Search This Blog

Thursday, May 30, 2013

Lelaki Tua dan Laut


Judul     : Lelaki Tua dan Laut
Pengarang          : Ernest Hemingway
Penerjemah       : Yuni Kristianingsih  P
Penyunting        : Mita Y
Hlm                       : 145 hlm
Cetakan               : kedua, Juli 2009
Penerbit              : Serambi

Lelaki Tua dan Laut

                “Aku memang seorang lelaki tua. Tetapi aku bukannya tanpa senjata.” (hlm 114)

                Optimisme kehidupan yang tak terkalahkan, kalimat ini mungkin yang paling tepat untuk menggambarkan novel tipis namun luar biasa ini. Novel yang ditulis oleh peraih Novel Sastra Ernst Hemingway ini memang layak dimasukkan dalam jajaran karya sastra besar dunia karena keindahan kisah yang dikisahkan di dalamnya, ketelitian dan detail tentang dunia nelayan laut yang memukau pembaca, serta karena penghargaan akan kehidupan dan keberadaan manusia di alam raya yang disampaikan lewat untaian kisah si Pak Tua.

                Adalah Santiago, seorang nelayan tua dari Kuba yang selama 84 hari berturut-turut gagal mendapatkan ikan. Orang-orang pada mengejeknya walaupun dengan halus, menyuruhnya untuk menyerah dan beristirahat, atau ikut menumpang kapal ikan yang lebih besar. Tapi, si Lelaki Tua tetap kukuh dengan keyakinannya, bahwa ada seekor ikan besar yang menunggunya di sebuah lubuk lautan dalam. Maka, pada hari ke -85 ia pun berangkatlah. Tidak ada yang disesalinya, tidak ketidakberuntungannya ataupun kondisi lautannya. Ia tetap yakin dan positif bahwa hadiah itu masih menunggunya di ceruk lautan, ia tinggal mengambilnya. Kalau ada yang ia sesali, mungkin karena ia harus berlayar sendirian tanpa bocah lelaki yang biasa menemaninya, yang kini disuruh orang tuanya agar ikut ke kapal yang lebih besar—walaupun itu bukan kemauannya.

                Maka dimulailah perjalanan seorang diri ke tengah lautan. Si Lelaki Tua berlayar sebagaimana biasa, dengan optimism yang masih sama menyala seperti saat ia muda. Tubuhnya mungkin sudha ringkih namun semangatnya senantiasa muda. Dengan tali dan jala, dimulailah pencarian ikan itu. Akhirnya, beberapa hari berselang, umpannya dimakan oleh sang ikan. Ikan itu jauh melebihi ekspekstasi di nelayan tua. Ikan marlin itu besarnya bahkan melebihi perahunya. Namun, walau sudah memakan umpan, ikan itu belum menyerah. Ia membuktikan bahwa ikan pun bisa melawan. Maka, dimulailah kembali pertarungan antara manusia melawan alam, antara ikan dan pak tua.

                Si ikan terus menyeret kapal si Lelaki Tua sampai ke tengah samudra. Berhari-hari, sampai akhirnya ia kelelahan. Si lelaki Tua pun tak mau kalah. Dipegangnya selalu jala dan tali umpan, bertekad tak akan melepaskan ikan raksasa itu. Dan, setiap perjuangan selalu ada imbalan, si Lelaki Tua menang. Ikan marlin itu kalah dan ia kalah dengan terhormat. Lelaki Tua itu telah mendapat hadiahnya. Namun, perjuangan belum selesai. Ia harus membawa kembali hadiahnya ke daratan. Ikan itu telah membawanya ke tengah samudra, dan kini ia harus menghadapi lawan lagi: para hiu yang hendak merampas hadiahnya. Dan dimulailah perjalanan kedua, kali ini si Lelaki Tua harus melawan para predator yang mengincar ikan besar tangkapannya. Sungguh luar biasa optimism laki-laki tua itu. Ketika ikan yang ia dapat dengan susah payah digigit dan dicuri bagian demi bagian oleh para hiu, ia tetap berpikir positif, bahwa selalu ada sisa yang besar untuknya. Sampai akhirnya ketika si Lelaki Tua tiba di desa, ikannya hanya tersisa bagian kepala dan sedikit saja bagian dagingnya. Tapi, ia telah berjuang dengan terhormat dan dunia pun memberi salut kepadanya.

                Novel Lelaki Tua dan Laut adalah karya terakhir dari Ernest Hemingway. Novel yang begitu membangkitkan semangat hidup ini ditulis dengan indah sekali, serta didampingi dengan riset yang mendalam. Membacanya, kita seperti ikut Santiago berlayar ke tengah lautan dengan peralatannya yang masih sederhana. Dengan teliti dan deskriptif, penulis mampu menggambarkan apa dan bagaimana seorang nelayan tyradisional menangkap ikan. Selain itu, kita juga disuguhi dengan percakapan tunggal atau monolog antara di Lelaki Tua dengan dirinya sendiri, sebuah percakapan dari seorang manusia yang mampu mengalahkan pesimisme dalam dirinya. Kita niscaya akan belajar banyak dari novel ini, tentang arti penting perjuangan, tentang indahnya optimisma kehidupan, tentang perlunya berpikir positif bahkan ketika kemalangan mendera bertubi-tubi, tentang kesabaran serta ketekunan dan ketelatenan. Satu kalimat yang sangat luar biasa ikut tertera di sampul depan, yang sekaligus menggambarkan dengan tepat isi dari novel ini, bahwa manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan.

28 comments:

  1. dari dulu pengen banget baca buku ini cuma belum kesampaian hehe...

    great mark from Hemingway then..

    ReplyDelete
  2. Siapa yang terbitin, Mas? Covernya bagus juga.

    Gak kebayang deh dia udah cape-cape nyari ikan, ikannya dicuri, yang tersisa cuma kepala ama sedikit daging. Tapi seenggaknya dia hidup karena dia optimis :)

    ~phie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum, itu nangkepnya sampai sudah hampir payah tp Pak Tua ini tetap aja optimis

      Delete
  3. dari dulu nyari2 buku ini masih belum dapet. makin penasaran saja jadinya...kalo yang putih covernya itu terbitan apa ya? dua2nya sama keren covernya. pengennnn :D

    ReplyDelete
  4. ini salah satu buku yang aku baca kalau mood lagi bagus. overall pesan moralnya memang bagus, tapi ritme dan penturannya kadang bikin bosen juga sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku malah kadang kasian karena kemalangannya terlampau bertubi2 dan endingnya agak kurang wow halah

      Delete
  5. sepertinya menarik nih, tapi nggak ada kisah cintanya ya bang? *dirajam* :))

    ReplyDelete
  6. Buku ini sebenernya lebih canggih dari buku2 motivasi jaman sekarang deeeh :D dan memang, biarpun kisahnya sederhana tapi penuh makna....

    ReplyDelete
  7. kepingin baca, tapi selalu kalah ama buku-buku lainnya

    ReplyDelete
  8. suka covernya. aih bahasanya bueraat. jadi inget Life of Pi, masa dia ngomong sendiri gitu di kapal -___-

    ReplyDelete
  9. Kayak nya loading lama kalo baca dg ritme pelan... mending bacanya disambi lari lari ya biar cepet #dikeplak

    ReplyDelete
  10. aaah aku suka banget buku ini.
    Sayang waktu itu minjem mas amang, pengin banget koleksi yang terbitan Pustaka Jaya... terjemahannya Pak SDD. :D

    ReplyDelete
  11. boleh juga ikut baca kayake asyik tapi kayake lg males ni

    ReplyDelete
  12. boleh juga ikut baca kayake asyik tapi kayake lg males ni

    ReplyDelete
  13. boleh juga ikut baca kayake asyik tapi kayake lg males ni

    ReplyDelete
  14. boleh juga ikut baca kayake asyik tapi kayake lg males ni

    ReplyDelete
  15. boleh juga ikut baca kayake asyik tapi kayake lg males ni

    ReplyDelete
  16. boleh juga ikut baca kayake asyik tapi kayake lg males ni

    ReplyDelete