Search This Blog

Monday, December 18, 2017

Cerita Orang-Orang Suci dalam Persekongkolan Ahli Makrifat

Judul: Persekongkolan Ahli Makrifat
Pengarang: Kuntowijoyo
Sampul: Katalika
Cetakan: Januari 2019
Pemeriksa Aksara: Trie Hartini
Tebal: 187 hlm
Penerbit: DIVA Press dan Mata Angin




Menarik untuk menyebut beberapa  buku Kuntowijoyo sebagai sastra biografi, terutama pada Impian Amerika dan Persekongkolan Ahli Makrifat. Dua buku ini memiliki ciri yang hampir serupa, meskipun wadahnya berbeda: setiap bab adalah biografi singkat dari orang-orang yang berlainan. Dalam Impian Amerika, Kuntowijoyo mengikat kisah-kisah orang per orang tersebut lewat nasib mereka sebagai perantauan di Amerika Serikat. Di buku ini, ada satu sifat khusus yang dapat kita tandai dari karakter-karakter per cerpennya: ahli ibadah, wali Allah, orang shalih, sufi, atau sebutlah orang-orang suci. Warna sufisme dan nilai-nilai Islam memang kental sekali di buku ini, tetapi bobotnya tidak seberat Khotbah di Atas Bukit. Malah, cerpen-cerpen di buku ini ringan sekali dibacanya meskipun isinya sungguh berbobot. Yang pernah baca Impian Amerika mungkin akan menemukan pola bercerita yang sama di buku ini, hanya saja setting lokasinya yang berbeda—yang berakibat pada berbedanya juga aspek budayanya. Warna lokal lebih mendominasi cerita-cerita di buku ini meskipun ada satu-dua cerita yang berlatar di Belanda. Saya sangat menyukai cerita-cerita di buku ini.

Buku dibuka dengan cerita berjudul sangat sejuk, Hati yang Damai, Kembalilah kepada Tuhan. Secara cerita, cerpen pertama  ini mungkin klise dan versi panjangnya entah sudah berapa kali diangkat ke layar kaca. Kisah tentang ahli maksiat yang memutuskan bertobat di penghujung usianya—kita sering sekali bukan mendengar cerita seperti ini? Tetapi, tidak berarti cerpen pertama ini menjadi biasa. Kuntowijoyo seperti menambahkan butir-butir permata yang sangat arif lagi sejuk di cerita ini. Penulis menghadirkan kisah yang seolah tampak nyata, yang kita mungkin pernah atau akan melihatnya sendiri di masjid di kampung kita. Inilah salah satu luar biasanya seorang Kuntowijoyo. Kisah-kisahnya selalu sederhana tetapi justru dari kesederhaan itu cerpen-cerpennya terasa nyata, terasa nyaman saat dibaca karena tidak menjejalkan ke dalam pikiran-pikiran pembaca tokoh yang suka aneh-aneh dari negeri entah benua jauh di sana. Tentang Pak Tua yang ingin bertobat, juga Kiai Hasan yang mengingatkan kita pada modin sepuh nan bijaksana, orang-orang seperti ini begitu dekat dengan kita.

Ada sebuah cerpen yang sangat menarik di buku ini, judulnya Ada Pencuri di Dalam Rumah. Si Kakek di cerita ini digambarkan memiliki linuwih atau kelebihan yang didapatkannya sebagai akibat kedekatannya dengan Tuhan. Kita mungkin menyebutnya sebagai ahli makrifat. Mereka ini orang-orang yang konon tahu kapan datangnya hujan, bia mendengar atau melihat kabar yang tengah terjadi di kejauhan, bahkan mengetahui isi hati seseorang hanya dengan menatapnya. Maka adalah mudah bagi para wali seperti ini untuk hanya mengetahui jika sedang ada maling di dalam rumah. Tetapi, tidak kemudian mereka sombong dengan ilmunya. Para wali inilah bukti tak terbantahkan dari pepatah semakin berisi, semakin merunduk batang padi. Ilmu tidak mereka gunakan untuk kepentingan pribadi sehingga tidak menjadikan diri tinggi hati. Simaklah betapa si Kakek membiarkan si pencuri mencuri ayam mereka meskipun secara ilmu ia bisa dengan mudah menangkap pencuri tersebut. “Kau harus pemurah. Sedangkan Tuhan itu Maha Pemurah. Dia beri rizki kepada siapa yang ia kehendaki. Bahkan seorang pencuri. Dia sudah meringankan kakinya ke sini, berarti rezekinya di sini.” (hlm 42)

Orang-orang seperti Kakek ini sering kali susah dipahami maksudnya, meskipun akhirnya kita baru bisa mengetahui alasannya setelah peristiwanya berjalanan. Kuntowijoyo mungkin terinspirasi dengan kisah Nabi Khidr yang pernah membuat Nabi Musa AS bingung dengan perintah-perintah nyelenehnya untuk melubangi perahu. Yang menarik dari cerpen ini, Kuntowijoyo menyebutkan alasan mengapa para ahli ilmu  cenderung “menyembunyikan” kelebihannya. “Sebab Kakek harus mempertanggungjawabkan ilmu di hari kemudian. Orang lain yang tidak berilmu hanya sedikit tanggung jawabnya. Kakek  harus benar-benar bersih hatinya.” (hlm. 48). Bahkan, ada lima jenis dosa yang siap mengoda orang-orang berilmu seperti Kakek. Ketika godaan itu mulai datang, Kakek memutuskan untuk membuang semua ilmunya ketimbang jatuh dalam dosa. Ini adalah perumpamaan yang sedemikian luar biasa menyentil bagi kita yang selama ini begitu mendewakan ilmu yang kita miliki, padahal itu belum ada apa-apanya dibanding ilmu Tuhan, dan jangan lupa bahwa kita juga harus mempertanggungjawabkannya kelak.

Masih banyak kisah “orang suci” di buku ini. Tidak salah jika edisi kedua kumcer ini mengambil judul “Persekongkolan Ahli Makrifat” yang menurut saya lebih menggambarkan isi bukunya ketimbang judul edisi pertama yang berbau politik “Hampir Sebuah Subversi: Kumpulan Cerpen”.  Sebuah cerpen berjudul “Da’i” sepertinya masih bisa menggambarkan fenomena “agama masih sebatas luaran saja” seperti yang banyak kita saksikan saat ini (padahal cerpen ini ditulis Kuntowijoyo pada tahun 1994). “Benar bahwa Tuhan tidak akan melihat baju, tapi bahwa ada orang Jawa berpakaian Arab, tidak masuk akal mereka” (hlm. 79). Semua orang suci di buku ini, oleh Kuntowijoyo, digambarkan sebagai mereka yang biasa-biasa saja dalam berpakaian. Mereka berbaju dan berlaku sebagaimana adat setempat. Tidak pernah mereka memaksakan pendapatnya sebagai yang paling benar. Kearifan dan hikmah menjadi yang terutama dalam mengajarkan kebaikan, bukan lewat paksaan dan ancaman. Para ahli makrifat di buku ini adalah orang-orang yang telah mencapai level beragama yang tinggi, yang tidak lagi memandang dunia sebatas fisik semata tetapi telah mampu menembus jauh hingga ke hati, bahkan ke masa depan. Kita bisa belajar banyak kepada mereka.


Itulah. Banyak yang kau tak tahu tentang nasib, kita hanya sekadar menjalani.” (hlm. 45)

3 comments: