Search This Blog

Thursday, October 5, 2017

Kisah Kasih Dua Lelaki, Mungkinkah Cinta?



Judul: Mungkinkah Cinta?
Pengarang: Valen Suzan
Cetakan: Pertama, September 2017
Tebal: 516 hlm
Penerbit: Leutika Prio


36323978


Sudah beberapa kali saya membaca dan mengulas novel-novel tentang cinta sejenis. Kebanyakan—kalau tidak dibilang semua—berakhir dengan ikatan cinta yang ‘terpaksa’ harus dihentikan karena beragam sebab. Dalam Jakarta Love Story dan Lelaki Terindah, cerita cinta itu pupus dengan berakhirnya kehidupan salah satu pasangan. Sementara, dalam The Sweet Sins dan Before Us, para penulisnya lebih memilih ‘jarak’ sebagai pembatas yang pada akhirnya akan mengakhiri hubungan terlarang ini. Para penulis mungkin lebih memilih cara aman ini agar karyanya tidak dianggap ‘melegalkan’ hubungan sejenis mengingat pasar pembaca di Indonesia yang sangat menentang hubungan cinta yang tidak normal tersebut. Bisa menulis dan menerbitkan buku dengan tema menyimpang seperti homoseksual di Indonesia saja sudah bikin waswas, apalagi kalau ditambah dengan ending yang menjurus pada dukungan pada cinta sejenis. Bisa-bisa bukunya bakal dilarang terbit dan dijual di Indonesia. Nah, kalau Mungkinkah Cinta? ini bagaimana? Ternyata, akhirnya happy ending, saudara-saudari!


Davy adalah seorang gay yang diam-diam jatuh cinta kepada Erwanda, seorang koleganya di kantor. Sayangnya, Erwanda itu adalah seorang cowok straight (normal) yang playboy dan suka gonta-ganti pasangan. Perjuangan Davy sepertinya akan berat. Dan, memang, sepanjang buku ini pembaca akan disuguhi pemandangan jatuh-bangunnya Davy dalam mengejar Erwanda. Memang kalau dibayangin mustahil banget sih, cowok yang kudu menaklukan pria normal macho dan playboy pula. Biasanya, kebanyakan gay akan merasa tahu diri dengan memilih mundur, cukup dengan memandang pria pujaannya dari kejauhan. Tetapi, Davy tidak semudah itu menyerah. Beruntungnya, Davy ini punya aset yang tak boleh diabaikan: paras muka setengah bule. Dilahirkan dari ayah Perancis dan Ibu yang jawa-Tiongkok membuat Davy memiliki wajah blasteran yang elok dipandang. Muka-muka seperti ini dilihatpun sudah nyenengin. Banyak cewek yang tertarik dan sering mencuri pandang ke Davy, termasuk teman semejanya, Jenny, yang terus memepet cowok itu. Sayangnya, Davy selalu menanggapi dengan dingin. Dia tidak ingin mengecewakan cewek-cewek itu dengan janji-janji palsu yang takkan pernah bisa dia penuhi.

Fokus Davy adalah pada Erwanda, sejak pertama kali cowok itu melihatnya di sebuah klub malam dan lalu berlanjut ke pertemuan tak disengaja di pantry kantor. Saat itu, Erwada tak sengaja menumpahkan kopi yang dibawa Davy sehingga mengotori lengan kemejanya. Peristiwa itu ternyata tidak hanya menyisakan bekas di kemeja Davy, tapi juga di hatinya eaaak. Pada diri Erwanda, Davy menemukan sosok pria yang dipujanya. Dan ternyata Erwarda pun menemukan sosok adiknya yang telah meninggal dalam diri Davy. Jadilah mereka berdua ‘kakak-adek’ ketemu gede yang akrab banget: pulang bareng, nongkrong bareng, hingga nginep bareng. Sakit dekatnya hubungan Day dan Erwanda, Anya yang merupakan kekasih Erwarda pun curiga. Puncaknya ketika mereka bertiga sedang liburan di Bali, Davy akhirnya menembak Erwarda—dan Anya diam-diam mengetahui hal ini. Erwarda pun antara shock sekaligus heran. Sama sekali tidak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa Davy akan mencintainya sebagai kekasih, apalagi mereka sama-sama lelaki. Erwarda pun menjauh dari Davy.
Davy kembali patah hati untuk entah keberapa kalinya. Dia tahu, inilah risiko seorang gay yang mencintai seorang laki-laki tulen. Lebih mirisnya lagi, ada email gelap yang tersebar ke seluruh orang-orang di kantor, yang dengan gamblang menyebut Davy seorang gay. Tekanan pun bertambah, tidak hanya kehilangan Erwanda kini Davy seolah juga kehilangan teman-temannya. Mereka yang semula biasa kini perlahan menjauh. Bahkan bos sekantor yang semula membanggakannya pun turut mengucilkannya. Jadi memang benar bahwa penerimaan terhadap kaum liyan di Indonesia itu masih bullshit. Nyatanya, masih banyak kita yang memandang bahwa homoseksual itu menular, padahal menurut ilmu pengetahuan terkini tidak. Tetapi, anehnya, penulis buku ini malah menunjukkan kalau homoseksual itu menular. Buktinya, Erwanda mulai mengalami getar-getar aneh dalam dirinya sejak Davy menembaknya. Cowok yang dulunya selalu bergairah saat di ranjang dengan wanita itu tiba-tiba padam. Pemandangan dua cewek seksi sedang bergulat di ranjang tidak berhasil membangkitkan kelelakiannya. Pikiran dan hatinya entah bagaimana selalu tertuju kepada Davy, yang sama cowoknya dengan dirinya. 

Erwanda pun akhirnya menyerah. Dengan jantan, dia mengakui bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan Davy. Pada akhirnya, dia menikmati dan ketagihan dengan hubungan sejenis yang mereka lakukan. Bahkan di bagian belakang buku ini, tampak malah cinta Erwanda lah yang lebih besar kepada Davy. Ketika semua orang terdekat menentang dan berusaha memutuskan hubungan terlarang di antara keduanya, justru malah Erwarda yang berdiri di depan melindungi Davy. Bahkan, pria itu rela mengorbankan dirinya dicoret dari daftar ahli waris keluarganya yang kaya raya. Kedua cowok itu pun akhirnya berbahagia dengan pilihan mereka, dan mereka siap menanggung risikonya. Yah, akhirnya, saya selesai juga membacanya, yang langsung saya diskusikan dengan Mbak Ajjah. Tentang banyak hal, terutama fakta bahwa homoseksual itu menular secara psikologis. Buku ini membuktikan dugaan mbak Ajjah, bahwa seorang pria normal pun bisa jadi belok kalau ‘digarap’ secara telaten. Seperti Erwanda, yang awalnya cocok dengan Davy yang pintar memosisikan diri jadi adik  angkatnya. Pesahabatan yang terlampau kental itu akhirnya perlahan mampu mengubah Erwanda yang semula jijik sama hubungan sejenis, menjadi menyukainya asalkan itu bersama Davy. Jadi, poinnya bukan pada suka pada semua cowok, tetapi Erwanda suka cowok hanya kalau cowoknya Davy. Bahaya juga ya.

Nah, yang saya suka dari novel ini adalah teknis penulisannya yang rapi dan mengalir lancar. Penulis yang mengaku telah melakukan riset sebelum menulis novel ini benar-benar membuktikan ucapannya. Buku ini terasa begitu real, tidak dipaksakan. Seperti saat ibunda Davy tahu perbuatan anaknya dengan Erwanda, wanita itu tidak kemudian ‘mengikhlaskan’ Davy menjadi berbeda hanya karena dia ibunya. Sampai di belakang, sang ibu tetap tidak merestui hubungan mereka, walau akhirnya sedikit luluh. Tapi, dalam hati, masih ada harapan kecil bahwa anaknya akan kembali normal dan mencintai wanita. Pun demikian dengan keluarga Erwanda yang terus menentang sampai akhir karena memang seperti itulah yang akan dilakukan keluarga-keluarga normal di kehidupan yang normal. Penulis tidak memaksakan ide cinta sejenis ini untuk diterima. Ia realistis menggambarkan apa yang sekiranya bakal terjadi ketika kisah Davy dan Erwanda benar-benar terjadi di dunia nyata. Siapa yang berniat keluar jalur, ya harus bersiap menanggung risiko beratnya karena cinta tidak melulu tentang yang indah-indah saja. Saya tutup ulasan ini dengan kutipan yang saya suka banget:
“Lagi, penampilan tidak bisa membeli impian kita.” (hlm. 11)

NB: Saya tidak suka sampul buku ini, kesannya asal tempel aja. Itu mana yang Davy mana yang Erwanda kok nggak cocok sama sekali. 

4 comments:

  1. thanks ya Dion sudah menyempatkan diri untuk mereview novel ini dg detail dan membuat yg baca tersenyum2 nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga telah memberikan bacaan berbeda ini Mbak.

      Delete
  2. hahaha... aku kira hanya sekadar boys love gitu , yang saya penarasan bagaimana perasaan mas dion ketika bacanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sudah pernah pengalaman (pengalaman baca loh bukan pengalaman cintanya ngoahahaha) jadinya ya nggak gimana-gimana. Cuma, saya jadi ceriwis ngobrol sama temen cewek soal pria dari sudut pandang kaum hawa, untuk pemeriksaan silang. Apakah hal-hal seperti yang disukai Davy dari Erwanda itu memang sama dengan yang disukai cewek2 dari seorang cowok.

      Delete