Search This Blog

Friday, December 30, 2011

Midnight for Charlie Bone

Judul            : Midnight for Charlie Bone
Pengarang    : Jenny Nimmo
Penerjemah  : Iryani Syahrir
Penyunting   : Siti Aenah
Sampul             : Scott Altmann
Tebal                : 409 halaman
Cetakan            : 1, November 2010
Penerbit            : Ufuk Press



            Perkenalkan, Charlie Bone, seorang anak usia 10 tahun yang tinggal bersama Ibu, paman, dan nenek-neneknya yang sangat nyentrik. Dalam pandangan Charlie, ia adalah sepotong bukti dari dunia yang normal dalam rumah mereka yang dihuni oleh orang-orang berperangai aneh. Mulai dari Paman Patton yang tidak pernah keluar rumah di siang hari, nenek Bone yang selalu mengawasi, serta tiga nenek dari keluarga Yewbeam—dari pihak ayahnya—yang benar-benar mirip nenek sihir dalam cerita. Semuanya berjalan dengan biasa-biasa saja sebelum akhirnya Charlie mulai mendengar suara-suara dari setiap foto yang ia pandangi. Yups, Charlie adalah salah satu dari sedikit orang yang diberkahi.  Melihat kemunculan bakatnya ini, ketiga nenek Yewbeam malah bergembira dan memaksa Charlie untuk pindah ke sekolah bergengsi khusus untuk anak-anak berbakat, Bloor’s Academy.

             Di sekolah barunya, Charlie mendapat teman-teman baru, mulai dari Fidelio yang jago musik tapi bukan siswa terbekati, hingga Billy yang mampu berbicara dengan hewan. Kejadian semakin aneh ketika Charlie bertemu dengan seorang wanita yang tengah mencari foto dari keponakannya yang hilang, dan ternyata keponakannya itu juga bersekolah di Bloor’s Academy dan masih sepantaran usianya dengan Charlie. Dari wanita itu, Charlie mendapat kotak misterius yang katanya bisa menyadarkan kembali si gadis misterius yang konon diculik itu. Bersama dengan teman dekatnya Benjamin serta Fidelio, dan juga teman-teman barunya, Charlie berjibaku melawan komplotan gelap yang ternyata melibatkan pihak keluarga Yewbeam. Ketiga neneknya ternyata memiliki andil dalam konspirasi dan penculikan ini.Begitu pula paman Patton yang ternyata juga diberkati dengan kekuatan khusus.

            Sekolah, bakat ajaib, anak usia 10 tahun, nenek yang misterius; semua itu pasti mengingatkan pembaca pada salah satu tonggak fantasi modern, Harry Potter. Yups, bisa dibilang novel ini mengambil sedikit aura Harry Potterian untuk memulai kisahnya, walaupun semakin ke belakang semakin jelas bahwa penulis ingin mengambil jarak dari Harry Potter—untuk lebih memantapkan karakter Charlie sendiri. Berbeda dengan Harry Potter yang memiliki tongkat dan sihir, Charlie hanya memiliki bakat mendengarkan orang-orang dalam foto. Dengan melihat foto, ia bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang yang ada dalam foto tersebut saat foto itu diambil. Dari sinilah Charlie bisa menelusuri jejak dari penculikan gadis misterius yang diculik saat masih bayi. Ok, dari sini semakin jelas bahwa Charlie Bone bukan Harry Potter. Sayangnya, sihir novel ini hanya sampai di situ saja. Satu orang satu bakat, dengan jalur cerita yang sangat meminimalisir dan mengurangi potensi aksi dan perang sihir yang bisa ditawarkan oleh sebuah novel fantasi.

            Cover dari Midnight for Charlie Bone, saya akui, luar biasa indah. Benar-benar seperti lukisan yang dicetak dalam bentuk foto digital, lalu dialihrupakan lagi menjadi sebuah lukisan dalam sampul. Efek gelap dan lampu-lampu serta background malam hari benar-benar mampu merangsang pembaca untuk turut dalam perjalanan Charlie di malam hari menyusuri kota London (atau sebuah kota di Inggris). Konflik yang berupaya dibangun pun seru, simpel tapi seru. Awalnya mungkin agak lambat di mana pembaca musti menerka-nerka apakah ketiga nenek dari Yewbeam itu penyihir baik yang pura-pura jahat. Setelah ketahuan bahwa ketiganya memiliki maksud jahat, maka tahap hitam-putih pun mulai jelas, dan alih-alih kecewa, saya malah senang karena bisa memutuskan “bagaimana memperlakukan buku ini”. Yah, seperti misalnya: oke jadi Charlie dkk plus ibunya plus paman Patton versus Tiga Nenek dari keluarga Bone. Oke, meluncur.

            Perseteruan yang muncul menambah seru cerita. Nenek Yewbeam mengawasi dan menjebak Charlie dan teman-temannya sementara Patton juga tidak tinggal diam. Sedikit demi sedikit pembaca diajak untuk menaiki tangga-tangga ketegangan menuju “perang besar” yang diharapkan ada di ujung cerita—yang sayangnya perang besar itu tidak ada. Seperti menaiki anak tangga satu demi satu, lalu pembaca dijorokin ke bawah, begitulah rasanya. Ketika Charlie terancam bahaya, dan tiga anak diberkahi dari pihak Yewbeam berusaha menghabisi Charlie menggunakan kekuatan telekinetis dan perubahan wujud pada bab Perang antara Mereka yang Diberkahi, Charlie tiba-tiba menjumpai dirinya selamat. Alurnya begini:

            Charlie masuk reruntuhan à dijebak oleh anak berbakat yang jahat à dia dijatuhi batu-batu yang bisa bergerak sendiri à ada bayangan hitam aneh mengikuti à DUAR (peristiwa ajaib yang entah apa dan bagaimana dan mengapa, karena tiba-tiba à Charlie keluar dan mendapati dirinya selamat dan 2 orang anak berbakat dari pihak jahat telah terkapar, pingsan.

Masih dalam bab yang sama, langsung diadakan pesta meriah semalam suntuk. Pembaca yang sudah tegang karena menantikan adegan perang antar anak-berbakat, tiba-tiba menjumpai bahwa semuanya baik-baik saja. (Aduh tepok jidat). Mungkin karena baru novel pertama dari seri-seri berikutnya, Midnight for Charlie Bone terkesan masih datar dan nanggung—walaupun cerita ini menyimpan potensi untuk dikembangkan dalam bentuk sekuel-sekuel. Setting, karakterisasi, dan konflik sudah terbangun; walau  eksekusinya masih kurang berani. Semoga seri kedua dan selanjutnya mampu lebih menunjukkan sisi AKSI dari Charlie dkk, ketimbang dalam buku perdana ini. Tidak ada masalah jika sihir dalam buku ini hanyalah bakat sederhana, karena satu bakat sederhanapun jika diramu melalui narasi dan pemfiksian yang ciamik pasti dapat menghasilkan novel petualangan yang seru. Saya menantikan seri kedua dari Charlie Bone, Charlie Bone and the Time Twister yang dilihat dari judulnya, seharusnya lebih seru dan lebih mampu bergerak cepat daripada novel pertamanya.

13 comments:

  1. heh? ada sekuelnya yah?? aku dapat buku ini dari bookwar kemarin, mas Dion. Errr... jangan-jangan sama nih sumber dapetnya.. hahahhaa

    ReplyDelete
  2. Eh kalo aku beli donk di IRF 15rb. Iya sekuelnya sudah dibikinkan covernya tuh

    ReplyDelete
  3. mas Dion am kaming,

    Semoga perkenalan ini, bisa membuat saya belajar lebih banyak..:)

    Maaf aku belum banyak kasih pendapat, soalnya referensi soal novel aku ndak punya #acak-acak rak buku#

    Bondan

    ReplyDelete
  4. Waduh saya yang masih belajar mas, ini cuman seneng2 saja belum diseriusin hehehe sebagai ajang belajar menulis juga ... mari belajar bersama mas

    ReplyDelete
  5. Hehehe.. Agak susah ya nyari fantasy yang seseru Harry Potter atau Lord of the Rings :)

    ReplyDelete
  6. anisa: iya sih, apa kudu kita bikin sendiri cieee

    ReplyDelete
  7. Setuju, covernya bagus begete.
    Iya sana mba annisa sama mas dion bikin gih, cerita perdukunan gitu kayaknya oke juga *digampar*

    ReplyDelete
  8. hehehehe kok kalau setting Indo agak begimaaannaaa gt ya hahahaha

    ReplyDelete
  9. eh Sulis, iya hehe Ufuk kmaren emang diskonnya bener2 dah dibanting. kalo ngak di stop sama mas Silvero, aku mungkin udah ngangkut 5-6 buku lg hadewww ahahaha

    ReplyDelete
  10. ya amfuuunnn...kl ada buku murah gini aq dikasih tau siihhh....* nitip maksudnya...^^

    ReplyDelete
  11. bisa kasih info ga yg masih jual novel seri 1nya ini dmn? soalnya aku cr di gramedia dmn2..uda kosong..thx y..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sis aq jual, cek instagram aq sis @dinidudul

      Delete