Search This Blog

Monday, November 23, 2015

Hector and the Search of Happiness

Judul: Hector and the Search of Happiness
Penulis: Francois Lelord
Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting: Nuraini Mastura
Cetakan: 1, November 2015
Sampul: Oesman
Tebal: 263 hlm
Penerbit: Noura Books

27394534

Kebahagiaan pada dasarnya tergantung pada cara kita memandang sesuatu, seperti konsep gelas setengah penuh atau setengah kosong.” (hlm. 208)

Apa itu bahagia, bagaimana meraihnya? Mungkin, inilah pertanyaan yang paling sering diutarakan oleh manusia modern, pertanyaan tentang kebahagiaan. Di zaman ketika segala sesuatunya bisa dibilang ‘hampir semuanya ada dan mudah’ seperti saat ini, rupanya pertanyaan tentang kebahagiaan masih kerap mengemuka. Apa itu bahagia? Sebuah pertanyaan sederhana tapi begitu panjang dan beragam jawabannya. Cobalah tanyakan pertanyaan simpel itu kepada salah satu atau dua teman Anda, dan bersiaplah menuliskan sebuah daftar panjang berisi kebahagiaan. Pada akhirnya, bahagia bagi setiap orang adalah berbeda-beda, mulai dari yang sederhana seperti memiliki rumah dan kebun sendiri hingga yang pelik beraroma politik macam lebih sulit untuk merasa bahagia di sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang jahat. (hlm. 102)

                Sepertinya, memang belum ada rumusan yang tegas dan jelas mengenai definisi kebahagiaan. Tema tentang kebahagiaan sendiri termasuk tema seksi bagi para ilmuwan pencari kebahagiaan yang mencoba menyarikan kebahagiaan dalam format rumus atau persamaan atau bahkan hitungan matematis. Hector adalah salah satunya. Pria yang juga seorang psikiater ini tinggal di negara yang memiliki jumlah psikiater jauh lebih banyak dibandingkan dengan di belahan dunia lain. Negara Hector juga maju, keamanan dan kesehatan terjamin, bersih, dan sepertinya semua orang bisa hidup makmur. Meskipun demikian, tetap saja Hector menerima sejumlah pasien yang meminta pil darinya untuk melawan kesedihan, gundah-gulana, kegalauan dalam kehidupannya. Hector berpikir, bahkan di negeri yang maju pun, masih banyak orang yang tidak bahagia.
                “Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan.” (hlm. 29)
                Pengalaman langsung bersama pasiennya inilah yang kemudian memunculkan semacam tanda Tanya dalam diri Hector. Dia bahkan mulai mempertanyaan apakah dirinya juga sudah bahagia meskipun pada kenyataannya dia memang layak disebut pria yang bahagia. Hector memiliki pekerjaan yang dia sukai, memiliki Clara yang dia cintai, serta tidak pernah mengalami masalah kesehatan atau gangguan jiwa yang serius. Tapi, tetap saja, ada setitik ketidakbahagiaan yang muncul karena adanya ketidakbahagiaan orang lain. Hati Hector pun tergerak. Dia harus mencari dan menemukan apa itu sumber-sumber kebahagiaan nan sejati, untuk kemudian menggunakan serta menyebarkannya ke sebanyak mungkin orang-orang. Maka, pergilah Hector mengelilingi dunia untuk mencari kebahagiaan.
                “Mengetahui dan merasakan adalah dua hal yang berbeda. Merasakan adalah hal yang lebih penting.” (hlm 124)
                 Negeri Tiongkok sepertinya memang memiliki aura khas yang dekat dengan hal-hal yang berbau kebijaksanaan hidup—termasuk pencarian akan kebahagiaan. Ke negeri inilah Hector melakukan salah satu perjalanannya. Di sebuah kota yang diapit pegunungan tinggi dan lautan, Hector bertemu dan melihat serta mengalami banyak hal, yang kemudian ditakar serta dipandangnya lewat kaca mata kebahagiaan. Orang-orang seperti Edouard dan Ying Li menunjukkan kepada Hector betapa ragam kebahagiaan memang bervariasi bagi setiap orang dan akan sangat susah untuk membuat semacam persamaan tentang kebahagiaan yang dapat diterapkan pada setiap orang. Tetapi Hector tidak mau menyerah. Dalam perjalanan solonya ke sebuah biara di puncak bukit, dia bertemu seorang biksi tua yang sepertinya memahami upaya pencarian yang dilakukan Hector. Bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan kebahagiaan, si biksu malah meminta Hector untuk kembali kepadanya ketika Hector sudah menemukan jawaban sempurna tentang sumber-sumber kebahagiaan. “Kebijaksanaan sejati adalah kemampuan untuk hidup tanpa melihat pemandangan seperti ini, menjadi orang yang sama meskipun di dasar sumur sekalipun. Tetapi, hal itu, tentu saja, tidak mudah dilakukan,”  demikian ungkap sang biksu. Hector pun kembali meneruskan perjalanannya.
                “Kebahagiaan hadir ketika kita merasa benar-benar hidup … (dan) mengetahui cara merayakan sesuatu.” (hlm 141)
                Sebuah negara yang kacau di Afrika menjadi tujuan Hector berikutnya. Di kawasan yang rentan konflik bersenjata, korup, kacau, juga kering-gersang ini, sang psikiater ingin menemukan sekiranya masih ada orang-orang yang bisa hidup berbahagia. Perjalanan inilah yang paling mendebarkan sekaligus tak terlupakan oleh Hector karena dia sempat mengalami sendiri pengalaman nyaris terbunuh ketika dia disandera tanpa sadar oleh sebuah kelompok bersenjata. Terbebaskan dari lubang jarum membuat Hector semakin menghargai kehidupan dan merayakannya—yang kemudian, diketahuinya sebagai salah satu dari sumber-sumber kebahagiaan. Di tempat yang sama, Hector juga menjumpai orang-orang yang sepertinya selalu memiliki alasan untuk bisa berbahagia meskipun keadaan sedang tidak memungkinkan.
                “Kebahagiaan adalah peduli terhadap kebahagiaan orang-orang yang kita cintai.” (Hlm. 158)
                Masih ada beberapa lagi perjalanan Hector di buku ini, semuanya dituliskan dengan asyik dan mudah diikuti. Berat tetapi disajikan dengan hemat serta sedikit unsur kocak, menjadikan buku ini cukup asyik untuk dinikmati, sebelum pembaca menyadari, ternyata kisah perjalanan Hector sudah berakhir. Kemudian, kebahagiaan macam apakah yang ditemukan Hector? Apakah daftar jenis-jenis kebahagiaan yang ditemukannya benar-benar bisa dikalkulasikan menjadi sebuah persamaan? Sebagaimana Hector, kita semua bisa belajar dari buku ini bahwa menjadi bahagia adalah sebuah perjalanan, bukan suatu tujuan. Karena mencoba untuk selalu berbahagia sepanjang perjalanan pasti akan jauh lebih menyenangkan ketimbang terus menanti kebahagiaan yang menunggu di ujung jalan. Lebih baik mencoba berbahagia, dan kita akan berbahagia. 
             “Banyak orang yang melihat kebahagiaan hanya berada di masa depan.” (hlm 39)

2 comments:

  1. lagi baca buku ini nih, so far sih bagus bukunya semoga bisa cepet selesai bacanya ��

    ReplyDelete
  2. lagi baca buku ini nih, so far sih bagus bukunya semoga bisa cepet selesai bacanya ��

    ReplyDelete