Search This Blog

Tuesday, May 13, 2014

Beyonders 2, Seeds of Rebellion

Judul : Beyonders, Seeds of Rebellion
Pengarang : Brandon Mull
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : tendy Yulianes
Penyelaras Aksara : F. Fauzi
Sampul : V Indra Suriantoso
Penerbit : Mizan Fantasi (Noura Books)
Cetakan : 1, Januari 2014




                Petualangan Jason dan Rachel di Lyrian berlanjut dan semakin seru saja. Jika di buku pertama pembaca baru sekedar diperkenalkan dengan buah gelembung dan orantium, di buku kedua ini penulis mengajak kita untuk menjejahi lebih jauh pelosok-pelosok daratan Lyrian. Merentang mulai dari Lyrian Barat, petualangan kali ini bergerak menyusuri satu demi satu kota, hutan, sungai, kerajaan asing, rawa, hingga rawa-rawa di Lyrian, yang masing-masing menyimpan pesona dan misteri sendiri. Mulai dari menghadapi sosok purba yang menghantui Pulau Terbenam, berlari mendahului kejaran pasukan Maldor, menikmati keindahan Tujuh Lembah, berjuang di Celah Melolong, hingga menghadapi serbuan pasukan zombie. Nah iya, jarang-jarang di novel fantasi memasukkan unsur zombie jahat pemakan otak, tapi Mull sudah menggunakannya di seri fablehaven (sedikit), dan ia mengolahnya lagi di buku kedua Beyonders ini. Begitu lihainya Mull bercerita sehingga sentuhan ganas zombie di buku ini tidak terlalu menggerikan sehingga mengubah buku ini menjadi buku horror.

                Dari segi cerita, buku kedua ini jauh lebih seru dari buku pertama. Jika di Beyonders 1 kita mengikuti petualangan Jason dan Rachel dalam mengumpulkan silabel, maka di buku 2 ini (sebagaimana judulnya) Jason dan Rachel kembali berpetualang untuk mengumpulkan para pasukan dan sekutu. Mereka berencana untuk mengalahkan maldor dengan cara mempersatukan seluruh penghuni benua Lyrian yang sudah muak dengan kekejaman Maldor. Bisa dibilang, buku kedua ini adalah pemanasan sebelum pecahnya perang besar di Lyrian, tangga menuju puncak pertempuran epic yang pasti akan sangat ditunggu oleh pembaca. Buku kedua ini juga lebih kaya konflik, lebih banyak karakter baru yang bermunculan (khas Brandon Mull adalah dia gemar sekali memasukkan banyak karakter dalam ceritanya tanpa membuat pembaca bosan atau kebingungan), juga mengajak pembaca mengenal Lyrian lebih jauh. Di buku dua ini juga kita akhirnya bisa masuk dan menikmati pemandangan Kerajaan Tujuh Lembah yang dikuasai oleh manusia benih atau kaum Amar Kabal.

                Dalam akhir buku satu, Jason akhirnya mengetahui kebenaran tentang silabel. Ia juga berhasil pulang ke luar, ke dunianya sendiri, hanya saja dia tidak membawa Rachel bersamanya. Gelisah karena misi yang belum selesai dan juga kegagalannya membawa Rachel pulang membuat Jason bertekad kembali ke Lyrian. Dan dia berhasil, dengan cara yang sama dengan sebelumnya: lewat mulut kudanil. Di Lyrian, ia menemukan bahwa Maldor telah berbuat nekat setelah Jason mengetahui kebenaran tentang silabel. Raja lalim itu menyerang Galloran dan memerintahkan pembasmian kepada para penjaga silabel. Jason harus bertindak, dengan sekutu baru dia bergerak untuk bergabung dengan pasukan Galoran. Di sini pula ia akhirnya bertemu dengan Rachel—yang saat itu sudah belajar ilmu sihir. Keren nih, Rachel bisa menyihir.


                Bab demi bab setelahnya seolah bergerak seru tanpa henti. Begitu susah menghentikan pembacaan Beyonder 2 ketika kita sampai di seperempat awal. Mull piawai banget membangun cerita yang kaya konflik, tak tertebak, sekaligus menghadirkan setting Lyrian yang unik, eksotis, sekaligus misterius. Mulai dari manusia benih hingga zombie, dari peramal hingga monster purba, dari manusia-manusia daun hingga aneka satwa tak terbayangkan di kedalaman hutan; semua ini menjanjikan alam petualangan yang pasti akan sangat dirindukan pembaca begitu mereka selesai membaca buku ini. Alur ceritanya juga tak tertebak. 

                Dan begitu kita sampai ke penghujung buku ini, penulis kembali menyajikan sebuah ramalan yang pasti bakal membuat pembaca bertanya-tanya akan seepik apa ending dari ketiga seri Beyonders ini. Benarkah pertempuran akhir antara Galloran dan Maldor akan menjadi adegan yang bersejarah di Lyrian? Kita tunggu saja rilis bukunya. Satu hal yang jelas, kecenderungannya Om Mull ini kalau menulis, semakin ke belakang ceritanya semakin bagus. Buku kedua saja bagus banget, buku ketiga semoga semakin keren. Kepada Mizan, terima kasih sudah menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya Brandon Mull yang keren ini.  

No comments:

Post a Comment