Search This Blog

Tuesday, January 31, 2012

Book from Secret Santa: The Demon’s Lexicon

Judul               : The Demon’s Lexicon
Pengarang       : Sarah Ress Brennan
Penerjemah     : Rini Nurul Badriah
Editor              : Helena Theresia
Penerbit           : Ufuk Press
Cetakan          : 2, September 2011



            Saya tahu ada yang tidak beres dengan Nick. Pemuda ini terlalu sempurna, terlalu kaku, terlalu kuat, dan terlalu sempurna untuk bisa disebut manusiawi. Adik laki-laki dari Alan Ryvess ini, bersama kakak dan ibunya telah berpindah-pindah rumah dan sekolah demi menghindari kejaran para penyihir yang mengincar jimat mereka. Dikisahkan di awal-awal cerita, ayah mereka, Daniel Ryves, telah menyelamatkan seorang penyihir wanita yang membelot dari klan penyihir berbahaya, Lingkaran Obsidian, dengan membawa salah satu jimat iblis mereka yang paling kuat. Demi melindungi keluarganya, Daniel kemudian mengorbankan diri dengan menembus pentagram sihir yang mengurung keluarga itu ketika Alan dan Nick masih berusia 7 dan 5 tahun. Sejak peristiwa itu, tugas melindungi keluarga berada di tangan Alan.  Kakinyanya bahkan pincang karena terkena serangan api iblis saat hendak berupaya menyelamatkan keluarganya.

            Berbeda dengan novel-novel fantasi yang tengah booming saat ini, penyihir dalam The Demon’s Lexicon digambarkan sebagai tokoh yang jahat. Mereka biasa memanggil iblis dengan menumbalkan kehidupan manusia lain. Dengan menandai korbannya, maka seorang penyihir bisa menghadirkan iblis ke dunia sekaligus meminta apa yang ia inginkan sebagai imbal-balik dari jasanya.

            Tingkat pertama adalah kedua torehan itu. Itulah pintu masuknya. Begitu dibuat, para iblis mengetahui ada titik lemah, dan mereka mulai berkumpul di pintu penghubung kedua dunia. Mereka dapat melacakmu setelah tanda pertama itu ada. Tingkat kedua adalah segitiganya. Tiga titik sama sisi … tiga tusukan sama sisi … dan itu artinya seseorang harus mati. …Di dalam pintu, di dalam segitiga, ada mata. Itulah yang ketiga. Begitu kau memilikinya, mereka menguasaimu. (hlm. 37)

            Cerita ini dibuka dengan cepat, ketika dapur Alan dan Nick diserbu oleh gagak-gagak hitam serta ular kabut, yang ternyata adalah jelmaan penyihir. Mereka lalu didatangi oleh Mae dan adiknya Jamie—yang telah ditandai dengan tingkat tiga. Dengan membawa mamanya yang agak tidak waras, Nick dan Alan harus berjuang menyelamatkan dua orang lagi. Cerita ini adalah tentang pertempuran antara manusia dan penyihir + iblis. Nick digambarkan sebagai seorang pemuda ahli pedang yang sangat kuat (terlalu sempurna malah sebagai pemuda 17 tahun) sementara kakaknya si Alan, yang pincang dan lemah dalam bela diri, adalah sosok yang cenderung lebih manusiawi (walaupun kadang juga terlalu baik).

Walau didominasi oleh adegan aksi menembak menyihir dan menebas iblis, The Demon’s Covenant lebih menyorot aspek psikologis yang terjadi dalam diri Nick. Kita diajak untuk mengulik apa dan bagaimana pergulatan aneh yang berkecamuk di benak Nick. Pemuda itu luar biasa kuat secara fisik, tetapi di dalam kepribadiannya, Nick tahu bahwa ada yang salah dengannya. Itulah kenapa Alan begitu menyayangi  dan seolah ingin selalu melindungi adiknya, padahal tubuhnya lemah. Lanjut ke cerita, lima orang tersebut akhirnya harus mendatangi langsung markas dari Lingkaran Obsidian demi menemukan penangkal untuk Jamie dan juga Alan (yang telah ditandai oleh penyihir karena menyerahkan jimat perlindungannya pada Mae. 

Di tempat itu pula terjadi pertempuran terakhir yang menentukan antara mereka dengan pimpinan Lingkaran Obsidian, sang Black Arthur, penyihir terkuat. Ironisnya, Nick terkurung oleh pentagram pengurung, sementara Alan, Mae, dan Jammie juga tertangkap. Dalam keadaan terkurung inilah Nick mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, yang selama ini berupaya ditutup rapat oleh Alan. Ternyata, kuncinya ada di Nick sendiri. Kok bisa, baca saja novel yang seru dan unik ini karena twist-nya memang ada di situ.

The Demons’ Lexicon unik sekaligus menarik karena mampu menghadirkan ramuan yang pas antara ketegangan aksi dan kerumitan perang batin, antara persaudaraan dengan pertemanan, antara bumbu-bumbu romantisme dan  praktik-praktik sihir yang banyak dijumpai di Barat. Sebuah novel pendek tapi terasa utuh dan memuaskan saat selesai dibaca. Membacanya, kita akan mendapatkan banyak cerita seru sekaligus ajaran-ajaran kokoh tentang pentingnya ikatan kekeluargaan, tentang besarnya arti pengorbanan, dan tentang indahnya melindungi orang-orang yang kita cintai. 


Terima kasih kepada my secret santa, Mbak Astrid Felicia Lim yang dalam kadonya terselip daun indah dari negeri Rivendell. Bukunya keren ini mbak, sekeren saya #eh.

Monday, January 30, 2012

Clara’s Medal

Judul                          : Clara’s Medal
Pengarang                  : Feby Indirani
Penyunting                  : Miranda Harlan, Melvi Yendra
Penyelaras aks           : Noviyanti Utaminingsih, nunung Wiyati
Cetakan                     : 1, September 2011
Penerbit                     : Mizan Publika




“saat mimpi terasa mustahil, mungkinkah kita berharap pada semesta?”

            Inilah sebuah novel tentang MESTAKUNG, sebuah konsep temuan Prof. Yohanes Surya, Ph.D. yang sudah menelurkan bakat-bakat baru dalam dunia fisika dan membawa mereka berprestasi di tingkat dunia. Inilah novel tentang pembuktian konsep “semesta memberikan apa yang kita inginkan, hanya ketika kita benar-benar memikirkan, berfokus, dan berjuang sekuat tenaga untuk menuju ke arah itu”. Lebih dari itu semua, inilah novel tentang perjuangan para bakat-bakat muda yang telah mempercayai sekaligus membuktikan kebenaran dari konsep MESTAKUNG, bahwa setiap perjuangan pasti ada imbalannya, tidak ada yang sia-sia.

            Adalah FUSI (Fisika Untuk Siswa Indonesia), sebuah lembaga yang bergerak dalam penggemblengan 16 bakat fisikawan terbaik dari seluruh Indonesia. Lembaga ini menyeleksi seluruh peserta Olimpiade Fisika Nasional untuk kemudian dipilih 16 siswa terbaik yang akan digembleng, diasramakan, dan dididik secara intensif selama 5 bulan dengan materi fisika yang sepadan dengan 8 semester kuliah di jurusan fisika. Mereka-mereka ini ditempatkan sedemikian rupa dengan latihan intensif, pembelajaran yang terus-menerus hingga tercipta kondisi kritis, yakni proses ketika terjadi pengaturan diri sendiri—dan individu-individu lain di sekitarnya—sehingga memunculkan potensi nan luar biasa dahsyat. Sederhananya, ketika diri ditempatkan dalam kondisi kritis, dipaksa untuk mengerahkan segenap potensi, maka setiap molekul di alam (termasuk dalam diri kita) akan menempatkan diri sedemikian rupa untuk membantu kita mengeluarkan yang terbaik.

            “Pada dasarnya, ketika sebuah unsur memiliki tujuan, maka seluruh dirinya akan memancarkan energi untuk  mencapai tujuan itu. Dan, ketika unsur-unsur pendukung satu tubuh memiliki tujuan yang sama, akan terjadi penyatuan energi yang menimbulkan pancaran kuat ke alam semesta.” (hlm 358)
           
Dan, Clara adalah salah satu dari 16 anak muda terpilih itu. Lolos dalam seleksi olimpiade tingkat provinsi, gadis muda ini menjadi satu-satunya wanita yang berhak mendapatkan pelatihan intensif di FUSI. Belajar bersama, menguji soal, mendalami teori, membaca buku-buku tebal, semuanya harus ia lakukan bersama 15 cowok remaja yang pasti sedang ajaib-ajaibnya di usia itu. Karena berasal dari seluruh Indonesia, para peserta FUSI membawa serta kebiasaan dan cerita baru, yang satu demi satu dirangkai dan dijalin indah oleh Clara. Inilah hiburan alias selingan paling indah yang dialami Clara dalam 5 bulan menjalani hari-hari super ketat di FUSI. Ibaratnya, FUSI adalah Indonesia mini dengan pribadi-pribadi yang berlainan wataknya—kesamaannya mungkin satu, rata-rata mereka kutu buku, luar biasa cerdas, dan suka senewen kalau belajarnya diganggu hehehehe.

Aneka kisah dijalin apik dalam FUSI. Lewat Clara’s Medal, penulis dengan apik mampu menuturkan apa saja yang dialami oleh para peserta pelatihan FUSI yang dididik untuk mengikuti olimpiade fisika internasional. Bagaimana Clara dan teman-temannya harus belajar sampai jam dua pagi, bagaimana mereka harus membaca buku setebal 5 cm hanya dalam satu minggu, bagaimana mereka harus menyelesaikan bundel-bundel latihan soal yang super tebal, hingga betapa kuatnya perjuangan anak-anak terpilih ini demi bisa mewakili Indonesia di ajang internasional. Yang lebih menariknya lagi, kisah pada kutu buku fisikawan ini juga dibumbui dengan aroma dunia anak muda, yang membuatnya tidak membosankan. Diceritakan dari sudut pandang Clara (dan alam beberapa bab juga dari sudut pandang sejumlah peserta yang lain), Clara’s Medal benar-benar mencerminkan apa yang dialami dan dirasakan Clara sebagai remaja. Terlepas dari kumpulan jagoan fisika, FUSI juga diwarnai dengan indahnya persahabatan, ketatnya persaingan, bumbu-bumbu romantisme, serta berbagai candaan remaja tanggung yang kadang suka slengean.

Alurnya yang maju dan kemudian mundur di beberapa bab sempat membuat saya bingung, namun ternyata alur mundur itu hanya dibatasi dalam beberapa bab, selebihnya terus maju. Ini menjadikan pembawaan Clara’s Medal begitu berwarna—sebagaimana para peserta FUSI yang juga beraneka ragam. Kisah-kisahnya dijalin dengan apik, dengan beberapa kejadian pemantik yang seru, mulai dari ditangkapnya Bagas (salah satu peserta FUSI yang paling smart tapi cenderung asosial dan--uhuk--disukai Clara), insiden kecurangan yang dilakukan salah satu peserta FUSI (dengan meracuni peserta lainnya) hingga kegalauan hati Clara akan semua yang ia hadapi.
           
Novel ini juga mengajarkan kita akan pentingnya memiliki tujuan, tetap berfokus pada tujuan, serta berupaya memiliki semangat dalam mencapai tujuan tersebut. Juga tentang perbedaan dari orang bijak dan orang pintar (“Orang pintar itu berusaha menyelesaikan masalah, sementara orang bijak menjauhi masalah), tentang keberanian untuk tetap mencoba meskipun kegagalan selalu menghantui, tentang berfokus pada keberhasilan yang ingin dicapai alih-alih pada kegagalan, dan juga tentang fakta bahwa fisika itu asyik jika didalami.

Catatan: Saya kok juga kurang cocok sama covernya yang seperti majalah remaja, emang sih anak fisika belum tentu kuper dan berkaca mata tebal, dalam novel ini Clara digambarkan memang seperti model remaja, tapi kok posenya kurang mencerminkan semangat kompetisi dan ilmu pengetahuan *maaf sok tahu* hihihihi

Tuesday, January 24, 2012

Fantasy Fiesta 2011, Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2011

Judul                       Fantasy Fiesta 2011, Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2011
Penulis                     R.D. Villam, Klaudiani, Bonmedo T dan 17 Pemenang Kontes   
                               Fantasy Fiesta 2011
Penyunting               Lutfi Jayadi
Sampul                    Imaginary Friens Studio
Cetakan                  1, Desember 2011
Tebal                      325 Halaman.
Penerbit                  Adhika Pustaka


             Setiap kali membaca cerpen atau cerita pendek, pembaca harus siap dengan dua konsekuensi. Pertama, merelakan kisah seru yang terlalu cepat berakhir, dan kedua, gemas dan kesal luar biasa karena ending cerita yang sengaja dibuat menggantung oleh penulisnya. Sebuah cerpen sebagai karya fiksi yang pendek dan tidak sepanjang novel memang memiliki syarat-syarat yang ketat. Penulis harus bisa merangkum satu cerita panjang—dalam FF2011 bahkan sebuah dunia fantasi—ke dalam jajaran 4-5 halaman yang terdiri dari 3.000-4.000 kata. Dalam beberapa paragraf singkat seorang penulis cerpen dituntut untuk mencipta keindahan kata dan semaraknya imajinasi, sehingga menghasilkan karya tulis pendek yang tidak hanya membuat pembaca terkesan, namun juga mampu menciptakan ending atau terusan cerita versi masing-masing. Dan, kerja keras para penulis seperti inilah yang saya kagumi dari para pemenang kontes Fantasi Fiesta 2011 yang diadakan oleh penerbit Adhika Pustaka tahun 2011 yang lalu.

             20 cerita terpilih, masing-masing dengan warna berbeda serta keajaiban yang berlainan, menawarkan aneka petualangan ke ranah imajinasi. Mulai dari menaiki kapal ke sebuah pulau terkutuk, bermain-main dengan 16 terakhir kehidupan seseorang, hingga berandai-andai bagaimana jika kata “aku” terlarang untuk diucapkan. Berikut ini uraian singkat tentang harta imaji apa saja yang tertuliskan dengan begitu mantapnya dalam sebuah buku dengan sampul  yang sangat menawan ini.




1. Bentala Imaji
             “Bentala Imaji” ibarat sebuah cerpen yang benar-benar cerpen. Maksud saya, selain judulnya yang begitu sastrawi, cerpen ini menawarkan sebuah kualitas dari dua cerita yang entah bagaimana saling bertautan. Kisah si Aji yangberupaya terbang menuju kebebasan berimajinasi. Kalau menurut sepenangkapan saya (hasyah bahasanya), “Bentala Imaji” adalah tentang dorongan untuk mengapai imaji manusia. Dari seluruh pemenang FF 2011, hanya dengan si penulis kisah inilah saya pernah berkenalan dan berjabat tangan.

2. Bhupendra Gagan
   Dari seluruh cerita yang ada di FF 2011, “Bhupendra Gagan” adalah yang paling saya sukai. Kisahnya bersetting di wilayah India pada awal masa, jauh sebelum tahun Masehi dimulai. Tentang kemaharajaan yang melarang penggunaan kata “aku” karena siapapun yang mengucap kata kutuk itu akan segera dipancung. Aturan yang awalnya aneh dan nyentrik ini ternyata berdampak besar dalam memperbaiki moral masyarakat di negeri itu. Kejahatan pun hilang, dan seluruh negeri pun terangkat ke langit saking ringannya dosa-dosa di bumi kerajaan itu.

3. Dongeng Kanvas
                Satu lagi kisah tentang peri, memadukan antara kisah fantasi, nilai seni dan tentang besarnya makna pengorbanan. Bayangkan dirimu sebagai gadis yang hanya bisa melihat benda berwarna hitam namun sekaliguas adalah seorang pelukis hebat. Bakatnya diuji ketika sang ratu memintanya melukis peri. Dan untuk melakukannya, ia harus percaya bahwa peri tiu memang benar-benar ada. Dikisahkan dengan begitu halus dan cerpenis banget, pembaca harus sering mengingatkan dirinya bahwa kisah ini ditujukan sebagai cerpen fantasi, bukan cerpen sastrawi karena kata-katanya sangat indah.

4. E (EPSILON)
             Kalau tidak salah, cerpen ini adalah sambungan dari kisah “Jatayu” di buku Fantasy Fiesta 2010. Mengangkat kisah tentang keagenan rahasia milik Indonesia versi masa depan bernama  Jatayu. Menggunakan tokoh-tokoh bernama huruf Yunani, “Epsilon” memadukan antara fiksi ilmiah Barat tentang manusia mutan (seperti X-Men) dengan mitos-mitos lokal (seperti Ragda).

5. Enam Belas Menit
             Dalam FF 2011, cerita Énam Belas Menit” adalah salah satu cerita yang agak berat. Emosi pembaca akan diacak-acak, menyaksikan seorang suami yang terperangkap dalam perulangan waktu. Ia diberi kesempatan untuk mengulang-ulang kembali waktu 16 menit terakhir  bersama orang yang ia cintai. Cerpen ini mengajak kembali kita untuk merenungkan keberadaan waktu kita di dunia, sudahkan kita memanfaatkan waktu yang masih tersedia ini dengan sebaik-baiknya bersama orang-orang tercinta?

6. Hari Terakhir Ishan
             Ini juga salah satu dari beberapa cerpen ber-ending sedih dalam FF 2011 (entah mengapa buku seri ini lebih banyak menampilkan cerita ber-ending sedih atau mengantung, smeoga bukan karena jurinya sedang galau xixixi). Mengisahkan tentang seorang pendeta wanita yang harus berkorban demi keselamatan rakyatnya. Lebih menyorot sisi psikologis sang pendeta ketimbang dunia unik di dalam cerita, terutama ketika sang pendeta wanita yang masih muda itu, ehem, jatuh cinta.

7. Hikayat Pungguk Merindukan Bulan
             Jika boleh menilai dengan teori sastra, cerpen inilah yang menurut saya paling terasa kental sangat sastranya dalam FF 2011. Penggunaan kata-kata yang tak lazim dan jarang digunakan, tapi indah dan bernilai rasa tinggi, menjadikan pembacaan cerita ini ibarat sedang membaca cerpen karya penulis besar di surat kabar. Ceritanya juga unik, tentang para penghuni Bumi sebelum mahkluk2 lain dari pangkalan Bulan menyerbunya.

8. Kembali ke Morova
             Ini, sekali lagi, adalah kisah yang sedih, gelap, sekaligus agak horor. Tentang seorang pemuda yang diberi kesmepatan untuk kembali ke Morova karena ada satu alasan yang menanti. Penulis seolah ingin menyadarkan kita bahwa ada alasan dari mengapa setiap dari kita berada di tempat ini, saat ini. (Beneran agak merinding membacanya).

9. Kisah Sang Kerudung Merah
                Kisah ini rupanya mengikuti tren mengemas ulang dongeng anak-anak menjadi dongeng dewasa yang lebih sadis. Tentang seorang gadis yang harus mencari tanaman obat di hutan demi menyelamatkan neneknya yang terkena wabah penyakit. Sebagaimana judulnya, kita bisa menebak bahwa di hutan ia bertemu dengan serigala (selain tambahan bahwa manusia serigala ini juga memakan ingatan). Bagi yang suka pertempuran berdarah-darah, bacalah ini.

10. Leyl-Hasrat Bebas
                Maaf, dari seluruh cerpen yang ada dalam buku ini, kisah Leyl ini adalah yang paling sulit untuk saya pahami. Penokohan dan alur besarnya sudah diceritakan dengan sangat menarik, hanya saja saya kurang bisa menangkap ujung dari cerita ini, berhentinya di titik mana, dan apa hasil yang ditimbulkan di penghuung kisah. Bagaimanapun, kisah ini menarik karena menceritakan konflik antara manusia dan manusia-binatang.

11. Menuju Akhir Masa
                Fantasy Fiesta 2011 pantas berbahagia karena kedatangan peserta yang juga merupakan penulis novel serial Ther Merlian yang terkenal itu. Di balik judulnya yang dahsyat, pembaca akan diajak sejenak mencelup ke cerita yang agak berbau spiritual, tentang merenungkan kembali konsekuensi dari ketika seseorang memiliki cahaya atau kegelapan, kasih atau kesesatan, malaikat atau iblis. Dengan lihai, penulis mampu mengambarkan cerita yang berbau religius dalam bingkai yang lebih umum dan berbau fantasi. Pada akhirnya, pilihan kita lah yang menentukan akhir dari masa depan masing-masing.

12. Misteri Pulau Goudian
                Ini adalah cerpen kedua yang paling saya sukai. Ceritanya sangat “petualangan”, yakni tentang upaya pencarian pulau terkutuk yang hanya bisa dilihat dan didatangi oleh orang-orang yang terkututk pula. Memadukan antara bajak laut, pencarian harta karun, dan sejarah kapal Galleon, pulau Goudian menawarkan sebuah petualangan dahsyat di tengah lautan tak bernama, juga perjalanan menuju kegelapan dalam masing-masing jiwa.

13. Neil/Lien
                Ini cerpen ketiga yang paling saya suka, karena menghadirkan sudut pandang unik dalam bercerita. Neil memiliki alterego lain dalam dirinya, Lien. Ia ibarat penderita schizophrenia akut yang suka berbicara pada dirinya. Namun, siapa sangka, orang lain dalam dirinya itulah yang kelak akan menyelamatkan hidupnya dalam cara yang tak disangka-sangka.

14. Noel
                Apa jadinya ketika seorang manusia mampu menciptakan manusia? Upaya ini tidak hanya jahat secara moral tapi juga tidak benar secara alam/genetis. Setiap sel dan molekul tubuh akan memberontak, takdir akan berbelok, nasib akan tetap digariskan, bahwa mereka yang hendak mencoba menyamai kekuasaan Tuhan hanya akan menemui kegilaan dan kebinasaan, serta kegilaan yang amt sangat. Kisah ini adalah tentang mahkluk mirrlith yang keluar dari balik cermin kuno peninggalan era Persia yang bisa meniru raga manusia, tapi tidak jiwanya. 

15. Oris
                Dari banyak warna-warni FF 2011, “Oris” adalah yang paling bernuansa anak-anak dan berwarna. Tentang seorang anak kaya yang terjebak tinggal bersama paman dan bibinya yang jahat. Dengan bantuan seekor kucing ajaib, imajinasi yang tak berbatas, serta keberanian untuk mengapai impian, akhirnya cerita ini berakhir bahagia.

16. Petra
                Dikisahkan sebagai sebuah companion untuk novel Xar dan Vichattan, “Petra” adalah tentang pertempuran spiritual yang dilakukan demi merebut puncak tertinggi tahta Kuil Xar. Membaca cerita yang sarat dengan nama-nama khas dunia Xar ini akan membuat pembaca tertarik utnuk lebih menyelami dunia Xar yang legendaris itu. Setelah membaca “Petra”, kerinduan untuk segera membaca seri Xar dan Vichattan pasti akan muncul (dan saya belum punya dan belum baca ihiks).

17. Selamanya Bersamamu
                Satu lagi kisah tentang cinta. Bagaimana ketika seorang pria jahat dihukum dengan selamanya menjadi kehidupan yang abadi bersama wanita yang terobsesi dengannya?

18. Selamat datang di Wonderland
                Ini adalah kisah berbau futuristis. Tentang sebuah dunia dimana orang dibayar untuk bermain di sebuah taman hiburan bernama Wonderland. Namun, alih-alih menyenangkan, setiap permainan di Wonderland adalah nyata, dengan naga, monster, buaya dan kecelakaan fatal yang benar-benar bisa merusak dan menghancurkan tubuhmu. Orang-orang jahat yang terjebak di sana akan terus dipaksa menjalani permainan demi permainan untuk bisa mengumpulkan poin agar bisa keluar dari tempat mengerikan itu, dengan anggota-anggota tubuh yang semakin lama semakin banyak diganti oleh logam dan mesin.

19. Tukang Sapu
                Ceritanya agak berat, tentang tukang sapu yang ternyata sudah ada di awal masa. Saya tidak bisa menceritakan lebih lanjut karena nanti akan tertebak siapa si tukang sapu ini dan mengapa ia diwawancarai oleh seorang mahasiswa filsafat UI semester 4.

20. Wanita Pembisik
                Akhirnya, FF 2011 diakahiri dengan tipe kisah fantasi yang sangat saya sukai, tentang penyihir. Adalah Nahra yang ingin membalaskan dendam kepada kota Azaiga yang telah membuat hidupnya sengsara. Ia berlatih keras agar bisa menyadi penyihir kegelapan yang ampuh, yang menguasai perintah memanggil monster dari dunia bawah dan memunculkan petir serta bola-bola api untuk menghancurkan kota itu. Diakhiri dengan twist yang seru, Wanita Pembisik menawarkan dunia sihir ala Trudi Carnavan namun dalam rasa yang lebih lugas untuk dinikmati. 

                Secara umum, FF 2011 menawarkan cerita-cerita yang unik dan baru, walaupun lebih cenderung menyorot sisi psikologis karakter-karakternya ketimbang sisi aksi perang fantasi yang saya sukai. Namun, saya belum bisa menemukan cerita yang mampu menandingi “Candu Aksara” yangdikisahkan dengan begitu memikat di Fantasy Fiesta 2010. Peningkatan terutama tampak pada penggunaan unsur-unsur lokal yang lebih banyak ketimbang Fantasy Fiesta 2010, yang semoga menunjukkan bangkitnya fiksi fantasi lokal karya anak bangsa. Selamat bagi seluruh pemenang. 

Thursday, January 19, 2012

Mata Air Air Mata Kumari

Judul                           : Mata Air Air Mata Kumari
Penulis                        : Yudhi Herwibowo
Editor Istimewa           : Bandung Mawardi
Tebal                           : 136 halaman
Cetakan                      : 1, 2010
Penerbit                      : Bukukatta



            
            Sebagaimana yang didedarkan dalam bagian pengantarnya yang begitu indah, Mata Air Air Mata Kumari adalah sebuah perziarahan imajinasi-lokalitas dalam ranah fiksi. Sebuah karya yang sekali lagi menunjukkan produktivitas sang penulis dalam menghasilkan bacaan-bacaan bermutu dengan beragam genre, namun dengan tetap memperlihatkan kualitasnya yang piawai. Buku Mata Air Air Mata Kumari adalah kumpulan cerpen karya Yudhi Herwibowo yang pernah dimuat di berbagai media massa, kecuali cerpen Anak Nenang Kawi yang belum terpublikasikan. Sebagaimana karya-karyanya yang banyak mengupas dari sisi sosial budaya, Mata Air Air Mata Kumari adalah himpunan dari aneka kekayaan budaya lokal, terutama Nusa Tenggara Timur dan Papua, dua kawasan di Indonesia Timur yang jarang dilirik sebagai sumber ilham oleh para penulis fiksi.

            Kualitas penulis dalam menyelami kebudayaan di Indonesia bagian timur, riset budaya yang ia lakukan, serta kentalnya unsur-unsur lokalitas yang ia usung, kesemuanya itu menjadikan buku kecil ini terasa berat karena bobot muatannya. Tenggoklah cerpen Kofa  yang dengan begitu indah hendak menyorot kekeringan yang menimpa kota di NTT itu.

            Dulu, dulu sekali, mungkin hampir semua penduduk Kofa bertanya ada apa dengan Tuhan hari itu? Mengapa saat Ia menciptakan hujan, malah tetesan debu yang jatuh? (hlm 15)

            Begitulah penulis dengan piawai menggunakan gejala alam sebagai perlambang pergolakan sosial yang terjadi di sebuh kota kecil di NTT. Ada pula kisah tentang Lama Fa (juru tikam ikan paus). Melalui cerpen yang dikisahkan dengan alur terbalik ini, penulis mengajak pembaca awam tentang kehebatan lama fa yang begitu terkenal di NTT tapi jarang dilirik di wilayah-wilayah Indonesia yang lain. Membacanya, kita serasa diajak mengarungi lautan bersama para penangkap ikan paus tradisional (yang mengingatkan saya pada novel Moby Dick karya Herman Melville). Lebih menakjubkan lagi ketika kisah ini beralur balik, dari ujung kisah ke permulaan, yang awalnya membuat pembaca bingung tetapi semakin ke belakang malah menawarkan sudut cerita yang bagus, yakni pembacaan berulang—membacanya lagi dari belakang hehehe … teknik yang unik.

            Sang pewarna kover, cerpen Mata Air Air Mata Kumari adalah satu-satunya unsur luar negeri dalam buku ini. Bersetting di sebuah wilayah terpencil di negara Nepal, cerita singkat namun mengguras pilu ini seolah hendak mendobrak kecenderungan masyarakat luas yang sangat gemar melabeli orang. Kisah pilu si gadis Kumari, yang berubah dari titisan dewi yang dipuja menjadi pelacur yang terbuang, seolah menyentil rasa kemanusiaan kita yang sering memandang orang lain dari luarnya saja. Ketika rahimnya yang suci bersentuhan dengan pria yang ia cintai sehingga menghasilkan benih calon penghuni kolong langit, masyarakat yang dulu memujanya tiba-tiba membuang sang mantan dewi ke pucuk bukit. Begitu rupa tangisan sang dewi hingga menciptakan mata air yang airnya menghidupi warga yang dulu membuangnya. Seperti tak tahu terima kasih, warga yang geram karena minum dari air mata seorang pelacurpun membunuhsi gadis Kumari dengan keji, yang menciptakan banjir dan genangan air mata yang menutupi desa.

            Simak juga cerpen Keris Kiai Setan Kober, sebilah keris yang meminta banyak tumbal. Keris yang konon dibuat oleh Empu Bayu Aji pada era Padjajaran ini sangat terkenal dalam sejarah karena banyaknya korban. Keris inilah yang kemudian menjadi senjata Arya Penangsang. Lihatlah, dalam cerpen ini, seorang Yudhi mampu menarasikan keganasan dari senjata ini. Lalu, masih ada Dua Mata perak, Anak Nenang Kawi, dan Eksekusi yang membuat pembaca berpikir sejenak berupaya mencari tahu maksud pengarang, sebelum berteriak “Aha, ternyata begitu!” Luar biasa, beraneka warna berpadu dengan cantik dalam buku kecil ini: ada sindiran sosial, lokalitas budaya yang kental, petualangan di pedalaman, hingga sedikit sentilan politik. Satu hal yang jelas, sang penulis mampu mengisahkan semuanya dalam bahasa yang halus, diksi yang sangat kental dengan budaya lokal, serta alur yang mengikat imaji pembaca. Ah, apalah saya ini sehingga berhak menilai karya yang mengagumkan ini dari sudut pandang saya yang masih teramat dangkal ini? Biar pembaca sendiri yang membaca dan memutuskan, bahwa  Mata Air Air Mata Kumari memang unik, dan indah, dan sangat “cerpen” kalau bahasa surat kabar.

            Sebagai penutup, saya kutipkan tulisan yang menghiasi sampul belakang buku ini, yang menurut saya tidak mungkin lebih pas lagi: Buku ini tidak sekadar suguhan kata di atas lembaran kertas. Buku ini menantang peziarahan imajinasi-lokalitas dan penelisikan diri manusia melalui pelbagai peristiwa. Kefasihan menuliskan kepekaan tempat (geografi) juga nengesankan kerja kepengarangan  yang (tetap) sadar dalam lintas batas imajinasi kultural-lokalitas. 

Tuesday, January 17, 2012

The Naked Traveler

Judul               : The Naked Traveler
Penulis            : Trinity
Editor             : Imam Risdiyanto
Cetakan         : 7, Mei 2011
Penerbit         : B-First (Bentang Pustaka)



Jika dunia traveling dan backpacking  menjadi sedemikian marak dan populer di Indonesia seperti akhir-akhir ini, maka salah satunya kita harus berterima kasih kepada seorang Trinity yang telah menuliskan perjalannya sebagai seorang backpackers wanita Indonesia melalui seri Trinity’s Naked Traveler. Naked disini, sebagimana telah diwanti-wanti oleh si penulis bukanlah naked  dalam arti telanjang—walaupun penulis mengaku pernah mandi telanjang di sebuah pemandian di Jepang dalam buku ke-3nya—namun lebih pada menceritakan sebuah perjalanan dengan apa adanya alias naked, tidak ditutup-tutupi. 

Trinity tidak ragu mengatakan bahwa tempat A jelek, tempat B orangnya kasar, etnis C bau badannya bau, dan di negara D prosesnya dipersulit. Dalam hal ini, Trinity berhasil mendobrak pakem yang menyatakan bahwa sebuah perjalanan wisata itu selalu indah dan menyenangkan. Melalui laporan pandangan matanya yang apa adanya, pembaca diajak untuk menyelami beragam kebudayaan, orang-orang yang berbeda, keindahan-keindahan yang terselip, dan trik-trik berwisata murah ala backpacker.

            Bagi saya, tidak ada tempat yang bagus atau jelek, hany saja berbeda. Saya selalu membuka kelima indra saya untuk merasakan sesuatu yang baru dan menikmatinya. Saya bisa nongkrong di pinggir jalan hanya untuk memperhatikan orang berpakaian, berjalan, berbicara, berjualan, atau hanya sekadar menikmati harum kopi yang sedang dipanggang, atau aroma kopi panas. (hlm xiii).

            Bagi Trinity, keindahan sebuah perjalanan terletak pada perjalanannya itu sendiri. Dengan badannya yang bongsor dan gede, wanita single ini merasa bahwa dunia bukanlah tempat yang menakutkan, tapi eksotis untuk dijelajahi. Sebagaimana The Naked Traveler pertama, dalam buku ini si Trinity sukses membuat pembacanya iri. Ia yang mengaku telah berpetualang di lebih dari 42 negara merasakan bahwa setiap perjalanan itu indah dan harus dinikmati, walaupun pada kenyatannya ia harus menahan urusan buang air kecil di Hong Kong, membayar hotel yang kelewat mahal di China, dan dilamar oleh orang berkulit hitam di Roma.

            Melalui buku ini, Trinity mengompori pembacanya untuk bepergian dan menjelajahi dunia. Uang bukanlah masalah karena dapat diakali dengan traveling murah ala backpacker. Intinya adalah membawa sesedikit mungkin barang bawaan dan sesedikit mungkin rombongan, jago berbahasa Inggris, dan memiliki keberanian untuk bertemu dengan orang-orang dan situasi baru.  Walau ada beberapa bagian dalam buku ini yang secara umum tidak bisa diterapkan untuk sebagian besar penduduk negeri ini—terutama karena tidak semua penduduk Indonesia memiliki keluarga yang tinggal di luar negeri dan modal “berasal dari keluarga cukup berada” sebagaimana sang penulis. Saya juga kurang setuju sat penulis bilang bahwa belum lengkap jadi orang Indonesia kalau belum pernah pergi ke Bali. Namun Trinity benar dalam satu hal, bahwa perjalanan keliling dunia itu tidak akan pernah dimulai jika kita tidak segera mengambil tindakan nyata untuk berani memulainya.

            Saya sangat menyukai terutama bagian “Belajar dari Sini” yang mengungkapkan beragam pengetahuan rahasia tentang dunia backpackers yang kini mulai marak di Indonesia. Paling suka ketika penulis membentak bapak-bapak sok ihim yang tidak mau mematikan hp saat pesawat hendak landing, atau ketika Trinity menyarankan bahwa Indonesia adalah surganya para backpackers karena ada begitu banyak hal indah, ajib, eksotis, dan luar biasa yang bisa ditemukan di negeri yang luas ini. Yuk, mulai menabung untuk sesekali jalan-jalan dan melihat dunia yang luas di luar sana

Dead Girl Walking

Judul                : Dead Girl Walking, Masuk ke Tubuh yang Salah
Penulis            : Linda Joy Singleton
Penerjemah   : Maria Susanto
Penyunting    : Diksi Dik
Cetakan           : 1, Januari 2011
Tebal                : 382 halaman
Penerbit          : Atria


          Bayangkan mendapati dirimu mengalami semacam pengalaman “out of body experience” alias semacam mati suri sehingga bisa bertemu dengan nenek tercinta yang telah wafat.  Untuk membuatnya lebih mengerikan lagi, bayangkan ketika kamu masih diberi kesempatan untuk kembali ke tubuhmu, kamu malah memilih tubuh yang salah. Dan, untuk membuatnya lebih dramatis lagi, bayangkan dirimu terbangun dalam tubuh musuh besarmu di sekolah. Yah, kesialan kosmis inilah yang terjadi pada Amber Borden. Ketika Neneknya menunjukkan jalan kembali menuju tubuhnya, Amber malah salah berbelok. Dan, ia terbangun dari koma dalam tubuh Leah Montgomery—cewek paling populer di SMAnya. Sekali lagi, sebagaimana jerat takdir misterius dalam kehidupan manusia, kesalahan Amber ini ternyata juga memiliki konsekuensi dan pengaruhnya sendiri.

“Percayalah, kata Grammy Greta. “Aku bisa langsung melihat hikmah dari sisi lain dan mengetahui bahwa ada sesuatu yang besar pada masa depanmu.” (hlm 27)

        Terjebak di tubuh yang salah, dengan rambut yang pirang halus, tubuh yang langsing dan atletis, mata yang indah, serta kepopuleran yang tak tertandingi di sekolah justru membuat Amber merasa tidak bahagia. Segala yang dulu ia sesali, tubuhnya yang tidak langsing, rambutnya yang keriting, adik kembar tiganya yang ribut dan suka melemparkan mainan, semua keramaian dan kenormalan itu tidak bisa ia dapatkan di rumah keluarga Montgomery. Rumah itu besar dan mewah, tubuh itu sempurna dan indah, uang mereka banyak dan melimpah; tapi keluarga Montgomery adalah keluarga yang kosong. Dibalik popularitas mereka, ada Tuan Montgomery yang koruptor, istrinya yang pemabuk, dan adik laki-laki yang kriminal. Suka atau tidak, Amber harus tinggal dalam keluarga ini, dan mencoba memperbaiki apa yang bisa ia perbaiki.

           “Bukannya berterima kasih kepada orangtuaku atas banyak hal yang mereka lakukan untukku, aku malah mengeluh karena tidak punya banyak pakaian bagus dan harus mengurus si kembar tiga. Seharusnya ku tidak marah-marah kapanpun Cherry, Melonee, atau Olive merobek-robek PR-ku atau memainkan popok mereka yang kotor. Seharusnya aku memeluk dan mencium mereka. (hlm 234)

           Jika pembaca kemudian membayangkan Amber akan mampu menikmati semua kemewahan ini, Anda keliru. Tubuh leah sendiri ibarat penjara. Kesempurnaan itu begitu mengikat kuat dan harus dibayar mahal dengan hilangnya kebebasan. Mungkin itulah sebabnya tidak ada sesuatu yang benar-benar sempurna di dunia ini, agar dunia bisa berjalan dengan apa adanya. Upaya perbaikan yang dilakukan Amber melalui Leah begitu berat, kadang menyita air mata. Namun, tugas sebagai perantara ini—roh yang menempati tubuh orang lain selama orang tersebut berada dalam kepompong kosmis untuk merenungkan kesalahannya—hampir-hampir membuat Amber kehilangan harapan, sebelum akhirnya ia bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik yang selalu ingin membantunya, entah saat ia benar-benar Amber atau si Leah yang Amber.

         Bukannya menghadirkan seorang konselor yang sempurna dalam diri Amber remaja, penulis menuliskan si Amber dalam Leah ini secara apa adanya. Tidak ada hasil waow bombastis yang mengubah kepribadian seperti di film-film. Amber tetaplah Amber, seorang remaja yang juga tengah mengalami perkembangan psikologis. Ia tidak bersikap sebagai dewi psikoanalisis yang mampu memperbaiki segala kerusakan di dunia.  Amber tidak mampu mengubah keculasan Tuan Motgomery, juga tidak mampu menghilangkan kecanduan si nyonya rumah pada alkohol. Tapi, dengan mengalami menjadi Leah—dengan memandang dari sudut pandang orang lain dalam cara yang benar-benar harfiah, Amber mampu mengetahui fakta bahwa orang yang merasa dirinya paling sempurna pun tidaklah sempurna, bahwa menerima dan menjadi dirinya apa adanya adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh para remaja, dan bahwa dengan menjadi Amber saja dia bisa memiliki teman-teman yang mengasihinya. Dengan menjadi Leah yang Amber, dia juga bisa memperbaiki hubungan buruk antara Leah dengan adik, mama, dan para pembantunya. Bukan hal besar sih, tapi itu adalah langkah awal yang bagus untuk menyadarkan Leah yang asli.

           Dibalik berbagai ungkapan gaul khas dunia remaja yang mewarnai karakter Amber dalam buku ini, ada sebuah petuah mendalam yang wajib kita renungkan, yakni mensyukuri dan mencintai dirimu apa adanya. Bolehlah sesekali remaja berharap menjadi orang lain yang lebih populer, cantik dan terkenal; tapi wadah terbaik bagi kepribadian kita adalah tubuh yang telah diciptakan Tuhan untuk kita sejak lahir. Senantiasa mensyukuri diri sendiri dengan membantu orang lain, seperti Amber yang mendirikan Klub Keranjang Besar Keramahan untuk menyambut murid-murid baru di SMA, adalah cara untuk menyadari bahwa kita sudahlah sesempurna-sempurnanya kita. Lalu, apakah Amber akan berhasil kembali ke tubuhnya? Apakah ia juga akhirnya menemukan cowok yang mau mencintai dirinya apa adanya? Cobalah membaca buku yang dikisahkan dengan sangat bagus ini, walaupun endingnyaagak membuat saya garuk-garuk aspal menuju kelanjutannya (eh spoiler wkwkwk).

              Salut juga untuk sang penerjemah yang mampu mempertahankan rasa “remaja” dari novel yang gaul ini, misalnya dengan menciptakan frasa “fakir fashion” dan “Dustingintahu”. Sebagaimana kata Nenek Grammy Greta: “ Buku-buku terbaik tidak ditulis, tapi disampaikan.” (hlm. 53) dan buku ini adalah salah satunya.




Thursday, January 5, 2012

The Power of Six

Judul                 : The Power of Six
Penulis              : Pittacus Lore
Penerjemah       : Nur Aini
Editor               : Esti A. Budihapsari
Cetakan           : 1, November 2011
Tebal               :  427 halaman (plus 101 halaman The Lost File, Six’s Legacy)
Penerbit           : Mizan Fantasy



Mereka menangkap Nomor Satu di Malaysia
Nomor Dua di Inggris
Dan, Nomor Tiga di Kenya
Mereka mencoba menangkap Nomor Empat di Ohio—dan gagal.
Kami sekarang siap untuk melawan balik.

            Kisah tentang alien baik yang datang ke Bumi mungkin sudah ketinggalan zaman. Namun, kisah serupa dengan kemasan yang lebih modern serta tambahan bumbu sihir dan aroma aksi nan spektakuler terbukti mampu mengembalikan romansa para pecinta kisah tentang alien yang turun ke Bumi, terlebih jika aliennya cute dan marvelous seperti para Garde dan Cepan dari Planet Lorien. The Power of Six adalah sekuel dari novel bestseller jilid pertama I am Number Four yang mengangkat kisah John Smith—si Nomor Empat—dalam melawan para alien jahat dari planet Mogadorian. Seperti dijelaskan dalam buku pertama, sembilan anak dari Planet Lorien difungsikan ke Bumi setelah planet mereka dihancurkan oleh bangsa Mogadorian yang jahat. Kesembilan anak tersebut disebut garde dan masing-masing ditemani oleh pembimbing atau cepan mereka. Untuk melindungi kesembilan anak-anak istimewa itu dari incaran bangsa Mogadorian, mereka dilindungi oleh mantra dari Sepuluh Tetua Lorien sehingga sembilan anak itu tidak akan dapat dibunuh kecuali secara berurutan, mulai dari nomor satu hingga sembilan.

            John Smith adalah si Nomor Empat, dan dalam I am Number Four, untuk pertama kalinya sembilan anak dari Lorien ini mampu mengalahkan para Mogadorian yang hendak membunuhnya. Keberhasilan inilah yang kemudian memacu anak-anak lainnya, nomor lima hingga sembilan untuk juga melawan balik. Dan, The Power of Six adalah saat untuk melawan balik. Berbeda dengan tag linenya yang mengatakan novel ini sudah seru dari awal, saya kok merasakan alurnya agak lambat di depan. Buku kedua ini dimulai dengan kisah si Nomor Tujuh yang berada di sebuah biara terpencil di Spanyol, berupaya berlindung dari Mogadorian sekaligus mengamati sepak terjang John Smith dan si Nomor Enam yang disangka sebagai teroris di AS.

         Berbeda dengan John, Si Nomor Tujuh yang namanya Marina memiliki cepan yang “ingin melarikan diri” dari semua tanggung jawabnya. Biara telah membuat hati dan jiwanya ciut sehingga ia abai melatih Nomor Tujuh. Terpaksalah si Nomor Tujuh berlatih sendiri dengan pusaka-pusaka yang mulai muncul dalam dirinya. Oh ya, sebagai tambahan, masing-masing dari sembilan anak Lorien itu memiliki pusaka yang bisa digunakan untuk melawan. Nomoe Empat tahan api dan bisa berbicara dengan binatang, Nomor Enam bisa mengendalikan badai dan tak kasat mata, sementara Nomor Tujuh memiliki kekuatan penyembuhan dan dapat bernapas dalam air. Namun, semua Garde juga memiliki kekuatan telekinetis. Sudah kebayang kan serunya cerita ini.

            Lanjut, di sela-sela kisah Nomor Tujuh yang berjalan lambat, pembaca akan dihibur dengan perualangan John Smith, Nomor Enam, dan Sam menjelajahi Amerika demi menghindari kejaran polisi. Beragam aksi seru dan pertempuran dengan telekinetis mewarnai halaman-demi-halaman The Power of Six, yang menjadikannya bacaan sekaligus tontonan penuh aksi. Hingga akhirnya ketiganya kembali lagi ke kota Paradise di Ohio, di mana mereka sekali lagi harus berhadapan dengan para Mogadorian. Setelah penjabaran cerita yang agak panjang, cerita dalam buku ini semakin bergerak cepat di bagian akhir. Mogadorian akhirnya mengetahui keberadaan Nomor Tujuh di Spanyol sehingga biara tua itu berubah menjadi ajang perang. Dengan kemampuan yang belum terlalu terasah, Nomor Tujuh bertempur dengan luar biasa, membanting musuh, melempar pisau, dan meledakkan para Mogadorian itu menjadi abu. Sementara di Amerika, Nomor Empat dan Nomor Enam berjuang memperebutkan kotak pusaka mereka yang direbut musuh.

            Adegan perkelahian dalam The Power of Six dijamin lebih seru dan bergerak cepat ketimbang novel pertamanya. Ada banyak lokasi pertempuran, dengan lebih banyak monster dan tentu saja abu—para Mogadorian langsung berubah menjadi setumpuk abu saat tewas. Pembaca seolah dibuat susah untuk beristirahat karena perang dan aksi laga datang gelombang demi gelombang, bahkan ketika Nomor Enam terbang ke Spanyol dan membantu Nomor Tujuh, John Smith juga tengah mengobrak-abrik markas Mogadorian di Colorado.
        Di samping pertempuran, novel ini juga menyajikan berbagai kejutan, mulai dari munculnya penolong misterius hingga munculnya si Nomor Sembilan dan … Nomor Sepuluh. Ternyata ada 10 anak Lorien yang dikirim ke Bumi saudara-saudara hahaha (spoiler tingkat akoet). Sekuel ini seperti pembalasan dendam Lorian kepada Mogadorian, dengan banyaknya abu yang berumpukan di lantai, dan pengikut setia kisah Pittacus Lore ini pasti puas dan ingin segera menantikan sekuel ketiga dari cerita ini. Eh, masih ada tambahan The Lost File, Six’s Legacy sebanyak 101 halaman yang menjelaskan kisah pelarian si Nomor Enam sebelum ia bertemu dan bergabung bersama John.

            Nomor Empat, Nomor Enam, Nomor Tujuh, Nomor Sembilan, dan Nomor Sepuluh sudah muncul. Pusaka mereka juga siap diasah dan digunakan untuk menumpuk lebih banyak abu dari kaum Mogadorian terlaknat itu. Sepertinya, cerita ini akan semakin seru saja.  

Fayharn Tales

Judul : Fayharn Tales
Pengarang : Mochammad Arfani Aziz
Editor : Elis W
Sampul  : Ferdi
Cetakan  : 1, Desember 2011
Tebal : 378 Halaman
Penerbit : Diva Press


Edsiuxo, mantra untuk membekukan
Vicium, mantra untuk membelokkan serangan lawan
Petrilaloum, mantra untuk mengeluarkan petir
Expellum, mantra penyayat
Apoi, mantra untuk membakar
Fuper Angoni, mantra untuk mendatangkan angin super


            Satu lagi kisah fantasi karya anak negeri diluncurkan ke pasaran, The Fayharn Tales. Desain sampulnya yang ciamik, agak mirip Spook’s Apprentice yang memegang tongkat kayu rowan, sepertinya menawarkan satu kisah tentang dunia sihir yang patut untuk diikuti—paling tidak dikoleksi oleh para pecinta fantasi dan para pemerhati karya fiksi fantasi lokal. The Fayharn Tales dibuka dengan dunia antah-berantah—yang narasinya sangat terbantu dengan adanya peta di halaman belakang novel (walaupun terlalu kecil)—dengan sebuah epos lama tentang pertempuran antara dua penyihir besar, yakni Faurani dan Haurani. Keduanya memiliki tongkat sihir sakti dari pohon halomy yang merupakan dua belahan dari tongkat sihir paling sakti di dunia milik Guru Pertama, Penyihir pertama dari ras Maneheim. Alkisah diceritakan bahwa Haurani menjadi penyihir jahat yang menjuluki diri sebagai Pangeran Kegelapan sebelum kemudian ia dikunci oleh Faurani di gunung berapi.

             Beberapa puluh tahun kemudian, Fayharn—anak dari Faurani—didatangi oleh seorang penyihir dari ras Maneheim—ras penyihir yang tinggal di kota Maneimon. Darinya, Fayharn mengetahui fakta besar bahwa ayahnya yang telah wafat ternyata adalah seorang penyihir besar dan bahwa ia juga memiliki bakat sihir dalam dirinya. Ia pun diajak ke kota Maneimon untuk dididik sebagai penyihir, mempelajari mantra api, angin, sayatan, dan petir, serta berteman dengan tiga teman yang juga penyihir, Rusli, Nadia, dan Yusli. Berempat, mereka menjalani pendidikan untuk bisa menjadi penyihir di bawah arahan empat guru sihir paling terkemuka di kota ini selama tujuh tahun, sebelum Pangeran Kegelapan dibangkitkan (Hmmm …remind me about something!).

Pendidikan sihir yang dijalani Fayharn hampir mendekati keasyikan dunia sekolah sihir ala Harry Potter,walau tidak pada tempatnya jika membandingkan antara karya anak bangsa dengan karya fiksi legendaris dunia. Namun, bertemu dengan empat guru sihir yang rada-rada nyentrik dalam Fayharn Tales, pembaca akan menemukan bahwa dunia Fayharn ini memiliki sesuatu yang unik untuk ditampilkan, yang sekiranya diolah dan dieksplor lagi, akan memunculkan dunia fantasi baru karya anak negeri, sebagaimana Alam Vandaria (vandaria Saga) atau dunia Eternia (Legenda Paladin) yang lengkap. Unsur mitologi dan ras-ras empat bangsa dalam dunia Fayharn juga cukup menarik untuk ditampilkan dan diperluas lagi, mulai dari ras manusia, ras Maneheim yang menguasai sihir, ras Laiyu penguasa laut, serta ras Guirda yang pemalas.

            Pohon Halomy yang merupakan asal-usul tongkat sihir pertama juga cukup memberikan warna baru dalam dunia sihir. Dalam Harry Potter, tongkat sihir berasal dari kayu pohon willow atau ek atau dedalu atau pohon lainnya, tapi di dunia Fayharn tongkat sihir keluar dari mulut seorang (????) pohon Halomy yang bisa berjalan dan berbicara, persis seperti kaum penjaga pohon dalam Lord of the Ring.Dua pohon paling usil sempat saling bertanding lari dengan Fayharn dkk menumpang di atasnya. Ada juga hutan dengan pohon yang berwarna-warni, roti sandal, dan monster-monster mitologis yang sepertinya muncul dari imajinasi penulis setelah memadukannya dengan unsur-unsur mitologi yang selama ini ada. Dalam peperangan terakhir, sejenak sebelum jatuhnya kota Fayharn, sang Pangeran Kegelapan membangkitkan ribuan makhluk purba yang dijuluki Manuj dan Gajuj (yang dalam kisah ini dikerangkeng dalam benteng besi oleh Guru Pertama, sepertinya ini mengadopsi kisah Yajuj dan Majuj yang dalam riwayat agama diceritakan dikurung dengan tembok besi oleh Iskandar Zulkarnain.

           Walau belum bisa dibilang sebagai karya fantasi yang lengkap, Fayharn Tales sudah menunjukkan dirinya sebagai sekuel pertama yang menjanjikan. Sekiranya alam dunia Fayharn dapat diuraikan secara lebih mendetail, dengan mantra sihir yang lebih banyak, dan adegan perang yang tidak nanggung, novel ini memiliki potensi untuk menjadi novel fantasi lokal dengan bintang empat (ingat, skala novel fantasi lokal jangan dinilai dengan memperbandingkannya dengan novel fantasi terjemahan--karena itu tidak adil). Masih ada beberapa bagian yang masih terlalu jelas mencomot dariHarry Potter atau The Lord of the Ring serta sejumlah bagian yang tidak selaras dengan alur logika (misalnya tongkat sihir dari kayu tapi kok ditempa menggunakan lahar). Namun harus diakui, kemampuan penulis dalam menyampaikan ceritanya sudah cukup mengalir dan lancar, enak diikuti, dan menawarkan kepada pembaca sebuah dunia imajinasi baru yang mampu mengiring kita masuk ke dalamnya. Dengan kualitasnya ini, Fayharn Tales saya nyatakan layak dalam jajaran koleksi fiksi fantasi anak bangsa yang patut untuk diperhitungkan.