Search This Blog

Wednesday, January 10, 2018

Mencari Jalan Cinta Lewat Mencari Rumi

Judul: Mencari Rumi
Pengarang:Roger Housden
Penerjemah: Jimmi Firdaus
Sampul: Ferdika
Cetakan: Pertama, Januari 2018
Tebal:
Penerbit: Basabasi










Memang benar kalau ada yang bilang Rumi tidak lagi hanya menjadi milik orang Islam. Rumi dan karya-karyanya telah menginspirasi orang-orang dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai ras atau agama, juga tempat tinggal. Bahasa cinta memang tidak mengenal sekat dan batas, dan syair-syair cinta Rumi benar-benar membuktikan hal ini. Georgiou, seorang pelukis muda Yunani yang berdiam di Florence, Italia, hanyalah salah satu dari ribuan atau bahkan puluhan ribu orang yang tersentuh oleh syair-syair Rumi. Sesuai judulnya, Mencari Rumi menggambarkan perjalanan panjang si pelukis muda untuk mencari sang sufi agung di negeri asing. Berawal dari kota Florensia yang indah di Italia, Georgiou tidak bisa menemukan sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. 

Pemuda itu tinggal di kota terindah di Eropa, memiliki pekerjaan yang disukai sekaligus menjamin kehidupannya, serta dia dapat bekerja sekaligus mencari pahala. Georgiou ini pelukis orang-orang suci dalam ajaran Katholik ngomong-ngomong. Semua keindahan duniawi itu ternyata belum mampu menerbitkan kepuasan batin dalam diri si pemuda. “Betatapun indahnya dunia, tak ada satu pun yang mampu mengisi semua kehampaan ini,” keluhnya.  Hatinya tersentil ketika temannya membacakan satu petikan dari syair karya Rumi. Nama yang asing, yang baru pertama kali didengarnya. Tetapi dari syair yang dibacakan Andros, temannya, pemuda itu mulai menemukan tanda-tanda bahwa kepada Rumilah hatinya akan menemukan jawaban dari segala pertanyaannya. “Keinginanmu tidak akan selalu bisa diwujudkan sesuai rencana. Yang bisa kau perbuat hanyalah mengikuti suara hatimu,” kata Andros.


Maka dimulailah perjalanan Georgiou menuju makam sang sufi agung di kota Konya, Turki. Ini bukan perjalanan yang mudah tentu saja. Di samping masalah transportasi yang belum semulus sekarang (setting novel ini kemungkinan adalah pertengahan abad ke-20, masa-masa setelah Perang Dunia Kedua), juga karena dia harus mengunjungi negeri yang menjadi musuhnya. Selama ratusan tahun, Imperium Turki Utsmani memang menguasai semenanjung Yunani sehingga bisa dibayangkan betapa berat keputusan dan perjalanan Georgiou. Tetapi, hati selalu menjadi bahan bakar suci yang menakjubkan. Demi “bertemu” Rumi, pemuda itu memantapkan hati untuk tetap berangkat menuju Konya, menuju jawaban atas semua pertanyaannya. Perjalanan menuju Konya inilah salah satu paling menarik di buku ini. Saat Georgiou di Yunani, dia bertemu dengan para biarawan Katolik ortodoks yang luar biasa ketaatan dan ketajaman batinnya. 
 
“Aku juga tahu, ada jalan-jalan lain. Saudara-saudara kita yang beragama Islam, terutama para darwis, tidak pernah mengasingkan diri dari dunia nyata, namun tak diragukan lagi bahwa di anatar mereka banyak yang menjadi orang suci layaknya di gereja kita.” (hlm 61)

Georgiou sepertinya hendak menanyakan arti jalan cinta. Bagi kaum sufi dan biarawan katholik, cinta tertinggi tentu saja cinta menuju sang Khalik. Hanya saja, jalan menuju Cinta tertinggi itu mungkin berbeda-beda. Georgiou ini kayaknya bimbang mau ikutan yang mana. Haruskah dia mengasingkan diri dari dunia sebagaimana para biarawan untuk bisa menggapai cintaNya, ataukah mengikuti jalan para sufi yang tetap mampu meraih Cinta tanpa harus meninggalkan sifat-sifat kemanusiaannya (menikah, bekerja, berkeluarga, dan sebagainya). Pada akhirnya, dia sendiri yang harus menemukan jalan cintanya. 

Agak tertipu sama covernya. Awalnya mengira ini buku "Rumi" lain tentang karya-karya Rumi. Ternyata, ya memang buku tentang Rumi sih tetapi ini novel, ditulis pengarang Barat dengan corak tulisan inspiratif-perenungan ala Coelho. Sambil membaca buku ini, saya tak henti meng-googling tempat-tempat indah yang dikunjungi Georgiou dalam perjalanannya mencari Rumi. Satu hal yang menarik dari buku ini, Mencari Rumi tidak kemudian membuat Georgiou masuk Islam, atau berubah jadi biarawan. Ia menemukan jalan cinta yang dia banget. Lewat buku ini, penulis menunjukkan betapa jalan cinta itu begitu beraneka ragam dan setiap insan bisa menemukannya ketika dia berupaya. Saya juga menemukan jawaban mengapa orang baik itu auranya begitu kerasa.

“Sebagian orang, entah karena sopan atau baik hati, kehadirannya lebih terasa dibanding yang lain. Dia menyeruak keluar dari dirinya sendiri bagai segulung gelombang dan memengaruhi orang-orang yang peka terhadapnya. Mereka merasakan ketenangan berkat kehadiran orang itu.” (hlm. 118)

No comments:

Post a Comment