi Gandari

29067130Judul: Makan Malam Bersama Dewi Gandari
Pengarang: Indah Darmastuti
Tebal: 127 hlm
Cetakan: 1, Januari 2016
Penerbit: Bukukatta

“Dalam seni dan sastra itulah orang-orang kalah telah menang pada sisi peristiwa, ia menang sebagai manusia.” (hlm. 87)

Mampu menuliskan kisah-kisah getir dalam tulisan yang manis, begitu satu kalimat yang mungkin bisa menggambarkan kumpulan cerpen ini. Sebuah kumpulan cerita dengan dominasi tema perempuan (dan juga kemanusiaan) namun tetap enak dinikmati oleh pembaca yang bukan perempuan. Makan Malam Bersama Dewi Gandari berisi sembilan cerita pendek karya Mbak Indah Darmastuti yang kesemuanya pernah dimuat di media massa, baik surat kabar maupun majalah. Dengan demikian, cerpen-cerpen di buku ini tidak digarap semacam asal jadi demi eksistensi, melainkan telah ada yang membaca, mengapresiasi, serta menilainya sehingga sangat layak bila kemudian cerpen-cerpen ini terkumpulkan dan dibukukan.

“Hanya di perpustakaan lah tempat paling aman berada di antara jutaan gelombang pemikiran, kehendak, pendapat keras, atau lunak.” (hlm. 81)


Saturday, October 24, 2015

Cerita Cinta Indonesia oleh Ahmad Tohari, Okky Madasari, dkk.

Judul: Cerita Cinta Indonesia
Pengarang:  Ahmad Tohari, Okky Madasari, dkk.
Penyunting; Hetih, Vera, Anas
Tebal: 384 hlm
Cetakan: 1, 2015
Sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 


23263405

               
Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-40, Penerbit Gramedia Pustaka Utama mengundang 45 penulis fiksi yang disebut-sebut paling aktif berkontribusi berkarya selama beberapa tahun terakhir. Nama-nama seperti Marga T, Mira W, Ahmad Tohari, Gola Gong, Boim Lebom, S Mara GD sebagai para pemain lama di lini fiksi Gramedia tentu turut dihadirkan. Tertera juga sederet nama popular dari lini fiksi kontemporer seperti Clara Ng, Rina Suryakusumah, Maggie Tiojakin, Ika Natassa,  Mia Arsjad, Primadonna Angela. Aroma sastra ikut mewarnai dengan kehadiran karya-karya Okky Madasari, Ratih Kumala, Eka Kurniawan, dan Dewi Kharisma Michellia. Namun, porsi penulis teenlit dan genre metropop lah yang paling banyak saya temui (dan sepertinya begitu mendominasi aroma buku ini) dengan deretan penulis semisal Alia Zalea, Dyan Nuranindya, Nina Addison, Lexie Xu, Syahmedi Dean, Shandy Tan, Teresa Bertha, dan Ken Terate. Beneran, saya mabok cerita teenlit dan metropop saat baca buku ini. 

Friday, August 29, 2014

Serapium Punya Cerita, Kumpulan Cerpen

Judul : Serapium Punya Cerita, Kumpulan Cerpen
Pengarang : Serapium
Editor : Puspa Sari Ayu Yudha
Sampul : Iwan H
Cetakan: 1, 2014
Penerbit : nulisbuku.com




Sebagai pengantar dan pembuka, saya harus mengucapkan selamat dulu kepada 11 Kaskusers yang namanya tercantum manis di buku ini. Selamat, kalian telah membuktikan bahwa member kaskus tidak hanya bisa ramai di utas (thread) on line yang sering kali heboh melenceng ke mana-mana itu, tetapi kalian juga berhasil menuliskan sesuatu yang serius, yang layak tercetak di atas kertas. Melalui terbitnya buku ini, kalian telah membuktikan diri mampu bercerita. Tidak mudah menghasilkan sebuah tulisan berupa cerpen, pun merampungkannya juga tidak kalah sulitnya. Banyak di luar sana yang bercita tinggi ingin menghasilkan sebuah kisah yang hebat yang akan menggetarkan pembaca. Tapi, selama bertahun-tahun, impian itu hanya mengendap di dasar akal, tak terwujud nyata dalam goresan pena atau cetakan tinta karena beragam pembenaran. 

