Search This Blog

Showing posts with label Sastra Kontemporer. Show all posts
Showing posts with label Sastra Kontemporer. Show all posts

Tuesday, May 19, 2015

Cinta Terlarang



Judul : Cinta Terlarang
Pengarang : Andre Aciman
Penerjemah : FX. Dono Sunardi
Penyunting : Istiani P
Sampul : indieguerillas.com
Cetakan  : 2, 2008
Penerbit  : Serambi

 15829996
             
            Pemilihan judul Cinta Terlarang yang menurut saya sangat jauh esensinya dari judul asli¸ Call Me by Your Name, sepertinya turut berandil besar membuat novel indah ini tenggelam. Cinta Terlarang mengisyaratkan sesuatu yang harus dijauhi, yang tabu tapi menggoda, yang harus dihindari jika ingin menjadi bagian dari kita yang normal. Dua kata itu, ketika digunakan untuk melabeli buku ini, menjadikan novel ini jatuh beberapa derajat menjadi seolah tidak lebih dari sekadar sebuah novel mesum tentang percintaan antara dua pemuda. Sebaliknya, judul asli, Panggillah Aku dengan Namamu mengisyaratkan suatu kedalaman cinta universal, cinta yang indah, yang sakral dan intim, sekalipun itu cinta dari dua orang dengan jenis kelamin yang sama. Ketika melihat buku ini dipajang di toko buku, pembaca Indonesia mungkin sudah ilfil duluan dengan judulnya, pasti gitu-gitu aja semacam Lelaki Terindah nya Andrei Aksana. Padahal, novel yang memenangkan Rauca Award 2007 sebagai novel erotis terbaik ini menghantarkan sebuah kisah cinta yang universal, jauh lebih dalam dan syahdu dengan caranya sendiri.  Wow, ada ya penghargaan untuk novel erotis terbaik? LOL

            “Panggil aku dengan namamu dan aku akan memanggilmu dengan namaku.”(hlm. 223)

Thursday, May 30, 2013

Lelaki Tua dan Laut


Judul     : Lelaki Tua dan Laut
Pengarang          : Ernest Hemingway
Penerjemah       : Yuni Kristianingsih  P
Penyunting        : Mita Y
Hlm                       : 145 hlm
Cetakan               : kedua, Juli 2009
Penerbit              : Serambi

Lelaki Tua dan Laut

                “Aku memang seorang lelaki tua. Tetapi aku bukannya tanpa senjata.” (hlm 114)

                Optimisme kehidupan yang tak terkalahkan, kalimat ini mungkin yang paling tepat untuk menggambarkan novel tipis namun luar biasa ini. Novel yang ditulis oleh peraih Novel Sastra Ernst Hemingway ini memang layak dimasukkan dalam jajaran karya sastra besar dunia karena keindahan kisah yang dikisahkan di dalamnya, ketelitian dan detail tentang dunia nelayan laut yang memukau pembaca, serta karena penghargaan akan kehidupan dan keberadaan manusia di alam raya yang disampaikan lewat untaian kisah si Pak Tua.

                Adalah Santiago, seorang nelayan tua dari Kuba yang selama 84 hari berturut-turut gagal mendapatkan ikan. Orang-orang pada mengejeknya walaupun dengan halus, menyuruhnya untuk menyerah dan beristirahat, atau ikut menumpang kapal ikan yang lebih besar. Tapi, si Lelaki Tua tetap kukuh dengan keyakinannya, bahwa ada seekor ikan besar yang menunggunya di sebuah lubuk lautan dalam. Maka, pada hari ke -85 ia pun berangkatlah. Tidak ada yang disesalinya, tidak ketidakberuntungannya ataupun kondisi lautannya. Ia tetap yakin dan positif bahwa hadiah itu masih menunggunya di ceruk lautan, ia tinggal mengambilnya. Kalau ada yang ia sesali, mungkin karena ia harus berlayar sendirian tanpa bocah lelaki yang biasa menemaninya, yang kini disuruh orang tuanya agar ikut ke kapal yang lebih besar—walaupun itu bukan kemauannya.

                Maka dimulailah perjalanan seorang diri ke tengah lautan. Si Lelaki Tua berlayar sebagaimana biasa, dengan optimism yang masih sama menyala seperti saat ia muda. Tubuhnya mungkin sudha ringkih namun semangatnya senantiasa muda. Dengan tali dan jala, dimulailah pencarian ikan itu. Akhirnya, beberapa hari berselang, umpannya dimakan oleh sang ikan. Ikan itu jauh melebihi ekspekstasi di nelayan tua. Ikan marlin itu besarnya bahkan melebihi perahunya. Namun, walau sudah memakan umpan, ikan itu belum menyerah. Ia membuktikan bahwa ikan pun bisa melawan. Maka, dimulailah kembali pertarungan antara manusia melawan alam, antara ikan dan pak tua.

                Si ikan terus menyeret kapal si Lelaki Tua sampai ke tengah samudra. Berhari-hari, sampai akhirnya ia kelelahan. Si lelaki Tua pun tak mau kalah. Dipegangnya selalu jala dan tali umpan, bertekad tak akan melepaskan ikan raksasa itu. Dan, setiap perjuangan selalu ada imbalan, si Lelaki Tua menang. Ikan marlin itu kalah dan ia kalah dengan terhormat. Lelaki Tua itu telah mendapat hadiahnya. Namun, perjuangan belum selesai. Ia harus membawa kembali hadiahnya ke daratan. Ikan itu telah membawanya ke tengah samudra, dan kini ia harus menghadapi lawan lagi: para hiu yang hendak merampas hadiahnya. Dan dimulailah perjalanan kedua, kali ini si Lelaki Tua harus melawan para predator yang mengincar ikan besar tangkapannya. Sungguh luar biasa optimism laki-laki tua itu. Ketika ikan yang ia dapat dengan susah payah digigit dan dicuri bagian demi bagian oleh para hiu, ia tetap berpikir positif, bahwa selalu ada sisa yang besar untuknya. Sampai akhirnya ketika si Lelaki Tua tiba di desa, ikannya hanya tersisa bagian kepala dan sedikit saja bagian dagingnya. Tapi, ia telah berjuang dengan terhormat dan dunia pun memberi salut kepadanya.

                Novel Lelaki Tua dan Laut adalah karya terakhir dari Ernest Hemingway. Novel yang begitu membangkitkan semangat hidup ini ditulis dengan indah sekali, serta didampingi dengan riset yang mendalam. Membacanya, kita seperti ikut Santiago berlayar ke tengah lautan dengan peralatannya yang masih sederhana. Dengan teliti dan deskriptif, penulis mampu menggambarkan apa dan bagaimana seorang nelayan tyradisional menangkap ikan. Selain itu, kita juga disuguhi dengan percakapan tunggal atau monolog antara di Lelaki Tua dengan dirinya sendiri, sebuah percakapan dari seorang manusia yang mampu mengalahkan pesimisme dalam dirinya. Kita niscaya akan belajar banyak dari novel ini, tentang arti penting perjuangan, tentang indahnya optimisma kehidupan, tentang perlunya berpikir positif bahkan ketika kemalangan mendera bertubi-tubi, tentang kesabaran serta ketekunan dan ketelatenan. Satu kalimat yang sangat luar biasa ikut tertera di sampul depan, yang sekaligus menggambarkan dengan tepat isi dari novel ini, bahwa manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan.