Search This Blog

Showing posts with label Buku tentang Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku tentang Buku. Show all posts

Tuesday, February 27, 2018

The Storied Life of A.J Fikry, Kutu Buku juga Manusia



Judul: The Storied Life of A.J Fikry
Pengarang: Gabrielle Zevin
Penerjemah: Eka Budiarti
Penyunting: Rosi L. Simamora
Sampul: Martin Dima
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Tebal: 277 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Bahkan seorang kutu buku pun butuh teman manusia karena tidak selamanya buku-buku bisa menjadi teman. Faktanya, dalam banyak sekali kesempatan, kutu buku masih tetap membutuhkan keberadaan manusia lainnya. Mungkin, inilah yang hendak disampaikan novel The Storied Life of A.J. Fikry. Tidak seperti buku saudaranya ‘Perahu Kertas’ yang idealis kebablasan itu, novel karya Gabriele Zevin ini bisa dibilang lebih realis. Ia tidak hanya mengangkat obsesi seorang pecinta buku yang kebetulan juga pemilik sebuah toko buku. Lebih dari itu, novel ini seolah membawa para kutu buku kepada kenyataan. Dia membenturkan dunia seorang kutu buku nan introvert dengan dunia nyata di luar yang serba-ekstrovert dan terjangkit gejala kepo akut. Memang benar, menjadi soerang kutu buku bukanlah sebuah dosa, begitu juga menjadi sendirian juga bukan dosa. Tetapi, dunia nyata faktanya belum seramah itu kepada mereka yang sendirian. Ada orang-orang lain di luar lingkaran yang menuntut untuk diperhatikan, tetangga-tetangga baik tapi terlalu ingin tahu,  serta terutama orang-orang yang kita mengharapkan uangnya. A.J Fikry belajar semua itu melalui cara yang menakjubkan.

“... dengan seluruh waktu yang kugunakan untuk membaca, aku belajar cara menulis buku dengan lebih menarik.” (hlm. 123)

Friday, February 17, 2017

Kisah-Kisah di Balik Meja CEO Penerbit Bentang Pustaka

Judul: 50 Kisah tentang Buku, Cinta, dan Cerita-Cerita di Antara Kita
Penyusun: Salman Faridi
Penyunting: Iqbal Dawami dan Nurjannah Intan
Cetakan:. Pertama, Januari 2017
Tebal: 258 hlm
Penerbit: Bentang


33836530

Setelah membaca bukunya Pak Edi tentang sejarah berdirinya DIVA Press, perhatian saya tertuju pada buku hampir serupa yang ditulis oleh CEO penerbit lain di Jogja, Bentang Pustaka. Selalu menarik membaca kisah di balik sebuah buku, seperti yang dikisahkan secara singkat namun berisi oleh CEO Bentang ini. Banyak hal seputar penerbitan dikulik-kulik oleh beliau, terutama terkait Penerbit Bentang. Walau model tulisannya sederhana dan pendek-pendek untuk sekali dibaca, banyak pengetahuan seputar buku dan dunia penerbitan yang saya dapatkan. Terutama, yang paling menarik adaah terkait upaya Penerbit Bentang menyambut era internet. Benarkah orang sudah tidak membaca buku fisik lagi? Apakah mesin cetak sudah tamat? Ternyata tidak. Menurut beliau, buku elektronik tidak menggantikan buku cetak, tetapi melengkapinya. Dan, penerbit yang ingin tetap eksis di abad internet ini harus mulai mencari solusi kreatif untuk merangkul dunia maya, dan bukan mengabaikannya. Inilah jawaban dari pertanyaan tentang mengapa Bentang sepertinya gencar banget mulai menjual buku dalam bentuk digital. 

Tuesday, October 25, 2016

Obsesi Gila sang Pecinta Buku

Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos Maria Dominguez
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, September 2016
Tebal : 76 hlm, 12x 19cm
ISBN : 978-979-1260-62-6



 

"Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya." (hlm. 9)

Ada buku yang rasa-rasanya tak cukup sekali dibacanya. Ada sesuatu dalam buku itu yang tampaknya selalu baru setiap kali membuka dan membacanya. Bahkan pun ketika kita sudah membacanya sampai khatam hingga lima kali serta merasa telah menyentuh setiap kata dan kalimatnya betulang-ulang, perasaan ingin membaca buku itu lagi masih ada. Sampai akhirnya kita sadar, bukan buku itu yang menjadikannya seperti itu, tetapi karena kitalah yang telah jatuh cinta pada buku tersebut. Dan bagi saya, Rumah Kertas adalah salah satu dari buku-buku sejenis itu. Buku yang telah membuat banyak pembaca penimbun buku jatuh cinta ini memang berkisah tentang orang-orang yang jatuh cinta kepada buku. Saya suka sekali buku-buku yang juga berkisah tentang buku karena buku-buku langka semacam ini berpotensi menjadikan kita semakin mencintai menimbun buku. Buku mengubah takdir hidup orang-orang (hlm. 1) dan kisah di buku ini membuktikannya.

"Mereka (buku-buku) masih terus menemaniku. Memberiku perlindungan. Keteduhan di musim panas. Membentengiku dari angin. Buku-buku adalah rumahku." (hlm. 54)

Wednesday, October 5, 2016

Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

Judul : Perpustakaan Kelamin, Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan : I, Mei 2016
Tebal : 229 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0 





Perpustakaan dan kelamin, dua kata benda yang sejatinya jauh berbeda tetapi dapat dipersatukan di tangan seorang penulis yang  nyata-nyata sangat mencintai buku. Adalah Hariang, seorang asli Sunda yang tinggal di sebuah desa kecil di pelosok Sukabumi, Jawa Barat  bersama ibunya. Keduanya sangat mencintai buku dan perpustakaan. Sedemikian cintanya kepada perpustakaan, ibu Hariang bahkan rela untuk menyisihkan uang pendapatan dari menjual hasil buminya yang tidak banyak itu untuk membeli buku. Setiap ada uang, sebagian selalu disisihkan untuk membeli buku demi memperkaya perpustakaannya. Tidak hanya itu, ibu Hariang kemudian membuka perpustakaan itu untuk umum. Seluruh warga desa Cigendel diperbolehkan untuk membaca buku di sana. Perpustakaan itu kemudian diberi nama Pakubon Kadeudeuh (bahasa Sunda, Pakubon = Perbukuan/perpustakaan, Kadeudeuh = Kasih Sayang). Satu lagi sikap teguh mereka yang layak dicatat, haram hukumnya bagi mereka untuk meminta - minta buku alias mendapat buku dengan gratis

"Membacalah! Membacalah! Membacalah! Karena kita tak lagi purba!" (hlm 128)

Monday, August 1, 2016

Dari Buku ke Buku, Sebuah Buku tentang Buku-Buku



Jika ada sebuah buku yang serupa harta karun bagi para pecinta buku, maka itu adalah buku tentang buku. Penyusun buku ini, P. Siswantoro, benar-benar menunjukkan kepada pembaca bentuk sejati dari seorang bibliophile alias kolektor dan pecinta buku. Lewat Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, beliau mengejawantahkan kecintaannya kepada buku dalam bentuk kumpulan ulasan buku miliknya dalam buku tebal ini. Lebih istimewanya lagi, koleksi buku dan bacaannya pun tidak main-main, lebih dari 200 buku yang terbit mulai dari abad ke-17 hingga awal tahun 2000-an. 

29907861 Koleksi naskah-naskah kuno yang telah dimiliki atau dibacanya pun tidak kalah elok, macam naskah lontar yang memuat kitab Negara Kertagama hingga naskah Pararaton. Tentu, yang jauh lebih luar biasa dari koleksinya itu adalah kekayaan intelektual yang disandang penyusun buku ini. Dengan ratusan atau mungkin ribuan buku yang telah dibacanya, tentulah bersemayam dalam pikiran beliau kegemilangan ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan jika penulis pernah dipercaya sebagai wakil CEO dan Direktur Umum jaringan penerbit buku terbesar di negeri ini. 

Buku berjudul unik ini merupakan kumpulan hasil pembacaan beliau atas tidak kurang dari 200 buku dan naskah. Memang, tidak setiap buku diulas tuntas dalam satu bab—beberapa bab malah berisi ulasan yang campur baur dari sejumlah buku—namun kita tetap bisa mengikutinya karena gaya penulisannya yang luwes dan mengalir. Banyak pembaca yang mendapati membaca buku ini ibarat mendengarkan dongeng dari seorang kakek tentang buku-buku kesayangannya. Apalagi, kebanyakan buku yang diulas adalah buku-buku yang termasuk buku kuno dan antic, jenis buku yang niscaya susah untuk kita temukan di pasaran dewasa ini. 

Monday, March 17, 2014

Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Judul : Penghancuran Buku dari Masa ke Masa
Penulis : Fernando Baez
Penerjemah : Lita Soerjadinata
Tebal : 373 hlm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit : Marjin Kiri




                Membaca buku yang luar biasa ini menimbulkan semacam ironi vs kekaguman. Ironi betapa ternyata kita jarang tahu bahwa buku telah dan masih dibakar di berbagai belahan dunia. Kagum karena buku ini ditulis (dan juga diterjemahkan) dengan begitu lengkap, akurat, sekaligus kaya akan referensi. Otak seakan dibombardir oleh bayangan kita kertas-kertas yang tak berdosa itu, yang ada sekadar penyimpan dari kebijakan zaman atau  saksi dari keadaan suatu zaman, meretih terbakar. Dari yang awalnya lembar-lembar indah berisi sejuta makna, kini berubah menjadi seonggok abu yang hitam dan tiada berguna. Menunggu angin membuyarkannya bersama seluruh pengetahuan dan memori manusia yang terekam di dalamnya. Miris sekali, betapa dengan membaca buku ini kita dipaparkan pada beragam peristiwa pembakaran yang terjadi sejak zaman kuno hingga abad modern. Dari Babilonia yang merupakan tempat manusia pertama kali menulis hingga ke Baghdad, Irak, ketika tentara Amerika Serikat dan koalisinya menyenang Irak. Diawali dan diakhiri di tempat yang sama, pembakaran buku dari masa ke masa.

                Secara berurutan, Baez akan mengajak pembaca menelusuri kisah-kisah tentang penghancuran buku. Dimulai dari Timur Tengah di era Kuno, lalu ke Mesir, Yunani, kisah tentang perpustakaan agung Alexandria, beragam perpustakaan kuno yang kini telah musnah, penghancuran buku-buku di era Israel, Cina, Romawi dan Kristen awal, di Konstantinopel, dunia Islam, lalu berlanjut ke Abad Pertengahan. Kemudian, penulis masih betah mencabik-cabik hati para pecinta buku dengan melanjutkan kisahnya di era Renaisance, era pre-Hispanik di Amerika Selatan, masa Inkusisi di Spanyol, Inggris, Eropa, dan menjelang Perang Dunia. Perjalanan menyedihkan namun sarat data itu diakhir di Baghdad pada tahun 2003, ketika kerumuman masa membakar dan mencuri berbagai artefak serta naskah kuno di berbagai museum dan perpustakaan. Sangat miris membacanya.

