Search This Blog

Tuesday, May 19, 2015

Cinta Terlarang



Judul : Cinta Terlarang
Pengarang : Andre Aciman
Penerjemah : FX. Dono Sunardi
Penyunting : Istiani P
Sampul : indieguerillas.com
Cetakan  : 2, 2008
Penerbit  : Serambi

 15829996
             
            Pemilihan judul Cinta Terlarang yang menurut saya sangat jauh esensinya dari judul asli¸ Call Me by Your Name, sepertinya turut berandil besar membuat novel indah ini tenggelam. Cinta Terlarang mengisyaratkan sesuatu yang harus dijauhi, yang tabu tapi menggoda, yang harus dihindari jika ingin menjadi bagian dari kita yang normal. Dua kata itu, ketika digunakan untuk melabeli buku ini, menjadikan novel ini jatuh beberapa derajat menjadi seolah tidak lebih dari sekadar sebuah novel mesum tentang percintaan antara dua pemuda. Sebaliknya, judul asli, Panggillah Aku dengan Namamu mengisyaratkan suatu kedalaman cinta universal, cinta yang indah, yang sakral dan intim, sekalipun itu cinta dari dua orang dengan jenis kelamin yang sama. Ketika melihat buku ini dipajang di toko buku, pembaca Indonesia mungkin sudah ilfil duluan dengan judulnya, pasti gitu-gitu aja semacam Lelaki Terindah nya Andrei Aksana. Padahal, novel yang memenangkan Rauca Award 2007 sebagai novel erotis terbaik ini menghantarkan sebuah kisah cinta yang universal, jauh lebih dalam dan syahdu dengan caranya sendiri.  Wow, ada ya penghargaan untuk novel erotis terbaik? LOL

            “Panggil aku dengan namamu dan aku akan memanggilmu dengan namaku.”(hlm. 223)

            Elio, remaja berusia 17 tahun, jatuh cinta pada Oliver, 25 tahun, mahasiswa yang menginap selama sebulan di rumah kedua orang tuanya untuk melakukan penelitian tentang buku yang tengah ditulisnya. Perbedaan usia, ketakutan bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan, dan kungkungan norma masyarakat menjadikan Elio memendam perasaan itu. Maka, jadilah sepanjang lebih dari setengah buku ini pembaca akan disuguhi oleh kegalauan Elio yang begitu mendamba tubuh Oliver, bahkan menyentuhnya pun sudah mampu mengirimkan kejutan listrik yang membuat remaja itu mimisan. Dituliskan dengan sudut pandang orang pertama, novel ini mengeluarkan semua unek-unek jahil dan pikiran mesum Elio terhadap Oliver, begitu bergelora dan mendamba, namun tidak dapat diungkapkannya. Elio mencintai Oliver, bukan … ini seperti dia memuja dan mendambanya. Nggak tanggung-tanggung, curhatan Elio ini macam-macam dan aneh-aneh, sampai eneg baca fantasi Elio tentang si Oliver.

            “Aku sangat ingin menyentuh pergelangan kaki dan tangannya ketika keduanya tampak berkilauan indah tertimpa oleh cahaya matahari…; bahwa aku senang melihat bagaimana celana tenisnya yang pendek itu selalu tampak ternoda oleh warna tanah liat yang …” (hlm 37)

            Celana tenis coba? Ngahahahah. Hasrat mengebu-gebu Elio ini berjejer kayak kereta sepanjang buku ini, bikin mimisan bacanya *keselek avokad. Apakah cinta Elio bertepuk sebelah tangan? Tentu saja tidak. Jauh dalam lubuk hatinya, Oliver juga menyukai Elio, tapi tentu saja hasrat yang keliru itu harus dia tahan mengingat posisi dan kondisinya yang seorang tamu dari negara asing. Kemudian, ketika malam itu terjadi, ketika Elio akhirnya tidak tahan lagi dan mengungkapkan perasaannya, tanggul itu seperti jebol. Cinta meluap-luap diantara keduanya. Batas tegas itu telah dilanggar, dan baik Elio maupun Oliver sama-sama menapak satu tonggak baru dalam kehidupan mereka, sebuah jalan yang entah mengarah pada kebahagiaan atau penderitaan, tapi yang jelas  akan selalu ada kesedihan dan suka cita di dalamnya. Ini adalah sebuah kisah tentang cinta yang terpendam sedemikian lama sebelum akhirnya terungkapkan.

            “Sesungguhnya aku bohong. Saat itu aku tidak yakin sama sekali. Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah berpelukan, kapan aku, atau dia, akan merasa bosan berpelukan. Segera? Nanti? Sekarang juga?” (hlm 218)

            Bagian mesum di buku ini tidak terlalu banyak, meskipun yang sedikit itu beberapa memang agak berani dan vulgar. Kata ‘anu’ muncul berulang kali, begitu juga pikiran-pikiran mesum Elio yang ampun deh, kayak nggak ada pikiran lain aja. Hal paling menarik dari novel ini—sebagaimana dicuplik di sampul belakang—adalah ceritanya yang sangat mengalir, enak dibaca, dan menghibur. Kalimat-kalimatnya ditulis dengan bagus sekali. Sebuah prosa nan puitis,  mungkin itulah yang bisa menggambarkan keelokan buku ini. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan kehidupan di seputar Elio, dalam rumah keluarganya yang sangat indah dan damai di pinggir pantai kota B. Struktur kalimat inilah terutama yang membuat Cinta Terlarang terasa mengalir sekali saat dibaca. Pembaca tidak lalu terfokus pada hubungan Elio dan Oliver, tapi pada cara penulis menuliskan cerita yang sedemikian indah. Tanpa itu, buku ini mungkin hanya sebuah buku mesum seorang remaja.

https://p.gr-assets.com/540x540/fit/hostedimages/1403554034/10108239.jpg
            
              Deskripsi kota B, keseharian warganya, juga kegalauan Elio; semuanya dituliskan dengan gaya yang berseni, menyenangkan untuk diikuti. Kita serasa bisa merasakan embusan angin laut di kota B, menapak di jalan-jalan batunya, berlarian serta bersepeda bersama Elio dan Oliver menuju Tanggul Monet, serta merasakan buah persik ranum yang ditanam di kebun keluarga Elio. Bersama dengan jalannya cerita, kita seolah bisa mengikuti perkembangan Elio menjadi seorang remaja yang berpikiran dewasa, tentang cinta dan nafsu, juga tentang bagaimana dia harus menghadapi serta menjalani cinta terlarang itu ke depannya. Perjalanan itu, alih-alih dikisahkan dengan aroma mesum, dituturkan dengan lembut, polos, tapi juga indah. Menyenangkan sekali menemani Elio ini, seolah dia adalah sahabat lama yang membutuhkan kita untuk mendengarkan curhatannya nan puitis itu.

            “Perasaan ini pun kemudian memudar, ketika aku merasa bahwa kami bukanlah dua orang laki-laki, melainkan dua orang manusia. Ya, manusia saja. Aku menyukai perasaan setara yang muncul saat itu juga.” (hlm 219)

            Penerjemah buku ini juga layak mendapatkan apresiasi, begitu juga penyuntingnya. Seingat saya, hanya satu typo yang saya temukan, dan terjemahannya pun mengalir dan terasa sangat pas. Penerjemah mampu membawa pembaca Indonesia merasakan aroma Italia di kota B, dengan pilihan diksi yang cenderung sastrawi namun tetap dalam dinikmati pembaca umum. Buku ini mendapatkan penerjemah yang cocok, begitu menurut saya. Rasanya sama persis seperti ketika saya membaca  Seratus Tahun Kesunyian yang diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto, cocok! Kombinasi antara penulis yang mumpuni, kisah yang menghibur, serta penerjemah yang pas; tidak heran jika buku ini begitu cepat selesai terbaca. Saya sering eneg dan terpaksa skip-skip saat membaca novel LGBT sejenis, tapi tidak dengan buku ini. Empat bintang spesial untuk buku spesial ini.
           
            “ … berpalinglah padaku meski hanya lewat isyarat seperti suatu yang terlintas setelah kau berpikir ulang yang dulu begitu berarti bagiku ketika kita masih bersama. Ketika kau kembali lagi nanti, tataplah wajahku, balaslah tatapan mataku. Dan panggillah aku dengan namamu.” (hlm 402)

5 comments:

  1. waduh...menarik sepertinya. Tapi khawatir ntar eneg bacanya. Hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha eneg-nya dikit kok, lebih terbuai sama cara penulis menuliskan kisah ini.

      Delete
  2. Wow wow. Kayaknya #TimCintaTerlarang wajib baca buku ini deh. XD (Pinjem~) :p

    ReplyDelete
  3. judulnya sama kaya lagu the virgin cinta terlarang, haha

    ReplyDelete