Search This Blog

Wednesday, November 20, 2013

Winnetou, the Wild West Journey

Judul : Winnetou, the Wild West Journey
Pengarang : Karl May
Alih Bahasa : Melody Violine
Cetakan : pertama, Oktober 2013
Halaman : 348 hlm
Penerbit : Visi Media



18743320


                Winnetou adalah  paruh kedua dari buku Winnetou 1 karangan penulis Jerman termasyhur Karl May. Jika dalam buku pertama, Old Shatterhand¸ pembaca diajak untuk mengenal lebih dekat tentang Charlie atau Old Shatterhand dan awal  petualangannya di Wild West, maka di buku ini kita akan diajak mengenal lebih dekat Winnetou. Secara prinsipil, buku kedua ini tidak jauh berbeda dari buku pertama, yakni sama serunya. Kisah masih didominasi oleh petualangan Old Shatterhand di Wild West yang diwarnai dengan perjalanan di alam liar, mencari dan melacak jejak, berburu, dan adegan tembak-tembakan. Yang membedakan, di buku kedua ini kita akan belajar lebih banyak tentang suku India Apache dan ritual mereka. Dari pertama, penulis sudah mengajak pembaca untuk mengunjungi perkampungan Indian di Pueblo di dekat Rio Pecos, mendatangi rumah-rumah mereka yang dibangun di bahwa ceruk tebing, hingga menyaksikan beragam ritual tradisional khas suku Indian. Semua digambarkan dengan begitu luwes dan deskriptif, seolah-olah pembaca diajak bertamasya ke perkampungan suku Indian.

                “Keberanian adalah sifat yang selalu dihargai dan diakui oleh Indian, bahkan walaupun musuh mereka yang menunjukkannya. “ (hlm 39)

                Menyambung buku sebelumnya ketika Old Shatterhand ditangkap oleh Winnetou dan sukunya, cerita dimulai di pueblo suku Indian Apache. Dalam keadaan terluka, Old Shatterhand harus tetap bisa berpikir tenang agar bisa lepas dari kesalahpahaman dengan suku Apache ini. Bersama Sam, Dick, mereka menjadi tawanan oleh orang-orang yang justru telah mereka selamatkan. Namun, pada saat-saat genting seperti inilah, Old Shatterhand membuktikan kembali ungkapan bahwa ketenangan dan pikiran yang dingin sering kali adalah senjata yang paling ampuh. Ia masih menyimpan kartu terakhirnya (rambut Winnetou yang ia potong saat menyelamatkannya) dan ia tahu semua kesalahpahaman ini akan diluruskan pada waktu yang tepat, yakni menjelang saat penghukuman mereka oleh suku Indian Apache. Ia memang seorang “tanduk hijau” (orang yang belum berpengalaman), tetapi ia banyak membaca buku dan ia jadi tahu banyak hal dari situ, termasuk taktik meloloskan diri.

                “Aku tahu itu Sam. Aku juga tahu bahwa dalam beberapa situasi, setitik kecerdikan lebih berguna daripada sekuali kekuatan.” (hlm 50)

                Petualangan datang susul-menyusul dalam Winnetou 2. Ketika hari penghakiman tiba, Old Shatterhand kembali menunjukkan kecerdikan dan ketangkasannya. Sulit dipercaya, seorang Jerman yang tidak berpengalaman sepertinya bisa mengalahkan Kepala Suku Apache nan legendaris. Dalam hal ini, ia tidak menggunakan kekuatan otot, tetapi otak. Strategi dan kecerdikkan adalah kekuatan utama, yang ditambah dengan ketangkasan badan dan keterampilan bela diri. Semuanya ada dalam dirinya, Lepas dari hukuman, Old Shatterhand akhirnya menceritakan apa yang terjadi, dan Winnetou yang merasa berutang budi kemudian mengangkatnya sebagai saudara. Keadaan berbalik menjadi membaik, dan persahabatan legendaris antara WInnetou Sang Kepala Suku Apache dengan Charlie Old Shatterhand dari Jerman pun dimulai. Sebuah ikatan persahabatan yang kelak akan memunculkan berbagai petualangan paling hebat yang pernah dikisahkan di Wild West.

“Tidak ada orang yang pantas berpikir mereka lebih baik daripada orang lain hanya karena warna kulit mereka berbeda.” (hlm 112)

                Jika di buku Old Shatterhand pembaca dibuat gemes oleh kejahatan Rattler, di buku ini muncul penjahat lain yang lebih keji. Kejahatan yang dilakukannya begitu tak terbayangkan hingga akan mengubah kehidupan Winnetou maupun Old Shatterhand. Kelincahan penulis dalam mencipta karakter-karakter jahat dalam serial ini benar-benar membuat pembaca gemes. Karl May mampu menulis sosok-sosok yang langsung mudah dicintai atau langsung mudah dibenci sejak dari awal cerita, sehingga pembaca tidak dibuat bingung dan waswas oleh perubahan karakter yang mendadak. Uniknya, semua penjahat keji digambarkan berasal dari muka pucat (orang kulit putih) seolah ia hendak menyindir penjajahan orang kulit putih terhadap orang Indian di Amerika. Banyak ucapan-ucapan para suku Indian dalam buku ini yang niscaya menyentil peradaban kulit putih.

                “Itulah kata semua muka pucat. Mereka mengaku sebagai orang Kristen, tapi tidak berprilaku sesuai dengan ajaran Kristen. Tapi, kami memiliki Manitou agung yang ingin semua manusia berbuat baik. Aku berusaha berbuat baik, mungkin aku seorang Kristen, mungkin aku seorang Kristiani yang lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai pemeluk Kristen, tapi tidak menunjukkan kasih dan hanya mengejar keuntungan bagi diri sendiri.” (hlm 129)

Pembaca akan disuguhi oleh suasana kehidupan suku Indian Amerika pada abad ke-18. Semua digambarkan dengan detail yang indah dan menawan oleh Karl May. Detail seperti ini tidak bisa didapatkan kecuali si penulis pernah mengunjungi langsung pueblo di Wild West atau penulis membacanya dari buku-buku atau catatan perjalanan. Karl May sama sekali belum pernah ke Wild West, jadi kemungkinan ia mendapatkan deskripsinya dari buku-buku geografi yang ia baca. Sampai sekarang saya masih berpikir bagaimana bisa buku sedetail ini ditulis oleh seseorang yang belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Wild West saat dia menulis novel ini.

Satu pertanyaan dalam novel ini, penulis sepertinya terlalu mengagung-agungkan sosok Old Shatterhand. Hampir tidak ada yang kurang dari sosok ini: masih muda, cerdas luar biasa, memiliki pikiran yang dingin, badannya kuat dan tangkas, jago menembak dan berenang, plus umat Kristen yang taat. Keberuntungan juga selalu menaunginya. Hal-hal yang klise seperti ini biasanya membuat pembaca bosan, tetapi dalam buku ini anehnya tidak. Saya senang-senang saja melihat penggambaran Old Shatterhand sebagai sosok nan sempurna karena sudah telanjur jatuh cinta pada alur ceritanya yang seru.

“Namun, apakah berbicara itu perlu? Bukankah perbuatan adalah ajakan yang jauh lebih kuat daripada kata-kata? (hlm 129)

Dari Old Shatterhand, kita belajar tentang pentingnya membaca buku. Dalam cerita ini, penulis berulang kali menekankan bahwa si Tanduk Hijau belajar semuanya dari buku, dan nyatanya ia berhasil dan selamat. Membaca dan mengamati adalah dua hal yang wajib dilakukan ketika seseorang hendak mencoba terjun dalam sesuatu yang baru. Dengan bekal ini, otak akan otomatis berimprovisasi dan mengeluarkan ide-ide cemerlang, sebagaimana yang dialami sendiri oleh Old Shatterhand.


Jika Anda menginginkan petualangan ala koboi di Wild West, bacalah buku ini. Anda tidak hanya mendapatkan sebuah kisah hebat tentang tembak-tembakan, tapi juga sebuah kisah yang sarat petualangan, pembelajaran moral, ungkapan-ungkapan bijak, dan karakter-karakter terhebat yang pernah menghidupkan kawasan Barat Liar atau Wild West di Amerika Serikat. 

2 comments: