Search This Blog

Showing posts with label Koleksi Fikfan Lokal. Show all posts
Showing posts with label Koleksi Fikfan Lokal. Show all posts

Monday, March 23, 2015

Jukstaposisi

Judul : Jukstaposisi
Pengarang : Calvin Michel Sindjaja
Format : Free ebook
Tebal : 113 hlm

2585588

“… tapi bukankah ingatan, kenangan adalah bukti bahwa kita pernah ada?” (hlm 59)



            Jukstaposisi, cerita tentang tuhan-tuhan yang mati, sudah begitu lama saya mencari novel dengan judul yang sangat berani ini. Bukunya sendiri diterbitan sekitar tahun 2008/2009 oleh penerbit Gagasmedia, dan tentu saja sudah tidak bisa dibeli di toko buku. Sesekali, mereka yang berjodoh akan menemukannya di rak obralan, atau di lapak on line. Beruntung sekali saya karena dijodohkan dengan buku ini oleh penulisnya langsung. Calvin Michel Sindjaja beberapa hari yang lalu menulis status bahwa Jukstaposisi telah dibajak tanpa izin dan bisa dibaca di sebuah laman online tanpa seijin penulisnya. Sebagai bentuk perlawanan, penulis kemudian mengratiskan versi ebook dari buku ini, secara resmi, melalui inbox Facebooknya. Sama-sama gratis, tapi saya yakin yang gratis dan diberikan dengan ikhlas adalah jauh lebih baik ketimbang gratis tapi nyolong. Begitulah cerita saya mendapatkan buku ini. Memang benar kata orang, kalau berjodoh tidak bakal kemana. Hanya saja, kudu tetap dikejar dan diupayakan begitu ada jalan. Duh curcol lageh.


            Sekarang, apa itu Jukstaposisi? Satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah buku ini masuk dalam jajaran buku fantasi karya anak bangsa. Saya terobsesi mengumpulkan buku-buku fantasi lokal kelak bisa dijual eh dijadikan koleksi yang menunjukkan betapa pernah ada anak-anak bangsa yang turut merintis penulisan kisah fantasi). Kemudian, saya baca reviewnya di Goodreads, intinya banyak yang pusing baca buku ini. Saya yang memang aslinya suka ikut-ikutan, jadi penasaran dengan Jukstaposisi.  Apakah benar memusingkan? Hmmm … setelah saya baca sendiri sampai selesai, ya, saya memang ikut-ikutan pusing saat mencoba mengikuti alur buku ini. *plak


            Tetapi, pusing yang dibawa oleh buku ini adalah pusing yang berisi. Artinya, saya pusing karena mungkin saya belum mampu menangkap intisari yang hendak disampaikan pengarang. Dengan kata lain, otak saya belum nyampe wkwkwk. Saya tahu, ada sesuatu yang berbobot dalam Jukstaposisi, yang kalau saya dibedah, dianalisis, dan dikaji, pasti akan menghasilkan banyak sekali penafsiran. Saya merasakan hal yang sama dengan ketika saat saya membaca buku 100 Tahun Kesunyian karya Gabriel Marques. Terus terang, saya tidak tahu apa maksud novel legendaris itu, tapi ada keindahan tersendiri saat membaca halaman demi halamannya. Saya merasakan sebuah kelegaan yang hebat saat saya berhasil sampai di halaman terakhir. Untuk Jukstaposisi, efeknya mungkin belum sampai sedahsyat itu, tapi setelah membacanya—entah mengapa—saya jadi tergerak untuk menulis. Ini buku yang misterius, layak untuk coba dibaca.


            Sepenangkapan saya,novel Jukstaposisi mengangkat tema yang agak berat, yakni tentang tuhan (atau tuhan-tuhan). Ceritanya, ada tuhan yang ingin menjadi Causa Prima (bukankah tuhan juga adalah causa prima?) dengan membunuh tuhan-tuhan yang lain. Nah, ini agak-agak menyentil keyakinan (terutama umat agama samawi) karena disebutkan dengan jelas tuhan yang namanya empat huruf, yakni YHWH. Masih kurang pelik, penulis menghadirkan candi Borobudur sebagai kuil tempat tidurnya para tuhan yang bermimpi menjadi manusia. Tampaknya penulis juga memasukkan unsur ajaran Buddhha dalam karya ini.


            Jadi, antara manusia dan tuhan-tuhan ini, masing-masing saling bermimpi dan memimpikan (Pucink pala Ken, pala Ken. Pucink pala Ken, pala Ken!). Untuk menjadi sang Causa Prima, Tuhan yang Utama, seorang gadis bernama Ashra Trivurti, harus memakan 10 tuhan yang lain agar dia bisa menjadi Maha Melihat, Maha Merasakan, Maha Mengetahui, Maha Bercahaya, dan maha-maha lainnya. Hanya boleh ada satu tuhan, karena tuhan Maha Pencemburu, dan dia harus memakan tuhan-tuhan lain agar menjadi satu-satunya Causa Prima. Luar biasa berat kan konsep ceritanya. Kalau yang baca nggak kuat, atau keburu-buru berpendapat, Jukstaposisi akan dianggap sebagai karya yang menghujat.


           Diperlukan pikiran terbuka, perenungan mendalam, dan tukar pendapat untuk berpendapat tentang Jukstaposisi. Saya beranggapan, bahwa satu tuhan yang memakan tuhan-tuhan lainnya adalah konsep yang memang harus sedemikian adanya, karena dunia akan kacau balau dengan begitu banyak realitas jika semua tuhan saling turut campur. Dengan menggunakan metode kebalikan, penulis seperti hendak menjelaskan bahwa tuhan semestinya memang satu, dan seperti itulah sehingga Dia adalah Causa Prima. Atau mudahnya begini, pernah nonton serial Hercules bukan? Dikisahkan, dewa-dewi sebagai penguasa alam hanya mempermainkan umat manusia. Bukannya melindungi, mereka malah suka berulah dan saling berperang. Begitulah jika tuhan ada banyak.


          Mungkin, seperti itu. Maaf jika saya keliru karena mungkin hanya sejauh itulah penangkapan saya terhadap buku ini. Banyak yang pucink baca buku ini mungkin karena menggunakan kata “tuhan” alih-alih “dewa” meskipun mungkin ceritanya akan lebih mudah jika semua kata tuhan di sini diganti dengan kata dewa, tapi rasanya memang kata “dewa” kurang bisa mewakili sejumlah sifat tuhan yang ada di buku ini. Yah pokoknya seperti itu deh. Cobalah baca Jukstaposisi, kemudian temukan tafsiranmu sendiri.


Friday, January 9, 2015

Separated

Judul     : Separated, It is You, I Stand Still
Pengarang : Eko
Penyunting : Ainini
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal : 211 hlm
Penerbit : Ping!!!

24314493

Folium adalah sebuah negeri yang dihuni oleh dua ras berbeda, manusia dan elf. Pemimpin negeri itu, Presiden Clorida, sengaja memisahkan dua ras tersebut dengan alasan yang tidak jelas. Ada semacam dinding tak kasatmata bernama Corp yang memisahkan dua wilayah itu. Para elf tinggal di bagian barat Folium, sementara manusia tinggal di bagian timur. Satu peraturan yang harus dipatuhi kedua ras, manusia dan elf tidak boleh berhubungan. Karena itu, baik manusia ataupun elf tidak ada yang bisa menembus Corp. Siapapun yang mencoba menembusnya akan hancur berkeping-keping. Selama ratusan tahun, kedua ras pun hidup terpisah, masing-masing dengan kehidupannya sendiri.

Alexander Spark, seorang manusia yang tinggal di distrik Rome, tanpa sengaja berhasil merobek Corp dan masuk ke wilayah elf ketika dia sedang berburu di hutan. Saat itulah, dia bertemu dengan elf berambut perak yang sangat cantik bernama Cinnamon. Keduanya saling berkenalan, berteman akrab, bermain bersama. Cinta mulai mekar diantara mereka. Sesuatu yang seharusnya terlarang di Folium dan sekaligus menjadi awal dari sebuah revolusi di negeri yang terbagi dua itu. Melalui Ramus—ayah Cinnamon—Alex mengetahui berbagai rahasia tentang negeri Folium yang telah disembunyikan Presiden Clorida. Ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh presiden lalim itu, rahasia yang kemudian memaksanya memunculkan Corp dan membagi dua negeri Folium.

Pertemuan Alex dan Cinnamon menjadi awal dari cerita, sekaligus pergolakan besar di negeri pulau tersebut. Cinta keduanya dibayang-bayangi oleh mata-mata Clorida yang senantiasa mengawasi mereka. Belum lagi, Ramus ternyata telah memiliki rencana sendiri. Dia hendak menggunakan hubungan antara Alex dan Cinnamon sebagai penyulut pemberontakan, pemicu terjadinya revolusi. Maka, Alex yang awalnya hanya pemuda biasa pun harus berlatih keras untuk menjadi pejuang. Dia harus berlatih memanah sementara Cinnamon harus terus melatih sihir alamnya untuk bertarung. Bersama-sama, keduanya menjadi yang pertama bersatu dari dua kaum yang terpisahkan untuk kemudian memimpin Folium menuju sebuah revolusi yang akan mengubah negeri itu selamanya.

Satu hal tentang novel fantasi karya anak negeri ini: sangat Hunger Games sekali. Begitu banyak elemen-elemen di dalamnya yang mirip serial karya Suzane Collins itu, mulai dari keberadaan Presiden Clorida yang otoriter (ingat Presiden Snow?), Alex yang pandai memanah, serta hubungan cinta antara Alex dan Cinnamon yang dieksploitasi sebagai symbol perlawanan (ingat Katniss-Peeta?), dan err Alex yang juga jago memanah! Padahal, konflik yang ditawarkan di bagian awal sudah cukup menarik, yakni pemisahan antara dunia elf dan manusia. Penulis berani menggunakan elemen-elemen elf (dan menurut saya dia mampu menggambarkan dunia elf dengan baik) lalu mengemas konfliknya lewat cinta antara Alex dan Cinnamon. Hanya saja, semakin ke belakang elemen-elemen Hunger Games ini semakin kental padahal premis awalnya sudah cukup bagus. Jika saja alurnya tidak menyerupai HG, novel ini berpotensi bagus.

Separated adalah satu dari tujuh naskah terpilih #fikfanDIVA yang diadakan DIVA Press tahun 2013. Saat itu, begitu sulit memutuskan naskah mana yang lolos. Begitu banyak naskah dengan premis cerita yang sangat bagus, hanya saja banyak yang kemudian cuma bagus di premis tapi gagal di eksekusi. Banyak yang menebar janji-janji akan kisah yang fantastis di awal, tapi sampai di tengah, ceritanya seperti kehilangan ruh dan penulis seperti tidak berhasil menyelesaikannya (meskipun naskahnya selesai). Karena itu, kami memilih cerita-cerita yang utuh, dengan premis yang sederhana namun digarap dengan rapi. Naskah ini adalah salah satunya, termasuk naskah yang ditulis dengan baik, alurnya tertata rapi, dan memiliki pembuka, klimaks, dan ending yang runtut.

Syarat maksimal 130 halaman yang diajukan dalam lomba juga menurut saya sangat membatasi kreativitas para penulis. Bayangkan saja, novel fantasi kan biasanya tebal-tebal, tapi ini maksimal hanya 130 halaman. Sehingga, wajar jika kemudian banyak penulis yang gagal menyelesaikan cerita. Asal potong aja selama jumlah halamannya 130 hlm, jadinya banyak cerita yang melompat. Kisah ini terpilih sebagai salah satu nominator karena selain naskahnya secara alur utuh, lompatannya juga tidak terlalu banyak. Bagian tentang pertarungan dengan Clorida agak kurang panjang, tapi yah, sebagai salah satu juri, saya memahami kalau pembatasan 130 halaman itu memang menghasilkan hal-hal yang tidak bisa dikompromikan seperti ini.


Selain terlalu mirip HG, ada juga banyak bolong di novel ini. Misalnya saja, bagaimana Clorida bisa membuat Corp seorang diri, darimana dia mendapatkan kekuatan besar, dan bagaimana cara dia menghancurkan kota-kota. Namun, saya rasa, jawaban dari bolong-bolong tadi pasti berkaitan dengan jumlah halaman yang dibatasi 130 tadi. Saya bisa memahaminya, hanya sangat disayangkan sekali. Kemudian, soal kelebihannya. Saya sangat suka dengan cara penulis yang begitu rapi saat menulis tentang elf, begitu tidak belepotan. Diksi  dan caranya dalam memilih kata dan menyusun kalimat juga bisa dibilang indah, karenanya novel ini berpotensi menjadi novel romance-fantasy yang cocok untuk dibaca remaja. Sedikit rasa dystopia di dalamnya juga manis untuk dicecap. Sebuah novel fantasi karya anak bangsa yang harus terus kita dukung perkembangannya. 

Saturday, May 24, 2014

Akkadia, Gerbang Sungai Tigris



Judul : Akkadia, Gerbang Sungai Tigris

Pengarang: R.D. Villam

Penyunting : Arie  Prabowo  dan Bonmedo Tambunan

Sampul : Lewi Djayaputra

Cetakan : 1, November 2009
Penerbit : Adhika Pustaka




                “Pada akhirnya, yang penting adalah apa yang kita lakukan, bukan hanya siapa diri kita.” (hlm 383)

                Mesopotamia, kawasan subur di antara lembah sungai Eufrat dan Tigris, abad ke-24 sebelum Masehi. Kerajaan Akkadia dibawah pimpinan Raja Sargon dan panglima perangnya nan legendaries Rahzad, berupaya memperluas wilayahnya dengan menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Seluruh wilayah di barat sungai Tigris sudah takluk di tangannya, para raja dan keluarga kerajaan yang ia taklukan ia basmi dengan semena-mena. Sementara, rakyatnya ia terror dengan ketakutan agar tidak muncul pemberontakan. Dia gunakan pasukan barion, binatang ganas perpaduan harimau, banteng, dan kuda dengan kulit yang tak tertembus, sebagai senjata penakluk utama. Dewi Ishtar, dewi cinta, kesuburan, sekaligus pelindung perang bagi bangsa Akkadia, konon memberikan sendiri sepasukan barion kepada Rahzad karena keberanian dan kehebatan sosok sang panglima. Untuk membendung invasi bangsa Akkadia, penyihir Elam dari Tanah Persia kemudian membangun sebuah dinding sihir tak kasat mata di sepanjang aliran sungai Tigris. Selama 30 tahun, dinding gaib ini tak tertembus dan Akkadia tak pernah bisa menaklukkan Kerajaan Elam di timur sungai Tigris.

                Naia, putri dari Kazzala—yang telah ditaklukkan oleh Sargon—membawa rakyatnya mengungsi ke Timur. Dengan melewati Gerbang Sungai Tigris, ia menyeberangi tabir pelindung gaib dan menyeberang ke Tanah Elam yang aman. Namun, untuk menghindari kejaran pasukan Akkadia, dia terpaksa bersekutu dengan mahkluk kegelapan. Satu perjanjian kuno yang akan membuatnya “terkutuk” selamanya. Tubuhnya tercemar, setiap malam purnama ia akan menjadi mesin pembunuh yang tak terhentikan. Ketika ini belum cukup, kekejaman Rahzad memaksa Naia bersekutu dengan sesosok iblis batu bernama Davagni yang meminta syarat berat kepada Naia: membawa turun sosok-sosok Nerghal, para abdi kegelapan yang kekejamannya bahkan lebih ganas dari Sargon. Tapi, Naia tak punya pilihan lain. Kondisinya sudah terdesak, pasukan Akkadia hampir berhasil menangkapnya. 

                Keadaan semakin rumit ketika Tezza, pelindung sekaligus kawan terdekat Naia tertangkap oleh pasukan Rahzad dalam posisi linglung. Dengan bujukan sang panglima, Tezza lupa dengan semua masa lalunya, dia bahkan diubah menjadi mesin perang Akkadia yang harus mengejar dan menyerang Naia. Sementara itu, Naia sendiri memiliki misi untuk menemukan Ahli Waris Sang Penjaga Gerbang, keturunan dari sosok penyihir yang telah membangun dinding sihir di sungai Tigris. Tak dinyana, takdir malah mempertemukan Tezza dengan sang ahli waris, saat itu keduanya sama-sama tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya dan sebesar apa takdir yang mereka emban. Cerita terus bergulir, menghadirkan lebih banyak tokoh dan pertempuran. Petualangan Naia bertemu dengan serangan Tezza, sementara pencarian sang ahli waris mempertemukannya dengan sosok-sosok besar dalam sejarah perang kedua kerajaan.

                Ketika hampir mencapai tengah, pertempuran besar pun akhirnya pecah antara pasukan Akkadia dan pasukan gabungan dari kerajaan-kerajaan di Elam. Ribuan pasukan saling bertempur satu sama lain, pedang menebas, tombak menusuk, taring barion mengoyak, sihir bertemperasan, bola api menyambar, darah tertumpah di mana-mana, ribuan nyawa melayang sia-sia dalam beberapa hari saja. Sungguh, perang di mana pun selalu kejam dan tidak mengenal  perikemanusiaan. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Dan ketika kedua pihak kelelahan, musuh yang sejati muncul. Sosok-sosok kegelapan datang ke bumi membawa kekejaman yang tak terbayangkan. Dan, Naia serta kawan-kawan, kembali harus berjuang untuk melawan sang musuh dari alam lain, musuh yang jauh lebih kuat dan tak terkalahkan.

                Sebagai sebuah novel fantasi karya penulis local, Akkadia bisa dibilang sebuah masterpiece. Penggabungan antara sejarah dengan tema fantasi, yang kemudian digarap dengan intens dan penuh ketekunan telah menghasilkan sebuah bacaan fantasi yang bisa dibilang “lengkap”. Ada sihir dalam buku ini, ada pula perang, intrik, sejarah, mitos, legenda, persahabatan, perjuangan, dan juga cinta. Saya yakin Akkadia ini digarap dengan begitu serius, hasil dari oleh pikir sang penulis juga polesan para editor yang berjuang sekuat tenaga menghasilkan sebauh kisah epic yang begitu mendetail seperti Akkadia. Secara cerita, plot novel ini begitu tak tertebak, pembaca akan sulit menerka bagaimana jalan cerita selanjutnya. Bahkan, banyak tokoh yang berbolak-balik sehingga kita tidak tahu siapa sebenarnya yang harus kita dukung atau malah kita benci.

                Untuk saran, bagian deskripsinya agak kurang bisa terbayangkan, walaupun cukup detail. Sampai selesai membaca buku ini, saya masih sulit membayangkan bagaimana rupa atau wujud barion ini. Saya juga masih kesulitan membayangkan sosok Naia dan Tezza.  Atau, mungkin karena saking serunya alur cerita sehingga saya nggak memperhatikan detail, bisa saja sih begitu. Kritik lain adalah soal fontnya yang kecil dan rapat. Buku ini sangat bagus, tepi entah kenapa saya butuh waktu lama saat membacanya. Dan, setiap kali membaca pasti ketiduran sehingga buku ini baru selesai dalam 1 minggu, cukup lama karena halamannya yang hanya 370-an. Mungkin, kerapatan spasi dan kecilnya font ikut mempengaruhi. Tetapi, saya tetap yakin bahwa Akkadia adalah sebuah novel fantasi karya local yang seharusnya bisa dibaca dan diapresiasi lebih banyak orang.

                “Kita harus percaya bahwa ada sesuatu yang baik menunggu kita di luar sana, jika kita berani mengambil resiko.” (hlm 337)

Friday, May 23, 2014

Xar dan Vichattan 3, Empat Tubuh Statera

Judul : Xar dan Vichattan 3, Empat Tubuh Statera
Pengarang : Bonmedo Tambunan
Editor : Tendy Yulianes Susanto
Tebal : 431 hlm
Cetakan : 1, Januari 2012
Penerbit : Adhika Pustaka



Perhatian: Disarankan untuk tidak membaca resensi ini bagi yang anti-spoiler!
                Pertempuran antara Chao dan Statera, Sang Kekacauan dan Si Penjaga Keteraturan, menjadi focus utama di buku ketiga ini. Berbeda dengan buku pertama dan buku kedua, di mana pembaca disuguhi pertempuran epic antara cahaya dan kegelapan, buku ketiga ini menyuguhkan tema yang sangat berbeda, bahkan berlawanan. Dari backcover buku ini kelihatan bahwa musuh utama dalam buku ini bukanlah gelap, tetapi cahaya. Kok bisa? Komentar Mbak Truly Rudiono di halaman pertama buku ini bisa menjadi petunjuk tentang bagaimana perjalanan cerita dalam buku ini, … hitam tak selamanya “hitam” dan putih tak selalu “putih.”

                Melanjutkan cerita sebelumnya, ketika akhirnya seluruh pendukung Kuil Kegelapan akhirnya berhasil dikalahkan dalam pertempuran di Kuil Cahaya dan Khalas serta pengikutnya pun tersedot masuk ke dalam Void.Namun, ada satu tokoh gelap yang selamat, ia yang berkhianat dan malah telah membunuh kekasihnya sendiri yang sudah berkorban untuknya, Corbus. Sendirian, ia membangkitkan kembali tokoh-tokoh kegelapan dari Void: pasukan tengkoran hidup, kelelawar raksasa, dracolupin, ksatria gelap, bahkan Shaba. Gelap telah mendorong Corbus untuk mengerahkan semua kekuatannya demi menarik kembali pasukan gelap ke dunia.

                Sementara itu, keanehan terjadi di Vichattan. Butir-butir salju turun di daratan Vichatan, hal yang seharusnya hanya terjaid di Kuil Gelap. Keanehan ini muncul setelah Antessa berhasil mengimbuhi Kristal Utama dengan Cahaya, yang seharusnya membuat kekuatan Cahaya jauh di atas kegelapan. Elemen alam menjadi semakin kuat sehingga kekuatan para pasukan Vichattan melonjak naik. Maka terjadilah ketidakseimbangan di alam, cahaya melesat naik sementara gelap merosot turun. Ketika keseimbangan hilang, datanglah kekacauan sebagai penggantinya. Datanglah Chao, kekacauan!

                Chao, musuh utama sejak awal masa, begitu kuatnya sehingga mampu mengubah seluruh pasukan Vichattan menjadi abdinya. Seolah dihipnotis, para tiarawati Kuil Vichattan tiba-tiba menyerang prajurit Xar. Bahkan, para Tiarawati itu tega menyerang Kara dan teman-temannya. Termasuk Nana Mirrell yang saying disayangi Kara, malah tega menyerang cucunya sendiri. Dan kali ini, keempat ahli waris cahaya diselamatkan oleh Shaba dan Frigus! Ya, keadaan berbalik dan semakin kacau. Vichattan menjadi “jahat” sementara para abdi kegelapan malah menjadi pihak penyelamat. Pihak Gelaplah yang pertama kali mengetahui taktir Chao yang ingin kembali bertahta di dunia dengan menggunakan kekacauan.

                Maka, untuk pertama kalinya, pihak cahaya bahu membahu dengan pasukan kegelapan untuk melawan pasukan Vichattan. Sungguh miris melihat bagaimana Shaba berjuang bersama pasukan istana Xar untuk melindungi Ruang Hati di Kuil Xar dari serbuan pasukan Vichattan yang menggamuk ganas dengan kekuatan elementalnya. Keseimbangan harus dikembalikan, Antessa harus kembali ke Kristal Utama dan mengembalikan Kristal itu sebagaimana aslinya, tidak diimbuhi cahaya ataupun gelap, netral, seimbang antara unsur-unsur penyusunnya. Tetapi, Chao tidak tinggal diam. Kekacauan itu telah memberinya tenaga yang luar biasa besar untuk kembali bangkit ke dunia. Baru saja Antessa berhasil membebaskan Kristal Utama dari imbuhan cahaya (yang menyebabkan seluruh pasukan Vichattan kembali sadar dan menjadi diri mereka sendiri), Chao langsung bergerak cepat dengan menyerang Kuil Vichattan.

                Sebagaimana poster pin up keren di halaman 394 buku ini, kita akan menyaksikan ketika cahaya, gelap, Xar, Vichattan, serta para peri berjuang bahu membahu melawan Chao. Seluruh orang bersatu, empat ahli waris cahaya, para pasukan dan pengabdi gelap, Amor, Pietas, Nolacerta, Frigus, Shaba, para biarawati Xar dan Tiarawati Xar; semuanya bersatu menyerang Chao yang hendak menghadirkan kekacauan kembali ke dunia. Nasib dunia di pertaruhkan, dan kali ini keempat ahli waris cahaya yang sudah beranjak remaja kembali menjadi penentu nasib dunia. Chao hanya bisa ditandingi oleh Statera, sang keteraturan yang terwujud dalam empat tubuh statera. Berhasilkah Antessa, Gerome, Dalrin, dan Kara menggenapi takdir mereka kali ini?


                Sebagai laga pamungkas dari seri Xar dan Vichattan, buku ini berhasil memenuhi keinginan pembaca tentang akhir yang tuntas tetapi sekaligus masih mampu menghadirkan twist yang membuat pembaca tercengang. Masih seperti buku satu dan dua, buku ini tetap mempertahankan alur yang cepat dan gaya penceritaan yang susah untuk berhenti membacanya. Sepanjang membaca halaman demi halaman di dalamnya, pembaca akan terus dibuat penasaran dan ingin segera menyelesaikannya. Inilah penyebab mengapa walau buku ini sebenarnya cukup tebal dan dengan font yang kecil, kita tetap bisa menyelesaikan membacanya dengan cepat. Sukses untuk mas Boni yang keren banget bisa menghasilkan seri sebagus ini hingga tuntas.

Xar dan Vichattan 2 : Prahara

Judul : Xar dan Vichattan 2 : Prahara
Pengarang : Bonmedo Tambunan
Editor : Ari Prabowo dan Leonie Siregar
Tebal : 423 hlm
Cetakan : 1, Juli 2010
Penerbit : Adhika Pustaka



Bahkan lebih epic daripada buku pertamanya, begitulah saya menyebut seri kedua dari Xar dan Vichattan karangan Bonmedo Tambunan ini. Setelah kesulitan menghentikan proses pembacaan selama memegang buku pertama, saya terpaksa berhenti dulu membaca seri ini karena saya tiak punya buku kedua. Sudah mencari-cari di toko buku sekeliling Jogja pun tidak menemukannya, bahkan saya sempat mau menitip ke teman di Jakarta. Disamping susah dicari, penerbit yang menerbitkan serial ini konon sudah gulung tikar, maka semakin sulitlah serial ini dicari. Untung banget di grup whatsapp ada seorang Santa yang baik banget. Beliaulah Rahib Tanzil Hernadi yang bermukim di bandung. Atas jasa dan kebaikan beliaulah sehingga saya menemukan buku kedua ini dan akhirnya bisa meneruskan membaca ketiga serinya.

                Seperti saya ungkap di muka, seri kedua ini jauh lebih intens dan keren ceritanya. Dari awal bab pertama saja pembaca sudah disuguhi adegan pertempuran antara elemen alam melawan sihir jahat. Kemudian, lembar demi lembar setelahnya bak adegan susul menyusul yang mendebarkan, membikin penasaran, dan membuat pembaca enggan meletakkan buku ini sebelum selesai. Benar-benar hebat ide dan cara si penulis membangun konflik, menjalankan cerita, dan membuat pembaca tidak bosan. Meskipun hutufnya kecil-kecil dan dengan kertas buram, buku ini begitu membuat ketagihan, terutama bagi para penggemar kisah fantasi yang minim romansa tetapi berjuta aksi laga.

                Melanjutkan seri pertama, Prahara benar-benar memiliki kualitas cerita sebagaimana tercantum pada judulnya. Buku kedua ini benar-benar penuh prahara yang ditimbulkan oleh kelompok kegelapan pimpinan Khalass. Belum sempat Istana Xar dan Vichattan menemukan bagaimana para penyihir hitam mampu mendatangkan monster-monster kengerian, bencana dan serangan dating beruntun. Begitu banyaknya masalah yang menimpa sehingga empat ahli waris cahaya harus berpencar untuk membantu. Kristal elemental yang merupakan intisari dari kekuatan alam di dunia sudah mulai dicemari oleh kejahatan. Sementara itu,  Kuil Kegelapan juga telah mempersiapkan pasukannya, siap untuk menyerbu ke wilayah Vichattan. Kekuatan kegelapan semakin kuat dan banyak, sementara kelompok cahaya masih kebingungan darimana kelompok Kegelapan memperolah monster-monster mengerikan tersebut.

                Keadaan semakin bertambah buruk ketika sekelompok penyihir hitam berhasil mendobrak masuk ke Kuil Xar dan menodai Ruang Hati. Sementara Dalrin sendiri mengalami kebimbangan dengan cahaya [adahal dia harus segera melakukan acara pengimbuhan cahaya di Kuil Xar. Masih bekum cukup lagi, Kara yang tengah mempelajari buku-buku hitam di perpustakaan tiba-tiba menghilang entah kemana, sementara Kara harus berjuang sendirian menghadapi serangan Ratu Peri yang sudah berbalik ke golongan hitam. Satu demi satu masalah muncul. Xar dan Vichattan semakin terdesak sementara kegelapan kian meluas dan seolah tengah merencanakan sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang bahkan para pimpinan tertinggi Xar pun tidak mampu mengetahuinya.

                Ketika akhirnya serangan kegelapan menggempur dari berbagai sisi, keempat ahli waris cahaya yang masih anak-anak itu harus berjuang sekaligus memutar otak demi menyelamatkan dunia. Demikian pula para pemimpin tertinggi Xar dan Vichattan, semua harus bekerja sama dan berjuang keras demi cahaya. Pertempuran terakhir pecah akhirnya pecah di Kuil Cahaya. Tiga pewaris cahaya harus berjuang menghadapi gempuran pasukan kegelapan yang menyerang langsung ke titik pusat kekuatan cahaya. Berhasilkan mereka? Silakan baca buku ini dan yakinlah buku ini akan membuatmu tidak tenang meletakkannya sebelum kau menuntaskan membacanya.


Monday, March 17, 2014

Relic Sembilan Milenia

Judul : Relic Sembilan Milenia
Pengarang : Ray Admanto
Penyunting : Misni Parjiyati
Tebal : 182 halaman
Cetakan : 1, Maret 2014
Penerbit: PING!!!

