Search This Blog

Showing posts with label Novel Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Novel Indonesia. Show all posts

Monday, October 28, 2019

Meratapi yang Liyan dalam Rumah Ilalang


Judul : RUMAH ILALANG
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 135 hal
ISBN : 9786237290230


            Kita mungkin sudah pernah atau mungkin sering melihat waria (bahasa Internasionalnya transgender, tetapi orang biasa menyebut mereka dengan bencong¸ banci, atau wadam). Pertanyaannya, pernahkah kita melihat, atau mungkin iseng bertanya bagaimana seorang waria dimakamkan ketika dia meninggal? Maksudnya, apakah dia dikebumikan sebagai laki-laki atau seorang perempuan (jika kebetulan dia beragama Islam). Dalam kasus kebanyakan, seorang waria tetap dianggap sebagai pria sehingga kemungkinan dia akan dikebumikan selayaknya seorang pria. Soal apakah yang dilakukannya semasa hidup, biar lah itu menjadi urusannya dengan Tuhannya.  

Agama itu baik. Tetapi kadang pemainnya tidak. (hlm. 46)

Saturday, November 9, 2013

Enigma



Judul : ENIGMA
Pengarang : Yudhi Herwibowo
Penyunting: Anin P
Sampul : Rio
Cetakan: 1, 2013
Tebal: 224 hlm
Penerbit : Grasindo



18518537


    

          Lima sahabat dan lima kisah, yang kelimanya terpencar oleh waktu, dipertemukan lagi oleh waktu. Hanya saja, waktu telah banyak mengubah semua. Dan kini, pertemuan itu tidak lagi sama.

          Kota Jogja memang menawarkan setting yang sangat eksotis untuk cerita cinta dan kisah kaum muda. Seorang Yudhi Herwibowo, penulis yang sangat produktif ini, adalah salah satu yang menggunakan kisah ini untuk membangun cerita indah dan penuh teka-teki tentang sekumpulan anak manusia, yang sempat bersama-sama di kala muda sebelum kemudian waktu merenggut semua.

           ENIGMA, novel ini berkisah tentang kebersamaan masa muda yang hanya bisa dikenang ketika kemapanan, pekerjaan, dan keluarga telah mengambil sebagian besar waktu dan kehidupan. Ini adalah kisah tentang persahabatan yang pernah ada, dan bahwa kita harus menghargai persahabatan itu bagaimanapun adanya, karena kita tidak pernah tahu, sebagaimana sebuah enigma, bagaimana roda-roda hidup akan berputar di masa depan, entah menghancurkan atau mempertemukan kembali ikatan-ikatan yang pernah ada.

           "Aku tahu bagian tubuh kita tak hanya terdiri dari tulang-tulang dan daging, sarah serta air. Ada juga yang mungkin tak terdeteksi. Itu adalah: kenangan.” (Chang, 91)


            Hasha, Gozza, Chang, Patta, dan Isara. Kelimanya sahabat sejak masa kuliah. Dipertemukan dalam acara orientasi mahasiswa baru, dan kemudian dipersatukan oleh warung lotek (sejenis gado-gado) yang berada di bilangan dekat kompleks Kanisius Yogyakarta. Bersama-sama, kelima sahabat ini menjalani masa muda yang penuh warna, dengan gelak tawa maupun haru duka, sebelum akhirnya waktu memudarkan semua. Memaksa kelima sekawan ini berpencar dan mengapai mimpi masing-masing. Patta menjadi pengusaha sukses dan menikah dengan Isara (sebelum kemudian bercerai). Isara menikah dengan Patta (sebelum bercerai). Chang memutuskan mengelana dan mencari tujuan hidupnya lewat sebuah perkumpulan kebatinan (sebelum perkumpulan itu dinyatakan sesat karena berbeda). Hasha menjadi seorang wartawan yang idealis (sebelum sebuah pembunuhan terhadap rekan sekerjanya mematikan idealisme itu), sementara Gozza, sang bad boy dalam kelompok ini, menjadi pembunuh bayaran dan pemikat wanita.

           Lima cerita yang dulu satu kini terpencar, dan seolah merindukan masa-masa indah itu, kelimanya secara tidak sadar saling tertarik untuk kembali ke muaranya: ke kota Jogja tempat pertemuan mereka yang pertama. Dan saat itulah kisah persahabatan itu kembali dibuka untuk yang kedua kalinya. Chang kembali ke Jogja untuk membuka cabang baru dari aliran kebatinan pimpinan Dewi yang berpusat di Jakarta. Gozza mendapatkan perintah untuk menghabisi seorang target dalam sebuah upacara pernikahan di kota gudeg itu juga. Patta dan Isara, mereka tengah berupaya lari dari takdir yang membelit mereka dengan cara mendatangi kota pelajar ini. Sementara, bagi Hasha, kota ini ibarat masa lalu yang kelabu tapi begitu memukau untuk dikunjungi. Dan, kelimanya kembali dipertemukan. Hanya saja, kali ini cerita itu tidaklah sesederhana canda-tawa di bangku kuliah dulu.

           Dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama, pengarang akan mengajak pembaca menelusuri kisah ini melalui lima tokoh utamanya. Masing-masing berkisah tentang dirinya, tentang kehidupannya. Di bagian awal, pembaca mungkin bosan dan tidak mengerti dengan cerita yang sepenggal-penggal dalam Enigma. Tetapi semakin ke belakang, ada benang merah yang dengan sangat manis menghubungkan semua cerita ini. Semakin dalam kita larut dalam Enigma, semakin kita menyadari betapa kisah-kisah ini bukan semacam picisan, tetapi jauh lebih indah dari itu.

             Ini adalah kisah tentang kehidupan itu sendiri, tentang pesahabatan, tentang cinta, tentang misteri, tentang keluarga, tentang kebersamaan, tentang politik, tentang pekerjaan, tentang menghargai perbedaan, juga tentang idealisme. Lebih dari itu, novel ini mengajak kita untuk belajar melihat dunia dari berbagai sudut pandang. Dan baru dengan begitu kita akan menjadi manusia yang lebih bijaksana. Benarlah bahwa terkadang hidup itu rumit seperti teka-teki, dan Enigma dengan begitu indah—seindah sampulnya—telah menggambarkannya untuk kita.

Wednesday, September 25, 2013

The Apuila’s Child

Judul : The Apuila’s Child
Pengarang : Ruwi Meita
Editor : Ainini M.
Tata cetak : Fitri Raharjo
Sampul : Agus
Cetakan: 1, September 2013

Penerbit : De Teens


18580878


Adalah sebuah tantangan yang tidak mudah untuk bisa membuat sebuah novelet  fantasi dengan jumlah halaman kurang dari 130. Dalam hal ini, penulis dituntut untuk bisa meringkas sekaligus menyempurnakan sebuah cerita, tanpa banyak plot holes yang bertebaran di sana-sini, sekaligus tetap bisa memberikan hiburan bagi pembaca. Ajang #fikfanDIVA yang resmi berakhir April 2013 kemarin telah menyisakan tujuh naskah yang layak terbit, dan The Apuila’s Child adalah naskah yang meraih juara pertama dalam event penulisan novelette fantasi tersebut.

                The Apuila’s Child benar-benar membawa sesuatu yang baru dari segi cerita. Penulis mampu mengkaitkan antara Letusan Krakatau tahun 1883 dan Letusan Merapi tahun 2010 dengan kisah tentang anak malaikat yang terbuang. Kisah-kisah fantasi tentang para keturunan nephilim atau malaikat yang terbuang ke Bumi mungkin sudah sering kita jumpai di jagat fiksi fantasi luar, tapi untuk di Indonesia sejauh ini saya baru menjumpainya di novelette ini. Dan, kepiawaian Ruwi Meta benar-benar terbukti ketika naskah fantasi yang barat-sentris ini ternyata minim sekali suasana Baratnya. Nama-nama yang digunakan juga asli nama lokal, bahkan setting lokasinya pun di Jogja. Inilah beberapa yang membuat naskah ini begitu istimewa.

                Tentang konsep cerita, The Apuila’s Child berkisah tentang keturunan para Apuila atau malaikat yang jatuh ke Bumi. Karena berbagai sebab, salah satunya cinta, sejumlah malaikat rela memotong sayapnya agar ia bisa tinggal di Bumi. Mereka kemudian menikah dengan manusia biasa, dan menurunkan ras campuran yang disebut donahue. Kaum  Donahue ini bisa berumur panjang melebihi rata-rata manusia biasa, tapi pada usia 1.000 tahun ia akan disebut alok. Donahue Rubi adalah salah satu anak Apuila yang mengabdikan diri untuk merawat anak-anak yang kurang beruntung. Usianya hampir 200 tahun tetapi ia masih sesegar gadis remaja. Dalam persinggahannya di dunia manusia, ia bertemu dengan Oren, sosok anak kecil yang karena masa lalunya yang pahit membuatnya “bisu”. Ia juga menemukan Kemuning, seorang anak Apuila dengan emosi yang meledak-ledak.

                Seorang anak Apuila memiliki 12 jari, 4 jari tambahan ini disebut silandil dan merupakan “tombol” kekuatan mereka. Mereka mampu mengeluarkan kabut gaib yang dapat dimanipulasi menjadi hampir apapun di alam roh, bahkan bisa untuk mengambil sesuatu dari masa lalu menggunakan serbuk waktu. Sayangnya, seorang anak Apuila akan selalu terancam oleh keberadaan kelompok Apulia hitam yang berupaya menguasai dunia. Untungnya, ada pasukan balin pimpinan Ganendra yang menghalangi mereka. Ganedra juga membuat ramalah tentang terjadinya petaka di ulang tahun ke -1000 seorang anak apuila, yang jatuh tepat pada saat Merapi meletus tahun 2010. Donanhue Rubi pun bahu membahu bersama Oren dan Kemuning, serta berbagai makhluk ajaib untuk menangkal ramalan buruk tersebut. Namun, muncul musuh baru  dari sisi yang tidak diduga-duga. Berhasilkah mereka menyelamatkan dunia dari letusan selanjutnya? Bacalah di buku yang tipis namun seru ini.

                Satu hal yang kurang dari buku ini adalah kurang tebal. Ada banyak sekali hal yang hilang (atau memang terpaksa dihilangkan) demi mengenapi syarat halaman yang hanya 130 halaman. Sekiranya boleh dipertebal, pasti kisah tentang anak-anak Apuila ini akan  benyak menghadirkan sisi-sisi lain yang menarik dari sosok Donahue Rubi, Kemuning, dan juga Oren. Walau tipis, penulis juga mampu membangun karakter-karakter utamanya dengan cukup kuat. The Apuila’s Child benar-benar membuktikan bahwa penulisnya telah berpengalaman dalam dunia tulis-menulis. Semoga, penulis berkenan menulis versi yang lebih tebal dan lebih lengkap dari kisah fantasi ini.
               


Tuesday, September 10, 2013

Jakarta Love Story



Judul     : Jakarta Love Story
Pengarang          : Rudy Efendi
Editor                 : Aya Sophia
Halaman            : 479 hlm
Cetakan             : Pertama, Agustus 2013
Penerbit             : DIVA Press



"Bukankah tidak dibutuhkan kata-kata lagi tatkala dalam diam dua hati telah saling bicara?" (Jakarta Love Story, 420)

                Satu lagi buku bertema LGBT yang meramaikan khasanah sastra Indonesia setelah sebelumnya kita dihibur dengan Lelaki Terindah, Garis Tepi Seorang Lesbian (terbit ulang dengan judul Ashmora Paria), dan yang terbaru The Sweet Sins. Buku baru tentang percintaan yang tidak biasa, yang lain dari kecenderungan umumnya, yakni tentang cinta yang timbul antar jenis kelamin yang sama. Satu kisah lagi diangkat untuk mengetahui adakah cinta sejati dari hubungan tidak biasa ini. ketika kedua hati saling bertaut dan seseorang tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh hati, mampukah dunia menaklumi dan menerima cinta yang  tidak biasa ini? Mampukah cinta yang begitu tulus dan suci meluluhkan hati dunia meskipun cinta itu bertentangan dengan kodrat dan menyalahi aturan alam? Jakarta Love Story tampaknya ditulis untuk menjawab dua pertanyaan itu.

