Search This Blog

Thursday, June 27, 2013

Candide, Optimisme dalam Hidup



Judul     : Candide, Optimisme dalam Hidup
Pengarang          : Voltaire
Penerjemah       : Dian Vita Ellyati
Editor                    : Sandiantoro
Sampul                 : Andy
Cetakan               : 1, Oktober 2009
Tebal                     : 243 halaman
Penerbit              : Liris Publishing

Candide: Optimisme dalam Hidup

                Candide adalah sebuah novel satire (sindiran) yang ditulis oleh seorang pujangga termasyhur dari Prancis, Voltaire (1694 - 1778), pada tahun 1759. Novel ini mengulas kehidupan getir seorang Candide yang dalam seluruh rentang kehidupannya mengalami berbagai kehilangan dan kemalangan. Pemuda itu memiliki seorang guru filsafat bernama Pangloss yang menganut doktrin optimism kehidupan. Ajarannya yang senantiasa diulang-ulang dan ditekankan kepada Candide adalah bahwa “segala sesuatu berada dalam keadaan terbaik untuk dunia fisik maupun moral, dan bahwa semuanya memang harus seperti apa adanya.” Ajaran positif inilah yang kemudian menguasai dan menyetir jiwa Candide. Maka, ia tetap berpikir positif ketika ia akhirnya diusir dari kastil karena jatuh cinta kepada Cunegonde yang merupakan nona majikannya. Begitulah yang sudah seharusnya, pikir Candide.

                Sejak saat itu, dimulailah pengembaraan si pemuda Candide dalam menjelajahi dunia demi menemukan kebenaran dari tesis yang selalu diajarkan gurunya. Peta perjalanan Candide juga turut terlampir di bagian belakang buku ini. Mula-mula ia pergi ke Westphalia, menjadi seorang tentara Bulgaria yang menyaksikan kejamnya perang yang tidak kenal ampun, baik pada tentara maupun warga sipil. Dan, Candide masih bertahan dengan doktrin positivism kehidupannya. Selanjutnya ia ke Paris, dimana ia mengetahui bahwa keluarga majikan dan pujaan hatinya telah diperkosa dan dibunuh oleh tentara Bulgaria. Candide hampir saja menyerah kalau saja yang menyampaikan berita itu bukan Pangloss, gurunya sendiri. Maka, diliputi dengan kesedihan, keduanya pun memutuskan untuk meninggalkan Paris dan benua Eropa yang seolah begitu kejam kepada takdir manusia.

                Maka, sampailah mereka di Lisbon, Portugal. DI kota ini, mereka menyaksikan penolongnya yang begitu baik tenggelam di lautan, dan kemudian merasakan sendiri bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam kota itu pada tahun 1755. Kota itu porak-poranda, dan keduanya kemudian ditangkap karena tuduhan menyebabkan bencana itu. Candide sedih sekali ketika gurunya dihukum gantung. Untungnya, dirinya masih diselamatkan oleh seoranga misterius yang ternyata adalah Nona  Cunegonde  yang begitu dipujanya. Satu kemalangan diikuti oleh satu kegembiraan, begitulah Candide mempertahankan tesis gurunya bahwa hidup itu baik.

                Muak dengan daratan Eropa yang begitu keji, Candide dan Cunegonde memutuskan untuk berlayar jauh ke seberang lautan. Maka, sampailah mereka ke Amerika Selatan. Di tempat baru ini, nasib kembali tidak memihak Candide. Nona Cunegonde ditawan dan dijadikan istri oleh gubernur setempat, dan pemuda itu tanpa sengaja telah membunuh Kakak nona Cunegonde yang ternyata juga masih hidup. Bingung dengan hidup yang seolah senantiasa mempermainkan dan menguji doktrin optimism kehidupan yang dianut Candide, pemuda itu bersama seorang rekan memutuskan untuk melarikan diri ke belantara Amerika Selatan, di mana tanpa sengaja mereka menemukan El Dorado, Kota Emas yang menjadi impian bagi para penjelajah Eropa kala itu. Sebuah kota yang bahkan tanah dan batu kerikilnya adalah bongkahan emas, yang hiasan-hiasannya adalah batu-batu berharga, dan rumah paling sederhana di kota itu adalah 10 kali lipat lebih megah dari kastil tercantik di Eropa. 