Mungkin, mereka hanya menunggu tibanya kesempurnaan. Padahal, dalam menulis, ada pameo yang menyebutkan bahwa tulisan pertama dimaksudkan untuk ditulis saja, bukannya menunggu sempurna. Sebelas penulis di buku ini telah membuktikannya. Mereka bergerak, mereka menulis, dan mereka berusaha. Walau mungkin belum sempurna, tetapi memang jarang sekali ada awal yang sempurna. Sejatinya, yang belum sempurna tapi ada, itu jauh lebih berharga dari yang sempurna tapi hanya angan semata.

1. Secangkir Kopi untuk Tuhan
Tepat sekali membuka buku ini dengan cerpen ini. Saya suka dengan idenya. Menggambil setting sebuah café (setting klise yang sangat digandrungi para penulis muda akhir-akhir ini) dengan pemilik baik hati yang mau menjadi pendengar yang baik. Kisah ini adalah model cerpen dengan ending yang mengejutkan tetapi dimaksudkan untuk happy ending. Ide dan ceritanya bagus, hanya saja kurang dipadatkan. Ceritanya sebenarnya bisa dipendekkan lagi tanpa mengurangi esensi yang hendak disampaikan.

2. Kisah di Balik Hujan
Temannya klise lagi, tentang hujan, yang menurut penelitian memang bisa membangkitkan inspirasi bagi siapapun untuk merenung dan bercerita. Model berceritanya unik, dibagi-bagi menjadi bab-bab kecil yang menyerupai diari atau catatan jurnal tentang sepasang kekasih yang LDR-an. Kayaknya, penulisnya setuju deh sama anggapan bahwa hubungan LDR itu gak akan berhasil hihihihi. Sayangnya, sama seperti kecenderungan penulis pemula, banyak sekali kalimat-kalimat nggak efektif yang terlampau panjang. Juga kegalauan mengharu biru akibat LDR yang seharusnya bisa dibuat sederhana, kalau panjang-panjang begini jadinya malah kayak membaca curhatan orang LDR. 

3. Amy
Tema ketiga juga sama klise-nya, tentang Senja. Kayaknya, cerpen Seno “Sepotong Senja untuk Pacarku” itu benar-benar ampuh sebagai pemantik inspirasi menulis cerita tentang senja. Sejak itu, banyak orang menulis tentang senja dan menyadari keindahnya sebagai bahan cerita, terutama penulis-penulis pemula yang masih dibuai takjub oleh karya SGA itu. Untuk Amy, walau temanya klise namun saya malah menyukai cerita ini. Makna senja bagi orang buta sebagian, yang bagi mereka hanya hitam dan putih tetapi sudah menghangatkan. Cerpen ini menyadarkan saya betapa beruntungnya kita dan bahwa ada keindahan dalam semua warna.

4. Kado untuk Alice
Akhirnya, setelah 3 tema klise, saya bertemu juga dengan tema yang menyegarkan. Kisah keempat ini menjurus ke kisah inspiratif, tentang seorang kakak yang berjuang keras untuk bisa membelikan kado kepada adik kecilnya. Keduanya tinggal di panti asuhan dan ditelantarkan oleh ayahnya. Berkat kerja keras sang kakak, sang adik akhirnya memperoleh kado yang luar biasa. Secara cerita, saya suka alurnya. Hanya saja ada satu masalah logika. Itu ulang tahunnya dirayakan di luar pada tengah malam. Padahal (1) Alice baru 5 tahun dan dia sakit-sakitan, masak iya diajak jalan-jalan dini hari, (2) mereka makan di restoran sushi. Emm, masih adakah resto sushi yang buka setelah jam 12 malam sampai matahari terbit? (Mungkin di Jakarta ada sih, saya juga tidak tahu.)

5. The Chronicles of Shapeshiter: Hiren si Licik
Cerita ini ibarat satu permata dari genre fantasi yang menyelip di kumcer yang dikuasai oleh belantika romansa—meskipun isinya ternyata juga tidak jauh-jauh dari romansa ala fanfik luar. Ceritanya rapi dan runtut, mengingatkan saya kepada karya teman-teman Kastil Fantasi di Fantasy Fiesta. 

6. Saat Malam Tanpa Bintang
Dari judulnya yang unik, saya langsung tahu kalau cerpen ini dipaparkan juga dengan unik, yakni model dialog. Saya saangat menyukai diksi cerpen ini, penulisnya pasti sering baca cerpen di surat kabar Minggu. Kekurangannya: Terlalu singkat dan kurang panjang :p

7. Koleksi Tanda Tangan Penulis
Ok, yang ini menurut saya belum bisa disebut sebagai cerpen, melainkan berbagi pengalaman. Tapi, anehnya, saya suka karena si penulis tahu benar bagaimana perasaan dan pengalaman kita sebagai para pecinta dan/atau penimbun buku. Saya pengen toss sama penulisnya.

8. Jika Cinta Punya Masa Berlaku
Cerpennya Chei ini nge-jlebb banget, tapi bikin pembacanya merenung (*kemudian saya ikut merenung). Tentang kita yang kadang terlalu memilih dan mengharap cinta yang sempurna, sampai akhirnya waktu berlalu dan kita bersama-sama menyanyikan lagunya Maudy Anyunda yang Cinta Datang terlambat. Ceritanya teenlit banget, juga diksi yang digunakan juga diksi ala remaja. Selamat ya Chei, cerpen yang bagus tidak selalu harus memakai kata-kata berbunga. Banyak penulis remaja, pengen menulis cerita remaja, tetapi kata-katanya berbunga dan beraroma sastra, padahal pembacanya anak-anak remaja. Syukurlah Chei tidak melakukannya di cerpen ini. Btw, emangnya kamu masih masuk remaja ya Chei? *ditampar bolak-balik* Selama dia bisa dinikmati oleh pembaca, saya menganggap cerpen itu sudah bisa dibilang bagus. Dan, saya menikmatinya. Tapiii, itu Brian kok setia bangets sih, kayaknya too good to be true!

9. Mencintaimu
Dari judulnya, kayaknya cerpen ini bakalan sendu deh. Dan, nah bener kan sendu. Membacanya mengingatkan saya pada novel karya Mbak Sannie B. Kuncoro yang judulnya duh lupa. kekurangan cerpen ini: terlalu tipis.

10. Senja Merah Jambu untuk Pacarku
Nah ini, ketemu lagi sama satu pembaca yang begitu terpesona pada puisinya Seno, yang saking terpesonanya kemudian tergerak untuk menulis dengan tema yang sama. Untungnya, penulisnya kreatif dengan mengubah senja di sini menjadi pingky alias merah jambu. Tapi, ujung dan tema ceritanya sama, bahwa manusia akan rela berbuat apa saja demi C.I.N.T.A (*nyanyi lagi)

11. Harta yang Paling Berharga
Cerita terakhir ini adalah yang paling sempurna bagi saya. Dari segi panjangnya, alurnya, ketegangan yang dihasilkan, efek yang ditimbulkan. Sayangnya, typo dan spasi renggangnya berjibun banyaknya. Aduh ini editornya bagaimana ya? *eh maaf ya.

Secara keseluruhan, saya menikmati membaca kumcer ini meskipun dalam pandangan professional saya sebagai editor (nonfiksi tapinya), banyak cerita di dalamnya yang belum matang untuk bisa disebut kumcer. Beberapa tulisan seperti no 8 dan 11 bisa dibilang tinggal dipoles sedikit. Tapi banyak cerita yang lain yang masih setengah matang dan perlu banyak polesan ulang, penulisnya juga butuh banyak baca cerpen cerpen di luar genre favoritnya. Kesalahan paling fatal di buku ini adalah begitu banyaknya typo, kesalahan penulisan huruf kapital, juga settingannya yang masih ala-ala tulisan di blog. Sebagai buku cetak, tentunya kualitasnya harus lebih ditingkatkan, dipoles lagi, jadi bukan seperti cerita yang ada di blog.

Saya juga menyayangkan editornya (maaf ya Mbak) yang sepertinya kurang maksimal dalam mengedit naskah buku ini. Selain typo akoet, fasilitas “gunting editor” sepertinya kurang banyak diterapkan sehingga banyak sekali bagian-bagian yang seharusnya bisa dipotong sedikit biar tidak gondrong jelek. Juga, kalimat-kalimat yang masih kaku. Tapi, mengubah gaya menulis penulis adalah hal yang tabu bagi editor, jadi ini bisa sedikit dimaklumi. Susah dan kadang dilemma sih kalau mengedit cerpen. Saya tahu ini diterbitkan di penerbit indie, dan bisa saja karena suatu atau lain hal, para penulisnya harus menghemat. Tapi, sebagai karya perdana, alangkah indahnya jika kesempurnaan itu dicoba untuk sedikit dikejar. Paling tidak, baiknya naskah ini diedit dengan semaksimal mungkin walau mungkin belum sempurna. 

Terlepas dari itu, saya tetap mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan review saya. Bahwa mereka yang berkarya sibuk berbuat nyata. Sedang yang diam tak bergerak hanya asyik mencibir semata. Semoga saya bukan termasuk yang hanya bisa mencibir semata. Kami tunggu karya-karya teman-teman Serapium selanjutnya. Kalian keren!


Terima kasih Mbak Truly yang sudah meminjamkan bukunya

Friday, February 14, 2014

Orang-Orang Tanah

Judul: Orang-Orang Tanah
Pengarang: Poppy D Chusfany
Editor: Donna Widjajanto
Cetakan: 1, Agustus 2013
Tebal : 199 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



18250158

                Ini pertama kalinya saya membaca tulisan Mbak Poppy, salah satu penerjemah buku favorit saya. Sepertinya, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kualitas terjemahan beliau; dijamin nyaman dan ngalir banget. Nah, lalu gimana kalau Mbak Poppy menulis buku, bukan menerjemahkan? Bagaimana rasanya buku yang keluar dari hasil pemikirannya sendiri, bukan mengalihbahasakan tulisan orang lain? Satu hal yang jelas, Orang-orang Tanah adalah buku kelimanya yang diterbitkan. Dari sini saja sudah bisa ditebak kalau Mbak Poppy ini bukan penerjemah biasa, dia adalah penerjemah yang berkarakter. Kebiasaan menggeluti, membaca, dan menerjemahkan buku-buku bagus memang bisa menimbulkan efek “penciptaan” kepada seseorang. Berbagai informasi, kata, dan cerita yang masuk; secara tidak sadar akan mendorong munculnya perasaan ingin berkarya juga. Rupanya, inilah yang terjadi pada kasus Mbak Poppy. Setidaknya, karena beliau banyak menerjemahkan novel-novel fantasi, dua bukunya yang paling menonjol adalah Nocturnal dan Boocoholic Club sama-sama bertema fantasi dan buku. Dalam Orang-orang tanah, kumpulan cerpennya yang pertama, genre dark fantasi mengambil alih.
                Saya pernah punya Nocturnal, tapi belum membacanya. Dari ulasan yang saya baca, novel itu sederhana tetapi rapi. Kerapian dan kesederhanaan cerita ini malah menjadi poin plus, karena buku fantasi lokal itu menjadi lebih bisa dinikmati pembaca. Untuk kasus Orang-orang Tanah, kecenderungan yang sama juga kembali saya temukan. Buku ini sederhana, rapi, ditulis dengan amat teratur dan mudah diikuti, dengan tema-tema dark fantasi yang banyak melibatkan karakter ibu-anak. Seperti dalam Jendela dan Pelarian, kita akan dihibur oleh kisah perjuangan seorang ibu dan anak yang berupaya “menentang dunia” yang kejam dan absurb terhadap nasib mereka. Kisah pertama begitu real, seolah tengah membaca sebuah cerpen berat di Kompas tentang keseharian seorang anak miskin dan ibunya yang terus menerus disiksa. Tidak terbayangkan kalau ending novel ini berbau fantasi. Untuk Pelarian, settingnya sendiri sudah fantasi jadi cukup dinikmati saja.
                Cerita ketiga, Pondok Paling Ujung mengisahkan tentang seorang penulis yang menyepi di suatu lembah demi mendapatkan inspirasi atas tulisannya. Ia memang mendapatkan inspirasi, dari mahkluk gaib! Membaca cerita ini agak merinding juga, terutama melihat bagaimana Mbak Poppy menuliskan setting dan menggambarkan karakter si mahkluk lain ini yang ala-ala horor Poe. Menggerikan! Kisah Bulan Merah dan Dewa Kematian, sesuai judulnya, adalah kisah yang gelap dan endingnya bikin kaget, terutama kisah kedua, yang memiliki twist yang langsung membelok tajam begitu sampai di belakang. Kita baru tahu apa yang terjadi setelah rampung membacanya. Pintu Kembali agak mengingatkan saya pada Narnia dan The Book of Lost Things, tentang perjalanan atau petualangan seorang anak di dunia lain yang tengah mencari jalan pulang kembali ke dunianya. Mbak Poppy mencampurkan antara yang absurb dan yang fantasi di buku ini. Indah dan rapi.
                Dalam Lelaki Tua dan Tikus, kembali tema “kejahatan mendapatkan balasan” digunakan sebagai penggerak cerita. Ini settingnya urban, tentang perempuan yang kembali menjadi korban dari kondisi masyarakat perkotaan. Inilah yang saya suka dari Orang-orang Tanah, Mbak Poppy berkreasi dengan cerita fantasi, tapi beliau juga menyelipkan pesan-pesan moral dalam ceritanya. Bisa dibilang, kisah Lelaki Tua dan Tikus ini cerpen fantasi yang mengandung aspek realitas, memberikan pesan moral pada pembaca, sama seperti cerita Jendela. Begitu pula Sang Penyihir, saya paling suka dengan cerita ini karena begitu menggambarkan betapa mudahnya kita mendakwa salah sesuatu atau seseorang hanya karena dia berbeda dari yang kebanyakan. Manusia yang dangkal selalu takut pada perbedaan. Mereka baru tenang kalau seluruh dunia menjadi sama dan seragam, setidaknya adanya persamaan ini menjamin tidak terjadinya perubahan atau bahkan revolusi, tidak peduli meskipun perubahan itu sebenarnya positif.
                Setelah dihibur dengan aneka cerpen fantasi yang tidak hanya rapi dan menghibur, tapi juga “bergizi”, buku ini ditutup oleh kisah Orang-orang Tanah yang menurut saya memang cerita paling tepat untuk mengakhiri pembacaan buku ini. Ini settingnya Indonesia banget tetapi membawa konsep ala troll atau kurcaci Barat ke Indonesia. Alih-alih njomplang, cerita ini sangat bisa dinikmati. Penulisannya rapi jail dan mungil kayak membaca cerpen di majalah Bobo, meskipun endingnya agak membuat pembaca tersentak sambil mengamati sampul depan buku ini yang unyu-indah. Jangan tertipu dengan sampulnya yang unyu, Orang-orang Tanah adalah buku untuk usia remaja ke atas. Ini bukan buku anak-anak, ini buku fantasi yang dark namun entah bagaimana sangat indah, seindah ilustrasi-ilustrasi yang menghiasi bagian depan dari masing-masing cerpen.

Friday, December 20, 2013

Penjaja Cerita Cinta

Judul : Penjaja Cerita Cinta
Penulis : @edi_akhiles
Cetakan : 1, Desember 2013
Tebal : 192 halaman
Penerbit : DIVA Press



        Jika ada satu kualitas yang paling saya kagumi dari sosok Edi Muyono, salah satunya pasti adalah produktivitas beliau dalam menulis. Tidak kurang dari 700-an cerpen telah ia tulis sejak tahun 1995, yang semuanya bertebaran di media-media massa daerah maupun nasional. Sebuah pencapaian yang menjadikan dirinya dimasukkan dalam Angkatan Sastra tahun 2000 oleh sastrawan Korrie Layun Lampan. Berbeda dengan banyak penulis lain yang biasanya fokus ke menulis dan meninggalkan bisnis, Edi Akhiles memilih untuk memadukan kedua dunia ini. Ia menulis sekaligus berbisnis. Kecintaannya menulis ini semakin didukung dengan pilihan bisnisnya yang jatuh kepada industri penerbitan, sebuah pilihan yang sangat tepat karena tiada bisnis lain yang begitu dekat dengan kegiatan menulis selain bisnis penerbitan.

      Penjaja Cerita Cinta adalah kumpulan cerpen ke sekian yang telah diproduksi sang penulis. Sebagaimana kita ketahui, tidak mudah untuk menuliskan sebuah cerpen karena cerpen itu terbatasi oleh jumlah kata. Tidak seperti novel dimana penulis bisa lebih mengolah dan memaksimalkan tulisannya, konsep cerpen yang “pendek” memaksa penulis untuk hemat kata dan irit kalimat, untuk bisa memasukkan banyak makna dan cerita dalam beberapa lembar tulisan. Bukan berarti menulis cerpen lebih susah dari menulis novel, keduanya memiliki tantangan masing-masing (dan banyak orang yang kelelahan dan tidak mampu menyelesaikan menulis novelnya karena terlalu panjang bukan?)