               

                Memilih Relic Sembilan Milenia sebagai 7 nominasi pemenang #fikfanDIVA adalah pekerjaan yang sangat mudah karena cerita ini unik dan “selesai”. Menulis sebuah kisah fantasi utuh dengan jumlah halaman yang dibatasi sudah jelas tidak mudah, tidak banyak yang bisa. Dalam lomba #fikfanDIVA, peserta diharuskan menulis satu cerita utuh hanya dalam 130 halaman dua spasi! Just imagine that! Ketika dunia fantasi tengah gandrung menulis berpanjang-panjang, peserta dipaksa memangkas cerita dan memapras narasi hingga menjadi sebuah cerita utuh yang muat dalam satu naskah berhalaman tipis. Novelet fantasi, kami menyebutnya begitu. Dalam proses seleksi, banyak peserta membawa konsep cerita yang bagus dan keren, tetapi sayang kisah mereka membutuhkan terlalu banyak halaman dan tidak mungkin selesai dalam sebuah novelette tipis. Maka, inilah salah satu proses seleksi yang kami jalankan: memilih cerita yang selesai!

                Relic Sembilan Milenia dibuka dengan narasi dan perkenalan seperlunya. Karakter pun digambarkan sambil lalu, tidak menumpuk di awal cerita sehingga membuat novelette ini tidak berpanjang-panjang. Kelihatan banget kalau penulisnya sudah sering menulis, atau paling tidak sudah malang melintang pukang di dunia fiksi perfantasian Indonesia *halah. Untuk cacat logika hanya sedikit menurut saya dan dramanya pun ada—dan tidak berlebihan. Nah, bagian tengah-tengah cerita itu yang sayangnya kelihatan banget dipangkas dan dipapras habis demi persyaratan yang 130 halaman itu. Adegan-adegan di gurun, juga di kota para pencuri itu kelihatan banget banyak yang hilang padahal di bagian ini sebetulnya bisa dikembangkan lagi potensinya, terutama bagian tentang masa lalu si assassin.

Oke, kita lanjut aja ke review singkatnya ya. Assassin Creed (haduh maaf salah judul hihihi) … Relic Sembilan Milenia berkisah tentang pencarian sebuah artefak peradaban Avesta berusia 9.000 tahun yang terpendam di Gurun Shanidar. Relic ini dipercaya menjadi kunci untuk menguak penyebab kehancuran bangsa Avesta yang tiba-tiba raib tanpa sebab. Lucia Lavence, seorang arkeolog bertekad mencari relik tersebut demi melunasi utang keluarganya. Sang Kakek dulunya juga sempat memburu relik tersebut, tapi entah mengapa dia menyerah. Lucia kemudian mendatangi seorang assassin atau pembunuh bayaran untuk diajak mencari relik tersebut. Loh, cari harta kok sama pembunuh sih? Penasaran kan? Jelasnya untuk perlindungan kara Lucia juga telah menyewa sebuah tim yang berisi arkelog, dokter, dan tim penggali. Dia juga menyewa beberapa jagoan.

                Dimulailah pencarian kota misterius yang tersembunyi di gurun pasir. Si Assasin memaksa tim itu mengubah rute perjalanannya sehingga melewati Kota Pencuri. Di kota inilah terpendam masa lalu sang Assasin yang seharusnya bakal bagus banget bila dikembangkan lagi (tapi yah 130 halaman lho ingat!). Sebenarnya, akan sangat membantu banget jika buku ini dilengkapi dengan peta karena pembaca pasti bakal lebih mudah membayangkannya. Singkat kata, setelah drama celana Lucia yang hilang, mereka melanjutkan perjalanan menembus gurun pasir. Sebuah sihir kuno menyelubungi kota kuno itu, tetapi panduan sang Assasin (yang dia dapatkan dari kota pencuri) membuat mereka berhasil menemukannya.

                Di kota yang hilang inilah kisah ini mengalami krisisnya. Artefak berharga itu ternyata menyimpan sebuah misteri kuno yang sangat berbahaya. Sebuah misteri yang telah menyebabkan hancurnya peradaban bangsa Avesta. Berhasilkan Lucia dan tim-nya mengambil relik tersebut? Apa konsekuensi dahsyat yang mengiringi penemuan relik tersebut? Lalu, apa sebenarnya peranan sang assassin dalam pencarian harta ini? Pokoknya ending kisah ini asyik banget. Sebuah buku fantasi karya anak negeri yang sangat patut diapresiasi. 

Friday, February 14, 2014

Orang-Orang Tanah

Judul: Orang-Orang Tanah
Pengarang: Poppy D Chusfany
Editor: Donna Widjajanto
Cetakan: 1, Agustus 2013
Tebal : 199 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



18250158

                Ini pertama kalinya saya membaca tulisan Mbak Poppy, salah satu penerjemah buku favorit saya. Sepertinya, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kualitas terjemahan beliau; dijamin nyaman dan ngalir banget. Nah, lalu gimana kalau Mbak Poppy menulis buku, bukan menerjemahkan? Bagaimana rasanya buku yang keluar dari hasil pemikirannya sendiri, bukan mengalihbahasakan tulisan orang lain? Satu hal yang jelas, Orang-orang Tanah adalah buku kelimanya yang diterbitkan. Dari sini saja sudah bisa ditebak kalau Mbak Poppy ini bukan penerjemah biasa, dia adalah penerjemah yang berkarakter. Kebiasaan menggeluti, membaca, dan menerjemahkan buku-buku bagus memang bisa menimbulkan efek “penciptaan” kepada seseorang. Berbagai informasi, kata, dan cerita yang masuk; secara tidak sadar akan mendorong munculnya perasaan ingin berkarya juga. Rupanya, inilah yang terjadi pada kasus Mbak Poppy. Setidaknya, karena beliau banyak menerjemahkan novel-novel fantasi, dua bukunya yang paling menonjol adalah Nocturnal dan Boocoholic Club sama-sama bertema fantasi dan buku. Dalam Orang-orang tanah, kumpulan cerpennya yang pertama, genre dark fantasi mengambil alih.
                Saya pernah punya Nocturnal, tapi belum membacanya. Dari ulasan yang saya baca, novel itu sederhana tetapi rapi. Kerapian dan kesederhanaan cerita ini malah menjadi poin plus, karena buku fantasi lokal itu menjadi lebih bisa dinikmati pembaca. Untuk kasus Orang-orang Tanah, kecenderungan yang sama juga kembali saya temukan. Buku ini sederhana, rapi, ditulis dengan amat teratur dan mudah diikuti, dengan tema-tema dark fantasi yang banyak melibatkan karakter ibu-anak. Seperti dalam Jendela dan Pelarian, kita akan dihibur oleh kisah perjuangan seorang ibu dan anak yang berupaya “menentang dunia” yang kejam dan absurb terhadap nasib mereka. Kisah pertama begitu real, seolah tengah membaca sebuah cerpen berat di Kompas tentang keseharian seorang anak miskin dan ibunya yang terus menerus disiksa. Tidak terbayangkan kalau ending novel ini berbau fantasi. Untuk Pelarian, settingnya sendiri sudah fantasi jadi cukup dinikmati saja.
                Cerita ketiga, Pondok Paling Ujung mengisahkan tentang seorang penulis yang menyepi di suatu lembah demi mendapatkan inspirasi atas tulisannya. Ia memang mendapatkan inspirasi, dari mahkluk gaib! Membaca cerita ini agak merinding juga, terutama melihat bagaimana Mbak Poppy menuliskan setting dan menggambarkan karakter si mahkluk lain ini yang ala-ala horor Poe. Menggerikan! Kisah Bulan Merah dan Dewa Kematian, sesuai judulnya, adalah kisah yang gelap dan endingnya bikin kaget, terutama kisah kedua, yang memiliki twist yang langsung membelok tajam begitu sampai di belakang. Kita baru tahu apa yang terjadi setelah rampung membacanya. Pintu Kembali agak mengingatkan saya pada Narnia dan The Book of Lost Things, tentang perjalanan atau petualangan seorang anak di dunia lain yang tengah mencari jalan pulang kembali ke dunianya. Mbak Poppy mencampurkan antara yang absurb dan yang fantasi di buku ini. Indah dan rapi.
                Dalam Lelaki Tua dan Tikus, kembali tema “kejahatan mendapatkan balasan” digunakan sebagai penggerak cerita. Ini settingnya urban, tentang perempuan yang kembali menjadi korban dari kondisi masyarakat perkotaan. Inilah yang saya suka dari Orang-orang Tanah, Mbak Poppy berkreasi dengan cerita fantasi, tapi beliau juga menyelipkan pesan-pesan moral dalam ceritanya. Bisa dibilang, kisah Lelaki Tua dan Tikus ini cerpen fantasi yang mengandung aspek realitas, memberikan pesan moral pada pembaca, sama seperti cerita Jendela. Begitu pula Sang Penyihir, saya paling suka dengan cerita ini karena begitu menggambarkan betapa mudahnya kita mendakwa salah sesuatu atau seseorang hanya karena dia berbeda dari yang kebanyakan. Manusia yang dangkal selalu takut pada perbedaan. Mereka baru tenang kalau seluruh dunia menjadi sama dan seragam, setidaknya adanya persamaan ini menjamin tidak terjadinya perubahan atau bahkan revolusi, tidak peduli meskipun perubahan itu sebenarnya positif.
                Setelah dihibur dengan aneka cerpen fantasi yang tidak hanya rapi dan menghibur, tapi juga “bergizi”, buku ini ditutup oleh kisah Orang-orang Tanah yang menurut saya memang cerita paling tepat untuk mengakhiri pembacaan buku ini. Ini settingnya Indonesia banget tetapi membawa konsep ala troll atau kurcaci Barat ke Indonesia. Alih-alih njomplang, cerita ini sangat bisa dinikmati. Penulisannya rapi jail dan mungil kayak membaca cerpen di majalah Bobo, meskipun endingnya agak membuat pembaca tersentak sambil mengamati sampul depan buku ini yang unyu-indah. Jangan tertipu dengan sampulnya yang unyu, Orang-orang Tanah adalah buku untuk usia remaja ke atas. Ini bukan buku anak-anak, ini buku fantasi yang dark namun entah bagaimana sangat indah, seindah ilustrasi-ilustrasi yang menghiasi bagian depan dari masing-masing cerpen.