Search This Blog

Showing posts with label Non Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Non Fiksi. Show all posts

Wednesday, October 7, 2020

Kalakanji

 Judul: Kalakanji'

Penulis: Imam Budhi Santosa

Penerbit: Interlude



Sejak baca Ngudud dan Profesi Wong Cilik , Imam Budhi Santosa menjadi salah satu penulis favorit karena menurut saya beliau ini tipe penulis yang Njogjani banget, bukan sekadar Njawani. Tulisan-tulisannya selalu khas dengan aroma 90an dengan tema-tema lokal tetapi serasa ada unsur kreatif dan upaya merangkul dinamisnya zaman. Tidak hanya saya menemukan nilai-nilai masa kecil yang ternyata bermakna begitu mendal, tetapi juga banyak ilmu dari mereka yang pinggiran, pedesaan, atau wong cilik. Karena mencari ilmu atau ngelmu bisa dari mana saja, yang penting pelajaran apa yg bisa kita petik darinya.

Kumpulan esai Kalakanji ini sayangnya tidak sedahsyat dua buku lain yg sudah saya baca. Temanya tidak runtut, pembahasannya beda-beda sehingga lebih mirip bunga rampai esai dengan berbagai kepentingan, dan gaya menulisnya tidak konsisten. Hal yang lumrah kita jumpai dalam sebuah kumpulan tulisan. Karena Kalakanji ini memang belasan artikel dan esai beliau yang dikumpulkan dari tahun sebelum 2000 lalu dipaksakan untuk dijilid dalam dua tema besar: budaya dan sastra.

Esai-esai awal dan paling akhir menurut pendapat saya adalah yg paling menarik. Bagian awal penulis menggelar pengetahuan kecil tapi jarang diketahui terkait budaya Jawa dan juga Jogja. Jenis tema yang sangat saya gandrungi. Bagian akhir tentang proses kreatif penulisan puisi yang menurut saya berhasil beliau tulis dengan runtut dan dengan bahasa sederhana sehingga cocok diterapkan anak smp, SMA, dan mereka yang pemula dlm menulis puisi. Salah satunya, menulis sastra memang membutuhkan olah rasa dan pikiran karena itu memang dibutuhkan diam agar bisa berkonsentrasi. Mungkin inilah jawaban dari mengapa mengarang itu tidak gampang. Kita cenderung untuk gegas bergerak, bukan diam dan ketinggalan.

Esai esai lain banyak yang sifatnya pesanan. Meskipun setelah dibaca alasannya memang tulisan-tulisan ini ditulis sebagai pembuka atau pendamping dari suatu acara atau kegiatan. Jadi memang tidak murni pesanan, bisa juga wujud kepedulian penulis pada salah satu sosok atau tema atau peristiwa. Sayangnya, pada esai esai jenis inilah standar esai terasa jatuh karena tema jadi terbatasi dan penulis tidak diberi panggung untuk menunjukkan ciri khasnya. Batasan tema dan tuntutan momen menjadikan tulisan terasa monoton dan standar. Contohnya ketika penulis mengutip tujuh jenis kecerdasan sampai dua kali dengan model salin semua.

Rasa memang memiliki poin utama dalam mencipta karya sastra. Tanpanya, sebuah tulisan bisa terasa hambar, mengenyangkan, menyenangkan, ataupun membosankan. Produktivitas menulis memang harus diutamakan karena penulis juga tidak selamanya bisa mencari makan lewat tulisan tulisan idealisme. Keberadaan pasar memang harusnya jadi pendukung penulis dalam mempertahankan hidup dan kemudian melanjutkan idealismenya. Pada akhirnya, melestarikan idealisme juga akan terganjal jika sumber penghidupan tersendat tidak lancar.

Kayaknya saya kudu koleksi karya-karya beliau deh.

