Search This Blog

Thursday, April 23, 2015

Konstantinopel



Judul: Konstantinopel
Pengarang : @sughabuzz
Penyunting: Ambra
Cetakan: 1, April 2015
Tebal: 272 hlm
Sampul: Aan
Penerbit: DIVA Press
ISBN: 9786022960881

25405106

Saya tidak menyangka kalau akhirnya saya sangat menikmati membaca Konstantinopel. Buku thriller lokal ini tidak kalah dengan buku sejenis yang hasil terjemahan. Settingnya yang di Indonesia tidak lantas membuat buku ini jadi konyol atau terkesan meniru. Tidak, buku ini seperti punya jiwanya sendiri, sesuatu yang membuat saya hanyut dalam lembar-lembar di dalamnya. Ikut deg-degan menebak siapa korban berikutnya. Geregetan melihat ulah si pembunuh. Ikut asyik menebak siapakah sebenarnya sang pembunuh. Ketika tanpa sadar halaman terakhir sudah di depan mata, barulah saya berharap seandainya saja buku ini lebih tebal sehingga bisa terus menemani aksi Putra Bimasakti dalam mengungkap kejahatan.

            Konstantinopel dibuka dengan terbunuhnya seorang caleg DPR bernama Ine Wijaya saat mobilnya tertabrak kereta api. Kedua, telah terjadi kebakaran besar yang memakan korban dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebakaran itu turut menewaskan Sandra Sienna Dewi, yang juga menjabat staf administrasi gedung DPR. Sebelumnya, tidak ada yang menduga kalau kedua peristiwa  itu berkaitan sampai terjadilah suatu insiden yang sama. Kedua korban sama-sama kehilangan jari kelingking sebelah kiri. Kebetulan lain yang cukup mencolok adalah kedua korban sama-sama teman dekat dari Cinta Clarisa, anak angkat dari Presiden RI.

            Putra Bimasakti, 23 tahun, baru saja diangkat sebagai asisten dari wakil kepala BIN. Di hari pertamanya, dia sudah mendapat tugas berat dari pimpinannya, Catur Turangga, untuk menyelidiki dua kejadian tersebut. Apakah terbunuhnya Ine dan Sandra hanyalah sebuah kecelakaan, ataukah sebuah pembunuhan. Dengan otaknya yang cerdas, Bima sudah merasakan ada sesuatu yang janggal pada kedua kasus itu. Semacam benang merah menautkan peristiwa-peristiwa mengerikan di seputar putri sang presiden. Dengan bertugas sebagai sopir pribadi sekaligus pengawal Cinta Clarisa, Bima berhasil mengetahui fakta tentang Konstantinopel. 

            Berdasarkan pembicaraannya dengan Rohman Abdurrahman, seorang wartawan yang juga pernah dekat dengan Cinta, terungkaplah bahwa baik Ine, Sandra, Rohman, maupun Cinta pernah tergabung dalam Konstantinopel bersama tiga orang teman mereka yang lainnya. Konstantinopel dibentuk ketika ketujuh orang itu sempat kuliah bersama-sama di Universitas Instanbul, Turki. Mereka adalah Ine, Sandra, Cinta, Rohman,Januar, Juan, dan Felix. Dipertautkan bersama oleh ikatan yang sama sebagai sesama mahasiswa yang merantau ke Turki, ketujuhnya pun kompak bersahabat dan membentuk kelompok perkawanan yang dinamai Konstantinopel. Sayangnya, sekembalinya  ke Indonesia, persahabatan ketujuh anak muda itu semakin renggang dan diwarnai konflik kepentingan.

            Kembali anggota Konstantinopel dipersatukan dengan terbunuhnya dua anggota mereka. Belum jelas apa gerangan yang terjadi, pembunuhan ketiga terjadi, kali ini menimpa Rohman. Sama seperti dua kasus sebelumnya, si pelaku juga mencuri kelingking korban yang sebelah kiri. Polisi maupun BIN sama-sama mulai mengenali adanya suatu rencana rahasia di balik tiga peristiwa ini. Satu demi satu anggota Konstantinopel dibunuh, ini adalah sebuah pembunuhan berantai dengan skema tertentu. Sampai di sini, saya teringat pada novel-novel Dan Brown (dan tampaknya penulis memang mengikuti gaya penulisan Dan Brown) yang berpola pembunuhan berantai dan si pembunuh misterius meninggalkan jejak yang sama-sama misteriusnya. Dalam hal ini, kelingking yang hilang adalah jejak si pembunuh.
            Sementara 4 anggota Konstantinopel semakin waswas dengan keselamatan dirinya, Bima harus membantu atasannya untuk memecahkan kasus ini. Alibi keempat anggota Konstantinopel dipertanyakan, mereka juga harus mendapat pengawalan rahasia dari polisi. Bima bahkan sempat mengejar si pembunuh Rohman, tapi sayangnya si pembunuh entah sangat gesit, jago, dan juga berfisik prima. Fakta baru muncul, si pembunuh ditemukan telah terbunuh keesokan harinya, dan dia adalah orang Turki. Semua petunjuk semakin membingungkan Bima, sementara waktu terus berjalan dan media massa sudah panas dengan rangkaian kejadian tragis itu. Sementara itu, korban keempat pun jatuh, kemudian korban kelima.

            Walau belum sempurna, Konstantinopel memiliki alur cepat, dengan potongan-potongan cerita yang pendek dan meloncat-loncat sehingga membacanya semakin membuat penasaran semakin ke belakang. Siapa pembunuhnya, siapa korban berikutnya, mengapa dia membunuh, dan mengapa jari kelingking korban harus hilang. Secara tersirat, penulis sebenarnya sudah memberikan petunjuk di tengah-tengah cerita tentang identitas si pembunuh, pembaca hanya harus peka saja. Kalau terbiasa baca buku-buku detektif, kemungkinan bisa menebak si pembunuh, tapi saya pun sempat gagal menebak karena memang tokoh itu benar-benar tidak terduga.

            Selain itu, masih ada beberapa “bolong” dalam novel ini, meisalnya tentang mengapa yang diambil adalah kelingking sebelah kiri, mengapa harus Turki, juga beberapa scene yang menurut saya terlalu hero, misalnya ketika Bima mengobrak-abrik MABES POLRI serta saat Bima nekat terjun dari lantai 6, dan tidak apa-apa meskipun hanya ditadahi oleh kain penyelamat. Tapi, dengan mengabaikan sejenak bolong-bolong itu, Konstantinopel  sangat seru untuk diikuti. Saya habis membacanya dalam satu hari karena di samping kertas dan fontnya yang enak dibaca, juga karena penasaran dengan siapa si pembunuh sebenarnya. Setelah Misteri Patung Garam, semoga akan semakin banyak lagi muncul novel-novel karya penulis lokal yang seperti ini. 

"Memang, mengakui sebuah aib rasanya sangat memalukan. Tapi, menutupi sebuah aib dengan kejahatan lainnya adalah suatu tindakan yang sangat biadab!" (hlm 270)

No comments:

Post a Comment