Search This Blog

Monday, June 5, 2017

Review, Blogtour, and Giveaway 'RAHWANA' --The Winner

Judul: Rahwana
Penulis: Anand Neelakantan
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini, Chandra Citrawati
Penyunting: Shalahuddin Gh
Penyelaras Bahasa: I Wayan Sariana
Pemindai Aksara: Jenny M Indarto
Penggambar Sampul: Imam Bucah
Penata Letak: desain651@gmail.com
ISBN: 978-602-6799–24-1
Penerbit: Javanica




blurb:
“Akulah Rahwana, sang Asura! Selama ribuan tahun aku difitnah. Kematianku dirayakan di mana-mana dengan sukacita. Kenapa? Karena aku menantang bangsa Dewa demi kebahagiaan putriku, Sinta? Karena aku berjuang membebaskan rakyatku dari aturan kasta yang semena-mena? Engkau telah mendengar kemenangan Rama sang penakluk dalam Ramayana. Sekarang simaklah Rahwanayana, karena aku Rahwana!”

Sejarah selalu menjadi milik sang pemenang. Ia akan mendapatkan semuanya, termasuk menjadi kebenaran. Namanya dilantunkan penuh puja-puji para pujangga, dan selama ribuan tahun setelahnya, sosoknya bahkan berkembang sedemikian rupa sehingga bahkan disembah sebagai perwujudan dewata.
Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana kisah Ramayana ini ketika dipandang dari sudut pandang Rahwana? Bagaimana jika versi Ramayana yang sekarang adalah versi dari sang pemenang? Bagaimana jika alasan sebenarnya Rahwana menculik Sinta adalah karena wanita itu ternyata adalah putrinya? Bagaimana jika peradaban bangsa Asura yang dihancurkan Rama ternyata jauh lebih maju daripada peradaban Ayodhya? Mengapa selama ini kita tidak memandang Rama dan pasukan wanaranya sebagai agresor yang telah membakar dan meruntuhkan sebuah kebudayaan besar bangsa Asura?

Dalam beragam kisah Ramayana, kita dicekoki dengan kisah kepahlawanan Rama dan Laksmana sebagai dua pangeran yang menyelamatkan Sinta dan mengalahkan si raksasa Rahwana sang penguasa angkara. Tetapi bagaimana dengan pihak yang kalah? Jangan-jangan, si kalah juga tidak sepenuhnya bersalah. Buku ini adalah kisah Ramayana dari sudut pandang Rahwana. Dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama, bergantian antara Rahwana dan abdi setianya, Bhadra. Pembaca diajak mengenal lebih dekat pribadi Rahwana, bagaimana pandangannya akan dunia, juga sepak terjangnya dalam menaklukan musuh-musuhnya. Dari sudut pandang ini, kita bisa memaklumi bahkan mengagumi sosoknya sebagai manusia biasa. Saya malah hampir tak percaya kalau kalimat indah ini meluncur dari ucapan Rahwana, sang penguasa Alengka:"Menurutku itu tak sopan. Apakah mempelai wanita hadiah sayembara? Aku bahkan pernah mendengar lelaki bangsa dewa yang menjual istrinya untuk dijadikan budak, menggadaikannya, atau mempergunakannya sebagai taruhan. sungguh menyedihkan, tetapi apa yang bisa diharapkan dari bangsa pengembara yang belum sepenuhnya beradab itu."

Sebagaimana Rama, Rahwana adalah manusia biasa juga. Hanya saja, keduanya berbeda ras. Rahwana berasal dari ras Asura yang berkulit hitam, pendek, dengan rambut ikal. Mereka adalah bangsa asli India. Sementara Rama dari ras Dewa yang berkulit lebih terang (kemungkinan dari ras Arya yang berasal dari India barat daya). Ras Dewa kemudian menginvasi Jambudwipa dan membasmi bangsa Asura dengan semena-mena. Kota-kota megah dan kuil-kuil indah diruntuhkan, dan yang lebih parah, prinsip kesetaraan dihapuskan dan diganti dengan sistem kasta sesuai ajaran para brahman dari ras Dewa. Ketika penyerangan brutal ini terjadi, Rahwana masih seorang remaja belasan tahun yang tinggal di tebing terpencil pulau Alengka (sekarang Srilanka). Kisah tentang keganasan suku liar bangsa Dewa yang memporak-porandakan daratan utama turut memicu amarah dalam diri Rahwana muda. Inilah saat takdirnya dimulai. Sebuah perjalanan dan penaklukan panjang telah membentang di hadapannya demi mengembalikan kejayaan peradaban bangsa Asura.

"Tapi aku tak berniat membunuh Rama. putriku membaktikan dirinya untuk Rama dan aku tak ingin membuatnya menderita. Aku hanya berencana menahan Sinta di Alengka sampai pengasingan dengan Rama selesai. Sinta bisa kembali bersama dengannya saat dia menjadi raja di kerajaan kecilnya." (Rahwana, hlm. 395)

Sebagai remaja, Rahwana dianugerahi dengan keberanian dan tubuh perkasa. Dia kemudian ditempa dengan pendidikan dan latihan dibawah bimbingan guru Mahabali dan Brahma yang kaya akan pengalaman dan kebijaksanaan. Pada usia 24 tahun, Rahwana telah menjelma seorang pemimpin yang berkharisma dan dikagumi rakyatnya. Di bawah komandonya, bangsa Asura dipersatukan sehingga mereka mampu menyerang balik Jambudwipa yang dikuasai bangsa Dewa. Berkat kepemimpinan Rahwana, hampir separuh daratan India kembali ke pangkuan bangsa Asura. Pembangunan kota-kota megah kembali marak, banyak kuil Siwa nan indah dibangun, pertanian maju pesat, dan Alengka sebagai pusat pemerintahan Asura berkembang menjadi wilayah paling maju dan kaya pada masa itu. Kesetaraan dijunjung tinggi, bangsa Asura sama sekali tidak mengenal sistem kasta. Semua orang bisa naik menduduki jawaban lebih tinggi selama dia mau berusaha dan bekerja keras meraihnya. Ini berbeda dengab bangsa Dewa yang membeda-bedakan pekerjaan dan penduduk berdasarkan sistem kasta. Ilmu pengetahuan juga maju di bawah pimpinan Rahwana. Bahkan, mereka berhasil merakit sebuah mesin terbang bernama puspaka yang menyerupai helikopter di era modern.


"Tak berbeda dengan mereka, kita mulai membeda-bedakan manusia. bahwa ada manusia yang murni dan ada yang tidak. bukan karena perbuatan atau pikiran mereka, melainkan karena garis keturunan." (hlm. 451)
 
Berbeda dengan banyak kisah Ramayana yang menyebut bangsa Asura ditindas Rahwana, di buku ini dikisahkan India atau Jambudwipa maju pesat selama di bawah kekuasaan Rahwana. Apa yang selama ini kita dengar dan baca tentang bobroknya bangsa Asura ternyata adalah hasil penulisan sejarah dari sisi sang pemenang, yakni bangsa Dewa. Dalam banyak hal, meskipun Rahwana juga bukan seorang pemimpin yang baik, tetapi bangsa Asura bisa meraih kedamaian dan hidup yang lumayan tenang di bawah pimpinannya. Mungkin, memang masih ada sedikit huru-hara dan pertumpahan darah, tetapi pertambahan usia turut mendewasakan sang Maharaja Rahwana sehingga dia mulai mengurangi perang dan fokus pada pembangunan. Buku ini akan menghadirkan sisi manusiawi Rahwana untuk kita. Saya mbrebes mili membacanya. Pandangan saya akan Rahwana berubah total saat menyaksikan perjuangannya sebagai manusia biasa, sebagai raja yang hanya ingin menolong rakyatnya dari penindasan bangsa penjajah dengan sistem kastanya, sebagai seorang ayah yang hanya ingin menyelamatkan putri tersayangnya.


"Rahwana tidak akan pernah dipuja dan dituhankan. Dia terlalu manusiawi untuk menjadi Tuhan."  (hlm. 500)
  
Rahwana dan Rama dalam buku ini seutuhnya adalah para manusia yang tidak bisa lepas dari jerat takdir. Berbeda dengan kisah-kisah Ramayana yang dipenuhi dengan dewa-dewi yang turut campur tangan langsung dalam jalannya cerita, dewa-dewi dalam Rahwana cenderung lebih pasif. Apa yang menjadikan Rahwana seperti Rahwana dan Rama seperti Rama adalah tindakan dan pilihan mereka sendiri. Bahwa takdir setiap manusia mungkin telah digariskan, tetapi masih ada kehendak bebas yang akan menentukan perjalanan hidupnya. Seperti kata penulis novel tebal ini, Rahwana menjadi Rahwana bukan karena dia jahat, tetapi lebih karena dia adalah korban dari keadaan. Tidak ada pahlawan dan penjahat sejati di buku ini, mereka semua adalah manusia-manusia yang terperangkap dalam jaring masyarakat dan waktu. Satu poin plus lagi, terjemahan serta suntingan buku ini bagus sekali. Saya sama sekali tidak merasa sedang membaca sebuah karya terjemahan. Diksi-diksi yang digunakan pun tepat dan menggena sekali. Novel ini mungkin tebal dan lama dibacanya, tetapi tidak akan rugi mereka yang menyempatkan untuk membaca Rahwana. 

"Akan tetapi aku selalu percaya bahwa masyarakat yang disebut beradab ketika memperlakukan wanita dan kaum tertindasnya dengan baik. Tatanan kasta sungguh kaku dan tidak adil. Aku tak mampu membayangkan keadaan orang-orang yang berada di anak tangga terbawah." (Rahwana, hlm. 375)
 
Mau DUA NOVEL RAHWANA gratis?


Penerbit Javanica yang baik banget itu mau bagi dua novel Rahwana yang keren ini buat dua calon pembaca. Semua saja boleh ikutan dan memiliki kesempatan yang sama untuk membawa pulang satu novel Rahwana yang sangat saya rekomendasikan ini.

1. Tinggal atau memiliki alamat kirim di wilayah NKRI.
2. Follow instagram @javanicabooks, atau kalau belum punya instagram silakan like fanpagenya di Penerbit Javanica
3. Silakan share postingan ini, boleh di Twitter atau Facebook
4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:

"Mana yang membuatmu lebih nyaman: menjadi diri sendiri tapi kurang  disukai atau menjadi seperti orang lain agar disukai, sertakan alasannya ya. Tidak ada jawaban salah atau benar di kuis ini. Semua jawaban adalah bagus, silakan jawab dengan sejujur-jujurnya beserta alasannya."

Setelah saya baca-baca (dan jawabannya bagus-bagus semua) inilah dua pemenang pilihan:

Nama: Dhamas Iki
Email: dhamas.iki@gmail.com
Link GA: https://twitter.com/dhamasiki/status/873883299860500480


Mochamad Faza HudaJune 5, 2017 at 8:48 PM
Link share fb : https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=1434434539951538&id=100001550165874
Akun fb : Mochamad Faza Huda


Selamat kepada para pemenang, saya akan menghubungi kalian berdua via media sosial terkait teknis pengiriman hadiah. 

Terima kasih teman-teman, sudah turut meramaikan giveaway ini.

41 comments:

  1. jadi diri sendiri ajah lah, ga mau hidup pake topeng ntar dikira spiderman :D Jadi diri sendiri lbh asik kalopun nanti dicela orang karena kekurangan kita tinggal teriak aja dikupingnya 'kalo manusia gak ada yg sempurna'

    ReplyDelete
  2. Menjadi diri sendiri, saat kita tidak berani mengakui diri kita sendiri, jangan berharap orang lain akan mengakui apa adanya kita. Rahwana saja memenggal kepalanya sendiri satu demi satu demi untuk tidak bermuka banyak (dasamuka). Berpura-pura itu melelahkan

    ReplyDelete
  3. Twitter @Sandra_artsense
    Link share https://mobile.twitter.com/Sandra_artsense/status/871637604092878848

    Jawaban:
    Saya lebih senang menjadi diri sendiri karena jika ada yang tidak suka sama sikap kita (meskipun benar), karya kita (meskipun udah mati-matian berkarya tidak dihargai), perasaan kita (meskipun kita sudah baik sama mereka), respon mereka bukan urusan atau hak kita tapi urusan kita adalah apakah Tuhan meridhoi setiap langkah kita^^ tentunya sibuk ingin dipuji dan dihargai makhluk itu sangat cape ya lebih baik minta dimudahkan jadi orang yang lebih baik lagi dari sang Maha terpuji^^ sikap be your self inilah yang saya dan Suami ambil dari Tokoh wayang asli Nusantara yaitu Antasena sebagai nama anak kami, Antasena adalah putra bungsu Bima yang paling sakti, pembela kebenaran dan kalau bicara tidak suka basa basi busuk dunia cmiiw^^

    ReplyDelete
  4. Twitter @sitasiska95 https://twitter.com/sitasiska95/status/871648858811416576

    Jadi diri sendiri walau tidak disukai. Jadi orang lain itu melelahkan, punya dua wajah itu ribet. Menjaga 1 wajah aja agar tetap segar dan bebas jerawat udah susah, apalagi kalau dua. Tapi, ada tapinya. Menjadi diri sendiri lantas nggak boleh meembuat kita berpikir bahwa bertindak seenaknya itu boleh. Karena ya walau diri kita cuma 1, kita hidup nggak sendirian tapi berkeluarga, bertetangga, dan bermasyarakat. Jadi, walau aslinya jutek, bukan berarti pagi-pagi sampai kantor setiap orang yang ketemu dikasih lihat muka jelek atau kayak marah-marah. Memang dengan begitu kita jadi diri sendiri, tapu kalau sikap kita justru menyakiti orang lain kan nggak bagus juga.

    ReplyDelete
  5. Link share fb : https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=1434434539951538&id=100001550165874

    Akun fb : Mochamad Faza Huda. Jadi diri sendiri namun kurang disukai atau berpura pura jadi orang lain agar disukai?

    Ehm... pertanyaan sederhana yang memunculkan pernyataan yang cukup sulit. Kebanyakan orang mungkin akan memberikan jawaban klise yaitu menjadi diri sendiri namun kurang disukai. *sok tau.

    Alasannya adalah kita hidup tidak untuk menyenangkan semua orang. Sebaik apapun kita pasti tetap akan ada saja yang tidak suka. *sok bijak.

    Iya, itu jawaban yang bisa menjaga image, tapi yakin itu jawaban jujur dari hati nurani sendiri (?) Bukan dari logika dan pengaruh kutipan kutipan bijak yang pernah dibaca(?)

    Sejujurnya sayapun jika disodori pertanyaan macam itu dan diharuskan memilih salah satu pasti ya akan saya pilih option pertama. Lol

    NAMUN, jika bisa lepas dari pilihan itu dan memberikan opini lain maka saya akan memilih menjadi lebih baik dari diri saya saat ini.

    Masalah disukai orang lain ataupun tidak bagi saya bukanlah masalah besar. Selama yang tidak suka kepada saya bukan orang yang berarti dan dekat dengan saya.

    Jangan cintai dirimu dan orang terkasih apa adanya, tuntutlah sesuatu agar bisa ada kemajuan. Namun yang mesti diingat adalah jangan keterlaluan menuntut sampai lupa memberi apresiasi. Yeah.

    Kembali lagi, kita adalah manusia yang dinamis dan harus berada dalam berbagai situasi dan lingkungan. Jadi kita memang harus jujur dan menjadi diri sendiri namun jangan lupa untuk mengenakan topeng pada situasi tertentu agar bisa berbaur dan beradaptasi.

    Akhir kata, Terima Kasih untuk mas Dion Yulianto yang sudah menyelenggarakan GA dan Penerbit javanica yang sudah menelurkan buku Rahwana terjemahan Indonesia.

    ReplyDelete
  6. Link Share :
    Twitter : https://twitter.com/FikRancs/status/871799103184920576
    FB : https://www.facebook.com/Fikrancs.01/posts/558994487822000
    saya lebih senang menjadi diri sendiri , karna menjadi diri sendiri lebih berarti daripada menjadi
    seperti orang lain yg banyak di sukai , hidup takan ada artinya bila hanya di sukai tapi tak bermanpaat untuk orang lain.
    " Apa yang menjadikan Rahwana seperti Rahwana dan Rama seperti Rama adalah tindakan dan pilihan mereka sendiri " hanya dari kata-kata itu saja kita bisa mengetahui bahwa hidup itu adalah pilihan ^^

    ReplyDelete
  7. Jawaban: Menjadi diri sendiri

    Untuk disukai orang lain, kita tak harus menjadi seseorang sesuai persi mereka, lalu meninggalkan porsi kita yang sebenarnya. Untuk membuat orang lain tertarik, kita tak perlu sesempurna para nabi, tak perlu sesukses para tokoh besar di luar sana. Kita cukup menjadi diri kita sendiri. Kita cukup menjadikan diri sebagai ramhat bagi sekitar, menjadikan diri sebagai pupuk yang menggemburkan semesta dengan kebaikan. Menjadikan diri sebagai pepohonan rindang bagi orang lain.

    Sebab, tujuan utama hidup ini bukanlah untuk disukai banyak orang, tetapi bermanfaat bagi banyak orang. Disaat dunia menyukai kita karena alasan, maka kelak dunia juga akan membenci kita karena alasan. Jadi, yang terpenting adalah buatlah dunia menyukai kita karena memang kita bermanfaat.

    ReplyDelete
  8. Link share : https://twitter.com/destinugrainy/status/871916197704601600

    Soal kenyamanan, tentunya menjadi diri sendiri meski kurang disukai. Tapi jujur saja hal itu kadang menjadi dilema. Apakah kita bisa tetap nyaman, kalau lingkungan di sekitar kita menuntut kita menjadi seperti orang lain? Belum lagi kalau, misalnya, kita punya tanggung jawab untuk menampilkan image tertentu. Atau orang lain berharap banyak pada figur yang melekat pada diri kita? Kalau kata Darwin, yang bisa survive adalah yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Yang pasti saya ingin menjadi lebih baik daripada kemarin.

    ReplyDelete
  9. Aku putuskan untuk memilih menjadi diri sendiri tapi kurang disukai alasannya ya aku nyaman dengan diriku sendiri, aku merasa sudah berusaha menjadi yang terbaik, walaupun kadang2 manusia diluar sama tidak suka dengan aku. Percayalah, mereka tidak suka saya berart ada masalah dalam dirinya. isa jadi iri dengki melihat pengcapaian saya selama ini makanya tidak suka karna alasan yang tidak masuk akal padahal saya nggak pernah cari ribut atau bikin salah sama dia. Pokoknya jadi diri sendiri aja, kan yang jalanin saya bukan dia. Namanay juga manusia, akunggak bisa bikin bahagia setiap orang dong. So, be yourself
    link share : https://twitter.com/MrsSiallagan/status/871926361270755328

    ReplyDelete
  10. menurutku lebih enak dan nyaman jadi diri sendiri , karena kalo jadi orang lain itu kesannya kaya hidup dalam cangkang dan ga bisa berkembang, sekalinya berkembang cangkang itu akan pecah dan akhirnya terlihatlah jati diriny yg sebenernya setelah ditutupi selama itu , beda hal hanya dengan menjadi diri sendiri itu seperti hidup dalam kepompong yang semakin lama berkembang dan diterima oleh semuanya dan pada akhirnya kepompong itu berubah menjadi individu baru yang lebih dewasa dan bijak dalam bersifat yang membuat orang lain senang dengannya.

    ReplyDelete
  11. Halo Mas Di..
    Terkait pertanyaan buat GA nya, saya cukup nyaman berusaha menjadi seperti orang lain, karena memang saya orangnya suka ikut-ikutan dan angin-anginan #apa Dan itu juga merupakan salah satu upaya saya untuk lebih ngeblend, karena saya kurang suka menjadi pusat perhatian. Dan kalau dari hal tersebut saya dapat bonus jadi disukai orang lain, why not?Walau tentu tidak dalam segala hal kita musti mengekor ke orang lain, ada prinsip-prinsip dasar yang menurut saya musti kita pertahankan, tapi secara umum saya tidak merasa ada masalah dengan menjadi seperti orang lain.

    Makasih Mas Di dan Javanica dah ngadain GA ini. Sukses selalu :)

    ReplyDelete
  12. Link Share:
    Facebook: https://www.facebook.com/AmarAmel/posts/10207102789608479?ref=notif&notif_t=like&notif_id=1496732520920333
    Twitter: https://twitter.com/Liamelinda/status/871989955261812736
    Jawaban:
    Aku akan memilih menjadi seperti orang lain agar disukai banyak orang, dengan hal ini aku bisa belajar untuk menghilangkan sifat sombong, angkuh, dan sifat buruk lainnya yang biasa aku tunjukkan dalam pergaulan. Untuk itu, aku akan terus memperbaiki diri dengan cara merubah sifat agar dapat lebih disukai dalam pergaulan.
    Dan menjadi seperti orang lain yang menjadi panutan yang baik akan lebih mudah bagiku untuk terus belajar menjadi orang yang disukai banyak orang.

    ReplyDelete
  13. Karena saya mencintai diri sendiri, jadi jelas saya lebih memilih untuk jadi sendiri. Bagi saya mencintai dii sendiri itu tidak sama dengan narsistik. Mencintai diri sendiri berarti kita menerima segala sesuatu yang ada pada kita sebagai potensi untuk terus berkembang. Memang nggak gampang, adakalanya kita berhadapan dengan sisi diri kita yang mungkin kita sendiri tidak sukai. Tapi bukankah ini yag disebut sebagai soul training? Kita perlu belajar berdamai dengan diri sendiri. Di sisi lain, menjadi diri sendiri bukan berarti kita bersikap dan bertindak sesuka hati. Menerima diri sendiri bukan berarti pasrah begitu saja. Jati diri tidak terbentuk atau ditemukan begitu saja. Bagi saya, ini adalah proses seumur hidup. Diri/karakter kita perlu terus dibetuk, diasah, dan dikembangkan selama kita hidup, karena masa hidup kita adalah masa pemurnian jiwa kita hingga kelak kita bersatu kembali dengan Diri Yang Agung. Ini hanya bisa dilakukan denga mengasihi dan menerima diri sendiri. Lagipula, bagaimana kita bisa mengasihi dan menerima orang lain, kalau tidak bisa mencintai dan menerima diri sendiri?

    ReplyDelete
  14. Syarat:
    1. Uda follow javanicabooks di IG
    2. Uda share postingan juga, aku tag dirimu yaaa
    3. Jawaban pertanyaan:

    Kl lebih nyaman ya pasti jd diri sendiri, walaupun ga disukai org. Tapi namanya manusia adalah makhluk sosial, mana bs begitu. Apa yg kita lakukan pastinya berdampak ke org lain. Menjadi diri sendiri pun perlahan akan mendapat cap egois dan tak mau mengerti org lain. Jadi siapa aku yg mengharap bisa menjadi diri sendiri di dunia yang keras ini? #tsahhh
    Jadi kalo memungkinkan aku bakal jd diri sendiri, kl ga memungkinkan ya terpaksa menjadi org lain deh. Contoh: aku sukanya pake sandal, itu aku banget. Tp kl kondangan kan terpaksa dong pake baju rapi supaya nyenengin yg merit toh. Jadi ya kita hidup ga bs lah jadi sendiri seratus persen. Ini yg aku pelajari sampai saat ini dan ya so far bikin aku nyaman sih...

    ReplyDelete
  15. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1874791415871209&id=100000211072449&ref=bookmarks

    Pilihan saya adalah menjadi diri sndiri namun di benci orang lain
    Meski terkesan naif, tapi menjadi diri sendiri adalah salah satu cara mnsyukuri dan mnghargai ada yg sudah Tuhan beri pda kita
    Tpi sbagai manusia, hidup kita dinamis. Selalu berubah, kita di tuntut untuk beradaptasi
    Mengikis sifat idealis yg kita pegang selama ini
    Meski enggan dan brlawanan dgn prinsip, kita trpaksa mnjadi orang lain
    Mnjadi orang lain bkan masalah, selama itu menuju kbaikan
    Lagi lagi, ini hanya prkara perspektif. Sperti dlam buku ini, kita jadi tahu bahwa Rahwana tidak sekejam itu
    Dengan menjadi orang lain, kita jadi blajar memahami posisi orang lain. Sbagaimna kita jga ingin di pahami orang lain, dalam kondisi yg brbeda
    Manusia boleh saja mnjadi orang lain demi beradaptasi karna dgn bradaptasilah manusia akan lolos dri seleksi alam
    Namun tetap selipkan sikap idealis kita sbgai pegangan dan pringatan agar kita tahu batas batas nya ^^

    ReplyDelete
  16. Sudah pasti "menjadi diri sendiri tapi kurang disukai" karena manusia tidak bisa selalu menyenangkan semua orang. Pendapat/pandangan orang lain adalah bahan PERTIMBANGAN, bukan PATOKAN.

