Search This Blog

Monday, November 19, 2018

Blogtour dan Pengumuman Pemenang Giveaway: Basirah

Judul: Basirah
Pengarang: Yetti A.KA
Penyunting: Misni Parjiati
Sampul: Suku Tangan
Cetakan: Pertama, Oktober 2018
Penerbit: DIVA Press




“Dalam setiap orang itu, seburuk apa pun, pasti ada sisi baiknya.” (hlm. 58)

Tema wanita dan tokoh perempuan selalu lekat dengan karya-karya Yetti A.KA. Tidak terkecuali di novel Basirah ini. Dengan setting yang semi abdurd, penulis mengangkat kisah keluarga kecil yang terjebak dalam takdir mereka sendiri di sebuah kota misterius bernama Basirah. Berkisah tentang keluarga kecil yang terdiri atas ibu dan anak perempuannya serta seekor anjing peliharaan yang dibeir nama Bolok, novel ini mengajak pembacanya merenungi garis nasib yang kadang belum banyak berpihak kepada kaum perempuan di pelosok negeri ini. Dan walau tokoh perempuan begitu mendominasi dalam kisah di buku ini, sayang sekali nasib mereka hanyalah sebagai korban dari dominasi laki-laki. Sebuah ironi. Tidak di masa kini maupun di masa lampau, perempuan selalu diposisikan sebagai korban dominasi dan harus pasrah dengan kondisi tersebut. 


Basirah dibuka dengan kematian misterius Bolok, si anjing peliharaan, secara menggenaskan. Dari sudut pandang Imi—si anak perempuan, kita kemudian diajak memandang kondisi keluarga kecil yang muram tersebut. Dari sudut polos anak, penulis menggambarkan sosok Mamanya yang memiliki berbagai sikap ganjil. Selain mampu membaca kartu tarot, Mamanya Imi juga jarang bersosialiasi serta suka mengurung diri di kamar. Sekali waktu wanita itu bisa sangat ganas saat marah, tetapi di kali lain sangat lembut kepada Imi. Puncaknya ketika mengetahui Bolok mati, wanita itu hanya membuang begitu saja bangkai anjing itu ke jurang, bukannya menguburkannya di belakang rumah. Padahal, anjing itu sudah mereka anggap sebagai bagian keluarga. Sangat menarik menilai karakter orang dewasa lewat sudut pandang anak kecil yang polos.

“Kenapa orang dewasa harus bersikap tegang setiap kali ada masalah” (hlm. 101)

Dari sekilas membaca, kita bisa tahu kalau wanita ini punya kisah kelam di masa lalu. Dan lewat bab-bab berikutnya, masa lalu inilah yang coba dikupas pelan-pelan oleh penulis. Kematian Bolok hanyalah awal. Cerita selanjutnya bergulir ke belakang lewat sudut pandang Imi dan tetangganya (yang juga perempuan) bernama Nenek Wu. Lagi-lagi perempuan. Nenek ini konon bisa berbicara dengan hantu-hantu. Maka semakin genap pula keganjilan dari keluarga kecil ini. Bagaimana Imi bisa lahir, mengapa ayah dan neneknya tidak pernah mengunjunginya, lalu tentang Nenek Wu yang ternyata memiliki kisah kelabu di masa lalu. Perjalanan itu sampai bahkan sejauh Batavia di masa penjajahan Belanda. Wanita tua itu ternyata juga pernah memiliki anak perempuan yang mirip dengan Imi. Jalinan takdir ternyata membuat rumit apa yang tadinya adalah pola yang beraturan, termasuk nasib manusia.
  
“Manusia kebanyakan tidak tahan ujian. Tidak mau sedikit bersusah demi mencapai keinginannya.” (hlm 39)

Apa yang awalnya absurb di awal, perlahan mulai terurai menjadi jelas. Imi, mamanya, dan juga Nenek Wu ternyata tidak lebih dari korban penindasan yang dilakukan kaum lelaki terhadap kaum perempuan. Hanya karena masa dan kondisi sosial menempatkan mereka sebagai warga kelas dua, perempuan kemudian menjadi pihak yang selalu dikorbankan. Bahkan ketika mereka tidak menjadi korban secara fisik, mereka harus mengorbankan hatinya (seperti nasib Mamanya Imi dan Layi yang dalam hal cinta pun mereka kembali harus mengalah). Basirah seolah hendak menegaskan kepada pembaca tentang wanita-wanita yang terbelenggu keinginan dan kebebasannya hanya karena mereka terlahir sebagai perempuan di negeri yang sayangnya tidak memihak perempuan.

Sebuah novel yang muram, sarat pekik jerit tertahan dari para karakternya. Tetapi, Basirah ditulis dan disunting dengan bagus. Ceritanya mengalir indah, pelan namun menghanyutkan. Tiba-tiba saja pembaca akan jatuh hati kepada kepolosan Imi, dan kemudian menaruh simpati kepada hampir semua tokoh-tokoh di dalamnya. Saya suka dengan kalimat-kalimatnya yang mirip cerpen koran tetapi tidak kaku. Diksi dan penyampaian amanatnya juga halus sekali, sedikit mengingatkan kita pada karya-karya susastra dari ranah Sumatra. Lebih dari itu, Basirah menyentil kesadaran kita—pria maupun wanita—tentang nasib tidak adil yang pernah atau bahkan masih menjerat banyak perempuan di negeri ini. Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda, tetapi keduanya setara. Sayangnya, masih  banyak yang menganggap wanita sebagai mahkluk kelas dua. Mari kita lawan!

“Hati yang terbuka lebar dapat membuat pemiliknya mudah merasa bahagia.” (hlm. 61)



 GIVEAWAY

Saya tidak mau sendirian merasakan empati saya tercabik-cabik setelah membaca Basirah. Seharusnya, ada lebih banyak pembaca (perempuan dan apalagi laki-laki) yang membaca novel sendu ini. Tidak ada empati yang lebih mendalam ketimbang turut merasakan sendiri apa yang dirasakan seseorang. Membaca Basirah mengingatkan saya betapa perjuangan itu masih terus berlanjut. Alhamdulillah, Penerbit DIVA Press berbaik hati menyediakan satu eksemplar novel Basirah untuk dibagikan GRATIS kepada satu pembaca yang beruntung. 

Sebelumnya, saya mohon maaf banget karena agak telat mengumumkan pemenangnya. Total ada sembilan jawaban masuk, tapi satu jawaban terpaksa dilengserkan karena "Tiwi" banget woyyy hahahaha. Terima kasih yan Tiw, sudah ngerusuh ... dan nambahin page views saya hihihi. Saya menghormati semua jawaban yang masuk. Tidak ada jawaban yang benar atau pun salah karena jawaban-jawaban masuk merupakan opini pribadi. Saya akhirnya menggunakan standar kecocokan jawaban untuk memilih pemenangnya. Dalam artian, jawaban yang menurut saya cocok dengan karakter tokoh-tokoh dalam Basirah lah yang akan mendapatkan buku ini.

Langsung saja, selamat kepada Dion (@coffeewing) dengan jawaban yang menurut saya cocok banget sama salah satu karakter dalam novel ini. Semoga kalian berdua menemukan kecocokan satu sama lain sehingga tidak sia-sia saya jadi makcomblang. Pemenang akan saya hubungi lewat akun twitternya.
 
Mohon maaf buat teman-teman yang belum beruntung. Terima kasih sangat banyak karena sudah ikutan dan meramaikan. Semoga kebahagiaan dan kesehatan terlimpah kepada kalian.  

9 comments:

  1. Nama : Sulistya Dyana Putri
    Link : https://www.instagram.com/p/BqWx_YYHOgi/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=6xgme0hn0rqc
    Jawaban :
    Contoh aku memuliakan diri sendiri sebagai perempuan adalah, menjadi pribadi yang sebaik muslimah. Mengikuti kewajiban dan aturan syariat Islam. Walau kadang lemah dan goyah, namanya juga manusia harus belajar istikomah. Ibu kata, "jinak-jinak merpati. Karena perempuan itu mudah mempunyai ciri, jadi jangan di murah meriah." Kita boleh banyak berkarya, tapi tahu batasan mana yang baik untuk diri sendiri. Harus punya prinsip, gak boleh goyah. Islam memuliakan wanita, jadi percayalah bahwa apa yang disunahkan dan diwajibkan untuk kaum hawa itu yang terbaik. Jangan pernah menafsirkan sendiri, karena Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk umatnya.

    ReplyDelete
  2. Nama:Dwi Ayu
    Link share:https://www.instagram.com/p/BqYT0lAgCgm/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=295rsw35nqly
    email/twitter/FB/IG kamu:ig: mrs.styles25
    Jawaban: cara ku memuliakan diri sendiri adalah dengan cara menjaga diri sebaik mungkin, berusaha melakukan hal yang positive untuk diri sendiri dan yang paling penting, jangan melakukan hal yang bikin sakit hati

    ReplyDelete
  3. Nama : Dedik A
    Link Share : https://twitter.com/ardeto_khan/status/1064799744252305409?s=08
    Akun Twitter : @ardeto_khan
    Jawaban : Caraku, sebagai seorang laki-laki memuliakan perempuan dengan tidak melukai perasaannya, menghormati dirinya, seperti memghormati seorang ibu. Tidak menyanjungnya, hingga dia merasa dipuncak, karena memang kodrat seorang perempuan setingkat dibawah laki-laki. Meskipun begitu, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Selalu membuatnya tersenyum, tidak melakukan pelecehan dan penganggap bahwa perempuan adalah tempat untuk melampiaskan nafsu semata. Mengerti segala keinginannya, memberikan kepercayaan kepadanya. Memperlakukan perempuan dengan sebaik-baiknya, karena perempuan yang baik bisa menjaga dirinya. Dan laki-laki yang baik, adalah laki-laki yang memuliakan perempuan.

    ReplyDelete
  4. cara memuliakan diri: ke mal, makan enak, beli baju, kutek kuku, warnain rambut, tidur kayak nggak ada DL menyerang, spa ke salon, maraton nonton drama korea, baca fanfiction di wattpad, steaming fave sampai hape panas. #ehapayha

    ReplyDelete
  5. Nama : N. Dini S.
    Link share :https://mobile.twitter.com/redddddn/status/1065091727394914307
    Twitter : Dini (@redddddn)

    Jawaban :
    Cara saya memuliakan diri adalah dengan paham benar hak dan kewajiban yang saya miliki. Mencintai dan menerima diri sendiri. Memberikan kebebasan yang bertanggung jawab.
    Contohnya dengan cara pengaturan keuangan pribadi saya, selain kebutuhan pokok dan tabungan beberapa persen saya alokasikan khusus untuk menyenangkan diri. Biaya melakukan kegemaran seperti 'fangirlingan', jajan buku, kebutuhan merawat diri sbg bentuk cinta saya pada tubuh saya (make-up dan skincare), dan bepergian untuk melepas dahaga saya yang haus akan ilmu dan pengalaman baru.
    Tidak hanya uang, waktu pun saya atur agar selain membuat diri melakukan kewajiban seperti bekerja agar dapat menghidupi diri sendiri. Selalu ada waktu yang saya luangkan untuk diri sendiri - Me Time.
    Saya adalah Ratu bagi diri saya sendiri ☺

    ReplyDelete
  6. Nama: Dion
    Twitter: @coffeewing: https://twitter.com/coffeewing/status/1065098843765624832?s=09
    Jawaban: Caraku memuliakan diri sendiri adalah dengan berani berkata tidak. Tidak pada gurauan seksis, tidak pada pemberian kerjaan yang bukan bidangku, tidak pada ajakan yang tidak kusukai. Jadi perempuan bukan berarti kami harus jadi penurut yang nggak perlu mikir, kami juga punya hak yang sama dengan lelaki.

    ReplyDelete
  7. Nama: Rika Oktaviani
    Link share: https://twitter.com/rikaoktvnn/status/1065205995385700352?s=09
    IG/Twitter: @rikaoktvnn
    Jawaban:

    cara memuliakan diri?

    Kalau aku melakukan hal yang sederhana dulu kak, sebagai orang muslim, sudah kewajibannya aku menjaga seluruh auratku, memakai pakaian yang sewajibnya umat muslim. Percaya atau gak, kalau perempuan yang berjilbab itu sudah keliatan mulianya kak, terus menjaga ucapan, pendengaran, kaki biar selalu melangkah ketempat-tempat yang baik, tangan biar selalu terjaga dari hal-hal yang kurang baik. (aamiin insyaallah ini sudah berjalan, semoga selalu istiqomah)

    Bergaul dengan sewajarnya, aku cuma pengen yang baik-baik aja buat diri aku sendiri kak. Tetapi aku juga manusia, butuh hiburan. Jadi, usahaku untuk memuliakan diriku itu sebisa mungkin membuat aku sendiri itu nyaman, euum beli buku juga termasuk memuliakan diri gak sih kak?­čść walau beli buku, tetapi sebisa mungkin harus tetap hemat. Gak boleh boros, jangan terlalu memanjakan diri lah buat hal-hal yang cuma untuk kebahagiaan duniawi hhe, kebahagiaan sesaat, memuliakan sih memuliakan tapi kalo tapi kalo diri sendiri gak bisa ngontrol buat hal-hal yang gak berguna dan terlalu bebas yaa bukan memuliakan itu namanya­čść


    ReplyDelete
  8. nama : Farida Endah
    Link Share : https://twitter.com/farida_271/status/1065344028663672833
    email / twitter/ Ig : faridaendah@gmail.com // @farida_271 (twitter dn IG)
    jawaban : cara aku memuliakan diriku sendiri yaitu istirahat, makan yang cukup serta selalu belajar untuk bisa menjadi lebih baik dari kemarin

    ReplyDelete
  9. Nama:Muhammad Saiful Umam
    Link share: https://twitter.com/kangsaiful_/status/1066340962283081728
    twitter:@kangsaiful_
    Jawaban: Caraku memuliakan wanita ialah dengan memanusiakan manusia. Sebab wanita adalah manusia dan aku juga manusia maka aku harus memberi rasa kemanusian pada wanita. Bagaimana aku ingin diperlakukan oleh orang lain, maka begitu pula lah aku akan memperlakukan mereka, termasuk sikapku pada wanita. Sebetulnya wanita sama2 memiliki hak layaknya seorang laki2. Mereka ingin diberi ruang untuk mengekspresikan apa yg menjadi passionnya, mereka ingin pula meraih apa yg diimpikannya. Tentu saya mendukung atas kesetaraan dan perlakuan itu pada wanita. Kuncinya ialah saling menghargai hak dan kewajiban masing2. Dalam menuju itu maka dibutuhkan saling komunikasi, saling mengerti dan saling menghargai. Itulah setidaknya sikap yg harus dimiliki setiap individu untuk merawat harmoni. Baik harmoni antar gender maupun lintas gender. Dan lagi - dalam keyakinanku - Ibu yg adalah bangsa wanita, sangat dijunjung harkat dan martabatnya. 3x Nabi Muhammad menyebut ibu untuk dimuliakan tentu kita sebagai ummatnya harus memastikan bahwa Ibu dan para calon ibu untuk selalu dalam posisi penuh kehormatan dan penghormatan.

    ReplyDelete