                Rifai, seorang eksekutif muda mapan, tipikal lajang metropolitan dengan karier baik. Tidak ada yang kurang dalam dirinya: muda, berparas tampan, dompet tebal, pekerjaan mapan, rumah tinggal mentereng, dan karier cemerlang. Semuanya sempurna kecuali satu: ia adalah seorang biseksual (tertarik pada pria maupun wanita). Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan Fabio, seorang mahasiwa polos yang waktu itu tengah kepepet dan terpaksa melacurkan diri untuk membayar uang kosnya. Rifai yang segera tertarik pada anak muda itu pun “menyewa” Fabian. Sebuah pertemuan awal yang kemudian memunculkan ikatan pada keduanya.

                Waktu berlalu dan seiring dengan intensnya pertemuan keduanya, rasa cinta terlarang pun tumbuh di dalam dada. Jika sebelumnya nafsu yang mengelora, kini cinta mengambil alih tempatnya. Keduanya bak sepasang kekasih yang saling membutuhkan, tidak hanya secara fisik namun juga secara psikis. Dan, keduanya telah mengikrarkan sebuah cinta yang menentang dunia, resiko apapun akan mereka  tanggung. Cinta telah terlalu menggelapkan mata, tanpa tahu betapa sakit dan dalamnya kejatuhan yang menunggu mereka di depan karena cinta terlarangnya.

                Saya membaca Jakarta Love Story dengan model skip-skip-skip alias lompat-lompat per 10 halaman (eh maaf ya hiihihihi) sehingga wajar saja novel setebal ini selesai dalam empat jam. Rekor ini hanya terkalahkan oleh pembacaan trilogi 50 Shades of Grey yang ebooknya selesai saya baca (eh saya skip-skip kemudian ditandai sana-sini) dalam waktu hanya 2 jam (muahahaha malah curcol). Kembali ke novel ini, di bagian-bagian awal saya berharap akan menemukan rasa yang berbeda dari Jakarta Love Story, tapi pembacaan sampai bab 3 sepertinya arah cerita sudah dapat ditebak sehingga yah jurus skip skip beraksi deh. Model kisah seperti ini memang cenderung kurang variatif. Penulis seakan terkekang untuk meliarkan imajinasinya (haiah bahasanya) karena tema cinta sejenis seperti ini memang biasanya sempit sekali (atau sengaja dipersempit). Pembaca dan budaya Indonesia sepertinya tidak siap untuk menerima sedikit pergeseran hukum alam ini, meskipun semuanya atas nama cinta. Kini, terbukti sudah bahwa cinta bukanlah segalanya walau tanpa cinta segalanya juga bukan apa-apa. Kita tidak bisa hidup dengan cinta semata, walau hidup tanpa cinta adalah penderitaan tiada tara. (ini kenapa saya malah berpuisi?)

                Pokoknya begitu deh. Bagi yang sudah membaca Lelaki Terindah dan The Sweet Sins pasti bisa menebak ke arah mana novel ini menuju pada endingnya. Walaupun sempat berputar-putar, tapi ke situ-situ juga akhirnya. Kelebihannya, Jakarta Love Story bisa dibilang novel LGBT yang lebih ke arah romantis ketimbang ke arah seksualitas. Hati lebih banyak berbicara kaitannya dengan hubungan Rifai dan Fabio. Jargon dan kata-kata berbau seksualitas dalam novel ini juga tidak seberani seperti di dalam The Sweet Sins, bisa dibilang penulis bermain aman dengan hanya bermain hati. Ada satu kutipan yang sempat membuat cukup indah yang saya temukan saat sedang men-ksip-ksip novel ini, sebuah kutipan yang sebenarnya biasa kita dengarkan keluar dari mulut para pecinta. 

 "Kebahagian terbesar dlm hidupku adalah ketika mengenalmu. Tdk ada yg bisa menggantikan hal itu sampai kapan pun." (Jakarta Love Story, 478)