    ReplyDelete
  17. Twitter : @PidaAlandrian92

    Aku sihudah pasti lebih milih jadi diri sendiri tapi kurang disukai. Kenapa? Karenaa yaa bodo amat mikir apa kata orang. Ini hidup-hidup aku, kenapa aku harus mikir pendapat orang lain. Emank sihh hidup butuh bersosialisasi dengan orang2 sekitar, tapi bukan berarti kita juga hrus ngikutin dan nurutin apa yg orang mau kan.. Mungkin ada satu dan dua hal yg mungkin kita ikuti apa kata orang lain, seperti pendapat misalnya.. Tapi untuk diri sendiri ttap jadi diri sendiri aja. K

    ReplyDelete
  18. Sebagai aku, tentu memilih diri sendiri tetapi kurang disukai. Sebab aku tidak dilahirkan untuk menyenangkan setiap orang. Orang-orang tidak menyukaiku tidak apa-apa, aku akan tetap menyukai mereka.

    Link share:
    https://twitter.com/windyagustin8/status/872139317963104256

    ReplyDelete
  19. kalau saya lebih nyaman menjadi diri sendiri walaupun tidak disukai ya karena aku tetaplah aku, bukan kau atau dia, toh hidup hanya mengaku-ngaku. tak perlu takut untuk disukai ataupun tidak disukai, lagian perasaan suka dan tidak suka, aku kira hanya masalah waktu. kita sama sama suka ketika kita memiliki tujuan yang sama atau mungkin perasaan yang sama lalu ketika kita memiliki tujuan yang berbeda kita tak lagi suka. yang ada kita saling berkompetisi. aku tidak percaya perasaan suka dan tidak suka bersifat mutlak pada manusia, yang ada dinamis. aku percaya pada tuhan, "apa kau tidak sukai mungkin yang terbaik bagimu, apa yang kau sukai mungkin sebaliknya". hidup memang terlalu asik untuk dinikmati..


    share link : https://mobile.twitter.com/OraSerep/status/872156837658808321?p=v
    twitter: @OraSerep
    fb: Muhammad Bakhtiar

    ReplyDelete
  20. Menjadi diri sendiri meskipun tidak disukai. Karena ketika menjadi selain diri sendiri meski agar disukai oranglain, sejatinya kita sedang tidak menyukai diri kita sendiri, menipu diri sendiri. Saya percaya bahwa bagaimanapun yang paling butuh penerimaanmu adalah dirimu sendiri.

    Link share d twitter https://mobile.twitter.com/UlumArifah/status/872270679680237568

    ReplyDelete
  21. https://www.facebook.com/vanbigram/posts/1708966292481758?notif_t=like&notif_id=1496817033009747

    Aku masih tidak mengerti dengan istilah "menjadi diri sendiri" itu yang seperti apa, sementara diriku saja lahir dalam sebuah keluarga, dalam sebuah lingkungan masyarakat, kemudian aku sekolah diantara banyak kepribadian baru, mendapatkan pelajaran dan pemahaman baru, terlebih ketika nyantri di pesantren, kemudian mengenal internet dan membaca buku. demikian banyak pengaruh orang lain pada diriku, entahkan tokoh yang ku teladani, tokoh-tokoh yang kepribadiannya menginspirasi dll. yang semuanya itu membentuk diriku menjadi yang seperti sekarang ini,kepribadianku, pola pikirku, kepedulianku, kepekaan sosial, bahkan sampai keputusan hati nuraniku tidak lepas dari apa yang menempaku selama ini, itupun belum final.
    jadi jika aku ya,,,,menikmati diriku yang sekarang ini, entahkah itu kemudian di sukai atau tidak disukai, dibanding-samakan dengan sikap orang lain, itu hanya gejolak singkat, kita bisa berbagi pemahaman, aku tidak harus berbeda, tidak pula harus sama, dan yang jelas aku senantiasa membuka diri, tidak mau terkungkung pada satu pemahaman kemudian beku di dalamnya, dan bahkan jika memungkinkan untuk berbagi, aku akan berbagi, menjadi diri pada orang lain (baca: menginspirasi)-

    ReplyDelete
  22. https://www.facebook.com/eko.wuryantoro.5/posts/1072605546174095
    Kalau boleh memilih saya akan memilih untuk menjadi diri sendiri tapi sedikit tidak disukai orang, karena bagaimanapun manusia akan nyaman dengan apa yang ada dirinya dan di perjuangkanya. Ibarat LEMPER itu biasanya berisi abon, nah itu saya. Bagaimanapun dijelaskan lemper menurut saya ya berisi abon, Lemper=saya hahaha
    Tetapi dalam menjalani hidup manusia tak lepas dari bermasyarakat, jadi adakalanya sejenak kita memposisikan diri menjadi orang lain untuk tetap hidup, tetap menjalin hubungan, tetap saling suka satu sama lain. Ibarat lagi zaman modern ini LEMPER sudah tak hanya berisi abon, banyak kreasi masakan LEMPER. Salah satunya LEMPER abon di campur daging ayam, Nah itu sesekali harus mengkreasikan cita rasa. Jadi kembali lagi pada jawaban saya saya akan menjadi diri sendiri walaupun sedikit tidak disukai, karena yang saya tau dari kecil LEMPER itu isinya abon, mau bagaimanapun sampai kapanpun LEMPER itu isinya abon dan saya suka hahaha.

    ReplyDelete
  23. https://twitter.com/BlogpostRizki/status/872444495001812993

    Aku akan memilih menjadi diri sendiri meski kurang disukai karena orang-orang datang dan pergi. Bagaimanapun satu orang yang akan selalu bersama kita di hidup ini adalah diri sendiri sehingga sangat penting untuk menyukai dan bersikap menerima. Selain itu, setiap orang pun dilahirkan unik dan berbeda, sehingga jika tidak menjadi diri sendiri itu sama seperti menolak karunia Tuhan. Lagipula lebih baik berfokus kepada diri sendiri dengan berusaha untuk mengembangkan serta memperbaiki sikap dan sifat daripada berusaha menjadi orang lain yang belum tentu baik dan cocok dengan keunikan yang ada di diri kita. Tidak masalah mencontoh hal baik pada diri orang lain atau orang kebanyakan namun tetaplah menjadi pribadi yang unik, yang berfokus pada pengembangan diri sendiri.

    ReplyDelete
  24. Menjadi diri sendiri
    Karena menjadi diri sendiri itu merdeka! Selama hati bersih, kebenaran mengikuti ��

    ReplyDelete
  25. link for share: https://www.facebook.com/stebbyjulionatan/posts/10155291267702557?notif_t=like&notif_id=1496846426708109

    Menjadi diri sendiri. Namun kita perlu memahami bahwa keunikan manusia sebagai individu adalah, karena di dalamnya terjadi tarik-menarik yang kompleks antara dua kutub, yakni diri sendiri dan lingkungan (dalam hal ini termasuk orang lain). Sehingga, yang patut kita lakukan adalah tetap menjadi diri sendiri, tanpa menegasikan kritik yang orang lain berikan pada diri kita -agar menjadi pribadi yang lebih baik tentunya, dan.... terus membangunnya melalui kepedulian pada sesama dan lingkungan.

    ReplyDelete
  26. Siapapun pasti bakal jawab jadi diri sendiri meskipun kurang disukai daripada menjadi orang lain. Tapi kalau dipraktekkan kadang sadar atau gak, bisa juga kita berkamuflase masuk menjadi seperti orang lain agar disukai. Tetapi namanya menjadi orang lain gak bakal enak, gak enak banget, karena harus pasang topeng mulu. Meskipun kurang disukai tapi kita bisa menilai diri kita, dari segi apa kita kurang disukai, sikap kita? Atau apa?, jadi kita dapat memperbaiki tanpa harus menjadi seperti mereka. Karena setiap orang diciptakan beda-beda, dan setiap orang punya keunikan tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Kalau kita menjadi seperti orang lain, bakalan gak kelihatan tuh ciri khas kita. Karena menjadi diri sendiri kita bakal bahagia dan mensyukuri apa yg udah dikasih sama Tuhan. Be your self :)
    akun twitter: @mrtlrhmi_

    ReplyDelete
  27. Menjadi diri sendiri, karena saya tidak bisa menjadi seperti orang lain, tidak bisa mengerjakan seperti yg orang lain kerjakan/lakukan. Sy punya cara sendiri utk melakukan apapun, walaupun itu tidak disukai oleh orang lain yg penting ada kepuasaan dan rasa syukur tersendiri.
    Jika kita berusaha untuk menjadi seperti orang lain, itu berarti hidup kita seperti diatur, kita tidak bisa bebas untuk mengekspresikan diri kita. Kita akan berusaha untuk melakukan apa yg orang lain inginkan/ perintahkan agar kita disukai oleh orang lain tersebut dan itu akan menyulitkan kita sendiri dalam hal apapun.

    ReplyDelete
  28. asura dan dewa apa benar sekelompok ras? bukankah asura itu segala hal yang berenergi negatif begitu juga dewa. jika memang shinta adalah anak rahwana kenapa tidak bilang ke rama biar tidak terjadi perang? tapi saya belum baca novelnya sih ya

    ReplyDelete
  29. Menjadi diri sendiri meskipun tidak disukai. Karena ketika menjadi selain diri sendiri meski agar disukai oranglain, sejatinya kita sedang tidak menyukai diri kita sendiri, menipu diri sendiri. Saya percaya bahwa bagaimanapun yang paling butuh penerimaanmu adalah dirimu sendiri.

    Link share d twitter https://mobile.twitter.com/UlumArifah/status/872270679680237568

    ReplyDelete
  30. aku adalah aku bukan mereka ,
    aku tetap menjadi aku dan tak perlu menjadi mereka, sebab aku dengan segala sisi2 yang ada adalah karakteristik yang menjadi ciri khas tentangku , karena ini tentang aku bukan mereka....
    biarpun seribu prasangka mereka mengalun,, tak menjadi alasan buatku tuk menjadi mereka...
    ini tentangku....
    dariku ....
    untukku....
    dan kembali padaku.
    bukan ke mereka....
    aku akan menjadi diriku dengan segala sesuatunya....

    ReplyDelete
  31. fb:sigit ari prasetyo//sigitpras988@gmail.com
    aku adalah aku bukan mereka ,
    aku tetap menjadi aku dan tak perlu menjadi mereka, sebab aku dengan segala sisi2 yang ada adalah karakteristik yang menjadi ciri khas tentangku , karena ini tentang aku bukan mereka....
    biarpun seribu prasangka mereka mengalun,, tak menjadi alasan buatku tuk menjadi mereka...
    ini tentangku....
    dariku ....
    untukku....
    dan kembali padaku.
    bukan ke mereka....
    aku akan menjadi diriku dengan segala sesuatunya....

    ReplyDelete
  32. Dear Mas Dion,

    Terima kasih sudah me-review dan menyelenggarakan giveway berhadiah buku ini dengan pertanyaan yang sangat menggelitik. Saya penasaran dengan bukunya, sekaligus tergerak untuk ikut GA karena pertanyaan kuisnya sangat menyentuh saya. Saya akan jujur, saya memilih menjadi diri sendiri tapi kurang disukai. Karena, kita hidup cuma sekali. Saya nggak kepikiran akan menjalani sisa hidup menyesali dan berpura-pura karena tidak bisa hidup menjadi diri saya sendiri. Jati diri, bagi saya, memang satu hal yang tidak bisa semua orang terima (termasuk keluarga). Tapi, saya tetap memilih hidup tanpa topeng.

    Salam hangat,
    Naufal RM

    ReplyDelete
  33. https://www.facebook.com/jasumin.almadan?fref=nf&pnref=story
    https://twitter.com/jfaanur/status/873661989758709760

    sebelumnya, makasih karena sudah menyelenggarakan giveaway ini.
    kalau saya sendiri jika ditanya "menjadi diri sendiri tapi kurang disukai atau menjadi seperti orang lain agar disukai" so pasti saya bakal milih jadi diri sendiri tapi kurang disukai, Alasannya :
    1.Kalau menurut saya jadi seperti orang lain tuh ribet ngikutin ininya lah ngikutin itunya lah sedangkan kita sendiri sebenernya punya gaya dan cara penyampaian yang berbeda dengan orang yang diikutin
    2.kalau menjadi seperti orang lain tuh ibarat ikan sama kodok, kita ikannya dan yang diikutin itu kodoknya, ikan hidup di air sedangkan kodok bisa hidup di darat dan air, ibarat tuh ikan pengen jadi kayak si kodok bisa hidup di darat juga itu tuh kayak nyiksa diri sendiri kalo menurut saya
    3.Mau bagaimanapun juga mau kitanya baik mau kitanya kurang baik pun pastinya ada aja orang yang nge-judge dan ada aja orang yang kurang suka
    4.setiap orang pasti lahir dengan segala kekurangan serta kelebihannya

    tapi, kalo misalkan hanya untuk memperbaiki diri tanpa menghilangkan ciri khas,gaya,serta cara penyampaian diri sendiri fine fine aja

    thanks..

