Search This Blog

Friday, October 28, 2016

Holy Mother, Ibu akan Selalu Melindungimu



Judul: Holy Mother
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: 280 hlm
Cetakan: 1, Otober 2016
Penerbit: Haru

32450412

Pertama kali membaca karya Akiyoshi Rikako, saya jadi tahu kalau dia adalah penulis yang gemar menipu dan mempermainkan pembacanya. Tapi, bukan dalam artian yang jelek. Novel  The Girl in the Dark mempermainkan pembaca sejak awal, membuat kita menebak-nebak siapa si pelaku. Dan seiring dengan berakhirnya cerita, penulis dengan seenaknya (atau dengan lihainya) mengugurkan semua tebakan pembaca dengan twist yang membuat pembaca tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan acungan jempol dan minimal empat bintang. Iseng saya mencoba mencari-cari plothole yang bisa merusak twist ala penulis, tapi susahnya minta ampun. Penulis ini rapi banget menyembunyikan jebakan, membangun cerita, dan bikin pembaca kecele.

Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun ditemukan tewas dengan kondisi alat kelamin yang sudah terpotong. Sama sekali tidak ada bukti atau petunjuk sekecil apa pun yang dapat membantu polisi untuk memburu pelaku. Dengan cerdasnya, pelaku telah mencuci mayat dengan cairan pemutih yang konon bisa menguraikan protein atau DNA tubuh. Jadi, apakah kemudian Holy Mother mengajak pembaca untuk menebak si pelaku? Ternyata tidak. Pelaku pembunuhan itu bahkan sudah disebutkan di halaman **. Penulis kayak selow banget kasih tahunya. Saya yang sedang menikmati deskripsi tahu-tahu saja disodori fakta bahwa orang inilah pembunuhnya. Saya sampai harus mengulang membaca mulai satu paragraf di atasnya  untuk benar-benar memastikan bahwa penulis memang bermaksud menunjukkan bahwa tokoh inilah si pembunuh berdarah dingin itu.

Kemudian, khas cerita-cerita detektif, alur pembunuhan sengaja dikacaukan dengan menghadirkan tokoh-tokoh lain: dua detektif yang ditugasi menyelidiki kasus ini, seorang pelajar SMU yang suka berlatih kendo, ibu rumah tangga yang khawatir anaknya akan jadi korban, beberapa tetangga korban. Masa lalu dari beberapa tokoh ini diulas hingga detail. Sepertinya tidak ada kaitan antara satu sama lain dengan kasus pembunuhan keji itu, tetapi ternyata ada benang merahnya. Paling menarik tentu saat pembaca diajak mendalami pikiran si pembunuh. Bagaimana dengan telaten dia memilih dan mendekati calon korbannya, saat pelaku menghabisi korbannya, caranya menghilangkan jejak, bagaimana menyembunyikan barang bukti, hingga target berikutnya. Dan, ternyata memang bukan si pembunuh ini yang jadi misteri utamanya. Masih ada kejutan-kejutan besar yang disimpan penulis pada halaman-halaman belakang. Kalau boleh menyumpah, mungkin saya akan bilang Holy fuck! *maaf* Mulai dari sampul buku hingga judul, semua terkait dengan rahasia besar yang menunggu di belakang. Sial, keren bangerrrtttt.

Holy Mother adalah buku ketiganya yang terbit di Indonesia, setelah The Girl in the Dark dan The Dead Return. Saya tidak menemukan keseruan novel pertama di The Dead Return, dan serasa menemukan kembali Akiyoshi Rikako di buku ketiga ini. Penulis ini seolah kembali pada genrenya, pada kebiasaannya yang suka seenaknya sendiri membiarkan pembaca jadi merasa ‘kentang’ di akhir kisah. Tapi, saya menyukai caranya mengakhiri kisah. Membiarkan pembaca berkreasi dan menebak-nebak sendiri bagaimana sebenarnya ending dari kisahnya. Holy Mother juga, dan bahkan apa yang dimuat di buku ini—menurut saya—lebih simpel sekaligus lebih berlapis-lapis dalam menipu pembaca. Semua tebakan saya gagal total, dan si penulis dengan lihainya malah menghadirkan sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan. Dibutuhkan kerapian dan ketelatenan luar biasa untuk menyembunyikan semua petunjuk atau plothole yang bisa muncul di Holy Mother. 
Sebuah novel misteri yang bagus itu aneh, karena saat membacanya kita begitu tidak sabar untuk mengetahui akhir kisahnya. Tetapi begitu sampai halaman akhir, rasanya ingin kembali masuk untuk menikmati kepiawaian penulis membangun plot dan menyembunyikan berbagai petunjuk. Buku ini telah bertindak seperti itu kepada saya. Rela deh bangun dini hari demi agar bisa merampungkan membacanya, dan memang kisahnya tidak mengecewakan. Hal-hal lain yang layak diacungi jempol dari buku ini adalah risetnya yang detail, eksekusinya yang rapi, serta terjemahannya yang mulus. Mas Andry memang kece deh terjemahannya. Saya seringkali mentok dan cepat bosan saat baca novel terjemahan dari Jepang (entah kenapa) tapi novel-novel Akiyoshi Rikako adalah pengecualian. Penulisnya keren, penerjemahnya juga keren. Empat bintang untuk buku ini.

2 comments:

  1. Akiyoshi Rikako memang meruoakan salah satu penulis thriller yang mempunyai banyak penggemar di Indonesia.

    Tulisannya sangat bikin penasaran, aku baru mau baca GITD November nanti. Memang, GITD adalah buku pertamanya yang baru akan aku baca, tapi aku tidak ragu untuk membaca buku ketiganya ini: Holy Mother.

    Mungkin setelah baca nanti, keyakinanku untuk menjadikan dia salah satu penulis fav. ku jadi makin besar. Terima kasih review nya Mas. Berisi dan detil sekali. G'Job!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kaish ya sudah mampir, iya pokoknya nggak rugi baca ini.

      Delete