Search This Blog

Showing posts with label children. Show all posts
Showing posts with label children. Show all posts

Friday, February 24, 2017

Jembatan ke Terabithia; Perayaan Sejati atas Masa Kanak-Kanak

Judul: Bridge to Terabithia
Pengarang: Katherine Paterson
Penerjemah: Rina Wulandari
Tebal: 236 hlm
Cetakan: 1, Desember 2016
Penerbit: Noura Books

33867181

Membaca Bridge to Terabithia untuk yang kedua kalinya tetap menghadirkan rasa haru atas indahnya persahabatan antara Jess dan Leslie. Versi filmnya juga sudah berulang kali diputar di TV, tetapi sebagaimana bukunya, Jembatan ke Terabithia selalu mampu menghadirkan kembali perasaan haru biru ketika kita membaca atau menonton kisahnya. Kini, diterbitkan ulang oleh Noura Books, buku anak legendaris ini hadir kembali dengan sampul yang lebih segar. Sampul hijaunya mengingatkan kita pada hutan ajaib tempat Jess dan Leslie membangun Kerajaan Terabithia mereka. Tali ayunan di atas sungai sebagai penghubung menuju Terabithia juga dilukiskan dengan indahnya. Ahhh ... menatap kehijauan di sampul buku ini serasa mendengar para penghuni Terabithia memanggil-manggil kita untuk turut larut dengan cerita di dalamnya. 

"... mungkin Terabithia semacam kastel yang kau datangi untuk diberi gelar. Setelah kau tinggal sejenak dan tumbuh kuat, kau harus pergi." (hlm. 230)

Monday, April 27, 2015

The Miraculous Journey of Edward Tulane


Judul: Perjalanan Ajaib Edward Tulane
Penulis: Kate Dicamillo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 208 halaman
Tahun Terbit: 2006 (cetakan kedua April 2014)
ISBN: 9792224874

 1492896

“Buka hatimu. Akan ada yang datang, akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu.”

Monday, March 23, 2015

Good Night, Zombie!

Judul     : Good Night, Zombie! (Scary Tales #3)
Pengarang : James Freller
Ilustrator : Iacopo Bruno
Penerjemah : Nuraini Matsura
Penyunting : Noor H Dee
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Penerbit: Noura Books



 19395738
        
                Dibandingkan dua seri sebelumnya, saya paling suka dengan seri ketiga ini. Tidak lain dan tidak bukan karena horor yang diangkat di buku ketiga ini adalah horor yang benar-benar horor menurut saya, yakni tentang mayat hidup alias zombie! Sosok-sosok tua berpakaian seperti orang masa lampau, kulitnya kisut, giginya hitam dan membusuk, dan paling mengerikan adalah matanya, bola mata yang terbalik dan kosong, tidak menunjukkan apapun selain awan putih menyeramkan di rongga mata. Saat membaca buku ini, pada waktu tengah malam, saya sibuk lirik kiri dan kanan sampai harus menyeret kucing saya masuk rumah hanya agar ada suara, ada yang bergerak di tengah keheningan malam. Bergerak dan hidup maksud saya.

                Ceritanya, ada tiga anak SD yang terperangkap di sekolah mereka pada Jumat malam. Mereka adalah Carter, Esme, dan Arnold. Ketiganya tidak saling mengenal, dan ketiganya terjebak di sekolah yang telanjur dikunci pada suatu petang di akhir pekan. Yang lebih aneh, pintu-pintu itu dikunci alias digembok dari dalam. Dalam artian, ada orang lain di dalam gedung sekolah sekalin ketiga anak itu. Lalu, mengapa pintunya digembok dari dalam? Seolah-olah, gembok itu sengaja dipasang untuk mencegah agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam gedung sekolah di saat malam.

                Lalu, apakah itu? Apa yang ada di luar gedung sekolah yang tidak seharusnya masuk ke dalam? Yang jelas, ketiga anak itu harus mencari jalan keluar. Tetapi, semua pintu dan jendela telah digembok rapat sehingga satu-satunya jalan keluar adalah mencari  petugas piket malam, Tuan Van Der Klemp yang sama misteriusnya. Pria tua yang kurus itu malah melarang ketiganya untuk keluar. Dialah yang mengunci dan mengembok semua pintu di keluar, agar mereka yang sudah mati tidak bisa masuk ke dalam. Dan, tahulah ketiga siswa itu bahwa mereka telah terperangkap di gedung sekolah bersama seorang penjaga malam yang aneh. Sementara di luar, di tengah keheningan malam dan kabut dingin yang turun, terdengar suara garukan kuku yang sudah patah, langkah-langkah sempoyongan, serta tubuh-tubuh membusuk para zombie yang mengitari halaman sekolah.

                Dibanding dua buku sebelumnya, Good Night Zombie ini  adalah yang paling seram menurut saya. Posisi ketiga anak yang terjebak di sekolah pada malam hari, tidak bisa keluar kecuali setelah fajar, dengan mayat-mayat hidup yang mengepung di luar, ini semua memunculkan semacam kesan terperangkap yang ngeri. Suatu kondisi ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap tenang, diam, dan menunggu sampai malam berlalu. Tapi, suara apakah itu? Kaca jendela yang pecah? Dan gedebuk langkah-langkah gontai yang berjalan di lorong sekolah, apakah zombie-zombie itu akhirnya masuk ke sekolah? Benar-benar mendebarkan membaca buku ini. 

I Scream, You Scream! (Scary Tales #2)



Judul     : I Scream, You Scream! (Scary Tales #2)
Pengarang : James Freller
Ilustrator : Iacopo Bruno
Penerjemah : Nuraini Matsura
Penyunting : Aan Wulandari Usman
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Penerbit: Noura Books
 
23441507



Tidak salah jika banyak pembaca yang menyebut seri #ScaryTales ini sebagai penerus Goosebums di era Millenium. Dari segi cerita, polanya hampir mirip—tokohnya anak-anak, memasuki wahana di taman hiburan yang misterius, dan kemudian dia mendapati kalau taman bermain itu bukan taman bermain biasa. Ide cerita seperti ini mungkin pernah kit abaca entah dimana, atau kita tonton dalam serial Goosebums dengan bintang-bintang yang masih jadul banget. Bedanya, seri Scary Tales ini sudah menyinggung tentang penggunaan internet dalam ceritanya. Internet, sesuatu yang telah begitu mengubah kehidupan generasi muda. Mereka yang baru lahir tahun 90-an mungkin belum bisa merasakan, tapi mereka yang lahir tahun 80-an hingga awal 90-an  pasti merasakan betapa berubahnya dunia mereka sekarang karena internet (maaf, malah melantur kemana-mana).

                Kembali ke buku ini, jika sudah membaca seri pertama, pasti langsung paham kalau setiap buku dalam seri ini berbeda-beda. Karakternya berbeda, dan anak-anak yang jadi karakter utama di dalamnya pun berbeda-beda. Jika di buku pertama Home Sweet Horor pembaca disuguhi rumah yang berhantu, maka di buku kedua ini temanya adalah Taman Hiburan Maut (biar ala-ala trio detektif hehehe). Ceritanya, seorang gadis kecil bernama Sam Carver—dia ini suka banget naik berbagai wahana permainan—mendapatkan tiket gratis untuk menaiki sebuah wahana bernama Taring Naga milik Dokter Z yang misterius.  Tapi, ada yang aneh, hanya Sam saja yang dipebolehkan menaiki wahana Taring Naga, sementara ayah dan ibunya harus menunggu di luar. Sam juga dilarang membawa telepon genggamnya (hal yang tidak bakal kita temukan di serial Goosebums) sehingga begitu masuk ke wahana, maka terputuslah dirinya sepenuhnya dengan orang tuanya.

                Awalnya, orang tua Sam tidak setuju. Tapi begitu melihat ada belasan anak lain yang juga ikut naik wahana bersama Sam, maka mereka mengizinkan Sam naik wahana Taring Naga, meskipun dengan perasaan yang berat hati dan entah bagaimana terasa janggal. Dan, Taring Naga pun dibuka. Seluruh peserta telah duduk di kursinya masing-masing. Roller coaster mulai meluncur, semakin lama semakin cepat, masuk lebih dalam, lebih gelap, lebih cepat. Sebelum tiba-tiba terdengar suara ledakan, dan permainan Taring Naga langsung berubah menjadi arena maut yang mengerikan. Sam, terjebak bersama salah satu anak, mencoba menyelamatkan diri. Tapi, teriak mereka kali ini bukanlah teriakan karena senang campur ngeri. Teriakan kali ini adalah teriakan minta tolong.

                Sound familiar? Ya, bagi yang pernah membaca seri Goosebumps pasti merasa seperti diajak bernostalgia. Tapi, ya, dibutuhkan lebih banyak buku horor untuk anak semacam ini karena kelak mereka juga akan mengenang masa kecilnya saat membaca seri Scary Tales sebagaimana kita yang juga terkenang dengan Goosebumps. Plus, ilustrasi seram di buku ini begitu unik, rasanya hitam tapi hitam yang indah. Nuasa gotik yang kental berpadu dengan lingkungan modern, menghasilkan ilustrasi hitam yang terang, mendetail, dan entah bagaimana spooky namun tetap nyeni.