                Tapi, sudah menjadi ciri manusia untuk tidak pernah merasa puas dan cukup. Walau dikelilingi oleh harta berlimpah, makanan terlezat, dan orang-orang paling berbudi; pikirannya selalu tertuju pada sang kekasih hatinya, Cunegonde. Ia pun memutuskan untuk meminta izin dan pergi dari El Dorado demi sang pujaan hati. Dengan berat hati sang raja melapasnya. Candide diberi sejumlah kerikil dan batu dari El Dorado sebagai bekal. Harta itu nilainya melebihi dari kekayaan 10 raja Eropa dijadikan satu. Setelah kembali ke paradaban, Candide berpisah dari pelayannya. Ia memutuskan akan kembali ke Eropa sementara si pelayan diminta menebus nona Cunegonde. Mereka berjanji untuk bertemu di Venesia. Tapi, bahkan dengan harta dari  EL Dorado, kemalangan tiada henti terus menimpa Candide. Ia ditipu oleh seorang saudagar Belanda yang ternyata adalah seorang bajak laut. Sebagian besar hartanya ludes dicuri. Kelak, perahu si bajak laut ini karam dalam sebuah pertempuran laut malwan armada Spanyol, mebawa sebagian besar kekayaan milik Candide ke dasar samudra. Dengan harta yg tersisa, Candide mencari orang jujur sebagai temannya berlayar. Mereka akhirnya kembali ke Paris dan menyaksikan sendiri betapa kota itu tidak berubah dengan kebiadabannya.

                Candide memutuskan pergi ke Venesia untuk bertemu Cunegonde dan pelayannya. Ia memang berhasil menemuinya, tapi bukan di kota kanal itu, melainkan di Konstantinopel. Nona Cunegonde ternyata telah menjadi budak seorang penguasa Turki. Kemalangan apa lagi yang menimpanya, pikir Candide frustrasi. Tapi, entah bagaimana tesis gurunya terbuktikan ketika dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Pangloss dan kakak nona Cunegonde yg ternyata masih sama-sama hidup. Kelompok itu akhirnya berkumpul, membebaskan Cunegonde, dan mereka lalu  tinggal bersama di sebuah pelosok pedesaan di wilayah Turki. Tapi, apakah mereka bahagia? Ternyata tidak, kemapanan malah membuat segala sesuatunya memburuk. Sampai akhirnya mereka menemukan tesis baru, yang mereka coba terapkan dan berhasil. Tesis itu berbunyi: “Bahwa manusia dilahirkan bukan untuk menganggur. Mari kita bekerja dan jangan berdebat. Bekerja adalah satu-satunya cara untuk membuat hidup menjadi berguna.” (hlm 238).

http://www.constitution.org/img/voltaire.jpg
Lukisan potret Voltaire (sumber: http://www.constitution.org/img/voltaire.jpg)

              
  Voltaire yang bernama asli Francois Maria Arouet merupakan salah satu tokoh pemikir paling berpengaruh di masanya. Tokoh ini telah menghasilkan berbagai tulisan dan buku yang banyak dibaca oleh masyarakat di Prancis. Pemikirannya bahkan turut mempengaruhi pecahnya Revolusi Perancis (1789 – 1799). Buku ini merupakan sindirannya terhadap doktrin filsafat positivism, sekaligus terhadap kota Paris yang dianggap telah membuangnya. Tidak heran kalau Paris dan negara-negara Eropa dalam Candide digambarkan sebagai tempat yang sangat buruk dan kejam. 
               
           Voltaire juga menggambarkan kondisi-kondisi politik di sejumlah negara pada masa itu. Jika dilacak lewat peta perjalanan Candide, bisa ditebak kalau penulis ini paham betul dengan kondisi internasional pada masa itu. Pembaca dibantu untuk memahami sudut pandang si penulis melalui berbagai catatan kaki dalam buku versi terjemahan ini, yang kebanyakan berupa info geografis dan politik. Sayangnya, penerjemahan buku ini sepertinya dilakukan setengah-setengah. Kalimat-kalimatnya kurang lancar dan saya harus beberapa kali berhenti membaca untuk menebak-nebak maksud suatu kalimat. Untungnya, sebagian besar cerita bisa dipahami oleh pembaca umum, walau dengan rasa kurang nyaman saat membacanya. Tapi, acungan jempol patut diberikan kepada penerbit ini karena paling tidak telah menerbitkan dan membawa karya-karya klasik dunia ke tengah-tengah masyarakat Indonesia.

11 comments:

  1. haduuuh...stress banget perjalanan hidup si Candide ya! :D kebayang depresinya jadi dia haha...btw, cover buku ini jadul banget ya? kayak cover buku klasik edisi woodsworth atau dover yang murah gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. covernya sudah lumayan sih drpd terjemahannya

      Delete
  2. menunggu penerbit major ah nerbitin buku ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gramed, Mizan, atau Serambi kang? #ambigu

      Delete
    2. terbitan gramedia sudah ada. keluar tahun ini (2016)

      Delete
  3. akhirnya dengan membaca review Candide kang Dion aku seperti membaca langsung bukunya heheheh

    ReplyDelete
  4. Cover asli bukan sih, Dion? lucuuk.. *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak tau haha tp kan Selazar kl bikin cover kan bagus, terjemahannya aja yg jelek

      Delete
  5. eh baru tahu sdh diterjemahkan, tapi bagus tdk Dion ? kyknya aq pernah deh baca buku terbitan Liris, rada aneh begitu ... klo bagus pinjam donk *modus-tanpa-modal*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, terjemahe agak aneh, biasa lah. Tapi aku baca resensi bang Epi jd pengen. Boleh kalo minjem mbak, tp ini sering diobral 10rb lo

      Delete