Search This Blog

Tuesday, November 7, 2017

The Monstrumologist (Sang Ahli Monster)

Judul: The Monstrumologist
Pengarang: Rick Yancey
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Penyunting: Bayu Anangga
Sampul: Olvyanda Ariesta
Tebal: 496 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Scoop




Referensi tentang monster blemmyae pertama kali saya jumpai dalam The Dark Phropechy-nya Rick Riordan. Dalam versi kocaknya, Riordan menggambarkan blemmyae sebagai manusia tanpa kepala dengan mata dan mulut di dada, serta sangat sopan (mau membunuh pun mereka minta izin dulu). Samar-samar, saya juga pernah melihat gambar monster ini di salah satu buku tentang penjelajahan samudra selepas masa Abad Pertengahan. Kalau tidak salah, penggambar peta kala itu menggambarkan sosok mahkluk ini di satu kawasan pedalaman di Afrika.  Tampaknya spesies ini aneh secara fisiologis, dengan tangan terlampau panjang yang menjulur sampai ke mata kaki, sehingga lebih layak untuk ditertawakan. Tetapi, berbagai referensi dari Abad Pertengahan menyebut bahwa blemmyae adalah binatang yang ganas, dan juga kanibal. Mereka dijuluki sebagai pemakan manusia. Rick Yancey semakin memperkuatnya dengan menambahkan detail yang mengerikan: lengan dengan otot tendon perkasa, kaki yang mampu melompat hingga 12 meter, cakar lengkung setajam  baja sepanjang 7 cm, serta—yang paling mengerikan—mulut menyerupai hiu dengan ribuan gigi taring yang mampu mengerkah mangsanya dengan kekuatan tekanan 2 ton.


                Monster inilah yang harus dihadapi oleh William James Henry, seorang yatim-piatu yang harus tinggal bersama seorang pria nyentrik pada sekitar akhir abad ke-19 di New England, Amerika Serikat.  Pellinore Warthrop adalah seorang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai doktor dalam bidang permonsteran. Henry menjulukinya sebagai sang Monstrumologist. Objek ketertarikan pria itu adalah mahkluk-mahkluk yang tidak umum, sedemikian tidak umumnya sehingga orang-orang kebanyakan menganggapnya sebagai mitos, misalnya vampir dan manusia serigala. Henry sendiri awalnya skeptis pada minat sang Doktor, tetapi paket yang diantarkan oleh seorang perampok makam ke rumah sang Doktor pada suatu malam langsung menyingkirkan rasa skeptis tersebut. Dia benar-benar melihat sendiri jasad sesosok blemmyae yang menempel pada jenasah seorang gadis yang mati muda. Separuh leher dari gadis itu koyak dimakan si blemmyae, yang ironisnya ikut mati karena tercekik kalung mutiara yang dikenakan si gadis. Fakta berupa sosok blemmyae yang benar-benar ada dan bisa diraba ini membuktikan betapa apa yang dipercayai sang Monstrumologist memang benar-benar ada.

"Berbohong adalah jenis lawakan paling buruk." (hlm 45)

                Blemmyae, yang kemudian disebut anthropophagi oleh sang dokter, adalah mahkluk berdaging yang benar-benar ada. Dalam pandangan sang doktor, anthropophagi ini masih satu saudara dengan Homo sapiens hanya saja keduanya diciptakan sebagai pemangsa dan yang dimangsa. Evolusi menganugerahi Homo sapiens dengan kecerdasan otak, yang kemudian menjadikannya maju dan menguasai daratan Bumi. Spesies anthropophagi yang terdesak kemudian mundur ke pedalaman-pedalaman hutan di Afrika, mengembangkan pertahanan diri serupa binatang buas lainnya. Otot lengan dan tungkainya sekuat macan kumbang—lengkap dengan cakar sekeras baja, matanya seawas burung malam, dan mulut yang lebih mengerikan ketimbang mulut hiu. Bisa dibilang, anthropophagi bukanlah mahkluk mitologi, melainkan spesies binatang primata yang buas, sebagaimana singa atau harimau. Kecuali itu, anthropophagi dewasa memiliki tinggi 2 meter dan mampu melompat sejauh 12 meter sekali lompat. Bayangkan jika ada sekawanan mahkluk seperti ini di tengah-tengah kawasan padat penduduk di Dunia Baru.

                Bukti yang dibawakan si perampok makam hanyalah awal dari kengerian yang akan melanda New Jerusalem, kota tempat sang monstrumologis tinggal. Belum juga ketemu jawaban tentang mengapa mahkluk buas dari Afrika itu bisa sampai ke Amerika, korban keburu berjatuhan. Dari yang awalnya hanya memakan mayat, kawanan anthropophagi melakukan serangan yang menyasar manusia hidup. Satu keluarga tak bersalah habis menjadi korban keganasan kawanan anthropophagi misterius ini. Sebagai sosok yang merasa paling berkompeten dalam bidang ini, sang Monstrumologist terpaksa—sebenarnya dengan senang hati—turun tangan. Tetapi, anthropophagi terbukti terlalu ganas untuk ditangani sang Monstrumologist sendirian. Bantuan terpaksa didatangkan dengan memanggil seorang pemburu berpengalaman dari Inggris. Perburuan pun dimulai. Kali ini, sang pemangsa akan menjadi pihak yang diburu, ataukah malah sebaliknya?

                Hal paling saya sukai dari novel ini adalah karakter-karakternya yang nyentrik habis. Mulai dari sang Doktor, lalu sang Pemburu Bayaran, hingga Henry sendiri—semua karakter utama di buku ini memiliki karakter khasnya masing-masing. Tipikalitas karakter ini konsisten terus sepanjang berjalannya cerita yang mencapai 500 halaman (dan saya membacanya via Scoop dengan layar telepon genggam saya yang hanya 4,5 inci—kepala saya langsung pening begitu selesai maraton membaca novel ini). Karakter sang Doktor yang nyentrik sedikit mengingatkan saya pada Holmes yang angkuh dan soliter,  sementara sosok si pemburu sedikit banyak menyerupai Indiana Jones dalam versi yang lebih serampangan. Setting abad ke-19 di buku ini juga dapat banget: ya muramnya, ya sepinya, ya masyarakatnya. Terakhir, tentu saja spesies anthropophagi yang oleh penulis digambarkan dengan pendekatan scientifik alias ilmiah meskipun pada kenyataannya anthropophagi adalah mahkluk mitologi. Pasti dibutuhkan referensi dalam jumlah berlimpah untuk bisa membangun sosok anthropophagi yang sedemikian meyakinkan ganasnya seperti di buku ini. 

"Seringkali, monster yang menjejali benak hanya terlahir dari imajinasi kita yang dipenuhi rasa takut." (hlm. 104)

No comments:

Post a Comment