Search This Blog

Showing posts with label #5BukuDalamHidupku. Show all posts
Showing posts with label #5BukuDalamHidupku. Show all posts

Saturday, November 16, 2013

#5BukuDalamHidupku Kariage Kun yang Aku Banget




                Akhirnya, hari ke-5 dalam program #5BukuDalamHidupku sampailajh sudah. Selama lima hari berturut-tutur, para blogger seluruh Indonesia secara marathon menulis 5 review tentang 5 buku yang paling berpengaruh atau paling menghasilkan dampak apapun dalam kehidupannya. Event unik yang digagas oleh @irwanbajang ini terbukti mendapatkan sambutan nan antusias bukan hanya karena hadiahnya yang menggiurkan (Siapa sih yang nggak mau dapat Inferno-nya Dan Brown GRATIS?), tapi juga karena mas @irwanbajang secara telak mampu memukul titik #jlebb para blogger. 

               Sebagaimana fenomena umum yang ada di masyarakat, banyak petualang dunia maya yang memiliki blognya masing-masing, tapi tidak banyak yang konsisten untuk secara rutin memperbarui isi dari blog-nya. Jangankan mengisi blog secara rutin, mengejenguk blog sekali seminggu saja kadang malas bukan buatan. Even #5BukuDalamHidupku ini seolah menjadi semacam pemacu bagi kami, para blogger, agar terus bergairah dan bersemangat dalam merawat dan membesarkan blog masing-masing. Jika setiap hari saja bisa (sebagaimana event ini), masak mengisi blog seminggu sekali tidak bisa?


                Sebagaimana dituliskan dengan sangat cantik oleh mas @irwanbajang, blog sejatinya adalah rumah untuk pulang di dunia maya. Blog adalah sepenuhnya diri kita, hanya kita yang boleh mengisinya tanpa harus terikat komentar atau mention yang tidak terlalu ketat mengatur isi postingan kita (tidak seperti Facebook dan Twitter yang memang “haus komentar.” Melalui blog ini, saya dedahkan lagi pengalaman membaca buku saya, yang murni karena pilihan saya sendiri dan bukan karena rekomendasi teman atau iming-iming bestseller. Sejauh yang saya ketahui, dari empat buku yang saya posting selama 4 hari terakhir, tidak ada satupun yang bestseller di Indonesia (termasuk buku saya hehe) kecuali buku Dale Carnegie yang memang sudah buku babon psikologi dunia. 

Judul Buku: Seri Komik Kariage Kun no 1 - 52
Komikus : Masashi Ueda
Penerjemah : Dudi YP dkk.
Tebal : 120 - 140 halaman
Tahun terbit: 1990-an s/d 2013
Penerbit : Elex Media Komputindo



                Untuk buku kelima di hari kelima #5BukuDalamHidupku ini saya memilih serial komik Kariage Kun sebagai buku yang paling meninggalkan kesan mendalam dalam kehidupan saya. Pertama kali saya membaca seri Kariage Kun sewaktu masih kuliah, masa-masa ketika saya begitu haus akan bacaan tetapi apa daya kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk membeli buku-buku baru. Sebagai mahasiswa yang harus berhemat, pilihan terbaik adalah berlangganan kartu keanggotaan di Taman Bacaan untuk bisa meminjam buku tanpa harus membeli. Masa-masa prihatin namun menyenangkan itu masih terkenang sampai sekarang, ketika saya rela tidak jajan agar bisa menyewa komik dan serial Lima Sekawan, dan komik Kariage Kun inilah yang pertama kali saya pinjam.


                Apa yang membuat Kariage Kun begitu berkesan dibanding Doraemon atau Dragon Ball yang sudah saya baca duluan? Jawabannya adalah realitas dan simplisitasnya. Ketiga komik manga itu sama-sama memberikan sarana pengalihan dari dunia nyata, sarana untuk “pergi” sejenak dari hidup yang penuh tugas dan penelitian, Bedanya, jika Doraemon dan Dragon Ball memberikan alam pengalihan di fiktif adanya, maka Kariage Kun  memberikan alam pengalihan yang real. Seri Komik karya Masashi Ueda (tokoh yang sama dengan komikus pembuat Kobo Chan) menggambarkan berbagai kelucuan yang dialami oleh seorang pegawai kantoran bernama Kariage. Si Kariage ini tipikal pemuda urban namun ia menjalani kehidupan dengan apa-adanya, santai, tidak ngoyo, lengkap dengan segala keisengannya. Membacanya, kita akan menemukan cerminan kehidupan sehari-hari, juga berbagai canda dan tawa yang sering kali tidak kita sadari.


                Kariage Kun telah menyadarkan saya bahwa kehidupan tidak harus dijalani dengan terus-menserus serius. Ada kalanya tubuh dan pikiran perlu bersantai sejenak. Juga, bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar harta, melainkan juga menghabiskannya bersama orang-orang tercinta. Bgeitu spesialnya komik ini sehingga komik inilah yang saya jadikan sebagai obat kantuk di saat mengerjakan skripsi. Kini, saya masih sering membaca ulang Kariage Kun saat tengah lembur menulis di malam hari. Karena melalui kesederhanaan, komik ini mengajarkan tentang hakikat kreativitas dan spontanitas dalam kehidupan, agar kita bisa menjalaninya dengan seimbang. Terima kasih Kariage Kun, terima kasih Masashi Ueda. Semoga, saya juga bisa ketularan kreatifnya si Kariage, yang positif-positif saja tentunya.

Friday, November 15, 2013

#5BukuDalamHidupku 100 Tahun Kesunyian, Buku Absurb Pertama yang Saya Suka



Judul   : Seratus Tahun Kesunyian

Pengarang   : Gabriel Garcia Marques

Penerjemah   : Nin Bakdi Soemanto

Penyunting : Wendratama

Cetakan : Pertama, Mei 2007

Halaman  : 547

Penerbit  : Klub Sastra Bentang    
 



                Mengapa buku ini begitu spesial? Ada dua alasan. Pertama adalah alasan fisik, yakni hal-hal yang terlihat mata dan terjamah tangan yang bisa saya dapatkan dari buku ini. Kedua adalah alasan nonfisik, yakni berkaitan dengan muatan dalam buku ini. Alasan fisik yang pertama adalah betapa sulitnya mencari buku langka ini dan betapa beruntungnya saya karena bisa memiliki dan membacanya. Dulu, buku ini saya dapatkan melalui info dari seorang teman di Surabaya, yang menginformasikan bahwa masih ada beberapa stock novel legendaris ini. Tregiur harga yang murah (hanya Rp 15.000 untuk novel pemenang Nobel Sastra), saya pun membelinya tanpa mengetahui sedikitpun siapa Marques. Setelah buku sampai ke tangan saya, saya mulai iseng mengecek rating novel ini di Goodreads. Betapa terkejutnya saya (atau tepatnya beruntungnya saya) karena bisa memiliki novel luar biasa ini.


                100 Tahun Kesunyian adalah salah satu masterpiece Gabriel Garcia Marquez, penulis asal Amerika Latin yang mendapatkan nobel perdamaian. Tulisannya dikenal absurd dan sangat memusingkan, tetapi sebagian pembaca mengatakan bahwa karya-karyanya indah. Sesuatu yang absurb namun indah. Bahkan, banyak kawan di dunia baca banyak yang mengaku “menyerah” dengan buku ini. Halaman yang tebal, font yang rapat, kalimat yang panjang-panjang (ada beberapa kalimat yang menghabiskan 2 – 3 halaman) hanyalah beberapa alasan fisik yang menjadikan novel ini “sulit dibaca”. Tapi, muatan atau isi dari 100 Tahun Kesunyian-lah sesungguhnya tantangan utama dari karya Margues ini. Mendengar hal ini, saya pun mengurungkan niat untuk segera membacanya, dan melarikan diri ke buku lain yang lebih ringan. Sebuah kesalahan!


                Tepat setahun kemudian, teman-teman di Blogger Buku Indonesia mengadakan baca bareng karya novelis pemenang Nobel Sastra. Karena di rak buku (baca: timbunan) tidak ada novel lain yang memenuhi syarat selain 100 Tahun Kesunyian, maka saya pun nekat menggunakan buku ini sebagai bahan bacaan untuk baca bareng. Ini adalah kenekatan yang berakhir indah. Perlu waktu hampir satu bulan bagi saya untuk menyelesaikannya, sebuah perjuangan yang berat karena membaca buku yang seharusnya santai malah terasa seperti beban. Tapi, ada satu yang membuat saya bertahan membaca buku ini: penerjemahannya yang sangat indah. Kalau saja bukan beliau NinBakdi Soemanto yang menerjemahkan buku ini, saya pasti sudah menyerah di sepertiga awal.


Ketika akhirnya saya berhasil menyelesaikan pembacaan buku ini, tiada perasaan lain yang muncul di dada selain rasa “luar biasa!” Novel ini, saya akui memang luar biasa. Bukan karena tebalnya yang lebih dari 500 halaman dengan font padat dan rapat serta paragraf yang bisa satu halaman panjangnya. Bukan pula karena pohon keluarga Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran yang begitu panjang dengan penggunaan nama-nama yang berulang. Ada sesuatu yang sangat spesial dari novel ini, memusingkan dan ruwet, tapi membacanya seperti menemukan pesona luar biasa dari kepiawaian sang penulis dalam meramu cerita. Inilah buku absurd pertama yang saya baca. 

Pada garis besarnya, buku ini adalah tentang Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran beserta ketujuh generasi anak-keturunan mereka. Kisah dimulai ketika Jose Arcadio Buendia membuka kota Macondo di kawasan rawa-rawa tak terjamah—dan perkembangan kota Macondo sendiri seperti mengikuti alur dari kisah keluarga Buendia. Kegilaan Jose Arcadio Buendia terhadap mitos-mitos lama ,seperti batu alkemi dan magnet, akhirnya menurun pada dua anak laki-lakinya: Jose Arcadio dan Aureliano Buendia. Mereka juga punya anak perempuan bernama Amaranta. Sementara ayahnya menjadi gila dan dikekang di bawah  pohon, kedua putranya ini juga sibuk dengan kegilaan masing-masing. Baik Aureliano dan Jose Arcadio kemudian jatuh cinta pada perang dan pemberontakan. Mereka bergabung dengan gerilyawan melawan Pemerintah, dan berkali-kali mengalami ketidakberuntungan dengan obsesi mereka akan perang. Hanya Aureliano Buendia yang bisa dibilang berhasil dalam hal ini. Ia telah menjadi semacam pahlawan kaum pemberontak dan namanya dipuja-puji puluhan tahun setelah tidak aktif lagi. Orang ini juga lebih beruntung karena berumur lebih panjang daripada Jose Arcadio dan juga berhasil “membuahi” belasan wanita sehingga ia memiliki sekitar 17 anak laki-laki beda ibu yang semuanya dengan bangga menyandang nama Aureliano. Pada akhirnya, ke-17 pemuda ini juga mengalami ketidakberuntungan, rata-rata mati muda.



          Wajar jika banyak yang pusing membaca buku ini. Saya sendiri kadang pusing mengingat nama-nama keluarga Buendia yang hampir mirip. Kelakuan mereka—terutama kaum prianya—juga mirip sehingga ujung-ujungnya mereka habis dalam cara yang cukup tragis. Satu-satunya pria yang agak waras mungkin Aureliano yang putranya Meme. Sementara, topang utama dari keluarga itu sesungguhnya adalah Ursula, yang sejak masa ketika suaminya Jose Arcadio Buendia menjadi gila, menjadi sati-satunya orang waras di rumah itu. Dengan segala kegilaan dan absurbitas dalam cerita ini, tidak heran jika 100 Tahun Kesunyian memang masuk sebagai buku yang sulit dipahami. Jangankan saya, Wikipedia saja memberikan definisi yang njilmet untuk novel ini:



            “Cerita ini jelas mengandung kenyataan yang magis, namun lebih dari itu, karena juga merupakan sebuah refleksi filsafati tentang hakikat waktu dan keterasingan. Sejumlah kritikus mengatakan bahwa buku ini kurang mengandung sifat cerita rakyat, yang merupakan prasyarat dari realisme magis, karena itu tidak dapat dikategorikan demikian…. Nilai novel ini terletak bukan hanya dalam penggunaan realisme magisnya yang inovatif, tetapi juga penggunaan bahasa Spanyolnya yang indah. Buku ini adalah sebuah tulisan epos yang merentang selama beberapa dekade dalam kehidupan sebuah keluarga yang besar dan kompleks.”



                Sepenangkapan saya, penulis menggunakan novel ini untuk mengkritik munculnya kerajaan-kerajaan atau negara-negara baru di kawasan Amerika Selatan dan Tengah selepas perang dunia pertama. Di mana, banyak dari negara-negara itu dipimpin oleh tiran yang gemar berperang dan mabuk kekuasaan. Sebagaimana nasib keluarga Buendia dan kota Macondo yang akhirnya habis, mereka yang terobsesi pada perang, kekuasaan, dan kesenangan duniawi (dalam novel ini dilambangkan oleh seks dan wanita) pada akhirnya akan hancur. Ditambah dengan segala absurbditasnya, novel ini memang luar biasa jika dibaca oleh orang yang tepat, yang akan mampu lebih memahami berbagai perumpamaan dan maksud dari sang penulis. Sayangnya, saya hanya baru bisa sampai para tahap menikmati, belum bisa menemukan permata-permata kebijaksanaan itu. Pembaca yang lebih cerdas pasti akan menemukan banyak harta dan kebijaksanaan dari novel ini. Sebagaimana kata penjual buku dari Catalan yang menjadi langganan dan teman dari Aureliano.



                “Dunia ini tentu sudah bobrok. Ketika orang bepergian dengan kereta kelas satu, tetapi kesusastraan diperlakukan seperti barang.” (hlm 525)



             Ada banyak sekali kejadian tidak masuk akal dalam keseharian keluarga ini, yang seolah merupakan sesuatu yang bias. Benar-benar absurb kalau kita mempertanyakan ini dan itu saat membaca novel berat ini. Dinikmati saja, biarkan cerita mengalir dengan sendirinya, itulah kunci untuk bisa merampungkan pembacaan novel luar biasa ini. Saya mampu bertahan menyelesaikan novel berat ini salah satunya karena terjemahan Nin Bakdi Soemanto yang luar biasa menawan, luwes, dan indah. Bahkan dengan mengabaikan ceritanya yang absurb, saya masih bisa menikmati keindahan detail dan kelancaran bercerita dari penulis aslinya. Salut untuk penerjemahnya.  Kalaupun saya luput menikmati ceritanya, saya jelas-jelas sangat menikmati terjemahannya.Secara umum, buku ini menjadi tonggak bagi saya untuk lebih bisa menikmati karya sastra, yang kadang memang bukan bacaan yang ringan. Buku ini ibarat tangga menanjak yang membawa saya ke tingkat pembacaan yang baru, apresiasi kesusasteraan.



Thursday, November 14, 2013

#5BukuDalamHidupku Buku Pertama Saya



Judul: Sumbangan Karya Sains Hebat Islam Abad Pertengahan
Penulis : Diyan Yulianto dan M.S. Rohman
Alih Bahasa : Noraini Abdullah
Disemak Oleh : Dr. Mohd. Puhzi Usop
Cetakan : Pertama 2011
Tebal : 251 hlm
Penerbit: Al Hidayah House Of Publishers
SDN BHD (Selangor, Malaysia)



                Apa lagi yang lebih menggembirakan bagi seorang pecinta buku selain manyaksikan bukunya terbit? Memandang nama kita tertulis sebagai PENULIS dari sebuah buku yang dipajang di etalase toko buku ibarat menyaksikan anak kedua yang sedang lincah-lincahnya bermain. Hati dipenuhi kebanggaan dan suka cita, kerja keras itu serasa telah terbayarkan. Malam-malam bergadang untuk menyelesaikan tulisan, bolak-balik membuka berbagai sumber referensi, membuka kembali majalah dan surat kabar lama, mengkliping artikel-artikel yang berkaitan, menerjemahkan data-data dari sumber rujukan asing, dan jam-jam tak kenal lelah menjelajahi dunia maya; semua itu terbayarkan sudah saat melihat buku karya kita terpajang manis di toko buku. Terlepas buku itu laris atau tidak, best seller atau jagoan retur; semuanya tidak lagi begitu berarti. Menyadari bahwa kita telah menghasilkan suatu karya, sebuah sumbangan bagi dunia literasi, sesuatu yang dapat kita banggakan ke anak-cucu kelak; ini semua lebih indah dari laporan penjualan buku yang terus meningkat.


                Sumbangan Karya Sains Islam Abad Pertengahan memang bukan buku pertama saya. Tapi buku ini adalah buku pertama yang benar-benar saya garap dengan sepenuh hati. Didasari idealisme untuk memperkenalkan sejarah Islam yang sebenarnya, kira-kita pertengahan tahun 2007 mulai terbetik niat untuk menulis buku ini. Geram terutama dengan sejarah Abad Pertengahan yang selama ini dipandang gelap oleh dunia, melalui karya ini saya ingin (ikut) menunjukkan bahwa cahaya ilmu pengetahuan masih bersinar di bumi Andalusia (Spanyol), di Baghdad, di Asia Tengah, dan di negeri-negeri Islam. Bahwa masa 1000 tahun sebelum Renaisance bukanlah abad kegelapan. Ini memang abad kegelapan bagi dunia barat, tapi tidak bagi dunia Islam. Data-data sejarah amat berlimpah mendukung hal ini, tapi sedikit sekali buku atau informasi mengenai hal ini di negeri saya. Inilah yang membuat saya bertahan mengumpulkan data, sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya dengan dukungan dan kerja sama Kang Ipul (yang juga turut mengambil bagian dalam penggarapan buku ini) saya mengajukan naskah ini ke penerbit.


                Butuh waktu sekitar 2 tahun sebelum naskah ini masuk ke penerbit, dan butuh waktu lagi sekitar satu tahun sebelum naskah ini akhirnya diterbitkan. Dan, ketika buku ini terbit pada 2010, saya merasakan kelegaan dan kegembiraan yang pasti pernah dialami oleh setiap penulis saat buku pertamanya terbit. Penghargaan ini saja sudah begitu hebat, tapi kejutan selanjutnya mungkin adalah yang paling hebat. Sekitar awal tahun 2011, saya mendapat kabar bahwa buku ini dibeli hak ciptanya oelh salah satu penerbit di Malaysia. Jujur, saat itu rasa kegembiraan yang meluap-luap melanda diri. Antara tidak percaya tetapi juga bangga, menyaksikan sebuah karya yang begitu sederhana seperti ini bisa diterima oleh penduduk di lain negara. Ini bukan lagi sebuah pencapaian, tetapi berkah dari Yang Maha Kuasa.


                Menyaksikan buku karya sendiri di toko buku saja sudah luar biasa, apalagi membayangkan buku tersebut ikut berjalan-jalan di Semenanjung Malaya atau di Sabah dan Serawak; dibaca oleh saudara-saudari kita yang berasal dari satu rumpun; rasanya begitu tak terbayangkan. Lewat buku ini, saya menjadi yakin bahwa ketika kita mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, maka Tuhan juga akan membalas kita dengan sebaik-baiknya. Semoga, buku sederhana ini bisa menjadi sumbangan berarti dalam dunia literasi di Indonesia.

Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku Berkelana Dalam Rimba, Lebih Dahsyat dari Lima Sekawan

Judul : Berkelana dalam Rimba
Pengarang : Mochtar Lubis
Tebal:186 hlm
Cetakan: Kedua, 2002
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia         

     

  Jauh sebelum saya mengenal Lima Sekawan dan Trio Detektif atau petualangan ala Indiana Jones, bahkan Harry Potter; buku klasik karangan sastrawan kenamaan negeri ini sudah membuat saya jatuh hati. Pertama kali dibaca saat SD (atau SMP saya lupa), Berkelana Dalam Rimba memadukan antara unsur petualangan, pelajaran moral, tanggung jawab, dan isu-isu lingkungan. Kisah anak-anak remaja bersama seorang dewasa (Paman Raokhtam) yang melakukan perjalanan menembus Rimba Gunung Hitam di Bukit Barisan yang menjulang rapat di tengah pulau Sumatra ini begitu memukau. Sungguh merupakan impian para petualang untuk bisa menembus hutan primer Sumatra yang masih asli dan bertabir misteri seraya belajar tentang flora dan fauna endemic yang melimpah di dalamnya. Dan, buku ini menjadi buku yang sangat tepat untuk mulai memunculkan kegemaran berpetualang di alam bebas dan juga untuk mengenalkan anak pada isu-isu kelestarian lingkungan. 
                Begitu membuka halaman-halaman pertama, aroma misteri sudah menyambut pembaca. Dan, apa lagi yang bisa menarik pembaca untuk masuk ke dalam cerita selain misteri?
                 "Sebaiknya Bapak dan anak-anak muda ini juga janganlah ke sana. Kau mau ke hutan, pergilah ke hutan yang lainnya. Orang di sini tidak ada yang berani ke rimba Gunung Hitam. Itu rimba sakti. Dahulu banyak anak-anak kampung yang pergi ke hutan, hilang tak pernah pulang lagi." (hlm 2)

                Mochtar Lubis menulis novel ini berdarsarkan pembacaannya pada buku Kepulauan Nusantara (The Malay Archipelago) karya Alfred R. Wallace, lengkap dengan ilustrasi dan gambar-gambar flora serta fauna khas Sumatra. Dalam pengantarnya, kisah ini sendiri terinspirasi oleh kegiatan menembus rimba yang dulu sering dilakukannya  bersama gurunya Bapal S.M Latif dan teman-temannya untuk mencari anggrek demi melenkapi koleksi anggrek sekolah. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan harta karun kehidupan yang luar biasa.
Mulai dari harimau Sumatra, tapir, hingga anggrek bulan yang langka itu. Mereka juga bertemu dengan kantong semar serta bungai bangkai yang hampir mereka kira sebagai mayat manusia. Rupanya, bau busuk dari bunga bangkai inilah salah satu yang memunculkan pesona mistis di Rimba Gunung Hitam. 

                   "Sambil menutup hidung, anak-anak muda tak puasnya menatap bunga bangkai. Warnanya putih tak bersih, bercampur kuning dan ungu, dan disebelah bawah gagang terdapat ribuan bunga betina mengelilingi kaki bunga. Daunnya hanya sehelai yang adalah pula daun yang terbesar di dunia, dapat mencapai sepuluh meter persegi." (hlm 84)


               Pesona flora dan fauna hutan dipaparkan begitu lengkap dan dengan narasi yang menawan, membuat pembaca seolah bisa membayangkan dirinya tengah berada di tengah hutan Sumatra, di antara rapatnya Bukit Barisan yang kala itu masih sangat terisolir. Ini masih ditambah dengan aneka ilustrasi tentang satwa dan flora Sumatra seperti bermacam anggrek, macan kumbang, jenis-jenis burung, dan tentu saja, bunga terbesar di dunia Rafllesia Arnoldii.

           
                Ditulis pada tahun 1980-an, jelas buku ini bisa dibilang “jadul” dan beraroma 80-an banget. Tapi, dari situlah nostalgia itu merebak muncul. Petualangan yang disajikan tidak sekadar petualangan mengurai misteri dan menaklukkan penjahat. Lebih dari itu, penulis juga mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis flora dan fauna yang hamper punah, lengkap dengan tata cara dan kebiasaan hidup mahkluk-mahkluk tersebut di alam liar. Isinya lengkap memaparkan segala keindahan sekaligus kerentanan para penghuni hutan Sumatra.  Narasinya pun sangat elok, menggurui namun pembaca tidak merasa tergurui—bahkan malah mungkin meminta lagi. Saya sendiri dengan tegas menyatakan bahwa kekurangan buku ini adalah halamannya yang kurang tebal.


             Membaca buku ini di abad 21 mungkin ketinggalan zaman, bukan hanya karena narasi penceritaannya yang jadul, tapi mungkin hutan liar Sumatra yang digambarkan dalam buku ini mungkin sudah berganti menjadi perkebunan kepala sawit. Sungguh miris. Pun seandainya itu terjadi, Berkelana Dalam Rimba bisa menjadi semacam dokumentasi tertulis dari hutan perawan Sumatra bagi anak-cucu kelak, yang mungkin tidak berkesempatan lagi menyaksikan hutan tropis Sumatra yang beragam dan kaya raya, yang di masa depan tergantikan oleh sabuk kelapa sawit yang mendominasi Bukit Barisan. Buku ini telah membuat saya mencintai alam dan bertekad untuk terus merawatnya. Semoga para pembaca yang lain pun demikian adanya setelah membaca buku luar biasa ini.

Tuesday, November 12, 2013

#5BukuDalamHidupku Buku Dale Carnegie Bikin Saya Cerewet



Judul Buku : Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain
Penulis : Dale Carnegie
Alih Bahasa : Nina Fauzia N.S
Penyunting : Dr. Lyndon Saputra
Cetakan : pertama, 1995
Halaman : 382 hlm
Penerbit : Binarupa Aksara




                Banyak orang mengaku telah diubah setelah membaca buku ini. Saya bukannya ikut-ikutan, tapi jujur saya adalah salah satu pribadi yang telah diubah dengan membaca buku ini. Pertama kali saya membaca Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain pada sekitar tahun 2002, masa-masa awal saya masuk ke bangku kuliah dan diperkenalkan dengan "perpustakaan yang sebenarnya". Sejak remaja, saya adalah pelahap buku yang giat mengunyah semua jenis bacaan. Apapun saya lahap selama itu berbentuk kata dan kalimat. Sayangnya, kondisi keuangan kala itu masih sangat pas-pasan untuk saya bisa membeli buku. Jangankan beli buku, uang untuk transport kampus-rumah saja nge-pas (3 tahun saya kuliah naik sepeda bolak-balik sekitar 14 km). Karena tidak ada uang, jadilah perpustakaan kampus UPT UNY jadi sasaran. Dan, buku Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain ini adalah salah satu buku nonfiksi non pelajaran yang saya baca.
               
                Tahun 2000-an adalah masa-masa booming buku psikologi populer. Karena saya termasuk orang yang mudah terseret arus, saya kemudian mencoba mencari bacaan yang memang sedang populer saat itu, dan jadilah buku ini sampai di tangan saya. Lembar demi lembar buku ini telah mengubah cara pandang saya terhadap apa itu buku. Masa SMP dan SMA saya diwarnai oleh majalah dan tabloid, dan bayangan saya tentang buku nonfiksi adalah buku-buku selain novel, yakni buku pelajaran. Buku Dale Carnegie ini seperti sebuah gerbang yang menyadarkan saya bahwa buku itu beragam, bahwa sebuah buku serius juga bisa dinikmati dan dibaca sambil santai, serta dipraktikkan. Tema-tema psikologi yang semula saya kira berat langsung dijungkir balikkan lewat cara menulis Carnegie yang akrab dan ramah. Sebagaimana judulnya yang berembel-embel “mencari kawan”, buku ini ternyata juga cenderung berkawan dengan pembaca, membuat pembaca betah. Dan, lebih dari itu, buku ini mengajak pembacanya untuk bertindak aktif dan bukan sekadar membaca pasif.
               
                Efek terbesar yang ditimbulkan oleh buku ini adalah saya bertindak. Buku ini benar-benar menyemangati saya untuk mau mengubah cara pandang kita terkait hubungan dengan orang lain. Sebelumnya, saya termasuk orang yang cenderung pendiam dan introvert. Jangankan menyapa teman baru, dengan teman sekelas namun kurang akrab saja saya susah nyambungnya. Dale Carnegie menyelamatkan saya. Beliau membedah dan menyodorkan fakta-fakta terkait hubungan personal. Salah satunya yang masih saya ingat adalah “bahwa setiap orang ingin disapa duluan.” Egoisme dalam diri kitalah yang membuat kita enggan menyapa orang lain. Kita inginnya orang lain yang menyapa kita karena ini menjadi tanda bahwa orang lainlah yang butuh bicara dengan kita, bukan sebaliknya. Dan, hal ini ternyata keliru menurut Carnegie.
               
                Bagi Carnegie, orang-orang yang mau mengambil inisiatif dan berbesar hati untuk menyapa orang lain terlebih dahulu adalah orang-orang yang berjiwa besar. Memulai pembicaraan bukanlah tanda kerendahan, melainkan tanda kemuliaan karakter seseorang. Kita tahu setiap orang ingin disapa duluan. Kita tahu rahasia ini. Maka, orang yang menyapa duluan-lah sebenarnya yang lebih tinggi nilainya. Masih banyak lagi hal yang saya dapatkan dalam buku ini, tentang debat yang lebih sering mendatangkan rasa puas diri alih-alih kebenaran, tentang cara-cara untuk bisa “dianggap hangat” di berbagai lingkungan, tentang dorongan untuk selalu menjalin persahabatan dengan orang-orang baru. Belajar mendengarkan, itu juga pelajaran paling utama dalam buku ini. Masih banyak lagi hal-hal terkait relasi antar-insan yang terjabarkan dengan begitu ramahnya dalam buku ini. 



                 Percaya atau tidak, membaca Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain telah menjadikan saya pribadi yang lebih hangat, lebih ceria, lebih ramah, dan juga lebih dewasa. Yang jelas, saya menjadi jauh lebih cerewet (dalam arti positif tentunya) setelah membaca buku yang konon disebut sebagai salah satu buku babon psikologi Barat modern ini. Terima kasih kepada Dale Carnegie. Saya, sebagaimana jutaan pembaca buku Anda, berutang banyak atas sumbangan istimewa yang Anda berikan dalam buku luar biasa ini. Dengan ini saya bersaksi bahwa saya telah diubah secara positif oleh buku ini! Mari baca dan buktikan sendiri.