Search This Blog

Tuesday, December 19, 2017

Drunken Monster: Belajar Kreatif ala Pidi Baiq


Judul buku: Drunken Monster
Penulis: Pidi Baiq
 Ilustrasi Sampul dan Isi: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Cetakan:  4, Agustus 2015
Tebal: 290 halaman



Kalau saja belum baca Dilan, saya pasti bakal terkaget-kaget dengan gaya menulis (dan gaya bagi-bagi duit) Pidi Baiq yang sangat nyentrik di buku ini. Beberapa kalimat urutannya bolak-balik, kadang bikin jengkel naluri editor. Tapi, seperti dicantumkan dalam pengantar buku ini, kisah-kisah dalam buku ini ditulis untuk mencairkan apa-apa yang terlalu normal dan formal di kehidupan kita. Lewat petualangannya, Pidi Baiq mengajak kita berdialog dengan orang-orang pinggiran yang sering kali hanya lewat begitu saja dalam batas pandangan. Buat orang-orang yang terlampau kaku (kayak saia), apa yang dilakukan si tokoh aku di buku ini mungkin iseng yang keterlaluan--yah walaupun Pidi kemudian menutupinya dengan memberikan uang dalam jumlah lumayan kepada para korbannya. Tidak hanya ibu penjual rokok dan tukang becak depan kompleks yang dikerjain Pidi di buku ini, sampai Pak Polisi pun iyaaaa. Ampun bener kan yha!!!

Bayangkan, pas ada cegatan aka operasi ketertiban lalu lintas, si toko aku ini iseng mengusili Pak Polisi. Dibilangnya SIM-nya ketinggalan di rumah padahal kartu itu sengaja disembunyikannya, tidak dikeluarkan saat diminta. Terang saja pak polisi menilangnya di tempat. Pidi harus membayar uang denda Rp20.000. Lah, setelah diserahkan uangnya, diambilnya kartu SIM dan ditunjukkan kepada Pak Polisi. Ini entah orangnya terlalu kreatif atau kekendelen (nekad) ya? Udah gitu, uang yang dua puluh tibu tadi pakai diminta balik lagi pulak. Ada lagi tingkahnya yang lain. Dengan niat berbagi kebahagiaan ala orang modern kepada seluruh lapisan masyarakat, Pidi mengajak tiga tukang becak untuk kongkow di kafe. Gimana caranya membujuk mereka agar mau masuk kafe yang notabene bukan dunia mereka? Dibohongin dulu, bilangin mau diajak beli barang dan Pidi butuh orang untuk membantu membawanya.


Saya awalnya kurang setuju dengan si aku yang banyak bohongnya hanya untuk menyalurkan rasa isengnya. Tetapi, semakin ke belakang, saya kok mulai memaklumi (dan menikmati) keisengan-keisengan si tokoh yang lebih digerakkan oleh jiwa kreatifnya dan bukan oleh niat yang buruk. Lagi pula, untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar berbeda kadang memang diperlukan cara-cara yang juga berbeda dari biasanya. Kapan lagi bisa gantian minta uang ke pak polisi kalau tidak dengan ide pura-pura ketinggalan SIM. Kapan lagi bisa mengajak para tukang becak nongkrong ke kafe kekinian kalau tidak diakali dulu (walau akhirnya memang terbukti para tukang becak itu cenderung merasa kurang nyaman saat berada di kafe). Dalam pandangan saya, Pidi Baiq dengan kreativitasnya sendiri memilih untuk usil sebagai caranya berbagi kepada orang-orang lain. 


Orang bilang, kita harus sesekali keluar pakem untuk bisa jadi orang kreatif. Ini sepertinya yang juga hendak ditunjukkan penulis lewat seri ini. Ya nggak keluar pakem gimana kalau pagi-pagi sehabis nganterin anak eh dia udah nyangsang di Tangkupan Perahu. Udah gitu, pas turunnya pakai drama ngusilin mamang pejual rokok. Dalam bab-bab buku ini, kita akan diajak menyaksikan tingkah polah Pidi dalam mengusili orang-orang kecil. Tidak dengan maksud untuk mengganggu mereka, tetapi untuk menyadarkan mereka (dan mungkin juga kita) bahwa hidup janganlah selalu kaku dan serius. Bagian pas Pidi berusaha menenangkan istrinya yang marah karena dia pulang telat juga bikin ngakak tapi  juga so sweet mantap. Ada kalanya, bercanda itu baik dan menyenangkan, juga mendekatkan orang-orang yang jarang dekat. Maka tidak mengejutkan, ketika sampai di penghujung akhir buku ini, rasanya saya ingin terus berjalan-jalan menikmati kota Bandung bersama si tokoh aku yang asyik-nyentrik tapi baik ini.


Bahkan sampai di penghujung belakang buku ini, Pidi Baiq masih menyisakan pancingan tawa dalam biodata singkatnya. Simak saja: “Selain menulis dia juga makan diakhiri dengan minum. Kalau mandi suka telanjang. Selalu ingin sembuh kalau dia sedang sakit. Dilan banget kan ya wkwkwk. Bintang tiga, jangan?

1 comment: