Search This Blog

Saturday, May 24, 2014

Akkadia, Gerbang Sungai Tigris



Judul : Akkadia, Gerbang Sungai Tigris

Pengarang: R.D. Villam

Penyunting : Arie  Prabowo  dan Bonmedo Tambunan

Sampul : Lewi Djayaputra

Cetakan : 1, November 2009
Penerbit : Adhika Pustaka




                “Pada akhirnya, yang penting adalah apa yang kita lakukan, bukan hanya siapa diri kita.” (hlm 383)

                Mesopotamia, kawasan subur di antara lembah sungai Eufrat dan Tigris, abad ke-24 sebelum Masehi. Kerajaan Akkadia dibawah pimpinan Raja Sargon dan panglima perangnya nan legendaries Rahzad, berupaya memperluas wilayahnya dengan menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Seluruh wilayah di barat sungai Tigris sudah takluk di tangannya, para raja dan keluarga kerajaan yang ia taklukan ia basmi dengan semena-mena. Sementara, rakyatnya ia terror dengan ketakutan agar tidak muncul pemberontakan. Dia gunakan pasukan barion, binatang ganas perpaduan harimau, banteng, dan kuda dengan kulit yang tak tertembus, sebagai senjata penakluk utama. Dewi Ishtar, dewi cinta, kesuburan, sekaligus pelindung perang bagi bangsa Akkadia, konon memberikan sendiri sepasukan barion kepada Rahzad karena keberanian dan kehebatan sosok sang panglima. Untuk membendung invasi bangsa Akkadia, penyihir Elam dari Tanah Persia kemudian membangun sebuah dinding sihir tak kasat mata di sepanjang aliran sungai Tigris. Selama 30 tahun, dinding gaib ini tak tertembus dan Akkadia tak pernah bisa menaklukkan Kerajaan Elam di timur sungai Tigris.

                Naia, putri dari Kazzala—yang telah ditaklukkan oleh Sargon—membawa rakyatnya mengungsi ke Timur. Dengan melewati Gerbang Sungai Tigris, ia menyeberangi tabir pelindung gaib dan menyeberang ke Tanah Elam yang aman. Namun, untuk menghindari kejaran pasukan Akkadia, dia terpaksa bersekutu dengan mahkluk kegelapan. Satu perjanjian kuno yang akan membuatnya “terkutuk” selamanya. Tubuhnya tercemar, setiap malam purnama ia akan menjadi mesin pembunuh yang tak terhentikan. Ketika ini belum cukup, kekejaman Rahzad memaksa Naia bersekutu dengan sesosok iblis batu bernama Davagni yang meminta syarat berat kepada Naia: membawa turun sosok-sosok Nerghal, para abdi kegelapan yang kekejamannya bahkan lebih ganas dari Sargon. Tapi, Naia tak punya pilihan lain. Kondisinya sudah terdesak, pasukan Akkadia hampir berhasil menangkapnya. 

                Keadaan semakin rumit ketika Tezza, pelindung sekaligus kawan terdekat Naia tertangkap oleh pasukan Rahzad dalam posisi linglung. Dengan bujukan sang panglima, Tezza lupa dengan semua masa lalunya, dia bahkan diubah menjadi mesin perang Akkadia yang harus mengejar dan menyerang Naia. Sementara itu, Naia sendiri memiliki misi untuk menemukan Ahli Waris Sang Penjaga Gerbang, keturunan dari sosok penyihir yang telah membangun dinding sihir di sungai Tigris. Tak dinyana, takdir malah mempertemukan Tezza dengan sang ahli waris, saat itu keduanya sama-sama tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya dan sebesar apa takdir yang mereka emban. Cerita terus bergulir, menghadirkan lebih banyak tokoh dan pertempuran. Petualangan Naia bertemu dengan serangan Tezza, sementara pencarian sang ahli waris mempertemukannya dengan sosok-sosok besar dalam sejarah perang kedua kerajaan.

                Ketika hampir mencapai tengah, pertempuran besar pun akhirnya pecah antara pasukan Akkadia dan pasukan gabungan dari kerajaan-kerajaan di Elam. Ribuan pasukan saling bertempur satu sama lain, pedang menebas, tombak menusuk, taring barion mengoyak, sihir bertemperasan, bola api menyambar, darah tertumpah di mana-mana, ribuan nyawa melayang sia-sia dalam beberapa hari saja. Sungguh, perang di mana pun selalu kejam dan tidak mengenal  perikemanusiaan. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Dan ketika kedua pihak kelelahan, musuh yang sejati muncul. Sosok-sosok kegelapan datang ke bumi membawa kekejaman yang tak terbayangkan. Dan, Naia serta kawan-kawan, kembali harus berjuang untuk melawan sang musuh dari alam lain, musuh yang jauh lebih kuat dan tak terkalahkan.

                Sebagai sebuah novel fantasi karya penulis local, Akkadia bisa dibilang sebuah masterpiece. Penggabungan antara sejarah dengan tema fantasi, yang kemudian digarap dengan intens dan penuh ketekunan telah menghasilkan sebuah bacaan fantasi yang bisa dibilang “lengkap”. Ada sihir dalam buku ini, ada pula perang, intrik, sejarah, mitos, legenda, persahabatan, perjuangan, dan juga cinta. Saya yakin Akkadia ini digarap dengan begitu serius, hasil dari oleh pikir sang penulis juga polesan para editor yang berjuang sekuat tenaga menghasilkan sebauh kisah epic yang begitu mendetail seperti Akkadia. Secara cerita, plot novel ini begitu tak tertebak, pembaca akan sulit menerka bagaimana jalan cerita selanjutnya. Bahkan, banyak tokoh yang berbolak-balik sehingga kita tidak tahu siapa sebenarnya yang harus kita dukung atau malah kita benci.

                Untuk saran, bagian deskripsinya agak kurang bisa terbayangkan, walaupun cukup detail. Sampai selesai membaca buku ini, saya masih sulit membayangkan bagaimana rupa atau wujud barion ini. Saya juga masih kesulitan membayangkan sosok Naia dan Tezza.  Atau, mungkin karena saking serunya alur cerita sehingga saya nggak memperhatikan detail, bisa saja sih begitu. Kritik lain adalah soal fontnya yang kecil dan rapat. Buku ini sangat bagus, tepi entah kenapa saya butuh waktu lama saat membacanya. Dan, setiap kali membaca pasti ketiduran sehingga buku ini baru selesai dalam 1 minggu, cukup lama karena halamannya yang hanya 370-an. Mungkin, kerapatan spasi dan kecilnya font ikut mempengaruhi. Tetapi, saya tetap yakin bahwa Akkadia adalah sebuah novel fantasi karya local yang seharusnya bisa dibaca dan diapresiasi lebih banyak orang.

                “Kita harus percaya bahwa ada sesuatu yang baik menunggu kita di luar sana, jika kita berani mengambil resiko.” (hlm 337)

1 comment:

  1. dari reviewnya, sy pengen banget baca buku ini.kisah mesopotamia dan sungai tigris tercatat dalam sejarah, beneran ada. dan membayangkan kisah fantasi di dalamnyajadi bikin penasaran. apalagi dengan banyak intrik di dalamnya :)

    ReplyDelete