Search This Blog

Monday, September 16, 2013

The Chronicles of Narnia, Pertempuran Terakhir

Judul : The Chronicles of Narnia, Pertempuran Terakhir
Pengarang : C.S. Lewis
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Sampul : Cliff Nielsen
Cetakan : 1, 2005, 273 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


http://images3.wikia.nocookie.net/__cb20121103101856/narnia/id/images/3/3c/ENG-TheLastBattle.jpg

                NARNIA … di mana kebohongan melahirkan ketakutan, di mana kesetiaan diuji, di mana semua harapan seolah sirna … inilah hari-hari terakhir Narnia.

                Akhirnya, selesai juga saya membaca buku ke tujuh dari seri The Chronicles of Narnia. Buku ini merupakan penutup dari seluruh petualangan seru yang terjadi du dunia Narnia, dunia rekaan  penulis legendaris C.S. Lewis yang bisa diakses dari balik lemari baju, pojok kebun, stasiun kereta, dan kemudian kereta itu sendiri. Kedamaian yang menyelimuti Narnia kembali diuji. Kali ini, ujiannya bukan dari musuh yang mengancam akan menguasai, tapi sebuah ujian tentang keyakinan dan kepercayaan. Aslan, Sang Singa Surai Emas penguasa Narnia sudah lama sekali tidak menampakkan dirinya. Binatang-Binatang yang Bis Berbicara mulai resah, begitu pula kaum manusia yang merupakan raja-raja Narnia. Negeri itu damai dari luar, tapi kedamaian itu rapuh karena semakin menipisnya keyakinan rakyat Narnia terhadap Aslan. Dan ketika akhirnya ujian itu datang dari sesosok monyet yang licik namun cerdas, seluruh Narnia harus menanggung akibatnya.

                Sang kera licik bernama Stiff dan temannya, seekor keledai dungu bernama Puzzle, menemukan kulit singa biasa yang hanyut. Akal licik Stiff timbul. Ia hendak berkuasa dengan melakukan tipu muslihat dengan memanfaatkan kulit singa yang kebetulan masih utuh dengan kepalanya itu. Maka, disuruhlah Puzzle agar berpura-pura menjadi Aslan agar ia bisa mengelabuhi seluruh Narnia. Puzzle tentu saja tidak mau, namun bujukan Stiff yang bagai ular pun memperdayanya. Segera saja, seluruh Narnia yang memang merindukan sosok Aslan, serentak menyambut dan bergembira ria. Mereka bahagia karena Sang Junjungan akhirnya menampakkan diri. Namun, Aslan yang ini berbeda. Aslan kali ini tampak murka, pemarah, culas, dan tidak bijaksana. Tentu saja karena Aslan palsu ini digerakkan oleh seekor kera jahat yang licik. Korban berjatuhan. Kaum kurcaci ditangkap dan dikirim ke Calormen sebagai pekerja tambang. Pohon-Pohon yang Bisa Berbicara ditebangi. Hewan-hewan dijadikan budak. Raja Tirian, raja terakhir Narnia tidak mau tinggal diam. Aslan atau tidak, yang jelas singa itu telah membuat Narnia menderita.

                Kelicikan Stiff semakin menjadi dengan masuknya campur tangan bangsa Calormen yang memang sejak dulu ingin menguasai negeri indah Narnia. Tipu muslihat dirancang, namun Tirian dan beberapa warga Narnia yang setia bergerak melawan. Dan, sebagaimana ketika Narnia dalam bahaya, dua anak Adam dan Hawa datang dari dunia kita. Kali ini yang datang adalah Eustace dan Jill. Keduanya bahu membahu dengan Tirian untuk melawan muslihat sang kera yang kini bekerja sama dengan bangsa Calormen dan dewa jahat mereka, Tash. Pertempuran demi pertempuran pun pecah. Banyak warga Narnia yang jadi korban. Banyak juga yang berkhianat, walau setiap tindakan pasti akan mendapatkan imbalan. Ini adalah kisah saat-saat Narnia runtuh, saat terompet akhirnya ditiup oleh Bapak Waktu, ketika jelas mana yang layak dianugerahi kehormatan dan mana yang harus menanggung hinaan karena kejahatannya.

                Dua kali saya membaca Pertempuran Terakhir. Yang pertama versi Dian Rakyat yang entah mengapa saya malah bingung membacanya. Setelah sejumlah riset kecil-kecilan, muncullah fakta bahwa The Chronicles of Narnia bukanlah kisah anak-anak yang biasa. Seri ini sangat kental dengan ajaran Kristen yang dengan cerdasnya diolah oleh sang pengarang. Dari buku pertama The Lion, The Witch, The Wardrobe, kita menjumpai doktrin Kebangkitan Kembali. Sementara dalam buku terakhir ini, pembaca disuguhi oleh Hari Perhitungan. Aslan dengan surai emasnya, yang menguasai dunia Narnia, pastilah bisa ditebak melambangkan sosok paling dihormati dalam ajaran Kristen. Susan, adik Peter, tidak bisa lagi masuk ke Narnia karena ia sudah tidak percaya dengan omong kosong tanah Narnia yang menurutnya hanyalan bualan anak kecil. Susan, dalam hal ini, melambangkan mereka yang tidak mau percaya pada kasih Tuhan. Demikian juga kaum kurcaci yang menolak untuk percaya, semua ini adalah lambang-lambang Kristen yang sedemikian jelas.

                Seri Chronicles of Narnia terdiri atas 7 buku, pembacaannya sebaiknya urut namun urutannya tidak seketat seperti ketika kita membaca The Lord of the Ring. Saya sendiri membacanya melompat-lompat, yang pertama kali dibaca malah Pangeran Caspian. Namun, pembaca tetap bisa menikmatinya meskipun melompat-lompat karena pengarang memang sangat piawai dalam menghadirkan cerita. Masalahnya, penerbitan buku ini pada awalnya tidak seuai dengan urutan. Namun, karena ketujuh bukunya sudah selesai ditulis, akan lebih baik jika pembaca membacanya secara urut dengan urutan sebagai berikut:
(1)    Keponakan Penyihir;
(2)    Singa, Penyihir, dan Lemari;
(3)    Kuda dan Anak Lelaki,
(4)    Pangeran Caspian,
(5)     Perjalanan Sang Pengelana Fajar,
(6)     Kursi Perak, dan
(7)    Pertempuran Terakhir.


Sebuah karya dengan muatan sehebat ini bisa ditulis dalam bentuk buku fantasi petualangan yang seru, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kehebatan C.S. Lewis, sahabat akrab dari J.R.R. Tolkien.

Rating: Pembaca usia 10 tahun ke atas karena temanya yg agak berat di separuh akhir :)

4 comments:

  1. kalo boleh tahu anda dapat darimana seri ketujuh ini?

    ReplyDelete
  2. Yaaah😢 susan nggak ada, padahal susan dulu tokoh yang penting di narnia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener banget , jd agak kurang seru kalo pemeran nya semua ga lengkap

      Delete