Search This Blog

Tuesday, February 12, 2019

Bastian dan Jamur Ajaib, Bukti Keajaiban Cerita Pendek

Judul: Bastian dan Jamur Ajaib
Pengarang: Ratih Kumala
Sampul: Staven Andersen
Cetakan: Pertama, 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 24953633

Cerpen-cerpen Ratih Kumala memiliki corak sederhana, cenderung mudah dicerna, tetapi meninggalkan rasa yang terus menetap gamang di benak pembaca. Kisah-kisahnya seperti mengajak kita untuk memandang hidup dari sudut yang berbeda. Sebagaimana karya-karya para sastrawan umumnya, kisah-kisah pendek di buku ini berupaya menyorot kehidupan lewat sudut-sudut yang sajatinya wajar dan normal tetapi kita kerap luput melihatnya. Padahal, dari sini juga kita bisa belajar banyak tentang kehidupan serta tentang manusia itu sendiri.

Ode untuk Jangkrik membawa kita pada keriangan ringan di masa kecil, ketika jangkrik, gasing, layangan dan kelereng adalah harta berharga dan sawah serta halaman adalah area mabar yang sesungguhnya. Walau ending cerita ini biasa, kekuatannya ada pada perjalanan membaca cerpennya yang dengan cantik mampu membawa kita kepada kenangan di masa kecil. Kisah kecil ini mengingatkan bahwa kebahagiaan juga bisa hadir dalam kesederhanaan dan kebersahajaan. 


Cerpen Nonik sebaliknya, ceritanya sudah tegang dari awal dan bertempo cepat, khas cerpen kriminal-misteri. Kisah ini unik karena disajikan selang seling dengan adegan flashback sebelum diakhiri dengan klimaks yang tidak tanggung-tanggung. 

Nenek Hijau sepertinya menjadi cerpen favorit banyak pembaca, termasuk saya. Ratiih Kumala menyusun sebuah cerita mitos berdasarkan sebuah konsepsi umum yang jamak di kalangan remaja pria yang tengah akil balig. Sebuah peristiwa reproduksi dikembangkan menjadi semacam mitos alias sebuah "konon" yang sangat terkait dengan struktur sosial masyarakat. Keren ini!

Tulah adalah cerpen yang paling sulit saya cerna. Mungkin karena terkait dengan kisah Nabi Musa di Mesir saat mas Eksodus kaum Yahudi. Jika tidak mengetahui detail sejarahnya, agak susah mengaitkan dan mencari tahu nilai lebih dari cerpen ini. Kisah-kisah pendek lain di buku ini memiliki nada-nada yang mirip dengan cerpen Minggu di koran. Telepon dan Keretamu Tak Berhenti Lama mengangkat persoalan rumah tangga dengan perempuan yang--lagi-lagi--menjadi korban KDRT dalam berbagai bentuk dan versinya.

Ah Kaw dan Rumah Duka secara berututan berbicara tentang tema kematian: yang satu dengan ending yang cenderung sinis-humoris sementara satunya lagi cenderung melankonis. 

Ada juga cerpen Foto Ibu  yang menanyangkan ragam persoalan rumah tangga secara unik. Cerpen ini dengan telak memukul kita dengan fakta bahwa menjadi seorang istri yang sempurna saja tidak akan pernah cukup di dunia yang didominasi oleh patriakalisme. Perjuangan sekeras apa pun pada akhirnya hanya terbentur pada kondisi sosial yang memang maish cenderung menguntungkan laki-laki. Lagi-lagi, perempuan hanyda sekadar korban keadaan yang tak sanggung melawan bahkan dengan diamnya. 

Tiga cerpen terakhir berbau laut di buku ini adalah yang paling menyegarkan. Cerpen Bau Laut menurut saya adalah yang paling bagus setelah cerpen Nenek Hijau, lokalitasnya terasa banget tetapi dikisahkan dengan teknik menyerupai cerpen roman terjemahan yang khas. 

Pujian juga untuk sampulnya yang khas sekaligus menawan banget.

No comments:

Post a Comment