Search This Blog

Wednesday, April 11, 2018

Sang Nyai 3, Pencarian Peninggalan Legendaris Majapahit

Judul:  Sang Nyai 3, Misteri Empat Penaka Majapahit
Pengarang: Budi Sardjono
Penyunting: Misni Parjiati
Sampul: Amalina Asrari
Cetakan: Pertama, April 2018
Penerbit: DIVA Press




“Orang yang menang tanpa harus mengalahkan musuh-musuhnya. Dialah yang layak mendapatkan sebutan orang sakti."

Sejarah dan misteri di nusantara bisa menjadi bahan cerita yang tak kalah mengasyikkan dalam sebuah novel. Penulis Budi  Sardjono membuktikan hal ini lewat trilogi Sang Nyai karyanya. Pun, jika kita berbicara tentang misteri, wanita atau perempuan adalah juaranya. Tidak heran jika ada yang bilang wanita itu penuh misteri  dan penulis menghadirkan misteri besar dalam trilogi Sang Nyai 3 ini juga lewat sosok wanita. Sang Nyai 3 sendiri adalah buku pamungkas dari seri Sang Nyai  yang mengangkat banyak legenda-legenda besar di tanah Jawa. Di buku pertama, sosok misterius penguasa Laut Selatan menjadi sorotan utama. Lalu, berlanjut ke buku kedua yang berganti mengupas misteri keturunan Roro Jonggrang. Di buku ketiga ini, petualangan Mas Sam akan berupaya menguak misteri keturunan terakhir Majapahit.

Pembaca yang sudah membaca karya-karya Budi Sardjono mestinya sudah tidak kaget dengan gaya penulisannya. Dimulai di novel Roro Jongrang, Nyai Gowok, lalu berlanjut ke seri Sang Nyai, penulis menggunakan wanita atau perempuan sebagai jangkar utama. Meskipun protagonisnya seorang pria. Kentara sekali betapa tokoh-tokoh perempuanlah yang sebenarnya menyetir cerita. Resep ini muncul lagi dalam Sang Nyai 3 ketika di awal buku saja, Mas Sam sudah dipertemukan dengan sosok Gini yang asli Gunung Kidul. Wanita misterius itu kemudian mengajaknya ke Panggang yang merupakan sebuah kecamatan di sisi barat Kabupaten Gunung Kidul. Dalam sebuah bungalow yang dibangun di atas tebing terjal di tepian Laut Selatan, Gini menceritakan banyak sekali peristiwa sejarah terkait bangsa Jawa dan Nusantara yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

 
Salah satu yang menarik adalah tentang desa Segoroyoso di Imogiri. Konon, Segoroyoso terilhami oleh sebuah proyek ambisius Sultan Agung, penguasa Mataram Islam awal. Sultan yang pernah menyerang benteng Belanda di Batavia itu konon pernah membendung aliran Kali Opak untuk membuat semacam danau buatan. Lokasi ini sedianya digunakan sebagai tempat berlatih para prajurit Mataram Islam agar mereka juga memiliki kemampuan bertempur di lautan sebagaimana para pendahulunya. Sultan Agung menyadari, betapa kebesaran Majapahit, Sriwijaya, dan Samudra Pasai tidak bisa dilepaskan dari armada laut mereka yang kuat. Kesalahan Kerajaan Demak yang berusia pendek adalah karena kerajaan yang didirikan Raden Patah itu hanya berfokus pada kekuatan darat dan mengabaikan angkatan lautnya. Sayangnya, bekas proyek Segoroyoso ini sudah tidak tersisa sedikit pun kecuali sekadar menjadi nama sebuah desa. 

Selain misteri tentang Segoroyoso, Sang Nyai 3 juga menyinggung tentang misteri Majapahit. Dalam babad Jawa, dikisahkan bahwa penguasa terakhir Majapahit, yakni Prabu Brawijaya V, memutuskan untuk meninggalkan kursi kekuasaan dan menyepi ke Gunung Lawu. Di gunung misterius sebelah barat kabupaten Magetan inilah konon beliau moksa. Jasad dan makamnya tidak pernah ditemukan. Keberadaannya masih misterius sampai sekarang. Misteri inilah yang juga coba dijawab oleh penulis lewat novel ini. Bersama moksanya sang Prabu, hilang juga empat pataka atau panji-panji lambang kebesaran kerajaan Majapahit yang asli. Di antaranya adalah Pataka Sang Dwija Naga Nareswara yang digunakan untuk mengibarkan bendera gula kelapa di era Majapahit. Dari bendera Gula Kelapa inilah muncul istilah Dwiwarna merah putih yang menjadi bendera nasional Indonesia. Beberapa museum di luar negeri konon menyimpan 4 pataka Majapahit. Tetapi, yang asli telah diamankan oleh sang Prabu ke Gunung Lawu. 

Bicara tentang Gunung Lawu, tentunya nanggung jika tidak membicarakan Candi Sukuh yang ada dilerengnya. Candi terakhir peninggalan Kerajaan Majapahit ini memang unik. Selain memiliki ukiran-ukiran agak vulgar tentang kelamin lelaki-perempuan, candi ini juga memiliki bentuk yang berbeda. Tidak seperti candi-candi di Jawa Tengah yang kerucut atau persegi berstupa atau candi-candi Jawa Timur yang seperti gapura, Candi Sukuh lebih menyerupai sebuah piramida atau punden berundak. Sedikit banyak, penulis mencoba menjawab keganjilan dari bentuk Candi Sukuh. Cukup menyenangkan menyimak jawaban-jawaban di buku ini sebagai semacam pengetahuan tentang sejarah alternatif. 

Hanya saja, karena unsur sejarah ini pula yang bikin buku ini ‘rada membosankan’ di beberapa bagian. Beberapa kali, penulis seperti terlalu bernafsu menuliskan penggalan kronik sejarah sehingga rasanya kayak baca paragraf dalam buku sejarah. Ketiga wanita misterius yang menjadi penggerak alur cerita juga kayaknya gampangan banget sama Mas Sam, sehingga menjadikan seri ini  terasa agak vulgar bagi pembaca yang belum terbiasa dengan kenyentrikan penulis dalam menarasikan kemolekan wanita Jawa.

No comments:

Post a Comment