Search This Blog

Friday, January 19, 2018

Bertualang ke Tiga Dunia bersama Datan si Pencuri


Judul: Tiga Dunia, Si Pencuri
Pengarang: Rama Nugraha
Penyunting: Sevy Kusdianita
Sampul: Ryn Yoanta
Tebal: 581 hlm
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Penerbit: Histeria





            Saat bertemu pertama kali dengan penulis Tiga Dunia, Rama sudah menunjukkan sedikit bagian naskah novelnya. Saya sempat membaca lima halaman pertama. Membaca sedemikian sedikit tentunya belum bisa memberikan gambaran tentang akan seperti apa novel tebal ini. Yang saya tangkap saat itu, Tiga Dunia adalah kisah tentang bangsa Neena yang digambarkan mampu bernapas di dalam air. Sementara tiga dunia dalam judul merujuk pada tiga alam yang menjadi setting novel ini, yakni alam Permukaan sebagaimana dunia terang tempat kita berdiam, lalu Dunia Bawah sebagai tempat berlindung kaum buangan. Lalu ada Dasar Dunia sebagai ujung kegelapan dunia tempat entitas makhluk tak berwujud dilahirkan untuk menjaganya. Awalnya, saya mengira kedahsyatan kaum Neena dan tiga dunia ini hanya akan berhenti di tulisan sampul semata, ternyata tidak sampai di situ saja. Mulai halaman lima dan seterusnya, saya tak bisa berhenti membaca novel ini. Ngalir banget terlepas masih ada beberapa layout yang tak sesuai. Selama penulis bisa lancar mengisahkan ceritanya, saya akan membacanya.



"Kau boleh gagal, Datan. Gagal banyak. Tapi kau tidak boleh berhenti. Kau tidak boleh berhenti apa pun yang terjadi.” (hlm. 32)





Alur besar

Tiga Dunia berkisah tentang Datan Woodward seorang anak piatu yang tinggal di negeri Tomera. Ayahnya adalah seorang Haedin sementara Datan sendiri dari bangsa Ingra. Dalam mitologi negeri ini, kaum Ingra yang jumlahnya langka ini konon akan membawa perubahan (entah baik atau buruk tidak dijelaskan di buku ini). Saat masih berusia 7 tahun, Datan tanpa sengaja melihat seorang Royan beraksi—atau tepatnya menyelamatkan dia dan ayahnya. Setuju dengan mbak Selvi, saya masih bertanya gimana ceritanya Datan tidak terkena efek tidur yang disebabkan oleh si wanita Royan itu sementara semua orang (bahkan ayahnya) tertidur pulas. Datan kecil begitu kagum sama wanita itu dan langsung memutuskan bahwa menjadi bagian Persaudaraan Royan adalah tujuan hidupnya, obsesinya lebih tepatnya. Awalnya, keinginan Datan ini ditolak oleh keluarganya, tetapi entah karena watak kerasnya atau darah Ingra-nya, Datan, mereka akhirnya mendukungnya (walau tidak sepenuh hati).



“Semesta tidak menempatkan kau untuk mudah menyerah dalam perjuangan hidup.” (hlm. 26)



Selama sepuluh tahun, Datan digembleng dengan latihan fisik dan  ilmu kanuragan oleh sang ayah agar dia bisa lolos melewati ujian sebelum menjadi seorang Royan. Hingga akhirnya pada usia 22 tahun, pemuda itu mengembara dan memulai petualangannya untuk bergabung dengan persaudaraan elit tersebut. Singkat cerita (nanti kalau saya ceritakan semua jadi nggak seru), Datan akhirnya diterima dalam anggota Royan setelah berhasil melalui ujian yang menurut saya terlampau dramatis. Bagian perkenalan ke dunia Royan ini termasuk salah satu yang menarik di novel ini. Datan diperkenalkan dengan sebuah lingkungan yang ebnar-benar baru, begitu juga pembaca. Penulis seperti seorang pemandu tur yang menunjukkan kepada kita (lewat pengalaman Datan) keajaiban di balik benteng tinggi Royan. Walau dikenal sebagai kelompok pencuri dan pembunuh bayaran, Persaudaraan Royan ini ternyata sangat ramah. Semakin ke belakang, saya kok semakin merasa Royan ini sebagai pahlawan ya, bukan penjahatnya.

Penjahatnya mungkin adalah seorang wanita dengan kemampuan bertarung lebih tinggi yang ditemui Datan dalam misi pertamanya. Gadis yang hobi melukai dan membunuh orang inilah yang membikin misi tersebut berantakan. Daran memang berhasil mendapatkan Permata Zu, tetapi sebagai akibatnya, Persaudaraan Royan dituduh sebagai kelompok pembunuh berdarah dingin akibat fitnah si gadis misterius.  Belum lagi, wabah misterius mulai menyerang kota-kota dan menjadikan penduduk mengidap halusinasi level akut. Kekacauan semakin bertambah ketika musuh menculik ayah Datan dan dia meminta permata Zu sebagai tebusannya. Mau tidak mau, Datan harus menuju Gerbang Dunia Bawah untuk menyelesaikan apa yang telah ditakdirkan untuknya. Dia tidak pergi sendirian, melainkan bersama dua Royan kelas atas. Perjalanan lagi, petualangan yang lain.  Ada satu clue tentang si wanita penjahat di akhir cerita, sebuah clue yang malah bikin saya bingung siapa sebenarnya yang baik dan jahat dalam cerita ini.



Detail ... Detail

Jika ada kualitas utama yang begitu mengemuka dari Tiga Dunia, maka itu adalah detailnya. Rama meniru teknik JRR. Tolkien dalam menyusun Bumi Tengah, yang benar-benar dituangkannyalewat Tiga Dunia. Ketelitian Rama dalam menulis bisa dilihat sampai pada tingkat paragraf. Cobalah buka halaman berapapun lalu baca secara acak paragraf  yang ada. Akan terlihat betapa detailnya penulis dalam upayanya menggambarkan adegan atau karakter atau seting lokasi. Saking rincinya, ada beberapa detail yang kayaknya terlalu detail turut dipaparkan. Apalagi bagian ketika penulis menarasikan ciri khas seorang tokoh, atau menggambarkan suatu tempat (kota, bangunan, bentang alam), akan terasa sekali detailnya. Saya membayangkan, selama lima tahun Rama menulis saganya ini, setiap hari menambahkan detail-detail yang kurang dari setiap ide yang meletup di benaknya.

Salah satunya, penulis memberi nama kepada setiap mahluk atau benda yang menyerupai entitas yang serupa dengan yang ada di dunia kita. Misalnya saja, ada Oxy yang adalah kerbau penarik pedati, Ludaj semacam gorila super kuat, bangsa Anag yang mungkin mirip jin dalam keyakinan kita. Ada beberapa ras Neena di Tiga Dunia, yakni Ingra, Urgut, Haedin, dan Marra. Selain itu, ada bangsa Anag yang mirip jin di dunia kita.  Penulis sesekali menyebutkan ciri khas dari masing-masing ras, mulai dari kebiasaannya, ciri fisiknya, hingga mentalitas mereka. Ada juga sistem kepercayaan . Bangsa Neena sepertinya adalah umat yang monoteis. Mereka menyembah satu Tuhan yang digelari Unum. Ini menurut saya hal yang baru dalam kisah fantasi karena kebanyakan kisah fantasi dibangun oleh elemen berbasis dewa-dewi (walau tidak semua, tentu saja). Juga ide tentang selaput Elpa itu menurut saya genius sekali.



“Jangan pernah meremehkan sesuatu hanya karena kau tidak bisa melihatnya.” (hlm 27)



Karakter

Salah satu gejala yang menjangkiti penulis fantasi lokal adalah penggunaan nama-nama Barat yang terlampau berlebihan. Setting mungkin orisinal, tetapi nama-nama yang asal comot bisa bikin ceritanya tak orisinal. Dalam Tiga Dunia, penulis tidak menyebut secara jelas bagian Bumi mana yang ditirunya, tetapi saya samar-samar merasakan perpaduan antara Eropa, Asia-India, juga banyak tempat-tempat berbau nusantara. Apa yang digambarkan di Tiga Dunia ini menurut saya memang lebih ke Asia ketimbang greek or roman mythology, and i like it. Tetapi, nama-nama karakternya masih aman menurut saya, walau nama belakang Datan kayak agak maksa. Maksudnya tidak terlalu memaksa supaya Barat gitu. Lebih seperti penulis mengadaptasi dan  memadupadankan antara nama fantasi khas barat dengan nama-nama Asia. Datan, Ana, Seline, Bibi Fira, Kanas, Meria, Joris, Ferid, Sami; kita bisa mudah mencerna nama-nama ini sambil lalu, tanpa harus mengeryitkan kening karena aroma ke-Barat-baratan yang biasa kita temukan di novel fantasi lokal. Saya entah mengapa juga suka dengan penamaan tempat di buku ini, salah satunya Pulau Wanageeka.

Tentang karakter, Royan memang tidak berkembang selama perjalanan di buku ini. Tetapi saya diingatkan bahwa buku ini baru seri pertama dari entah berapa seri Tiga Dunia. Menurut saya, karakter Datan malah stabil di buku ini, maksud saya dia tidak tiba-tiba berubah baik hanya karena bukunya sudah mendekati halaman akhir. Datan mencerminkan sosok pemuda pemberontak, yang tumbuh besar tanpa seorang ibu dan ditempa dengan latihan-latihan keras selama sepuluh tahun oleh ayahnya yang mantan pejuang. Ini mungkin bisa menjawab sikap Datan yang cenderung urakan dan tak dewasa meskipun dia telah menjadi seorang Royan. Pemuda itu akan berkembang, saya yakin itu, tetapi perjalanan yang harus ditempuhnya masih panjang. Saya sangat menantikan buku beirkutnya.

Masukan

Jika ada masukan, mungkin petanya yang lebih diperbesar. Jika tidak bisa dua halaman, mungkin bisa memperbesar peta pulau-pulau tersebut, terutama pulau-pulau yang menjadi lokasi berlangsungnya cerita. Saya sangat kesulitan membaca peta di buku pertama ini karena tulisannya yang kecil-kecil sementara Datan ini banyak bertualang ke sana kemari. Agak sebal rasanya karena tidak bisa mengecek lokasi suatu tempat di peta padahal penulis dengan sangat naratif mampu menggambarkannya dengan detail lewat kata-kata. Akhirnya, saya sering melewatkan begitu saja kota-kota atau tempat-tempat yang disinggahi Datan, kecuali  Pulau Wanageeka yang petanya lumayan besar.

Selain itu, glosarium menurut saya juga penting disertakan di novel ini mengingat penulis menyertakan banyak sekali istilah baru. Saya berulang kali terpaksa berhenti membaca sekadar untuk mengingat-ingat apa itu Urgut, Anag, Thar, Setryi, Nimta, dan banyak istilah asing lainnya. Jika ada glosarium pembaca bisa membukanya untuk mengingat apa definisinya dari kata-kata asing tersebut. Ini tentu akan lebih praktis ketimbang memaksa pembaca untuk menghafalkan puluhan istilah asing di novel ini. Hebohnya lagi, istilah-istilah ini tidak dicetak miring tetapi diberi huruf kapital. Saya kurang tahu apakah maksudnya untuk menegaskan bahwa kata-kata tersebut memang asing. Pola serupa pernah digunakan dalam seri Magyk karya Anggie Sage, tetapi dalam format yang lebih tertata. Sage menggunakan kata-kata yang dibold dan diawali huruf kapital hanya pada kata-kata yang bernuansa sihir. Sementara di Tiga Dunia, menurut saya di-italic atau cetak miring saja sudah cukup.  



                Ayahnya Datan pernah bilang begini. “Dan aku adalah orang yang percaya pada kuasa cita-cita, Meria. Cita-cita yang menghantui hidupmu adalah pemberian istimewa dari Unum sang Pencipta.” Saya merasa, Rama juga ‘dihantui ‘ oleh dorongan yang sama ketika memutuskan menulis dan menyelesaikan novel Tiga Dunia.  Kami tunggu banget loh, Rama, buku keduanya.

1 comment: