Search This Blog

Showing posts with label Sastra Eropa. Show all posts
Showing posts with label Sastra Eropa. Show all posts

Thursday, October 6, 2016

Between Shades of Gray

24364072Judul: Between Shades of Gray
Penulis: Ruta Sepetys
Penerjemah: Inggrid Nimpoeno
Penyunting: Rika Iffati FarihahDesain sampul: Fahmi Ilmansyah
ISBN: 9786021306451
Tebal: 396
Cetakan: Pertama, Desember 2014
Penerbit: Noura Books


 

Lithuania, Latvia, dan Estonia; ketiga negara di kawasan Baltik ini sempat menghilang dari peta dunia selama hampir separuh abad ke-20. Eksistensi bangsa-bangsa ini dicaplok oleh Pemerintah Uni Soviet yang berhaluan komunis sampai akhirnya persekutuan blok timur ini runtuh pada awal tahun 1990-an. Dari televisi, kita hanya bisa menyimak berita tentang kembalinya kemerdekaan ketiga bangsa di Eropa utara tersebut, sejenis informasi yang datar karena hanya berisi tanggal dan peristiwa. Tetapi, lewat cerita, kita bisa merasakan dan serasa mengalami sendiri bagaimana penderitaan orang-orang tersebut selama berada dalam tekanan pemerintah negara lain yang menindasnya. Banyak orang yang telah membahayakan jiwanya dengan mencoba meneriakkan kepada dunia luar tentang apa yang tengah berlangsung di balik dinding-dinding Soviet. Seperti yang telah dilakukan Rita Sepetys lewat novel keras yang ditulis dengan sangat indah ini.

Wednesday, November 20, 2013

Winnetou, the Wild West Journey

Judul : Winnetou, the Wild West Journey
Pengarang : Karl May
Alih Bahasa : Melody Violine
Cetakan : pertama, Oktober 2013
Halaman : 348 hlm
Penerbit : Visi Media



18743320


                Winnetou adalah  paruh kedua dari buku Winnetou 1 karangan penulis Jerman termasyhur Karl May. Jika dalam buku pertama, Old Shatterhand¸ pembaca diajak untuk mengenal lebih dekat tentang Charlie atau Old Shatterhand dan awal  petualangannya di Wild West, maka di buku ini kita akan diajak mengenal lebih dekat Winnetou. Secara prinsipil, buku kedua ini tidak jauh berbeda dari buku pertama, yakni sama serunya. Kisah masih didominasi oleh petualangan Old Shatterhand di Wild West yang diwarnai dengan perjalanan di alam liar, mencari dan melacak jejak, berburu, dan adegan tembak-tembakan. Yang membedakan, di buku kedua ini kita akan belajar lebih banyak tentang suku India Apache dan ritual mereka. Dari pertama, penulis sudah mengajak pembaca untuk mengunjungi perkampungan Indian di Pueblo di dekat Rio Pecos, mendatangi rumah-rumah mereka yang dibangun di bahwa ceruk tebing, hingga menyaksikan beragam ritual tradisional khas suku Indian. Semua digambarkan dengan begitu luwes dan deskriptif, seolah-olah pembaca diajak bertamasya ke perkampungan suku Indian.

                “Keberanian adalah sifat yang selalu dihargai dan diakui oleh Indian, bahkan walaupun musuh mereka yang menunjukkannya. “ (hlm 39)

                Menyambung buku sebelumnya ketika Old Shatterhand ditangkap oleh Winnetou dan sukunya, cerita dimulai di pueblo suku Indian Apache. Dalam keadaan terluka, Old Shatterhand harus tetap bisa berpikir tenang agar bisa lepas dari kesalahpahaman dengan suku Apache ini. Bersama Sam, Dick, mereka menjadi tawanan oleh orang-orang yang justru telah mereka selamatkan. Namun, pada saat-saat genting seperti inilah, Old Shatterhand membuktikan kembali ungkapan bahwa ketenangan dan pikiran yang dingin sering kali adalah senjata yang paling ampuh. Ia masih menyimpan kartu terakhirnya (rambut Winnetou yang ia potong saat menyelamatkannya) dan ia tahu semua kesalahpahaman ini akan diluruskan pada waktu yang tepat, yakni menjelang saat penghukuman mereka oleh suku Indian Apache. Ia memang seorang “tanduk hijau” (orang yang belum berpengalaman), tetapi ia banyak membaca buku dan ia jadi tahu banyak hal dari situ, termasuk taktik meloloskan diri.

                “Aku tahu itu Sam. Aku juga tahu bahwa dalam beberapa situasi, setitik kecerdikan lebih berguna daripada sekuali kekuatan.” (hlm 50)

                Petualangan datang susul-menyusul dalam Winnetou 2. Ketika hari penghakiman tiba, Old Shatterhand kembali menunjukkan kecerdikan dan ketangkasannya. Sulit dipercaya, seorang Jerman yang tidak berpengalaman sepertinya bisa mengalahkan Kepala Suku Apache nan legendaris. Dalam hal ini, ia tidak menggunakan kekuatan otot, tetapi otak. Strategi dan kecerdikkan adalah kekuatan utama, yang ditambah dengan ketangkasan badan dan keterampilan bela diri. Semuanya ada dalam dirinya, Lepas dari hukuman, Old Shatterhand akhirnya menceritakan apa yang terjadi, dan Winnetou yang merasa berutang budi kemudian mengangkatnya sebagai saudara. Keadaan berbalik menjadi membaik, dan persahabatan legendaris antara WInnetou Sang Kepala Suku Apache dengan Charlie Old Shatterhand dari Jerman pun dimulai. Sebuah ikatan persahabatan yang kelak akan memunculkan berbagai petualangan paling hebat yang pernah dikisahkan di Wild West.

“Tidak ada orang yang pantas berpikir mereka lebih baik daripada orang lain hanya karena warna kulit mereka berbeda.” (hlm 112)

                Jika di buku Old Shatterhand pembaca dibuat gemes oleh kejahatan Rattler, di buku ini muncul penjahat lain yang lebih keji. Kejahatan yang dilakukannya begitu tak terbayangkan hingga akan mengubah kehidupan Winnetou maupun Old Shatterhand. Kelincahan penulis dalam mencipta karakter-karakter jahat dalam serial ini benar-benar membuat pembaca gemes. Karl May mampu menulis sosok-sosok yang langsung mudah dicintai atau langsung mudah dibenci sejak dari awal cerita, sehingga pembaca tidak dibuat bingung dan waswas oleh perubahan karakter yang mendadak. Uniknya, semua penjahat keji digambarkan berasal dari muka pucat (orang kulit putih) seolah ia hendak menyindir penjajahan orang kulit putih terhadap orang Indian di Amerika. Banyak ucapan-ucapan para suku Indian dalam buku ini yang niscaya menyentil peradaban kulit putih.

                “Itulah kata semua muka pucat. Mereka mengaku sebagai orang Kristen, tapi tidak berprilaku sesuai dengan ajaran Kristen. Tapi, kami memiliki Manitou agung yang ingin semua manusia berbuat baik. Aku berusaha berbuat baik, mungkin aku seorang Kristen, mungkin aku seorang Kristiani yang lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai pemeluk Kristen, tapi tidak menunjukkan kasih dan hanya mengejar keuntungan bagi diri sendiri.” (hlm 129)

Pembaca akan disuguhi oleh suasana kehidupan suku Indian Amerika pada abad ke-18. Semua digambarkan dengan detail yang indah dan menawan oleh Karl May. Detail seperti ini tidak bisa didapatkan kecuali si penulis pernah mengunjungi langsung pueblo di Wild West atau penulis membacanya dari buku-buku atau catatan perjalanan. Karl May sama sekali belum pernah ke Wild West, jadi kemungkinan ia mendapatkan deskripsinya dari buku-buku geografi yang ia baca. Sampai sekarang saya masih berpikir bagaimana bisa buku sedetail ini ditulis oleh seseorang yang belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Wild West saat dia menulis novel ini.

Satu pertanyaan dalam novel ini, penulis sepertinya terlalu mengagung-agungkan sosok Old Shatterhand. Hampir tidak ada yang kurang dari sosok ini: masih muda, cerdas luar biasa, memiliki pikiran yang dingin, badannya kuat dan tangkas, jago menembak dan berenang, plus umat Kristen yang taat. Keberuntungan juga selalu menaunginya. Hal-hal yang klise seperti ini biasanya membuat pembaca bosan, tetapi dalam buku ini anehnya tidak. Saya senang-senang saja melihat penggambaran Old Shatterhand sebagai sosok nan sempurna karena sudah telanjur jatuh cinta pada alur ceritanya yang seru.

“Namun, apakah berbicara itu perlu? Bukankah perbuatan adalah ajakan yang jauh lebih kuat daripada kata-kata? (hlm 129)

Dari Old Shatterhand, kita belajar tentang pentingnya membaca buku. Dalam cerita ini, penulis berulang kali menekankan bahwa si Tanduk Hijau belajar semuanya dari buku, dan nyatanya ia berhasil dan selamat. Membaca dan mengamati adalah dua hal yang wajib dilakukan ketika seseorang hendak mencoba terjun dalam sesuatu yang baru. Dengan bekal ini, otak akan otomatis berimprovisasi dan mengeluarkan ide-ide cemerlang, sebagaimana yang dialami sendiri oleh Old Shatterhand.


Jika Anda menginginkan petualangan ala koboi di Wild West, bacalah buku ini. Anda tidak hanya mendapatkan sebuah kisah hebat tentang tembak-tembakan, tapi juga sebuah kisah yang sarat petualangan, pembelajaran moral, ungkapan-ungkapan bijak, dan karakter-karakter terhebat yang pernah menghidupkan kawasan Barat Liar atau Wild West di Amerika Serikat. 

Monday, September 16, 2013

The Chronicles of Narnia, Pertempuran Terakhir

Judul : The Chronicles of Narnia, Pertempuran Terakhir
Pengarang : C.S. Lewis
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Sampul : Cliff Nielsen
Cetakan : 1, 2005, 273 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


http://images3.wikia.nocookie.net/__cb20121103101856/narnia/id/images/3/3c/ENG-TheLastBattle.jpg

                NARNIA … di mana kebohongan melahirkan ketakutan, di mana kesetiaan diuji, di mana semua harapan seolah sirna … inilah hari-hari terakhir Narnia.

                Akhirnya, selesai juga saya membaca buku ke tujuh dari seri The Chronicles of Narnia. Buku ini merupakan penutup dari seluruh petualangan seru yang terjadi du dunia Narnia, dunia rekaan  penulis legendaris C.S. Lewis yang bisa diakses dari balik lemari baju, pojok kebun, stasiun kereta, dan kemudian kereta itu sendiri. Kedamaian yang menyelimuti Narnia kembali diuji. Kali ini, ujiannya bukan dari musuh yang mengancam akan menguasai, tapi sebuah ujian tentang keyakinan dan kepercayaan. Aslan, Sang Singa Surai Emas penguasa Narnia sudah lama sekali tidak menampakkan dirinya. Binatang-Binatang yang Bis Berbicara mulai resah, begitu pula kaum manusia yang merupakan raja-raja Narnia. Negeri itu damai dari luar, tapi kedamaian itu rapuh karena semakin menipisnya keyakinan rakyat Narnia terhadap Aslan. Dan ketika akhirnya ujian itu datang dari sesosok monyet yang licik namun cerdas, seluruh Narnia harus menanggung akibatnya.

                Sang kera licik bernama Stiff dan temannya, seekor keledai dungu bernama Puzzle, menemukan kulit singa biasa yang hanyut. Akal licik Stiff timbul. Ia hendak berkuasa dengan melakukan tipu muslihat dengan memanfaatkan kulit singa yang kebetulan masih utuh dengan kepalanya itu. Maka, disuruhlah Puzzle agar berpura-pura menjadi Aslan agar ia bisa mengelabuhi seluruh Narnia. Puzzle tentu saja tidak mau, namun bujukan Stiff yang bagai ular pun memperdayanya. Segera saja, seluruh Narnia yang memang merindukan sosok Aslan, serentak menyambut dan bergembira ria. Mereka bahagia karena Sang Junjungan akhirnya menampakkan diri. Namun, Aslan yang ini berbeda. Aslan kali ini tampak murka, pemarah, culas, dan tidak bijaksana. Tentu saja karena Aslan palsu ini digerakkan oleh seekor kera jahat yang licik. Korban berjatuhan. Kaum kurcaci ditangkap dan dikirim ke Calormen sebagai pekerja tambang. Pohon-Pohon yang Bisa Berbicara ditebangi. Hewan-hewan dijadikan budak. Raja Tirian, raja terakhir Narnia tidak mau tinggal diam. Aslan atau tidak, yang jelas singa itu telah membuat Narnia menderita.

                Kelicikan Stiff semakin menjadi dengan masuknya campur tangan bangsa Calormen yang memang sejak dulu ingin menguasai negeri indah Narnia. Tipu muslihat dirancang, namun Tirian dan beberapa warga Narnia yang setia bergerak melawan. Dan, sebagaimana ketika Narnia dalam bahaya, dua anak Adam dan Hawa datang dari dunia kita. Kali ini yang datang adalah Eustace dan Jill. Keduanya bahu membahu dengan Tirian untuk melawan muslihat sang kera yang kini bekerja sama dengan bangsa Calormen dan dewa jahat mereka, Tash. Pertempuran demi pertempuran pun pecah. Banyak warga Narnia yang jadi korban. Banyak juga yang berkhianat, walau setiap tindakan pasti akan mendapatkan imbalan. Ini adalah kisah saat-saat Narnia runtuh, saat terompet akhirnya ditiup oleh Bapak Waktu, ketika jelas mana yang layak dianugerahi kehormatan dan mana yang harus menanggung hinaan karena kejahatannya.

                Dua kali saya membaca Pertempuran Terakhir. Yang pertama versi Dian Rakyat yang entah mengapa saya malah bingung membacanya. Setelah sejumlah riset kecil-kecilan, muncullah fakta bahwa The Chronicles of Narnia bukanlah kisah anak-anak yang biasa. Seri ini sangat kental dengan ajaran Kristen yang dengan cerdasnya diolah oleh sang pengarang. Dari buku pertama The Lion, The Witch, The Wardrobe, kita menjumpai doktrin Kebangkitan Kembali. Sementara dalam buku terakhir ini, pembaca disuguhi oleh Hari Perhitungan. Aslan dengan surai emasnya, yang menguasai dunia Narnia, pastilah bisa ditebak melambangkan sosok paling dihormati dalam ajaran Kristen. Susan, adik Peter, tidak bisa lagi masuk ke Narnia karena ia sudah tidak percaya dengan omong kosong tanah Narnia yang menurutnya hanyalan bualan anak kecil. Susan, dalam hal ini, melambangkan mereka yang tidak mau percaya pada kasih Tuhan. Demikian juga kaum kurcaci yang menolak untuk percaya, semua ini adalah lambang-lambang Kristen yang sedemikian jelas.

                Seri Chronicles of Narnia terdiri atas 7 buku, pembacaannya sebaiknya urut namun urutannya tidak seketat seperti ketika kita membaca The Lord of the Ring. Saya sendiri membacanya melompat-lompat, yang pertama kali dibaca malah Pangeran Caspian. Namun, pembaca tetap bisa menikmatinya meskipun melompat-lompat karena pengarang memang sangat piawai dalam menghadirkan cerita. Masalahnya, penerbitan buku ini pada awalnya tidak seuai dengan urutan. Namun, karena ketujuh bukunya sudah selesai ditulis, akan lebih baik jika pembaca membacanya secara urut dengan urutan sebagai berikut:
(1)    Keponakan Penyihir;
(2)    Singa, Penyihir, dan Lemari;
(3)    Kuda dan Anak Lelaki,
(4)    Pangeran Caspian,
(5)     Perjalanan Sang Pengelana Fajar,
(6)     Kursi Perak, dan
(7)    Pertempuran Terakhir.


Sebuah karya dengan muatan sehebat ini bisa ditulis dalam bentuk buku fantasi petualangan yang seru, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kehebatan C.S. Lewis, sahabat akrab dari J.R.R. Tolkien.

Rating: Pembaca usia 10 tahun ke atas karena temanya yg agak berat di separuh akhir :)

Thursday, September 12, 2013

Seri Petualangan Oliver Twist

Judul     : Seri Petualangan Oliver Twist
Pengarang : Charles Dickens
Penyadur  : Dion Yulianto ....(uhuk)
Halaman   : 
Cetakan    : 1, Agustus 2013
Penerbit    : Laksana 


    Adalah sebuah kehormatan besar bagi saya karena dipercaya penerbit untuk menyadur salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Inggris Oliver Twist. Karangan terbaik Charles Dickens yang ditulis pada paruh pertama abad kesembilan belas ini telah begitu banyak diterjemahkan, disadur, dan diangkat dalam layar lebar karena muatan nilai-nilai kemanusiaan universal yang dikandungnya. Saya sebagai orang yg ditunjuk untuk menerjemahkan (lebih tepatnya menyadur) tentu sangat senang karena diikutsertakan dalam upaya menerbitkan kembali karya-karya klasik yang mengandung muatan-muatan nilai universal yang tak lekang ditelan zaman.
            Kisah tentang seorang anak yatim-piatu yang disia-siakan memang mudah menarik simpati siapa saja untuk membacanya. Tapi, Oliver Twist bukanlah sekadar cerita sedih untuk mencari simpati dan menguras air mata pembaca. Lebih dari itu, novel ini dengan indahnya memotret karakter terdalam dari manusia. Dalam Oliver Twist, tema-tema standar tentang ketekunan, kesabaran, dan kasih sayang saling berjalin dalam satu cerita bersama tema-tema kelam seperti ketamakan, rasa pengecut, dan kekejian. Dengan membaca novel ini, pembaca dapat belajar banyak mengenai karakter manusia yang terdalam, yang mungkin tertutupi oleh topeng bernama martabat atau kekuasaan.
           Bukan hal yang mudah untuk menyadur  naskah asli Oliver Twist yang dalam draf  asli berada dalam kisaran lebih dari 500 halaman menjadi sebuah naskah saduran utuh setebal 100-an halaman saja. Upaya penyaduran dilakukan untuk lebih memperkenalkan karya ini kepada para pembaca muda, yang rata-rata lebih memilih buku bacaan yang tidak tebal dan bisa selesai dalam sekali-dua kali duduk. Dalam prosesnya, tidak bisa dihindari akan ada banyak bagian dari cerita asli yang terpaksa dihilangkan. Saya sudah berupaya agar esensi kisah Oliver Twist yang asli tetap utuh. Upaya ini dilakukan dengan penggunaan tiga versi naskah Oliver Twist sebagai bahan perbandingan selama pengerjaan novel kecil ini.
            Beberapa potongan cerita asli dihilangkan, sejumlah tokoh  dalam draft novel asli juga tidak disertakan dalam buku ini. Begitu pula sejumlah komentar dan tanggapan penulis yang sering disisipkan oleh Dickens dalam naskah aslinya. Agar lebih lengkapnya, pembaca bisa menyempatkan diri untuk membaca versi utuh dari Oliver Twist yang versi terjemahan bahasa Indonesianya kini sudah diterbitkan oleh beberapa kawan penerbit di Indonesia.
          Akhirnya, tidak ada yang sempurna dari sebuah karya. Kami menyadari masih banyak sekali kekurangan dalam buku kecil ini. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi sumbangan bagi perkembangan penerbitan kesusastraan dunia di negara kita. Semoga bermanfaat.

Rating: Karya ini bisa dibacakan untuk anak usia 5  - 15 tahun karena bahasanya yang ringan.

Thursday, June 27, 2013

Candide, Optimisme dalam Hidup



Judul     : Candide, Optimisme dalam Hidup
Pengarang          : Voltaire
Penerjemah       : Dian Vita Ellyati
Editor                    : Sandiantoro
Sampul                 : Andy
Cetakan               : 1, Oktober 2009
Tebal                     : 243 halaman
Penerbit              : Liris Publishing

Candide: Optimisme dalam Hidup

                Candide adalah sebuah novel satire (sindiran) yang ditulis oleh seorang pujangga termasyhur dari Prancis, Voltaire (1694 - 1778), pada tahun 1759. Novel ini mengulas kehidupan getir seorang Candide yang dalam seluruh rentang kehidupannya mengalami berbagai kehilangan dan kemalangan. Pemuda itu memiliki seorang guru filsafat bernama Pangloss yang menganut doktrin optimism kehidupan. Ajarannya yang senantiasa diulang-ulang dan ditekankan kepada Candide adalah bahwa “segala sesuatu berada dalam keadaan terbaik untuk dunia fisik maupun moral, dan bahwa semuanya memang harus seperti apa adanya.” Ajaran positif inilah yang kemudian menguasai dan menyetir jiwa Candide. Maka, ia tetap berpikir positif ketika ia akhirnya diusir dari kastil karena jatuh cinta kepada Cunegonde yang merupakan nona majikannya. Begitulah yang sudah seharusnya, pikir Candide.

                Sejak saat itu, dimulailah pengembaraan si pemuda Candide dalam menjelajahi dunia demi menemukan kebenaran dari tesis yang selalu diajarkan gurunya. Peta perjalanan Candide juga turut terlampir di bagian belakang buku ini. Mula-mula ia pergi ke Westphalia, menjadi seorang tentara Bulgaria yang menyaksikan kejamnya perang yang tidak kenal ampun, baik pada tentara maupun warga sipil. Dan, Candide masih bertahan dengan doktrin positivism kehidupannya. Selanjutnya ia ke Paris, dimana ia mengetahui bahwa keluarga majikan dan pujaan hatinya telah diperkosa dan dibunuh oleh tentara Bulgaria. Candide hampir saja menyerah kalau saja yang menyampaikan berita itu bukan Pangloss, gurunya sendiri. Maka, diliputi dengan kesedihan, keduanya pun memutuskan untuk meninggalkan Paris dan benua Eropa yang seolah begitu kejam kepada takdir manusia.

                Maka, sampailah mereka di Lisbon, Portugal. DI kota ini, mereka menyaksikan penolongnya yang begitu baik tenggelam di lautan, dan kemudian merasakan sendiri bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam kota itu pada tahun 1755. Kota itu porak-poranda, dan keduanya kemudian ditangkap karena tuduhan menyebabkan bencana itu. Candide sedih sekali ketika gurunya dihukum gantung. Untungnya, dirinya masih diselamatkan oleh seoranga misterius yang ternyata adalah Nona  Cunegonde  yang begitu dipujanya. Satu kemalangan diikuti oleh satu kegembiraan, begitulah Candide mempertahankan tesis gurunya bahwa hidup itu baik.

                Muak dengan daratan Eropa yang begitu keji, Candide dan Cunegonde memutuskan untuk berlayar jauh ke seberang lautan. Maka, sampailah mereka ke Amerika Selatan. Di tempat baru ini, nasib kembali tidak memihak Candide. Nona Cunegonde ditawan dan dijadikan istri oleh gubernur setempat, dan pemuda itu tanpa sengaja telah membunuh Kakak nona Cunegonde yang ternyata juga masih hidup. Bingung dengan hidup yang seolah senantiasa mempermainkan dan menguji doktrin optimism kehidupan yang dianut Candide, pemuda itu bersama seorang rekan memutuskan untuk melarikan diri ke belantara Amerika Selatan, di mana tanpa sengaja mereka menemukan El Dorado, Kota Emas yang menjadi impian bagi para penjelajah Eropa kala itu. Sebuah kota yang bahkan tanah dan batu kerikilnya adalah bongkahan emas, yang hiasan-hiasannya adalah batu-batu berharga, dan rumah paling sederhana di kota itu adalah 10 kali lipat lebih megah dari kastil tercantik di Eropa. 

                Tapi, sudah menjadi ciri manusia untuk tidak pernah merasa puas dan cukup. Walau dikelilingi oleh harta berlimpah, makanan terlezat, dan orang-orang paling berbudi; pikirannya selalu tertuju pada sang kekasih hatinya, Cunegonde. Ia pun memutuskan untuk meminta izin dan pergi dari El Dorado demi sang pujaan hati. Dengan berat hati sang raja melapasnya. Candide diberi sejumlah kerikil dan batu dari El Dorado sebagai bekal. Harta itu nilainya melebihi dari kekayaan 10 raja Eropa dijadikan satu. Setelah kembali ke paradaban, Candide berpisah dari pelayannya. Ia memutuskan akan kembali ke Eropa sementara si pelayan diminta menebus nona Cunegonde. Mereka berjanji untuk bertemu di Venesia. Tapi, bahkan dengan harta dari  EL Dorado, kemalangan tiada henti terus menimpa Candide. Ia ditipu oleh seorang saudagar Belanda yang ternyata adalah seorang bajak laut. Sebagian besar hartanya ludes dicuri. Kelak, perahu si bajak laut ini karam dalam sebuah pertempuran laut malwan armada Spanyol, mebawa sebagian besar kekayaan milik Candide ke dasar samudra. Dengan harta yg tersisa, Candide mencari orang jujur sebagai temannya berlayar. Mereka akhirnya kembali ke Paris dan menyaksikan sendiri betapa kota itu tidak berubah dengan kebiadabannya.

                Candide memutuskan pergi ke Venesia untuk bertemu Cunegonde dan pelayannya. Ia memang berhasil menemuinya, tapi bukan di kota kanal itu, melainkan di Konstantinopel. Nona Cunegonde ternyata telah menjadi budak seorang penguasa Turki. Kemalangan apa lagi yang menimpanya, pikir Candide frustrasi. Tapi, entah bagaimana tesis gurunya terbuktikan ketika dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Pangloss dan kakak nona Cunegonde yg ternyata masih sama-sama hidup. Kelompok itu akhirnya berkumpul, membebaskan Cunegonde, dan mereka lalu  tinggal bersama di sebuah pelosok pedesaan di wilayah Turki. Tapi, apakah mereka bahagia? Ternyata tidak, kemapanan malah membuat segala sesuatunya memburuk. Sampai akhirnya mereka menemukan tesis baru, yang mereka coba terapkan dan berhasil. Tesis itu berbunyi: “Bahwa manusia dilahirkan bukan untuk menganggur. Mari kita bekerja dan jangan berdebat. Bekerja adalah satu-satunya cara untuk membuat hidup menjadi berguna.” (hlm 238).

http://www.constitution.org/img/voltaire.jpg
Lukisan potret Voltaire (sumber: http://www.constitution.org/img/voltaire.jpg)

              
  Voltaire yang bernama asli Francois Maria Arouet merupakan salah satu tokoh pemikir paling berpengaruh di masanya. Tokoh ini telah menghasilkan berbagai tulisan dan buku yang banyak dibaca oleh masyarakat di Prancis. Pemikirannya bahkan turut mempengaruhi pecahnya Revolusi Perancis (1789 – 1799). Buku ini merupakan sindirannya terhadap doktrin filsafat positivism, sekaligus terhadap kota Paris yang dianggap telah membuangnya. Tidak heran kalau Paris dan negara-negara Eropa dalam Candide digambarkan sebagai tempat yang sangat buruk dan kejam. 
               
           Voltaire juga menggambarkan kondisi-kondisi politik di sejumlah negara pada masa itu. Jika dilacak lewat peta perjalanan Candide, bisa ditebak kalau penulis ini paham betul dengan kondisi internasional pada masa itu. Pembaca dibantu untuk memahami sudut pandang si penulis melalui berbagai catatan kaki dalam buku versi terjemahan ini, yang kebanyakan berupa info geografis dan politik. Sayangnya, penerjemahan buku ini sepertinya dilakukan setengah-setengah. Kalimat-kalimatnya kurang lancar dan saya harus beberapa kali berhenti membaca untuk menebak-nebak maksud suatu kalimat. Untungnya, sebagian besar cerita bisa dipahami oleh pembaca umum, walau dengan rasa kurang nyaman saat membacanya. Tapi, acungan jempol patut diberikan kepada penerbit ini karena paling tidak telah menerbitkan dan membawa karya-karya klasik dunia ke tengah-tengah masyarakat Indonesia.