Friday, February 17, 2017

Kisah-Kisah di Balik Meja CEO Penerbit Bentang Pustaka

Judul: 50 Kisah tentang Buku, Cinta, dan Cerita-Cerita di Antara Kita
Penyusun: Salman Faridi
Penyunting: Iqbal Dawami dan Nurjannah Intan
Cetakan:. Pertama, Januari 2017
Tebal: 258 hlm
Penerbit: Bentang


33836530

Setelah membaca bukunya Pak Edi tentang sejarah berdirinya DIVA Press, perhatian saya tertuju pada buku hampir serupa yang ditulis oleh CEO penerbit lain di Jogja, Bentang Pustaka. Selalu menarik membaca kisah di balik sebuah buku, seperti yang dikisahkan secara singkat namun berisi oleh CEO Bentang ini. Banyak hal seputar penerbitan dikulik-kulik oleh beliau, terutama terkait Penerbit Bentang. Walau model tulisannya sederhana dan pendek-pendek untuk sekali dibaca, banyak pengetahuan seputar buku dan dunia penerbitan yang saya dapatkan. Terutama, yang paling menarik adaah terkait upaya Penerbit Bentang menyambut era internet. Benarkah orang sudah tidak membaca buku fisik lagi? Apakah mesin cetak sudah tamat? Ternyata tidak. Menurut beliau, buku elektronik tidak menggantikan buku cetak, tetapi melengkapinya. Dan, penerbit yang ingin tetap eksis di abad internet ini harus mulai mencari solusi kreatif untuk merangkul dunia maya, dan bukan mengabaikannya. Inilah jawaban dari pertanyaan tentang mengapa Bentang sepertinya gencar banget mulai menjual buku dalam bentuk digital. 

Thursday, November 12, 2015

Kode untuk Republik


Judul: Kode untuk Republik
Penyusun: Pratama D Persadha
Tebal: 237 hlm
Cetakan: 1, Juli 2015
Penerbit: Marawa



Sejatinya, kemerdekaan bangsa adalah hasil upaya kolektif seluruh elemen-elemen bangsa Indonesia dalam meraih sekaligus mempertahankannya. Mulai dari para founding fathers, diplomat di luar negeri, gerakan cendekiawan, tokoh-tokoh agama, Tentara Rakyat Indonesia, hingga masyarakat biasa dan orang-orang asing yang bersimpati pada perjuangan negara baru ini; semua punya andil masing-masing yang tidak dapat diremehkan. Kemudian, untuk menyatukan gerak perjuangan di antara berbagai elemen dari bangsa yang masih sangat belia itu, dibutuhkan adanya jaringan komunikasi yang menghubungan mulai dari komando tertinggi hingga ke lapangan. Dalam hal inilah, peran Dinas Kode sangat dibutuhkan, terutama untuk menyampaikan informasi atau maklumat yang sifatnya mendesak atau rahasia terkait keamanan nasional. Maka, benar adanya kalau tolok ukut kemenangan dalam perang—salah satunya—adalah terjaminnya penyampaian informasi secara rahasia.

“Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara.” (hlm. 206)

Friday, August 14, 2015

Misteri Banjir Nabi Nuh dan Tenggelamnya Atlantis Nusantara


Judul: Misteri Banjir Nabi Nuh dan Tenggelamnya Atlantis Nusantara
Penulis: Yusuf Rafiqi
Editor: Kaha Anwar
Tebal: 232 hlm
Cetakan: 1, Juli 2015
Penerbit: DIVA Press


Atlantis, benua mitos yang konon ditenggelamkan ke dasar samudra, merupakan salah satu misteri dunia kuno yang paling banyak menarik perhatian. Kisah tentang lenyapnya peradaban akbar dari masa kuno hanya dalam waktu satu mala mini pertama kali disinggung oleh filsuf Plato dalam karyanya, Dialog: Timaes dan Critias. Plato menggambarkan kehancuran peradaban Atlantis sebagai akibat dari bencana maha dahsyat yang meluluhlantakkan segalanya. Semenjak itu, para ahli dan sejarahwan kemudian seperti berlomba untuk menemukan di mana posisi tenggelamnya Atlantis. Samudra Atlantik yang memisahkan benua Amerika dan Eropa-Afrika tentu saja menjadi lokasi perkiraan yang paling utama, mengingat kesamaan namanya. Plato sendiri mengindikasikan posisi Atlantis yang berada dui depan Pilar-Pilar Hercules, yang oleh para sejarahwan adalah tanjung Gibraltar yang menjadi pintu masuk ke Mediterania.


Thursday, July 30, 2015

Orang Jujur Tidak Sekolah

Judul : Orang Jujur Tidak Sekolah
Pengarang : Andri Rizki Putra
Cetakan : 2, 2015
Tebal : 264 hlm
Penerbit : Bentang






23503377

Nganu, saya kok semacam jadi malu sendiri setelah baca buku ini. Berasa tidak ada apa-apanya saya ini dibandingkan Rizki yang ewekecehbegeteh dengan perjuangannya dalam menempuh pendidikan. Wajah saya ini juga tidak ada apa-apanya kalau dijejerin sama Rizki oppa yang macam member boiben ini *haiah* Trus, semakin ke belakang, semakin kagum saya dibuat dengan pemikiran penulis muda yang seperti melampaui kawan-kawannya ini. Lulus SMA dalam waktu setahun, keterima di UI dan bisa lulus dlm 3 tahun, cum laude pulak. Habis itu, dia kerja dan udah bisa beli mobil sendiri (saya sih sebatas baru bisa beli buku sendiri *jauh bener bandingannya) dari hasil kerjanya. Buset, ini anak muda memang bikin iri. Tapi, iri pada kebaikan katanya diperbolehkan, biar kita terpacu untuk ikut menjadi lebih baik.

Andri Rizki Putra (selanjutnya kita panggil dia Kiki) lahir dan dibesarkan oleh Mamanya sendiri. Sejak kecil, dia belum bertemu dengan sosok ayahnya. Namun, Mama-nya ternyata adalah seorang single parent yang luar biasa. Bisa dibilang, Rizki sangat bergantung pada sosok Mama-nya ini sehingga dia bisa meraih kesuksesan yang diperolehnya sekarang. Saya juga sangat tersentuh pada kedekatan Rizki dan Mamanya ini. Jarang-jarang loh mahasiswa baru ke kampus dianterin sama Mamanya. Anak muda kebanyakan mah ngak gitu, kayak mau gimana gitu kalau dianterin orang tuanya ke sekolah atau kampus. Berasa udah gede trus nggak mau dianterin. Padahal, hal-hal kecil kayak nganterin gini yang bisa bikin kita deket dengan ortu. Saya ingat, dulu kuliah pernah dianterin almarhum Bapak karena hujan deras sekali. Pengalaman sekali itu tak akan pernah ssaya lupakan. Eh bentar, ini mo cerita tentang Kiki bukan sih?

Jadi, Rizki ini memang berangkat dari keluarga yang miskin. Saat SD, dia pernah nggak diizinkan masuk kelas karena masih nunggak uang SPP. Bahkan, karena belum bayar uang sekolah itu, dia terpaksa mengerjakan ujiannya di luar kelas. Sungguh miris, semoga yang seperti ini tidak akan lagi terulang di masa sekarang. Kiki kecil juga nakal, jadi semakin rumyamlah keadaannya. Untungnya, ketika menjelang kelulusan, Kiki terkena semacam pencerahan gitu. Udah miskin, nakal lagi, mau jadi apa besarnya? Kiki akhirnya bertekad, walau miskin paling tidak dia akan jadi anak yang pintar. Dengan begitu, Mamanya bisa bangga dan rasanya tidak sia-sia beliau berjuang banting tulang demi menyekolahkan putra satu-satunya itu.

Masuk SMP, Kiki bisa masuk ke SMP negeri favorit karena kecerdasannya. Di sekolah menengah ini, Kiki terus menerus berhasil menjadi 3 besar sehingga sekolah bisa "memaklumi" kondisi ekonomi keluarganya yang sering membuatnya menunggak uang SPP. Kiki sebenarnya rikuh dengan kebijakan sekolah ini, seolah dia bisa sekolah karena kebetulan saja dirinya cerdas dan selalu rangking pertama. Gimana jika ada anak kurang mampu tapi sayangnya kurang cerdas? Betapa tidak adilnya karena tujuan pendidikan itu sendiri sejatinya adalah untuk mencerdaskan.

Hal lain yang membuat Kiki gerah dengan institusi sekolah adalah ketika mereka menghadapi ujian UAN. Ada sementara oknum guru yang menyebarkan SMS berisi kunci jawaban soal. Konon, hal ini agar anak-anak sekolah situ nilainya bagus-bagus (yang otomatis akan mengangkat pamor sekolah yang bersangkutan). Herannya, pengawas dan para guru seolah membiarkan kecurangan ini berlangsung. Mungkin, daripada susah-susah mendingan instan saja. Kiki, yang harus berjuang banting buku, lipat mata untuk belajar, tentunya merasa sangat keberatan. Betapa tidak adilnya jika perjuangan seorang anak untuk belajar selama setahun dikalahkan oleh contekan.

Misalnya begini. Si A benar-benar berjuang agar bisa lulus. Sejak semester 1, dia ikut bimbel. Dari pagi sampai sore waktunya habis untuk belajar. Malam pun dia masih harus ngapalin rumus. Trus pagi-pagi buta, dia bangun pagi untuk menulis ringkasan materi. Ketika UN tiba, dia bisa mendapatkan nilai 9 untuk Matematika, karena memang dia bisa.

Kemudian, si B. Anaknya khas remaja kebanyakan. Waktunya habis untuk mengelus telepon genggam atau main di game center. Belajarnya pun malas-malasan. Pagi hari menjelang UN, dia dapat sms kunci jawaban soal matematika dari gurunya. Dia mendapat nilai, katakanlah, 8.5. Coba, bandingkan usaha keduanya. Betapa praktik pencontekan massal ini telah membanting hancur adagium "No pain, no gain" yang legendaris itu.

Inilah yang dirasakan begitu berat oleh Kiki, dan mendorongnya untuk berhenti sekolah. Dia kemudian memilih untuk mengikuti Kejar Paket C (setara SMA) yang bisa ditempuh dalam satu tahun. Selama satu tahun itu dia terus berjuang belajar sendirian, mengabaikan pendapat miring dari orang-orang tentang nasib anak putus sekolah sepertinya. Kiki bertekad membuktikan bahwa dirinya bisa, bahwa sekolah formal bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih cita-cita, sekolah nonformal pun bisa. Dalam waktu setahun itu, habis deh tembok kamarnya penuh dengan rumus yang harus dihafalkannya. Dia sendiri mengaku hampir gila karena tekanan belajar itu.

Tapi, pepatahan "No pain no gain" ternyata masih terbukti. Kiki lulus UN kesetaraan dalam waktu satu tahun. Sementara teman-teman seangkatannya naik ke kelas 2 SMA, dia sudah bisa mendaftar ke UI jurusan hukum. Setahun berikutnya, ketika teman-temannya asik di dunia putih abu-abu, Kiki sudah bergelut dengan soal-soal tes masuk universitas. Ketekunannya membuatnya lolos UI. Kemudian di UI duh, takutnya pada bosan kalau saya cerita lagi. Baca bukunya sendiri deh.

Walau buku ini bisa dibilang semibiografi, tapi penulisannya smooth banget dan enak diikuti. Saya yang sering tidak tahan baca buku biografi, ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar 2 hari untuk membaca buku ini. Kiki ini tulisannya rapi, tidak melompat-lompat, enak diikuti. Plus, banyak pelajaran dan kalimat-kalimat #jlebb yang kita bisa belajar darinya. Kadang, belajar tidak melulu dari para senior. Bahkan dari seorang yang masih muda belia seperti Kiki ini, kita belajar banyak hal tentang kehidupan dan juga tentang tidak abai dengan kondisi di sekitar kita.

Sangat direkomendasikan sekali baca buku inspiratif ini.

Friday, December 26, 2014

Ngobrol Asyik dengan Siapa Saja

Judul : Ngobrol Asyik dengan Siapa Saja
Penulis : Ian Dimas
Editor: Damaya
Tebal : 210 hlm
Cetakan: Pertama, Desember 2014
Penerbit: Saufa

24039136


            Dulu, bisa dibilang saya adalah seorang introvert yang keterlaluan banget kadarnya sampai-sampai saya hanya memiliki sedikit teman. Tapi kemudian semuanya berubah. Entah hormone remaja yang mengelegak atau semacam kedewasaan diri yang tiba-tiba muncul saat masuk SMA, saya tiba-tiba menyadari betapa tidak menyenangkannya jika tidak memiliki teman. Karena itu, walau saat itu masih malu-malu, saya memberanikan diri untuk terlebih dulu menyapa orang lain sebelum mereka menyapa kita. Hal ini saya terapkan juga kepada orang yang belum saya kenal. Hasilnya ternyata jauh lebih positif daripada yang saya duga. Meskipun banyak di antara orang yang saya sapa menjawab sekadarnya (seperti merasa curiga dan tidak tertarik), tetapi ada beberapa yang kemudian menjadi kawan akrab saya dan kami pun berteman lama. Saya juga mencoba trik ini saat baru masuk kampus dengan orang yang ebnar-benar baru. Awalnya orang itu agak ogah-ogahan menjawab pertanyaan saya yang kesannya mau tahu saja #kepoakut, tapi ujungnya malah kemudian dia yang mencari saya, satu rombongan beserta kawan-kawannya. Teman saya yang saat itu bersama saya sampai heran dan bertanya, “Kamu kenal di mana sama mereka , Yon?” Dan saya hanya tersenyum menjawabnya.

            Saat itu, saya belum tahu mengapa bisa begitu. Satu hal yang jelas, saya hanya bermodalkan nekat dan keinginan untuk berteman dengan orang lain. Intinya, aktiflah mencari sahabat dan bukannya pasif menunggu orang lain menghampiri kita untuk dijadikan sahabat. Jawaban dari pertanyaan itu ternyata saya temukan beberapa tahun kemudian di perpustakaan UPT Universitas. Kala itu Indonesia sedang tren buku-buku panduan diri, semacam buku-buku motivasi dan selfhelp terjemahan. Karena saya orangnya gampang terbawa arus, saya pun meminjam buku How to Win Friend and Influence People karya Dale Carnegie (yang kemudian menjadi salah satu buku nonfiksi favorit saya sepanjang masa, saya bahkan membeli buku itu walau sudah membacanya). Beruntung sekali saya berkesempatan membaca buku tersebut sebelum membaca buku-buku motivasi lainnya karena bisa dibilang buku ini adalah babonnya buku-buku motivasi modern.

          Dengan gaya bahasa yang masih terasa sekali terjemahannya, Carnegie mengajarkan banyak hal tentang teknik berinteraksi dengan orang lain. Salah satu ajarannya, yang kemudian ternyata adalah jawaban dari pertanyaan saya dulu, saya temukan dalam buku itu. Carnegie mengatakan bahwa sejatinya setiap orang menunggu untuk disapa duluan, untuk diajak kenalan. Ketika kita terlebih dulu menyapa seseorang, bukan berarti kemudian kita kalah. Sebaliknya, kitalah yang menang karena kita berani mengambil inisiatif. Tidak mudah untuk memulai, tetapi kadang setelah kita memulai, segalanya menjadi mengalir dan lancar jaya. Begitu juga halnya dalam berkenalan dengan orang lain. Ajaran Carnegie ini sontak menyadarkan saya. Betapa dulu, tanpa saya sadari, saya telah menerapkan salah satu poin penting dalam berinteraksi ini, yakni sapalah orang lain terlebih dahulu. Dan, hasilnya memang terbukti ampuh. Walau tidak 100% selalu berhasil, tetapi saya membuktikan sendiri betapa teknik ini sangat manjur untuk menambah kenalan dan kawan.

       Buku Ngobrol Asyik dengan Siapa Saja karya Ian Dimas ini bisa dibilang merupakan versi “unyu” dari buku Dale Carnegie. Walaupun tidak bisa dikatakan benar-benar mampu menandingi buku Carnegie (buku How to Win Friend and Influence People belum mampu disaingi oleh buku sejenis, Anda harus mencoba membacanya juga), tapi buku dengan sampul hijau ini cukup mampu merangkum banyak ajaran Carnegie dalam bahasa yang lebih gaul, sangat sesuai untuk pembaca muda. Pada kenyataannya, buku ini memang ditujukan kepada para pembaca muda. Penulis juga berhasil menerapkan teknik-teknik pergaulan itu sesuai dengan konteks anak muda dan juga percakapan dalam bahasa Indonesia. Jika dalam karya Carnegie kita masih merasakan kentalnya aroma terjemahan dan pergaulan orang dewasa, maka di buku ini percakapannya terasa Indonesia banget dan ditulis dengan bahasa yang simpel khas anak-anak muda. Bisa dibilang, buku ini memang versi anak muda sekaligus versi ringkas dari buku babon karya Carnegie (walau terlalu ringkas dan masih banyak yang belum tertulis di dalamnya).

        Sebagai sebuah buku panduan, anak-anak muda usia SMP dan SMA wajib membaca buku ini. Ada begitu banyak teknik dan pelajaran berguna, yang sifatnya praktis karena bisa diterapkan dalam pergaulan sehari-hari. Mulai dari aneka teknik berkenalan yang keren, tips menghadapi penolakan tanpa kelihatan kalah, cara berkenalan dengan lawan jenis, bagaimana membuka percakapan dengan orang yang benar-benar baru, juga banyak contoh ungkapan untuk membuat orang penasaran kepada kita. Semua dituliskan dalam bahasa anak muda yang fresh tapi tidak alay. Ada satu kutipan yang sangat menampar saya (dan juga para cowok di luar sana) yang pernah mengalami penolakan dan galau saat menentukan pilihan hidup:

        "Dalam hidup, kamu selalu punya pilihan. Namun, kenapa yang dipilih hanya menunggu dan nggak berani beraksi untuk menentukan takdir sendiri? Kamu adalah tipikal orang yang protes keras kalau ada orang berusaha mengaturmu karena kamu ingin bebas menentukan takdir sendiri. Akan tetapi, mengapa saat kamu bisa actionuntuk menentukan takdir sendiri, justru malah menyerahkan semuanya pada takdir? Ironis." (hlm. 60)

     Kekurangan dari buku ini, selain isinya yang tipis, adalah kecenderungannya yang sepertinya lebih ditujukan bagi pembaca cowok, meskipun banyak tips dalam buku ini bisa digunakan baik oleh cewek maupun cowok. Yah, bisa dimaklumi karena dalam berinteraksi si cowoklah yang lebih dianjurkan sebagai pihak yang berinisiatif memulai duluan. Meskipun demikian, cewek juga boleh-boleh saja menyapa cowok duluan. Kecenderungan lainnya adalah sepertinya penulis menjadikan buku ini semacam panduan untuk mencari pacar, walau tips yang sama juga masih bisa diterapkan dalam hal mencari kawan. Demikian juga back cover-nya yang menurut saya kurang mampu mewakili isi dari buku. Seolah, membaca buku ini hanya untuk mencari pacar peneman malam minggu, padahal isinya jauh lebih dashyat dari itu. So, mulailah menyapa orang-orang. Jangan takut ditolak, karena kita terlalu hebat untuk dibuat kalah oleh sekadar satu atau dua penolakan.

      "Selalu ingat bahwa risiko dan penolakan adalah bagian dari hidup. Menjadi sensitif terhadap penolakan merupakan hal yang sangat tidak produktif untuk kehidupan pribadi dan profesional kamu. Pahamilah bahwa penolakan merupakan isyarat untuk mencoba pedekatan ke orang yang lain lagi." (hlm. 40)


Thursday, March 27, 2014

A New Earth

Judul : A New Earth (Bangkit Meraih Tujuan Hidup Anda)
Pengarang: Eckhart Tolle
Penerjemah : Tidak Dicantumkan
Editor bahasa : Adve
Cetakan : 1, April 2009
Penerbit: Media Abadi



                
                 Ketika segala kebutuhan materi telah terpenuhi, manusia (Barat) sepertinya mulai merindukan pemenuhan kebutuhan non material yang selama ini masih kurang (katanya). Fenomena ini tampak sekali terutama di belahan Barat, di negara-negara maju yang penduduknya terpenuhi secara materi tetapi tetap saja mereka merasa “belum bahagia.” Dalam hal ini, mereka sepertinya baru merasakan bahwa uang bukanlah segalanya meskipun tanpa uang kita juga susah (peribahasa pribadi hyakakakak)

                “Sebagian besar bagian kehidupan manusia dihabiskan dengan suatu kecemasan yang obsesif terhadap benda-benda. Inilah kenapa salah satu penyakit era kita adalah ledakan benda-benda. Saat Anda tidak lagi bisa merasakan  kehidupan Anda yang sejati, mungkin Anda akan mencoba untuk mengisi kehidupan Anda dengan benda-benda.” (hlm 35)

                Saya lalu iseng mengganti kata “benda” dalam paragraf di atas menjadi “timbunan”, dan hasilnya langsung membuat saya mengambil cermin dan berkaca. Separah itukah saya hiks.

                “Sebagian besar bagian kehidupan manusia dihabiskan dengan suatu kecemasan yang obsesif terhadap timbunan-timbunan. Inilah kenapa salah satu penyakit era kita adalah ledakan timbunan-timbunan. Saat Anda tidak lagi bisa merasakan  kehidupan Anda yang sejati, mungkin Anda akan mencoba untuk mengisi kehidupan Anda dengan timbunan-timbunan.” #jleebbb

                Buku A New Earth ini bisa dimasukkan dalam buku motivasi abad 21 yang lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan spiritual alias batiniah. Sebuah buku yang oleh Oprah memang disarankan untuk dibaca bagi orang-orang Barat yang secara materi sudah mapan, tapi kering dari segi batiniah. Inilah mengapa sepertinya saya kok ngak mudeng-mudeng baca buku ini, soalnya cari duit saja saya belum jago, apalagi rekening tabungan yang terus menerus diteror obralan #malahcurhat. Satu yang jelas, penulis sepertinya hendak mengiring ego kita agar lebih beradab. Menyadarkan kita bahwa memiliki bukanlah makna sejati dari kebahagiaan. Memang, ketika kita pengen banget punya buku tertentu, rasanya bahagia banget setelah mendapatkannya. Tapi, ujung-ujungnya ditimbun juga. Ok ini curhat lagi!

                “Ego cenderung untuk menyamakan kepemilikan dengan Wujud Sejati (being): aku memiliki, maka aku ada. Dan semakin banyak yang kumiliki, aku semakin nyata.” (hlm 42)

                Ego mengidentifikasi dengan kepemilikan, namun kepuasannya dalam memiliki bersifat dangkal dan singkat. Tersembunyi di dalamnya tetap ada suatu rasa ketidakpuasan yang membatu, ketidakpuasan atas ketaksempurnaan, atau ketakcukpan. … memiliki merupakan sebuah fiksi yang dibuat oleh ego untuk memberi dirinya rasa solid dan permanen, membuat dirinya menonjol, membuat dirinya spesial.” (hlm 43)

                Jangan mengeluh! Kita sudah sering mendengar anjuran ini. Nah, buku ini memaknai “keluhan” dari sisi lain. Sisi yang tak terbayangkan sebelumnya. Ini dia:

Mengeluh adalah salah satu siasat favorit ego untuk menguatkan dirinya. Setiap keluhan adalah kisah pendek yang dibuat pikiran yg kemudian Anda yakini sepenuhnya. Tak ada bedanya apakah Anda mengeluh dengan keras atau hanya di dalam batin.” (hlm.  59)

Keluhan pada dasarnya adalah sebuah fiksi yang diciptakan oleh ego. Layaknya fiksi yang hanya rekaan, mereka tidak nyata dan hanyalah menghalang-halangi kita untuk bertindak produktif.

“Aku bangkrut" adalah sebuah cerita. Itu membatasi Anda dan mencegah Anda untuk mengambil tindakan yang efektif. “Uang tabunganku di bank tinggal 50 sen” merupakan fakta. Menghadapi fakta selalu saja memberi gairah. … Daripada menjadi pikiran-pikiran dan emosi Anda, jadilah kesadaran yang ada di balik mereka.” (hlm  93)

Pada akhirnya, kebahagiaan memang tidak ditentukan pada seberapa banyak harta (atau buku #eh) yang kita punyai. Ini menjelaskan fakta bahwa banyak orang kaya yang hidupnya seolah tidak santai, serasa dikejar waktu dan pekerjaan. Sebaliknya, banyak orang yang sederhana  tetapi mereka begitu menikmati kehidupannya. Buku ini tidak bermaksud untuk menghalang-halangi orang agar tidak kaya, bukan seperti itu. Menjadi kaya secara materi adalah dianjurkan, bahkan wajib. Tapi, tidak sepantasnya kekayaan materi saja yang menjadi tujuan utama. Karena kebahagiaan itu letaknya di dalam dada dan kepala (hati dan pikiran), bukan pada tumpukan harta dan tahta. #OkeCukupSudahSayaBerfilsafat

“Penyebab utama ketidakbahagiaan bukanlah situasinya namun pikiran-pikiran Anda tentangnya. Selalulah waspada dengan pikiran-pikiran yang Anda pikirkan. Pisahkan mereka dari situasi yang ada, yang selalu netral, yang selalu seperti apa adanya.”  (hlm 93)

“Kebahagiaan Wujud Sejati, yang adalah satu-satunya kebahagiaan sejati, tidak bisa datang pada Anda melalui bentuk, kepemilikan, pencapaian, person, atau kejadian…. Ia memancar dari dimensi tak berbentuk dalam diri Anda, dari kesadaran itu sendiri dan oleh karena itu menyatu dengan siapa diri Anda.” (hlm 205)

Postingan ini ditulis dalam rangka baca bareng buku-buku pilihan Oprah bersama teman-teman Blogger Buku Indonesia.