                Tidak hanya itu, Baez bahkan turut mendedahkan berbagai peristiwa pembakaran buku yang terjadi dalam buku-buku sastra (seperti dalam Fahrenheit 451), berbagai jenis sensor dan pelarangan buku (yang merupakan bentuk penghancuran secara halus), musuh-musuh alami buku, serta ratusan catatan kaki yang menjelaskan berbagai kisah sejarah yang disebutkan dalam buku ini. Selain kenyang referensi , penulis ini jago banget membuat pembaca galau berkepanjangan saat mereka mengetahui betapa banyaknya buku yang telah musnah dan tidak tergantikan lagi. Naskah-naskah dari Yunani kuno, lempeng-lempeng tanah liat dari Babilonia, manuskrip dan buku yang dibakar di Baitul Hikmah, serta kekayaan Perpustakaan Alexandria yang tak tergantikan. Banyak dari buku-buku tersebut yang kini sudah musnah dan tak mungkin ditemukan lagi salinannya. Manusia telah membakar satu-satunya memori yang mencatat peninggalan dari masa lamapu. Beneran sedih membacanya.

                Kelebihan buku ini ada pada sampulnya yang unik sekali, menyerupai kertas yang terbakar. Saya jadi kesulitan saat hendak menyampulnya karena separo bagian dari sampul depan telah “terbakar api”. Bagian belakangnya juga terlihat tidak utuh bekas terbakar. Sungguh konsep yang sangat unik. Tetapi, lebih dari sampulnya, isi buku ini jauh lebih luar biasa dan sangat mengesankan. Baez mengumpulkan berbagai data dan materi dari ribuan sumber yang begitu banyaknya. Catatan  ekornya ada 24 halaman, sementara daftar pustakanya hampir 30 lembar. Luar biasa, bayangkan betapa banyaknya buku yang dibaca Baez demi menghasilkan satu buku yang begitu sarat informasi seperti ini. Bagi kalian yang mencintai buku, wajib deh membaca buku ini agar kita bisa menghindari lagi pembakaran buku di masa kini dan masa depan. Bahwa buku adalah untuk dibaca, bukan untuk dibakar. Ketika muncul sebuah buku yang ‘sesat’ maka lebih baik menulis buku tandingannya. Ini jauh bermartabat. 
               
"Dimana pun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia." (Heinreich Heine dalam karyanya Almansor--1821)  

Thursday, January 30, 2014

Posting Bareng "Secret Santa": Kitab Api



Judul : The Fire Chronicle (Kitab Api)
Pengarang : John Stephens
Penerjemah : Poppy D Chusfani
Tebal : 528 hlm
Cetakan : Pertama, 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


18745432 

                Saya selalu suka membaca buku yang membahas tentang buku, apalagi jika keduanya digabungkan dalam genre favorit saya, fiksi fantasi. Karena itu, buku-buku tentang buku yang dari judulnya saja sudah mengandung kata buku adalah incaran koleksi saya, termasuk buku ini, Kitab Api. Karya kedua John Stephens ini adalah lanjutan dari buku pertamanya, The Emerald Atlas atau Atlas Emerald yang juga sama-sama berkisah tentang buku magis. Sedari awal, seri ini sendiri adalah kisah fantasi akan pencarian 3 buku magis yang disebut sebagai Buku-Buku Permulaan. Ada tiga anak sebagai tokoh utama dalam seri ini: Kate, Michael, dan Emma. Masing-masing membawa satu buku. Jika dibuku pertama ketahuan siapa pemilik Atlas Emerald, maka di buku kedua ini sang adik kedua-lah yang giliran mendapatkan Kitab Api.

                Dalam buku pertama, Kate, Michael, dan Emma; tiga anak yatim piatu yang selalu berpindah panti asuhan akhirnya mendarat di kota Cambridge Falls. Kejadian magis terjadi ketika Atlas Emerald yang semacam mesin waktu membawa ketiganya ke kota itu, 15 tahun sebelumnya. Dalam buku kedua ini, dari awal, ketiga bocah lugu ini sudah menjadi incaran para penyihir jahat pimpinan Magnus si Bengis. Untuk menyelamatkan Atlas Emerald, Kate terpaksa memindahkan dirinya ke New York 100 tahun sebelumnya. Sayangnya, ia terjebak di masa itu, meninggalkan Michael dan Emma sendirian di masa kini.

                Frustrasi menunggu sang Kakak yang belum juga kembali, Michael dan Emma memutuskan untuk mencari Kitab Api dengan bantuan penyihir baik Stanislaus Pym dan Gabriel. Perjalanan mereka berawal di Malpesa, salah satu kota sihir yang sudah ditarik dari dunia modern, yang berada di ujung selatan benua Amerika Latin. Pencarian akan Kitab Api ternyata membawa mereka ke daratan berselimut es, dengan naga bernapaskan api, dan penjaga yang sudah tidak waras. Pun, begitu, pasukan musuh masih berhasil mengejar mereka. Maka Michael, Emma, dan Gabriel pun harus bersiap-siap terlibat pertempuran akbar memperebutkan Kitab Api dengan monster-monster suruhan Magnus. Pertempuran di buku kedua ini jauh lebih seru dan lebih epic dibanding pertempuran di buku pertama. Keren dan tak membosankan, banyak hal baru dihadirkan. Jika Atlas Emerald mampu mengendalikan waktu, maka apakah kekuatan dari Kitab Api

                Petualangan Kate di New York tahun 1899 juga tidak kalah menegangkan. Ia menjadi saksi dari hari-hari terakhir ketika sihir belum ditarik dari dunia. Waktu itu, manusia biasa masih hidup berdampingan dengan penyihir, kurcaci, elf, troll, dan mahkluk-mahkluk magis lainnya. Sayangnya, kemampuan ajaib komunitas sihir ini membuat manusia biasa (yang lebih banyak) menjadi merasa terancam. Kate menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak yang berbakat sihir diekploitasi oleh manusia biasa, bahkan penyihir dewasa pun sering diserang tanpa alasan. Inilah yang kemudian menjadi alasan penarikan komunitas sihir dari dunia. Terhitung mulai 1 Januari 1900, komunitas sihir akan disembunyikan dari dunia. Ada kota-kota yang “dihilangkan” dari dalam peta modern. Ada jalan-jalan yang kini tidak dapat diakses lagi oleh  manusia biasa. Ada sudut-sudut kota yang tak terlihat di mata manusia biasa. 

          Di sinilah Kate bertemu dengan anak-anak yang sama berbakat dengan dirinya. Juga dengan Rafe, yang kelak dikatakan akan menjadi orang yang sangat berkaitan dengan kehidupan ketiga bersaudara/bersaudari itu. Dalam endingnya, akan muncul pula beragam fakta dan kebenaran yang selama ini ditutup-tutupi dari ketiga anak itu, termasuk fakta tentang orang tua mereka. Menarik juga melihat perkembangan karakter dari ketiga anak ini. Petualangan demi petualangan yang mereka alami secara tidak sadar telah membentuk diri mereka menjadi lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab. Inilah makna utama dari para pemegang (pembaca) buku, yakni mereka menjadi semakin baik seiring dengan semakin banyak buku yang dibaca. 

"Setiap hari, melalui tindakan kita, kita memutuskan siapa diri kita sebenarnya." (hlm 283)

                Secara isi, Kitab Api jauh lebih tebal dan lebih matang dibanding Atlas Emerald. Di buku kedua ini, muncul lebih banyak karakter, dan juga premis-premis yang lebih menarik. Adegan pertempurannya juga lebih banyak, dengan plot dan twist yang bertebaran di sepanjang halaman-halamannya. Ketika menerima buku ini sebagai kado dari secret santa, saya langsung melonjak girang. Bukan, bukan karena harganya yang mahal, tetapi karena buku ini ternyata tebal hihihi. Masing keder pas mau baca, apakah bisa selesai cepat berhubung colekan lemburan nan tak mau ditunda. Tapi begitu buka, dan ceritanya luar biasa menarik, selesailah buku ini dalam 3 hari *halah lama* Untuk yang sudah baca Atlas Emerald, jangan sampai melewatkan Kitab Api karena kau tidak tahu apa yang telah kau lewatkan.


Posting bareng
                 
Sekarang, kita tiba pada bagian teristimewa, yakni siapakah sang Secret Santa yang sangat baik hati dan pintar sekali memilihkan buku bagus ini untuk saya. Petunjuknya sudah di posting di blog beberapa waktu yang lalu. Saya muat ulang ya fotonya:



Ok, tidak ada pantun, kalimat teka-teki, atau petunjuk apapun selain gambar salam tiga jari di atas. Mumpung mau Pemilu, saya mencari-cari siapa sih di antara anak-anak BBI yang jadi kader parpol no 3? Tapi, kayaknya ngak mungkin. Jadi pasti ada apa-apa dengan angka 3. Kalau ngak dia nomor urut 3, bisa juga dia sering ngadain sesuatu yang berbau angka 3. Petunjuk lainnya, kenapa angka tiganya digambarkan kayak salam Distrik 13 di Cacthing Fire? Kenapa ngak pakai angka 3 saja? Pasti ini si Santa suka baca The Hunger Games juga. Petunjuk ketiga merujuk pada alamat toko buku on line Hobby Buku shop. Setelah dipikir dan diintip pakai gulingin baskom, maka saya memberanikan diri menebak si Secret Santa sebagai:


Busya Kabar Gembira (B-zee)

Kenapa:
1. Blog  Bacaan Bzee yang memang mengadakan program "Scene on 3"
2. Mbak Busyra juga suka baca The Hunger Games, yang dia pernah bilang di wa kalau ia paling suka buku Mockingjay (buku ke-3)
3. Mbak Busyra ini juga langganan PO di Hobby Buku Shop

Hihihi... maafkan kalau deduksi saya yang masih amat polos ini keliru alias salah orang. Entah benar atau salah, siapapun Anda, saya ucapkan terima kasih banyak atas kiriman kadonya. Saya senang sekali sama buku ini. 

Kecups 

Wednesday, December 18, 2013

The Emerald Atlas (Buku-Buku Permulaan)



Judul : The Emerald Atlas (Buku-Buku Permulaan)
Pengarang : John Stephens
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Cetakan: 1, Juli 2011
Tebal : 480 hlm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama



12403507


                Ribuan tahun yang lalu, kaum penyihir benar-benar ada di Bumi ini. Mereka tinggal dan berinteraksi dengan manusia biasa, mendirikan kota-kota purba, kerajaan-kerajaan tua, dan dewan-dewan penyihir yang sangat berkuasa. Tetapi, sihir akhirnya kalah dengan jumlah manusia yang terus bertambah dan berkembang biak. Lambat laun, para penyihir mulai tersingkir dan terdesak oleh manusia biasa sehingga komunitas sihir pun memutuskan untuk menutup dunia mereka dari pandangan dan pengetahuan manusia biasa. Beberapa pulau dan bagian benua menghilang dari peta dunia, menghilang dibalik tabir sihir tak kasat mata yang membawa serta wilayah-wilayah manusia di sekitarnya. Untuk melestarikan sihir, dewan sihir kuno memutuskan untuk mengumpulkan seluruh pengetahuan tentang sihir dalam sebuah kitab. Tapi, karena sangat berbahaya—bahkan bagi seorang penyihir—untuk memegang kekuatan sedahsyat itu sendirian, maka diputuskan untuk menyimpan seluruh pengetahuan itu dalam tiga kitab sihir. Ketika pasukan Alexander Agung menyerang Iskandariah ribuan tahun lampau, dewan penyihir memutuskan untuk menyembunyikan kitab-kitab tersebut. 


