Search This Blog

Friday, December 30, 2011

Midnight for Charlie Bone

Judul            : Midnight for Charlie Bone
Pengarang    : Jenny Nimmo
Penerjemah  : Iryani Syahrir
Penyunting   : Siti Aenah
Sampul             : Scott Altmann
Tebal                : 409 halaman
Cetakan            : 1, November 2010
Penerbit            : Ufuk Press



            Perkenalkan, Charlie Bone, seorang anak usia 10 tahun yang tinggal bersama Ibu, paman, dan nenek-neneknya yang sangat nyentrik. Dalam pandangan Charlie, ia adalah sepotong bukti dari dunia yang normal dalam rumah mereka yang dihuni oleh orang-orang berperangai aneh. Mulai dari Paman Patton yang tidak pernah keluar rumah di siang hari, nenek Bone yang selalu mengawasi, serta tiga nenek dari keluarga Yewbeam—dari pihak ayahnya—yang benar-benar mirip nenek sihir dalam cerita. Semuanya berjalan dengan biasa-biasa saja sebelum akhirnya Charlie mulai mendengar suara-suara dari setiap foto yang ia pandangi. Yups, Charlie adalah salah satu dari sedikit orang yang diberkahi.  Melihat kemunculan bakatnya ini, ketiga nenek Yewbeam malah bergembira dan memaksa Charlie untuk pindah ke sekolah bergengsi khusus untuk anak-anak berbakat, Bloor’s Academy.

             Di sekolah barunya, Charlie mendapat teman-teman baru, mulai dari Fidelio yang jago musik tapi bukan siswa terbekati, hingga Billy yang mampu berbicara dengan hewan. Kejadian semakin aneh ketika Charlie bertemu dengan seorang wanita yang tengah mencari foto dari keponakannya yang hilang, dan ternyata keponakannya itu juga bersekolah di Bloor’s Academy dan masih sepantaran usianya dengan Charlie. Dari wanita itu, Charlie mendapat kotak misterius yang katanya bisa menyadarkan kembali si gadis misterius yang konon diculik itu. Bersama dengan teman dekatnya Benjamin serta Fidelio, dan juga teman-teman barunya, Charlie berjibaku melawan komplotan gelap yang ternyata melibatkan pihak keluarga Yewbeam. Ketiga neneknya ternyata memiliki andil dalam konspirasi dan penculikan ini.Begitu pula paman Patton yang ternyata juga diberkati dengan kekuatan khusus.

            Sekolah, bakat ajaib, anak usia 10 tahun, nenek yang misterius; semua itu pasti mengingatkan pembaca pada salah satu tonggak fantasi modern, Harry Potter. Yups, bisa dibilang novel ini mengambil sedikit aura Harry Potterian untuk memulai kisahnya, walaupun semakin ke belakang semakin jelas bahwa penulis ingin mengambil jarak dari Harry Potter—untuk lebih memantapkan karakter Charlie sendiri. Berbeda dengan Harry Potter yang memiliki tongkat dan sihir, Charlie hanya memiliki bakat mendengarkan orang-orang dalam foto. Dengan melihat foto, ia bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang yang ada dalam foto tersebut saat foto itu diambil. Dari sinilah Charlie bisa menelusuri jejak dari penculikan gadis misterius yang diculik saat masih bayi. Ok, dari sini semakin jelas bahwa Charlie Bone bukan Harry Potter. Sayangnya, sihir novel ini hanya sampai di situ saja. Satu orang satu bakat, dengan jalur cerita yang sangat meminimalisir dan mengurangi potensi aksi dan perang sihir yang bisa ditawarkan oleh sebuah novel fantasi.

            Cover dari Midnight for Charlie Bone, saya akui, luar biasa indah. Benar-benar seperti lukisan yang dicetak dalam bentuk foto digital, lalu dialihrupakan lagi menjadi sebuah lukisan dalam sampul. Efek gelap dan lampu-lampu serta background malam hari benar-benar mampu merangsang pembaca untuk turut dalam perjalanan Charlie di malam hari menyusuri kota London (atau sebuah kota di Inggris). Konflik yang berupaya dibangun pun seru, simpel tapi seru. Awalnya mungkin agak lambat di mana pembaca musti menerka-nerka apakah ketiga nenek dari Yewbeam itu penyihir baik yang pura-pura jahat. Setelah ketahuan bahwa ketiganya memiliki maksud jahat, maka tahap hitam-putih pun mulai jelas, dan alih-alih kecewa, saya malah senang karena bisa memutuskan “bagaimana memperlakukan buku ini”. Yah, seperti misalnya: oke jadi Charlie dkk plus ibunya plus paman Patton versus Tiga Nenek dari keluarga Bone. Oke, meluncur.

            Perseteruan yang muncul menambah seru cerita. Nenek Yewbeam mengawasi dan menjebak Charlie dan teman-temannya sementara Patton juga tidak tinggal diam. Sedikit demi sedikit pembaca diajak untuk menaiki tangga-tangga ketegangan menuju “perang besar” yang diharapkan ada di ujung cerita—yang sayangnya perang besar itu tidak ada. Seperti menaiki anak tangga satu demi satu, lalu pembaca dijorokin ke bawah, begitulah rasanya. Ketika Charlie terancam bahaya, dan tiga anak diberkahi dari pihak Yewbeam berusaha menghabisi Charlie menggunakan kekuatan telekinetis dan perubahan wujud pada bab Perang antara Mereka yang Diberkahi, Charlie tiba-tiba menjumpai dirinya selamat. Alurnya begini:

            Charlie masuk reruntuhan à dijebak oleh anak berbakat yang jahat à dia dijatuhi batu-batu yang bisa bergerak sendiri à ada bayangan hitam aneh mengikuti à DUAR (peristiwa ajaib yang entah apa dan bagaimana dan mengapa, karena tiba-tiba à Charlie keluar dan mendapati dirinya selamat dan 2 orang anak berbakat dari pihak jahat telah terkapar, pingsan.

Masih dalam bab yang sama, langsung diadakan pesta meriah semalam suntuk. Pembaca yang sudah tegang karena menantikan adegan perang antar anak-berbakat, tiba-tiba menjumpai bahwa semuanya baik-baik saja. (Aduh tepok jidat). Mungkin karena baru novel pertama dari seri-seri berikutnya, Midnight for Charlie Bone terkesan masih datar dan nanggung—walaupun cerita ini menyimpan potensi untuk dikembangkan dalam bentuk sekuel-sekuel. Setting, karakterisasi, dan konflik sudah terbangun; walau  eksekusinya masih kurang berani. Semoga seri kedua dan selanjutnya mampu lebih menunjukkan sisi AKSI dari Charlie dkk, ketimbang dalam buku perdana ini. Tidak ada masalah jika sihir dalam buku ini hanyalah bakat sederhana, karena satu bakat sederhanapun jika diramu melalui narasi dan pemfiksian yang ciamik pasti dapat menghasilkan novel petualangan yang seru. Saya menantikan seri kedua dari Charlie Bone, Charlie Bone and the Time Twister yang dilihat dari judulnya, seharusnya lebih seru dan lebih mampu bergerak cepat daripada novel pertamanya.

Saturday, December 24, 2011

The Necromacer (The Secret of the Immortal Nicholas Flamel)


Penulis              :  Michael Scott
Penerjemah      : M. Baihaqqi
Penyunting        : Nadya Andwiani
Korektor            : Bayu Ekawardana
Tata Letak         : MAB
Tebal                 : 491 halaman
Cetakan            : Pertama, Januari 2011
Penerbit            : Matahati



Jika ada satu buku yang happening banget selama awal tahun 2011 dan begitu ditunggu-tunggu versi Bahasa Indonesianya, maka buku itu adalah The Necromancer karya Michael Scott. Penulis asal Irlandia dengan kreativitas dan imajinasi luar biasa ini mampu meramu beragam mitologi dunia menjadi sebuah cerita akbar berlini masa ribuan tahun dengan menjadikan tokoh-tokoh besar dalam panggung sejarah sebagai aktor dan aktrisnya. Menghidupkan kembali dewa-dewi kuno, makhluk-makhluk purba dalam mitologi, serta tokoh-tokoh agung dalam sejarah yang ter-abadikan, Michael Scott dengan piawai mampu "menciptakan" perpaduan seru antara dunia fiksi fantasi dan sejarah. 

The Necromancer sendiri merupakan buku keempat dari pentalogi buku The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel yang dari sampulnya saja sudah menjanjikan petualangan fantasi seru berbalut mitologi-mitologi dunia. Benang merah ke enam buku ini digerakkan oleh 5 orang yakni John dan Sophie Newman, Nicholas Flamel (tokoh ini disebutkan juga dalam buku pertama Harry Potter sebagai seorang alkemis yang memiliki batu bertuah dan mampu membuat cairan keabadian) dan istrinya Perenelle Flammel, serta Dr. John Dee. Tiga tokoh yang terakhir benar-benar ada dalam sejarah, begitu pula tokoh-tokoh lain dalam buku ini seperti Virginia Dare, Billy the Kid, William Shakespeare, Niten (atau kita mungkin mengenalnya sebagai Musashi), Nicollo Machiavelli, Saint Germain, dan Joan the Arc. Mereka adalah kaum abadi yang dikisahkan mampu hidup selamanya berkat berkah dari Kaum Tetua (dewa-dewi dari perbagai peradaban dunia kuno). Sedangkan manusia biasa yang tidak memiliki sihir disebut ras humani.

Sebagaimana buku pertama, The Necromancer diwarnai dengan alur cerita yang “langsung ngebut” dari awal hingga akhir. Petualangan demi petualangan saling susul silih berganti, membuat pembaca tidak akan mampu melepaskan diri dari membaca buku ini. Melanjutkan kisah seru di seri ketiga, The Sorceress, Josh dan Sophie kembali ke rumah Bibi Agnes di San Fransisco—hanya untuk menemui petualangan dan bahaya baru. Sophie diculik oleh Aoife sang Bayangan dan Niten. Keadaan makin membingungkan ketika keduanya ternyata sekutu dari Nicholas dan Perenelle. Kini, enam orang tersebut harus bersatu demi menghalangi upaya Dr. John Dee yang hendak mengusai dunia dengan kekuatan gelapnya. Belum lagi, mereka juga harus menghadapi makar para Tetua Gelap yang ingin kembali mengacaukan dunia modern ini. Tepat di Pulau Alcatraz, para Tetua Gelap telah menyuruh Machiavelli dan Billy the Kid untuk melepaskan makhluk-makhluk ganas dari era purba yang selama ini mungkin kita kira hanya ada dalam kisah-kisah mitologis untuk mengacau di jalan-jalan kota San Francisco.
 
Di seberang samudra, Dr. John Dee yang licik dan manusia abadi Virginia Dare juga tengah menjalani petualangannya sendiri. Mereka berupaya berkelit dari serangan para Tetua Gelap yang kini malah ingin menangkap dan membasmi Dee. Dee bertanggung jawab karena memusnahkan seorang Tetua Gelap bernama Hekate sekaligus menghancurkan alam bayangannya—yang sekaligus juga turut menghancurkan dua alam bayangan yang lain. Kini, giliran Dee yang dikejar-kejar berbagai makhluk ganas. Dari sini, kisah yang awalnya sudah seru pun malah bertambah semakin seru ketika berbagai twist atau putaran kisah bermunculan. Banyak fakta baru bermunculan, tokoh-tokoh baru yang dulunya berkawan tiba-tiba saling bermusuhan, sementara mereka yang dulu saling bertarung malah kini saling bekerja bersama. Pertempuran antara ras humani dengan Tetua Gelap yang sekali lagi ingin mengusai Bumi semakin mendekat. Josh dan Sophie sebagai si Kembar Legendaris harus segera menyempurnakan pelatihan sihir mereka jika ingin melawan Tetua Kegelapan. Masa depan dan eksistensi ras humani berada di tangan mereka.

Resensi The Necromancer pasti akan sangat panjang jika dituliskan di sini sebab ada banyak sekali kisah seru untuk diceritakan, berbagai makhluk ajaib dan aneh untuk dipaparkan, dan pesona-pesona sejarah unik nan memukau untuk didedahkan. Lima halaman lagi mungkin diperlukan untuk menguraikan satu demi satu pesona fantasi-mitologi yang disusun oleh Michael Scott dalam novel ini. Covernya juga luar biasa indah. Banyak pembaca, termasuk saya, yang awalnya mungkin tertarik untuk membeli buku ini karena sampulnya yang begitu menawan imajinasi sebelum kemudian jatuh cinta pada isinya. Sampulnya sendiri entah-bagaimana-terasa-sangat-mitologis, ibarat sebuah kitab kuno temuan Indiana Jones di sebuah reruntuhan Maya kuno yang tiba-tiba dicetak ulang dan dijual di toko-toko buku. Buku ini sangat cocok dipajang di rak-rak buku di rumah dan di perpustakaan sebagai karya imajinasi yang luar biasa.

Bukan hanya pembaca, bahkan Josh yang bengal pun kini mulai lebih tertarik untuk mempelajari sejarah dunia, dan novel ini sungguh merupakan bacaan yang tepat untuk mengajak kembali pembaca dari kalangan humani seperti kita untuk lebih memahami dan mempelajari sejarah peradaban Bumi yang sesungguhnya sangat kaya dan menarik.

“Kurasa aku mulai lebih tertarik dengan sejarah dan dunia kuno”, jawab Josh jujur. (halaman 41). 


Begitu pula kami Josh, begitu pula kami.

Friday, December 23, 2011

The Odessa File

Judul                : The Odessa File
Penulis              : Frederick Forsyth
Penerjemah      : Ranina B.Kunto
Penyunting        : Adi Toha
Tebal                : 507 halaman
Cetakan           : 1, November 2011
Penerbit            : Serambi Ilmu Semesta


Suatu bangsa sebenarnya tidaklah jahat, hanya pribadi-pribadi, individu-individulah yang jahat…Tidak ada dosa kolektif, tidak ada dosa bersama. (hlm 52).

            Peristiwa pembantaian 6 juta bangsa Yahudi di Eropa semasa Perang Dunia II seakan menjadi salah satu peristiwa sejarah yang menghasilkan banyak cerita. Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tentang jumlah orang Yahudi yang menjadi korban, satu hal yang jelas: pembantaian terhadap etnis lain hanya demi paham chauvinisme sempit adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Adalah seorang wartawan Jerman bernama Peter Miller yang mencoba menelusuri kembali jejak sejarah kelam dari peristiwa Holocaust pada tahun 1940 hingga 1945 ini, dua puluh tahun kemudian. Berawal dari sebuah buku harian Salomon Tauber, saksi hidup dari peristiwa pembantaian 6 ribu Yahudi di kota Riga, Miller memulai upaya pencariannya yang berbahaya. Buku harian itulah yang akan mengantarkan Miller menyusuri ulang salah satu pelaku utama dalam rentetan peristiwa paling kontroversial dalam sejarah bangsa Eropa pada abad kedua puluh itu.

            Dari buku harian Tauber, dijelaskan secara mendetail bagaimana kekejaman dari pasukan SS Nazi dalam memperlakukan orang-orang Yahudi. Betapa kematian begitu biasa, betapa penyiksaan dan kekurangan makan adalah hiburan, dan betapa mengiring manusia ke ruang-ruang gas untuk kemudian dijagal secara massal sudah menjadi tugas rutin bagi para anggota divisi dari pasukan paling mematikan dan efisien milik bangsa Jerman itu. Betapa air mata dan kepiluan tak kuasa menetes membaca kisah tentang wanita dan anak-anak kecil tanpa dosa yang dibiarkan mati kelaparan atau terhimpit dalam gerbong-gerbong sempit, sebelum kemudian harus menghadapi ajal di tangan pasukan SS. Sungguh, atas nama kemanusiaan saya masih belum bisa mempercayai ada orang-orang sekejam itu, yang—walaupun dengan dalih mematuhi perintah atasan—tega melakukan hal-hal sekeji itu terhadap sesamanya.

            Kusaksikan segala kekejaman Roschmann dan kroni-kroninya tanpa mengedipkan mata. Aku telah menjadi kebal terhadap sesuatu yang bisa menyentuh jiwa  manusia dan apapun yang bisa menyentuh ragaku. (hlm 83)
            Perasaan yang sama mungkin telah memicu Miller untuk melacak sang aktor utama yang disebut oleh Tauber sebagai Jagal dari Riga, Eduard Roschmann itu. Satu demi satu, dengan penuh kesabaran dan ketelitian, ia melacak orang2 yang berkaitan dengan Roschmann yang kini telah berganti nama dan hidup dengan bebas di suatu tempat di Jerman. Intrik-intrik politik, pembicaraan rahasia, dilempar dari satu kantor ke kantor lainnya; semua itu menginsyaratkan satu hal bagi Miller, bahwa Roschmann bukanlah tokoh sembarangan. Banyak orang di Pemerintahan yang sengaja menutup-nutupi atau dengan sadar tidak mau terlibat dalam pencarian Miller.

            Namun, kegigihan Miller pun terbayar. Ia bertemu dengan agen Mosaad Israel yang juga berupa melacak jejak para jagal Jerman itu. Millerpun mendapat pelatihan singkat sehingga wartawan itu bisa masuk ke Odessa, organisasi mantan anggota SS atau Schutz-Staffel (sebuah organisasi bikinan Hitler yang memiliki kuasa besar di dalam negara Jerman). SS adalah bagian dari Nazi yang bertugas membersihkan Jerman dan Eropa dari semua unsur yang dianggap tak berharga bagi kehidupan, perbudakan abadi ras-ras rendah di tanah Slavia dan membinasakan  setiap orang Yahudi dari muka benua itu (hlm 7). Inilah yang mungkin membuat mereka mampu dengan gampang membantai ratusan ribu orang dengan seenaknya sendiri.

            Beragam aksi penyelidikan digambarkan dengan begitu mendetail dalam The Odessa File.Begitu pula pertemuan rahasia, perbincangan penting antar agen lewat telepon, hingga konspirasi-konspirasi internasional yang melibatkan banyak negara. Semua ini berpusar dan terpicu di sekitar Miller tanpa ia sendiri menyadarinya. Dan Miller memang beruntung. Penyelidikan mautnya ternyata berjalan cukup lancar sementara agen-agen dan pembunuh bayaran terus berupaya menguntit dan melacak jejaknya. Hingga akhirnya ketika ia menemukan sang jagal dari Riga, bahaya yang sesungguhnya pun baru benar-benar tampak di depannya. Akhirnya, pembaca bisa mengetahui motif apa yang melatar belakangi upaya ngotot Miller untuk mencari Roschmann, mengingat Miller bukanlah seorang Yahudi tapi murni ras Arya sebagaimana Roschmann. Rupanya di sinilah letak twist dari The Odessa File, yang membuat novel ini berputar 180 derajat dari sekadar novel konspirasi internasional menjadi novel konspirasi internasional yang asyik untuk disimak.

            Sebagaimana The Day of the Jackal, novel ini menawarkan aksi, metode, dan intrik yang tidak kalah seru. Forsyth sebagaimana biasa mampu membuai pembaca secara pelan tapi pasti untuk menyukai kisahnya. Datar di awal, tapi langsung menyergap benak pembaca ketika tiba di 20 halaman pertama. Ciri khasnya masih sama: ditulis dengan detail, kaya akan fakta dan data sejarah (walau belum bisa dipastikan keakuratannya), intrik yang dibangun dengan begitu lihai, narasi yang sekomplit berita surat kabar, serta bumbu-bumbu romantisme yang walaupun sedikit namun cukup memberikan warna. Di The Odessa File, penulis sekali lagi menunjukkan kesukaannya akan mobil, senjata, dan tetek bengek pemalsuan paspor. Bahkan, diungkap juga cara-cara memalsukan paspor. Saya hampir selalu lupa kalau novel ini ditulis pada tahun 1972 mengingat pola penulisan dan detailnya yang luar biasa mencengangkan. Benar-benar perpaduan menarik antara sejarah, fiksi suspense, dan bacaan yang menghibur. 

Sebagaimana kata kang Kholiq, melalui buku ini kita bisa memandang sejarah dalam bingkai yang berbeda. Bukan hanya dari satu sisi namun juga dari beragam sisi yang membuat pembacaan dan pemaknaan kita akan sejarah menjadi lebih utuh. Empat bintang untuk novel ini. 

Monday, December 19, 2011

The Kane Chronicles, The Red Pyramid

Judul                : The Kane Chronicles, The Red Pyramid
Pengarang        : Rick Riordan
Penerjemah      : Aditya Hadi Pratama
Penyunting        : Tendy Yulianes Susanto (SIlvero Shan)
Penyelaras  ak.: Ananta A
Desain isi          : elCreative
Cetakan           : 1, September 2011
Tebal                : 518 halaman
Penerbit            : Mizan Publika



        

           Rick Riordan dan dewa-dewinya kembali beraksi. Kali ini, penulis yang jago meramu adegan pertempuran seru ini menggunakan dewa-dewi dari negeri piramida ini untuk meracik sebuah saga pertempuran yang panjang, tebal, dan sangat “Mesir”. Sangat jarang lho seorang penulis terkenal dari Barat menggunakan mitologi dari dunia selain  dari ranah Eropa dan Amerika, dan Riordan adalah salah satunya.  Dan, Riordan terbukti tetap piawai dalam  menuliskan saga ini dengan hebat dan asli. Tidak jauh berbeda dengan seri Percy Jackson yang hebohh itu, The Red Pyramid menawarkan perjalanan serta petualangan fantastis bersenjatakan jimat, mantera, dan kilauan huruf hieroglyph; begitu sarat dengan ledakan dan lemparan kekuatan. Adegan pertempuran magis yang disajikan dalamRed Pyramid benar-benar panjang, banyak, dan sangat memuaskan pembaca pecinta fantasi.

            Red Pyramid berkisah tentang Carter dan Saddie, anak-anak dari seorang ahli perbakala Mesir yang sangat terkenal. (Pembaca mungkin ingat, nama Carter berasal dari Howart Carter, orang pertama yang membuka sarkofagus  Raja Tuthakhamun yang terkenal itu). Dan Carter yang ini diceritakan mewarisi kulit ayahnya yang “tidak berkulit putih” , dia lebih mirip orang Mesir sementara adiknya, Saddie, secara fisik ikut ibunya yang ras kulit putih. Ketika suatu malam keduanya diajak mengunjungi British Museum, sebuah kecelakaan arkeologis terjadi. Entah bagaimana, ayah mereka telah meledakkan Batu Rosetta nan legendaris  (batu yang memungkinkan orang modern bisa membaca huruf hieroglyph) yang sekaligus turut membebaskan 5 dewa utama Mesir kuno: Set (Dewa Kejahatan), Osiris (Raja para dewa), Isis (Istri Osiris), Horus (Dewa Ilmu Pengetahuan), dan Nephthys (Istri Set).

Masak Carter begini hehehe


            Dari sini, cerita mulai berjalan seru. Set bangkit dan berencana meneror dunia, membawa kekacauan ke Bumi di masa modern. Osiris masuk ke dalam tubuh ayah Carter, dan langsung dikurung dalam sarkofagus emas oleh Set. Lebih genting dari itu, Horus dan Isis masing-masing masuk ke tubuh Carter dan Saddie sebagai tubuh perantaranya. Ini benar-benar pertempuran antar-Dewa Mesir kuno. Setelah itu, semua peristiwa tak masuk akal mulai datang susul-menyusul, mulai dari kedua kakak beradik yang diajak menaiki kapal yang mampu menyeberang Samudra Atlantik dalam satu jam, bertemu seekor babun cerdas benama Khufu, buaya raksasa di kolam renang, hingga bertarung berdampingan dengan dewi kucing, Bast yang jago berkelahi sekaligus lucu.

              Keunggulan Riordan dalam meramu mitologi dengan unsur-unsur dunia modern kembali dibuktikan lewat The Red Pyramid. Artefak-artefak Mesir kuno yang dibangun ulang di dunia modern secara cerdas diaplikasikan sebagai gerbang untuk berpindah tempat. Mulai dari piramida kaca di Museum Louvre, Paris, Cleopatra’s Needle di London, hingga Monumen Washington yang menyerupai obelisk; bangunan-bangunan tersebut mewarnai petualangan Carter dan Saddie. Mereka berdua juga harus menghadapi pasukan laba-laba, buaya raksasa yang lain, serta bertemu aneka dewa-dewi nyentrik Mesir kuno yang selama ini ternyata masih bertahan dan tersembunyi di balik gegap gempita kehidupan modern. Semua petualangan seolah saling berbaris, susul-menyusul menyergap kedua kakak beradik ini. Selain untuk menyelamatkan ayahnya, mereka juga mengemban tanggung jawab untuk menyelamatkan dunia dari kegilaan seorang dewa (eh?) bernama Set.

Saddie keren yak

          Ending The Red Pyramid  tidak mungkin digarap lebih bagus dan lebih memuaskan lagi. Pertarungan yang terjadi, aksi sihir yang saling dilontarkan, serta aneka keseruan perang antar-dewa kuno bisa ditemukan dalam novel ini. Pokoknya para penggemar Rick Riordan tidak akan menyesal membaca buku ini. Rasa Mesirnya sangat komplet, perpaduannya dengan dunia modern sungguh menawan, dan aksi pertempurannya juga luar biasa seru untuk terus diikuti. Model penceritaan yang mengambil sudut pandang orang pertama juga membuat kita mampu melihat apa yang dipikirkan Saddie dan Carter (dan juga menyaksikan perseteruan mereka dengan dewa-dewi kuno yang terperangkap dalam tubuhnya). Celotehan Saddie yang ceplas-ceplos serta Carter yang cenderung formal dan kaku, menjadikan pembacaan bab-bab The Red Pyramid terasa begitu menyenangkan. Mirip seperti membaca diari dua orang kakak beradik yang sedang puber tetapi sudah mengamban tugas untuk melawan dewa-dewi Mesir kuno.

               Lalu, bagaimana nasib ayah mereka? Apa rencana Set yang hendak membawa kekacauan kembali ke Bumi modern? Apa pula maksud dari Piramida Merah yang menjadi judul seri ini? Siapa pula Dewan Kehidupan yang konon dulu benar-benar pernah ada di Mesir kuno? Sedikit demi sedikit, petualangan kedua kakak beradik ini akan mengungkap berbagai fakta baru tentang masa lalu ayah dan ibu mereka. Siapa mereka sebenarnya, mengapa mereka cocok menjadi wadah wujud bagi para dewa-dewi Mesir kuno, serta bagaimana Saddie yang bocor habis itu bisa jatuh cinta kepada dewa Mesir kuno Anubis? Semuanya akan dijawab sendiri oleh Riordan melalui The Red Pyramid. Jika Anda penasaran bagaimana dunia dewa-dewi Mesir yang begitu kuno itu dapat dibangkitkan kembali oleh Riordan, cobalah membaca buku tebal namun cepat rampung dibaca ini. Sungguh, novel ini adalah sebuah karya fantasi legendaris yang sangat rugi jika tidak dibaca.  





Dewa-Dewi yang lain, ngakak liat Bes

Love Bites

           

          Tahukah Anda (atau jangan-jangan hanya saya saja yang belum tahu!) kalau karakter Bella di dasarkan pada kisahItik Buruk Rupa  atau The Ugly Ducking? Itulah sebabnya mengapa  Bella bernama lengkap Bella Swan. Tahukah Anda kalau naskah Twilight sudah ditolak 8 kali oleh penerbit? Tahukah Anda bahwa Stephenie Meyer hanya mengharapkan naskah ini terjual seharga US $ 10.000  agar dia bisa melunasi cicilan minivannya (yang ternyata naskah Twilight dibeli seharga US $ 750.000 karena bantuan agennya). Banyak hal yang melatarbelakangi karya hebat ini yang dapat Anda temukan dalam Love Bites. Awas digigit cinta!  


          Siapapun yang mengaku mencintai Twilight Saga dan juga filmnya, sebaiknya memiliki buku kecil ini untuk melengkapi pembacaannya. Ditulis oleh Liv Spencer yang juga menulis buku tentang sejumlah tokoh publik terkenal lain seperti Taylor Swift, buku ini cukup mumpuni untuk boleh mengaku sebagai panduan  “tak resmi” bagi penggemar film Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Down.  Love Bites menyuguhkan sebuah rasa majalah mengenai serial vampire yang pernah dan masih mempesona jutaan pembaca karya Stepenie Meyer di seluruh dunia.

            Eclipse (dan tiga novel Twilight lainnya) merayakan “cinta yang sukar dipahami yang melampaui batasan kekuasaan, keduniawian, dan bahkan kematian.” (Hlm. 287).

            Dilengkapi dengan aneka foto (layaknya sebuah majalah film), Love Bites menawarkan segala sesuatu yang menarik yang bisa ditawarkan oleh sebuah buku dan film yang sama-sama laris. Buku ini merangkum seluruh wawancara dan pengamatan Liv Spencer terhadap penulis Twilight, para pemain utama dan pendukung, hingga orang-orang di balik layar serta tempat-tempat yang digunakan untuk syuting film ini. Bagian yang paling menarik, yang sayangnya mendapat porsi yang sangat sedikit, adalah bagian di mana Spencer menuliskan kembali bagaimana pandangan Stephenie Meyer terhadap karyanya itu.  Betapa Meyer sempat tidak PD ketika menuliskan dan mengirimkan Twilight, betapa rajin dia menulis sehingga saga setebal itu rampung hanya dalam waktu 6 bulan, hingga novel-novel klasik apa yang mempengaruhi Meyer untuk menulis saga ini.

Co cuit


            Sebagaimana karya-karya besar yang juga terinspirasi oleh karya-karya besar lain, Meyer mengakui kalau Twilight terinspirasi oleh novel Pride and Prejudice (1813) karya Jane Austen, New Moon adalah inspirasi dari Romeo and Juliet Eclipse dari adaptasi Wuthering Heights , sementaraBreaking Dawn sangat memancarkan pengaruh karya-karya Shakespeare, yakni Mid Summer Night Dreams dan The Merchant of Venice. Dari sini, pembaca bisa maklum mengapa Meyer memutuskan untuk membuat akhir yang bahagia dari rangkaian saga ini.

            Porsi yang diceritakan dalam jumlah yang lebih besar adalah semacam biografi sangat singkat dari para pemeran film Twilight. Walaupun agak boros, namun dari bagian ini kita bisa belajar banyak tentang betapa beratnya proses untuk bisa menjadi dan selama menjadi bintang film yang sukses. Dalam Love Bites, Spencer menceritakan bagaimana Robert Pattison dan Kristen Stewart (yang kedua-duanya sama-sama ngotot bahwa peran Edward Cullen dan Bella Swan seperti sudah ditakdirkan menjadi miliki mereka) berupaya sangat keras agar mendapatkan peran itu. Para kru film sendiri sampai merasa keduanya terlalu “menghayati” perannya. Begitu pula perjuangan Taylor Lautner yang  setelah lolos audisi pun harus rela makan protein setiap dua jam dan berlatih 2 – 5 jam di pusat kebugaran demi membentuk tubuh manusia serigalanya itu. Dan, semua upaya pasti ada imbalannya. Pattison, Stewart, dan Lautner mampu membuktikan bahwa mereka adalah idola baru yang dielu-elukan pengemarnya.


            Love Bites juga mengangkat sisi-sisi lain yang mungkin selama ini tersamarkan oleh kisah segitiga antara Bella, Edward, dan Jacob; yakni para pemeran pendukung lain yang juga memiliki atas kepopuleran kisah ini. Siapa saja yang menjadi pemeran kawanan serigala, keluarga Edward, kaum Volturi, hingga penduduk Forks, juga alasan mengapa vampirnya Meyer ini—alih-alih terbakar—malah hanya berkilauan ketika terkena sinar matahari.

            Walaupun lebih terpaku ke film ketimbang novelnya, Love Bites akan mengajak para penggemar saga Twilight untuk merayakan saga cinta antara vampire dan manusia ini, di samping menunjukkan beberapa hal dibalik layar yang selama ini mungkin belum tersentuh. Sebagai bonus, ada foto berwarna dari Edward, Bella, serta Jacob yang mengintip di halaman belakang buku ini. Cocok untuk dikoleksi hahaha.

Satu hal yang jelas, saya bukan penggemar saga Twilight dan belum pernah membaca satu pun buku karya Meyer. Namun, sejak menemukan Love Bites terhidang indah oleh penerbit Atria, saya memutuskan untuk mulai mencoba Twilight yang sudah 2 minggu menumpuk di tumpukan. Saya rasa, saya akan menyukai Twilight sebagaimana novel-novel fantasi lainnya. 


Judul                : Love Bites, The Twilight Saga’s Companion
Penulis              : Liv Spencer
Penerjemah      : Nengah Krisnarini
Penyunting        : Dian Pranasari
Pemeriksa aks  : Adi Toha
Tebal                : 359 halaman
Cetakan           : 1, November 2011
Penerbit            : Atria

Thursday, December 15, 2011

Last Tango in Paris

Judul                      : Last Tango in Paris
Penulis                  : Robert Alley
Penerjemah         : Rama Romindo Utomo
Penyunting            : M.Sidik Nugraha dan Anton Kurnia
Cetakan                 : 1, Januari 2011
Penerbit                 : Serambi Ilmu Semesta



         Sungguh, saya juga bingung apa hikmah atau makna yang hendak disampaikan penulis melalui novel kontroversial ini. Sebagaimana pendapat para resensor sebelumnya yang juga rata-rata kebingungan mencari tahu maksud dibalik dituliskannya novel yang alurnya lebih mirip alur drama ini. Satu hal yang disepakati oleh banyak pembaca, buku ini mengandung—atau mungkin mengumbar—aneka adegan ranjang antara pria dan wanita yang tidak terikat oleh ikatan pernikahan. Disetting dengan latar belakang kota Paris tahun 1960-an atau 1970-an, The Last Tango in Paris seperti hendak menunjukkan bagaimana kehidupan dan prinsip kebebasan hidup yang terlalu over di benua Eropa dan Amerika Serikat pada kurun masa itu. Sebagaimana kita ketahui, masa-masa 60-an dan 70-an adalah masanya para hippies yang berorientasi untuk mencari dan menikmati kebebasan, yakni kebebasan yang sebebas-bebasnya, termasuk dalam urusan seks.

        Paul, seorang lelaki paruh baya dari Amerika Serikat secara tidak sengaja berjumpa dengan Jeanne, seorang gadis Perancis yang masih muda dan (sok) polos. Keduanya tidak saling mengenal identitas masing-masing—dan masih tidak saling mengetahui identitas dan alamat masing-masing hingga di bagian akhir buku ini. Justru ketiadaan identitas inilah yang ternyata mampu menyulut api gairah di antara keduanya. Tanpa nama, tanpa identitas, tanpa latar belakang keluarga atau status; ketiadaan itu malah memunculkan sebuah ranah bebas di mana keduanya bisa saling menyalurkan hasrat badani mereka secara leluasa, secara bebas. Mungkin, ketiadaan identitas itu juga yang membuat keduanya bisa melepaskan diri dari pakaian mereka. Untuk telanjang dari segala pernak-pernik status sosial dan ekonomi, telanjang dari gosip dan bisik-bisik dunia, telanjang yang benar-benar telanjang--termasuk telanjang secara fisik dibuka semuah...hiyahhhh.

        Paul yang tertekan, karena istrinya yang nekat bunuh diri tanpa alasan yang jelas, bertemu dengan Jeanne yang masih muda dan haus akan petualangan serta sensasi baru. Sebagai seorang pria yang kesepian, Paul menemukan surga lelaki pada tubuh Jeanne nan sintal.  Sebagai seorang gadis yang pacarnya kurang romantis, Jeanne menemukan sosok lelaki maskulin yang bisa memuaskan hasrat badaninya pada diri Paul. Dan, dalam sebuah apartemen sewaan rahasia, keduanya bergelut penuh nafsu dan saling memuaskan hasrat seksual mereka dengan mengabaikan segala bentuk institusi di luar sana. Dari sini, tampak bahwa penulis sepertinya ingin sekali menunjukkan pendobrakan atas nilai-nilai pernikahan dan sosial kemasyarakatan yang dirasa mengekang kebebasan manusia. Jika dipandang dengan kaca mata Timur, hal ini mungkin terkesan terlalu vulgar dan kebablasan. Namun, jika ditenggok latar belakang novel ini yang ditulis pada era tahun 1970-an, pembaca mungkin bisa sedikit memaklumi karena masa-masa tersebut tema kebebasan tengah dijunjung tinggi di generasi muda Eropa.

         Walaupun tidak sevulgar penggambaran adegan ranjang seperti yang digunakan dalam novel-novel romance seri HR yang banyak bermunculan dewasa ini, ketiadaan hubungan yang jelas antara kedua tokoh utama inilah yang cukup membuat novel ini beitu kontroversi. Tidak ada ikatan kekasih, apalagi suami istri, hanya sekadar pelampiasan suka sama suka di atas ranjang. Dalam beberapa halaman novel ini, digambarkan pula beberapa contoh hubungan seksual yang agak kebablasan, termasuk—maaf—lewat jalur belakang. Masih dengan unsur bingung namun penasaran, pembaca akan digiring untuk lebih mendalami karakterisasi dari Paul dan Jeanne: apa yang membuat mereka berperilaku demikian, bagaimana identitas masing-masing, dan bagaimana keadaan psikologis keduanya. Menurut saya, seks yang agak bertebaran dalam novel ini hanyalah penguat, hal yang hendak ditonjolkan mungkin sisi kedalaman psikologis dari kedua tokoh tersebut, terutama dengan latar kota Paris dan euphoria kebebasan tanpa batas yang tengah digambar-gemborkan kala itu.

                Ditulis dengan gaya memikat khas novel klasik yang kaya akan deskripsi tempat serta pemgembangan unsur psikologis yang mendalam, Last tango in Paris menawarkan sebuah episode singkat dari suatu era melalui kehidupan Paul dan Jeanne. Kita bisa mengetahui apa dan bagaimana paham kebebasan yang dianut masyarakat Eropa kala itu. Dari bagian akhir cerita, paling tidak penulis bisa menyisipkan sedikit kebijaksanaan atau imbauan tentang nilai-nilai yang seharusnya tetap dijaga dan tidak diacak-acak. Mungkin, versi film dari buku ini akan lebih mampu memukau imaji karena novel ini benar-benar membutuhkan tambahan visualisasi nyata untuk lebih mempertegas deskripsinya (hahaha). Karena versi film dari novel ini masuk dalam jajaran 100 film terpopuler sepanjang masa, mungkin pembaca bisa melengkapi pembacaan novel kontroversial ini dengan menonton filmnya. 

Monday, December 12, 2011

Dunsa, Petualangan di Prutopian


 Judul                : Dunsa
Pengarang        : Vinca Calista
Penyunting        : Jia Effendie
Penyelaras        : Ida Wajdi dan Fenty Nadia
Pewajah Isi       : Aniza Pujiati
Cetakan           : 1, November 2011
Tebal                : 453 halaman
Penerbit            : Atria


            Perkenalkan, 4 negeri besar Prutopian: Naraniscala, Fatacetta, Cuacindaga, dan Delmorania. Inilah dunia baru dalam ranah fiksi-fantasi Indonesia yang akhirnya menambah kaya lagi daftar prosa fantasi di negeri ini. Dilengkapi dengan peta, penamaan yang konsisten dan tidak asal comot, serta alur sejarah historis (yang dibuktikan dengan adanya silsilah kerajaan Naraniscala) membuktikan bahwa Dunsa tidaklah “jadi dalam semalam”. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra yang luar biasa untuk bisa menyusun sebuah cerita epik nan panjang dan cukup lengkap seperti ini.

            Dunsa adalah Megorgo dan Merphilia Dunsa, ibu-anak yang takdirnya digariskan untuk mewarnai sejarah peradaban dunia Prutopian. Dikisahkan bahwa Megorgo yang hanyalah wanita biasa mencintai putra mahkota dari negeri Naraniscala, Pangeran Claresta. Akibat perbedaan kasta, keduanya dipisahkan dan dipaksa untuk mengambil jalan yang berbeda. Megorgo lalu berubah menjadi pendendam, ia memutuskan untuk belajar sihir dari kaum Zauberei dan mendirikan sebuah keratuan hitam di Kepulauan Borealis yang terpencil. Saking bencinya ia kepada Naraniscala, Megorgo yang telah berubah menjadi jahat dan berganti nama menjadi Ratu Veruna atau Ratu Merah kemudian menebar teror ke seluruh penjuru Prutopian. Tidak terhitung besarnya korban dan kerusakan yang ditumbulkan, seblum akhirnya Ratu Veruna ini dikalahkan oleh Ratu Alanisador yang kemudian menjadi penguasa Naraniscala.

            Kisah itu terjadi belasan tahun yang lampau. Masa ketika Ratu Merah dikalahkan telah belasan tahun berlalu ketika Merphilia Dunsa beranjak dewawa. Ia yang tadinya hanya gadis desa yang gemar bertarung, tiba-tiba dikejutkan oleh kunjungan para Zauberei. Mereka mengatakan bahwa Ratu Merah telah dibangkitkan kembali dan sekali lagi mengancam kedamaian Prutopian. Bersama Bibinya Bruzila, keduanya diboyong ke istana hanya untuk menemui fakta baru, Merphilia adalah putri dari Ratu Veruna, Putri Cleorida. Para zauberei juga menyatakan bahwa Merphilia adalah sang gadis petarung yang diramalkan sebagai satu-satunya yang bisa membunuh Ratu Veruna yang telah bangkit kembali.

            Dengan bantuan balatentara kerajaan Sena Naraniscala, Merphilia berangkat menuju kerajaan Delmorania yang paling terancam oleh kebangkitan Ratu Veruna. Peta yang ada di depan terbukti sangat memudahkan pembaca untuk mengetahui di mana letak-letak negeri dan kota yang disebutkan dalam buku ini. Dari sinilah petualangan Merphilia sang gadis petarung berlanjut. Aneka petualangan siap menanti, bermacam makhluk legendaris yang selama ini hanya ada dalam buku tiba-tiba mewujud nyata dan benar-benar harus dihadapi Merphilia. Kisah ini diselipi juga dengan bumbu-bumbu romantisme antara Merphilia dengan pangeran Skandar sehingga porsinya pas antara sebuah novel petualangan, fantasi, sekaligus novel remaja. Dengan gaya seperti ini, Dunsa cocok dibaca oleh siapa saja.

Dalam lembar-lembar Dunsa, petualangan datang susul menyusul. Mulai dari upaya mereka melawan binatang ganas di lautan, berkunjung ke reruntuhan kota dan kuil kuno yang masih menyimpan monster dari masa lampau, serta perang besar yang akan menjadi klimaks dari cerita ini; semuanya memberikan jalinan petualangan paling seru yang bisa ditawarkan oleh tulisan dan kertas. Bagian awal memang harus agak bersabar, namun semakin ke tengah, jalan ceritanya akan mulai terbentuk sebelum akhirnya pembaca kesulitan untuk lepas dari cengkeraman petualangan Merphilia Dunsa. Pun begitu, bab-bab awal ditulis juga ditulis dengan kecemerlangan ide dan kesederhanaan cerita, sehingga tetap enak untuk diikuti.

            Hal lain yang menarik dari Dunsa adalah aroma Nusantaranya yang lebih terasa ketimbang buku-buku fikfan lain karya anak bangsa—yang rata-rata masih terlalu mengorbit pada fantasi barat. Penulis mampu menyisipkan rasa lokal dalam penamaan ruang-ruang di istana Naraniscala (Aula Pustaka), nama-nama geografis (Tirai Banir, Gua Gersang, Hutan Rintik, dan Laut bayang Air), bahkan masih menggunakan lema Danyang (roh halus penghuni sungai/danau yang juga dikenal dalam mitologi Jawa). Walaupun masih ditemukan penamaan tokoh-tokoh yang terlalu banyak berbau konsonan “v”, “f”, dan “z” seperti cerita2 fantasi dari Barat, namun nama-nama tokoh dan tempat dalam Dunsa sudah jauh lebih ramah dan relatif mudah diingat untuk sebuah naskah karya penulis lokal. Salut untuk menulis. Semoga, ada lebih banyak lagi fiksi fantasi hasil karya anak bangsa yang tidak ragu lagi menggunakan penamaan ala Indonesia alih-alih terlalu membiduk ke ranah fantasi Barat.

            Lalu, serukah petualangan dalam Dunsa? Kalau Anda pecinta cerita fantasi yang model pertempuran antara baik dan jahat, maka buku ini cocok untuk Anda. Bila kamu adalah pembaca remaja yang ingin membaca kisah petualangan sekaligus kisah cinta masa remaja, Dunsa juga cocok untuk kamu. Sementara, bagi pembaca umum yang haus akan fiksi fantasi bermutu karya anak negeri, maka Dunsa wajib dikoleksi. Tidak rugi mengoleksi buku ini, mengingat penulis mampu menulis dan menyusun Dunsa dan dunia Prutopian dengan lengkap dan tidak nanggung. Terlepas dari beberapa pertanyaan yang agak menganjal di sela-sela cerita (seperti modus penyerangan oleh Ratu Veruna yang sepertinya terlalu gegabah serta kisah cinta antara Merphilia dan Skandar yang porsi penceritaannya kadang terlalu over  di beberapa bagian), saya memberikan 4 bintang untuk Dunsa.

Atas jerih payah sang penulis dalam mengisahkan dunia Prutopian secara lengkap (dengan riwayat dan peta geografisnya) dan bahwa belum banyak penulis lokal yang menerbitkan buku fiksi seperti ini, dua jempol patut diacungkan pada sang penulis. Dunsa telah menambah satu lagi jajaran fikfan karya anak negeri. Membacanya, Anda akan terbawa kembali pada romantisme membaca Lord of the Ring, The Chronicles of Narnia, dan Harry Potter; agaknya Dunsa ini memang terinspirasi dari tiga master fantasi dunia ini. Namun demikian, Dunsa masih mempertahankan unsur penulisnya yang khas. Mantra-mantra kuno yang ia temukan, aneka makhluk gaib legendaris yang ia jabarkan, serta salam-salam khas penyihir yang ia susun (pastinya dengan kerja keras dan kesungguhan) adalah salah satu yang menjadikan Dunsa layak untuk dibaca dan dikoleksi. Sungguh senang saya diberi kesempatan untuk membaca karya unik ini.

            Jelajahi dunia Prutopian, karena ada banyak makhluk magis dan petualangan seru menantimu di sana! 


Lelaki Terindah

Judul     : Lelaki Terindah
Penulis   : Andrei Laksana  

Aku mencintaimu karena aku mencintaimu.


Kalimat itulah yang mungkin menjadi inti sekaligus pendorong dari keseluruhan novel yang mengambil tema yang agak menyimpang ini. Dari judul dan cover lamanya saja, pembaca bisa langsung menebak novel ini tentang apa. Cover edisi lama memang agak provokatif, terlalu gamblang menjelaskan apa isi dari novel ini, yang mungkin malah mengurangi atau membatasi stratum pembeli dari novel yang seharusnya cukup bagus ini.  Untuk menilai atau meresensi novel dengan tema yang agak kontroversial ini memang gampang-gampang susah. Gampang karena bila dipandang dari segi sastra dan kedalaman kata, Lelaki Terindah jauh lebih indah ketimbang karya-karya Andrei Aksasa yang lain seperti Janda-Janda Kosmopolitan yang banyak dibilang orang terlalu stereotopikal itu. Susah karena tema yang diangkat pun, yakni tentang percintaan sesama kaum gay, adalah tema yang cukup menyimpang untuk diangkat dalam sebuah novel di Indonesia—yang notabene belum mampu menerima adanya cinta terlarang ini.

      Agaknya, melalui novel ini penulis ingin menekankan luasnya makna cinta yang selayaknya bisa dinikmati oleh setiap orang. Begitu luasnya cinta sehingga bahkan cinta pun bisa timbul dan memercik di antara dua orang yang memiliki jenis kelamin yang sama. Dari sini saja, mungkin banyak pembaca yang langsung antipati terhadap novel ini. Covernya yang terlalu mencolok rupanya semakin menambah rasa risih pada pembaca pria yang mungkin menemukannya di rak-rak toko buku. Entah jika bukan bertindak sebagai seorang pengamat sastra ataukah memang dia begitu rupa menyukai karya-karya Andrei laksana; pastilah hanya para pembaca wanita saja yang dengan PD berani membaca novel ini ke kasir di toko buku.

      Mari kita sejenak memandang novel Lelaki Terindah bukan sebagai sebuah novel yang kontroversial, namun sebagai sebuah karya sastra yang ditujukan untuk memuja cinta. Hanya saja, pemujaan terhadap cinta di sini diwujudkan dalam bentuk cinta terlarang. Sekali lagi, ini bukan untuk menunjukkan sempitnya cinta, tapi lebih untuk menunjukkan luasnya cinta sehingga seorang Rafki bisa mencintai Valent hanya karena mereka saling mencintai, bukan karena apa-apa.  Adegan dibuka dengan pertemuan tanpa sengaja yang diikuti oleh berulang kali pertemuan lanjutan lain yang juga tanpa disengaja. Seperti kisah-kisah cinta yang lain, karena biasa akhirnya muncul benih-benih suka. Rafki yang ternyata berpapasan dan entah kenapa terus berpapasan dengan Valent dalam perjalanan wisata mereka ke Thailand seolah memang dari awal dipertautkan melalui cinta nan terlarang itu.

     Rafki digambarkan sebagai sosok yang luar biasa maskulinnya, penggambarannya begitu rupa mendekati seorang pria yang ideal sehingga hampir-hampir tiada yang bercela dari fisiknya. Sementara, Valent digambarkan sebagai perpaduan antara ketampanan seorang pria dan kecantikan seorang wanita. Ia adalah tampan yang cantik, entah bagaimana maksudnya tetapi yang jelas Valent menemukan sosok seorang pelindung dalam diri Rafki sementara Rafki memperoleh sosok seorang pemuja dalam diri Valent. Keduanya sama-sama membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Kisah bergulir, cinta terlarang timbul dan segera bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya.  Hubungan terlarang itupun mulai mendapatkan hantaman dan cobaan yang bertubi-tubi. Dunia seperti langsung merespons balik dengan menanamkan tembok dinding tebal yang menghimpit cinta keduanya.

     Cinta Rafki dan Valent, seerat dan sekuat apapun itu, tetap tidak mampu mengatasi tekanan dan aneka norma dari masyarakat serta hukum alam yang dengan terang-terangan menghujat cinta di antara mereka. Sekuat tenaga keduanya berjuang dan berupaya, cinta mereka selalu menemukan jurang ataupun dinding tebal. Atas nama cinta yang dalam berbagai cerita biasanya mampu meluluhkan dunia, rupanya tidak berhasil untuk kasus cinta terlarang ini. Akhirnya, ujung dari Lelaki Terindah dengan sangat terpaksa diakhiri sebagaimana kisah abadi Romeo dan Juliet, di mana akhirnya cinta terlarang seperti itu tidak boleh dipersatukan—dan memang seharusnya (serta sebaiknya) dihindarkan. Risiko yang ditanggung terlampau berat, hukuman yang menanti terlampau pekat, dan jalan yang membentang di depannya terlalu gelap.

      Salah satu hambatan dalam membaca karya sastra ini adalah penggambaran detail fisik pria yang entah bagaimana terlampau berlebihan sehingga kadang pembaca merasa agak jengah dan risih, apalagi para pembaca pria. Keindahan novel ini menurut saya lebih terletak pada metode penyisipan bait-bait puisi yang disisipkan secara apik oleh penulis dalam masing-masing paragraf. Entah bagaimana, kalimat dan kata-kata yang digunakan begitu pilihan sehingga kadang malah melengkapi paragraf-paragraf narasinya 
sendiri.
           
      Bagi Anda yang ingin membaca Lelaki Terindah namun masih risih dengan kovernya, kini penerbit Gramedia sudah mengeluarkan kover baru yang “lebih sopan” dan lebih bisa diterima. Sekali lagi, untuk membaca novel ini secara netral memang agak susah, mengingat tuduhan menyimpang pasti telah mengendap dalam benak pembaca begitu mengetahui bahwa buku ini menceritakan tentang cinta yang terlarang. Namun, dengan membaca dan menganggapnya sebagai sebuah karya sastra, pembaca akan menemukan pandangan baru tentang makna cinta, tentang arti kejujuran, dan bahwa yang kita sukai belum tentu baik untuk kita.