Search This Blog

Thursday, March 29, 2018

Ruby Red dan Sapphire Blue, Sisi Feminin Kisah Perjalanan Waktu


Judul: Ruby Red dan Blue Saphirre
Pengarang: Kerstin Gier
Penerjemah: Fransisca Paula Imelda
Penerbit: Elex Media Komputindo



Di antara semua genre novel time travels dari luar, seri Edelstein-Trilogie termasuk yang paling lembut dan longgar. Dalam Time Line Michael Chricton, perjalanan waktu diatur sedemikian ketat dan berpindah ke masa lampau adalah sebuah perjalanan yang mengancam nyawa. Seri Time Riders juga terlihat upaya penulis yang begitu ketat mengontrol perjalanan waktu agar sejarah tidak tercemar. Seri ini menggambarkan dengan muram kekacauan besar yang mungkin terjadi jika ada yang mengubah masa lalu. Karenanya dibentuk lah agen-agen penjaga waktu untuk mengawasi agar tidak ada sejarah yang berubah akibat kontaminasi waktu. Versi lebih longgar dari Time Riders ini dapat dibaca pada seri History Keepers.  Sementara untuk seri Batu Permata karya penulis Jerman ini, pembaca mendapatkan seri feminin dari kisah perjalanan waktu. 

Gwendolyn Shepherd hanyalah remaja SMU biasa dengan kehidupan normal (cowok, jerawat, dan pekerjaan rumah). Namun, Gwen lahir dalam silsilah keluarga yang tidak biasa. Keluarga besarnya adalah satu dari dua keluarga ningrat pembawa gen penjelajah waktu. Keluarga Montrose  membawa gen pelintas waktu dari silsilah wanita, sementara keluarga de Villiers membawa gen pelintas waktu dari pihak pria. Tiap generasi dari dua keluarga tersebut, satu orang yang telah ditandai dari lahir akan menjalani kehormatan untuk masuk ke dalam organisasi rahasia dan menjadi agen lintas waktu bagi mereka setelah memasuki masa remaja. Seharusnya Charlotte sepupunya yang diramalkan (dan dipersiapkan) sebagai pelintas waktu. Tetapi, justru Gwen yang membawa gen pelintas itu. Dari remaja urakan yang hampir nggak bisa apa-apa, gadis itu tiba-tiba mengemban tugas berat sebagai seorang pelintas waktu yang bisa melompat ke masa lalu.


Jadi, di seri ini tidak semua orang bisa melakukan perjalanan waktu. Jika di kisah lain semua karakternya bisa melintasi waktu dengan mesin waktu, di seri ini hanya mereka dengan gen terpilih saja yang bisa melakukannya. Total ada 12 orang keturunan Montrose dan 12 keturunan Villiers yang memiliki gen ini, masing-masing dilambangkan dengan batu permata. Gwen dan Gideon adalah para penjelajah waktu keturunan ke-12 dengan lambang masing-masing batu rubi dan berlian. Mesin waktunya sendiri berbentuk semacam cakram dengan banyak gerigi dan batu permata yang disebut kronometer (Chronos adalah Titan dalam mitologi Yunani yang menguasai waktu). Si penjelajah waktu harus memasukkan jarinya ke chronometer. Sebuah jarum akan menusuk ujung jarinya hingga berdarah. Darah dari sang pejalan waktu inilah yang akan menjadi bahan bakar kronometer. Lumayan sakit ya, tapi ini masih lebih mending ketimbang DNAmu yang berubah sehingga menua sebelum waktunya seperti di Time Riders. 

Dengan kronometer, seorang pelintas waktu hanya bisa melompat ke masa lalu dengan rentang waktu 200 tahun dari titik awal dia melompat. Selain itu, perjalanannya juga terbatas antara 2 – 3 jam. Seorang pelintas waktu akan otomatis kembali ke titik awal keberangkatan setelah 2 jam berada di masa lalu. Pindahnya juga langsung cling gitu kayak penyihir ber-disapparate di titik lokasi yang sama. Jika di 1855 dia berpindah dari atas jembatan London, maka ia akan muncul di tahun 2000 di titik yang sama. Bayangkan jika di zaman modern jembatannya sudah dipindah. Kecemplung deh. Setidaknya, syarat-syarat agar bisa berpindah ke masa lalu di seri ini jauh lebih ringan ketimbang di Timeline atau Timeriders. Hanya saja, hukum utama perjalanan waktu harus tetap dipegang teguh: jangan mengubah jalannya sejarah atau meninggalkan artefak zaman modern di masa lalu.

Bagaimana dengan ceritanya? Sepertinya, seri Cinta Sepanjang Masa (serius ini judul serinya begini?) karya Kerstin Gier ini termasuk seri yang kisahnya semakin ke belakang malah semakin bagus. Awalnya agak kurang suka sama Gwen yang menye banget sama Gideon. Juga, penggambaran Gideon yang serba sempurna (ugh saya selalu benci dengan tokoh cowok model gini!). Tapi, jika melihat usia Gwen yang 16-17 tahun, wajar saja sih dia begitu kalau lagi ada Gideon. Untungnya, Gwen ini bisa balik jadi dirinya sendiri saat jauh dari Gideon. Celetukannya yang sarkas, komentarnya yang asal tapi menghibur, juga rasa PD-nya yang tidak goyah walau suka dibanding-bandingin sama sepupu Charlotte yang serbasempurna. Gwen ini ibarat remaja yang nyaman dengan ketidaksempurnaan dirinya--sesuatu yang tidak apa-apa sebenarnya tapi banyak dari kita yang baru menyadari kebenaran ini jauh setelah kita dewasa. Ini menjadi unsur pelembut yang jarang ditemukan dalam novel-novel time travel lainnya.

Untuk actionnya rada datar karena minim konflik tetapi interaksi tokoh-tokohnya menarik diikuti. Juga, pengetahuan penulis seputar sejarah Inggris juga layak diacungi jempol. Padahal, buku ini ditulis oleh penulis Jerman. Awalnya, saya agak terganggu dengan nuansa young adult yang mendominasi seri ini. Apalagi di buku pertama, terlalu panjang cerita pengantar yang harus dibaca sebelum pembaca diajak melakukan perjalanan waktu. Romansa yang terlalu berlebih juga sempat bikin saya malas melanjutkan membaca. Kadang ingin menyerah sambil berkata: ini time travel atau roman remaja ya? Tetapi, bintang empat di Goodreads membuat saya penasaran untuk menyelesaikan membacanya. Untung juga ada si gargoyle yang di luar dugaan membuat cerita lebih hidup. Secara umum, saya menyukai seri ini tapi tidak sebesar saya menyukai seri Time Riders. Tiga bintang cukup untuk seri ini.

2 comments:

  1. Suka banget dengan trilogi ini (meski buku ketiga belum punya dan belum baca), saya suka dengan karakter Gwendolyn yang suka komentar lucu meskipun mungkin dia nggak berminat melucu. Suka juga dengan Xemerius si gargoyle. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Andai tokoh utamanya bukan Gwendolin, saya nggak yakin apakah bisa menyelesaikan maraton baca trilogi ini, terima kasih sudah berkunjung.

      Delete