                Kate, Michael, dan Emma adalah tiga bersaudara yatim piatu yang menghabiskan tahun-tahun awal kehidupan mereka berpindah-pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain. Kecuali Kate, mereka tidak tahu bagaimana rupa dan siapa orang tua mereka. Hanya ada inisial P di belakang nama ketiganya. Tapi, satu hal yang pasti, ketiganya percaya bahwa orang tua mereka masih hidup dan kelak mereka pasti akan dipertemukan kembali. Petualangan besar telah menanti di depan, dan terbukti bahwa ketiga anak ini bukanlah 3 anak biasa ketika mereka tiba di sebuah kota terpencil yang tidak ada dalam peta, Cambridge Falls—sebuah kota tersihir yang terlindungi dari dunia luar. Di kota inilah ketiganya menemukan sebuah buku kuno yang entah bagaimana bisa membawa mereka melintasi waktu kembali ke Cambridge Falls di masa lampau. Ketiganya tidak mengetahui bahwa mereka baru saja menemukan kitab Atlas Emerald, salah satu dari tiga Kitab-Kitab Permulaan.


                Terlempar ke masa lampau, mereka mendapati kota itu berada di bawah penguasaan seorang Countess keji yang pandai menyihir. Ia menyandera anak-anak di kota itu, kemudian menjadikannya sebagai tawanan agar para pria dan lelaki di kota itu mau menggali gunung demi menemukan sebuah artefak sihir yang sangat kuat. Tanpa sengaja, Michael jatuh ke tangan sang penyihir sehingga Kate dan Emma harus bahu-membahu menyelamatkannya. Bermula dari upaya menyelamatkan saudaranya, petualangan mereka ternyata lebih dahsyat, kota itu membutuhkan bantuan dari ketiga anak tersebut. Dari yang semula anak-anak yatim piatu tak berdaya, ketiganya  harus berlomba dengan sang Countess yang dipersenjatai dengan makluk-makluk mengerikan: penjerit hingga para entitas kuno yang hanya berkeliaran di perut bumi. Belum lagi para kurcaci yang tidak dapat ditebak dan diduga. Dan, ketika akhirnya tiba, warga kota Cambridge Falls sadar bahwa inilah saat untuk bersatu dan melawan tirani sang Countess. Dan baik Kate, Michael, serta Emma pun terlibat dalam sebuah petualangan melawan kejahatan yang akan mempengaruhi masa depan mereka, seterusnya.


                The Atlas Emerald dari segi cerita mirip dengan seri Narnia, The Lion, the Witch,  and the Wardrobe. Mengangkat kisah tentang 3 bersaudara/ri yang terlempar ke dunia lain dan mengalami petualangan besar di sana. Satu hal yang membedakan, penulis menggunakan tema sihir dalam porsi yang lebih banyak dalam buku ini ketimbang yang bisa kita temukan pada seri Narnia. Petualangan di dalam buku ini bisa dibilang “ramah” dan tidak terlalu dark, cocok dibaca remaja 10 tahun ke atas. Adegan pertempurannya agak nanggung menurut saya, kurang epik kalau boleh dibilang. Tetapi karena ada embel-embel “buku” (saya suka sekali buku-buku yang berkisah tentang buku), maka jadilah buku ini salah satu koleksi yang must-read. Dari segi terjemahan, seperti biasa, mbak Poppy memang tak pernah mengecewakan. Hanya saja, saya belum menemukan ciri khas Mbak Poppy dalam penerjemahan buku ini. Belum tampak keberanian atau sedikit dinamisasi terjemahan sebagaimana yang biasa kita temukan dalam terjemahan beliau. Tapi, secara garis besar, proses penerjemahannya berhasil dan sangat bisa dinikmati. Untuk cover, saya suka warnanya tapi tidak suka formatnya.




Monday, September 30, 2013

Fahrenheit 451

Judul : Fahrenheit 451
Pengarang : Ray Bradbury
Alih Bahasa : Cecilia Ros
Editor : Allodia Yovita
Cetakan : 1,  2013, 232 halaman

Penerbit : Elex Media Komputindo





451 derajat Fahrenheit adalah temperatur yang mampu membakar kertas buku dan menghanguskannya. 


Karya klasik yang ditulis pada tahun 1950-an ini bersetting sekitar tahun 1980-an atau 1990-an menurut versi tahun 1950-an. Buku bergenre dystopia ini bercerita tentang sebuah masa di masa depan ketika mereka yang berkuasa memilih untuk menghancurkan buku dengan dalih membahagiakan manusia, karena beberapa buku dapat menyulap atau mengubah emosi manusia sedemikian rupa saat membacanya, dan oleh karena itu haruslah dimusnahkan dengan cara dibakar. Dunia dalam Fahrenheit 451 adalah dunia yang dikuasai oleh televisi dinding. Hampir setiap hari, manusia dikepung dan diberondong oleh tayangan visual yang menguasai 3 sisi dari 4 sisi dinding rumah mereka. Di kamar tidur, di ruang tamu, di dapur; semua dinding  adalah televisi.

Konon, rumah-rumah di seluruh dunia sudah dilapisi dengan plastik anti api pada saat itu sehingga kebakaran adalah hal yang sangat jarang terjadi. Karena tidak memiliki pekerjaan, para pemadam kebakaran yang tugasnya adalah untuk mencegah kebakaran pun dialihtugaskan untuk membakar, kali ini yang dibakar adalah buku-buku yang terlarang untuk dibaca seperti karya Shakespeare, Milton, dan Dante. Guy Montag adalah salah satu pemadam kebakaran itu. Kesukaannya membakar buku begitu meledak-ledak, sampai akhirnya ia bertemu seorang gadis aneh bernama Clarisse yang begitu bebas, serta seorang wanita tua yang rela membakar dirinya demi buku-bukunya. Kedua peristiwa penting inilah yang mengubah kehidupan sang pembakar buku itu.

“Pasti ada sesuatu di dalam buku-buku tersebut, sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan, yang membuat seorang wanita tetap tinggal dalam sebuah rumah yang terbakar; pasti ada sesuatu di sana. Kau tidak mungkin tinggal kalau tak ada apa-apa.” (hlm 61)

Pertemuan Guy dengan Faber, seorang pensiunan profesor juga semakin menggelisahkan jiwanya. Ada sesuatu dengan buku, ada sesuatu yang salah dengan membakar buku. Dorongan dan kegelisahan itu begitu rupa sehingga sang pemadam kebakaran memutuskan untuk mengkhianati istrinya sendiri, mengkhianati atasannya sendiri yang begitu dendam terhadap buku (sekaligus cerdas dalam caranya sendiri), dan pada akhirnya, mengkhianati dunia yang telah terlebih dahulu mengkhianati dirinya sendiri dengan cara membakar buku-buku. Ia akan menyelamatkan dunia dengan menyelamatkan buku-buku itu.
***

                Sebuah buku yang cukup berat dibaca, bisa dibilang begitu. Entah karena penerjemahannya yang kurang luwes atau memang naskah aslinya yang sangat berbobot sehingga pembacaan buku ini cukup membuat pembaca berpikir (dan buku yang bagus memang biasanya seperti itu). Namun, buku ini istimewa sekali dalam menggambarkan masa depan. Mengesampingkan fakta bahwa karya klasik ini ditulis tahun 1950-an, pembaca yang tidak fokus akan menemukan betapa setting dalam dunia Fahrenheit 451 seperti tidak ada bedanya dengan dunia modern saat ini. Dan, apa yang diramalkan penulis sedikit banyak mulai mewujud nyata, seperti dunia yang sudah begitu dikuasai televisi hingga mobil-mobil berkecepatan tinggi yang menghilangkan gaya hidup aktif.


Sejatinya, Fahrenheit 451 adalah sindiran sekaligus kritikan bagi dunia yang mengalami gagap kebudayaan. Teknologi berkembang, semua menjadi serba instan dan cepat. Hal-hal seperti duduk-duduk dan saling bertegur sapa dengan tetangga, menikmati bau bunga liar, atau memandang bintang-bintang dianggap ketinggalan zaman. Lebih parahnya lagi, membaca dianggap lambat dan boros waktu, sehingga seluruh informasi harus ditayangkan via televisi. Saking pentingnya televisi, dinding setiap rumah adalah televisi itu sendiri. Ini seharusnya menyindir kita yang kadang memiliki sebuah televisi di setiap ruangan, tapi hampir-hampir tidak ada buku di dalamnya. Semoga, ramalan Bradbury tentang sebuah dunia yang membakar buku dalam Fahrenheit 451 ini tidak menjadi kenyataan. Karena, sebagaimana kata sang pengarang: “… Membaca adalah pusat kehidupan kita. Perpustakaan adalah otak kita. Tanpa perpustakaan, kau tidak memiliki peradaban.” (hlm 224).

Friday, September 27, 2013

On Writing

Judul : On Writing
Penulis : Stephen King
Penerjemah :Rahmani Astuti
Editor : Esti Budihabsari
Cetakan : 2, 2005
Halaman : 413 halaman
Penerbit : Qanita




                Musim panas, 13 Juni 2009, Stephen King sang maestro tulisan thriller dan horor tengah berjalan kaki santai di dekat rumahnya. Hanya acara jalan-jalan biasa yang, tanpa ia sadari, akan berubah menjadi peristiwa horor: sebuah van biru menabraknya hingga terpental ke atas mobil sebelum kemudian terbanting lagi ke bawah. Nyawanya nyaris tidak selamat, kecelakaan itu menghancurkan tulang kaki, tulang rusuk dan sebagian tulang punggungnya. Dua bulan perawatan menyadarkan dirinya bahwa waktu begitu berharga, tidak boleh dibuang begitu saja meskipun itu demi alasan sakit atau tengah menjalani perawatan. Dan, masa-masa itulah sang maestro melahirkan On Writing, sebuah autobiografi tentang dirinya sendiri, tentang menulis. Karena baginya menulis adalah separuh jiwa, maka lebih dari separuh On Writing adalah tentang menulis, karena itulah dunia seorang Stephen King.

                “Aku menulis karena itu memuaskan diriku. … Aku menulis untuk kesenangan. Aku benar-benar menikmatinya. … Ada saat-saat ketika menulis bagiku menjadi seperti takdir kecil, pencerahan pada saat murung. … Menulis bukan kehidupan, tetapi kupikir kadang-kadang dapat menjadi cara untuk kembali hidup.” (hlm 364) .

                Lahir di Portland, Maine, pada tahun 1947 dari  orang tua yang bernama Ronald dan Nellie Pittsbury Kings, Stephen kecil bersama kakaknya diasuh hanya oleh ibunya yang bekerja serabutan. Sejak kecil, kedua kakak-beradik ini sudah diajarkan tentang kerja keras, Stephen bahkan menyambi bekerja sambil sekolah. Kehidupan terpaksa mereka lewatkan dengan berpindah-pindah rumah kontrakan, juga pekerjaan. Tapi, Tuhan Maha Adil. Kesulitan selalu dibarengi dengan kehebatan. Baik Stephen maupun Kakaknya, Dave, dianugerahi kreativitas luar biasa. Sementara sang kakak memilih jalur eksak, Stephen kecil memilih jalur menuliskan cerita. Sejak usia 14 tahun, ia rutin mengirimkan ceritanya pada berbagai majalah, dan sejak itu pula ia rutin menerima penolakan. Alih-alih dibuang, setiap surat penolakan yang ia terima akan ia paku di tembok sebagai penyemangat. Ia bahkan terinspirasi darinya.

                “Surat-surat penolakan itu tidak banyak dan jarang-jarang, tetapi kalau datang, selalu membuat hariku cerah dan membuatku tersenyum.” (hlm 323)

                Ketekunannya untuk terus menulis walaupun terus ditolak adalah kegigihan utama yang menunjukkan kualitas asli seorang Stephen King. Ia tidak menyerah, penolakan ia jadikan sebagai penyemangat. Dan, ketika akhirnya cerita pendek pertamanya dimuat, cerita-cerita terdahulu yang ditolak pun mulai dilirik kembali oleh penerbit. Namun, titik kritis dalam hidupnya adalah ketika novel pertamanya Carrie, terbit pada tahun 1973. Sebuah titik yang sekaligus mendorong Stephen King untuk terjun total sebagai penulis. Segala peristiwa keseharian, orang-orang yang ia jumpai, semuanya adalah sumber inspirasi bagi Stephen King. Selain mengungkapkan keberuntungannya sebagai generasi yang lahir pada masa-masa sebelum televisi membombardir generasi muda, ia juga menekankan tentang pentingnya aktivitas membaca
.
                “Kalau engkau tidak punya waktu untuk membaca, kau tidak punya waktu (atau peralatan) untuk menulis. Membaca adalah pusat kreativitas kehidupan seorang penulis. Aku membawa buku kemanapun aku pergi, dan menemukan di sana segala macam peluang untuk menenggelamkan diri dalam bacaan.” (hlm 200).

                “Dengan banyak membaca, kau akan terbantu menjawab berapa banyak, dan hanya dengan menulis kau akan terbantu menjawab pertanyaan bagaimana. Kau dapat belajar hanya dengan melakukannya.” (244)

                Diungkapkan pula melalui autobiografinya ini bahwa rahasia produtivitasnya dalam menulis adalah rutinitas dan ketekunan dalam menulis. Kedisiplinan dan ketertiban dalam menulis, itulah senjata utama seorang penulis agar dapat terus menghasilkan karya.

                “Program berlatih keras membaca dan menulis—empat minggu, enam sehari, setiap hari—tidak terasa jika kau benar-benar menikmatinya…” (hlm xxvi)

                “Aku menulis setiap hari termasuk pada hari Natal, hari Kemerdekaan, dan hari ulang tahunku. … Ketika aku menulis, semua itu seperti tempat bermain, dan waktu tiga jam yang kugunakan tetap terasa menyenangkan.” (hlm 210)

                Hampir 70% On Writing adalah tentang tips-tips menulis ala Stephen King. Bagian autobiografi tentang kehidupan masa kecil hingga dewasa hanya menepati sekitar 141 halaman yang ia beri judul CV. Selebihnya, ia mengungkapkan proses kreatifnya dalam menulis, yang sesekali disela dengan menceritakan suatu episode dalam kehidupannya. Agak berputar-putar memang, namun mengingat On Writing digarap di sela-sela waktu pemulihannya dari kecelakaan, buku ini sudah sangat luar biasa. Dari banyaknya porsi tentang proses menulis di autobiografinya, dapat disimpulkan bahwa Stephen King terbangun oleh proses menulis itu sendiri. Hampir separuh jiwanya adalah untuk menulis, tidak heran jika menulis juga mengambil lebih dari setengah porsi autobiografinya ini.


                “Menulis bukanlah untuk mencari uang, menjadi terkenal, mendapat teman kencan, menjadi mapan, atau memperoleh banyak teman. Pada akhirnya, menulis adalah untuk memperkaya hidup orang-orang yang akan membaca karyamu dan memperkaya hidupmu sendiri pula. Tujuannya adalah bangkit, sembuh, dan mengatasi keadaan …. Menulis itu mukjizat, seperti air kehidupan, seperti karya seni kreatif lainnya.” (hlm. 191 - 392)

Tuesday, April 30, 2013

The Name of the Rose


Judul     : The Name of the Rose
Pengarang          : Umberto Eco
Penerjemah       : Nin Bakdi Soemanto
Sampul                 : Andreas K
Pengantar           : St. Sunardi
Tebal                     : 624 halaman
Cetakan               : 1, Maret 2008
Penerbit              : Bentang



                Jika ada sebuah buku yang bisa membunuh pembacanya, maka buku itu pastilah begitu luar biasa. Buku itu akan menyimpan rahasia dari awal peradaban dunia, dijaga dan dilindungi oleh labirin berkelok-kelok dan membingungkan, serta diletakkan sedemikian rupa agar para pembaca yang terlalu ingin tahu dirancang untuk menemui ajalnya. Ditulis dengan empat bahasa ilmu pengetahuan: seperempat bahasa Arab, seperempat Syria, seperepat Yunani, dan seperempat Aramaic (bahasa sang Yesus). Buku itu disimpanlah dalam sebuah ruang rahasia, finis Africae, yang disegel dan dikunci di kedua sisi, dan diperam oleh kesunyian bangunan biara Benekdiktin.

“Kadang-kadang bisa begitu. Buku-buku sering membicarakan buku lain…. Kalau membaca buku Albert, tidak dapatkah aku mempelajari apa yang mungkin dikatakan Aquinas? Atau kalau membaca buku Thomas, aku jadi tahu apa yang dikatakan oleh Averroes?” (hlm 334)

                Adalah William dari Baskerville dan muridnya, Adso dari Melk, dua orang novis Katholik yang ditugaskan menyelidiki terjadinya pembunuhan seorang tukang lukis halaman buku di sebuah biara Benekdiktin yang terpencil. Sesampainya di sana, mereka dikejutkan dengan kemegahan kompleks biara itu, bukan hanya karena bangunan gerejanya yang indah-berukir serta kaya akan pusaka luar biasa, namun juga karena keberadaan Aedificium nan menjulang tinggi. Aedificium ini bahkan menyimpan permata yang luar biasa: naskah, buku, dan perkamen kuno dari Yunani, Andalusia, Romawi, dan pelosok Eropa. Di dalamnya, mereka menemukan berbagai risalah kuno yang diduga telah lama hilang, buku-buk ilmu pengetahuan dari negeri kafir (kaum Arab/Saracen), serta lembar-lembar Injil yang paling pertama.

                Tapi, pesona dan misteri kedua keburu muncul. Sesosok rahib ditemukan tewas tenggelam dalam kuali penuh berisi darah, kemudian rahib lain ditemukan meninggal di bak penampungan air. Keduanya memiliki ciri yang sama, jari dan lidahnya menghitam. Hari keempat, sang ahli herbal ditemukan meninggal juga, ia dipukul sampai mati oleh seseorang. William dan Adsi harus bergegas menemukan siapa pembunuhnya, sebelum korban jatuh. Maka, malam-malam keduanya pun dipakai untuk menjelajahi labirin sekaligus perpustakaan misterius di Aedificum. Di antara pekatnya misteri dan suasana pembunuhan, keduanya menemukan berbagai buku berharga sebagai saksi kejayaan masa dari berbagai negara dan kerajaan. Di sana mereka menemukan simpanan naskah-naskah kuno yang pasti membuat para pustakawan pingsan: berbagai kitab ilmu karya Averoes, Ibnu Hikam, AL Khwarizmi, perkamen para ahli zaman Yunani kuno, hingga potrongan-potongan yang mungkin merupakan bagian dari Injil yang asli. Tapi, misteri harus dituntaskan karena pada hari kelima terjadi lagi pembunuhan dengan ciri yang sama. Hanya ada satu petunjuk, dan keduanya yakni bahwa ada sebuah buku yang menyebabkan kelima orang di biara tersebut mati.

Ketika akhirnya mereka berhasil memasuki ruang rahasia di labirin dan menemukan buku itu, semuanya telah terlambar. Korban keenam telah jatuh dan korban ketujuh adalah si penjahat yang mengorbankan dirinya demi kesalihan. Bencananya tidak cukup sampai disitu. Perpustakaan itu, segala buku-buku kuno yang tersimpan di dalamnya, tersuulut api dan membara dalam sebuah kebakaran agung yang tidak terpadamkan. Maka begitulah, lenyap sudah buku yang menjadi sumber dari semua malapetaka ini, yang keberadaannya telah meyakinkan seseorang untuk mengambil segala daya dan upaya yang ia bisa agar buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Maka, dengan dalih melindungi kemurnia Kerajaan Kristus, ia dengan tega telah bermain racun dan melenyapkan jiwa-jiwa malang yang “terlalu ingin tahu.”
Membaca The Name of the Rose memang membutuhkan kesabaran ekstra.  Di antara peliknya misteri pembunuhan yang melatari novel ini, narrator harus bersaing dengan limpahan ilmu pengetahuan dari abad-abad lampau yang kini sudah tidak dikenal lagi. Buku ini begitu kental membicarakan banyak hal tentang Abad Pertengahan, mulai dari konflik antara Paus Yohanes dengan Raja Eropa, hingga berbagai jenis upacara keagamaan yang harus rutin dilakukan dalam sebuha biara Katholik. Ulasannya begitu  lengkap sehingga kadang membuat membacanya jenuh karena seperti membaca buku sejarah, walau di tangan seorang ahli sejarah atau antropologi buku ini ibarat harta karun kepustakaan tentang kehidupan Abad Pertengahan. 

Namun, plot dan jalan ceritanya sungguh menarik, begitu pula cara penalaran dan metode berpikir William yang cerdas, mengingatkan kita pada Holmes. Nuansa Katholik juga begitu kental, dengan segala kisah gerejawi dan sejarah kepausan, hingga seluruh santo dan Para Rasul yang banyak diselipkan dalam percakapan. Mmebutuhkan sebuah buku panduan bagi orang awam seperti saya untuk bisa mengetahui siapa si A dan siapa si B. Secara garis besar, ini adalah buku yang hebat, padat, dan penuh informasi.

“Kebaikan sebuah buku terletak pada keadaannya yang bisa dibaca.” (hlm 462)