                Membaca Penjaja Cerita Cinta bisa saya ibaratkan dengan membaca sebuah sastra yang ter-gadget-isasi. Karya yang begitu dipengaruhi oleh hiruk-pikuk media sosial, di mana penyebaran dan penulisannya sama-sama tidak bisa dilepaskan dari peran teknologi internet yang digandrungi anak-anak muda modern di zaman ini. Total ada 16 cerpen dalam buku ini, masing-masing memiliki gaya dan tipikalnya sendiri-sendiri. Jangan berharap untuk membaca kumcer ini dengan penuh keseriusan atau sambil berkontemplasi, karena penulis menyodorkan 16 cerita dengan tema yang berbeda-beda. Ada yang serius berbalut senja, termehek-mehek atas nama cinta, mengharu-biru menjunjung orang tua, hingga kisah filsafati yang ditulis renyah-ceria. Ibarat permen, kumcer ini bisa dibilang rame rasanya. Ibarat minuman, kumcer ini adalah es buah dengan aneka rasa.

       Kisah pertama, Penjaja Cerita Cinta menurut saya adalah yang paling “nyastra” diantara cerpen-cerpen yang lain. Masih mengangkat tema yang sama: senja. Seno Gumira Ajidarma rupanya telah menjadikan senja begitu rupa indahnya sehingga menginspirasi banyak orang untuk mencintai dan (lagi-lagi) menulis tema tentang senja. Kisah ini mengangkat kisah penantian cinta seorang wanita di kala senja. Diksi dan ceritanya bagus sekali, tapi saya rasa cerita ini terlalu panjang untuk bisa dibilang sebagai cerita pendek. Ada bagian-bagian yang bisa dimampatkan sehingga lebih mengena.

       Dua kisah berikutnya, Cinta is Ketek dan Cinta yang Tak Berkata-Kata bertema sangat remaja. Yang pertama kisahnya abegeh banget, sementara yang kedua bisa dibilang romantik-inspiratif, bahwa “cinta yang sejati dibuktikan lewat tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata (hlm 60). Sayangnya, saya menemukan beberapa typo dalam cerita yang unik ini. Cerita selanjutnya Dijual Murah Surga Seisinya mungkin adalah yang menginspirasi penulis mengadakan program #AksiSejutaBukuuntukTamanBacaandanPerpsutakaan, begitu menyentil kesadaran diri.

      Dalam kisah-kisah berikutnya, pembaca akan menjumpai kisah-kisah khas yang langsung mengingatkan pembaca pada sosok penulis sendiri. Sebagian kisah ini mungkin memang terinspirasi oleh kejadian-kejadian nyata yang dialami si penulis, juga perenungan-perenungan beliau yang kadang diberi catatan kaki ala-ala filsuf. Saya paling suka dengan cerita   Si X, si X, dan God serta Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya, kedua cerita itu sukses membuat saya termenung-menung di sela mengerjakan tugas di kantor (Hyaaa ketahuan membaca buku di jam kerja kamu Yon!)

      Ada kelebihan, pasti ada juga kelemahan. Agar adil, saya harus paparkan juga beberapa kelemahan kumcer ini agar bisa menjadi masukan yang semoga dapat membangun ke depannya. Walau digarap dengan tema warna-warni, hampir sebagian besar cerpen di kumcer ini masih sangat berasa banget Edi Akhilesnya. Mulai dari penggulangan diksi-diksi yang serupa artinya, penulisan satu kalimat satu kata untuk menegaskan, bau-bau filsafat dan ceplas-ceplos ala Pak Edi entah mungkin tanpa sengaja sering menyusup masuk dalam sejumlah besar cerpen. Ini menjadikan cerpen-cerpen ini menjadi “berasa agak serupa meskipun judul dan temanya berbeda.” Selain itu, ada beberapa cerita yang menurut saya (maafkan pengetahuan saya yang cetek ini) lebih cocok disebuh curblog (curhatan dalam blog) ketimbang sebuah cerpen. Atau mungkin saya yang terlalu membatasi diri akan makna dari sebuah cerpen?

       Terakhir, kumcer ini diakhiri dengan tidak biasa—sebagaimana penulisnya yang dikenal sebagai sosok yang tidak biasa. Dalam bab terakhir, pembaca akan disuguhi sekelumit pelajaran tentang bagaimana menjadi penulis yang baik: yakni (1) selalu menambah pengetahuan, (2) menjunjung tinggi detail, dan (3) bagaimana memiliki sikap atau attitude yang baik. Simpel tapi sangat mengena dan bermanfaat.