Search This Blog

Friday, August 14, 2015

Misteri Banjir Nabi Nuh dan Tenggelamnya Atlantis Nusantara


Judul: Misteri Banjir Nabi Nuh dan Tenggelamnya Atlantis Nusantara
Penulis: Yusuf Rafiqi
Editor: Kaha Anwar
Tebal: 232 hlm
Cetakan: 1, Juli 2015
Penerbit: DIVA Press


Atlantis, benua mitos yang konon ditenggelamkan ke dasar samudra, merupakan salah satu misteri dunia kuno yang paling banyak menarik perhatian. Kisah tentang lenyapnya peradaban akbar dari masa kuno hanya dalam waktu satu mala mini pertama kali disinggung oleh filsuf Plato dalam karyanya, Dialog: Timaes dan Critias. Plato menggambarkan kehancuran peradaban Atlantis sebagai akibat dari bencana maha dahsyat yang meluluhlantakkan segalanya. Semenjak itu, para ahli dan sejarahwan kemudian seperti berlomba untuk menemukan di mana posisi tenggelamnya Atlantis. Samudra Atlantik yang memisahkan benua Amerika dan Eropa-Afrika tentu saja menjadi lokasi perkiraan yang paling utama, mengingat kesamaan namanya. Plato sendiri mengindikasikan posisi Atlantis yang berada dui depan Pilar-Pilar Hercules, yang oleh para sejarahwan adalah tanjung Gibraltar yang menjadi pintu masuk ke Mediterania.



            Selama bertahun-tahun, konsep Atlantis yang berada di sekitar Laut Tengah atau Samudra Atlantik diterima oleh dunia sampai akhirnya Prof Arysio Santos dalam bukunya Lost Continent Finally Found mengusung konsep baru: bahwa Atlantis adalah nusantara di zaman kuno. Melalui penelitiannya tentang zaman es, Santos menunjukkan bukti-bukti menarik seputar Atlantis-Nusantara, yang konon tenggelam akibat letusan Super Volcano Toba dan Krakatau pada Zaman Es Terakhir. Penelitian Santos yang menghebohkan ini kemudian disusul oleh terbitnya buku-buku tentang Atlantis dan nusantara, salah satunya adalah buku ini.

            Yusep Rafiqi menjelajah lebih jauh dari Prof. Santos dengan mengusung teori bahwa bangsa Atlantis adalah kaum Nabi Nuh yang membangkang. Tenggelamnya Atlantis tidak lain sebagai akibat dari banjir besar yang dulu menimpa kaum Nuh. Banjir itu juga disusul oleh letusan gunung berapi raksasa, yakni Toba dan Krakatau kuno yang dianggap sebagai pilar-pilar Herkules versi timur. Hal baru lain yang ditawarkan dalam buku ini termasuk dugaan bahwa kayu yang digunakan untuk membuat bahtera Nabi Nuh terbuat dari kayu jati. Keberadaan kayu jati yang banyak ditemukan di nusantara inilah yang kemudian semakin memantabkan dugaan penulis bahwa Atlantis dulunya memang ada di nusantara. 

Bagaimanakah sebabnya sehingga penulis bisa sampai pada kesimpulan seperti itu? Benarkah bahwa Atlantis dulunya adalah nusantara di Zaman Es Terakhir? Juga, apakah mereka adalah kaum Nabi Nuh yang ditenggelamkan Allah Swt.? Benarkah mereka juga telah menguasai sistem perkapalan yang sudah sangat maju? Buktinya, bahtera buatan Nabi Nuh bisa tetap bertahan dalam badai dan banjir terhebat yang pernah melanda dunia. Banyak jawaban dan ilmu baru yang saya dapatkan di buku ini.

Selain itu, disinggung pula dalam buku ini berbagai mitos dan konsep tentang Banjir Besar dalam berbagai peradaban dunia. Mulai dari peradaban kuno dan besar di Mesopotamia hingga peradaban-peradaban suku. Dari Eskimo di Kutub Utara, peradaban India, hingga suku Inca dan Aztec di Mesoamerika-Amerika Selatan. Berbagai bangsa dan kebudayaan ternyata memiliki konsep tentang Banjir Besar. Di buku ini, ada kutipan-kutipan kisahnya. Di Indonesia, dongeng Terjadinya Danau Toba dan Gunung Tangkuban Perahu konon juga turut mengisahkan Banjir Besar walau dengan skala yang lebih kecil.


Memadukan antara teori kontemporer, temuan Prof. Arsyio Santos, dan tafsir dari kitab-kitab suci sekaligus rujukan dari dokumen-dokumen kuno tentang Banjir Besar, buku ini akan menjadi referensi yang menarik tentang Atlantis Nusantara dan juga mitos banjir besar dunia. Sebuah buku yang unik dan baru karena mengaitkan antara Banjir Nabi Nuh dengan tenggelamnya benua Atlantis, tentunya buku ini juga dilengkapi dengan info dan data yang relevan sehingga cocok untuk dijadikan bacaan berkualitas di waktu luang.

Sayangnya, saya kurang puas dengan tata letak tulisannya. Tidak ada perbedaan tegas antara tulisan asli si penulis dengan kutipan yang diambil penulis dari buku lain. Harusnya untuk kutipan itu kan menjorok masuk, kalau bisa dengan font yang lebih kecil atau berbeda. Lha di buku ini kok lurus dan lempeng aja hiks. Tapi, nggak apa-apa deh, masih bisa kebaca kok, hanya kurang nyaman saja di mata.


4 comments: