Search This Blog

Thursday, August 3, 2017

Kerinduan Danarto dalam Godlob



Judul: Godlob, Kumpulan Cerpen
Pengarang: Danarto
Tebal: 252 hlm
Cetakan: 1, Juli 2017
Sampul: Amalina
Penerbit: Basabasi



Sekali lagi, membaca karya Danarto terbukti membuat saya ‘kebingungan’. Saya menjadi bagian dari sekian banyak pembaca yang berujung pada tanya setelah menyelesaikan membaca Godlob. Cerpen-cerpennya memang cenderung berat, terutama berat dengan aneka perlambang. Dan rasa ‘berat’ itu semakin intens ketika Danarto menjejalkan perlambang Ketuhanan dalam tulisan-tulisan di buku ini. Tokoh-tokohnya begitu liar, dalam artian mereka begitu rindunya ingin bertemu Tuhan sehingga maut pun mereka tantang. Putri Salome bahkan bertindak lebih nekat lagi.  Begitu kuatnya keinginan untuk bisa melihat langsung wajahNya, wanita itu memutuskan untuk menentang perintah-perintahNya. Bagi orang lain, apa yang dilakukan Salome dan Rintrik yang buta mungkin dianggap sebuah kegilaan. Tetapi bagi para pecinta, tindakan-tindakan ini adalah wajar adanya. Semacam penyakit kerinduan akut yang mendera para perindu.

“Orang jantan adalah orang yang mengakui keterbatasannya.” (hlm 44)

1. Godlob
                Cerpen yang diawali dengan muram dan angker ini ternyata tidak berujung pada horor. Justru, lewat darah, luka, dan kematian, Danarto seperti hendak memprotes perang. Dalam perang, selalu rakyat yang menjadi korban, selalu para serdadu yang diumpankan sementara para petinggi hanya duduk-duduk di dalam benteng menyusun strategi. Dan ketika akhirnya seluruh tentara binasa—anak-anak yang masih muda itu, yang pergi berperang hanya sekadar memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang baik—tidak ada yang tersisa selain kesedihan bagi yang ditinggalkan. Apalah artinya gelar pahlawan jika keluarga diceraiberaikan dan anak habis tuntas tiada bersisa?

2. JUDUL: JANTUNG TERPANAH
                Cerpen ini unik sejak dari judulnya, yang bukan berupa tulisan tetapi gambar jantung terpanah sebagai perlambang jatuh cinta. Judul unik ini rupanya sesuai dengan isinya, tentang seorang wanita buta yang jatuh cinta kepada Tuhannya. Begitu tajamnya panah asmara itu menancap, sehingga bahkan ancaman maut dari sesamamanusia pun tidak mampu mengoyahkan tekadnya untuk menghadap sang Kekasih Sejati. Cerpen ini memiliki aroma sufisme yang kuat.

 
3. Kecubung Pengasihan
                Tentang seorang wanita hamil yang gemar memakan kembang-kembang di taman. Tetapi, kembang-kembang itu gemar bicara dengan si wanita hamil, sehingga disangka gila dia oleh banyak orang. Tetapi, tiada yang tahu isi hati setiap manusia kecuali Tuhannya. Bahkan seorang yang gila pun bisa menjadi walinya. Danarto lewat cerpen ini seperti menyindir kita—orang-orang waras—yang sering kali terlalu yakin pada keimanan kita, terlalu jumawa dengan ketakwaan diri, sehingga mengerdilkan mereka yang berbeda cara beribadahnya.

4. Armagedon
                Judulnya ala-ala Barat, tetapi ada unsur horor nusantara (tepatnya Bali) di cerpen ini. Setan dilambangkan sebagai bekakrak yang menghantui padang kering. Ia menggoda manusia dengan tanya dan logika, sehingga akhirnya manusia pun akan terjungkal akibat bujuk rayunya. Mungkin, di cerpen ini, Danarto ingin menunjukkan betapa logika dan rasio tidak selamanya jumawa dalam melawan tipu daya setan penggoda manusia. Dan ketika sang manusia jatuh dalam perangkap iblis, mungkin itulah saat kiamat baginya.

5. Nostalgia
                Ini adalah cerpen yang paling saya sukai di buku ini. Jika saat ini banyak sastrawan yang menceritakan ulang kisah Mahabharata dengan versi mereka sendiri, Danarto sudah melakukannya sejak 1969. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis Mahabharata dari versi Drupadi, maka Danarto mencuplik sebagian dari  epos besar India itu dengan menyisipkan aroma sufisme Islam yang kental. Lewat sosok Abimayu, Danarto melukiskan bagaimana pahlawan Padang Kurusetra itu menyambut maut dengan kebahagiaan yang sempurna, sebagaimana kebahagiaan para pecinta sejati yang telah menemukan makna hakiki dalam kehidupan ini. Seorang pecinta yang telah menemukan Kekasih Sejatinya, lebih dari dewa-dewi, bahkan lebih dari Batara Kresna itu sendiri.

6. Asmaradana
                Akhirnya, saya menyerah juga membaca cerpen ini. Judulnya Jawa banget tetapi isinya adalah Hamlet dan Horatio-nya Shakespeare. Jika ada sastrawan yang bisa menggabungkan Jawa dengan Inggris semudah dia memadukan seni dengan sastra, maka Danarto adalah salah satunya. Saya masih menebak-nebak ini cerpen mau ngomongin apa, tapi saya belum dapat pencerahan rupanya. Tebakan random saya sih, cerpen ini seperti hendak berkata kalau dunia ini tidak lebih dari sekadar panggung sandiwara.  

7.  A B R A C A D A B R A
A B R A C A D A B R
A B R A C A D A B
A B R A C A D A
A B R A C A D
A B R A C A
A B R A C
A B R A
A B R
A B
A

Ini bukan salah ketik, memang seperti inilah judul cerpen terakhir di buku ini. Kalau sekarang lagi model tuh cerpen eksperimental, maka Danarto pastilah salah satu juaranya.  Tokohnya masih Hamlet dan Horatio. Hamlet mencoba mati dan lewat sudut pandang penulis—yang anehnya bisa melihat Hamlet di alam sana—pembaca seperti disuguhi bagaimana keadaan dan panorama alam setelah kematian. Sebisa mungkin, penulis berusaha menjabarkan jawaban atas salah satu pertanyaan paling banyak ditanyakan oleh manusia yang masih hidup. Tetapi, sayangnya, Hamlet malah hidup lagi. Bahkan, dia tak tahu apakah benar alam yang dikunjunginya barusan adalah alam maut. Sepertinya, memang tidak akan pernah ada manusia hidup yang bisa mengetahuinya. Kok hal seberat gini bisa kepikiran dibikin cerpen ya, keren memang Pak Danarto.

Tema ketuhanan memang begitu kental dalam cerpen-cerpen Danarto, tetapi di buku ini tema itu begitu dominan menguasai. Berulang kali tokoh-tokohnya menyuarakan nihilisme dalam hidup. Berulang kali pula Danarto membolak-balik perkataan sehingga kelihatannya apa yang ditulisnya itu membingungkan. Tetapi pembaca yang sudah pernah membaca karya Rumi, literatur-literatur tentang sufi, atau setidaknya komik tentang perjalanan hidup Budhha Gautama, akan bisa sedikit memahami apa yang dimaksud Danarto dengan kalimat-kalimat berbaliknya. Bahwa sejatinya manusia berasal dari bukan apa-apa dan akan kembali kepadaNya sebagai bukan apa-apa kecuali hamba-hambaNya. Lewat bahasa yang terbolak-balik, Danarto seperti hendak mengingatkan kita akan kefanaan dan kekerdilan diri di hadapan Sang Pencipta.   

Cerpen-cerpen Danarto anehnya juga masih tetap relevan dibaca saat ini. Bahkan setelah hampir lima puluh tahun berlalu semenjak cerpen-cerpen ini dituliskan, orang masih bisa membaca dan tersentil batinnya saat membaca Godlob. Memang begitulah seorang sastrawan sejati. Ia tidak meninggalkan kepada kita harta benda yang bisa habis sewaktu-waktu, melainkan sebentuk pemikiran yang mungkin akan terus tumbuh mengembang, atau dipikirkan ulang sehingga kalaupun tidak menciptakan sesuatu yang baru, pastilah perlu untuk dipikirkan atau direnungkan lagi dan lagi.  

“Apakah ada tingkat-tingkat kebenaran? Agak benar! Lalu banyak benar! Lalu setidak-tidaknya benar! Lalu lumayan benar! (hlm. 62)

No comments:

Post a Comment