Search This Blog

Showing posts with label Novel seru. Show all posts
Showing posts with label Novel seru. Show all posts

Friday, September 12, 2014

Sabtu Bersama Bapak


Judul : Sabtu Bersama Bapak 
Penulis : Adhitya Mulya 
Penerbit : GagasMedia 
Tahun terbit : Juni 2014 
Cetakan : Pertama 
Tebal : 278 hlm 

ISBN : 979-780-721-5 



22544789


Bayangkan sebuah perpaduan antara buku parenting, sebuah novel karya Mitch Alboms, dan buku humor-galau-jomblo (yang lagi nge-hits saat ini) yang semuanya lalu dijadikan dalam satu buku tipis. Maka, resep unik itu akan menghasilkan buku baru berjudul Sabtu Bersama Bapak yang kece ini. Saat menemukan judul yang unik ini di salah satu toko buku online, saya sedikit banyak langsung teringat sama salah satu novel bestseller Mitch Albom yang judulnya Tuesday with Morrie. Hampir agak terlalu mirip bukan? Satu lagi kemiripan di antara kedua novel tersebut, dua-duanya sama-sama inspiratif, dan juga sama-sama bestseller. Tapi, mentang-mentang judulnya mirip, apa kemudian buku ini menjiplak karya Albom? Setelah saya membaca sendiri kedua buku tersebut, ternyata keduanya berbeda, masing-masing unik dengan caranya masing-masing. Dan, saya menyukai keunikan dalam buku Sabtu Bersama Bapak ini. Lalu, sebenarnya, buku ini tentang apa sih kok bisa heboh?

Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang dua saudara, kakak-beradik bernama Satya dan Cakra yang keduanya terpaut usia 3 tahun. Bapak mereka meninggal karena kanker saat keduanya masih kecil dan belum mengerti apa itu hidup. Sang Bapak, yang divonis dokter hanya punya sisa waktu satu tahun lagi untuk hidup, memutuskan bahwa ia harus mencari cara agar dirinya bisa tetap mendampingi anak-anaknya meskipun dia sudah tidak ada. Maka, dia mengabadikan dirinya lewat rekaman kaset di handy cam. Melalui kaset video, sang Bapak merekam petuah – petuah yang telah dia pelajari mengenai kehidupan, mulai dari mencari cinta, menjadi suami yang harus bisa membahagiakan istri, tentang pentingnya perencanaan sebelum menikah, hingga pentingnya nilai IPK di atas 3. Rekaman-rekaman ini dibagi dalam kaset-kaset yang kemudian akan diputar seminggu sekali, setiap hari Sabtu bakda ashar.

Maka, ketika anak-anak lain seusianya sibuk ngemal atau pacaran ngak jelas di Sabtu sore, Satya dan Cakra malah asyik di rumah untuk menonton kaset rekaman dari mendiang ayah mereka. Melalui media kaset itulah sang Bapak mendidik dan menemani putra-putranya tumbuh besar. Model pengabadian diri lewat kaset rekaman ini sudah pernah saya baca dalam salah satu kumpulan kisah inspiratif di internet, tapi Aditya Mulya punya cara lain untuk membuat buku ini berbeda—walaupun tetap inspiratif—yakni dengan membully Cakra (dan juga para jomblo sebangsa dan setanah lapang). Sumpah deh, kaum jomblo dimanapun Anda berada bakal disentil habis-habisan oleh buku ini. Hanya saja, kesentilnya di sini itu kesindir sekaligus terhibur, bisa ngakak kepontal-pontal.

HATINYA-HATINYA!
JEROAN DIJUAL MURAH!
HATINYA, BU! MASIH SEGAR! HATI JOMBLO BU, LIHAT INI BANYAK BEKAS LUKANYA
HIDUPNYA BERAT INI, BU! (hlm 169)

Ceritanya, si Cakra ini sukses dalam pekerjaannya, tapi merana dalam percintaannya. Dalam usia 30 tahun, dia sudah punya rumah dan mobil sendiri, tapi boboknya belum ada yang menemani (halah). Sampai Satya udah punya anak tiga, si Cakra ini masih saja betah dengan kesendiriannya (gimana ngak betah, rumah sendiri, rezeki tercukupi, makanan enak menanti, PS keren peneman sepi). Sang Ibu sudah berulang kali mencarikan calon menantu, tetapi Cakra keukeuh adem aja, pengen konsen ke kariernya katanya. Hebohnya lagi, selain di-bully dalam setiap acara keluarga, Cakra ini juga di-bully sama bawahan-bawahan di kantornya. Heran saya, bawahannya Cakra ini bocor pada orang-orangnya, tapi sekaligus asik. Ini menunjukkan betapa Cakra sejatinya adalah seorang pimpinan yang merakyat, tidak gampang marah, asyik diajak bercanda (tapi dia jomblo wkwkwk). 

---

Pagi, Pak Cakra
Pagi, Wati
Udah sarapan, Pak?
Udah, Wati
Udah punya pacar, Pak?
Diam kamu, Wati

---

Pagi, Pak
Pagi, Firman
Pak mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting
Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?
Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo
Enyah, kamu. (hlm 43)

Selang-seling kisah Cakra dan Satya di buku ini. Sementara Cakra sibuk mencari jodoh, Satya sibuk memikirkan ulang perannya sebagai suami dan ayah yang baik bagi ketiga anaknya. Rutinitas kerja yang klise, telah menjauhkannya dari istri dan ketiga anaknya secara fisik (dan akhirnya secara mental). Dalam kondisi inilah, Satya mendapatkan kembali motivasi dari rekaman kaset almarhum Bapaknya. Kita bisa belajar banyak tentang ilmu parenting dari kisah Satya ini, setelah sebelumnya dibuat ngakak total oleh kisah cinta Cakra yang mengenaskan itu. Membaca buku ini ibarat memakan kue lapis legit, satu lapisan manis, dan satunya lagi anyep, tapi sama-sama enak. Setelah tertawa-tawa sampai bocor membaca kisah Cakra (sambil ngaca), kita juga diajak belajar akan pentingnya makna hidup oleh kisah Satya dan ibunya.

“Ya Allah, berikanlah kepada Kang Saka, jodoh secepatnya.”
“AMIIIN.”
“Loh? Pak Ustaz.. doanya tentang rumah ini aja.”
“Oh. Baik.”
“Ya Allah, jadikanlah rumah ini, tempat yang Engkau restui. Tempat barokah-Mu turun, ya, Allah…”
“AMIIIN.”
“Berikanlah kepada rumah ini, wanita yang mengurusnya, istri untuk Kang SAka.”
“AMIIIN”

“Loh? Loh?? Loh!!?? Pak…”
"Ah, sudahlah..."

Terlepas dari kisah miris Cakra dan kematian Bapak mereka yang terlalu dini, bisa dibilang Satya dan Cakra adalah pria pria yang beruntung. Mereka memiliki Bapak yang perhatian, yang tahu pentingnya pendidikan dan perencanaan. Jadi, meskipun mereka hanya bisa “bertemu” Bapak mereka sekali seminggu, tetapi mereka adalah contoh anak yang sukses dibesarkan. Mandiri, mapan, dan membangun keluarga sendiri (kecuali si Cakra yang agak telah *ditampol Cakra), keduanya adalah tipe pria idaman para mertua. Meskipun banyak kalimat-kalimat yang kesannya mengurui dan sok sempurna di buku ini, tetapi kelincahan penulis mampu melarutkan kekakuan yang sering muncul saat kita membaca buku motivasi, terutama dengan membully si Cakra (*sambil ngaca ke diri sendiri). Sebuah buku yang unik, asyik, dan inspiratif. Patut dibaca bagi para pemuda yang ingin menjadi kesayangan calon mertua. Saya juga setuju dengan Dhila, tokoh Bapak dan Ibu di buku ini terlalu gaul untuk ukuran zamannya. 

Sebentar, jadi bagaimana nasib si Cakra? Tenang, seperti kata iklan, semua akan indah pada waktunya *kibas rambut

Tuesday, May 13, 2014

Beyonders 2, Seeds of Rebellion

Judul : Beyonders, Seeds of Rebellion
Pengarang : Brandon Mull
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : tendy Yulianes
Penyelaras Aksara : F. Fauzi
Sampul : V Indra Suriantoso
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Cetakan : 1, Januari 2014




                Petualangan Jason dan Rachel di Lyrian berlanjut dan semakin seru saja. Jika di buku pertama pembaca baru sekedar diperkenalkan dengan buah gelembung dan orantium, di buku kedua ini penulis mengajak kita untuk menjejahi lebih jauh pelosok-pelosok daratan Lyrian. Merentang mulai dari Lyrian Barat, petualangan kali ini bergerak menyusuri satu demi satu kota, hutan, sungai, kerajaan asing, rawa, hingga rawa-rawa di Lyrian, yang masing-masing menyimpan pesona dan misteri sendiri. Mulai dari menghadapi sosok purba yang menghantui Pulau Terbenam, berlari mendahului kejaran pasukan Maldor, menikmati keindahan Tujuh Lembah, berjuang di Celah Melolong, hingga menghadapi serbuan pasukan zombie. Nah iya, jarang-jarang di novel fantasi memasukkan unsur zombie jahat pemakan otak, tapi Mull sudah menggunakannya di seri fablehaven (sedikit), dan ia mengolahnya lagi di buku kedua Beyonders ini. Begitu lihainya Mull bercerita sehingga sentuhan ganas zombie di buku ini tidak terlalu menggerikan sehingga mengubah buku ini menjadi buku horror.

                Dari segi cerita, buku kedua ini jauh lebih seru dari buku pertama. Jika di Beyonders 1 kita mengikuti petualangan Jason dan Rachel dalam mengumpulkan silabel, maka di buku 2 ini (sebagaimana judulnya) Jason dan Rachel kembali berpetualang untuk mengumpulkan para pasukan dan sekutu. Mereka berencana untuk mengalahkan maldor dengan cara mempersatukan seluruh penghuni benua Lyrian yang sudah muak dengan kekejaman Maldor. Bisa dibilang, buku kedua ini adalah pemanasan sebelum pecahnya perang besar di Lyrian, tangga menuju puncak pertempuran epic yang pasti akan sangat ditunggu oleh pembaca. Buku kedua ini juga lebih kaya konflik, lebih banyak karakter baru yang bermunculan (khas Brandon Mull adalah dia gemar sekali memasukkan banyak karakter dalam ceritanya tanpa membuat pembaca bosan atau kebingungan), juga mengajak pembaca mengenal Lyrian lebih jauh. Di buku dua ini juga kita akhirnya bisa masuk dan menikmati pemandangan Kerajaan Tujuh Lembah yang dikuasai oleh manusia benih atau kaum Amar Kabal.

                Dalam akhir buku satu, Jason akhirnya mengetahui kebenaran tentang silabel. Ia juga berhasil pulang ke luar, ke dunianya sendiri, hanya saja dia tidak membawa Rachel bersamanya. Gelisah karena misi yang belum selesai dan juga kegagalannya membawa Rachel pulang membuat Jason bertekad kembali ke Lyrian. Dan dia berhasil, dengan cara yang sama dengan sebelumnya: lewat mulut kudanil. Di Lyrian, ia menemukan bahwa Maldor telah berbuat nekat setelah Jason mengetahui kebenaran tentang silabel. Raja lalim itu menyerang Galloran dan memerintahkan pembasmian kepada para penjaga silabel. Jason harus bertindak, dengan sekutu baru dia bergerak untuk bergabung dengan pasukan Galoran. Di sini pula ia akhirnya bertemu dengan Rachel—yang saat itu sudah belajar ilmu sihir. Keren nih, Rachel bisa menyihir.


                Bab demi bab setelahnya seolah bergerak seru tanpa henti. Begitu susah menghentikan pembacaan Beyonder 2 ketika kita sampai di seperempat awal. Mull piawai banget membangun cerita yang kaya konflik, tak tertebak, sekaligus menghadirkan setting Lyrian yang unik, eksotis, sekaligus misterius. Mulai dari manusia benih hingga zombie, dari peramal hingga monster purba, dari manusia-manusia daun hingga aneka satwa tak terbayangkan di kedalaman hutan; semua ini menjanjikan alam petualangan yang pasti akan sangat dirindukan pembaca begitu mereka selesai membaca buku ini. Alur ceritanya juga tak tertebak. 

                Dan begitu kita sampai ke penghujung buku ini, penulis kembali menyajikan sebuah ramalan yang pasti bakal membuat pembaca bertanya-tanya akan seepik apa ending dari ketiga seri Beyonders ini. Benarkah pertempuran akhir antara Galloran dan Maldor akan menjadi adegan yang bersejarah di Lyrian? Kita tunggu saja rilis bukunya. Satu hal yang jelas, kecenderungannya Om Mull ini kalau menulis, semakin ke belakang ceritanya semakin bagus. Buku kedua saja bagus banget, buku ketiga semoga semakin keren. Kepada Mizan, terima kasih sudah menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya Brandon Mull yang keren ini.  

Monday, March 17, 2014

Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC

Judul : Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC
Pengarang : ES. ITO
Penyunting : Yulia Fitri
Sampul : Windu Budi
Cetakan : 1, Agustus 2007
Penerbit : Hikmah
Tebal : 675 hlm



“Novel yang dahsyat detail sejatahnya dan inspiring. Pram muda telah lahir …”

                Sepenggal pernyataan Fadjroel Rachman terhadap novel Rahasia Meede di atas begitu tepat menggambarkan kualitas seorang ES ITO sebagai pengarang buku ini. Dalam hal menyindir dan menyentil hati pembaca Indonesia, gaya penulis memang agak mirip dengan gaya Pram, hanya saja dalam konteks yang lebih kekinian. Sementara dari detail dan alur cerita, tidak bisa tidak, pembaca akan teringat dengan Dan Brown saat mengarang Da Vinci Code, meskipun novel ini jauh lebih detail dan kaya akan informasi sejarah. Salut sekali saya dengan kepiawaian penulis dalam meramu unsur-unsur sejarah, kemudian menyajikannya dalam sebuah prosa yang tidak hanya sastrawi, namun juga informatif dan sangat seru. Aneka kejadian, konspirasi, dan narasi bergerak cepat, saling susul-menyusul sehingga pembaca seolah diajak adu balap dalam ceritanya. Belum lagi aneka informasi sejarah tentang masa lampau Hindia Belanda, VOC, hingga akhirnya ke masa-masa perjuangan Kemerdekaan RI; semuanya dirangkum dan dituliskan dalam lajur-lajur tulisan yang padat tetapi tetap enak dinikmati.

                Secara garis besar, Rahasia Meede meniru Dan Brown dalam mengolah sejarah menjadi sebuah konspirasi. Sebuah terowongan kuno ditemukan tepat di bawah kota Jakarta dengan pintu masuk di dalam Museum Sejarah Jakarta. Jalur terowongan itu memanjang melewati bangunan-bangunan bersejarah yang tersebar di kota tua: Museum Bank Mandiri, Lapangan Merdeka, Istana Negara, bahkan sampai ke Monas. Tidak ada yang mengetahui ini selain 3 peneliti Eropa yang disewa oleh Dinas Kebudayaan Indonesia. Mereka yakin, terowongan itu akan berujung pada batang-batang emas simpanan VOC yang diklaim dapat digunakan untuk melunasi utang luar negeri Republik Indonesia.

                Sementara itu, pembunuhan berantai terjadi di penjuru Nusantara dan dunia. Lima tokoh besar ditemukan tewas di kota-kota yang berawalan dengan huruf B, yakni Boven Digoel, Banda, Brussel, Bukit Tinggi, dan Bangka. Pada masing-masing mayat ditemukan juga selebaran berisi satu dosa dari Tujuh Dosa Sosial yang dicetuskan Mahatma Gandhi.

                Perniagaan tanpa moralitas
Politik tanpa etika.
Sains tanpa humanitas.
Peribadatan tanpa pengorbanan
Kekayaan tanpa kerja keras
Pengetahuan tanpa karakter
Kesenangan tanpa nurani.

Lima korban, dan dua korban lagi di dua kota yang juga berawalan dengan huruf B. Wartawan Batu Noah Gultom ditugaskan oleh harian Indonesiaraya untuk mengikuti kasus ini. Kepolisan telah menudingkan telunjuknya ke gerombolan Anarki Nusantara yang dipimpin oleh Attar Malaka. Kelompok ini bertujuan untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan dengan tangan mereka sendiri. Mereka tidak mengakui hukum dan bergerak atas nama pribadi. Petunjuk pertama membawa Batu ke pelosok Nias, mencari tahu lambang tato yang konon paling tua di dunia. Pembaca akan diajak menjelajahi kepulauan terpencil ini, dengan segala aspek budaya dan alamnya yang masih sangat asri, benar-benar tamasya yang menyenangkan.

Sementara di Jakarta, ketiga peneliti Eropa itu dikejutkan oleh temuan mereka di lorong bawah Jakarta, sebuah penemuan yang akhirnya menjerumuskan ketiganya dalam sebuah konspirasi mengerikan. Peneliti lain, Cathleen, yg juga berasal dari Belanda malah menjadi korban penculikan ketika dia menaiki penahu pinisi di Tanjuk Priok, yang membawanya jauh ke pedalaman kepulauan Banda dan rempah-rempahnya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa dirinya juga telah terseret dalam sebuah perseteruan maut antara dua kelompok yang memperebutkan emas VOC. Siapakah penjahat yang sebenarnya? Konspirasi apa yang sedang terjadi? Dan siapakah tokoh pahlawan dalam novel ini? Serta, apakah emas VOC itu benar-benar ada? Rasa ingin tahu pembaca akan terus diseret sepanjang membaca novel ini. Setiap kalimatnya mengintimidasi untuk terus melanjutkan, meskipun sesekali pembaca harus berhenti sejenak untuk mengelus dada saat sindiran-sindiran penulis begitu telak menghantam jati diri kita sebagai manusia Indonesia.

Dari Kota Tua Jakarta, pembaca akan diajak berjalan-jalan ke pedalaman Nias dan Sumatra, berpesiar naik perahu pinisi ke Makasar, menikmati aroma rempah di Maluku, melompat ke dinginnya Brussel dan Belanda, lalu kembali lagi ke kepadatan Jakarta. Mengobrak-abrik Menteng, menyelusup ke Istana Merdeka, menerobos jauh ke dasar Monumen Nasional, berputar-putar di Pulau Onrust, lalu masuk ke dalam sebuah kelas nan bersahaja di pelosok Sumatra. Semuanya digambarkan dengan begitu detail dan narasi yang tajam, tidak berboros kata tetapi benar-benar sangat menusuk rasa ke-Indonesiaan kita. Gelontoran fakta sejarah juga tak habis-habisnya diobral si penulis. Kita diajak berkenalan dengan JP Coen yang ternyata dulunya adalah seorang akuntan, dengan tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Hatta dan M. Gandhi, ikut masuk dan mempelajari kantor wartawan, dan merasakan bagaimana kerja seorang intelijen negara. Luar biasa! Penulis pasti melakukan riset yang tidak main-main saat mengarap buku ini.

Ketika akhirnya Batu dan Cathleen dipertemukan dengan sosok misterius pemimpin Anarkhi Nusantara, semakin jelaslah siapa dalang sesungguhnya dibalik konspirasi besar yang telah berusia ratusan tahun ini. Merentang sepanjang hampir 400 tahun sejak VOC berlabuh di pulau Onrust hingga pendirian Monumen Nasional, telah tersusun untaian sejarah panjang kolonial yang begitu kelam sampai akhirnya cahaya benderang muncul ketika M. Hatta menandatangani Penandatanganan Kedaulatan republic Indonesia. Dan lebih dari enam puluh tahun setelahnya, generasi Indonesia yang lebih muda, harus berjuang menyelamatkan keutuhan negara dari konspirasi tangan-tangan kekuasaan yang hendak menjungkirkan kedaulatan negara yang sudah susah payah dibangun oleh para pendiri bangsa. Sebuah bacaan yang sangat bergizi.



Friday, December 20, 2013

Beyonder

Judul : Beyonder
Pengarang : Brandon Mull
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penyunting : Silvero Shan
Tebal : 600 halaman
Cetakan: 1, November 2013
Penerbit: Mizan Fantasi



                Brandon Mull, melalui Beyonders semakin membuktikan dirinya sebagai pengarang kisah fantasi yang membius pembaca, tidak kalah membius dibanding memakan buah beri lumba. Setiap cerita yang ia kisahkan selalu mampu membawa pembaca ke alam petualangan yang tidak pernah membosankan. Jika dalam seri Fablehaven kita mendapati petualangan yang susul-menyusul dan plot yang tak terduga, maka dalam Beyonders ini penulis membuat pembaca menanti-nanti dan menebak-nebak apa yang kiranya akan ditemui oleh Jason dalam Rachel dalam petualangan mereka di Dunia Lyrian. Sebagaimana kata kritikus, Beyonder ini ditulis dengan sangat rapi dan runtut-teratur. Jika dibayangkan, kisah ini mirip sebuah kotak yang sisi-sisinya pas membentuk persegi sempurna. Dari sisi cerita memang tidak (atau belum) seseru seri Fablehaven kara Om Brandon ini punya kebiasaan menulis cerita yang agak datar di awal tetapi semakin seru ke seri-seri berikutnya.
                Beyonders berkisah tentang Jason Walker, seorang anak remaja berusia 13 tahun yang tersesat masuk ke sebuah dunia lain bernama Lyrian. Selama berabad-abad, manusia diketahui telah menyeberang ke dunia Lyrian lewat berbagai cara, umumnya secara tidak sengaja melalui lengkung batu alam, lorong dekat puncak gunung, atau batang pohon mati. Untuk kasus Jason, kasusnya agak unik: ia masuk ke Lyrian lewat mulut kuda nil—salah satu sisa-sisa gerbang sihir Lyrian yang jarang digunakan. Sendirian di Lyrian, ia mendapati dunia itu dikuasai oleh seorang penyihir lalim bernama Maldor (remind me about Mordor #eh since Mull himself said that he has only one life to be presented to Gondor or Rohan’s Kingdom in Tolkien’s Middle Earth). Maldor menindas Lyrian, mengisolasi antar provinsi, dan melakukan teknik-teknik sedemikian rupa agar tidak terjadi pemberontakan dan kekuasaannya bertahan lama.

                Disinilah letak kejeniusan Maldor (atau penulisnya) karena dalam cerita yang tampaknya sederhana ini penulis telah membangun sebuah dunia fantasi yang baru, lengkap dengan berbagai intrik pemerintahan nan cemerlang. Bagaimana Maldor menindas rakyatnya sedemikian rupa sehingga membuat rakyat takut padanya tapi tidak memberontak kepadanya, bagaimana ia membangun kastil Harthenham sebagai sebuah opsi untuk melenyapkan musuh-musuhnya secara menyenangkan, dan bagaimana ia menyembunyikan Kata. Jason mengetahui, melalui kunjungannya ke Rumah Pengetahuan, bahwa ada sebuah kata sihir yang bila diucapkan tepat di depan Maldor akan membuat penyihir lalim itu langsung hancur dan melebur. Kata sihir itu tersusun atas 6 silabel, yang masing-masing harus dikumpulkan untuk kemudian disatukan dan diucapkan langsung di depan Maldor sendiri agar dapat bekerja.

                Maka, dimulailah petualangan Jason  untuk menemukan keenam silabel yang akan membentuk Kata. Awalnya, ia memburu Kata untuk mengetahui jalan pulang kembali ke dunianya. Tapi, seiring dengan perjalanannya ke dunia Lyrian, Jason perlahan mulai diyakinkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan negeri itu: sama sekali tidak ada orang yang mau berjuang melawan Maldor, sama sekali tidak ada pahlawan di dunia yang menakjubkan itu. Dan, kini, dengan dipandu oleh pengetahuan dari seorang pahlawan tua yang telah dikalahkan Maldor serta seorang gadis dari Dunia Luar yang juga sama-sama tersesat di Lyrian seperti dirinya, Jason harus mengumpulkan enam silabel yang menyusun Kata. Petualangan seru menanti di depan. Dari seorang remaja biasa, Jason dan Rachel harus bekerja sama menghadapi berbagai mahkluk berbahaya yang tidak pernah mereka jumpai di Bumi. Mulai dari kepiting raksasa penjaga silabel kedua, hingga ular berbisa yang mengelilingi lokasi persembunyian silabel keenam. Silabel-silabel lainnya juga tidak mudah di dapatkan. Keduanya harus naik ke kawah dan bahkan terlibat dalam intrik politik. Begitu beragamnya petualangan di dunia Lyrian.

                Seandainya ada peta di buku ini, pembaca pasti akan lebih mudah menikmati petualangan Jason dan Rachel dalam memburu kata. Tapi, sebagaimana kata Galloran, sang Raja Buta, bahwa tidak ada peta di Lyrian. Maldor telah memusnahkan semua jenis peta dan melarang penggambaran peta Lyrian. Ini sebagai bagian dari politiknya untuk mengisolasi provinsi-provinsinya agar tidak menjalin persekutuan untuk memberontak. Negeri itu juga tidak ramah terhadap para penggembara karena Maldor hendak memastikan siapapun yang berniat mencari silabel Kata agar menyerah dan menghentikan upayanya. Begitu kuatnya pengaruh Maldor, sampai-sampai Om Brandon pun terpaksa tidak memuat peta dalam novelnya ini!

                Dari segi terjemahan, saya harus berteriak HORE kepada sang penerjemah dan editornya. Terjemahan Beyonders minim sekali serapan kata asingnya, hampir semua kata dalam bahasa asli diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran, kecuali sedikit yang tidak diterjemahkan karena itu adalah nama atau gelar kebangsawanan. Menyenangkan sekali membaca Beyonders karena rasanya tidak seperti membaca buku terjemahan, diperlukan pengetahuan dan pencarian yang amat teliti dalam menerjemahkan novel ini, saya yakin. Untuk salah ketik, saya hanya menemukan dua kali typho, salah satunya kata muncub yang seharusnya muncul. Selamat kepada Jason dan Rachel, kisah kalian diterjemahkan dan disunting dengan baik.  

                

Tuesday, December 3, 2013

Mockingjay

Judul : Mockingjay
Pengarang : Suzanne Collins
Penerjemah : Hetih Rusli
Cetakan : Sembilan, Nov 2012
Halaman : 423 hlm
Penerbit: Gramedia



13408579


 “Api sudah tersulut. Dan jika kami terbakar, kau terbakar bersama kami!” (hlm 113)


               Akhirnya, inilah seri terakhir dari trilogi bestseller yang sempat menghebohkan dunia perbukuan Indonesia tahun 2011 yang lalu, The Hunger Games : Mockingjay.  Di seri terakhir ini, pembaca tidak lagi disuguhi arena Hunger Games atau Quarter Quells yang—menurut saya—merupakan daya tarik utama dari seri ini. Setelah Katniss Everdeen selamat dari dua kali pertandingan Hunger Games, di mana pada permainan yang terakhir ia juga telah mengacaukan—bahkan menghentikan—permainan biadab yang telah terselenggara selama 75 tahun. Quarter Quells terakhir rusak, banyak peserta menjadi korban. Tetapi ini barulah awal dari pemberontakan besar melawan Capitol. Dengan dipimpin oleh Distrik 13 yang dikira sudah musnah, seluruh distrik di Panem mulai bergolak untuk melawan Capitol. Semuanya bersatu dan tersatukan oleh aksi dramatis Katniss dan Peeta. Sebagai lambang pemberontakan, Katniss berhasil diselamatkan, tetapi Peeta jatuh ke tangan Capitol. Maka dimulailah pertempuran gerilya antara para pemberontak melawan Capitol. Panem sekali lagi menjadi wilayah yang bergolak.

Map of Panem www.hungergameslessons.com
 sumber: hungergameslessons.com



                Tidak seperti buku-buku sebelumnya, Mockingjay tidak lagi menampilkan arena pertarungan epic ala Hunger Games. Alih-alih, pertempuran kini berpindah ke seluruh Panem. Satu demi satu distrik mulai berjatuhan ke tangan pemberontak. Distrik 12 sudah musnah, dibombardir oleh Capitol ketika Katniss lolos dari Quarter Quells, menyusul Distrik 8, yang juga di bom padahal rakyat di sana sudah menderita. Langkah kalap Presiden Snow (diktator Capitol) inilah yang berbalik menghantam kekuasaannya. Satu per satu distrik lepas dan menyatakan memberontak terhadap Panem, kecuali Distrik 2 (yang akhirnya jatuh juga ke tangan pemberontak). Setelah itu, Peeta-lah yang menjadi target penyelamatan selanjutnya. Tapi sayang, Peeta kini tidak lagi sama dengan Peeta yang dulu. Capitol telah mencuci otak pemuda itu. Peeta yang dulu rela berkorban demi Katniss kini menjadi musuh terbesarnya.


                Secara aksi, Mockingjay kurang seru bila dibandingkan Catching Fire atau  The Hunger Game. Perasaan deg-degan atau terpesona oleh teknologi yang mewarnai arena Hunger Game tidak lagi ditampilkan disini. Buku ketiga ini lebih menyorot pada perkembangan pribadi Katniss sebagai Mockingjay, sementara adegan pertempuran hanya sesekali muncul seperti saat Distrik 8 diserang atau saat pemberontak menghantam Distrik 2. Itupun, scene pertempuran digambarkan “sambil lalu” dan tidak sedetail seperti pada buku sebelumnya. Baru pada menjelang akhir, ada adegan kejar-kejaran dengan para mutan, yang sayangnya tidak “sesadis” pada buku pertama *dikeplak komisi perlindungan pembaca anak dan remaja* Ini sesungguhnya patut disayangkan karena Mockingjay sepertinya kehilangan ciri khasnya dan menjadi seperti novel-novel “pemberontakan” kebanyakan.


                Tetapi, Mockingjay bisa dibilang berhasil sebagai seri yang menutup trilogi Hunger Game ini. Seluruh jawaban dan persoalan terpecahkan. Siapa yang akhirnya dipilih oleh Katniss? Gale atau Peeta. Bagaimana nasib Presiden Snow dan Capitol? Siapa orang penting yang tewas dalam seri ketiga ini? Atau, benarkah bahwa seluruh permainan ini hanyalah intrik politik dengan Katniss dan orang-orang bawah yang menjadi pionnya? Yang jelas, bakal ada twist tak terduga di bab-bab akhir. Saya sampai harus membaca dua kali sebelum ngeh pada apa yang sebenarnya terjadi. Buku yang memikat, tema yang segar, dan penggarapan menawan. Ketiga seri buku ini wajib dibaca dan dikoleksi bagi para penggemar cerita petualangan.

Thursday, October 17, 2013

Throne of Jade (Tahta Langit)

Judul :  Throne of Jade (Tahta Langit)
Pengarang : Naomi Novik
Penerjemah : ine milasari hidayah
Cetakan : 1, 2012
Halaman : 602 halaman
Penerbit : Elex Media Komputindo

18243769


                Takhta Langit adalah seri kedua dari serial Temeraire, menyambung dari buku pertamanya His Majesty’s Dragon. Sebagaimana buku pertama, Takhta Langit masih mengangkat petualangan naga Temeraire dan penunggangnya Will Laurence dengan setting waktu pada masa era Perang Napoleon tahun 1800-an. Berbeda dengan buku pertama yang lebih sarat aksi pertempuran naga di langit, buku ini cenderung lebih kalem dan “lebih politis”. Kalau saya tidak keliru, hanya terjadi tiga pertarungan naga di buku kedua ini: satu saat di lepas pantai Perancis, satu di Samudra Hindia, dan satu lagi di Peking. Namun, bukan berarti buku ini kemudian menjadi tidak menarik. Justru sebaliknya, buku ini istimewa dengan caranya sendiri. Jika di buku pertama kita disuguhi adegan pertempuran, di  buku kedua ini kita diajak untuk berdiplomasi. Lawrence belajar banyak tentang hubungan politik antar negara, yang dituliskan dengan begitu bergairah oleh penulis, sehingga pembaca pun turut belajar banyak. 

                Menyambung cerita pertama, diketahui fakta bahwa Temeraire ternyata adalah seekor naga Celestial yang sangat langka dan berasal dari Kekaisaran China. Adat mengharuskan bahwa seekor Celestial hanya boleh dipasangkan dengan seorang kaisar atau kerabatnya. China kemudian mengirimkan utusan ke Inggris demi menjemput kembali naga Celestialnya. Perundingan politik berlangsung a lot, dan pembaca akan disuguhi dengan betapa rumitnya membicarakan hal-hal yg sifatnya diplomasi antara negara. Tidak boleh asal tebas, semua hal harus dipikirkan secara matang dan hati-hati karena taruhannya sangat besar. Laurence terpaksa menyetujui pemindahan Temeraire ke China. Naga itu mungkin akan dirampas darinya sesampainya di China, tapi paling tidak mereka masih punya waktu 6 bulan untuk bersama di sepanjang perjalanan laut menuju China. Bagaimana langkah selanjutnya setelah sampai di sana, biar takdir yang memutuskan.

                Maka dimulailah perjalanan panjang membawa Temeraire ke China menggunakan sebuah kapal angkut raksasa milik AL Inggris, Allegiance. Di sini, Laurence terpaksa menghadapi masalah lagi saat para penerbang dan marinir—yang memang sejak awal kurang akur—terpaksa hidup bersama di atas sebuah kapal selam 6 bulan. Ini belum ditambah dengan keberadaan rombongan utusan China yang dipimpin oleh  Pangeran Yongxing. Mereka lebih menimbulkan kerepotan di tengah segala ketenangan dan ritual ala Chinanya yang ribet. Sepanjang perjalanan, baik Laurence dan Temeraire harus menghadapi berbagai intrik serta plot rahasia yang rupanya disusun untuk saling memisahkan keduanya. Selain badai yang mengganas di samudra, mereka juga harus bersiap dengan badai yang mengamuk di dalam kapal, perselisihan serta pertikaian yang muncul ketika sekelompok orang tinggal bersama di sebuah kapal selama berbulan-bulan. Hebatnya lagi, Novik mampu menciptakan karakterisasi yang utuh dalam tokoh-tokohnya, semuanya begitu khas dan mudah terbedakan.

                Setelah akhirnya  mereka sampai di China, rombongan Lawrence dipisahkan dari Allegiance. Intrik dan plot baru sudah menunggu. Di negeri asing nan eksotis itu, kembali jalinan persahabatan antara Lawrence dan Temeraire diuji. Bangsa China yang telah terlebih dulu membiakkan naga terbukti sudah jauh lebih mapan ketimbang Eropa dalam memperlakukan naga-naga  di sana. Belum hilang kekaguman Lawrence, sebuah kabar mengejutkan muncul. Sebuah serangan serta intrik rumit tengah disusun oleh para penghuni istana untuk memisahkan sang naga dengan penunggangnya. Bisakan Temeraire dan Laurence bertahan dalam cobaan kali ini? Bagaimana nasib “status Celestial” yang disandang sang naga? Haruskah Laurence mengembalikan naga yang sejak semula memang lebih layak tinggal di China ketimbang di Inggris? Semua akan terjawab dengan sangat memuaskan setelah buku ini selesai dibaca.

                Seperti di awal saya bilang, buku ini sangat “politik” dan minim adegan pertempuran, namun buku ini sangat istimewa dengan caranya sendiri. Novik menggali karakter Lawrence lebih dalam lagi, juga karakter orang-orang di sekitarnya. Semua karakter ia bikin abu-abu, tidak sepenuhnya jahat maupun baik. Karakter paling kompleks dan kaya adalah sang diplomat Hammond. Tokoh yang sepertinya menyebalkan ini ternyata memberikan banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari pembaca tentang tugas dan kewajiban seorang diplomat. Selain itu, buku kedua ini juga memiliki ending yang memuaskan, walau tidak se-epik buku pertama dengan segala pertempurannya. Namun, sekali lagi, buku ini istimewa dengan caranya sendiri. 


Friday, September 13, 2013

And Then There Were None (Sepuluh Anak Negro)

Judul: And Then There Were None
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah:Mareta
Sampul: Satya Hadi Utama
Cetakan: 9, 2011
Halaman: 291 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

               
                Dari sekian banyak novel misteri pembunuhan karya maestro fiksi detektif Agatha Christie, And Then There None adalah salah satu yang paling tidak biasa sekaligus banyak disukai pembaca. Dengan label “Cerita detektif tanpa detektif”, buku ini tetap memukau dengan caranya sendiri, tetap membuat pembaca terhenyak di akhir cerita dan kemudian bertepuk tangan akan kepiawaian penulis dalam “menyesatkan” pembaca. Bagi saya, novel ini adalah salah satu novel Agatha Christie yang paling cepat saya baca karena saking serunya dan karena penasaran mengetahui siapa pembunuhnya. Efek membaca Lalu Semuanya lenyap ini sama dahsyatnya dengan ketika saya membaca Buku Catatan Josephine.

                Dalam Lalu Semuanya Lenyap, pembaca akan diajak rehat sebentar dari keseharian Miss Marple dan kecerdasan Hercule Poirot. Tidak ada yang menyangsikan kecerdasan keduanya dalam menguak kasus, tapi selingan ini juga cerdas dalam cara yang berbeda. Tidak ada detektif dalam novel ini. Tidak ada penyelidikan di dalamnya. Yang ada hanyalah teror, rasa penasaran, penjabaran dari jenis-jenis emosi dasar manusia ketika mereka tengah terancam dan saling mencurigai.

                10 orang yang tidak saling mengenal diundang ke sebuah rumah mewah yang ada di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Tidak ada yang mengenal siapa sang pengundang, yang jelas 10 orang itu hanya tinggal berangkat dan menikmati waktu mereka di pulau itu. Maka, satu per satu tamu berdatangan ke pulau terisolir itu dan pada hari yang telah ditentukan, genap berkumpul 10 orang tamu undangan (8 tamu dan 2 orang yang ditugasi sebagai pelayan) di pulau Negro. Acara yang semula penuh dengan ekspektasi kegembiraan berubah menjadi horor ketika sebuah kaset rekaman diperdengarkan, isinya mengancam akan ada balasan bagi 10 orang bersalah yang ada di pulau itu. Tidak lama setelahnya, korban pertama jatuh. Pemuda gagah itu tiba-tiba memekik dan jatuh mati begitu saja begitu menyesap minumannya setelah makan malam. Beberapa jam berikutnya, korban kedua jatuh di kamarnya sendiri. Dua dari  sepuluh, masih tersisa delapan.

                Dicekam ketakutan dan teror, 8 orang yang masih selamat menemukan bahwa masing-masing mereka akan menjadi korban berikutnya. Polanya mengikuti sebuah sajak berjudul 10 anak negro yang menghilang satu demi satu. Ada seorang pembunuh cerdas di rumah itu, menanti para korbannya lemah sementara mereka tidak bisa keluar atau melarikan diri dari pulau itu. Dan, sang pembunuh tidak membunuh secara acak, namun mengikuti pola yang ada dalam nyanyian sajak sepuluh anak negro. Dan akhirnya, satu per satu korban berjatuhan. Dan, ketidakadilan pun terbalaskan. Apa dan mengapa serangkaian pembunuhan itu dilakukan? Siapa sebenarnya si pembunuh misterius? Dan bagaimana ia membunuh satu per satu korbannya? Tante Agatha memang jagonya bikin pembaca penasaran. Sebuah buku yang wajib dibaca bagi penggemar cerita misteri.

                Seorang teman memberi tahu saya bahwa And There Were None pernah difilmkan, katanya sih settingnya di Indonesia. Yang lebih unik lagi, sajak 10 Anak Negro diterjemahkan dalam lirik lagi di bahasa Indonesia yang sudah kita kenal. Sayang dia lupa menyebutkan dimana ia mendapatkan film itu. Tentunya akan sangat asyik melihat bagaimana sajak itu diterjemahkan. Saya akan mencoba menerjemahkan dan menyadurnya di sini. Iseng amat ya hagagaga

            Tek kotek-kotek-kotek, Anak ayam  turun sepuluh
            Mati satu tersedak minuman, anak ayam tinggal sembilan.
            Mati satu ketiduran, anak ayam tinggal delapan
Mati satu dan tidak pulang, anak ayam tinggal bertujuh
Mati satu terkena potongan, anak ayam tinggal berenam
Mati satu kena sengatan, anak ayam tinggal berlima
Mati satu di depan pengadilan, anak ayam tinggal berempat
Mati satu karena tenggelam, anak ayam tinggal bertiga
Mati satu dimakan beruang, anak ayam tinggal berdua
Mati satu kepanasan, anak ayam tinggal satu-satunya.
Mati satu sendirian, anak ayam habislah sudah. 

Monday, June 24, 2013

The Graveyard Book (Cerita dari Pemakaman)



Judul                   : The Graveyard Book (Cerita dari Pemakaman)

Pengarang         : Neil Gaiman

Alih bahasa        : Lulu Wijaya

Editor                  : Ariyanri E. Tarman

Cetakan               : 1, Maret 2013 (360 hlm)

Penerbit              : GPU


 The Graveyard Book - Cerita dari Pemakaman

                Cerita dari Pemakaman adalah novel karya Neil Gaiman pertama yang saya baca setelah cerpen Batu Nisan si Penyihir dalam kumcer fantasi Wizards. Dan, ternyata, cerpen tersebut merupakan Bab 4 dari buku ini! Gaiman sendiri mengatakan bahwa ia terlebih dulu menulis Bab 4 sebelum kemudian keseluruhan plot dari novel yang sangat seru ini tersusun dan mulai terbentuk di kepalanya. Plotnya simpel namun unik dan niscaya tak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Khas Gaiman banget, suka menulis karya-karya fantasi yang unik dan fresh, tak terpikirkan sebelumnya. Cerita dari Pemakaman berkisah tentang seorang anak yang dibesarkan di makam hingga ia dewasa. Idenya sendiri terinspirasi dari buku The Jungle Book karya Rudyard Kipling, itu lho tentang seorang anak yang dibesarkan di hutan oleh binatang-binatang sehingga ketika ia dewasa ia bisa berkomunikasi dengan binatang dan hidup dengan cara mereka.

                Kembali ke Cerita dari Pemakaman. Nobody Owens adalah seorang anak yang sejak kecil dibesarkan di lingkungan pemakaman oleh mereka yang tinggal dan terikat di pemakaman itu, yakni arwah dari orang-orang  di masa lalu yang dimakamkan di pekuburan itu. Walinya adalah Silas, tidak disebutkan siapa Silas ini yang jelas ia tidak pernah ketakutan dan disebut-sebut berjalan di antara kedua sisi dunia. Mengapa Nobody, yang kemudian dipanggil Bod, bisa tinggal di pemakaman? Karena nyawanya terancam. Setahun setelah kelahirannya, seorang pembunuh bernama Jack menyambangi rumah keluarga bayi itu dan membunuh orang tua serta kakak perempuannya. Bod yang waktu itu masih bayi satu tahun menjadi target berikutnya. Tapi, seolah takdir melindungi, Bod ditelan kabut dan dituntun untuk mengungsi ke arah pemakaman. Begitu mengetahui buruan terakhirnya lepas, Jack mengejarnya ke sebuah pemakaman tua di atas bukit. Tapi bayi itu seperti tiba-tiba raib ditelan kabut, dan perburuan untuk sementara dihentikan.

                Para arwah penunggu kompleks pemakaman tua itu segera berdiskusi dan menetapkan bahwa mereka akan melindungi dan membesarkan bayi malang tersebut. Pasangan Owens (hantu maksudnya) diangkat sebagai orang tua bayi itu. Karena tidak ada hantu yang tahu siapa bayi ini sebenarnya, maka dipanggilah ia Nobody, dan dengan Owens sebagai nama belakangnya. Masa, sejak saat itulah Bod tinggal dan dibesarkan oleh para hantu di pemakaman. Untuk makan sehai-hari, Silas akan membawakan susu, buah, dan makanan kalengan untuk anak itu. Hanya Silas yang bisa keluar dari tempat itu dan menapak ke dunia. 

                Bod pun dibesarkan di tengah kehidupan—eh kematian—para hantu di pemakaman. Ia belajar cara memudar (tak terlihat), merambah mimpi (masuk ke mimpi seseorang), dan Ketakutan. Bocah itu juga mendapat Hak Pemakaman, yang membuatnya bisa menembus peti mati atau batu nisan dan mengunjungi penghuninya. Ia juga melihat, berkomunikasi, dan bersentuhan dengan para hantu. Semuanya berlangsung tenang sampai akhirnya Bod memutuskan untuk mencoba keluar dari pemakaman. Ia bahkan mencoba bersekolah layaknya orang normal. Agak lama baru Bod menyadari bahwa itu merupakan hal yang keliru. Masuk ke dunia manusia bersama orang-orang hidup lainnya ternyata menimbulkan banyak masalah. Ia bertengkar dengan dua berandalan di sekolah dan ditipu oleh seorang pemilik toko yang curang. Keberadaannya yang sebentar di dunia juga telah menyalakan alaram peringatan kepada Jack. Pembunuh itu pun kembali untuk menuntaskan pekerjaannya.

                Tidak diragukan lagi, Gaiman merupakan salah satu penutur kisah fantasi  yang luar biasa. Idenya yang orisinal digarap dengan begitu halus, lembut, seklaigus mengalir lancar. Alih-alih ngeri, pembaca akan dibuai oleh aroma petualangan saat membaca novel ini. Banyak  kejutan dan  petualangan, walau beberapa di antaranya agak absurb. Ini masih ditambah ilustrasi yang mewarnai beberapa halaman di dalamnya. Sungguh sebuah buku yang sulit untuk melepaskan diri darinya begitu kau mulai membacanya, dan kemudian meninggalkan kesan yang begitu mendalam setelah membacanya. Lalu ceritanya? Apakah Jack akhirnya berhasil membunuh Bod? Bagaimanakan asal muasal pembunuhan keji itu? Siapa Jack dan siapa sebenarnya Silas? Dan, bagaimana dengan Bod? Apakah ia akan selamanya menghabiskan seluruh masa kehidupannya di pemakaman? Semua akan terjawab di bab-bab akhir dari buku nan sangat seru ini.