Search This Blog

Thursday, March 27, 2014

A New Earth

Judul : A New Earth (Bangkit Meraih Tujuan Hidup Anda)
Pengarang: Eckhart Tolle
Penerjemah : Tidak Dicantumkan
Editor bahasa : Adve
Cetakan : 1, April 2009
Penerbit: Media Abadi



                
                 Ketika segala kebutuhan materi telah terpenuhi, manusia (Barat) sepertinya mulai merindukan pemenuhan kebutuhan non material yang selama ini masih kurang (katanya). Fenomena ini tampak sekali terutama di belahan Barat, di negara-negara maju yang penduduknya terpenuhi secara materi tetapi tetap saja mereka merasa “belum bahagia.” Dalam hal ini, mereka sepertinya baru merasakan bahwa uang bukanlah segalanya meskipun tanpa uang kita juga susah (peribahasa pribadi hyakakakak)

                “Sebagian besar bagian kehidupan manusia dihabiskan dengan suatu kecemasan yang obsesif terhadap benda-benda. Inilah kenapa salah satu penyakit era kita adalah ledakan benda-benda. Saat Anda tidak lagi bisa merasakan  kehidupan Anda yang sejati, mungkin Anda akan mencoba untuk mengisi kehidupan Anda dengan benda-benda.” (hlm 35)

                Saya lalu iseng mengganti kata “benda” dalam paragraf di atas menjadi “timbunan”, dan hasilnya langsung membuat saya mengambil cermin dan berkaca. Separah itukah saya hiks.

                “Sebagian besar bagian kehidupan manusia dihabiskan dengan suatu kecemasan yang obsesif terhadap timbunan-timbunan. Inilah kenapa salah satu penyakit era kita adalah ledakan timbunan-timbunan. Saat Anda tidak lagi bisa merasakan  kehidupan Anda yang sejati, mungkin Anda akan mencoba untuk mengisi kehidupan Anda dengan timbunan-timbunan.” #jleebbb

                Buku A New Earth ini bisa dimasukkan dalam buku motivasi abad 21 yang lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan spiritual alias batiniah. Sebuah buku yang oleh Oprah memang disarankan untuk dibaca bagi orang-orang Barat yang secara materi sudah mapan, tapi kering dari segi batiniah. Inilah mengapa sepertinya saya kok ngak mudeng-mudeng baca buku ini, soalnya cari duit saja saya belum jago, apalagi rekening tabungan yang terus menerus diteror obralan #malahcurhat. Satu yang jelas, penulis sepertinya hendak mengiring ego kita agar lebih beradab. Menyadarkan kita bahwa memiliki bukanlah makna sejati dari kebahagiaan. Memang, ketika kita pengen banget punya buku tertentu, rasanya bahagia banget setelah mendapatkannya. Tapi, ujung-ujungnya ditimbun juga. Ok ini curhat lagi!

                “Ego cenderung untuk menyamakan kepemilikan dengan Wujud Sejati (being): aku memiliki, maka aku ada. Dan semakin banyak yang kumiliki, aku semakin nyata.” (hlm 42)

                Ego mengidentifikasi dengan kepemilikan, namun kepuasannya dalam memiliki bersifat dangkal dan singkat. Tersembunyi di dalamnya tetap ada suatu rasa ketidakpuasan yang membatu, ketidakpuasan atas ketaksempurnaan, atau ketakcukpan. … memiliki merupakan sebuah fiksi yang dibuat oleh ego untuk memberi dirinya rasa solid dan permanen, membuat dirinya menonjol, membuat dirinya spesial.” (hlm 43)

                Jangan mengeluh! Kita sudah sering mendengar anjuran ini. Nah, buku ini memaknai “keluhan” dari sisi lain. Sisi yang tak terbayangkan sebelumnya. Ini dia:

Mengeluh adalah salah satu siasat favorit ego untuk menguatkan dirinya. Setiap keluhan adalah kisah pendek yang dibuat pikiran yg kemudian Anda yakini sepenuhnya. Tak ada bedanya apakah Anda mengeluh dengan keras atau hanya di dalam batin.” (hlm.  59)

Keluhan pada dasarnya adalah sebuah fiksi yang diciptakan oleh ego. Layaknya fiksi yang hanya rekaan, mereka tidak nyata dan hanyalah menghalang-halangi kita untuk bertindak produktif.

“Aku bangkrut" adalah sebuah cerita. Itu membatasi Anda dan mencegah Anda untuk mengambil tindakan yang efektif. “Uang tabunganku di bank tinggal 50 sen” merupakan fakta. Menghadapi fakta selalu saja memberi gairah. … Daripada menjadi pikiran-pikiran dan emosi Anda, jadilah kesadaran yang ada di balik mereka.” (hlm  93)

Pada akhirnya, kebahagiaan memang tidak ditentukan pada seberapa banyak harta (atau buku #eh) yang kita punyai. Ini menjelaskan fakta bahwa banyak orang kaya yang hidupnya seolah tidak santai, serasa dikejar waktu dan pekerjaan. Sebaliknya, banyak orang yang sederhana  tetapi mereka begitu menikmati kehidupannya. Buku ini tidak bermaksud untuk menghalang-halangi orang agar tidak kaya, bukan seperti itu. Menjadi kaya secara materi adalah dianjurkan, bahkan wajib. Tapi, tidak sepantasnya kekayaan materi saja yang menjadi tujuan utama. Karena kebahagiaan itu letaknya di dalam dada dan kepala (hati dan pikiran), bukan pada tumpukan harta dan tahta. #OkeCukupSudahSayaBerfilsafat

“Penyebab utama ketidakbahagiaan bukanlah situasinya namun pikiran-pikiran Anda tentangnya. Selalulah waspada dengan pikiran-pikiran yang Anda pikirkan. Pisahkan mereka dari situasi yang ada, yang selalu netral, yang selalu seperti apa adanya.”  (hlm 93)

“Kebahagiaan Wujud Sejati, yang adalah satu-satunya kebahagiaan sejati, tidak bisa datang pada Anda melalui bentuk, kepemilikan, pencapaian, person, atau kejadian…. Ia memancar dari dimensi tak berbentuk dalam diri Anda, dari kesadaran itu sendiri dan oleh karena itu menyatu dengan siapa diri Anda.” (hlm 205)

Postingan ini ditulis dalam rangka baca bareng buku-buku pilihan Oprah bersama teman-teman Blogger Buku Indonesia.


20 comments:

  1. ini buku non fiksi ya mas dion?

    ReplyDelete
  2. Iya Dhia, macam motivasi gitu hahaha #biarwaras

    ReplyDelete
  3. Ow, ada terjemahannya toh... waktu lagi nyari buku oprah yang pas, aku cari ebooknya ga ketemu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada mbak, ini terjemahannya bagus tetapi editannya jelek. Banyak banget typonya pdhl penerjemahannya sudah mengalir dan diksinya elok

      Delete
  4. "Sebagian besar bagian kehidupan manusia dihabiskan dengan suatu kecemasan yang obsesif terhadap timbunan-timbunan" ---->> thta's so truee #makjlebjleb
    Dalam rangka bongakr lemari ini, nemu ajubilah buku2 yg nyaris tdk pernah kuingat (tak kebeli), ampun deh ...
    Penerbit Media Abadi ini independen ya, tidak pernah dengar / tahu ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hyakakak nah sama mbak, aku semacam tersadarkan *haiyah* saat nemu kutipan tadi hohohoho. Media Abadi ini aku juga jarang nemu mbak, biasanya nonfiksi sih dan sampe kini aku ngak tau di mana posisi kantornya

      Delete
  5. saya mengeluh nih..
    nggak bisa posting buku Oprah, hehehehe

    ReplyDelete
  6. Hahaha Bang Epi, tapi ikut yang puisi pastinya :)

    ReplyDelete
  7. Duh, buku oprah yang fiksi aja susah ngripiunya, apalagi yang non fiksi. Ternyata Dion bisa karena berhubungan dengan timbunan #upsss... :p

    ReplyDelete
  8. Haduh *langsungtersentakmeliriktimbunan
    Tapi memang sih, aku sering dihadapkan pada dua pilihan: materi atau kepuasan batin, yg keduanya jalannya melenceng jauh. *lahmalahikutancurhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku td iseng banget, trus nyesel deh ambil kaca

      Delete
  9. Hahaha, ini semacam review yang malah berujung dengan siraman rohani buat para penimbun buku xD

    ReplyDelete
  10. walah, pas banget deh begitu diganti dengan kata "timbunan", semua anak BBI langsung ngaca, hihih... eh aku setuju lho dion sama pendapatmu, uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang XD

    ReplyDelete
  11. natap kaca terus nyembunyiin kacanya

    Saya setres setiap baca buku motivasi, tidak bisa termotivasi sama sekali #plak

    *alasan untuk nimbun lagi #eh

    ReplyDelete
  12. Setelah baca curhatannya mas Diondi atas...eh, maksudnya review....saya jadi ikut melirik "benda" saya (mohon kata "benda diganti dengan "timbunan" juga dalam konteks ini), dan bersemangat untuk terus menimbun lagi #lho

    ReplyDelete
  13. Toko Buku Online Terlengkap & Terpercaya - GarisBuku.com

    ReplyDelete
  14. *kjungkel timbunan
    huwah, nonfiksi yah.. aku udah pasrah kalo nonfiksi mah x_x

    ReplyDelete