Search This Blog

Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku Berkelana Dalam Rimba, Lebih Dahsyat dari Lima Sekawan

Judul : Berkelana dalam Rimba
Pengarang : Mochtar Lubis
Tebal:186 hlm
Cetakan: Kedua, 2002
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia         

     

  Jauh sebelum saya mengenal Lima Sekawan dan Trio Detektif atau petualangan ala Indiana Jones, bahkan Harry Potter; buku klasik karangan sastrawan kenamaan negeri ini sudah membuat saya jatuh hati. Pertama kali dibaca saat SD (atau SMP saya lupa), Berkelana Dalam Rimba memadukan antara unsur petualangan, pelajaran moral, tanggung jawab, dan isu-isu lingkungan. Kisah anak-anak remaja bersama seorang dewasa (Paman Raokhtam) yang melakukan perjalanan menembus Rimba Gunung Hitam di Bukit Barisan yang menjulang rapat di tengah pulau Sumatra ini begitu memukau. Sungguh merupakan impian para petualang untuk bisa menembus hutan primer Sumatra yang masih asli dan bertabir misteri seraya belajar tentang flora dan fauna endemic yang melimpah di dalamnya. Dan, buku ini menjadi buku yang sangat tepat untuk mulai memunculkan kegemaran berpetualang di alam bebas dan juga untuk mengenalkan anak pada isu-isu kelestarian lingkungan. 
                Begitu membuka halaman-halaman pertama, aroma misteri sudah menyambut pembaca. Dan, apa lagi yang bisa menarik pembaca untuk masuk ke dalam cerita selain misteri?
                 "Sebaiknya Bapak dan anak-anak muda ini juga janganlah ke sana. Kau mau ke hutan, pergilah ke hutan yang lainnya. Orang di sini tidak ada yang berani ke rimba Gunung Hitam. Itu rimba sakti. Dahulu banyak anak-anak kampung yang pergi ke hutan, hilang tak pernah pulang lagi." (hlm 2)

                Mochtar Lubis menulis novel ini berdarsarkan pembacaannya pada buku Kepulauan Nusantara (The Malay Archipelago) karya Alfred R. Wallace, lengkap dengan ilustrasi dan gambar-gambar flora serta fauna khas Sumatra. Dalam pengantarnya, kisah ini sendiri terinspirasi oleh kegiatan menembus rimba yang dulu sering dilakukannya  bersama gurunya Bapal S.M Latif dan teman-temannya untuk mencari anggrek demi melenkapi koleksi anggrek sekolah. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan harta karun kehidupan yang luar biasa.
Mulai dari harimau Sumatra, tapir, hingga anggrek bulan yang langka itu. Mereka juga bertemu dengan kantong semar serta bungai bangkai yang hampir mereka kira sebagai mayat manusia. Rupanya, bau busuk dari bunga bangkai inilah salah satu yang memunculkan pesona mistis di Rimba Gunung Hitam. 

                   "Sambil menutup hidung, anak-anak muda tak puasnya menatap bunga bangkai. Warnanya putih tak bersih, bercampur kuning dan ungu, dan disebelah bawah gagang terdapat ribuan bunga betina mengelilingi kaki bunga. Daunnya hanya sehelai yang adalah pula daun yang terbesar di dunia, dapat mencapai sepuluh meter persegi." (hlm 84)


               Pesona flora dan fauna hutan dipaparkan begitu lengkap dan dengan narasi yang menawan, membuat pembaca seolah bisa membayangkan dirinya tengah berada di tengah hutan Sumatra, di antara rapatnya Bukit Barisan yang kala itu masih sangat terisolir. Ini masih ditambah dengan aneka ilustrasi tentang satwa dan flora Sumatra seperti bermacam anggrek, macan kumbang, jenis-jenis burung, dan tentu saja, bunga terbesar di dunia Rafllesia Arnoldii.

           
                Ditulis pada tahun 1980-an, jelas buku ini bisa dibilang “jadul” dan beraroma 80-an banget. Tapi, dari situlah nostalgia itu merebak muncul. Petualangan yang disajikan tidak sekadar petualangan mengurai misteri dan menaklukkan penjahat. Lebih dari itu, penulis juga mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis flora dan fauna yang hamper punah, lengkap dengan tata cara dan kebiasaan hidup mahkluk-mahkluk tersebut di alam liar. Isinya lengkap memaparkan segala keindahan sekaligus kerentanan para penghuni hutan Sumatra.  Narasinya pun sangat elok, menggurui namun pembaca tidak merasa tergurui—bahkan malah mungkin meminta lagi. Saya sendiri dengan tegas menyatakan bahwa kekurangan buku ini adalah halamannya yang kurang tebal.


             Membaca buku ini di abad 21 mungkin ketinggalan zaman, bukan hanya karena narasi penceritaannya yang jadul, tapi mungkin hutan liar Sumatra yang digambarkan dalam buku ini mungkin sudah berganti menjadi perkebunan kepala sawit. Sungguh miris. Pun seandainya itu terjadi, Berkelana Dalam Rimba bisa menjadi semacam dokumentasi tertulis dari hutan perawan Sumatra bagi anak-cucu kelak, yang mungkin tidak berkesempatan lagi menyaksikan hutan tropis Sumatra yang beragam dan kaya raya, yang di masa depan tergantikan oleh sabuk kelapa sawit yang mendominasi Bukit Barisan. Buku ini telah membuat saya mencintai alam dan bertekad untuk terus merawatnya. Semoga para pembaca yang lain pun demikian adanya setelah membaca buku luar biasa ini.

5 comments:

  1. jadi kepengen baca. salah satu tema favorit adalah tema petualangan sejenis ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga, sampe bela2in cari buku ini dengan ingatan samar2 di SMP, nemunya baru sekitar tahun 2008 kalo ga salah

      Delete
  2. Dulu pertama kali baca buku ini saat SD kelas 4 kalau tidak salah, dulu masih terbitan balai pustaka sampulnya gambar hutan dan masih dijilid jahit. Dan sejak saat itu saya jadi suka sekali dengan novel-novel Mocthar Lubis. Saat perpustakaan SD saya dibongkar, dan buku-bukunya dibuang, saya mengamankan buku ini. Sampai saya kuliah buku itu masih saya simpan betul. Tapi suatu ketika dipinjam teman saya dan dia hilangkan. Saya mau marah tapi tak bisa dan akhirnya pasrah. Saya jadi kangen buku itu, benar-benar buku yang bagus untuk dibaca!

    ReplyDelete