    ReplyDelete
  34. halo, ikutan ya. lebih suka jadi diri sendiri sih. yang penting hati tenang. meskipun tidak disukai, toh tidak mungkin semua orang di dunia ini menyukai kita. pasti ada aja yang nyinyir. karena kita sudah diciptakan seperti itu. Santai saja, lebih baik jujur pada diri sendiri. daripada bohong pada diri sendiri untuk disukai oleh orang lain.

    ReplyDelete
  35. Aku memilih menjadi diri sendiri meski kurang disukai.

    Karena aku ingin hidup bahagia dan bebas, aku nggak mau terbebani dengan rasa kurang bersyukur yang menghambat kebahagiaanku, meskipun itu artinya pasti ada orang yang nggak menyukaiku. Nggak apa-apa, toh, kalau dia tulus pasti mereka akan menyukaiku apa adanya. Lets see the real friends.

    Manusia itu terkadang aneh. Sudah diberi tampang yang baik, sudah diberi bodi yang bagus, sudah diberi warna kulit yang terbaik, sudah dilahirkan dari rahim pilihan, tapi masih melirik orang lain untuk dijadikan diri kita sendiri.

    Jujur, aku memang pernah berpikir begitu, bahkan berpikir kok aku seperti ini ya? pendek, kurang putih, rambut keriting, nggak sebaik dia, nggak sepintar dia, nggak semujur dia dan segudang pertanyaan lainnya yang jika dipikir-pikir dapat membebani diri sendiri. Alhamdullilah pemikiranku kini semakin dewasa, dan bisa melupakan hal seperti itu.

    Banyak orang yang pakai cara alternatif, ingin putih pakai pemutih, ingin mancung langsung operasi, kalau diingat hal itu kan juga dilarang agama. Untung saja aku ini nggak modal, jadi bisa selamat dari perbuatan seperti itu. hihi. Lebih baik buat nambah timbunan novel, daripada buat nambahin dosa kek gitu.
    Thanks for the chance, mas.

    Twitter: @haniktsr
    Link share: https://twitter.com/haniktsr/status/873735270713114624
    Instagram: @hanktsr

    ReplyDelete
  36. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  37. Mahfudz
    Twitter: @Mahfud1703
    Email: mahfud1703@gmail.com
    Domisili: Yogyakarta

    (1) Menjadi diri sendiri tapi kurang disukai atau (2) menjadi orang lain tapi disukai?

    Kalau mau cari jawaban aman memang mending milih opsi jadi diri sendiri. Tapi, coba kita benar-benar tilik diri kita sendiri. Benarkan kita kuat benar-benar menjadi diri sendiri dan dibenci? Saya tidak yakin ada orang yang dengan sepenuh hati memilih opsi pertama.

    Untuk itu, saya lebih memilih opsi kedua. Saya akan menjadi orang lain jika itu membuat saya disukai.

    Yah, ini bukan cuma perkara kebahagiaan diri sendiri. Dibenci orang lain itu tidak pernah mudah. Kebencian akan membuat orang bertindak kasar pada kita. Atau lebih buruk lagi, mereka akan MENGABAIKAN kita. Coba bayangkan kamu tidak dianggap dalam lingkungan kamu hidup. Kamu tak pernah dianggap ada dalam hidup bertetangga, kamu cuma dianggap ada di absensi kelas di sekolah, atau kamu hanya dilihat sebagai titik tak penting di tempat kerja.

    Selain itu, menjadi orang lain kadang bisa membuat orang-orang disekitar kita tenang. Sebagai anak rantau, saya sering berpura-pura saat orang tua bertanya dan menelepon saya. Saya melakukan ini hanya agar mereka tak khawatir kepada saya. Saya cuma tak ingin menambah beban pikiran mereka. Maka saya mengambil peran menjadi orang lain. Saat mereka bertanya apakah keuangan saya cukup? Saya akan menyaru menjadi orang yang cukup agar mereka bisa tidur dengan tenang, padahal saya hanya punya beberapa lembar uang yang tersisa. Apakah keluahnya sulit? Saya akan menyaru menjadi seorang brilian agar mereka tak merasa dikecewakan. Hal-hal semacam itu perlu. Bukan hanya untuk kebaikan dan kebahagiaan diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang terdekat kita.

    Yah, memang menyaru menjadi orang lain kadang benar-benar melelahkan. Tapi, jauh lebih melelahkan saat kita dibenci dan tak dianggap di lingkungan kita hidup.

    Apa salahnya sedikit menyaru? Toh, hampir semua manusia melakukan hal itu. Mungkin cuma para nabi yang tak pernah melakukannya.

    Demikian. Terima kasih untuk giveaway-nya Mas Dion dan Javanica 😃

    ReplyDelete
  38. Mahfudz
    Twitter: @Mahfud1703
    Email: mahfud1703@gmail.com
    Domisili: Yogyakarta

    (1) Menjadi diri sendiri tapi kurang disukai atau (2) menjadi orang lain tapi disukai?

    Kalau mau cari jawaban aman memang mending milih opsi jadi diri sendiri. Tapi, coba kita benar-benar tilik diri kita sendiri. Benarkan kita kuat benar-benar menjadi diri sendiri dan dibenci? Saya tidak yakin ada orang yang dengan sepenuh hati memilih opsi pertama.

    Untuk itu, saya lebih memilih opsi kedua. Saya akan menjadi orang lain jika itu membuat saya disukai.

    Yah, ini bukan cuma perkara kebahagiaan diri sendiri. Dibenci orang lain itu tidak pernah mudah. Kebencian akan membuat orang bertindak kasar pada kita. Atau lebih buruk lagi, mereka akan MENGABAIKAN kita. Coba bayangkan kamu tidak dianggap dalam lingkungan kamu hidup. Kamu tak pernah dianggap ada dalam hidup bertetangga, kamu cuma dianggap ada di absensi kelas di sekolah, atau kamu hanya dilihat sebagai titik tak penting di tempat kerja.

    Selain itu, menjadi orang lain kadang bisa membuat orang-orang disekitar kita tenang. Sebagai anak rantau, saya sering berpura-pura saat orang tua bertanya dan menelepon saya. Saya melakukan ini hanya agar mereka tak khawatir kepada saya. Saya cuma tak ingin menambah beban pikiran mereka. Maka saya mengambil peran menjadi orang lain. Saat mereka bertanya apakah keuangan saya cukup? Saya akan menyaru menjadi orang yang cukup agar mereka bisa tidur dengan tenang, padahal saya hanya punya beberapa lembar uang yang tersisa. Apakah keluahnya sulit? Saya akan menyaru menjadi seorang brilian agar mereka tak merasa dikecewakan. Hal-hal semacam itu perlu. Bukan hanya untuk kebaikan dan kebahagiaan diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang terdekat kita.

    Yah, memang menyaru menjadi orang lain kadang benar-benar melelahkan. Tapi, jauh lebih melelahkan saat kita dibenci dan tak dianggap di lingkungan kita hidup.

    Apa salahnya sedikit menyaru? Toh, hampir semua manusia melakukan hal itu. Mungkin cuma para nabi yang tak pernah melakukannya.

    Demikian. Terima kasih untuk giveaway-nya Mas Dion dan Javanica 😃

    ReplyDelete
  39. Menjadi diri sendiri tapi kurang disukai, atau menjadi seperti orang lain agar disukai. Hm, pertanyaan yang tak benar-benar 100% jawaban memihak salah satunya. Tapi dilihat dari dominasi, aku memilih menjadi diri sendiri, meski kurang disukai. Karena apapun pilihan pasti memberikan timbal balik, entah baik atau yang tak diharapkan. Setidaknya aku tak perlu repot berpura-pura dengan segala skenario yang dibuat untuk mengelabui siapa saja.

    Kenyamanan bukan sesuatu yang perlu disia-siakan, jika memang tak merugikan, bukan? Dari sini, aku belajar untuk mengerti dan memahami, siapa-siapa saja yang bisa menerimaku apa adanya, dan yang kurang bahkan tak suka terhadapku.

    Namun, bukan berarti yang acuh tak bisa mengulurkan tangannya padaku, tidak, mereka tak salah, itu haknya. Atas dalih ‘jadi diri sendiri’, yang identik dengan apa adanya, tak munafik (ini mindset yang sepertinya sudah mengakar), bukan berarti aku bisa berlaku sesuka hati. Betapa angkuh ketika orang-orang bersabda lebih baik seluk beluk diri terlihat keseluruhan daripada menjadi sosok munafik, yang lantas mewajarkan segala hingga normatif bukanlah hal yang perlu lagi untuk digenggam, begitu bangganya dengan kerusakan, dan pernyataan ‘ini bukan kemunafikan’ menjadi tameng andalan atas keegoisan yang melenakan.

    Tidak, aku tak ingin seperti itu, biarpun jadi diri sendiri, bersikap semaunya bukanlah sesuatu yang pantas, seolah, ‘inilah aku, kalian tak suka silahkan, aku punya kebebasan bertingkah’ sampai tak ingin sekadar mengerti atas apa-apa di sekitar. Tentu musti bisa memosisikan diri, bagaimana semestinya bersikap, siapa yang dihadapi, dalam kondisi seperti apa, dari hal ini aku belajar, bukan berarti aku bermuka dua atau munafik, namun sebagai orang yang mengaku sudah ‘bukan anak kecil’ lagi, semestinya bisa memilah mana yang layak mana yang tidak, memang butuh proses, tak bisa langsung demikian, aku pun masih perlu banyak belajar.

    Terkadang aku perlu menutupi apa yang sebenarnya terjadi, itu sebatas agar tak menjadi beban bagi orang lain yang tak ada keterkaitan. Kurasa jahat ketika seseorang tak tahu apa-apa, tiba-tiba aku datang dengan secarik tagihan padanya, dan sebenarnya bukanlah tanggungannya. Itulah mengapa, menjadi seperti orang lain agar disukai, akan mengaburkan inderaku dari orang-orang yang lihai berteman dengan syarat. Jadi diri sendiri namun kurang disegani? Ya, kupikir itu bukan pilihan yang buruk. Ah, maafkan dengan ungkapan yang panjang ini.

    Nama: Dhamas Iki
    Email: dhamas.iki@gmail.com
    Link GA: https://twitter.com/dhamasiki/status/873883299860500480

    ReplyDelete
  40. 1. Domisili: Jakarta
    2. Sudah follow IG: @javanicabooks & like FP: Penerbit Javanica (silakan dicek! akun IGku: @womomfey & akun FBku: https://www.facebook.com/kitty.tsukino.5 )
    3. Link share:
    https://twitter.com/WoMomFey/status/873921465455845377

    4. Jawaban:

    Bicara soal kenyamanan, kurasa semua orang akan merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri kapan pun dan di manapun. Permasalahannya adalah: tidak semua orang bisa merasa nyaman berdekatan dengan kita yang benar-benar menampilkan diri kita apa adanya. Dan...adalah hal yang mustahil bila kita harus menyenangkan hati semua orang bukan? Meskipun demikian, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dan diberi akal budi untuk dapat memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya. Ketimbang mengenakan "topeng" dihadapan orang lain demi kenyamanan diri orang tersebut, alangkah lebih baiknya jika kita berusaha terus meng-upgrade diri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala hal, terutama dalam hal keluwesan dalam bergaul dengan berbagai karakter individu yang kita temui dalam kehidupan keseharian kita.

    Dengan orang-orang terdekat (sahabat dan keluarga), aku bisa benar-benar lepas menjadi diriku sendiri tanpa perlu merasa khawatir akan dihakimi, sebaliknya jika berhadapan dengan orang lain (terutama orang yang baru kukenal dan terkait dengan dunia pekerjaan) tentu saja ada batasan yang kuberlakukan ketika aku berinteraksi dengan mereka. Gak mungkin juga kan aku tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata dalam sebuah pertemuan formal dengan para client? Topeng kah yang kukenakan? Bukan topeng! Lebih tepatnya aku berusaha bersikap profesional layaknya yang sesuai dengan dunia profesional.

    ReplyDelete